Never meant to hurt you. How could I cause you so much pain?

.

.

.

.

.

Queen is King's © Jenny Kim

Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves

Rated: T semi M

Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~

.

.

.

.

.

Tes

Tes

Tes

Tetes demi tetes air mendarat di tanah. Membuat gua gelap itu semakin lembab dan becek. Seekor ular bersisik hitam meliukkan tubuhnya. Menyusuri lorong-lorong gua dan menembus ke bagian terdalam.

Samar-samar setitik cahaya muncul dari ujung terdalam lorong gua tersebut. Ular itu semakin mendekat dan cahaya keemasan itupun semakin jelas terlihat.

Ular kobra itu merubah wujudnya menjadi manusia berparas cantik saat ia sampai ke tempat tujuannya, istananya.

Gua yang dari luarnya terlihat gelap dan menyeramkan ternyata menyimpan kamar mewah bak istana emas di dalamnya. Terdapat sebuah ranjang empuk bersprei putih dengan selimut dan kelambu berwarna emas. Di sisi-sisi ranjang juga tersusun perabot-perabot berwarna emas lainnya seperti meja, kursi, vas bunga, cermin, guci, dan lain sebagainya.

"Siwonnie..." Heechul—jelmaan ular tersebut—memanggil nama sang putra yang tengah duduk bersila di tengah ranjang sembari bertopang dagu. Fokus menatap keranjang berisi 3 butir telur sebesar buah melon yang beralaskan tumpukan jerami sebagai penghangat.

Pemuda bernama Siwon itu mengangkat wajahnya dan mengembangkan tawanya. Membuat dua lesung pipi manis di pipinya tercetak jelas. "Umma!"

Heechul tersenyum. Menghampiri pemuda yang menjadi kekasih sekaligus putra angkatnya. Ia mengangkat dagu Siwon dan mengecup bibirnya. "Selamat pagi."

"Selamat pagi~" balas Siwon kelewat ceria seperti bocah balita. Tidak... dia tidak mengalami keterbelakangan mental maupun sindrom Peter Pan apalagi sindrom Kleine Levin. Dia hanya tidak tahu cara bersikap sesuai dengan umurnya karena kopolosannya yang kelewat batas serta tak pernah mengenal dunia luar yang dipenuhi berjuta ilmu. Sejak ia dilahirkan sampai sekarang berusia 20 tahun, ia selalu berada di dalam gua.

Heechul membelai surai hitam Siwon. "Kau sedang apa?" tanyanya.

"Menunggu bayi-bayi kita menetas, tapi mereka tidak keluar-keluar, Umma," keluh Siwon sambil menghela napas kecewa.

Heechul tertawa kecil. Ia mengambil keranjang dihadapan Siwon dan menaruhnya di meja kecil di sisi tempat tidur mereka. "Mereka akan menetas beberapa hari lagi, sayang. Bersabarlah!" ucapnya lembut. "Siwonnie mau sarapan? Umma bawakan waffle dan espresso kesukaanmu."

Siwon menggeleng. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Heechul. Pemuda itu menarik lembut tangan ibu angkatnya, lalu memangkunya.

Heechul melilitkan kakinya di pinggang Siwon dan mengusap belakang kepala putranya itu. "Waeyo, Siwonnie?"

"Umma.." Siwon menyapukan lidahnya dari bahu ke leher Heechul. Membuat Heechul mendongakkan kepalanya dengan wajah nikmat. Menghisapnya dan menggigitnya kuat.

'PLOP!'

"AHH! Wonnieh.." lenguh Heechul. Dahi Heechul berkerut dengan mata terkatup. Napasnya menderu. Ditatapnya mata emerald putranya yang mengerjap polos. Heechul berdecak pelan. Siwon-nya belajar dengan cepat. Ia hanya sekali mengajari Siwon untuk membuat kissmark, itupun beberapa pekan yang lalu. Namun sekarang pemuda itu sudah bisa mempraktekkannya pada dirinya.

Sebenarnya, Heechul yang berbakat mengajari, atau Siwon yang justru memiliki bakat mesum?

"Apa yang kau lakukan, sayang?" Heechul mengusap bahu dan lehernya yang basah oleh saliva Siwon.

"Aku ingin melakukan hal seperti yang dulu itu, Umma," kata Siwon seraya menyingkap baju hitam Heechul sebatas dada.

"Maksudmu bercinta?"

"Jadi itu namanya bercinta?"

"Ne~ hal yang dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai."

"Aku mencintai Umma," ucap Siwon.

Heechul menekan jantungnya yang berdetak tak karuan. "Umma juga mencintaimu, Siwonnie," sahutnya.

"Kita saling mencintai!" seru Siwon senang, Heechul tertawa melihatnya. "Jadi kita bisa bercinta terus menerus?"

"Kau benar-benar suka bercinta dengan Umma?"

"Ne~ sangat! Tapi... apa Umma akan kesakitan lagi seperti dulu?" tanya Siwon, mulai ragu untuk bercinta dengan ibunya.

Heechul tersenyum dan menggeleng. "Umma tidak apa-apa asal Siwonnie senang." Ia menenggelamkan kepala Siwon dia dadanya yang telah terbuka.

"Gomawoyo~" Siwon meraup tonjolan berwarna pink kecoklatan di dada Heechul, menyentilnya dengan lidahnya, lalu menghisapnya.

"Nghh..." desah Heechul. Dipeluknya kepala Siwon lebih erat. "Baiklah, ki—kita bisa bercinta... sam—sampai kau... angh... pu—ashh..."

0o0o0o0o0o

Heechul melilitkan sehelai selimut tebal pada tubuhnya. Membelai pipi Siwon dan menghapus keringat namja yang terlelap disisinya itu. Ia mengecup bahu, leher, belakang telinga, rahang kemudian bibir joker Siwon secara berurutan, lalu membisikkan ucapan selamat tidur.

Dipandanginya lekat-lekat wajah pulas Siwon. Hembusannya teratur dan tidurnyapun damai. Siwon-nya dapat menjadi namja yang tampan sekaligus manis di waktu yang bersamaan. Mengingatkannya pada suaminya yang telah tiada sejak 21 tahun yang lalu.

Masih hangat dalam ingatannya bagaimana bangsawan itu membunuh suaminya. Seorang aristocrat yang memburu ular untuk diambil kulitnya dan dijadikan sebagai bahan membuat dompet dengan harga selangit. Yang pada akhirnya hanya menjadi pajangan teracuhkan di dalam lemari kaca.

Aristocrat itu... Jung Yunho... Heechul masih ingat bagaimana Yunho menebas kepala Siwon—suaminya—dengan katananya yang tajam. Kemudian mencabut empedu Siwon dan memeras darahnya. Lalu mengulitinya dengan keji hanya untuk dijadikan dompet untuk putra semata wayangnya, Jung Jaejoong.

Heechul melihat dengan jelas saat Jaejoong menelan empedu Siwon lalu meminum darahnya. Bagaimana lidah remaja cantik itu menjilati pinggiran bibirnya dengan wajah penuh kepuasan. Merasakan betapa nikmatnya darah Siwon.

Heechul tersenyum angkuh saat mengingat apa yang ia lakukan untuk membalas dendam atas kematian suaminya. Ia mengutuk aristocrat arogan itu. Ia mengutuk sepasang ayah dan anak itu dalam sebuah hubungan terlarang. Membuat Yunho frustasi dan bunuh diri karena menghamili putra kandungnya sendiri yang bahkan belum genap berusia 15 tahun.

Sembilan bulan kemudian, seorang bayi laki-laki terlahir dari rahim Jaejoong. Bayi yang memiliki wajah yang sama persis dengan Siwon yang telah mati.

Heechul mendapatkan Siwon-nya kembali. Sedangkan Jaejoong kehilangan nyawanya setelah melahirkan Siwon, anak sekaligus cucu Yunho.

Meski Siwon kini adalah manusia, meski Siwon yang baru adalah anak dari sang pembunuh, dan meski Siwon tidak sama seperti suaminya yang dulu, setidaknya Heechul memiliki Siwon kembali. Karena hanya pria berlesung pipi itulah alasan Heechul untuk tetap bertahan hidup.

0o0o0o0o0o

Jongwoon menyandarkan punggung kokohnya di headboard, menyamankan posisi tidur Ryeowook yang duduk sambil memeluk tubuhnya. Namja manis itu kehilangan tenaganya setelah muntah-muntah tanpa henti semalaman. Meski begitu, Jongwoon tetap tak bisa mengikuti jejak sang istri untuk ikut tertidur lelap. Padahal hari sebelumnya ia juga tidak tidur karena Ryeowook yang tak kunjung sadar setelah digigit oleh Heechul.

Pemuda bermata black pearl itu menarik selimut lebih tinggi guna menghangatkan tubuh topless Ryeowook. Kecupan penuh kasih ia daratkan di puncak kepala Ryeowook. Menghirup aroma oceanic yang menguar di tubuh mungil namja pujaannya itu.

Jongwoon tersenyum tipis. Merasa senang karena Ryeowook menuruti perintahnya untuk selalu menggunakan oceanic perfumes sejak pertemuan pertama mereka beberapa tahun yang lalu.

0o0o0o0o0o

"S-sunbaenim.."

Jongwoon sedang membaca buku sendirian di taman sekolah ketika tiba-tiba sebuah suara cempreng membuyarkan fokusnya.

Ia meletakkan bukunya, mendongak dan manik black pearl-nya seolah langsung terkunci pada manik coklat karamel dihadapannya. Seorang hoobae yang sangat imut bersurai coklat madu. Jongwoon yakin surai itu sangat lembut jika ia menyelipkan jemarinya di helaian coklat madu itu.

"... Ne?" sahutnya setelah bisa mengontrol jantungnya yang tiba-tiba bermasalah.

"I-ini untuk Jongwoon Sunbae," ucap namja imut ber-name tag Kim Ryeowook itu seraya menyodorkan sebuah kotak padanya.

Jongwoon menerimanya dengan raut bingung namun tetap memulas senyum hangat. "Kamsahamnida~" Ia memangku kotak itu dia atas pahanya dan membukanya yang ternyata berisi caramel cake.

"Caramel cake? Seperti matamu, cantik sekali," puji Jongwoon. Ia tersenyum saat melihat pipi Ryeowook yang bersemu merah karena malu. "Kemarilah, aku tidak sanggup menghabiskan cake sebanyak ini," ucapnya seraya menarik tangan Ryeowook hingga duduk di sampingnya.

"Ya... kenapa kau memberiku caramel cake, Caramel?" tanya Yesung.

Ryeowook mengerjapkan mata karamelnya beberapa kali. Menambah kesan imut pada dirinya dan membuat Jongwoon kesulitan bernapas. "Namaku—"

"Aku lebih suka memanggilmu Caramel," potong Jongwoon dalam satu tarikan napas.

Ryeowook termenung sebentar kemudian tersenyum kaku. "Ne... itu tidak terlalu buruk daripada dipanggil Queen."

Jongwoon mengerutkan keningnya. Queen? Ia jadi ingat pada kembarannya, Yesung alias King. "Hmm... jadi... jawab pertanyaanku! Kenapa kau membelikanku caramel cake, Caramel?" ulangnya.

"Aku tidak membelinya. Aku membuatnya sendiri, untuk Jongwoon Sunbae.." suaranya semakin lirih saat ia mengatakan untuk siapa ia membuat caramel cake.

Jongwoon terperangah. Ryeowook membuat cake itu sendiri? Padahal dia namja, namun dia pintar memasak. Satu nilai plus tambahan untuk Caramel!

"Itu sebagai ucapan terimakasihku karena Sunbae sudah menolongku waktu itu. Jika tidak ada Sunbae, pasti nyawaku sudah melayang," tutur Ryeowook.

"Hn?"

"Laki-laki bermata emas yang menolongku dari gigitan ular kobra itu Jongwoon Sunbae, 'kan?" tebak Ryeowook. "Kukira itu mata asli, ternyata softlens ya.." sambungnya sambil memperhatikan black pearl Jongwoon.

Jongwoon memalingkan wajahnya dan mendengus pelan. "King!"

"Jongwoon Sunbae?"

"Eh? N-ne, Caramel?" sahut Jongwoon gelagapan. "Panggil aku Hyung saja, oke?"

"Umm... Ne, Jongwoonnie Hyung." Ryeowook tersenyum manis. "Aku tidak menyangka bahwa orang yang menolongku ternyata sunbae-ku sendiri."

"Itu bagus, 'kan?"

"Eh?"

"Hn. Jadi kita bisa sering bertemu," cetus Jongwoon. Ryeowook membulatkan matanya.

Jongwoon mendekatkan wajahnya. Secara tiba-tiba memagut bibir Ryeowook. Menggigitnya lalu menghisapnya kuat. Membuat bibir itu membengkak dengan warna merah menyala.

Ryeowook meremas dadanya cukup kuat. Ia tak bisa berpaling dari sepasang black pearl yang menatapnya tajam. Berhentilah berdetak sekeras ini, jantung bodoh! Jongwoonnie Hyung bisa mendengarnya! Oksigen.. dimana oksigen? Kenapa sulit sekali bernapas? Ahh... kenapa pipiku terasa panas? Bagaimana warna pipiku saat ini? Seperti tomat rebus atau malah kepiting bakar?

Jongwoon nyengir lebar. Begini kan sifat Yesung? Bertindak secara tiba-tiba dan tidak terduga. Namun juga 'mematikan'. Tsk, dasar ular!

"I think I love you, Ryeowookie, Ma Caramel."

Kini jantung Ryeowook tidak hanya berdebar dengan sangat keras, melainkan terlanjur copot.

Jongwoon mengendus rahang Ryeowook dengan gerakan sensual. "Aku tidak suka citrus. Mulai sekarang, pakailah oceanic perfumes, arachi?"

"N-ne, Jongwoonnie Hyung.." lirih Ryeowook tergagap. "Bukankah waktu itu dia bilang suka citrus?" gumamnya kebingungan dengan sangat pelan.

0o0o0o0o0o

Pukul 7 pagi. Yesung yang baru saja pulang dari 'berburu' berjalan santai ke arah dapur saat mendengar suara 'duk duk duk!' dari tempat memasak itu.

Mata emasnya menangkap siluet tubuh adik kembarnya yang tengah berdiri membelakanginya seraya menumbuk sesuatu.

"Jongwoon-ah.."

"Sudah pulang?"

Yesung mengerutkan keningnya. Jongwoon tidak berbalik seperti biasanya saat Yesung memanggilnya. Dan suaranya... dingin sekali...

Disentuhnya bahu Jongwoon. "Jong—ARGH!" APA YANG KAU LAKUKAN?!" jeritnya kesakitan saat tiba-tiba Jongwoon berbalik sambil melemparkan segenggam bubuk ke wajahnya. Beruntung Yesung segera menggunakan tangannya sebagai tameng sehingga hanya punggung tangannya saja yang terkena bubuk itu.

Jongwoon tersenyum sinis. Ia mengepalkan tangan kanannya. Tangan yang ia gunakan untuk melemparkan segenggam penuh garam bercampur bubuk beling ke arah Yesung. Rasa basah dan perih menyayat ia rasakan di tangannya. Cairan kental berwarna merah merembes di kepalan tangannya. Bubuk beling itu pasti masuk ke tangannya yang tidak menggunakan sarung tangan.

Namun ia tidak peduli. Rasa sakit di tangannya tidak seberapa dibanding rasa sakit yang dirasakan kakaknya.

Yesung merintih kesakitan. Tangannya seolah mengeras. Terasa panas dan perih. Punggung tangannya mengelupas. Apa yang dilakukan adiknya itu? Campuran garam dan bubuk beling adalah kelemahan seekor ular, dan adiknya sengaja mencelakainya?

"Masih kurang, kakakku tersayang?" tanya Jongwoon dengan senyum ramah sampai kedua mata sipitnya melengkung membentuk bulan sabit. Ia menarik paksa tangan kanan Yesung, merobek lengan bajunya yang panjang dan kembali menaburkan bubuk itu di lengan sang kakak. Ia mencengkeramnya dengan kuat dan mengusapkannya secara merata seolah bubuk itu adalah lulur.

"Aaarrrggghhh... Cukup, Woon! Sakit... sakiiiitt! Arrrggghh...!" Yesung menghentak-hentakkan tangannya, namun Jongwoon tetap tidak mau melepaskannya. Sial! Bubuk itu membuat kekuatan silumannya menghilang.

"Oh? Kau mau tangan kirimu kuberi garam dan bubuk beling juga, eoh?" kata Jongwoon. Ia dapat merasakan darahnya dan darah Yesung menyatu. Naik, turun, naik, turun, ia terus menggerakkan tangannya begitu, membuat kulit Yesung semakin mengelupas. Tinggal menunggu beberapa menit dan tangan Yesung hanya akan tersisa tulang dan daging.

"Tidak! Jangan, Jongwoon! Sakit... arrrrggghh... Lepas! Lepaskan aku! Arrrggh... sakitt...! UMMAAAAA! UMMA TOLOOONG!"

"Cih, dasar anak Umma. Begini saja sudah sakit, kau tidak pernah sadar selalu menaburkan garam di hatiku?" cibir Jongwoon. "Sini, biar kurusak wajah tampanmu. Biar tidak kau gunakan untuk menipu Ryeowook dan menidurinya!" Jongwoon mengambil segenggam bubuk lagi tanpa melepaskan tangan Yesung.

"Tidak! Jangan! UMMAAAAA TOLOOONNGGG! UMMAAAAA!" jerit Yesung makin ketakutan. Sifat iblisnya melebur. Wajah dinginnya berganti wajah pucat panik. Ia bukan apa-apa jika ada bubuk itu. Ia bagai seekor cacing yang dijemur di terik matahari.

'Srak!'

"JANGAN!"

Seorang namja cantik berlesung pipi memeluk erat tubuh Yesung dan menenggelamkan wajah Yesung di dadanya. Membiarkan punggungnya terkena lemparan bubuk beling dari putra bungsunya.

"Hentikan, Jongwoonnie... hentikan..!" Namja cantik itu menjatuhkan tubuhnya dan memeluk kaki Jongwoon. "Umma mohon, sayang... jangan sakiti Hyung-mu... maafkan dia, Jongwoonnie.."

Cekalan Jongwoon pada tangan Yesung mengendur, kemudian terlepas. Ia membiarkan tubuh lemas Yesung oleng dan tergeletak di lantai dengan kesadaran yang hampir hilang.

Jongwoon mendorong bahu Leeteuk menjauh. Meninggalkan tanda merah berbentuk lima jari di kemeja putih ibunya itu.

"Semua sudah terjadi, Jongwoonnie.. Wookie sudah terlanjur mengandung anak Yesungie... Mengalahlah untuk Yesungie, Woonnie... Kalau saja dulu kau jujur, Wookie tidak akan—"

"AKU TIDAK BERSALAH, UMMA! Bukan salahku jika aku mendustai Wookie dengan mengatakan bahwa aku adalah pria yang menolongnya. Aku hanya menuruti perintah kalian untuk merahasiakan kenyataan bahwa aku punya saudara kembar seekor ular! Bukan salahku jika aku berbalik mencintai Wookie!

"Aku sudah menderita menelan kebohongan demi kebohongan untuk melindungi keselamatan King. Hatiku sudah patah berkali-kali mengetahui Wookie mencintaiku hanya karena menyangka aku sebagai penolongnya.

"Dan setelah dia tahu bahwa aku bukanlah orang yang dicarinya, dia tidak mencintaiku lagi. Kenapa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku? KENAPA AKU HARUS SELALU MENGALAH PADA KING? SEHARUSNYA JANGAN PILIH AKU SEBAGAI MANUSIA JIKA UMMA TIDAK MENYAYANGIKU! KALIAN SEMUA TIDAK ADIL!

'BLAM!'

Leeteuk tertunduk lemah setelah Jongwoon meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya dengan suara pintu berdebam keras. 'Maafkan Umma, Jongwoonnie.. Umma bukan umma yang baik..'

Namja cantik itu mengangkat lengan Yesung dan meniupnya. "Kita obati lukamu ne, Sungie.." ucapnya mencoba tersenyum.

Yesung menatap raut sendu ibunya. "Mianhae, Umma.."

"Anniya~" Leeteuk mendekap Yesung erat. Tak membiarkan Yesung melihat airmatanya yang terjatuh. "Sungie tidak salah... tidak pernah..."

0o0o0o0o0o

Jongwoon membenturkan bagian belakang kepalanya ke pintu. Tampak senyum pedih di sudut bibirnya. Ya, Yesung memang tidak pernah salah. "Dimatamu, selalu aku yang salah kan, Umma?" gumamnya miris. Ia mendudukkan tubuhnya dibalik pintu dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya.

Rasa dingin bercampur perih terasa di tangannya, membuatnya mengangkat wajahnya. Manik black pearl-nya bertemu dengan surai coklat madu milik sang istri.

Ryeowook membasuh tangan Jongwoon dengan air hangat di dalam baskom yang dibawanya. Ia mengusapnya dengan pelan dan hati-hati. Takut melukai suaminya.

Jongwoon terdiam. Istrinya itu... mendengar semuanya?

"... Kau bisa kembali pada King jika—"

"Kau mau membuangku karena aku bukan istri yang baik, Hyung?" potong Ryeowook. Matanya fokus pada luka Jongwoon, tak berani menatap mata suaminya itu. "Aku 'tidur' dengan kembaranmu, aku mengandung anak kembaranmu, aku ragu mengucapkan aku mencintaimu.."

Ryeowook menelan ludah pahit. "Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, Hyung. Tapi ternyata aku begitu sering menyakitimu.." gumamnya. "Jangan sakiti kembaranmu itu. Aku tidak bermaksud membelanya. Aku tahu kau tidak bisa benar-benar menyakitinya."

Ia mengecup tangan Jongwoon dan menempelkannya di pipinya. "Luka ini adalah buktinya."

Ryeowook mendongakkan kepalanya dan menatap lurus mata suaminya. "Aku mencintaimu, Jongwoonnie Hyung. Aku mencintai orang yang mencium bibirku saat pertama kali bertemu. Aku mencintai orang yang memanggilku Caramel. Aku mencintai orang yang lebih suka aku memakai oceanic perfumes." Dibingkainya wajah Yesung dengan tangan mungilnya. "Aku mencintai namja bermata black pearl ini. Yang selalu di sisiku selama 7 tahun ini. Yang selalu mencurahkan seluruh perhatiannya padaku. Jangan merisaukan hal yang tidak perlu dirisaukan."

"Aku akan selalu di sisimu, jadi meskipun kau bosan dan meskipun aku bukan istri idaman, jangan buang aku, ne?"

Jongwoon menarik senyum bahagia di bibirnya. "Aku tidak mungkin bosan padamu." Ia memeluk erat tubuh mungil istrinya. Menghirup wangi oceanic di ceruk leher Ryeowook yang begitu disukainya. "Saranghae, Kim Ryeowook, Ma Caramel.."

"Nado saranghae, Jongwoonnie Hyung.."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

SAIA PANJANGIN! #nyengir

Baik kan gueee XD

Eh ya, bayangin Siwon yang jaman dulu2 ya… yang belum kekar, bukan sekarang. Sekarang mah dia body preman #diinjekSiwonest

Sekedar pemberitahuan, kisah SiChul—YunJae itu saia ambil dari mitologi Yunani tentang cerita Afrodit dan Adonis.

So, Heechul as Afrodit, Yunho as Kiniras (raja Siprus), Jaejoong as Mirrha dan Siwon—anak YunJae—as Adonis.

Kkkk~ dengan pengubahan di sana-sini sih XD

Yang terkenal emang kisah Afrodit sama Ares, tapi saia kan makhluk paling beda di seluruh planet*?* jadi ambil kisah yang bareng Adonis aja.

Makanya Yesung selalu manggil Heechul dengan sebutan Afrodit dan manggil Siwon dengan sebutan Adonis.

Yesung's Concubine

Jenny Kim