Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
.
.
.
S.W.A.B (Shinobi Want To Break)
By Aku Bukanlah Siapa-Siapa
.
.
.
Chapter 3. Kedatangan tamu dari Bulan
.
.
.
Note: Sebelum dimulai, saya ingin menggunakan OST Naruto Shippuden, Kana Boon : Silhouette sebagai opening song di fic ini.
Kembali lagi di S.W.A.B
.
.
.
Pertarungan masih berlanjut. Tim Gremory masih bertahan melawan Exorcist dan Da-Tenshi. Jika dibayangkan, Tim Gremory masih segar bugar sedangkan lawan mereka kehilangan 2 Da-Tenshi akibat serangan combo antara Rias Gremory dan Queennya Himejima Akeno. Beralih ke pertarungan solo Kiba Yuuto melawan salah satu Exorcist.
.
.
.
TRANK!
Bunyi logam berdenting. Casanova Kuoh Academy, Yuuto Kiba tengah beradu pedang dengan salah satu exorcist yang menggunakan pedang suci level menengah. Walaupun begitu, itu tetaplah pedang suci yang merupakan kelemahan iblis dan Kiba tak ingin tubuh super modelnya tergores bilah pedang suci tersebut.
TRANK!
"Heh, boleh juga kau bocah. Dari yang kudengar dari Valper-sama. Kau adalah produk gagal dalam proyek Pedang Suci Excalibur. Apa aku benar?"
Kuping dan alis Kiba tergerak kala mendengar kata 'Excalibur' dari ucapan lawannya. Ia menggertakkan giginya dan melesat cepat lalu mencoba menebas lawannya.
TRANK!
KRAK!
Tebasan pedang Kiba kembali diadu oleh pedang suci lawannya. Exorcist itu melebarkan matanya kala menangkap pemandangan bilah pedang sucinya retak dan terpisah dari setengah bilahnya. Fokusnya terpecah dan menjadi lengah. Ada kesempatan Kiba menusuk dada kiri Exorcist itu dengan cepat.
JLEB!
"Uhaa...!" darah segar terpancar dari mulut serta luka tusukan yang menganga di dadanya. Ia tewas seketika dan tumbang tak bernyawa. Kiba menatap datar korbannya. Ia mendesis dengan dingin.
"Aku bersumpah pada Raja Iblis. Aku akan menghancurkan 7 pedang brengsek itu demi dendam teman-temanku."
.
.
.
[Dragon Shot]
BUM!
DHUAR!
"Yeahh...! Dragon Shot-ku berhasil!" si mesum melompat girang.
Serangan frontal Issei membuat 2 Da-Tenshi yang kelelahan pasca beradu fisik dengan Koneko menuju ketiadaan mutlak meninggalkan bulu-bulu gagak. Yang punya jurus tadi bersorak girang melihat serangan sihirnya yang hanya satu-satunya itu berhasil. Dia tidak menyadari sesosok makhluk bersayap hitam di belakangnya bersiap menusukkan pedang cahaya.
"Mati kau! Sekiryuutei Sialan!" jerit da-tenshi dengan pedang cahaya yang terhunus.
"Issei-kun!/Issei-senpai!"
BUM!
DHUAR!
Tapi, bukan suara tusukan yang terdengar namun suara ledakan dari tubuh Da-tenshi tadi. Tiba-tiba ia terpental dari belakang Issei secara misterius oleh bola biru raksasa yang menggilas tubuh Da-Tenshi licik tersebut. Rias, Akeno, dan Koneko menjadi lega dan bingung melihat sebuah bola energi biru menggilas tubuh Da-tenshi itu.
.
.
.
FLASHBACK
.
.
.
[Dragon Shot]
BUM!
DHUAR!
"Yeahh...! Dragon Shot-ku berhasil!"
WUSH!
'Mati kau! Sekiryuutei sialan!' umpat Da-tenshi tersebut dalam hati sembari membuat pedang cahaya, tapi karena energinya menipis jadi perlu waktu lama untuk membuatnya.
Sementara itu...
"Boruto, apa yang kau lakukan?" Putri Uchiha menautkan alisnya tanda bingung melihat tangan Putra Hokage tengah memproses Rasengan. Boruto hanya tersenyum simpul lalu menjawab.
"Aku tidak mau lawanku nanti dalam kondisi cedera sementara aku sedang fit. Rasanya tidak adil untuk pertarungan secara sportif."
"T-tapi...-"
"Sarada-chan. Percayalah padaku."
"Ka-kau, Ugh. Baiklah...," Sarada mengalah.
Selama ini ia selalu menang berdebat dengan Boruto. Tapi tidak kali ini.
"Boruto! Da-tenshi itu telah selesai membuat pedang cahaya!" Metal mencoba mengingatkan.
Boruto mengangguk.
[Kieru Rasengan]
Setelah dirasa cukup, putra Nanadaime Hokage itu melempar Rasengan buatannya menuju tempat pertarungan Issei. Tapi, di tengah perjalanan, bola biru itu sedikit demi sedikit mengecil dan menghilang.
"Mati Kau! Sekiryuutei sialan!" pedang cahaya sedikit lagi mengenai punggung kiri Issei.
Slow motion paling lambat. Sudut pandang berganti memperlihatkan ujung pedang cahaya sekitar 3 cm dari punggung Issei, sudut pandang kemudian berputar mengitari tubuh Issei kemudian berhenti lalu memperlihatkan di depan perut Da-Tenshi muncul sebuah bola biru kecil yang semakin menambah ukurannya. Dengan ukuran sebesar bola voli, Rasengan itu melesat dan menggilas perut Da-tenshi.
BUM!
DHUAR!
"Uhaa...!" darah segar memaksa keluar dari mulut Da-tenshi.
Tubuhnya terpental jauh diikuti Rasengan yang nongkrong di tubuhnya. Membuat ia menabrak menembus bangunan-bangunan.
.
.
.
FLASHBACK END
.
.
.
"Issei-kun, kau tidak apa-apa?" sang ketua tim bersama Akeno, Koneko, dan Kiba yang baru saja tiba menghampiri Issei yang masih bingung melihat da-tenshi yang akan mengeksekusinya tiba-tiba terpental.
"Ya-ya. Aku ti-tidak apa-apa," Issei hanya memasang wajah bingung namun aneh.
Juniornya, Koneko hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Hentai...," desis Koneko.
Issei tertohok.
"Uhukk. Jangan berkata seperti itu, Koneko-chan. Baik, setelah ini aku tidak akan memberikanmu kue."
"Gomen... Maaf, senpai yang tampan..."
"Nah. Gitu don-"
"... Dan hentai."
"Maaf, Issei-kun. Aku tidak sempat menolongmu," ucap Kiba dengan nada menyesal.
Perdebatan yang berakhir kemenangan 2-0 untuk Koneko. Issei hanya pundung sambil mengorek-ngorek tanah dengan ranting kayu. Rias hanya tertawa ringan menanggapi permainan kouhainya itu.
"Semuanya telah kalah. Ayo, kita masuk untuk memeriksa keadaan!" ajak Rias.
Ketiganya mengangguk kemudian masuk ke dalam Bank. Mereka terkejut. Melihat noda darah menempel di mana-mana. Issei hanya menutup mulutnya yang menganga melihat pemandangan horor di depannya.
Di antara genangan darah tersebut ada potongan anggota tubuh bagian bawah berupa kedua kaki lengkap dengan selangkangan, dan pinggang terpisah dari anggota tubuh lainnya.
"Siapa yang melakukan hal keji seperti ini?!" Issei bersembunyi di punggung Kiba.
Kiba tampak tak memperdulikan hal itu.
"Buchou. Coba periksa brankasnya," si loli putih melihat brankas dalam keadaan tertutup rapat - ingat, tikus tinta Inojin sempat mencairkan tubuhnya lalu masuk melalui celah paling sempit di pintu brankas.
"Kalian mundurlah!" Rias memproses kekuatan penghancur di tangannya.
BUM!
DHUAR!
Pintu Brankas itu hancur seketika. Memang, Power of Destruction yang berasal dari klan iblis Bael memang luar biasa. Benda sekeras apapun bisa dihancurkan. Seperti mematahkan sebuah lidi. Tapi konsep penghancur Power of Destruction tidak berlaku apabila objek yang menjadi target dilapisi sihir pertahanan tingkat tinggi. Dan Power of Destruction adalah sihir penghancur tingkat tinggi.
"A-apa-apaan ini...?!"
"Apa maksud semua ini?!"
"Loli... Melon Besar... Mesum... Tomat Bengkak... Dan Pria Cantik?" kata Issei dengan nada mengeja.
Setelah masuk ke dalam ruangan, yang mereka lihat adalah lemari brankas yang kosong dan Orderly Gem (replika) yang masih duduk manis di meja yang dilindungi penuh oleh laser merah. Dan... Tulisan-tulisan hitam di dinding ruangan tersebut. Tulisan-tulisan itu adalah kata-kata yang tadi dieja oleh Issei.
"Tampaknya... Perampok bank ini mengejek kita, Buchou," Kiba berpendapat.
Rias tak mengindahkan pendapat Kiba. Matanya tertuju pada Kata 'Tomat Bengkak'. Akeno menatap kata 'Melon Besar'. Koneko pada kata 'Loli'. Issei pada kata 'Mesum'. Dan Kiba... Ugh kalian bisa menebaknya.
"Siapa yang berani mengejekku dengan tulisan-tulisan ini!" Rias meluapkan kemarahannya.
Berbeda dengan Rias, Akeno menatap dadanya untuk memastikan apakah sebesar melon, dan Koneko yang mengukur tubuhnya sendiri. Issei hanya pundung dengan menggumam.
"Aku tidak mesum~ Aku tidak mesum~ Aku tidak mesum~ Aku tidak mesum~ tapi... Aku Super Mesum! Hahahahahaha...!"
"Apakah wajahku terlalu cantik?"
TES!
TES!
Setetes tinta hitam jatuh dan mendarat di seragam Rias yang menonjolkan dua raksasa. Ia terheran dan menengadahkan wajah ke atas. Yang ia lihat adalah tulisan tinta berukuran besar yang berbunyi :
[S . W . A . B]
.
.
.
Pedalaman Shi no Mori, Pemukiman Shinobi.
WUSH!
WUSH!
Tim Boruto tiba di halaman rumah mereka. Walaupun tempatnya ada di pedalaman hutan namun kondisi sekitarnya cukup bagus. Mendukung dengan adanya aliran sungai sekitar 50 meter dari pemukiman mereka. Juga bisa memantau keadaan luar dari bekas menara pengawas ujian chuunin pada generasi Naruto.
"Akhirnya selesai juga...," Boruto melepas lelah dengan membaringkan diri di rumput hijau segar.
Diikuti Sarada duduk ala wanita di samping Boruto lalu Mitsuki yang duduk bersila. Ketiganya beristirahat sejenak sambil menatap rembulan purnama.
Ada sesuatu yang terbesit di benak Boruto kala bertatapan dengan bulan purnama jauh di atas mereka. Perasaan aneh berupa gelisah dan senang tercampur aduk.
Tepuk...
"Apa yang kau pikirkan?" Sarada yang melihat Boruto seperti melamun akhirnya menepuk bahunya. Boruto tersentak kemudian menatap Sarada.
"Ah. Tidak ada kok Sarada-chan," ucap Boruto yang tentu saja bohong.
Sarada mengernyitkan alisnya. Shikadai tiba-tiba datang dan duduk di belakang Boruto.
"Apa itu tentang Issei?" Shikadai berspekulasi.
Ekspresi Boruto berpikir seolah-olah dugaan Shikadai itu 50 : 50.
"Salah satunya itu," jawabnya.
Shikadai hanya menghela nafas.
"Sudah kuduga. Tak usah kau pikirkan itu. Nantinya akan mengganggumu."
"Aku tahu itu. Arigato sarannya Shika."
"Mendokusei...," inilah yang Shikadai warisi dari ayahnya.
Ketika ada yang mengucapkan terima kasih padanya akan ia balas dengan kalimat favoritnya dan ayahnya.
"Sepertinya The Next Generation sedang bersantai. Apa kami berdua boleh ikut?" Boruto cs mengalihkan pandangan ke belakang.
Yang mereka lihat adalah Sang Hokage Ketujuh bersama Ketua Divisi Anbu Konoha.
"Tou-chan/ Tou-san/Hokage-sama/Sasuke-sama," jawab The Next Generation dengan formal.
Pengecualian untuk Boruto dan Sarada. Karena dua orang di belakangnya adalah ayah mereka berdua.
"Bagaimana misinya, Boruto?" tanya sang guru pribadi.
Boruto bangkit dari tidurnya lalu melaporkan.
"Berhasil, Sasuke-sensei. Kami berhasil mencuri semua uang di brankas bank bersama dengan batu mulia itu. Inojin!"
Setelah selesai laporan, Inojin maju dengan tangan menggenggam 2 buah gulungan. 1 berukuran besar dan satu berukuran kecil.
POFT!
POFT!
Dua gulungan itu meledakkan asap putih setelah dibuka. Tampak sekarung besar berisi tumpukan berbagai mata uang mulai dari Yen, Dolar, Euro, dan Poundsterling di gulungan besar. Lalu sebuah batu mulia hijau sebesar bola basket muncul di gulungan kecil.
[Amenominaka]
Sasuke membuka portal dimensi menggunakan mata kirinya. Setelah itu, Inojin dan Shikadai memasukkan karung uang dan batu mulia itu ke dalam portal dimensi Amenominaka. Jougan Boruto aktif. Boruto melihat dari portal itu bahwa karung uang dan Orderly Gem berada di puncak sebuah pilar raksasa di tengah-tengah air terjun. Inilah kekuatan Jougan Boruto. Mampu melihat ruang antar dimensi.
Setelah portal tertutup. Jougan Boruto menjadi nonaktif.
"Tampaknya, generasimu-lah yang mewarisi Doujutsu itu ya? Uzumaki Naruto."
Sebuah suara terdengar dari atas mereka tepatnya dari arah bulan purnama. Di atas mereka terdapat sebuah 'panggung' kecil yang entah bagaimana bisa melayang. Panggung itu ditunggangi oleh dua orang. Orang pertama yaitu pria dewasa yang ciri-ciri jasmani dan penampilannya serba putih. Rambut putih acak-acakan, kulit putih pucat, kecuali iris matanya yang seperti memancarkan ribuan bintang kecil berwarna biru keputihan. Orang kedua hampir mirip dengan orang pertama. Yang membedakan hanya matanya yang berwarna lavender, rambut putih jabrik yang di-mohawk, serta tinggi badannya yang seukuran dengan Boruto cs. (ya, bayangkan saja Kawaki dengan rambut putih dan Byakugan).
"Toneri Ootsutsuki!" gumam Naruto.
Panggung tersebut perlahan turun mendarat.
TAP!
TAP!
"Waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi adalah 17 tahun yang lalu," ujar sosok pertama kala menginjakkan kaki di rumput diikuti sosok kedua.
"Ini bukanlah bumi dunia shinobi, Toneri. Kita beruntung karena hanya Shi no Mori dan Bulan saja yang terbawa kemari. 8 bulan yang lalu dunia ini dibuat gempar dengan munculnya 1 bulan lagi. Tapi 1 hari setelah itu bulan di dunia ini hancur dan bulan dari dunia shinobi yang menggantikannya."
"Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak mau bulan-ku berurusan dengan dunia ini. Datangnya para penjelajah angkasa dengan melakukan penelitian di bulan-ku. Aku sangat marah dan akhirnya membunuh mereka. Aku tidak mau tempat tinggal keturunan Hamura-sama dimanfaatkan sebagai bahan penelitian," jelas Toneri panjang lebar.
Boruto yang masih bingung dengan interaksi ayahnya antara orang bernama Toneri ini.
"Siapa dia, Tou-chan?"
Naruto hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putranya. Toneri pun demikian.
"Perkenalkan... Dia Toneri Ootsutsuki. Jangan berspekulasi bahwa ia komplotan dari Momoshiki dan Kinshiki. Dia berbeda. Dia adalah mantan musuh ayah saat ayah mencoba menyelamatkan bumi, ibumu, serta bibi Hanabi di bulan dunia shinobi. Sekarang ia sudah berubah dan menjadi sahabat ayah. Bisa dibilang Toneri adalah pamanmu. Apa kau tahu bahwa ia adalah keturunan klan Ootsutsuki cabang Hamura yang merupakan pewaris Byakugan dari Kaguya Ootsutsuki. Sementara untuk cabang Hagoromo adalah pewaris Sharingan dan Rinnegan."
"Lalu, bagaimana dengan Jougan-ku?"
"Untuk itulah aku datang ke sini, Uzumaki Boruto. Sekalian untuk memperkenalkan teman baru untuk kalian semua," Toneri menatap remaja laki-laki di sampingnya. Laki-laki tersebut maju di depan Toneri dan memperkenalkan diri.
"Hajimemashite. Watashi wa Tenrai Ootsutsuki. Aku 'anak' dari Toneri Tou-sama. Salam kenal semuanya. Mohon kerja samanya," ucapnya sambil membungkuk 90 derajat.
Semua hanya manggut-manggut sambil menggumam 'Oh'. Tapi untuk Naruto...
"Oh... Jadi dia anak Toneri. Hmm... Tunggu?! Apa aku salah dengar?! To-Toneri pu-punya anak?!"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Wah, baru chapter 1, review udah di, atas 50. Arigato untuk reviewnya.
Hegege. Sepertinya ketahuan ya? Benar, aku mengutip kalimat "apa kau pernah nonton 127 hours? Awas spoiler!" dari film Deadpool. Terima kasih untuk saran tentang pembuatan badan sekolah sejenis SPC untuk Kuoh Academy.
Yosh! Kunjungan dari Bulan. Toneri muncul bersama 'anaknya'. Lahir darimanakah Si Tenrai ini? Apakah lahirnya kyak Mitsuki? Hehehe :V
Tunggu aja.
Teruslah review agar kalian dapat cerita yg menarik!
