DESCLAIMER : BTS and Taekook is belong to God, their parents, and Bighit
This fanfiction is remake beside of korean movies '4th periode mysteri' 2009
Hope u enjoy it
Happy reading
.
.
Ketua komisaris sekolah baru saja tiba. Seorang lelaki tua berpenampilan tegas turun dari mobil. Di sambut hangat oleh kepala sekolah langsung dan beberapa guru kepercayaannya. Mereka mempersilahkan sang komisaris untuk memasuki sekolah. Tujuan utamanya dalah ruang guru. Maka mereka mempersiapkan segalanya agar menjadi begitu pantas didatangi oleh sang komisaris.
Minuman khusus di sediakan di atas meja. Lelaki tua itu tidak menunda-nunda untuk meminumnya ketika ia dipersilahkan. Kepala sekolah dengan gembira menceritakan keadaan sekolah mereka kepada sang komisaris. Sedang guru di belakangnya hanya menggukan kepala dan menebar senyum.
"Siswa adalah hal yang paling penting di sekolah kita." Katanya. "lalu murid kebanggaan di sekolah kita ialah Kim Taehyung. Dia sangat berdedikasi untuk masuk ke Universitas unggulan di negara ini. Aku bisa menjamin itu."
Sang komisaris tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepala. Dengan suaranya yang ramah ia kemudian berkata, "Aku tahu, aku tahu. Ah ya, karena kita tidak memiliki banyak waktu, bagaimana kalau kita berkeliling ke sekolah dulu?"
.
.
.
Ini sama sekali tidak lucu, pikirnya. Namjoon di depannya benar-benar sudah tidak bernyawa. Berbagai pertanyaan segera berkerumul di dalam kepalanya. 'bagaimana bisa?' 'apa yang terjadi?' 'siapa yang membunuhnya?' kepalanya seperti ingin pecah memikirkan segala pertanyaan yang ada. Jantungnya masih berdebar begitu kencang, kaki-kakinya bergetar, keringat mengalir deras turun melalui dahi ke pelipisnya. Sebenci apapun ia kepada Namjoon, tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya untuk mengharapkan dapat melihat Namjoon mati dalam keadaan mengenaskan seperti ini.
Di tengah kepanikan yang melanda, Taehyung mendengar pintu di belakangnya berderit pelan. Segara tubuhnya berbalik secepat yang dia bisa untuk kemudian mendapati bahwa Jeon Jungkooklah yang sedang berdiri mematung dengan bola matanya yang nyaris keluar. Hening melanda keduanya sebelum pisau yang sejak tadi berada di tangan Taehyung jatuh terkelontang di atas lantai. Mereka berdua sama-sama berjengit lalu Jungkook menatap kepada pisau itu dan Taehyung secraa bergantin.
"Tidak, tidak. Itu bukan aku. Aku tidak membunuhnya."
Jungkook diam tidak berkata, matanya kembali beralih pada pisau yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Pisau itu masih bergelimangan darah. Jungkook diam meneliti. Kilasan buram muncul di kepalanya tentang sebuah adegan; pemuda bertopeng menusuk pemuda yang lainnya menggunakan pisau kecil. Sekali, dua kali, dan seterusnya sampai pemuda itu tidak dapat bergerak lagi. Kemudian yang ia lihat kembali adalah Namjoon, dengan Taehyung yang masih bernapas panik di depannya. lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis kepada Taehyung sebelum kemudian berbalik menuju pintu kelas guna memeriksa keadaan. Suasana aman, jam pelajaran masih berlangsung. Tidak ada yang melewati koridor. Semua nampak normal seperti tidak ada pembunuhan yang baru saja terjadi.
Jungkook bertindak mengamankan kelas. Ia berjalan begitu saja melewati Taehyung yang masih bernapas panik. Menutup semua gorden kelas yang memungkinkan orang lain dapat melihat ke dalam kelas ini. Hingga kelas itu benar-benar gelap, menyisakkan tiga orang di dalamnya. Dua yang masih hidup dan satu lagi yang sudah mati.
"Ju-Jungkook-ah.. Ini bukan aku. A-aku tidak membunuh Namjoon." Taehyung berkata dengan terbata-bata.
"Aku tahu."
"Kau Tahu?" Matanya membola sempura, tidak berbohong bahwa ia terkejut dan lega secara bersamaan ketika kata itu keluar dari sosok pendiam di depannya.
Jungkook hanya menganggung mengiyakan, ia membiarkan Taehyung tersenyum cerah seraya mengambil ponselnya di dalam saku celana. "Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi 911." Namun sebelum Taehyung sempat menekan tombol panggilan, ponsel pintar berwarna hitam itu sudah berpindah tangan lebih dulu, Jungkook merebut ponsel itu dari pemiliknya.
"Berikan ponsel itu, aku akan menghubungi 911─"
'PLAK'
Tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Seketika Taehyung berhenti berbicara dan memegang sebelah pipinya yang terasa panas. Jungkoom tidak main-main memberikan tamparan. Terbukti ketika Taehyung sama sekali tidak bereaksi apa-apa selain hanya memegangi pipinya saja.
"Y-ya! Apa yang kau lakukan?" sepersekian detik barulah Taehyung berkata masih dengan suaranya yang terbata.
"Lihat itu bodoh! Kau adalah satu-satunya yang dapat dijadikan tersangka nomor satu pembunuh Kim Namjoon."
Jungkook mengeluarkan kotak p3k mini yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Mengeluarkan kabas dan sebotol berisi cairan bening. Lalu hal pertama yang dilakukannya adalah menyemprot pisau dengan menggunakan cairan itu, menyemprotkan secara merata dari ujung pisau yang tajam sampai pada bagian pemegangnya. Setelah itu ia mengambil sebuah mika kecil berbentuk persegi dan menempelkannya pada pisau tersebut. Lalu yang ia dapati adalah bayangan buram sebuah sidik jari tercetak di atasnya.
"Apakah ini adalah sidik jarimu?"
"H-Huh? Uhm.. yah."
Jungkook tidak berkomentar apa-apa setelah itu, ia kembali bertindak sendiri menuju tempat duduknya dan mengambil kamera polaroid yang selalu ia bawa kemana-mana. Banyak orang berpikir bahwa Jungkook memiliki hobi yang sangat tidak berguna karena suka membawa kamera dan memotret hal yang sama sekali tidak penting. Namun siapa sangka bahwa benda itu akan berguna di dalam keadaan genting seperti ini. Kim Taehyung, meskipun masih berada di dalam kepanikan dan kebingungan parah, memiliki harapan dalam hatinya bahwa Jungkook dapat menolongnya.
"Aku penasaran siapa yang terakhir kali berkelahi dengannya." Katanya setelah mengambil beberapa potret Namjoon menggunakan kameranya. Ia berbicara kelewat tenang sembari mengibas-ngibas menunggu foto itu dapat ia lihat.
"Ya! Itu bukanlah sebuah perkelahian."
"Tersangka, korban, dan saksi." Tanpa di duga Jungkook mengarahkan kamera itu pada Taehyung. mengambil gambar Taehyung tanpa meminta izin dan segera menggoyang-goyangkan gambar tersebut guna melihat hasilnya. "Lalu kriminal?"
"Apa-apaan kau ini? Bukankah kau baru saja mengatakan bukan aku yang membunuhnya?" Taehyung merebut kasar potret dirinya dari tangan Jungkook. "Itu bukan aku. Bukan aku yang membunuhnya!"
Jungkook tidak mendengarkan Taehyung dan berusaha mengambil foto dari tangan Taehyung. Tetapi tentu saja Taehyung tidak akan menyerahkannya kepada Jungkook jika pada akhirnya ia hanya akan mencebloskan Taehyung ke penjara. Taehyung sama sekali tidak mengerti apa isi kepala sosok yang tidak lebih tinggi di depannya. Beberapa saat lalu ia berkata bahwa ia sudah tahu kalau Taehyung bukanlah pelakunya. Tetapi beberapa saat setelahnya ia bertindak seolah-olah ia Taehyung adalah tersangkanya. Taehyung tidak dapat menahan emosinya ketika Jungkook masih saja berusha merebut foto itu darinya. Maka ia mendorong Jungkook sedikit keras sampai pemuda kelinci itu mundur beberapa langkah.
"Apa menurutmu orang-orang hanya akan mengatakan, 'ya. Kami percaya padamu Kim Taehyung'?" Jeda beberapa saat. Jungkook menatap Taehyung yang balik menatapnya tajam. "Baiklah, silahkan tentukan pilihanmu."
"Apa?"
"Entah ditangkap sebagai tersangka dan menanggung semua pertanyaan." Onyxnya menatap tajam tepat kepada hazel Taehyung yang dingin. "Atau bergabung denganku menemukan di pembunuh di periode ke empat dan terlahir menjadi pahlawan sekolah?"
.
.
TBC
A/N :
Aku tahu ini pendek banget dan mungkin kalian sama sekali tidak puas memabacanya. Tapi aku bisa memastikan bahwa petualangan mereka dalam memecahkan misteri pembunuh Namjoon tanpa sepengetahuan komite sekolah yang sedang berkekeliling akan dimulai di chapter depan! Aku usahan update cepat jika kalian menginginkannya. Silahkan tinggalkan jejak setelah membaca.
Terima kasih
.
