Genre :
Friendship / Angst / Romance *maybe*
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Author :
Rein Megumi/Megumi Kisai/Kagami Reinka
Sasuke membuka pintu kamar kaa-san nya yang tidak dikunci."Kaa-san, aku mau cari—" perkataan Sasuke terputus, matanya terbelalak saat melihat kaa-san nya telah terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"K-KAA-SAN!"
Chapter 3#
Seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun ini sedang terduduk gelisah di depan ruang UGD rumah sakit Konoha Hospital, ia sedang memikirkan ibunya yang sedang dirawat. Remaja bernama Uchiha Sasuke itu segera mengambil handphonenya dan tanpa pikir panjang lagi, ia menelepon seseorang yang baru-baru ini menjadi sahabatnya.
"Moshi-moshi?" sapa suara di seberang sana.
"Sa-Sakura, ini aku, Sasuke," jawab Sasuke.
"Ah, Sasuke. Ada apa?"
"Bisa aku minta waktumu sebentar? Aku ingin kau datang ke Konoha Hospital sekarang. Kaa-san ku sedang dirawat masuk UGD. "
"Ap-apa! Bagaimana bisa!"
"Aku akan menceritakannya kalau kau sudah sampai di sini, Sakura. cepatlah."
"Ah, i-iya, aku segera ke sana. Sampai jumpa, Sasuke," ujar Sakura lalu memutuskan sambungannya. Setelah itu, Sasuke mematikan handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku seragam sekolahnya. Sasuke memang masih memakai seragam sekolahnya, ia belum sempat menggantinya dengan baju rumah.
#Kediaman Haruno#
"Cepat, cepat, cepat! Nii-san, cepatlah, aku harus cepat!" seru seorang gadis remaja berambut Pink, gadis yang dipanggil Sakura itu kini sedang berdiri di sebelah kakaknya yang sedang memperbaiki mobil mereka yang tampaknya sedang mogok.
"Uh, kau ini berisik sekali sih," gerutu Sasori, kakaknya Sakura. "Sepertinya mobilnya rusak, aku tidak akan bisa mengantarkanmu ke Konoha Hospital."
Sakura menarik rambutnya frustasi. "Arghh.. lalu bagaimana? Aku harus cepat ke sana!"
"Memangnya di sana ada apa sih, Sakura?" tanya Sasori, dari tadi sebenarnya ia penasaran dengan tujuan Sakura pergi ke Konoha Hospital, tapi Sakura tidak memberitahunya.
"Sudah kubilang nii-san tidak boleh tau!" kata Sakura, ia melihat jam tangan sport warna putih yang terpasang di pergelangan tangannya. "Cepatlah, nii-saaan."
"Huh," Sasori tampak berpikir sebentar, setelah itu ia mendapat sebuah ide. "Eh, kau naik bus saja? Tou-san dan kaa-san tidak ada, aku memperbolehkanmu."
"Eh, benarkah?" tanya Sakura sambil tersenyum senang, Sasori mengaguk. "Aa~ Arigato, nii-saan. Kau memang nii-san ku yang paling baiiik. Aku berangkat dulu, ya? Jaa!" seru Sakura, lalu mencium pipi kakaknya dan kemudian langsung berlari keluar halaman rumah.
Sasori hanya tersenyum memandang adik satu-satunya itu. "Iya, Sama-sama, Imouto."
"Sasuke!"
Merasa dipanggil, Sasuke menoleh, ia melihat seorang gadis cantik berambut Pink sedang berlari ke arahnya. Sasuke pun berdiri, hanya sekedar untuk menyambut gadis itu datang.
"Sakura," gumam Sasuke.
Sakura berhenti tepat di depan Sasuke. "Sasuke, bagaimana kaa-san mu? " tanya Sakura.
Sasuke menghela nafas. "Aku tidak tau. Dokter yang memeriksa kaa-san ku belum keluar dari ruangan kaa-san ku."
"Hmm.. Sabar ya, Sasuke?" ujar Sakura, Sasuke hanya mengaguk kecil.
Setelah percakapan singkat tadi, mereka hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sasuke memikirkan tentang keadaan kaa-sannya dan sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa, sementara Sakura berpikir tentang kebohongannya terhadap Sasuke.
Beberapa lama kemudian, pintu ruang UGD dibuka oleh seorang wanita muda yang memakai jas warna putih, dokter Tsunade.
"Dokter!" panggil Sasuke, ia menghampiri dokter itu diikuti Sakura di belakangnya. "Bagaimana keadaan kaa-sanku?"
Dokter itu menatap Sasuke sebentar, kemudian menghela napas. "Sudah membaik, sekarang ia sedang istirahat," ujar dokter itu. Mendengar kata-kata dokter itu, Sasuke dan Sakura menghela napas lega. "Masuklah, jenguk kaa-sanmu. Setelah itu tolong ke ruanganku."
Sasuke mengaguk, lalu segera masuk kedalam ruang UGD diikuti Sakura.
XoXoXo
Aroma khas rumah sakit mulai tercium oleh Sasuke dan Sakura, saat ini mereka sedang berada di ruang UGD tempat kaa-san Sasuke masih beristirahat. Kaa-san Sasuke memang belum dipindahkan ke ruang rawat lain, ia masih di UGD.
Perlahan, Sasuke mendekati kaa-sannya dan menatap kaa-sannya dalam-dalam. Ia menggenggam tangan kaa-sannya yang pucat.
"Kaa-san," panggil Sasuke. "Kh.. kaa-san harus cepat sembuh, di dunia ini aku hanya mempunyai kaa-san, kaa-san tidak boleh pergi," ujar Sasuke. Sasuke yang biasanya berwajah dingin, sekarang menampilkan wajah sedihnya di depan kaa-san dan sahabat barunya –Sakura.
Sakura menatap sedih ke arah Sasuke, ia mendekati Sasuke yang sedang menggenggam tangan kaa-sannya. "Sasuke, bukannya kau disuruh dokter untuk ke ruangannya?" tanya Sakura.
Sasuke mengaguk lalu berdiri. "Iya, aku akan ke sana," ujar Sasuke lalu menatap kaa-sannya, kemudian ia menatap Sakura. "Tolong jaga kaa-sanku sebentar." Sakura yang mendengar itu pun mengaguk.
XoXoXo
Sasuke berjalan keluar dari ruang UGD, ia menutup pintunya perlahan agar tidak membangunkan kaa-sannya. Sekarang ia akan pergi ke ruangan dokter Tsunade, karena tadi ia dipanggil oleh dokter Tsunade. Selama berjalan ke ruangan dokter Tsunade, Sasuke hanya menatap kosong lantai-lantai yang ia lewati, ia sibuk dengan pikiran tentang kaa-sannya.
Tidak terasa, akhirnya ia sampai di depan pintu putih bertuliskan nama dokter Tsunade. Segera ia mengetuk pintu itu.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk," ujar Suara dari dalam ruangan.
Mendengar ia sudah diijinkan untuk masuk, Sasuke pun segera memasuki ruangan itu dan menghampiri sang dokter yang sedang sibuk di meja kerjanya.
Dokter yang bernama Tsunade itu mendongakkan kepalanya, dilihatnya seorang anak remaja yang cukup tampan. "Ah, kau, siapa namamu?" tanya Tsunade.
"Sasuke, Uchiha Sasuke." Jawab Sasuke lalu ia melihat
"Ah, ya. Duduklah," suruhnya, Sasuke pun segera duduk di depan .
"Mengapa memanggilku?" tanya Sasuke.
"Hm, aku hanya ingin membahas sesuatu tentang kaa-sanmu. Aku langsung saja, apa kau tau kalau kaa-sanmu memiliki penyakit ?" tanya Tsunade. Mendengar itu, Sasuke langsung mengaguk. "Ku pikir kaa-sanmu harus dirawat di rumah sakit dan segera dioperasi. Penyakit kaa-sanmu sudah sangat parah."
Sasuke yang mendengar itu hanya menarik nafas berat. "Berapa.. biaya operasinya?"
"Bisa mencapai belasan juta," ujar Tsunade.
"Kalau.. tidak dioperasi?" tanya Sasuke lagi.
Tsunade menghela nafas. "Kemungkinan besar, kaa-sanmu tidak akan ada lagi di dunia ini."
"…."
"Bagaimana, Sasuke? Kalau kau mengijinkanku mengoperasi kaa-sanmu sekarang, tolong bayar uang operasinya," ujar Tsunade, melihat raut wajah sedih dan bingung Sasuke, Tsunade menambahkan lagi. "Tapi, kaa-sanmu masih bisa dirawat inap di rumah sakit ini. Setidaknya itu untuk mencegah penyakit kaa-sanmu yang makin lama makin parah."
Saske mengaguk mengerti. "Kalau begitu, untuk sementara rawat dulu kaa-sanku di rumah sakit ini. Tapi, berapa biaya perawatannya?"
"Itu bisa dilihat nanti, Sasuke. Yang jelas tidak akan murah," ujar Tsunade.
"Ya sudah, aku permisi dulu," ujar Sasuke lalu pergi keluar dari ruangan Tsunade. Tsunade sendiri hanya diam memperhatikan punggung Sasuke yang semakin menjauh.
XoXoXoXo
"Sasuke?" panggil Sakura, Sasuke yang sedari tadi diam langsung melihat Sakura tanpa membalas panggilannya. "Ceritakan padaku, apa yang dokter katakan tadi?" tanya Sakura, ia berjalan mendekati Sasuke yang sedang duduk di sofa dan duduk di sampingnya.
Sasuke menatap Sakura, ia ragu-ragu untuk menceritakan hal ini pada Sakura. Jujur saja, Sasuke belum sepenuhnya percaya pada Sakura. Tapi akhirnya ia menceritakannya juga pada Sakura. "Dokter bilang, kaa-san harus dioperasi karena penyakit yang dimilikinya. Kalau tidak, kaa-san tak akan ada lagi di dunia ini."
"Lalu? Kau menerimanya?"
"Tidak."
"Apa? Kenapa? Bukannya dengan operasi kemungkinan kaa-san mu bisa sembuh?" tanya Sakura.
Sasuke menghela nafasnya lalu memandang kaa-san nya yang masih terbaring lemah di kasur rumah sakit. "Itu masih kemungkinan. Bisa saja operasi nya gagal dan kaa-san tak dapat ditolong. Lagipula biaya operasinya mahal, darimana aku bisa mendapatkan uang itu untuk membiayai operasi kaa-san?"
Sakura memandang sedih Sasuke, ia menghela nafasnya. "Lalu sekarang kaa-sanmu bagaimana?"
"Ia akan dirawat inap di rumah sakit ini. Sementara itu, aku akan kerja sambilan untuk membiayai pengobatan kaa-san," ujar Sasuke. ia melihat jam dinding di kamar itu, jam itu sudah menunjukan pukul satu malam. "Sakura, pulanglah."
"Eh?"
"Ini sudah larut malam. Sebaiknya kau pulang, orang tuamu pasti akan mencari-carimu kalau kau belum pulang," ujar Sasuke.
"Sasuke juga akan pulang?"
"Tidak, aku akan menemani kaa-san ku di sini."
"Kalau begitu aku akan di sini juga," ujar Sakura. "Tak usah khawatir soal orang tuaku, tadi aku sudah memberitahu mereka. Mereka memperbolehkanku kok."
Sasuke menatap Sakura, kemudian berdiri. "Tidak. Ayo, kuantar kau pulang."
"Eh? Aku tidak akan pulang, aku akan menemani Sasuke di sini!" ujar Sakura, ia bersikeras ingin menemani Sasuke di rumah sakit. Ia tidak tega membiarkan Sasuke sendirian menemani kaa-sannya di rumah sakit.
"Tidak usah. Besok sekolah, kau harus tidur dan bangun pagi-pagi untuk menyiapkan keperluan sekolah."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Pagi-pagi nanti aku akan kembali ke rumah untuk menyiapkan keperluan sekolah," ujar Sasuke. Sakura hanya cemberut karena tidak diijinkan Sasuke untuk menemaninya. "Sudahlah, ayo pulang."
"Ya, ya, ya," Sakura pun akhirnya menyerah dan berdiri kemudian mengikuti Sasuke keluar dari kamar rawat.
XoXoXo
"Heeei, Sasukeee," panggil Sakura, Sasuke hanya melirik Sakura kemudian kembali melanjutkan kegiatan membaca bukunya. Sakura yang cemberut karena merasa didiami oleh Sasuke pun akhirnya mengambil bangku dan duduk di depan Sasuke. Sakura diam, ia memperhatikan Sasuke yang sedang membaca buku.
Merasa diperhatikan, Sasuke pun melihat Sakura. gadis itu sedang sibuk melihat dirinya. "Apa?"
"Eh, tak apa," ujar Sakura. "Ah! Aku hampir lupa, kau dipanggil kepala sekolah, Sasuke."
"Hn," Sasuke hanya bergumam tidak jelas lalu berdiri dari tempat duduknya, menutup buku yang sedari tadi dibacanya dan menyimpannya di dalam tas lalu berjalan keluar kelas dengan kedua tangan di dalam kantung celananya diikuti Sakura.
Sasuke yang sedari tadi diam saja akhirnya kesal dengan Sakura yang mengikutinya dari belakang. "Kenapa kau mengikutiku?"
"Heh?" Sakura salah tingkah, matanya melihat-lihat ke segala arah, mencari alasan. "Err.. aku hanya ingin.. menemanimu?"
"Hn?"
Sakura makin salah tingkah ketika melihat Sasuke yang menatap dirinya dalam-dalam dengan alis yang terangkat. 'tampan sekali,' pikir Sakura. "Ituu.. yah, kau tahu, err mungkin kau butuh teman untuk menemanimu pergi ke kantor guru?"
"Aku bisa sendiri," ujar Sasuke, dingin. "Tapi.. kalau kau mau menemaniku—ya sudah."
"Eh? Kau serius?" tanya Sakura, ia tidak percaya Sasuke membolehkan dirinya menemaninya, padahal yang ia tahu Sasuke hanya ingin sendiri kalau dipanggil oleh kepala sekolah atau semacamnya. Ia tidak yakin, tapi tadi ia melihat semburat merah di wajah putih Sasuke.
"Hn, sebelum aku berubah pikiran," kata Sasuke lalu berjalan duluan meninggalkan Sakura.
"Eeeh.. Sasuke, tunggu!" seru Sakura lalu menyusul Sasuke dan berjalan di samping Sasuke.
XoXoXo
Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, Sasuke menatap pintu itu ragu-ragu. Ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu itu. Bukan karena ia murid bermasalah yang takut dihukum, ia hanya tidak mau kalau kepala sekolah memanggilnya hanya karena untuk mengingatkannya tentang biaya sekolah yang sudah berbulan-bulan belum ia bayar.
Akhirnya dengan perlahan ia mengetuk pintu ruangan kepala sekolah itu dan dibalas dengan seruan yang menyuruh Sasuke masuk ke dalam ruangan itu.
Sang kepala sekolah duduk diam di kursinya, ia menatap Sasuke. Kemudian mata biru lautnya menatap seorang gadis berambut pink yang sedari tadi menemani Sasuke. "Sakura, maaf—tapi bisakah kau keluar sebentar?"
"Eh? Memangnya kenapa Minato-sensei?"
"Aku ingin berbicara sesuatu yang hanya diketahui olehku dan Sasuke," ujar Minato. "Kalau tidak keberatan, tunggulah di luar."
Sakura menggigit bibir bawahnya, ia khawatir pada Sasuke, karena itu ia menemani Sasuke sedari tadi. Yah, mungkin berlebihan khawatir hanya karena seseorang dipanggil kepala sekolah. Tapi memang begitulah Sakura, lagipula Sakura sudah sangat menyayangi Sasuke.
Sasuke menatap Sakura, ia tahu Sakura mengkhawatirkan dirinya. Sasuke menghela nafasnya. "Sakura, tunggulah di luar," pinta nya. Sakura memandang Sasuke lalu akhirnya mengaguk dan berjalan keluar.
Setelah melihat Sakura keluar dari ruangan, Minato memulai pembicaraan mereka. "Kelihatannya ia menurut sekali padamu, kau dan Sakura pacaran?" tanya Minato, sedikit basa-basi.
"Tidak, ia temanku. Tidak lebih," ujar Sasuke, dingin. Sakura yang sedari tadi menguping pembicaraan Sasuke dan Minato hanya menunduk sedih ketika mengetahui bahwa Sasuke hanya menganggapnya teman. Tapi ia harus memakluminya, Sasuke baru mengenalnya dua hari yang lalu.
"Oh, begitu," balas Minato. Laki-laki tampan yang merupakan ayah Naruto—teman Sasuke itu kemudian menatap Sasuke. "Sasuke, aku akan langsung ke topik utama kita. Kau tahu, Kurenai-sensei sudah menagih uang sekolahmu."
"Hn."
"Mungkin sedikit tidak sopan, tapi bisakah kau cepat membayar uang sekolahmu? Kau pasti tahu apa yang akan terjadi padamu kalau kau tidak segera membayar uang sekolahmu, kau akan dikeluarkan dari sekolah," ujar Minato.
'Sasuke.. akan dikeluarkan dari sekolah kalau tidak segera membayar uang sekolah?' tanya Sakura dalam hati. Gadis cantik itu saling menggenggam kedua tangannya, khawatir memikirkan Sasuke.
Sasuke diam menatap Minato, ia tidak tahu harus berbicara apa. "Dan lagi, ada beberapa buku yang harus kau beli untuk keperluan sekolahmu. Saat ini hanya kau yang belum membeli buku itu."
"Aku.. akan mengusahakannya, sensei," ujar Sasuke lalu berdiri dri tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Minato. "Permisi."
XoXoXo
Angin berhembus menerpa wajah Sasuke yang sedang beristirahat di bawah pohon Sakura di taman samping sekolah. Ini adalah tempat yang sangat disukainya. Sasuke merasa sangat nyaman jika berada di sini, ia merasa beban dan semua masalahnya hilang begitu saja kalau ia mengistirahatkan dirinya di tempat ini.
"Sasuke!" seru seorang gadis, Sasuke menghela nafasnya, ia sedikit kesal karena ada yang mengganggu acara santai-santai nya ini. Sasuke malas berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya itu, Ia mengetahui bahwa gadis yang memanggilnya itu adalah Sakura—gadis yang selalu mengganggunyadi sekolah tadi pagi.
Sakura tersenyum melihat Sasuke yang sedang tiduran di bawah pohon Sakura, ia menghampiri Sasuke dan duduk di sampingnya. "Sasuke, lihat, aku membuatkan makan siang untukmu. Kau suka Sushi, 'kan? Ini, kubuatkan sushi extra tomat untukmu!"
Sasuke bangun dari tidurnya lalu menatap Sakura, kesal. "Kau tahu, kau menggangguku, Sakura."
"Ah," Sakura terkejut mendengar Sasuke mengatakan itu, ia menunduk. "Maaf," Sakura merasa bersalah. Memang benar, sejak Sasuke keluar dari ruangan kepala sekolah, Sakura terus-terusan mengganggu Sasuke, mengajak Sasuke berbicara, padahal ia tahu bahwa Sasuke bukanlah orang yang suka berbicara banyak. "Aku.. hanya ingin menemani Sasuke, menjadi teman Sasuke."
Sasuke menghela nafasnya, ia merasa tidak enak hati karena sudah berkata sedingin itu pada gadis yang sebenarnya berniat baik ini. Sasuke bingung, kenapa sekarang ia menjadi orang yang gampang sekali luluh pada setiap kata-kata Sakura. "Tak apa."
Sakura tersenyum senang mendengar ucapan Sasuke. Kemudian kedua tangan gadis cantik itu terulur untuk memberikan Sasuke sekotak sushi yang sengaja ia buatkan untuk Sasuke. "Ini, Sushi extra tomat sebagai permintaan maafku."
Sasuke diam mentapa kotak Sushi buatan Sakura, alisnya terangkat sebelah. "Bukankah tujuan utama mu kesini adalah untuk memberikanku Sushi itu?"
"Err.. yah," Sakura tersenyum canggung, wajahnya sedikit memerah. "Ah, sudahlah, makan saja. Aku sudah sengaja bangun pagi hanya untuk membuatkanmu ini lho, Sasuke." ujar Sakura, meminta—err atau tepatnya memaksa Sasuke untuk memakan Sushi buatannya.
"Hn, terima kasih," ujar Sasuke lalu mengambil kotak Sushi itu dan memakannya.
Sakura tersenyum. "Eh, anu.. Sasuke, boleh tidak aku memanggilmu Sasuke-kun?"
"Sasuke-kun?"
Sakura menunduk malu, mungkin ia terlalu nekat. "Err.. yah, maaf. Aku hanya merasa lebih dekat denganmu kalau kupnaggil begitu. Kalau kau keberatan, aku akan memanggilmu seperti biasa."
"Terserah kau saja."
Sakura tersenyum menanggapi kata-kata Sasuke. gadis itu sedikit menggeser duduknya sehingga lebih dekat dengan Sasuke. "Bagaimana rasa Sushinya, Sasuke-kun? enak?"
"Lumayan,"
Sakura cemberut mendengar jawaban Sasuke. 'Apa-apaan itu jawaban lumayan? Apa susahnya sih menjawab enak atau tidak?' pikir Sakura. "Sasukeeeee"
"Berisik," ujar Sasuke lalu kembali memakan sushi buatan Sakura itu. Sementara wajah Sakura sudah semakin cemberut. Secara tidak sadar, Sasuke sedikit menarik ujung bibirnya. Tersenyum tipis.
XoXoXoXo
Sakura menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya yang spreinya bermotif bunga Sakura. gadis berambut Pink itu tersenyum ketika mengingat Sasuke—laki-laki yang disukainya memakan sushi buatannya dengan lahap.
Tapi tak lama kemudian, senyum manis itu hilang dari wajah Sakura. Ia teringat akan percakapan Minato dan Sasuke tadi pagi. "Kalau tidak membayar uang sekolah secepat mungkin.. Sasuke-kun akan dikeluarkan dari sekolah," gumam Sakura.
Sakura menghela nafasnya, ia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling yang berada di sebelahnya. "Sasuke-kun tidak boleh keluar dari sekolah," ujar Sakura. "Aku harus membantunya. Tapi bagaimana caranya?"
Sakura diam, ia sibuk memikirkan cara untuk membantu Sasuke agar tidak dikeluarkan dari sekolah hanya karena sudah berbulan-bulan tidak membayar uang sekolah. Beberapa saat kemudian, gadis itu tersentak. Yah, mungkin ia bisa membantu Sasuke dengan cara itu, walaupun kebohongannya pada Sasuke akan bertambah.
To Be Continued ..
Blablablaaa~
Astaga..
Fict ini lama banget yah updatenya..
Lama.. lama.. LAMAAA BANGET UPDATE NYAAA! *guling-guling*
Maaf banget, aku jadi ga enak hati sama yang review minta update kilat..T-T
Maaf juga, aku ga sempet bales review T_T
Ngomong-ngomong apa kabar? Lama ga ketemu xD. Pasti banyak yang udah lupa sama fict ini yah? Pasti tuh.. sekarang aku balik lagi nih, ada yang inget ga? Aku Rein Megumi/Megumi Kisai! xD Sekarang sih udah ganti penname jadi Kagami Reinka :3
Chapter yang ini pendek yah? Aku buru-buru sih xD. Kalo ada –banyak- typo, maaf yah? Chapter depan kuusahain ga ada typo. Ohya, untuk fict-fict ku yang kayaknya bakalan lama banget diterusin. Sudah ya, kita ketemu di Chapter depaan~
-Rein.K/3:14 PM-
