.

CHAPTER 2

.


Baekhyun berteriak nyaring ketika sebuah cambukan api mengenai punggungnya. Luka bakarnya terasa perih, sangat menyakitkan. Sebuah suara rendah menggema, suara alpha penuh wibawa namun dibawa dalam kemarahan yang menggebu.

Pimpinan kaum shapeshifter sangat membencinya hingga ke tulang. Setiap bulan ketika cucunya mengalami kesakitan, maka Baekhyun dihukum dengan satu kali cambukan api. Air mata kesakitan menetes, namun mulutnya hanya bisa mengeluarkan engahan tanpa mampu melawan.

Rasa hausnya teralihkan oleh rasa sakit tiada tara.

Meskipun lukanya melintang dari bahu hingga pinggang, namun sakitnya terasa dari ujung kepala hingga telapak kaki. Tubuh pucatnya terhuyung, kemudian ambruk ke dalam dekapan Jongin. Pria berjenggot abu itu menatapnya dengan sorot marah.

Hanya tatapan namun mampu mencekiknya. Baekhyun tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada lengan Jongin.

"Berikan dia darah."

Tanpa banyak kata, pria tua itu akhirnya berlalu. Memberinya makan setelah melewati masa-masa penuh kesakitan. Jongin mencoba memanggilnya berulang kali, berusaha tetap membuatnya sadar. Sementara mata safir Baekhyun meredup, menatap pria tua itu dengan senyuman kecil di bibirnya.

Pria itu mungkin selalu menghukumnya, namun tak pernah sekalipun lupa untuk memberikannya darah manusia setiap bulannya. Makanan yang paling ia butuhkan ketika bulan purnama merajai bumi. Setelah berhari-hari hanya mengkonsumsi darah hewan atau tidak sama sekali.

"T-Terima kasih..." bisiknya lirih. Jongin memalingkan wajahnya, merasa iba.
.


.

"Hhh... hhh..." Baekhyun terbangun dari tidurnya ketika kenangan lama itu merangsak masuk disela-sela mimpi indahnya.

Ia mengusap pergelangan tangannya, merasakan nadinya berdenyut lambat. Seluruh yang ada dalam diri vampire nyaris menyamai manusia, hanya semuanya bekerja lebih lambat daripada manusia pada umumnya.

"Hhh..." Sedangkan dadanya berdebar. Merasa takut namun juga lega. Kenangan itu banyak meninggalkan bekas. Masih terasa hingga sekarang.

Meski nyatanya, pria tua itu telah meninggal lima tahun yang lalu.

Bunyi sel yang terbuka mengalihkan perhatian Baekhyun. Memperlihatkan sosok Jongin dengan nampan berisikan peralatan suntik dan segelas cairan warna merah pekat. Jongin mengernyitkan dahi kemudian mendekatinya dan duduk bersila di depannya.

Baekhyun menyapa dengan sedikit senyuman dan lambaian tangan yang menyebabkan gemerincing rantai yang membelit tangannya terdengar. Sayangnya senyuman itu tak dapat menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya. Terlihat kebingungan dan ketakutan. Dahinya bahkan berkeringat, dinginnya bahkan seperti lelehan es.

"Kau terbangun olehku?"

"Tidak, Jongin." Safir biru Baekhyun mengamati pria yang telah tumbuh dewasa itu. Tubuhnya semakin tinggi dan berbentuk. Kulit tannya berkilat oleh sedikit keringat. Kesan seksi dan maskulin melekat erat dalam diri dua-puluh-enam Kim Jongin.

Seseorang yang dulu ia anggap adik, sekarang justru tampak seperti kakaknya. Meski usia mereka terpaut puluhan tahun, nyatanya Baekhyun tidak menua, sementara Jongin hidup seperti shapeshifter pada umumnya. Bisa dewasa, tua, dan akhirnya meninggal dunia.

"Besok purnama."

"Aku tahu. Aku menghitungnya."

"Kecerdasan seorang vampire memang tidak bisa diragukan." Kedua tertawa pada pernyataan Jongin. Pria dewasa itu selalu saja memujinya. Mengaguminya layaknya seorang idola.

Setidaknya Baekhyun bersyukur karena takdir memilih Jongin untuk menjadi blood smuggler Chanyeol. Jongin tidak pernah menatapnya dengan raut waspada atau pun takut. Mereka mengobrol bebas layaknya teman.

Juga, Jongin selalu membuatnya merasa lebih baik meskipun harus hidup sendiri diruangan sempit selama puluhan tahun lamanya.

"Ini sudah sebelas tahun, Baekhyun..."

"Aku menghitungnya, Jongin."

"Kau pasti sangat merindukan keluargamu." Senyuman indah Baekhyun berakhir menjadi ukiran lengkungan yang pahit terlihat. Safirnya berubah sendu, namun berusaha ia sembunyikan di balik ekspresinya yang sok baik-baik saja. Jongin tahu, dia hanya sedang pura-pura tidak tahu. "Ini, makan malammu..."

Sebuah gelas terulur padanya, Baekhyun dengan senang hati menerimanya. Bibir tipisnya mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menenggak cairan merah itu perlahan. Tenggorokannya langsung terasa segar. Seolah air pengunungan tiba-tiba muncul di kerongkongannya untuk membasahi keringnya dinding-dindingnya.

Dahinya mengernyit ketika cairan merah pekat itu habis tak tersisa.

"Ini darah manusia." gumamnya, menatap bekas darah yang hanya tersisa sedikit. Baunya sangat memikat untuk kaum sepertinya. Lebih segar daripada darah binatang. "Dan ini masih baru." Jemarinya mengusap permukaan gelas itu.

Binarnya penuh takjub.

Sudah lama sekali dia tidak meminum darah manusia sesegar ini. Biasanya, darah manusia yang diberikan padanya setiap bulan adalah darah yang dibeli di kota, wilayah dimana manusia tinggal. Tapi kali ini berbeda.

"Ada kecelakaan di kota. Seorang manusia nyawanya tidak tertolong. Aku diam-diam mencuri darah yang masih mengalir dalam nadinya."

"Dia bukan mati karena kau membuatnya kehabisan darah, kan?"

Jongin tertawa.

"Tidak, tentu saja. Meskipun jantung telah berhenti, darah dalam nadinya masih mengalir kan?"

"Ah, kau benar." Obrolan mereka sebenarnya bukanlah hal yang menarik. Namun perbedaan ras membuat mereka penasaran pada kehidupan masing-masing.

Dalam tahun-tahun yang terlewati ini, Jongin selalu membuatnya merasa bersemangat dengan sejarah-sejarah tentang kaum shapeshifter. Sementara ia sendiri akan bercerita dengan menggebu-gebu mengenai kehidupannya saat masih menjadi manusia juga kehidupan yang ia lalui setelah menjadi seorang vampire.

Hal-hal sederhana itulah yang membuat mereka semakin dekat. Persahabatan dua makhluk yang sebenarnya ditentang oleh masing-masing pihak.

.


.

Seorang pemuda berambut coklat madu dengan iris mata senada, terlihat tengah berjalan di lorong mansionnya dengan ditemani beberapa pengawal. Wajahnya yang manis tidak sinkron dengan ekspresinya yang sedingin es. Tatapannya tajam penuh intimidasi dan ia sangat berkharisma meskipun tubuhnya tidak lebih besar dari para shapeshifter yang mengawalnya.

Dia adalah Park Luhan, kakak kandung Chanyeol, calon Loneshifter. Jiwa alpha dalam dirinya membuatnya terlihat dewasa di umurnya yang kedua puluh.

Luhan adalah tipe yang sangat protektif. Terlebih kepada adiknya yang kini mendapat kutukan.

Karena itulah, jiwa pembenci kakeknya menurun padanya. Seringkali ia datang ke dalam sel vampire —yang telah memberikan kutukan pada adiknya, hanya untuk melemparkan makian dan hinaan yang menyakiti perasaan. Bedanya, hukum satu kali cambuk api itu telah ditiadakan.

Ayahnya, Park Jungsoo sendiri yang telah menghilangkan ultimatum tentang hadiah istimewa untuk tahanan mereka. Luhan sempat menentangnya, ia memprotes, namun sang ayah tak ingin mendengarkan apapun ucapannya. Karena bagi ayahnya, sisi kemanusiaan adalah hal penting untuk membuat wilayahnya semakin tenteram.

Alasan yang terlalu klasik bagi Luhan yang keras kepala seperti kakeknya.

Ia tidak peduli.

"Chanyeol!" bibir tipisnya meneriakkan nama sang adik ketika seorang pemuda berambut ashgrey terlihat mengendap-endap mencari seseorang. Ada sedikit raut keterkejutan yang kemudian berganti menjadi dengusan malas. "Mau kemana kau?"

"Mencari paman Jongin."

"Dia berada di ruang bawah tanah."

"Untuk apa?" Chanyeol menatap dengan kerutan dahi, sementara Luhan tampak terkejut oleh kalimat yang keluar dari belah ranumnya. Ia membasahi bibirnya tanpa sadar.

"Apa lagi? Tentu saja mengawasi tahanan-tahanan yang berkhianat pada klan kita." ujarnya. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat Chanyeol curiga.

Karena adiknya tidak pernah diijinkan untuk melihat penjara bawah tanah di mansion mereka. Apalagi melihat inangnya. Semua akan menjadi rahasia sampai Chanyeol menemukan mate-nya dan sampai mereka menjatuhkan hukuman mati untuk vampire itu. Semua akan kembali seperti yang seharusnya meskipun nantinya Chanyeol tetap akan menjadi setengah vampire.

Membayangkannya tentang hukuman mati itu saja, membuat bibir tipisnya tanpa sadar menyeringai. Sudah tidak sabar untuk melihat apa yang akan menimpa tahanan spesial mereka.

"Aku akan mencari paman Jongin kesana."

"Tidak!" Sorot hazel Luhan berubah menjadi tajam dan ia sempat menggeram pada adiknya. Ia mengeluarkan aura pemimpin yang membuat langkah Chanyeol seketika terhenti.

Kakaknya dan jiwa dominan yang ia banggakan selalu membuat Chanyeol emosi. Calon pimpinan shapeshifter itu akan berubah sangat menyebalkan ketika membicarakan tentang hal-hal terlarang baginya. Menurut Chanyeol itu terlalu kolot.

"Tempat itu tidak bisa dikunjungi oleh keluarga kita. Hanya pengikut setia, Loneshifter dan calonnya saja yang diperbolehkan. Bukankah kau sudah memahami itu?"

"Aku tahu. Aku hanya ingin menemui paman Jongin."

"Temui dia setelah dia selesai. Kau bisa menunggunya di ruanganmu." Tangan Chanyeol tanpa sadar mengepal dan bibirnya terkatup rapat.

Ia benci diatur-atur walaupun oleh kakak kandungnya sendiri. Ia merasa sudah cukup dewasa dengan segala keistimewaan yang ia punya. Ia lebih pintar, lebih ahli, lebih kuat dari teman sebayanya. Seharusnya hal tersebut juga berpengaruh pada cara sang kakak memperlakukannya. Chanyeol jelas bukan lagi seorang anak yang menginjak remaja.

"Ingat, kembali ke kamarmu!" putus calon pimpinan itu, telak.

Melangkah pergi tanpa ada argumen lagi.

Mata Chanyeol yang berwarna abu terang menatap kepergian kakaknya tanpa banyak kata. Dalam hati bertanya-tanya, mengapa sikap Luhan seolah-olah tengah menyembunyikan sesuatu di penjara bawah tanah mereka?

.


.

Kastil vampire yang dihuni keluarga Kris adalah sebuah kastil megah di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan jurang sedalam ratusan meter yang terhubung pada laut lepas.

Di sebelah timur wilayah Hemisphere, merupakan Greenhill Forest, hutan berhektar-hektar yang membatasi wilayah mereka dengan para shapeshifter dan animagus. Karena itulah tak ada komunikasi apapun yang terjalin selama ratusan tahun, sejak kutukan pertama terjadi di dalam wilayah shapeshifter, dimana seorang manusia melahirkan bayi perempuan setengah vampire.

Seharusnya permusuhan antara klan vampire dan wolf tidak akan sekental ini jika bayi tersebut tidak sengaja menandai salah satu shapeshifter di keluarga serigala. Menyebabkan omega dari serigala yang tertandai meninggal dunia. Hal tersebut, membuat shapeshifter serigala murka.

Disisi lain, para vampire hanya berusaha melindungi anak mereka dari kekejaman para shapeshifter serigala.

Renesmee Charlisle Cullen, bayi dari Bella Swan dan Edward Cullen, adalah yang membuat kaum serigala dan vampire bermusuhan hingga sekarang. Bayi itu masih hidup, menjadi dewasa yang berhenti tumbuh ketika umurnya mencapai 17 tahun.

Kekasihnya, seorang shapeshifter alpha bernama Jacob Black telah meninggalkannya sendiri bersama takdirnya yang kejam. Kini, tak ada yang tahu dimana gadis itu tinggal. Meninggalkan misteri hingga ratusan tahun lamanya. Membuat permusuhan antara kedua klan semakin menjadi-jadi karena perbedaan pendapat.

Bagaimana pun, kaum vampire masih mengharapkan pertemuan dengan manusia setengah vampire itu.

"Hanya Renesmee yang bisa menghentikan permusuhan kita." Jessica bergumam sembari membersihkan gelas-gelas yang berlumuran cairan pekat berwarna merah. Sisa dari makan malam mereka. "Andai keberadaannya bukan misteri, dia pasti bisa meredakan kemarahan para shapeshifter pada vampire. Kita masih akan memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Baekhyun."

"Tapi takdir berkata lain, Jess." Kyungsoo berpendapat. Sementara wanita itu kembali menghela nafas. Tangannya yang awalnya cekatan, menjadi lebih pelan. Mengusap busa sabun tanpa daya. Gemericik air dari keran seolah-olah mengejek kediamannya. "Bahkan keberadaan Renesmee pun belum tentu membuat kita berdamai dengan mereka."

"Setidaknya dia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu."

"Kita akan menjemput Baekhyun, Jess. Bukankah kita telah berjanji padanya?" Kyungsoo datang pada wanita itu, mengusap pundaknya penuh kelembutan.

Matanya yang biasanya tanpa emosi kini menatap wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu dengan pandangan sedih. Ia pun merindukan Baekhyun. Sebelas tahun tak bertemu Baekhyun membuatnya nyaris lupa bagaimana keindahan mata saudaranya selalu membuatnya terpana. Ia pikir, zamrudnya yang berwarna dark-green sangat indah, namun ternyata safir Baekhyun lebih memikat dari mata vampire mana pun.

Baekhyun pun memiliki sifat positif yang membuat siapapun ingin berada dekat dengannya. Karena itulah, Jessica selalu menyebutnya angel. Dia adalah seseorang yang memiliki hati yang besar.

"Ini sudah sebelas tahun, Kyungsoo. Kita berada disini tanpa tahu bagaimana keadaan Baekhyun."

"Aku pun merindukannya, Jess. Percayalah." Dibalik dinding Sehun mengepalkan tangannya. Setiap kali mereka membahas perihal Baekhyun, hanya amarah dan kesedihan yang mampu ia rasakan.

Ketidakberdayaannya sebagai saudara membuatnya malu. Baekhyun mungkin sangat membutuhkan mereka, membutuhkan uluran tangan mereka, tapi apa yang mereka lakukan? Mereka hanya menunggu dan menunggu. Menunggu sesuatu yang tak jelas sama sekali.

Bahkan rasa dendam dan sakit hati Sehun, bisa dirasakan oleh saudara-saudaranya.

.


.

Baekhyun meringis ketika darahnya yang lebih pekat dari milik Jongin tersedot oleh tarikan udara dari jarum suntik kecil di permukaan kulitnya, menembus hingga nadinya. Tabung suntik itu sebesar dua jari, sehingga cukup untuk menampung banyak darah. Hanya perlu dua suntikan untuk membuat penuh gelas yang dibawa Jongin.

Vampire mampu menyembuhkan diri dengan cepat, sehingga luka suntik bukanlah sesuatu yang menyakitkan. Ketika suntikan itu berakhir, Baekhyun mengusap-usap lubang kecil yang disebabkan oleh jarum, hanya beberapa usapan dan luka itu tertutup sepenuhnya.

"Bagaimana anak itu?"

"Dia tumbuh lebih cepat dari anak seumurannya." Tangan-tangan Jongin membersihkan peralatan suntiknya, kemudian meletakkannya di samping.

Masih dengan posisi duduk bersila, kedua tangan Jongin menyatu penuh wibawa. Aura alpha menguar dari tubuhnya yang atletis. Baekhyun bisa saja jatuh cinta kalau dia tidak terikat oleh kutukan yang ia buat sendiri.

"..."

"Apakah pertumbuhan itu akan berhenti atau sebaliknya?" Baekhyun terdiam, menatap Jongin dengan ekspresi yang tak mampu pria dewasa itu tebak.

"Aku... tidak tahu. Tapi, semoga dia baik-baik saja." Keduanya terdiam. Baekhyun melayang dalam pikirannya, bertanya-tanya kapan takdir ini akan berhenti mempermainkannya. "Apa mate-nya belum juga diketahui?"

Gelengan kepala menjadi jawaban Jongin. Pria dewasa itu menatapnya dengan iba. Pandangan yang ia dapatkan ketika mereka membicarakan persoalan serius. Bagaimana pun Baekhyun ingin mengetahui perkembangannya.

Agar ia juga bisa menyiapkan diri... untuk menghadapi kematiannya.

"Omega mendapat tanda mate-nya ketika telah berumur tujuh belas tahun. Jadi, mate Chanyeol pasti belum berumur tujuh belas. Kami sudah mencarinya, tapi belum ada." Belah ranumnya tersenyum pahit.

Chanyeol kini berumur lima belas. Sementara pertemuan mereka adalah ketika Chanyeol berumur empat tahun. Balita berpipi gembil yang memiliki mata seindah merkurius. Abu cerah yang penuh kepolosan. Tatapan menggemaskan masih terukir dalam ingatannya yang tajam. Rambutnya yang berwarna ashgrey terlihat sangat halus dan tebal. Seluruh gambaran fisik itu terekam jelas dalam otaknya.

"Tapi... perpaduan phoenix dan light adalah lambang terindah yang pernah kulihat." ucapan Jongin membuyarkan memorinya.

Sebuah ucapan penuh harapan. Entah mengapa membuat hatinya menghangat.

Baekhyun sadar, tatapan kekaguman Jongin, jatuh pada lambang yang terletak di bawah-belakang telinganya. Jemari lentiknya mengusap ukiran menonjol itu tanpa sadar.

Ia tak tahu seperti apa tandanya, bagaimana rupanya, dan mengapa Jongin mengatakan itu sangat indah. Tapi ia senang mendengarnya.

"Entahlah, aku sendiri belum pernah melihatnya."

"Apa kau ingin kubawakan cermin?" Suara tawa Baekhyun keluar, ringan terdengar. Kepalanya menggeleng lucu sementara bibirnya mengulas senyuman menawan. Safirnya lebih bersinar dari pada beberapa menit yang lalu. Mata yang menghipnotis. Siapapun pasti mengagumi keindahan safir itu, bahkan Jongin sekalipun.

"Bisakah kau menceritakan padaku tentang bagaimana rupa Chanyeol sekarang?" Jongin dengan senang hati meladeninya.

Menceritakan hal-hal unik, spesial, bahkan sampai kenakalan Chanyeol. Semuanya membuat suara tawa Baekhyun memenuhi kehampaan ruang bawah tanah. Membuat tahanan yang berada di ruang sempit yang lain ikut tersenyum mendengarnya.

Bagaimana tawa itu terdengar murni, menenangkan, dan indah. Andai takdir tidak membelenggunya, menyimpan keindahannya itu di dalam kegelapan, keindahan itu pasti bisa dilihat oleh siapapun.

Namun di setiap garis tipis di mata Baekhyun terbentuk, entah mengapa ada sebagian hati Jongin yang retak.

Baekhyun berhak hidup bebas di luar sana.

.


.

Chanyeol mengacak rambut ashgrey-nya. Merasa tidak sabar hanya untuk menunggu kedatangan Jongin, pelayannya. Ia telah mencoba untuk menerobos ruang bawah tanah, mengabaikan kemarahan kakaknya, namun penjagaan para shapeshifter singa disana tidak main-main.

Kalau saja Chanyeol banyak berlatih, ia pasti bisa menumbangkan mereka semua. Sayang, amarahnya hanya membuat dirinya tersungkur dan menanggung malu. Saat ini, dia berada di depan pintu menuju ruang bawah tanah, duduk dengan jarak sepuluh meter dari sana.

Tatapan para shapeshifter itu masih tertuju dengan waspada padanya. Gerak-geriknya diawasi layaknya ia adalah pencuri.

Chanyeol menggeram tanpa sadar.

Kemudian, sosok Jongin keluar dari pintu tersebut dengan nampan ditangannya. Cairan merah pekat di dalam sebuah gelas wine menjadi satu-satunya hal yang menarik onyx abu-abu Chanyeol.

Dengan tidak sabaran, ia berlari kearah Jongin. Membuat pria dewasa itu tersentak oleh kedatangannya.

"Chanyeol?! Sedang apa kau disini. Kau dilarang memasuki wilayah ini." Wajah Jongin yang memucat membuat kecurigaan Chanyeol menjadi-jadi.

Ingin sekali ia menuntut Jongin untuk memberinya jawaban, tapi ia yakin, Jongin sama kukuhnya dengan sang kakak. Pria dewasa itu tidak akan pernah memberitahunya meski dengan cara kekerasan.

Jadi, ia memutuskan untuk berpura-pura mengukir lengkungan bibir, menampilkan senyuman kekanakan yang membuat ekspresi Jongin seketika kendur.

"Aku hanya ingin bertemu paman."

Kemudian, keduanya melangkah pergi bersama.

"Kau harus berada di kamarmu Chanyeol. Besok adalah purnama. Kau dilarang keluar selama bulan purnama muncul." Chanyeol berdecak. Diam-diam onyx-nya menatap gelas yang permukaannya ditutupi sapu tangan warna hitam.

Namun tidak benar-benar menyembunyikan warna cairan di dalamnya. Mereka melangkah kearah dapur mansion dan meletakkan gelas itu di dalam tempat pendingin.

Ada beberapa pelayan perempuan yang membungkuk ketika mereka datang. Jongin balik menyapa namun Chanyeol selalu terlihat tak acuh.

"Paman membawa apa dari penjara bawah tanah?" Chanyeol mencoba mencari peruntungan. Menyeringai ketika mendapati tubuh Jongin menegang ketika kalimat itu keluar dari bibir kissable-nya. "Apa itu ramuan yang biasanya ku minum? Sebenarnya aku ini sakit apa?"

"Aku tidak membawanya dari penjara. Dan kau tidak sakit, Chanyeol. Yang kau minum tiap bulan hanyalah minuman berenergi." Jongin terlihat sibuk dengan kegiatan lainnya dan tindakan Jongin jelas membuat Chanyeol semakin curiga.

Pelayannya itu enggan menatapnya, mencoba menghindari maniknya secara terang-terangan. Lagipula, Jongin bukanlah orang yang bisa berbohong. Benar-benar ada sesuatu yang disembunyikan mereka darinya.

.


.

Jendela kamar Chanyeol terbuka sepenuhnya. Menampilkan warna jingga langit sore dengan angin segar yang berhembus menggesek permukaan gorden yang berwarna putih. Iris matanya yang berwarna abu jernih memantulkan cahaya sore.

Keindahan alam terletak pada waktu-waktu ini. Ketika hari mulai berganti, entah waktu fajar atau waktu senja. Namun hari ini, bukannya merasakan tentram dan ketenangan, taunya jantung Chanyeol berdebar dengan keras.

Malam ini adalah bulan purnama.

Ketika langit perlahan menggelap, jantungnya semakin berpacu penuh. Jakun; yang mulai terbentuk sempurna, berulang kali menelan ludah. Suaranya bahkan terdengar di telinganya sendiri.

Sebelah tangannya terborgol dengan rantai perak sepanjang satu meter yang tersambung pada headboard ranjangnya. Mereka mulai melakukan itu sejak kakeknya meninggal. Jongin sendiri yang memasangnya, berkata bahwa kesadarannya mungkin akan terhisap kembali.

Meskipun fakta itu diketahuinya dengan baik, namun ia masih saja merasa kecewa. Hatinya berdenyut, alpha dalam dirinya merasa layu karena perlakuan tidak manusiawi ini dilakukan oleh keluarganya sendiri.

Sekarang, tak satu pun dari mereka menemani masa-masa sulitnya. Membiarkan bersama derita yang ia sendiri tak tahu apa namanya.

Hanya Jongin yang bersamanya, juga ayahnya setelah kesadarannya mulai menghilang. Selain itu, hanya kehampaan yang ia rasa.

Bintang-bintang mulai terlihat, begitu pun cahaya indah rembulan. Perlahan-lahan memasuki celah jendela dan memantul di lantainya yang terbuat dari kayu mahoni yang dipelitur. Hembus angin malam mulai membekukan kulit.

Namun, satu senti pun Chanyeol tak bergerak dari tempatnya. Menatap kegelapan di balik jendelanya. Mendengar suara-suara binatang malam yang memanjakan telinga. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Bisakah dia berhenti menjadi bodoh? Kapan mereka akan memberitahunya?

Detik demi detik berlalu dalam keheningan, hingga cahaya megah penuh keindahan itu mengalihkan atensinya. Tak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Jongin berdiri disana, dengan cairan pekat yang disebutnya minuman berenergi. Inderanya sontak bekerja.

Cairan yang disebut Jongin itu tercium dengan sangat jelas. Anyir namun memikat. Lebih memikat dari minuman jenis mana pun. Perlahan, tenggorokannya terasa mengering.

Rasa haus yang tadi ia takuti perlahan-lahan mulai terasa. Menggaruk dinding kerongkongannya tanpa hati. Liurnya kembali tertelan, namun tak mampu membasahi rasa hausnya. Jongin menghentikan langkahnya, menatap perubahan pada mata iris matanya.

Dari abu, perlahan berubah menjadi semerah darah.

"Ggggrrh." Geraman keluar dari belah kissable-nya tanpa Chanyeol sadari. Ia berdiri, berusaha menggapai cairan yang dibawa Jongin namun terhalang oleh rantai perak yang membelenggu tangan kirinya.

Kesadaran Chanyeol perlahan-lahan menghilang. Fokusnya hanya terletak pada cairan di dalam gelas wine yang dibawa pelayannya. Bibirnya kembali menggeram, seolah memerintah Jongin.

Namun dibalik geraman buas itu, matanya berkilat. Tertarik oleh hal lain. Mata abunya menatap Jongin dengan pandangan lapar. Darah segar tercium. Tidak lebih memikat dari darah di dalam gelas itu, namun cukup membuatnya haus.

"Chanyeol..."

"Grrhh."

Jongin sesegera mungkin meletakkan nampan dalam jarak yang mampu dijangkau Chanyeol. Pemuda bersurai ashgrey dengan mata merah itu berdesis dan Jongin dengan siaga menggeram balik.

Chanyeol mencoba melepaskan rantainya dan bergerak untuk menggapainya, namun Jongin cepat melakukan perubahan. Tubuh maskulinnya berubah menjadi serigala warna coklat tua yang berpadu dengan warna lebih muda. Perubahan itu membuat geraman Chanyeol memelan, mungkin kehilangan minat.

Surai ashgrey mendengus keras dan meraih gelas wine-nya. Menenguknya dalam-dalam. Mengalirkan cairan itu ke dalam tenggorokannya yang gatal. Rasa hausnya perlahan-lahan menghilang. Begitu pula iris matanya yang mulai berubah ke warna semula. Kemudian, sayu terlihat.

Gelas ditangannya; yang telah dikosongkan, nyaris terjatuh ke lantai, sebelum Jongin dengan gerakan kilat meraihnya menggunakan mulut dan memposisikan dirinya di depan Chanyeol agar tubuh tuannya yang tiba-tiba saja melemas itu jatuh di punggungnya.

Hilang kesadaran.

"Tidak biasanya Chanyeol menyerangku." Tatapan Jongin jatuh pada belah bibir Chanyeol yang tertoreh warna merah pekat dari darah Baekhyun. Dan di pergelangan tangan remaja itu, lambangnya bersinar redup. Begitu indah.


.

Type-B's terminology :

*Hemisphere adalah wilayah yang dihuni beberapa vampire dan beberapa klan lain, namun mereka tidak pernah saling berkomunikasi.

*Prussic adalah wilayah para shapeshifter yang terbagi menjadi 4, yakni North Prussic, South Prussic, West Prussic, dan East Prussic. Keluarga Chanyeol tinggal di West Prussic.


.

Credits :

Renesmee Charlisle Cullen, in Twilight Breaking Down ©Stephenie Meyer

Edward Cullen, Bella Swan, Jacob Black, in Twilight ©Stephenie Meyer