Judul : My imagination is my Love

Chapter : 3

Author : Kakashy Kyuuga

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Genre : hurt, romance and fantasy

Pairing : Naruhina

Drrrttt, drrrttt, drrrrttt.

Gaara menghentikan kata-katanya begitu Hp Hinata bergetar. 'Nomor baru?' hanya sekilas melihat layar hp-nya dan kembali tak menghiraukan getaran hp-nya dan memandang penuh Tanya-apa-maksudmu- pada Gaara.

"Aku mencintaimu, Hinata-chan" kata Gaara saat melihat tatapan penuh Tanya Hinata padanya.

"Aku juga mencintaimu, Gaara-kun" Hinata semakin bingung dengan sikap Gaara yang terlihat aneh malam ini.

"Hinata-chan, aku_"

"Sebentar, Gaara-kun. Sepertinya panggilan ini sangat penting" kata Hinata karena nomor asing itu belum memutuskan panggilannya. Tanpa menunggu jawaban dari Gaara, Hinata menerima panggilan itu.

"Oh, maaf. Sepertinya anda salah orang" kata Hinata yang tampak syok setelah mendengar apa yang dikatakan oleh penelpon. Mata jade Gaara terlihat sendu dan hampa, dia ingin, dia harus mangatakannya selama masih sempat.

"Aku ingin kau bahagia Hinata-chan" seolah tak perduli dengan apa yang dikatakan Gaara, dia hanya membalas Gaara dengan seulas senyum.

Dia tidak tahu kemana arah pembicaraa Gaara, dia tak ingin melanjutkan percakapannya dengan Gaara, dia kembali focus ke telepon yang dia terima.

"Ah, bapak, itu tidak mungkin. Sekarang dia ada disini bersama_" Hinata menghentikan kata-katanya saat tak lagi melihat Gaara berdiri di depannya.

Syok, tentu saja apa lagi dia tak melihat Gaara didepannya. Takut, itulah yang dia rasakan saat ini. Berharap apa yang baru dia dengar hanya omong kosong, iris lavendernya mulai menyusuri setiap sisi taman, namun dia tak menemukan sosok Gaara disana.

"Ga_Gaara-kun_" sekali lagi Hinata mencoba memanggil Gaara , berharap Gaara mendengarnya. Namun, hanya suara kendaraan yang sahut menyahut dan suara angin yang menccoba menyadarkan Hinata akan kenyataan yang harus dia hadapi.

"Gaara-kun, benarkah?" entah kemana arah pertanyaan diarahkan.

"Gaara-kun, ini tidak lucu. Ga_Gaara-kun, aku takut" tubuh Hinata bergetar kuat, rasa sakit dan takut dan tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengar membuat hatinya tertusuk dan diremas oleh tangan takdir.

"Tidak! Ini tidak benar! Gaara-kun tidak mungkin_. Tidak! Ini tidak benar! Mereka bohong! Gaara-kun baru saja bilang dia sangat mencintaiku, mana mungkin dia akan meninggalkan ku setelah dia mengatakannnya padaku" rintih Hinata, dia ingin menangis tapi dia tak ingin melakukannya.

"Aku tak boleh menangis. Aku percaya Gaara-kun masih hidup, dia masih hidup. Jika aku menangis itu berarti aku telah menganggap dia telah meninggal. Aku yakin Gaar pasti akan kembali, dan akan ku pastikan itu. Akan ku tunggu Gaara-ku sampai saat itu tiba"

Tekad Hinata yang bersikeras atau tak mau dan tak akan pernah percaya jika Gaara teah meninggal dunia, dia yakin Gaara maih hidup dan dia akan dating padanaya suatu saat nanti.

"Hinata-sama" suara baritone dari seorang mengagetkan Hinata hingga dia terlonjak.

Seorang laki-laki yang mirip dengannya tapi berambut coklat berkuncir dating mendekatinya.

"Neji nii-san" suara Hinata bergetar menyebu nama laki-laki itu.

Neji nama lai-laki itu, kaget melihat kondisi adik sepupunya. "Sepertinya dia sudah tahu" inner Neji. "Anda baik-baik saja?" Tanya Neji yang khawatir melihat kondisi Hinata yang sangat kacau. Iris lavender Hinata menatap kosong sosok Neji.

"Neji nii-san, mengapa mereka tega sekali padaku. Padahal aku tak pernah memnyakiti mereka, mereka bilang Gaara-kun sudah tidak ada lagi"

Neji tersenyum pahit, dia tak menyangka efeknya akan balan seperti ini. Neji menutup iris lavendernya menyembunyikan kolam beningnya menahan bulir-bulir air yang berontak ingin keluar.

"Hinata-sama, semua baik-baik saja" Neji meraih tubuh Hinata dan membenamannya dalam pelukannya.

"Menangislah, Hinata-sama" bisik Neji di atas ubun-ubun Hinata. Tubuh Hinata semakin bergetar. Tidak, bergetar bukan karena luapan emosinya lewat airmata. Tubuhnya bergetar karena goncangan yang dasyat dalam dirinya, yang menggoncang hati dan pikiranya.

Masih dalam pelukan sepupunya, Neji membimbing Hinata melewati lorong-lorong rumah sakit yang membawa mereka kesebuah ruang di ujung koridor. Suara tangis dan ratapan terdengar jelas saat pinu nyang mereka tuju semakin membesar.

"Kenapa nii-san membawaku ke sini? Aku tak ingn masuk, aku takut nii-san" suara Hinata terdengar sendu dalam pelukan Neji, mata amethysnya menatap kosong Neji yang sebenarnya tak sanggup melihat kondisi Hinata yang sangat kacau.

"Dia harus melihat Gaara sendiri, mungkin dengan begitu dia bisa menerima kenyataan ini"batin Neji. "Anda harus masuk, Hinata –sama. Semua menunggumu" kata Neji seraya membuka pintu ruangan itu. Suara isak tangis memenuhi pendengarannya saat pintu dibuka, seketika tubuh Hinata menegang dan meremas baju Neji hingga menyakiti kulit dada Neji.

Aura kesuraman memenuhi ruang itu, suara isak yang dia dengar perlahan-lahan mereda bergantian dengan tatapan-kau harus kuat- ke arahnya. Hanya isakkan dari seorang gadis bersurai coklat -kita sebut saja dia Matsuri- dengan deraian airmata dan suara tangis yang tertahan menatap Hinata dengan tatapan penuh benci.

"Hweeeee~, Hinata~" suara seorang gadis berambut blonde histeris seraya memeluk Hinata yang tampak syok menatap –ada apa ini?- pada mereka/

"Hinata, yang sabar yah" seorang gadis berambut pink ikut mendekat dan membelai punggung Hinata.

"Eeemmm_, Ino-chan, sakura-chan, ada apa? Kenapa kalian menangis?" pertanyaan Hinata membuat Ino makin histeris, sakura ikut memeluk Hinata dia sudah tak sanggup berpura-pura kuat saat melihat shabatnya yang tampak syok berat.

"Hinata, Gaa_" Neji menahan pundak gadis berambut coklat dan bercepol dua untuk berhenti, Neji menggelang padanya. "Tunggu Tenten, biar dia sendiri yang lihat" tambah Neji. Gadis bercepol itu hanya menatap kekasihnya dengan tatapan sendu.

Selain itu, Matsuri berjalan mendekati Hinata, dia melepaskan pelukan tiga sahabat itu dengan paksa tanpa perlawanan dari ketiganya. Matsuri kemudian menarik tangan Hinata mendekati satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Neji ingin menghentikan Matsuri, namun dia segera ditahan oleh pria berambut nanas aka Shikamaru.

"Kau ingin dia tahu sendiri kan?" Shikamaru mempertanyakan pernyataan Neji barusan pada Tenten.

"Dari gelagatnya, aku tidak percaya dia akan memperlakukan Hinata dengan baik" tampah pemuda bertampang datar yang sedari tadiam tanpa ekspresi aka Sai.

"Kenapa di saat seperti ini kalian malah diskusi?" sela pemuda berambut coklat dan memiliki tattoo segitiga terbalik di kedua pipinya.

Sementara itu Matsuri menatap marah pada Hinata yang memandangnya dengan tatapan tak mengerti. "Kau bertanya 'ada apa?'" suara Matsuri menghentikan suara tangis di ruang itu. Kemudian dia menorong Hinata hingga terduduk di bawah tempat tidur. Temari yang sadari tadi terdiam terbelak saat melihat Hinata terduduk di bawahnya dan menatap –apa yang sebenarnya terjadi- Temari.

"Hi~, Hinata~" suara Temari tertahan saat dia teringat kembali akan adiknya. "Gaara~, dia~"

"Gaara-kun?" hinata memiringkan kepalanya sebagai tanda kalau dia memang tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di ruang itu.

Semua yang ada di dalam ruangan itu saling memandang tak habis mengerti dengan sikap Hinata yang terbilang biasa-biasa saja setelah apa yang telah tarjadi pada orang yang dia cintai.

"Semua ini gara-gara kamu, Hinata! Kalau saja Gaara tak bertemu dengan mu, dia sampai sekarang pasti masih hidup" sepertinya Matsuri mulai jengah dengan dengan sikap yang menurutnya terlalu sok –tak terjadi apa-apa- dari Hinata.

'Masih hidup? Oh, tentu saja Gaara-kun masih hidup. Matsuri hanya cemburu padaku'

Matsuri kembali menarik Hinata berdiri dan menunjuk sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Mata amethysnya mengikuti ke mana arah tangan Matsuri.

1, 2, 3, 4, 5, detik kemudian_.

Mata lavender Hinata terbelak, tangannya bergerak spontan menutupi mulutnya yang siap histeris.

Sosok yang terbaring lemas dan tak berdaya, tubuhnya yang terihat kaku dengan sisa-sisa bercak darah yang telah mengering dan yang pastinya dadanya tidak bergerak naik turun, tidak seperti orang yang sedeng tidur. Dari situ dapat kita simpulkan sosok itu sudah tak bernyawa lagi.

'Dia tentu orang yang baik. Pastinya, karena banyak orang yang menangisi kematiannya'

TUNGGU!

Rambut merah, tattoo kanji "Ai", mata dengan lingkaran hitam itu, hidung dan bibirnya. Dia tidak terlihat asing.

DIA!

TIDAK!

Ini tidak lucu, sama sekali tidak lucu.

"Puas sekarang? Puas telah merebut Gaara dari ku? Puas membuat Gaara melupakanku? Puas kau membuat aku kehilangan Gaara selama-lamanya? Kau egois Hinata!" cerca Matsuri yang begitu membenci Hinata yang telah merebut Gaara darinya. Menurutnya Hinatakah yang harus disalahkan dalam hal ini.

Sementara yang lain tak mampu berkata-kata atau membela Hinata, mereka hanya ingin Hinata segera tersadar dari keterpurukannya dab menerima kenyataan ini dengan iklas.

"Temari, nee-san. Dia bukan Gaara-kun, kan?" semua terlonjak mendengar pertanyaan Hinata. 'Sebegitukah syik yang dialami Hinata?' seperti itulah yang ada dalam pikiran mereka yang ada di dalam ruangan itu.

Temari mencoba tegar menghadapi Hinata yang sangat terpukul akan kejadian ini hingga membuatnya seperti orang linglung.

"Sayang sekali, Hinata. Dia memang Gaara" Temari jeda sejenak. "Gaara sudah tidak ada, Hinata. Kau harus kuat dan terimalah kenyataan itu"

Suara Temari bagai beribu ekor nyamuk berpesta pora di telinganya. Ada perasaan aneh yang merasuki hati dan menyiksa pikirannya.

"Aku tahu ini, hanya lelucon kalian. Aku akan pulang. Aku ingin mengistrahatkan pikiranku" kata Hinata tenang, dia tahu semua yang terjadi malam ini hanya mimpi. Istirahat sebentar dan semuanya akan kembali seperti biasanya.

"Nii-san_" panggil Hinata pada Neji, Neji segera berlari kea rah Hinata yang mulai hilang keseimbangannya.

"Hinata-sama!"

"Hinata!" pekik teman-temannya saat Hinata mulai merosot dari pelukan Neji.

"Bawa dia ke UGD" Tenten menyadarkan Neji akan kondisi HInata yang pucat. Segera tanpa menunggu lama Neji memopoh Hinata keluar ruangan menuju UGD.

Saat melewati koridor yang akan membawanya menuju UGD, Neji berpapasan dengan segerombolan perawat, laki-laki berambut pirang gondrong sambil memapah wanita berambut merah panjang mereka melangkah tergesa-gesa menuju ruangan VIP.

Neji seperti mengenal sepasang suami istri itu, dan dia semakin syok saat melihat siapa yang mereka dorong di atas tempat tidur.

TBC