Sebuah tangan pucat terjulur bebas, menyentuh dahi seorang pemuda. Pemuda itu tengah terbaring diatas kasur berwarna biru gelap dengan bedcover warna senada. Kening putih penuh keringat itu mengernyit tak nyaman dalam tidurnya. Ekspresi yang dihasilkan dari sebentuk wajah rupawan berkulit sewarna salju terlihat begitu panik. Napasnya tertarik cukup berat serasa ada beban besar yang tengah menghimpit dadanya.
Tangan itu mengusap dahinya dengan sayang. Mengelap keringat serta merapikan poni kusut sang Uchiha.
Merasa adanya sentuhan asing yang cukup kaku. Mata sehitam langit malam itu membuka. Kelopaknya mengerjap guna menetralkan pandangan berbayang akibat terlalu banyak tidur. Sepasang obsidian jernihnya melirik jari-jari pucat yang nampak kaku di pipi kirinya. Mengikuti arah tangan itu berasal. Dia mendadak tercekat. Pita suaranya bagai kusut, hingga menjeritpun ia tak mampu.
Sebentuk wajah familiar mengukir senyuman lebar yang terkesan menyeramkan. Gigi taringnya yang sedikit tajam terlihat jelas layaknya vampire. Namun bukan itu point paling mengerikannya. Melainkan rupa si pemilik iris amethyst itu yang membuatnya ter-teror.
Bukankah seharusnya orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi?
Pertanyaan itu berputar begitu saja bagaikan kaset rusak.
Mata kelam Sasuke menyiratkan ketakutan. Ingin terpejam tapi tubuhnya mendadak kaku. Dia hanya mampu memaku sosok menyeramkan itu saja. Dia melihatnya.
Bagaimana rambut hitam panjang itu biasanya terikat rapi dibelakang punggung sekarang tergerai acak-acakan. Sepasang mata yang biasanya tampak hidup kini terlihat redup seolah telah mati. Kulit putihnya semakin pias dengan suhu dingin yang abnormal. Dan disetiap persendiannya melintang sebuah luka lebar yang menganga. Mengucurkan darah kental berbau anyir. Sampai-sampai Sasuke nyaris muntah dibuatnya.
Warna merah lekas menutupi tubuh lelaki itu. Menjadikan sosoknya yang seram bertambah semakin seram saja.
"An—anik— empp!"
"Ckckck," Decakan lidah yang diiringi gerakan jari telunjuk didepan wajah menyeringai itu terasa menakutkan.
Bibirnya yang semula ingin berteriak memanggil sang kakak kini telah terbungkam oleh sepotong tangan pucat sedingin es. Setelah bersusah payah mengumpulkan keberanian serta kekuatannya untuk bergerak.
"Sasu chan,"
Biasanya dia akan marah besar jika ada yang memanggilnya dengan suffix menggelikan macam itu. Tapi situasi ini berbeda. Rasanya entah mengapa mencekam sekali.
"Kutinggal sebentar kau sudah lupa padaku, hm?"
Lehernya bergidik saat suhu dingin tubuh itu mendekat. Menguarkan aroma anyir bangkai disekitar penciumannya.
"Aku merindukanmu di alam sana. Kau tahu?" tanya sosok itu dingin. Mata sewarna lavender itu memaku obsidiannya. Entah mengapa sorotan dari mata itu sekarang menakutinya. Tidak bersahabat seperti sebelumnya. Lebih tepatnya ketika si pemilik masih hidup.
"Rasa-rasanya akhirat begitu membosankan jika tidak ada kau disisiku. Bagaimana..." Sudut bibirnya menampakan seringai. "...bagaimana kalau aku..." Perlahan kepala itu mendekat lagi. Mengarah pada telinga kirinya dan berbisik cukup lirih. "...membawamu kesana."
Detakan jantung Sasuke terdengar bergejolak sesaat. Dia hampir lupa caranya bernapas. Sepersekian detik dia terperangah. Mengabaikan sosok mayat berjalan Neji yang saat ini mengubah posisinya menjadi menindih tubuh Sasuke.
Pemuda raven itu kelabakan. Kedua tangannya mendorong tubuh beku tanpa aliran darah itu sekuat mungkin. Meskipun tenaganya masih terbilang lemah. Ketakutan yang menyesakan membuatnya semakin lemah.
Neji terkekeh kering. Suaranya yang serak dan menggelegar menciutkan nyali hingga meremangkan bulu disekujur tubuhnya.
Rasanya dingin.
Dia bisa mati beku kalau sosok itu terus menindihnya.
"Mmmppppp!"
Sasuke memberontak panik. Kekuatan Neji seperti zombie. Pemuda bersurai panjang itu menahan kedua tangannya diatas kepala. Sebelah lututnya menekan selangkangan Sasuke, agar sang Uchiha tidak melakukan perlawanan padanya.
It's a dangerous position!
Di dunia ini ada satu hal yang paling ditakuti Sasuke.
—Yakni disentuh oleh seorang gay.
Ironisnya gay itu sendiri sekarang sudah mati. Lalu —lalu berarti yang ada dihadapannya kini adalah mayat berjalan bukan? Atau hantu?
Keduanya bukanlah sosok yang biasa Sasuke lihat. Ini pertanda buruk. Bagaimana caranya memanggil Itachi di kamar sebelah jika mulutnya sendiri tidak bisa berteriak karna di bungkam. Apalagi mengingat posisi terjepit Sasuke sekarang.
Tawa kering mencekam itu kembali terdengar. Neji menatap buas Sasuke yang saat ini berada dibawah tubuhnya. Hanya dari sorotan matanya saja Sasuke tahu dia tidak akan selamat. Pemuda Hyuga itu seperti tengah menelanjanginya hidup-hidup dan siap menerkamnya kapan saja.
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Ulang Tahun Berdarah Fanfiction
Written by : Nagisa Yuuki
Warning : Gore, AU, OOC, Typo(s), Deathchara, dll.
"Hosh... Hosh... Hosh..."
Sasuke Uchiha terbangun diatas kasurnya dengan peluh yang membasahi sebagian tubuhnya. Suhu ruangan kamarnya hampir menyamai suhu tubuhnya sendiri. Sangat panas dan sesak. Dia seperti tengah berada didalam sauna. Rasanya gerah dan ingin berendam didalam bathtube kalau tidak ingat sekarang dia tengah sakit demam.
Sudah beberapa hari ini dia absen di kampus karena penyakit merepotkan ini. Awalnya Sasuke kira dia hanya kelelahan biasa saja dan kalau mengistirahatkan tubuhnya selama beberapa jam dia akan kembali bugar. Nyatanya setelah melewati malam pertama penuh derita, Sasuke harus menelan pil pahit. Bahwa dirinya dinyatakan terserang penyakit tifus.
Itachi sampai tidak berhenti menceramahinya ini-itu mengenai pola kegiatan Sasuke di kampus sampai memforsir tubuhnya sendiri. Terkadang Itachi juga jengkel karna adik kesayangan bodohnya itu suka menunda-nunda makan ketika sedang sibuk mengerjakan tugas atau kegiatan tambahan di kampus.
Rasakan saja kalau sakit. Dia pikir sakit itu enak apa.
"Aniki..."
Suara parau Sasuke menggema. Dia jadi ingat mimpi buruknya. Dimana dia hampir di perkos— err disentuh oleh zombie mengerikan Hyuga.
Ada angin apa sampai dia memimpikan hal mengerikan itu. Disaat arwah sahabatnya tenang di alam sana. Dia malah mengusiknya dengan memimpikannya.
Sasuke mengacak surai berantakannya yang lengket karna keringat. Kedua kakinya menuruni kasur bersiap melangkah keluar. Mencari keberadaan sang kakak tentunya.
"Aniki..."
Terhuyung-huyung Sasuke mencapai daun pintu. Tepat setelah berhasil membukanya dan melangkah tiga langkah ke depan. Sasuke terjerembab kehilangan keseimbangan karna tiba-tiba saja persendiannya melemas.
Dan disaat itulah sosok Itachi menunjukan eksistensinya. Dia dengan sigap menangkap tubuh adiknya yang hampir tersungkur diatas lantai kayu apato mereka.
"Apa yang kukatakan tadi tentang berjalan sendiri keluar kamarmu Sasuke?"
"Maaf. Aku memanggil aniki berkali-kali tapi kau tidak datang. Kupikir kau sedang keluar rumah."
Suara parau adiknya membuat ia meringis iba. Dibopongnya tubuh lemah Sasuke untuk menaiki kasurnya kembali.
"Aku haus aniki."
"Hn. Akan ku ambilkan. Diam disini." titahnya tegas.
Itachi sedikit merapikan selimut tebal yang dipakai Sasuke agar dia nyaman. Sebelum melangkah ia menyempatkan diri untuk mengusap puncak kepala adiknya yang panas. Dia meringis lagi. Tidak biasanya Sasuke akan kolaps karna penyakit tifus. Sesibuk dan seberat apapun aktifitasnya. Jadi agak aneh juga melihat bocah nakal yang suka membangkang itu sakit.
Tidak sampai dua menit Itachi telah kembali dengan segelas air mineral ditangan kanannya. Tangan kirinya yang bebas membantu Sasuke untuk duduk, sementara dia menyodorkan air itu didepan bibir pucat adiknya.
Itachi kembali menaikan selimut yang melorot dipinggang Sasuke sampai kedagu. Ia dengan cekatan merapikannya lagi. Sebelum beranjak pergi kali ini Itachi menyempatkan diri untuk mengecup singkat dahi Sasuke.
Dia tersenyum. Membelai surai hitam pekat sang adik dan menarik diri untuk bangkit dari atas kasur. Membiarkan Sasuke istirahat dikamarnya.
"Cepat sembuh." Bisiknya sedih dengan sorotan mata yang serupa.
.
.
"Sasuke tidak hadir lagi?" tanya suara malas Shikamaru.
Sakura yang baru saja ikut bergabung dengan teman-temannya mengguman singkat sebagai jawaban.
Rasanya cukup sepi karna keabsenan Sasuke ditambah tiga sahabatnya yang meninggal dunia. Biasanya mereka sangat heboh dan ramai jika sedang berkumpul. Sekarang hanya ada Shikamaru, Chouji, Kiba yang murung, Naruto yang pendiam, dan Sakura sendiri kehilangan semangat karna absennya Sasuke karena sakit.
"Anoo senpai." panggil seorang gadis mungil bermata hitam dengan pipi chubbynya yang merona.
"Y—ya?" Sakura yang tersentak buru-buru bangkit dari duduknya. Sepasang emeraldnya menyipit tatkala mendapati sosok asing yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Anoo sa— saya junior Sasuke senpai di fakultasnya. Senpai ini kekasihnya Sasuke senpai kan?"
Sakura mengangguk kikuk. Otaknya belum mampu mencerna maksud kehadiran junior Sasuke disini.
"Saya dengar Sasuke senpai sakit. Ja—jadi bolehkah saya menitipkan ini untuknya?" Sebungkus kecil bersampul merah muda tergenggam diantara lengan putih mungil gadis itu. "Ini hanya untuk ucapan terimakasih kok senpai. Karena waktu itu Sasuke senpai sudah berbaik hati mengajari saya." ungkap gadis itu malu-malu.
Sekarang Sakura sudah paham. Dia tersenyum kecil sembari menerima bungkusan hadiah yang disodorkan gadis itu padanya. Gadis yang cukup menarik. Manis dan juga imut.
"Akan ku sampaikan pada Sasuke. Oh ya namamu?"
"Um, anoo... saya Megumi, senpai. Maaf kalau saya lupa memperkenalkan nama saya dari awal." Pipi chubby itu kian merona. Sakura terkekeh geli dibuatnya.
"Arigatou Megumi chan. Sasuke pasti senang menerimanya."
Gadis itu mengangguk salah tingkah. Kemudian menundukan kepalanya memberikan penghormatan pada para seniornya ditempat itu sebelum berlalu.
"Seperti biasa Sasuke selalu populer dikalangan perempuan ya. Apa kau tidak cemburu Sakura?"
Kepala merah muda Sakura berpaling kearah sahabat pirangnya. Mata blue safir terang itu menatap jahil padanya.
"Apa sih Naruto. Aku percaya pada Sasuke karna dia tidak mungkin menghianatiku!" sungutnya sebal ketika melihat tawa jahil Naruto meledak.
"Aku hanya bercanda."
Meski tertawa, sepasang safirnya tidak bisa berbohong. Naruto hanya berpura-pura ceria saja. Karna sebenarnya dia sedang mencemaskan keadaan Hinata sekarang.
"Naruto..." bisik Sakura sendu.
Buru-buru Naruto menegapkan tubuhnya. Ekspresi menyedihkannya pastilah membuat Sakura ikut sedih.
"Aku tidak apa-apa Sakura chan. Sungguh!" Naruto menyanggahnya. Disampingnya Shikamaru tampak diam mengamati percakapan mereka dengan serius. Tak lama ketika Sakura melirik kearahnya ia menghela napas malas seperti biasa.
"Kalau tidak salah sebentar lagi ulang tahun Sasuke kan ya? Kita harus memberinya kejutan. Pokoknya yang tidak dapat terlupakan seumur hidupnya." Suara cempreng Chouji menyela perhatian kawan-kawannya.
Kiba menghela napasnya kemudian berucap pelan. Bukan saatnya dia bersikap murung sekarang.
"Benar juga. Sebaiknya kita memberinya kejutan apa ya?" Mimik sendunya beberapa saat lalu menghilang, terganti dengan raut bingung yang terkesan dipaksakan.
"Beri saja dia kejutan dengan mendatangkan para fansnya. Si teme itu pasti akan senang. Apalagi aku ingin melihat wajah frustasi penuh kecemburuan Sakura." ledek Naruto. Sakura segera menjitak kepala pirangnya.
"Hahaha benar itu! Aku ingin melihat ekspresi menyedihkannya." Kiba mendukung ide bodoh Naruto.
"Tapi kalau Sasuke sampai tergoda oleh salah satu fansnya bagaimana?" kata Chouji.
"Biar saja!" ejek Kiba dan Naruto bersamaan.
"Kalian!" Wajah putih Sakura memerah sampai ketelinga. Terdengar suara cekikikan teman-temannya yang menyebalkan.
"Itu tidak mungkin terjadi!" bela Sakura.
"Eh mungkin saja Sakura chan. Dibanding kau yang galak lebih baik para fans Sasuke yang selalu bersikap manis. Mereka juga tidak kalah cantiknya dengan kau." Lidah Naruto menjulur meledek Sakura.
Gadis merah muda itu menutup rapat telinganya. Berusaha untuk tidak mendengar apapun bahan ejekan para sahabatnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi baka!" Teriaknya kesal. Sakura menghentakan kakinya sebelum memutuskan pergi dari tempat itu. Tinggalah kekehan para sahabatnya yang kian senang melihat reaksinya.
Sementara Shikamaru lagi-lagi hanya diam. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak tadi.
.
.
"Kalian tidak pulang?" Sakura menghampiri Shikamaru dan Naruto yang berdiri di depan loker.
Keduanya sontak menoleh. Naruto memberikan cengirannya seraya menggeleng.
"Kami masih ada kuliah tiga jam lagi."
"Tapi kan ini sudah sore."
"Ya memang. Karna jam kuliah kami selanjutnya jam delapan malam."
"Kau pulang duluan saja Sakura. Kalau mampir ketempat Sasuke, sampaikan salam kami."
Sakura mengangguki perkataan Shikamaru.
"Oh dan kalau bisa tolong suruh dia membalas pesanku." Kali ini Naruto yang meminta.
"Baik akan kusampaikan padanya. Aku duluan ya." Senyum manis Sakura mengembang.
"Ya, hati-hati." jawab keduanya. Sakura hanya melambaikan tangan dari kejauhan.
Seperti yang dikatakan Shikamaru dan Naruto. Jam kuliah mereka selanjutnya memang jam delapan malam. Setelah menghabiskan hampir dua jam lamanya. Kegiatan itu akhirnya selesai.
Shikamaru yang sibuk membongkar tasnya terpaksa berbalik arah. Buku catatannya tertinggal diruang kelas tadi. Dia akhirnya menyuruh Naruto untuk pulang lebih dulu, sementara Shikamaru mengambil buku catatannya kembali.
Sebenarnya tidak memerlukan waktu lama. Dia bahkan berniat untuk cepat pulang ketika benda yang dicarinya sudah berhasil ditemukan. Tetapi sesosok siluet manusia yang terlihat mencurigakan, membuatnya penasaran. Sosok itu berjalan menuju taman belakang dengan cara mengendap-endap.
Shikamaru seperti mengenali sosok itu. Walaupun tubuhnya tertutupi sweeter berwarna hitam dengan tudung yang menutupi kepala.
Secara naluriah dia mengikuti kemana sosok itu pergi. Memang sedikit sulit mengingat cepatnya langkah orang itu di ujung sana tadi. Ditambah remangnya lampu koridor saat malam seperti ini.
Shikamaru berdiri dibalik tembok sebelum melangkah keluar menuju taman. Dia takut sosok itu menyadari kehadirannya. Pelan-pelan ia mencoba mengintip. Namun sial. Baru sedetik ia melongok keluar, letupan merah pekat yang cukup kental mengudara layaknya kembang api.
Shikamaru tercengang. Tangannya menutup mulutnya sendiri mencegahnya untuk tidak muntah.
Setelah percikan merah itu mereda, tumbanglah seonggok tubuh tak bernyawa. Mata mayat yang melotot itu terarah pada manik kuaci miliknya. Di leher putih gadis itu terdapat luka lebar yang mengucurkan banyak darah. Letupan yang terlihat seperti kembang api ternyata adalah percikan darah manusia.
Dia menatap nanar si korban yang terlihat mengenaskan. Lalu sepasang matanya menghujami si pelaku pembantaian yang saat ini tengah membuka tudung kepalanya seraya berbalik arah.
Kedua pasang mata berbeda warna itu saling menatap. Tidak ada ekspresi apapun dari wajah si pelaku selain tatapan dingin yang sarat akan kekejaman. Sebagian wajahnya terkotori oleh darah sang korban dan hal itu menambah point betapa mengerikannya penampilan orang itu sekarang.
"Kau— sudah kuduga pelakunya adalah kau!" geram Shikamaru. Giginya saling beradu didalam mulut. "Benar-benar manusia yang tidak memiliki hati kau ini. Brengsek!"
Kemarahan Shikamaru menciptakan sebuah seringaian tajam di bibir sang pelaku.
.
.
Keesokan harinya kampus serasa sepi. Biasanya Sakura akan melihat teman-temannya berkumpul ditempat biasa. Dia menghela napasnya. Sepasang emerald indahnya bertubrukan dengan sosok Naruto. Dia berniat menyapa, namun sayang Naruto hanya menatapnya sekilas kemudian berlalu acuh.
Aneh.
Tidak seperti Naruto yang biasanya dia kenal.
Tapi, yah... Mungkin dia sedang terburu-buru. Bisa jadi kan?
Sakura hampir memasuki kelasnya sebelum suara teriakan histeris mengusik gendang telinganya. Dengan ragu dia menghampiri asal suara bersama mahasiwa lainnya. Tetapi pemandangan mengerikan lagi-lagi tersuguhkan di depan mata.
Sembari menahan mual, Sakura berusaha untuk tidak menjerit dan menangis. Sasuke sedang tidak bersamanya. Dia tidak mungkin menyusahkan orang lain. Dia tidak boleh lemah disaat-saat seperti ini.
Kepala merah mudanya berbalik cepat. Tangannya menutup mulut dan satunya menekan perut mencegahnya gagal mual. Tapi emeraldnya lagi-lagi bertubrukan dengan Naruto. Pemuda itu hanya diam ditempatnya dengan pandangan kosong. Tak lama dia melangkah mundur dan berlari keluar fakultas.
Kejadian ini pastinya juga membuat dia shock.
Karena ini bukanlah pembunuhan yang pertama terjadi di kampus mereka.
.
.
Pulang dari kampus, Sakura menyempatkan diri menjenguk Sasuke seperti rutinitas barunya semenjak sang kekasih sakit. Semalam dia bahkan sampai rela pulang pagi untuk menemani Sasuke tidur dikamarnya. Itachi bilang dia akan lembur di kantor karna ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan.
Sakura tentu saja dengan senang hati menjaga Sasuke meski tanpa diminta. Setelah pulang dari kampus kemarin. Tubuhnya sangat letih, dan tulang-tulangnya seperti sakit semua. Jadi setelah menyuapi Sasuke makan dan minum obat. Sakura ikut terlelap disebelahnya. Sembari mendekap Sasuke tentunya.
Kaki jenjangnya amat riang menapaki lorong lantai 7 tempat apato Sasuke berada. Tetapi dia membelalak tak percaya. Jantungnya berdegup cepat. Melihat Naruto melayangkan bogem mentahnya pada Sasuke yang sedang sakit. Tubuh lemah itu langsung saja terjatuh disertai rintihan serak si empunya suara.
"Sasuke! Ya ampun. Apa-apaan kau Naruto?!" Sakura membentak tepat didepan wajah datar Naruto. Dia membantu Sasuke berdiri kemudian memapahnya kedalam apato. Ketika melewati si pirang, kedua pasang mata itu bertubrukan memancarkan amarahnya masing-masing.
Naruto lekas memalingkan wajahnya disertai geraman kesal. Kakinya berbalik arah dan berjalan meninggalkan lorong dengan hatinya yang kian panas.
"Bibirmu terluka. Akan ku obati."
Sebelum Sakura melangkah Sasuke menahan lengannya.
"Tidak apa. Ini hanya luka kecil."
Gadis itu mendengus tak setuju. Ia tetap bersikukuh mengambil kotak obat untuk mengobati luka di sudut bibir kekasihnya.
"Sebenarnya ada apa? Kalian bertengkar?"
Sasuke mengangguk sedih. Onyxnya menyiratkan penyesalan.
"Masalah apa? Rumitkah?"
"Mungkin," Sasuke tampak tak yakin.
Rasa-rasanya tubuhnya yang letih jadi bertambah letih.
"Soal apa?"
"Hinata."
Gerakan Sakura yang sedang mencelupkan kapas kedalam botol antiseptik terhenti. Dahinya mengernyit bingung. Sasuke kemudian menjelaskan detailnya.
"Aku dan Hinata adalah sahabat sejak kecil," Sasuke terlihat menerawang. Meski kadang merintih karna merasa nyeri pada lukanya yang sedang diobati Sakura. "Dulu kami sangat akrab sampai..." Dia menghela napas terlebih dahulu. "...sampai dia menyatakan cintanya padaku."
"Kami masih sangat kecil. Usia kamipun dulu baru beranjak tujuh tahun. Tentu saja aku belum mengerti. Karna itu kukatakan juga aku mencintainya,"
"Hinata sangat senang akan jawabanku. Selama kurang lebih dua tahun tetap berjalan seperti itu. Dan akhirnya akupun mengerti arti pernyataan cintanya dulu padaku."
"Aku menanyakannya pada aniki yang saat itu tak sengaja kupergoki sedang menyatakan hal yang sama pada mantan kekasihnya dulu. Semenjak itulah aku mulai menghindari Hinata."
"Aku bingung harus bersikap bagaimana. Jadi kuputuskan untuk menjaga jarak, dengan begitu seiring waktu kami akan lupa mengenai hal itu."
"Lalu?" tanya Sakura yang menangkap ekspresi kesedihan pada raut kekasihnya.
"Lalu... ketika kami memasuki SMP yang sama. Disaat itulah aku bertemu dengan Naruto. Aku tahu Naruto menyukai Hinata karna itulah aku mendekatkan mereka berdua. Kupikir Hinata sudah lupa tentang pernyataan cintanya padaku dulu, tapi rupanya... dia masih mengingatnya sampai sekarang."
Kepala Sasuke tertunduk. Buku-buku jarinya tampak memutih karna tangannya dikepal sekuat tenaga.
"Aku menyesal Sakura..." katanya lirih, "Aku sudah menyakiti keduanya. Aku tidak tahu kalau Hinata mencurahkan semuanya di buku harian, dan Naruto telah membacanya. Seharusnya kujelaskan dari dulu. Seharusnya aku menanyakan arti cinta itu terlebih dahulu. Seharusnya... aku tidak menjauhi Hinata dan menghadapinya secara berani. Bukan seperti seorang pengecut yang tak bertanggung jawab."
Sakura memeluk kekasihnya yang tengah rapuh. Mengusap punggungnya lembut seolah ingin menghantarkan kekuatan untuk menghadapi permasalahannya dengan Naruto.
"Kalau Hinata sudah kembali nanti, aku akan mencoba menjelaskannya, agar Naruto dan Hinata bisa melanjutkan hubungannya lagi tanpa beban dariku."
"Ya, kau bisa mengatakannya pada Hinata nanti." Anggukan Sakura dapat dirasakan Sasuke yang sedang berada di dalam dekapannya.
"Terimakasih Sakura." ungkapnya disertai senyuman getir.
.
.
Mobil pick up yang meluncur memasuki daerah hutan mulai berhenti didepan jurang terjal berbatu. Sepasang kaki yang terbalut sepatu kets berwarna merah menuruni kursi pengemudi. Penahan belakang mobil itu dilepaskan. Dan dia lekas menendang sebuah kotak kardus berukuran besar hingga jatuh menghantam tanah. Disaat itulah isinya berhamburan.
Orang itu hanya tersenyum licik melihat tiga orang remaja menyembul lalu berguling dari dalam kotak. Tangan dan kaki mereka terlilit lakban hitam, sama dengan yang menempel dimulut mereka.
Sepasang manik kuaci yang dihiasi lebam kebiruan dengan darah yang mengucur dari kepalanya mendelik. Dia berhasil menjaga kesadarannya dan berusaha meronta dalam ikatan.
Gumaman lemah dari sela bibirnya yang terbungkam kian melebarkan seringai setan di bibir sang pelaku.
Dia melirik kedua temannya yang tidak sadarkan diri. Entah masih hidup atau sudah tiada. Dia tak tahu. Hanya ada noda darah dipakaian dan kepala mereka. Sama seperti dirinya.
"Mmphmpphhtt!" Dia mencoba menjerit, tapi otak jeniusnya sudah menduga kalau hal itu percuma. Dia hanya ingin membangunkan kedua temannya yang ia harapkan semoga saja masih bernapas.
Si pelaku menuruni bagian pengangkut yang sudah kosong. Berjalan santai menghampiri mangsanya. Kakinya lagi-lagi menendang salah seorang pemuda yang memiliki tubuh gempal. Menggelindinginya ke muka jurang dan tanpa perasaan mendorongnya jatuh kebawah sana.
Hal yang sama juga ia lakukan pada sipemilik tato segitiga terbalik berwarna merah. Ia menggulingkan tubuh lemah —nyaris sekarat itu ke arah jurang. Setelah dipastikannya tubuh itu jatuh, kini perhatiannya beralih pada pemuda terakhir dengan rambut hitam yang menyerupai buah nanas.
Pemuda itu menangisi kedua kawannya. Matanya yang sayu semakin sembab karna menangis. Dia terlihat pasrah meskipun sorotan kebencian juga kekecewaan ia hujamkan pada sepasang mata yang terlihat dingin tak seperti biasanya.
Inikah sosok asli orang itu?
Seandainya ia menyadarinya lebih cepat. Mungkin teman-temannya tidak akan mati secara mengenaskan.
Ino, Neji, Tenten, Chouji, Kiba, dan beberapa onggok tubuh lainnya yang ia lihat membusuk didalam jurang.
Hingga sekarang tibalah gilirannya.
Sebelum orang itu menendangnya jatuh, Shikamaru menghempaskan tubuhnya sendiri ke dalam jurang. Aksinya sempat mengagetkan si pelaku, namun tak lama. Karna sesudah itu raut wajahnya kembali memasang tampang datar.
.
.
Sasuke terbangun ketika merasakan adanya sentuhan lembut di puncak kepalanya. Kelopak matanya yang terasa begitu berat, dia paksa sekuat tenaga untuk terbuka.
Kini sentuhan itu menangkup kedua pipinya. Ditengah meningginya suhu badan saat demam, tangan yang menyentuh wajahnya terasa sangat sejuk.
"Sakura..."
Matanya yang buram seperti melihat objek merah muda. Rambut kekasihnya. Sentuhan lembut dibibirnya membenarkan tebakannya.
"Sakura?"
Suara paraunya membuat Sakura meringis.
"Ssshh... Kenapa terbangun? Tidurlah lagi."
"Haus. Aku haus." Sasuke menelan ludahnya susah payah. "Mana aniki? Dia bilang cuma sebentar mengambilkanku obat."
"Di dapur. Sepertinya aku melihat dia menyiapkan obat-obatan tadi. Biar kuambilkan ya? Sepertinya dia tadi kerepotan. Sebentar..."
Senyum Sakura terlihat berbayang di mata Sasuke. Pengelihatannya memang belum pulih. Jika memandang ke kejauhan semuanya tampak blur seperti lukisan abstrak.
Ketika tadi membuka mata saja. Sasuke harus mati-matian menajamkan pengelihatannya guna melihat sosok Sakura. Ternyata tifus itu menyusahkan. Hampir setiap malam dia menderita demam tinggi. Terlebih lagi tubuhnya selalu lemas padahal Sasuke sudah banyak beristirahat.
Ck, intinya sakit itu memang merepotkan.
Tidak sampai dua menit, Sakura telah kembali ke kamar Sasuke sembari membawa baki kecil berisi obat-obatan rutin yang harus di minum Sasuke selama sakit dan juga segelas air mineral.
Sakura membantu Sasuke untuk duduk dan menyuapkan obat ke dalam mulutnya. Dia lekas menyodorkan gelas air kearah bibir pucat itu. Sakura tersenyum manis setelahnya, mengusap raut lusuh kekasihnya yang tetap saja menawan.
"Aniki mana? Rasanya tadi aku mendengar suaranya saat sedang tidur." kata Sasuke. Pengelihatannya mulai membaik sekarang.
"Dia sudah istirahat di kamarnya sepertinya sangat kelelahan sekali. Nah, sekarang kau juga istirahatlah lagi. Kau masih belum sembuh benar. Demammu makin tinggi saja sayang."
Telapak tangan dingin itu menekan dahinya menghantarkan sengatan sejuk ditengah suhu tubuhnya yang terbilang panas. Sakura menarik Sasuke ke dalam pelukannya sebelum membiarkannya tidur. Di kecupnya leher panas Sasuke yang tampak berkeringat. Kedua tangannya mendekap erat tubuh ringkih yang sedang menggigil kedinginan.
Sepasang emerald Sakura memandangnya cemas setelah melepaskan pelukan mereka. Di bantunya sang kekasih untuk berbaring lalu menutupinya dengan selimut yang teronggok dipinggangnya sampai sebatas leher. Sakura mengecupi wajah Sasuke. Dari mulai dahi, turun ke hidung, ke kedua pipinya yang dihiasi rona merah, lalu terakhir bibir pucatnya.
Bertepatan dengan bangkitnya Sakura, bel apato Sasuke berbunyi. Sepasang mata yang telah terpejam itu terbuka lagi. Keningnya yang tertutupi poni mulai mengernyit.
"Siapa yang malam-malam datang kemari?"
Sakura duduk di pinggiran kasurnya lagi.
"Mungkin temannya Itachi-nii. Biar ku lihat dulu. Kau tidurlah... Jangan coba-coba untuk turun dari ranjangmu atau aku akan mengikatmu." ancamnya. Sasuke terkekeh. Mana mungkin dia takut kalau ekspresi wajah Sakura saja selucu itu.
"Cepat pejamkan matamu. Good nite sayang. Cepat sembuh."
Punggung Sakura merunduk untuk mengecup kedua kelopak mata Sasuke. Setelah itu dia buru-buru berlari ke pintu depan untuk menyambut tamu yang kembali menekan bel seolah tidak sabaran.
Seperginya Sakura dari kamarnya. Sasuke mencoba untuk tidur. Efek kantuk yang terkandung dalam obat-obatannya mulai bereaksi rupanya. Lagipula dia memang merasa sangat letih dan lemah.
Aneh sekali. Padahal dia tidak melakukan aktifitas apapun selama sakit. Tipical orang yang terbiasa melakukan banyak kegiatan, ketika tidak melakukan apa-apa dan hanya tidur sepanjang hari pastilah merasakan dampak besar pada tubuhnya.
Sepertinya pernyataan itu memang benar. Sasuke tengah merasakannya sekarang.
Kantuk di matanya mulai menarik kesadaran Sasuke secara pelan-pelan. Dia baru saja hendak menyebrangi pulau mimpi, sampai suara aneh di luar kamar mengusik waktu istirahatnya. Sasuke kembali terjaga. Suara itu seperti suara benda jatuh. Beratnya nada yang di hasilkan pastilah memiliki ukuran yang besar. Kira-kira benda apa yang bisa menimbulkan suara semacam itu?
"Sakura? Aniki?"
Sasuke berdehem kecil mendengar suara seraknya hanya sebatas bisikan. Lama berdiam diri. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengeceknya. Dia tidak mendengar apapun lagi dan suasana tiba-tiba saja menjadi sunyi. Apa tamunya sudah pulang?
Pelan-pelan dia coba untuk menarik napas panjang sebelum mencoba berdiri. Rasanya cukup sulit. Kepalanya yang berdentam-dentam, dan kakinya yang lemas, menyulitkan Sasuke untuk melangkah.
"Ah!"
Baru setengah jalan mencapai pintu kamar dia sudah terjatuh. Menciptakan bunyi debaman kecil karna Sasuke sempat menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kepalanya terasa berputar-putar.
Sasuke berniat untuk bangkit lagi sampai matanya menubruk sesuatu yang mengerikan. Bola mata sewarna langit malam itu melebar dengan bunyi degup jantung yang bertalu-talu keras.
Tak jauh dari tempatnya terjatuh, dia melihat sosok kakaknya terbujur lemah diatas lantai dengan kepala yang berdarah-darah. Tidak ada tanda-tanda pergerakan. Kelopak mata kakaknya terpejam erat, menciptakan ketakutan dalam diri Sasuke. Dia takut kakaknya tak akan terbangun lagi. Dia takut napas kakaknya telah menghilang. Dia takut. Sangat takut.
"Aniki! Aniki!"
Sasuke mencoba berteriak. Namun suaranya sumbang dan bergetar. Matanya yang panas mulai berkaca-kaca. Sekali berkedip arakan sungai di pipi mulusnya berderai jatuh.
Dia kelabakan. Mencari pegangan namun hanya ada pintu kamarnya yang terbuka tepat di belakangnya. Akhirnya Sasuke menyeret tubuhnya sendiri dan mengguncang tubuh kakaknya sambil menangis.
"Aniki... bangun aniki. Apa yang terjadi padamu? Aniki!"
Dia mengedarkan pandangannya kesekitar.
"Sakura!" Nama itu terlintas. Sakura tidak terlihat di ruangan ini. Dia takut Sakura juga mengalami hal yang sama dengan kakaknya. Dia bahkan tidak kembali lagi setelah membuka pintu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah tamu itu yang melakukannya? Siapa orang itu? Dan apa tujuannya?
Sepasang obsidian Sasuke menampakan raut takut yang kentara. Matanya mulai mencari-cari sekaligus siaga. Hingga dia melihatnya. Jejak darah seperti tubuh yang diseret mengarah ke balik sofa, asalnya dari ruangan sebelah tepatnya pintu utama.
Deg!
Di balik sofa itu menyembul seonggok telapak tangan yang tergeletak di atas lantai. Mata Sasuke kian panas. Isakannya terdengar pilu.
"Sakura..." lirihnya.
Di tatapnya sosok Itachi dan tangan yang menyembul itu secara bergantian. Dia bingung harus melakukan apa. Dia panik. Takut. Cemas.
Apa yang harus dia lakukan?
Sasuke tidak sadar kalau di belakangnya telah berdiri seseorang. Sebelum dia menyadarinya. Sosok itu telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan kecepatan sepersekian detik. Sampai Sasuke tersentak karna telat menyadari adanya bahaya.
"Hhmmpff!"
Sasuke meronta-ronta. Dibandingkan kekuatan orang itu, dirinya saatnya ini lebih lemah. Dia dapat merasakan kalau orang itu tengah menyeringai di balik punggungnya. Matanya yang berair melirik sosok Itachi yang terkapar dan sosok Sakura yang terkapar di belakang sofa sekali lagi.
Tiba-tiba saja Sasuke menjerit keras di balik bekapannya. Sesuatu yang tajam dan tipis menusuk tepat urat arteri lehernya. Meninggalkan rasa kebas disekujur tubuh. Perlahan-lahan kesadaran Sasuke mulai terenggut paksa.
Samar-samar hanya ada suara tawa dan sebuah kalimat yang di ucapkan orang itu entah apa. Rasanya terdengar jauh sekali. Hanya degup jantungnya yang dapat terdengar jelas serta desah napas pendeknya yang putus-putus.
.
.
Tbc
.
.
Hayoooo siapa pelakunya? Chap depan akan terungkap kok. Pasti udah ketebak kan? Readers kan pinter-pinter XD~
