Title: Eien

Charac: Alan Humphries _ Eric Slingby

Rat:

Desc: Yana Toboso

Story line: Kuroshitsuji Musical 2

Pov: Alan Humphries

-oooo-part 3

Kurang dari 30 menit, aku merapikan seluruh penampilanku. Memakai baju terusan berwarna biru sepanjang kaki dengan sepatu dansa berwarna putih. "Kenapa para perempuan suka memakai pakaian yang super ribet seperti ini ya?" gerutuku saat mencoba mengikat pita dibelakang punggungku.

Setelah selesai, aku lanjutkan dengan memakai pita pada rambutku agar sedikit berbeda. "Aku malu sekali..." kututup kedua wajahku dengan telapak tanganku. "Rasanya aku benar-benar tidak berani keluar!"

Tidak! Aku harus fokus dengan tujuan utamaku! Aku harus bisa bertemu dengan Eric! Kuyakinkan diriku dan segera keluar dari kamar menuju lantai dasar, tempat dimana sudah berkumpul seluruh penghuni kediaman ini.

"Maaf aku terlambat" pintaku saat sampai diruangan utama ini. Seketika mereka semua menatapku, heran. 'apakah penampilanku seburuk itu?'

"Hee~ Alan, mengapa kamu berpenampilan seperti itu?" protes Grell-senpai.

Kuteguhkan hatiku dan berjalan mendekati mereka. "Aku yakin Eric akan datang dipesta itu. Oleh karena itu, aku harus bisa datang kesana untuk menemuinya"

"Benar sekali" sambung Sebastian. "Dengan begitu, kesempatan kita untuk masuk kesana lebih mudah. Penampilan Alan juga manis, jadi mereka tidak akan sadar dengan penyamarannya"

"Apa?" Protes Grell-senpai. "Kenapa Sebby memujimu?" Grell-senpai yang tidak setuju, menarik-narik bajuku.

"Le-lepaskan, Grell-senpai" panikku. Tentu saja aku panik, karena aku tidak tahu seberapa tahan tali pengikat pada pakaian ini jika ditarik-tarik oleh Grell-senpai yang sedang marah.

Ciel yang sepertinya juga tidak terima, langsung berkata "Lalu, untuk apa aku berlatih keras menjadi perempuan jika sudah banyak yang –"

"Tentu saja tidak, tuanku" potong Sebastian. "Anda akan berpasangan dengan saya, sedangkan Grell berpasangan dengan Alan. Dengan membagi tugas, maka kita bisa menemukan target dengan mudah" jelas Sebastian, lalu berjalan kearah tiga pelayan lainnya. "Kalian bertiga juga boleh ikut kesana. Segeralah berganti pakaian kalian"

"Benarkah?" mereka bertiga terlihat senang sekali.

"Kalau begitu, cepat. Aku akan tunggu diruanganku. Panggil aku jika sudah selesai" ucapnya sambil berjalan melewati kami semua yang diikuti oleh Sebastian dibelakangnya.

Eric, kuharap kamu akan menjelaskan semuanya ini... aku tidak mau ada kebencian diantara kita... rasanya, menyakitkan sekali.

Perjalanan menuju Cristal Palace memakan waktu 1 jam. Disana sudah banyak tamu yang memenuhi ruangan. Ada yang berbincang-bincang, ada yang bersama dengan pasangan, ataupun sudah ada yang memulai berdansa. Baru aku sadari bahwa pesta dansa ini sedikit berbeda, karena masing-masing dari kami harus menggunakan topeng. Mungkin ada alasan sendiri mengapa Eric melakukan ini semua.

"Ramai sekali..." seru pelayan perempuan yang bernama Meyrin. Aku baru mengenalnya sejak tinggal disana.

"Benar-benar ramai. Banyak sekali perempuan disini. Benar-benar menarik" tambah Sebastian dengan Ciel yang berada disampingnya.

"A~ah! Menyebalkan?" seru Grell-senpai kesal. "Kenapa banyak sekali perempuan disini? Sebby bisa berpaling jauh dariku!"

"Sesuai dengan rencana, kita akan berpisah dari sini. Berhati-hatilah"

"Tenang saja. Tidak akan ada apa-apa" sambung Grell-senpai bersama denganku berjalan meninggalkan Sebastian, Ciel dan ketiga pelayannya. Tidak lama kemudian terdengar suara yang menandakan bahwa pertunjukan akan dimulai.

Kami berdua ditugaskan untuk melihat dari sisi kanan gedung ini. Grell-senpai terlihat menikmati sekali pertunjukan yang diberikan. Disaat ada celah, aku terus berputar mencari sosok yang sudah lama ingin aku temui, Eric. Ditengah-tengah kumpulan tamu, aku melihat sosok pria yang waktu itu bersama dengan Eric. 'Jika ada dia, Eric pasti akan datang juga'

Kucoba untuk kembali mengelilingi gedung ini, dan tepat disaat aku menaiki tangga lantai dua, aku melihat seorang pria dengan pakaian hitamnya, berambut kecoklatan dengan suatu senjata ditangannya, berjalan ditengah-tengah tamu yang sedang berdansa. "Eric!" kucoba untuk memanggilnya, tapi dia tidak mendengarku, karena suaraku kalah keras dengan suara lagu dari pertunjukan.

"Eric. Eric" kucoba berteriak memanggilnya dan mengejarnya. Dalam sesaat, sosoknya kembali menghilang. Walaupun sulit, kucoba untuk menerobos keramaian pesta hingga tiba-tiba terdengar ledakan dari arah panggung pertunjukan. Dalam waktu singkat, seluruh tamu terdengar histeris dan ada diantara mereka yang segera berlari menjauhi arah panggung.

Tepat disisi pinggir gedung, Eric berjalan sendirian disana. "Eric!" kuhentikan lariku dihadapannya.

"Alan!"

"Eric, kenapa? Kenapa kamu menyusun pesta seperti ini? Untuk apa?" Eric kembali menghindariku, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Sebastian dihadapannya.

"Bukankah tamu yang diundang adalah manusia?" seru Eric sambil meletakan senjatanya pada bahunya. "Kenapa iblis seperti kamu bisa datang keacara seperti ini?"

"Maaf. Jika sudah mengganggu. Tapi sepertinya juga tidak hanya aku yang bukan manusia yang datang kepesta ini"

"Kamu! Tidak bisakah kamu berhenti mencampuri urusan orang lain?"

"Sayang sekali. Aku adalah pelayan dan sudah menjadi tugas melakukan perintah dari tuanku".

Tiba-tiba mereka langsung memulai perkelahian. Kucoba untuk menghentikan Eric dengan memanggilnya, namun percuma saja. Akhirnya kucoba untuk menghalanginya dengan berada didepan Sebastian, dan tetap dia tidak memperdulikan. Dia mendorongku kesamping dan melancarkan serangan pada Sebastian.

"Eric! Ternyata benar kamu-"

"Eric Slingby, seorang buronan yang harus segera diselesaikan sebelum tambah mempersulit keadaan" suara seseorang yang datang menghampiri kami, William dan Ronald.

"Hwa~ ada Will" seru Grell-senpai.

"Eric,kamu sudah melanggar aturan sebagai seorang Shinigami. Oleh karena itu, kamu harus menerima hukuman yang setimpal"

"Tunggu! Jangan tangkap dia!" bantahku mencoba menghentikan William-senpai.

"Tidak bisa!" sambung Sebastian. "Sesuai dengan perintah, akulah yang ditugaskan oleh tuanku untuk segera menyelesaian masalah yang dibuat olehnya"

William yang tidak menerima pernyataan tersebut, mulai menyerang Sebastian. Keadaan pesta yang menjadi kacau. Aku sendiri sudah tidak tahu yang manakah lawan dan kawan. Pandanganku kembali mencari Eric, dan sesaat Eric sudah menangkap Ciel dan membawanya pergi. Akupun segera mengikutinya keluar dari 'Cristal Palace'.

Kukejar Eric dengan kereta yang tadi membawaku ke pesta ini. Dengan cepat aku melepaskan pakaian ini dan mengganti pakaianku yang biasa. Ditengah jalan, kulihat Eric turun dari kereta dan berlari menuju pinggir kota yang merupakan taman kantor kami.

"Eric! Berhenti!" teriakku. "Benarkah ini atas kemauanmu?" Eric hanya diam membelakangiku. "Jika memang benar, kenapa kamu selalu menghindar dariku!" Eric hanya menghela nafas. "Apakah ini memang keinginanmu, ataukah... untuk kepentinganku?" pertanyaanku membuatnya berbalik menatapku.

Sudah lama aku mengenalmu, dan aku tahu bahwa kamu sudah berbohong padaku. Jika ini benar untuk kebaikanku, lebih baik aku tidak membebanimu lebih dari ini. Kukeluarkan senjataku dan mengarahkannya kedadaku. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita...

"Alan...? apa yang mau kamu lakukan, Alan? Jangan bertindak bodoh!" serunya sambil berlari mendekatiku dan menarik senjataku.

"Lepaskan! Untuk apa aku hidup jika hanya bisa membebani orang lain!"

"Hentikan! Jika kamu mati, untuk apa aku melakukan ini semua! Aku tidak ingin kamu mati karena kamu adalah hal yang terpenting bagiku!"

Aku tercenga mendengar pernyataannya. "Eric..." Eric diam sesaat dan melepaskan pegangannya. Tubuhku melemah dan diam tertunduk."...jadi selama ini, yang kamu lakukan... mengumpulkan 1000 nyawa untuk... menghancurkan karma itu? mungkin dengan cara itu, karma ini bisa terlepas dariku. Tapi jika ini dilanjutkan, itu sama saja dengan melanggar aturan yang ada"

"Sudahlah! Tidak usah perdulikan aturan-aturan itu!" serunya sambil kembali menahan kedua tanganku.

"Tapi,jika melanggar aturan, bisa saja kamu dikeluarkan dari-"

"Dikeluarkan atau hukuman apapun aku sudah tidak perduli! Yang terpenting bagiku bisa menyelamatkanmu, tidak perduli apapun caranya!"

Aku kembali tercenga, 'Eric, kamu melakukan ini... untuk diriku?

"Aku tahu kalau aku sudah melanggar janji kita. Sudah aku coba mencari berbagai macam cara, namun tidak ada satupun yang berhasil. Hingga akhirnya aku mendapatkan cara seperti ini"

"Eric..."

"Keabadian... keabadian kita berdua... apakah hanya mimpi?" Eric diam sesaat. "Mungkin memang benar, keabadian itu tidak ada..."

"Ternyata... kamu sendiripun berkata demikian" ucapku sambil menundukan kepalaku. "Pikiranku terbuka sejak mendengarmu. Warna warni kehidupan yang selama ini kita jalani, semuanya tertutup karena..."

"Alan...?" Kubuka kacamata yang menjadi aturan sebagai seorang Shinigami. "Alan, apa yang kamu lakukan?"

Aku tersenyum menatapnya. "...harusnya aku menyadari bahwa tanpa melakukan ini, kita bisa bahagia dan menemukan keabadian kita sendiri..." tanpa aku sadari bahwa mataku mulai basah. "Ah, aku benar-benar memalukan..."

"Alan... Kamu yakin dengan pilihanmu?" Tanyanya yang masih tercenga dengan pilihanku

Aku mengangguk pasti. "Aku merasa inilah jalan terbaik. Eric, bagaimana dengan dirimu?"

Eric diam sesaat dan tiba-tiba dia ikut melepas kacamatanya. "Rasanya aku sendiri juga sudah buta oleh pekerjaan ini. Sebagai partnermu, aku akan selalu berada disampingmu"

Aku tersenyum dan meletakan kacamataku dipinggir jalan taman ini. Ericpun mengikuti meletakan kacamatanya. "Ayo kita pergi" ajakku yang diikuti olehnya.

-oo

Hari-hari kami berikutnya berjalan dengan baik. Sejak memutuskan untuk menghentikan pekerjaan ini, kami berdua memutuskan untuk tinnggal disuatu sudut kota, tempat tinggal Eric sebelumnya. Hari-hari yang bahagia.

Untuk sementara...

Karma yang ada didalam diriku terus saja menyerangku, bahkan walaupun aku tidak sedang lelah ataupun marah.

Setelah merapikan beberapa barang di kamar Eric, tiba-tiba saja dadaku kembali sakit, namun sakit kali ini berbeda sama sekali. Rasa sakit yang lebih parah hingga membuatku harus mengambil oksigen dari mulutku. Kucoba untuk bangun, namun tidak ada tenaga sama sekali. "Akh!" Kueratkan tanganku pada dadaku.

Kumohon, cepatlah menghilang... Aku tidak ingin selalu membuat Eric khawatir jika melihatku seperti ini...

"Alan!" Suara Eric yang datang menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa?" Eric membantuku duduk dipinggir ranjangnya.

Aku mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah..." Sangkalku. "Eric, kenapa kamu..." Kulihat perbedaan pada dirinya dan aku kenal sekali hawa yang ada pada tubuhnya. "Jangan-jangan kamu..."

"Alan, kumohon. Jangan menghentikanku..." Ucapnya sambil memegang bahuku. "Ini semua untuk kebaikanmu..."

"Kebaikanku dengan mengorbankan dirimu?" Emosiku kembali lagi dan kulihat Eric diam tertunduk. Aku menyadari bukan saatnya aku marah seperti ini.

"Eric..." Kusandarkan kepalaku didepan dadanya. "Terima kasih untuk usahamu... Aku menghargai itu. Namun bisakah kamu berhenti melakukan ini?"

"Ta-tapi..."

Aku menggeleng. "Tidak apa. Aku akan baik-baik saja walaupun harus merasakan sakit ini..." Kuhentikan perkataanku seiring kututupi rasa sakit didadaku. "Eric, maukah kamu berjanji satu hal padaku?"

Kutatap wajah Eric yang bingung sambil memegang kedua lengannya.

"Eric?"

Eric terlihat sedikit ragu. "Baiklah. Kamu ingin aku berjanji apa?"

"Aku ingin kamu berjanji untuk menghentikan tindakanmu ini..."

"Ap-"

"Kumohon, Eric" potongku. "Jangan kamu terus membunuh orang-orang yang tidak bersalah untuk kesembuhanku ini. Bisakah?"

Eric kembali merasa ragu. "Tapi jika aku tidak mencobanya, kita tidak akan pernah tahu, Alan"

Aku menggeleng. "Aku yakin akan ada cara lain untuk menghentikan karmaku... Aku yakin itu. Apa... Kamu tidak percaya padaku?"

"Aku percaya"

"Kalau begitu, berjanjilah..."

"Aku akan berjanji, tapi aku juga ingin kamu berjanji satuhal padaku..."

Kali ini aku yang terkejut. "Apa?"

"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan menyembunyikan rasa sakitmu dan panggil aku jika kamu membutuhkanku..."

Aku tertawa kecil. "Itu lebih dari satu, Eric..." Ledekku.

"Biarin!" Ngambeknya. Aku menyandarkan kepalaku pada bahu besarnya. "Alan..." Aku bergumam sebagai ganti jawaban. "Tetaplah hidup..."

"Tentu saja. Aku akan tetap hidup untukmu..." Lalu Eric membantuku kembali ketempat tidur karena kepalaku mulai pening akibat rasa sakit yang kutahan.

Malamnya, aku berencana untuk menghirup udara segar ditaman kantor, tempat kami bekerja dulu. Jika aku jalan sendiri, Eric pasti akan memarahiku. "Bunga Erica... Sudah lama sekali aku tidak melihatnya..." Ucapku sambil merapikan pakaianku.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kesana?"

"Benarkah?"

"Ya... Sudah lama juga kita tidak kesana. Kalau begitu, aku akan mandi sebentar dan kamu bersiap-siaplah..."

Tidak lama kemudian, kamipun siap untuk keluar rumah. Disepanjang jalan, kami bercanda tawa dan membahas beberapa lelucon masa lalu dan tempat Eric bekerja sekarang.

Deg.

Rasa sakit tiba-tiba saja datang kembali. "Alan? Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.

"Tidak apa-apa" ucapku sambil tersenyum padanya.

"Lihat! Bunganya sedang bermekaran disana!" Seru Eric sambil berlari kecil.

Akh! Kenapa rasa sakit ini harus datang disaat seperti ini?

"Alan!" Eric berlari menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa?"

Aku mengangguk pelan. "Tidak apa...apa..." Aku mencoba mengambil oksigen dari mulutku sambil mengeratkan kepalan tanganku.

"Sebaiknya kamu istirahat sebentar..." Aku mengangguk dan Eric membantuku duduk dibangku yang tidak jauh dari taman. "Alan, tunggulah disini sebentar. Aku akan segera kembali..."

Kemanakah kamu akan pergi? Kupejamkan mataku sejenak. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan perempuan entah dari mana. "Eric..." Perlahan aku mencoba berjalan dengan menggunakan senjataku sebagai pengganti tongkat, mencari asal teriakan tersebut.

Eric... Hentikan... Kumohon berhentilah...

Tepat dipinggir danau, sudah ada 5 perempuan tergeletak didepan Eric dan... Sebastian? Kenapa suasana menegang disana?

"...maukah aku beritahu sesuatu padamu?" Seru Eric sambil menghadapkan senjatanya didepan Sebastian. "Untuk mencapai tujuanku, tinggal 1 nyawa lagi dan itulah nyawamu!"

Apa? Berarti selama ini Eric sudah berbohong padaku...?

'Akh! Kenapa...kenapa... Kenapa ini semua harus terjadi padamu...' Aku jatuh tertunduk dan mencoba untuk mendekati mereka. "Eric..."

"Baguslah kalau demikian" balas Sebastian. "Tapi itu hal yang mustahil!"

Sebastian mulai membalas serangan dari Eric. Kurasakan hawa pembunuhnya yang semakin besar, dan pastinya dia bisa membunuh Sebastian. "Eric!"

Eric yang mendengar panggilanku, tiba-tiba saja pertahanannya melemah dan terkena serangan Sebastian.

"Eric, kumohon hentikan... Jangan membunuh lagi..." Teriakku ditengah isakanku yang sudah tidak bisa ditahan.

"Tinggal satu lagi!" Teriak histeris Eric.

Tepat saat Sebastian kembali menyerang Eric, dengan tenaga yang tersisa aku mendorong tubuh Sebastian dan akupun terjatuh didepan Eric.

"Eric... Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini..." Wajahku mulai basah karena sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini. "Apakah kamu ingat janji kita? Jangan lakukan ini demi kebaikanku..."

"Tinggal satu lagi..." Pandangan Eric kosong.

"Eric..." Panggilanku sudah tidak dia dengar lagi.

"Ciel Phanthomhive! Kamulah yang menjadi orang terakhir!"

"Jangan!" Tanpa membuang waktu, kukumpulkan seluruh tenagaku untuk bangkit, berdiri dibelakang Sebastian yang melindungi Ciel, dan... Kurasakan bahwa tubuhku melemas dan jatuh tertahan oleh seseorang dibelakangku.

"Alan...?" Eric menahan tubuhku yang sudah bersimbah darah. Kuberikan senyum terakhirku dan seketika pandanganku berubah menjadi putih seiring terdengar suaranya yang berat menyebut namaku untuk terakhir kalinya.

-part3end-

please ur comment n repew ^^/