Matahari perlahan bangkit dari ufuk timur sana. Cahaya perlahan menerangi dunia. Menggantikan sang purnama yang hampir sempurna. Menghangatkan seluruh dunia dengan sinar kemilau penuh keindahan.
Secara perlahan, sinar-sinar kemilauan itu bergerak menyusupi celah-celah terbuka dari tirai maroon yang tertutup. Mencoba menerobos tameng yang berusaha melindungi sang tuan putri dari dunia luar sana.
Sinar-sinar nakal itu, pelan-pelan mengusik sang tuan putri. Membuatnya menggeliat kecil terganggu.
"Nghh..." Erang sang tuan putri seraya masih menggeliat tidak nyaman.
Karena sang sinar nakal masih saja mengganggunya, akhirnya ia pun membalikkan tubuh ramping tinggi semampainya menghadap ke arah lain dan memunggungi jendela besar yang masih tertutup rapat.
Dan setelahnya, kamar itu kembali sunyi senyap tak bersuara.
Sayangnya, hal itu tidak berjalan lama.
Tok tok tok
"Jongin-ah, bangun! Sudah pagi!"
Suara teriakan yang terdengar halus itu menggema di seluruh penjuru kamar bernuansa merah terang, maroon dan sedikit sentuhan hitam dan putih, mengusik sang tuan putri. Terbukti dari dirinya yang kembali menggeliat tidak nyaman. Tapi, setelahnya, ia kembali tertidur dengan tenang dan cantik.
Tidak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar, sang pengetuk pintu kembali mengetuk pintu kamar sang tuan putri.
Tok tok tok
"Jongin-ah, bangun!"
Lagi, suara teriakan itu menggema. Tapi, kali ini sama sekali tidak mengusik sang tuan putri yang masih tertidur dengan pulasnya.
Masih tidak mendapat jawaban, sang pengetuk pintu kembali mengetuk pintu. Kali ini dengan kesabaran yang perlahan menipis.
Tok tok tok
"Yah! Choi Jongin! Bangun sekarang!"
Suara teriakan itu membahana, mengusik tidurnya sang tuan putri. Tapi tetap, sang tuan putri kembali lagi tertidur dengan pulas setelah teriakan itu tak lagi terdengar.
Tak mendapatkan jawaban yang dia inginkan untuk ketiga kalinya, membuat sang pengetuk pintu –atau singkatnya ibu sang tuan putri- akhirnya kehabisan kesabaran.
Tok tok tok
"Choi Jongin! Bangun sekarang juga atau Mommy akan dobrak pintu ini!"
Mendengar teriakan –yang kini makin- membahana dari Mommynya, Jongin –sang tuan putri- mengerang dan langsung menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya. Mencoba menghalau suara tersebut dan kembali tidur lagi.
Kehabisan kesabaran, Heechul kembali mengetuk kamar putra keempatnya dengan amarah yang hampir memuncak.
Tok tok tok
"Yah! Choi Jongin! Bangun sekarang juga atau Mommy akan benar-benar mendobrak pintu kamarmu!"
Lagi-lagi teriakan bernada mengancam terdengar. Membuat Jongin kembali menggeram kesal karena istirahatnya terganggu.
Tok tok tok
"Choi Jongi –"
"Iya, Mom! Iya! Jongin bangun!" serunya dengan nada kesal seraya menyentakan bagian selimut yang menutupi wajah dan bahunya dengan emosi meluap-luap.
Astaga! Kenapa Mommynya itu tidak pernah membiarkannya tidur lebih lama sedikit sih? Ini 'kan hari libur! Ia masih ingin tidur! Ia sangat amat lelah!
"Bagus kalau begitu! Cepat bersiap! Mommy akan membawakan makananmu!" lagi, suara teriakan itu terdengar. Disusul dengan suara derap kaki Mommynya meninggalkan pintu kamarnya.
Ck! Mau diajak kemana sih ia? Kenapa pagi-pagi begini Mommynya sudah menyuruhnya siap-siap? Ugh! Padahal ia ingin tidur lebih lama. Liburan itu 'kan memang waktunya santai-santai tanpa perlu bangun pagi.
Dasar, Mommynya itu! Memangnya kalau pergi sendiri tidak bisa apa? Kenapa harus mengganggu kesenangan anaknya sih?
Menghela nafas kecil, akhirnya Jongin membuka matanya dengan kesal. Di tatapnya langit-langit kamarnya yang putih polos seraya menggumamkan kalimat-kalimat tak bersuara yang tidak jelas sama sekali.
Eh? Sebentar-sebentar!
Tadi dia bilang apa? Langit-langit kamarnya putih polos?
Kok langit-langit kamarnya polos begini? Seingatnya, langit-langit kamarnya penuh akan lukisan purnama merah deh. Kok tiba-tiba jadi putih polos begini?
Jongin mengerutkan alisnya. Perasaan bingung langsung menyerang. Membuatnya kini sepenuhnya bangun dari sleeping beauty-nya.
Kok bisa begini? Jongin semakin mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat kembali kenapa langit-langit kamarnya berubah menjadi polos hanya dalam hitungan satu malam.
Kenapa ya?
Ck... aneh sekali! Langit-langit kamar tidak mungkin merubah dirinya sendiri, kan?
Atau jangan-jangan ini bukan kamarnya? Apa ia sedang berada di rumah temannya? Atau malah lebih buruk, ia sedang diculik karena ketampanannya yang cetar membahana?
Jangan bercanda, Choi Jongin. Kalau kau diculik bagaimana bisa Mommymu teriak-teriak tadi. Dan lagi, jangan terlalu berlebihan -.-
Terus, bagaimana ini bisa terjadi? Apa langit-langit kamarnya memang bisa berubah sendiri, ya?
Selamat pagi, Jongin-baby.
"Pagi, Gege..." gumam Jongin masih dengan mata yang terfokus pada langit-langit kamarnya.
Apa tidurmu nyenyak?
"Ya, aku rasa begitu." Ia kembali bergumam, matanya tetap masih menatap langit-langit kamarnya. Kepalanya masih mencoba memecahkan misteri yang sangat misterius ini.
Baguslah kalau begitu. Cepat bersih-bersih dan sarapan, oke? Aku mencintaimu!
"Hn... aku juga mencintaimu." Lagi, Jongin bergumam, menjawab suara Yixing yang terdengar begitu jelas di telinganya seolah-olah namja Chinese itu berada di ruangan sebelah kamarnya.
Merasa misteri langit-langit kamarnya semakin aneh dan tidak masuk akal, Jongin membawa jari telunjukknya ke bibirnya. Sebuah kebiasaan aneh Choi Quadruplets ketika tengah bing –
Eh?
Sebentar...
Suara Yixing-ge terdengar jelas seperti ada di ruang sebelah kamarnya?
Ruangan sebelah kamarnya... langit-langit polos... suasana kamar yang tidak familiar...
.
.
.
Hmm...?
.
.
.
"AH!" sontak Jongin langsung bangit terduduk di tempat tidurnya. Matanya membelalak besar. Wajahnya tampak syok dan tidak percaya.
Astaga... bagaimana ia bisa lupa akan hal ini sih? Pabo! Pabo! Pabo!
"Aku 'kan ada di rumah Yixing-ge! Aigo! Kenapa aku bisa lupa?! Pabo!" gumamnya seraya menepuk keningnya cukup keras sampai menimbulkan bekas merah di keningnya.
Astaga... Choi Jongin... sepertinya kau tidur terlalu lama...
.
.
.
reYHan ft. Hana
present
first Sequel of XOXO drama (KaiLay ver)
The Ritual
Rate: T-M
Pair: LayKai (Main) and other
Warning: typo(s), gaje, aLay, lebay, dipenuhi kata-kata yang ada di Kamus Wolf by reYHana, kurang hot, gak nyambung ama fic utamanya, kepanjangan, de el el de el el
Gak suka? Tidak usah baca gak papa
Suka, monggo di lanjut.
Enjoy
.
.
.
The Ritual
Chapter Tree part A
Maze Ritual
Ketika tandu yang membawanya entah kemana akhirnya berhenti, Yixing membuka sedikit jendela tandu tempat ia berada. Mencoba mengintip keadaan di luar tandu tempatnya duduk kurang lebih 20 menit yang lalu.
Yixing jadi penasaran, apa yang membawa tandunya tidak kelelahan, ya?
Begitu mata obsidian gelapnya mengintip keadaan di luar sana, keningnya langsung berkerut.
Eh? Bambu?
Setelah melihat itu, Yixing pun langsung menutup tirai jendelanya, kemudian duduk tegak menyandar ke dinding tandu yang terbuat dari kayu berbau menyenangkan. Keningnya masih berkerut. Wajahnya tampak menggambarkan ia tengah memikirkan sesuatu.
Bambu... hutan bambu. Kalau memang benar apa dugaannya, ini adalah hutan bambu yang Papanya hadiahkan pada Mama dan clannya sebagai 'mas kawin' saat pernikahan mereka dahulu. Karena satu-satunya hutan bambu terdekat dari rumahnya ya hutan bambu ini.
Hutan bambu ini sangat di sayang oleh Mamanya. Maka dari itu, tidak ada yang bisa masuk tanpa izin resmi. Selain karena hutan ini adalah hadiah pertama Papa sebagai 'suaminya', hutan ini adalah hutan di mana panda-panda peliharaan Mamanya hidup bebas dan terjaga.
Padahal, kenyataannya tidak demikian. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini bukan karena apa yang dijabarkan barusan. Oke, memang itu benar. Tapi, alasan sebenarnya adalah karena di tengah hutan ini ada sebuah tempat rahasia. Sebuah areal yang tidak boleh di masuki dan di lihat oleh siapapun tanpa izin sang Head Alpha.
Wu Maze. Tempat ritual suci Maze Ritual Clan Wu dilaksanakan.
Wu Maze... ngomong-ngomong soal labirin besar itu, Yixing jadi teringat masa kecilnya. Ketika ia sedang nakal-nakalnya –ia juga bisa nakal, bahkan lebih nakal dari pada Sehun- ia pernah secara sengaja masuk ke lingkungan ini tanpa seizin siapapun, bahkan Mamanya.
Awalnya sih, ia masuk ke sini karena penasaran dengan panda-panda yang hidup di lingkungan ini. Rencananya waktu itu, ia hanya akan melihat-lihat daerah luar dari hutan yang entah berapa luasnya ini. Tapi, berhubung tidak ada panda yang bisa ia lihat, akhirnya ia memutuskan untuk masuk lebih jauh.
Semakin jauh ia berjalan, bukannya panda yang ia temui, ia malah dihadapkan dengan tanaman entah apa itu yang menjulang tinggi membentuk tembok besar yang tidak bisa ia lihat ujungnya –maklum, ia sangat mungil saat itu. Rasa penasaran khas anak kecilnya pun akhirnya muncul.
Apa yang ada di balik tembok tanaman ini?
Pertanyaan itu pun akhirnya membimbingnya untuk menyusuri tembok tanaman itu. Selangkah demi selangkah ia lewati sampai pada akhirnya ia berdiri di sebuah tempat yang bisa ia tebak sebagai pintu masuk dari daerah berdinding tanaman tersebut.
Saat itu, Yixing belum tau kalau tempat itu adalah Wu Maze. Makanya, tanpa pikir dua kali, ia langsung masuk ke area itu dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Kalau boleh jujur, waktu itu, ia benar-benar bingung dan takut, tapi tetap penasaran. Setiap jalan yang ia lewati terasa seperti melewati jalan yang sama dan menuju satu arah yang sama. Yaitu jalan buntu entah ada di bagian mana labirin itu.
Menyadari bahwa ciri-ciri dari areal itu mirip dengan ciri-ciri labirin yang ada di buku ceritanya yang sering diceritakan oleh Mamanya sebelum ia tidur, Yixing akhirnya menyadari bahwa areal itu adalah sebuah labirin. Yang berarti, tidak ada jalan keluar.
Merasa sangat takut, Yixing terduduk di tempat yang sepertinya adalah tempat ia mulai tersesat. Memeluk dirinya sendiri yang tiba-tiba bergetar hebat. Gumaman-gumaman 'Mama', 'Papa' dan 'Tolong Yixing' terus menerus keluar dari bibir tipisnya yang bergetar hebat. Dalam kepalanya waku itu, ia menyesal sekali telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lakukan.
Hampir menangis, Yixing mengedarkan matanya ke seluruh tempat tersebut. Berusaha mencari jalan keluar tercepat atau jalan berbalik menuju pintu masuk. Isakan kecil lolos dari bibir tipis kemerahan miliknya.
Tiba-tiba saja, matanya menangkap sesuatu yang berkilau dari balik rimbunan dedaunan. Dengan tubuh yang masih bergetar, Yixing menghampiri sumber kilauan itu berasal seraya berharap bahwa itu adalah petunjuk bagaimana ia bisa keluar dari labirin membingungkan itu.
Entah ia beruntung atau memang ini adalah takdirnya, Yixing menemukan sebuah tali yang entah terbuat dari apa sampai bisa berkilau seperti itu. Tali itu tidak berujung dan berpangkal, melainkan terbentang terus menyusuri dinding tanaman tersebut.
Berharap ini adalah jalan keluarnya, Yixing pun mengkuti kemana perginya tali itu. Langkahnya setengah ragu-ragu tapi ia tetap berjalan. Terus menyusuri tali-tali berkilauan yang akhirnya menuntunnya menuju pintu keluar dari labirin itu, yang mana ketika ia terus berjalan lurus beberapa puluh meter, langsung menuju danau besar di belakang rumahnya.
Yixing tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia ketika ia melihat danau luas tersebut. Segera, ia pun berlari menuju jembatan tua rapuh yang membentang menghubungkan danau besar tersebut dengan salah satu areal rahasia milik Clan Wu.
Dan setelah itu, anehnya, ia malah selalu ingin pergi ke sana. Dan itulah yang ia lakukan. Hampir setiap ada kesempatan, ia akan menyusup ke sana dan masuk ke labirin tersebut yang ternyata, hanya memiliki 2 jalan masuk. Satu adalah jalan yang berhubungan dengan hutan bambu dan satu jalan lainnya adalah jalan yang menuju danau.
Lebih anehnya lagi, ia selalu saja berhasil keluar. Ada saja petunjuk-petunjuk aneh selain tali berkilauan itu. Seperti tanaman dengan dedaunan aneh, batu-batuan dengan bentuk aneh yang menghalang jalan-jalan buntu, sampai ranting-ranting pohon yang dibentuk –atau secara alami berbentu- beda dari tanaman yang lainnya.
Rasa penasaran terus saja mengusiknya selama ia menjelajah labirin itu. Apa sebenarnya arti dari tanda-tanda tersebut? Kenapa ada tanda-tanda tersebut? Bagaimana caranya hal itu terjadi? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya mengenai misteri tak terpecahkan dari labirin aneh itu.
Sampai akhirnya, Papa dan para tetua memulai mengajarkan materi tentang Secret Area, barulah ia tau. Wu Maze, nama labirin itu, adalah labirin yang digunakan dalam ritual khusus yaitu Maze Ritual. Ritual yang lagi-lagi mengetes ikatan batin antara calon pasangan mate. Bedanya dengan ritual lainnya adalah ritual ini benar-benar mengandalkan kepemimpinan sang Dominant.
Ritual ini dilaksanakan dengan cara memasukkan calon pasangan mate kedalam sebuah labirin. Mereka masuk lewat masuk yang berbeda. Kemudian, dengan cara apapun, mereka harus bisa membimbing calon mate mereka agar bisa lolos dari ketersesatan dengan tidak bertemu satu sama lain di manapun pada saat apapun. Dan akhirnya bisa keluar lewat jalan masuk calon mate-nya.
Ritual ini biasanya di mulai saat matahari seperempat naik dan berakhir sebelum matahari terbenam. Karena menurut kepercayaan, ketika calon pasangan mate tidak berhasil membimbing matenya keluar dari labirin sebelum matahari terbenam, rumah tangga mereka akan digoyah dengan halang rintangan besar.
Makanya, ritual ini di laksanakan saat matahari seperempat naik atau pada pagi hari. Karena dengan begitu, waktu yang digunakan para calon pasangan mate banyak. Meskipun demikian, mereka tetap harus menggunakan waktu tersebut secara efisien. Karena sebenarnya, lebih cepat mereka keluar, lebih baik.
Karena itulah, senyum penuh arti mengembang di bibir tipis kemerahan Yixing.
Ritual kali ini akan berjalan dengan mudah.
.
.
.
Sebenarnya ritual macam apa ini?!
Yah sekiranya seperti itulah kalimat yang diteriakan Jongin di dalam kepalanya. Kini, namja yang tengah mengenakan T-shirt putih dengan strip abu-abu, merah dan biru itu tengah berdiri di depan sebuah jalan masuk-keluar dari sebuah labirin besar yang, kalau tidak salah, namanya adalah Wu Maze.
Jongin benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana ritual semacam ini bisa ada dan apa fungsinya. Oke, memang ia sudah di jelaskan panjang lebar tadi ketika mereka dalam perjalanan ke sini –yang sama sekali Jongin tidak tau ada di mana. Tapi tetap saja. Ia benar-benar tidak mengerti.
Karena setaunya, masuk ke dalam labirin sama dengan mensesatkan diri sendiri. Apa lagi kalau labirinnya sebesar ini. Jongin yakin, ia akan langsung tersesat bahkan pada langkah pertamanya.
Memang sih ia bisa membaca peta buta yang ada di tangannya sekarang. Tapi, dengan tembok-tembok tanaman mengelilinginya, ia yakin, ia akan langsung terintimidasi dan jadi blank seketika.
Sudah begitu, yang memimpin adalah Yixing, yang setau dirinya, buta arah. Dia saja bisa tersesat di rumahnya sendiri, apa lagi di tempat asing seperti ini. Bertambah kacau sudah semuanya.
Aigoo... Jongin sebenarnya tidak ingin berfikikiran buruk duluan, tapi, dengan semua kelemahan mereka yang sangat tidak menguntungkan dalam ritual semacam ini, membuatnya jadi berpikiran pesimis bahkan sebelum ritual ini di mulai. Yang tentu saja, sama sekali bukan gayanya.
Menyebalkan! Kenapa mereka harus Maze Ritual segala sih?!
Ia jadi khawatir begini 'kan... ugh... benar-benar menyebalkan!
"Jongin-ah?" Jongin sedikit tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Sontak, namja tinggi semampai itu langsung menolehkan kepalanya pada si penepuk bahunya.
Yang tak lain tak bukan adalah Tao, Mama Yixing.
"Kenapa? Ada masalah? Dari tadi Mama lihat sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya dengan wajah yang menampakkan kekhawatiran. Jongin tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.
"Aniya, tidak ada apa-apa kok, Ma. Jongin baik-baik saja." Meskipun kalimat yang terucap demikian, suara yang digunakan sang namja manis itu tidaklah meyakinkan sama sekali. Terlebih dengan gerak matanya yang berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Tao. Benar-benar tidak mendukung sama sekali.
"Kau tidak pandai berbohong, Jongin-ah." Itulah komentar Tao sebelum kemudian memeluk Jongin yang tampak terkejut dengan tebakan jackpot-nya.
"Tenanglah. Serahkan semuanya pada Yixing dan kau akan baik-baik saja bahkan tanpa peta itu." Bisikan Tao barusan sukses membuat Jongin mengerutkan keningnya, bingung.
Belum sempat ia bertanya balik, Tao sudah keburu melepaskan pelukkan mereka. Setelah ia melepaskan pelukkan itu, Tao pun memandang Jongin penuh sayang kemudian mengelus rambutnya lalu menepuk bahunya.
"Semua akan baik-baik saja, oke?" sekalipun Tao bicara demikian, dengan suara dan nada yang meyakinkan, tetap tidak bisa membuat rasa khawatir Jongin hilang. Namja manis itu tetap saja berwajah khawatir dan takut.
Tao menghela nafasnya. Anak ini memang persis Siwon. Sekalinya optimis, akan terus optimis sekalipun di terjang banyak halangan. Tapi, kalau sudah pesimis, haduh...
"Sudah, tidak ada waktu untuk khawatir sekarang. Waktu terus berjalan! Sekarang, ayo kita mulai." Ujarnya kemudian membalikkan paksa tubuh Jongin yang terasa begitu kaku. Membuat namja itu kini menghadap ke arah pintu masuk labirin berdindingkan tanaman merambat tersebut.
"Ingat, ketika kau sudah masuk ke sana, Mama akan memasang Segel Gerbang yang terhubung dengan segel yang tadi pagi Mama tanamkan padamu." Jongin menatap punggung tangan kanannya, tempat segel berbentuk aneh tersebut berada, sebelum kemudian menelan ludahnya.
Segel Gerbang, segel yang berfungsi seperti gerbang yaitu menutup jalan masuk atau keluar seseorang yang terhubung dengannya. Segel yang benar-benar berbahaya kalau kau coba-coba melewatinya ketika kau terhubung dengannya. Karena segel ini bisa membuatmu kehilangan nyawa.
Jongin kembali menelan ludahnya, tidak ada cara lain selain keluar dari pintu lain dan mempercayai Yixing.
Aku mohon, Ge. Jangan tunjukkan kelemahanmu sekarang. Batinnya seraya menutup mata dan mengepalkan tangannya.
Tenang saja, Jongin-ah. Percayakan semuanya padaku dan Lay.
"Kau siap, Jongin?" lagi, Jongin hanya bisa membalas pertanyaan tersebut dengan anggukkan kecil. Wajahnya sekarang benar-benar tampak nervous.
Kau siap, Ge?
Kapanpun kau siap, aku siap. Tenang saja, oke? Masuklah dalam mode siap-mu.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Jongin ingin mempercayai apa yang baru saja dikatakan Yixing, tapi, karena kepalanya sedang dipenuhi dengan segala macam kepesimisan dan pikiran negatif, ia jadi tidak bisa percaya sama sekali.
Aigo... harus bagaimana ini? Batinnya seraya meremas peta yang sedari tadi ia pegang. Ck, ia benar-benar tidak suka ketika ia dirundung rasa pesimis seperti ini. Rasanya benar-benar tidak nyaman sama sekali.
Ini benar-benar menyebalkan. Kenapa sih di saat-saat seperti ini optimismenya malah tidak ada sama sekali?
Sekalipun ia berusaha, kepalanya tetap saja dipenuhi pikiran-pikiran tidak menyenangkan. Apapun yang ia lakukan, pikiran-pikiran tersebut tidak mau enyah dari kepalanya.
Tapi...
Jongin terdiam, tangannya mengepal.
Sekalipun demikian...
Ditutupnya kedua matanya. Kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam.
Ia tetap harus percaya 100% pada Yixing dan berpegang padanya.
Setelah itu, dihembuskannya nafas tersebut secara perlahan seraya kedua matanya yang kini manikknya berubah menjadi warna emerald.
Karena bagaimanapun, Yixing adalah orang yang akan menuntunnya sampai akhir hayatnya nanti. Kepala keluarga kecil mereka, ayah dari anak-anak mereka, suaminya dan belahan jiwanya.
Dengan keberanian yang coba dikumpulkan, Jongin pun melangkahkan satu kakinya masuk ke dalam labirin tersebut. Di saat yang sama, Tao langsung bersedia memasang Segel Gerbang di pintu masuk.
Aku percaya sepenuhnya padamu, Ge. Tuntun aku.
Yeah, tenang saja. Serahkan semuanya padaku.
.
.
Kau sudah masuk 'kan? Tanya Yixing seraya berjalan masuk semakin jauh. Matanya tak lepas dari sekelilingnya. Menganalisis apa sekiranya yang bisa ia gunakan kali untuk bisa keluar dari labirin yang sudah seperti taman bermainnya ini.
Ya, Mama baru saja membuat Segel Gerbang. Ucap Jongin masih dengan nada pesimisnya. Aigo... anak ini benar-benar tidak bisa percaya padanya.
Oke, dia memang buta arah. Bisa tersesat dimana pun, kapanpun, tanpa kenal waktu dan tempat. Sudah begitu dia juga ceroboh dalam masalah menganalisis seperti ini dan bla bla bla yang mengarah pada kesimpulan bahwa ritual ini sangat amat tidak menguntungkan untuknya.
Tapi, hey, itu 'kan seorang Zhang Yixing bukan Wu Yixing. Zhang Yixing jelas sekali berbeda dengan Wu Yixing, penerus Clan terbesar di China, Clan Wu. Kalau orang-orang bisa bermain-main dengan Zhang Yixing yang kelewatan polos dan banyak kelemahan, mereka tidak bisa bermain-main dengan sang putra mahkota yang sedang dalam mode bersiaganya ini.
Cari masalah namanya kalau mereka berani melawannya.
Oke, terdengar seperti membanggakan diri sendiri tapi itulah kenyataannya. Sebuah kenyataan yang sebenarnya bisa dibantah tapi sangat sulit. Menurut dari apa yang banyak orang nilai –baik dari dalam Clan maupun luar Clan- susah mencari kelemahannya. Mungkin malah, ia tidak punya kelemahan sama sekali.
Yang sebenarnya sama sekali tidak benar. Yixing tau benar dimana letak kelemahannya, maka dari itu, ia berusaha menutupi semua kelemahannya itu sehingga tidak ada orang lain yang tau. Ayolah, ia juga sama seperti kebanyakan orang, punya kelemahan. Ia bukan Dewa atau Tuhan atau Malaikat atau makhluk apapun itu yang tidak punya kelemahan.
Syukurnya, kelemahannya itu tidak berpengaruh sama sekali dalam ritual ini. Maka dari itu, Jongin harusnya tidak perlu khawatir dan pesimis seperti ini.
Haah~ seharusnya ia bicara soal kelemahannya ini sejak awal.
Cobalah untuk tidak pesimis. Percayalah, sebelum siang nanti, aku bisa membuatmu keluar dari sini.
Aku ingin percaya, Ge. Serius. Tapi, kepalaku terus saja dipenuhi skenario-skenario terburuk yang bisa terjadi.
Aku tau. Kau belum mengenalku lebih dalam –
Ya! Apa maksudmu? Nada yang sebelumnya terdengar pesimis, kini balik terdengar kesal. O-ow... sepertinya ia salah tekan tombol.
Bukan seperti itu, Jongin-ah –
Lalu seperti apa?
Yang kau ketahui hanyalah Zhang Yixing, bukan? Sementara Wu Yixing baru saja kau kenal selama 3 bulan belakangan ini.
Jongin tertegun. Langkahnya terhenti. Matanya terbelalak. Nafasnya sesaat tercekat dan ia bisa merasakan jantungnya berhenti sesaat.
Benar, itu benar. Yang ia ketahui hanyalah seorang Zhang Yixing. Yang ia ketahui dengan baik sampai ke dalam-dalamnya hanyalah seorang Zhang Yixing. Zhang Yizing yang ceroboh, polos, lola, dan punya cukup banyak kelemahan. Sementara Wu Yixing, namja itu benar-benar berkebalikan dengan Zhang Yixing meskipun dalam tubuh yang sama.
Meskipun demikian, ia tidak mengenalnya. Tidak mengenalnya dengan baik.
Aigoya...
Merasakan aura penuh mental breakdown Jongin, Yixing langsung face palm. Astaga! Kenapa ia membahas masalah seperti itu di saat-saat seperti ini sih? Aduh... maksudnya 'kan bukan seperti itu. Kenapa jadinya malah seperti ini, sih?
Mianhae, Jongin-baby. Aku tidak bermaksud apapun.
...
Aigo... chagi-ya?
...
Aigo, chagi-ya, baby-ah, nae beautiful and lovely soon-to-be bride, please, konsentrasi dengan semua ini dulu, oke? Masalah saling mengenal bisa kita urus nanti setelah semua ritual sialan ini selesai, ya?
Masih tidak ada jawaban sama sekali. Yixing mengepalkan tangannya. Ugh... entah mengapa ia jadi kesal sekali sekarang.
Jongin-ah, dengar dan turuti aku. Jongin tertegun ketika suara alpha tone masuk ke dalam telinganya. Sontak membuatnya langsung menganggukkan kepalanya sekalipun ia tau bahwa Yixing di ujung sana tidak akan bisa melihatnya.
N-ne... Yixing menghela nafasnya. Jemari tangan kanannya terangkat, menyisir rambutnya ke belakang.
Astaga... ia benar-benar tidak bermaksud memakai alpha tone tadi. Mungkin karena ia dalam mode siaganya, sisi dominannya jadi menguasai dirinya tanpa ia sadari.
Ck! Menyebalkan!
Mianhae, baby-yah aku –
Aniyo... tidak masalah. Aku yang salah. Sekarang ayo mulai bergerak. Kau bilang akan membawaku keluar sebelum siang, kan? Suara namja itu terdengar ceria, namun dibuat-buat. Yixing menghela nafasnya.
Ne. Tapi, aku tetap minta maaf, ya. Aku kelepasan.
Aniyo, gwaenchana. Aku yang salah. Ayo, tuntun aku. Yixing mengambil nafasnya, kemudian mengeluarkannya perlahan. Wajahnya masih tampak bersalah dan tidak enak pada Jongin.
Di sisi lain, Jongin sekarang sedang berusaha mengatur debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup sangat kencang.
Ia seharusnya ingat bahwa mengabaikan apa yang dominanmu katakan itu sama dengan membahayakan dirimu sendiri. Apa lagi di saat ia dalam mode wolf-nya. Mau itu saat mode siaga, siap, half mode, full mode, atau mode lainnya. Karena efeknya bisa seperti ini. Jantungnya berdegup kencang dan kepalanya jadi sakit.
Mianhae, baby-yah. Lagi, terdengar suara Yixing meminta maaf di ujung sana. Jongin menggelengkan kepalanya.
Nan gwaenchana, Ge. Ayo tuntun aku! Cepat! Ujarnya berusaha terdengar ceria dan baik-baik saja.
Yang ia sendiri ketahui sebenarnya sama sekali tidak berguna. Karena Yixing itu benar-benar sulit dibohongi.
Baiklah, tapi setelah High Wall ritual selesai, aku ingin bicara padamu. 4 mata. Tentang masalah ini. Oke?
Ne, aku mengerti. ujar Jongin seraya menganggukkan kepalanya lagi. Tangannya yang sedari tadi ada di dadanya kini mulai turun ke samping tubuhnya. Matanya yang sedari tertutup perlahan terbuka.
Sementara itu, di saat yang sama, Yixing kini sudah mulai berjalan menyusuri jalan labirin tersebut. Perasaan bersalahnya masih terus membayanginya. Terbukti dari wajahnya yang terus tampak khawatir dan cemas serta tangannya yang terus terkepal.
Meskipun demikian, ia tentu saja tidak bisa diam saja. Mereka sedang ada di tengah ritual yang sama sekali tidak boleh di pandang sebelah mata. Meskipun Yixing sudah mengenal daerah ini seperti tempat bermainnya sendiri.
Karena ia tidak menjalani ritual ini sendiri. Ada Jongin di ujung sana. Yang mempercayakan dirinya padanya untuk di tuntun menuju jalan keluar. Secepat yang ia bisa.
Lagi pula, mereka masih ada waktu untuk menyelesaikan ini.
Yah.. semoga saja.
.
.
"Ah, kau sudah di sini rupanya." Tao berucap ketika matanya bertemu dengan mata kemerahan Yifan. namja itu kini tengah berjalan menuju ke arahnya dengan hanya berbalut kimono mandi berwarna hitam kelam.
"Kapan Jongin masuk?" tanpa basa-basi atau sekedar 'hai', Yifan langsung menanyakan hal tersebut pada istrinya, yang hanya bisa mendengus kecil.
Dasar, sifat to the pointnya itu memang tidak pernah bisa berubah.
"Kurang lebih 15 menit yang lalu. Kenapa? –Oh ya, kau berubah tadi?" Yifan hanya menganggukkan kepalanya kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang berada tepat di samping kursi tempat Tao sedang duduk sekarang. Tao menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa? Tumben sekali kau berubah hanya untuk datang ke sini." Tanya Tao lagi seraya menatap suaminya yang –ia yakin- dibalik kimono mandinya tidak berbalut apapun. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya dan kaki sebelah kanannya berada di atas kaki sebelah kirinya.
"Kau tau sendiri, bagi Yixing, labirin ini sudah jadi tempat bermainnya." Ucap Yifan dengan nada datar seraya membuka botol air mineral yang entah datang dari mana. Setelah tutupnya terbuka, ia pun langsung meneguk isinya sampai tinggal setengahnya saja.
"Lagi, ia dalam mode siaganya." Lanjutnya seraya meletakkan botol air mineral itu di samping kursinya. Tao mengerutkan keningnnya.
"Maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali." Tanya Tao berusaha mencari kejelasan dari apa yang barusan suaminya itu katakan.
Ia tau kalau labirin ini sudah seperti taman bermain Yixing –bahkan ia yang tau pertama kali kalau New Star-nya itu menyelinap masuk tempat terlarang ini. Dan ia juga tau kalau putra sulungnya itu dalam mode siaganya –ia bisa merasakan aura Lay sampai sini. Tapi, hubungannya semua itu dengan suaminya terburu-buru ke sini sampai berubah ke dalam wolf-form-nya itu apa?
Yifan, yang sedari tadi manik merahnya tak lepas dari pintu masuk labirin besar itu, menolehkan kepalanya ke arah istrinya. Wajah datarnya kini seolah tengah mengatakan masa-kau-tidak-tau-maksud-ku? Yang dibalas dengan gelengan kepala dari Tao.
Yifan menghela nafasnya.
"Aku hanya berjaga-jaga kalau dia hilang kendali." Kening Tao yang sudah berkerut semakin bertambah berkerut ketika ia mendengar kalimat itu.
Apa? Hilang kendali? Yixingnya? Maksudnya apa sih? Ia benar-benar tidak mengerti.
Melihat ekspresi istrinya yang semakin bingung akan apa maksud dari perkataannya, Yifan melanjutkan penjelasannya.
"Kau tau 'kan kalau aku menarik keluar Lay kemarin secara paksa?" Tao menganggukkan kepalanya.
"Aku takut anak itu kesal karena ditarik paksa dan dibuat kehabisan tenaga. Kau tau sendiri 'kan, kalau Lay kesal, dia bisa memberontak. Aku tidak yakin saja kalau Yixing yang belum pulih sepenuhnya itu bisa mengendalikan Lay yang memberontak." Jelasnya lebih terang pada istrinya yang kini tengah ber'oh' ria, akhirnya mengerti.
"Tapi, aku rasa itu tidak akan terjadi hari ini." Ujar Tao seraya mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk yang tertutup portal Segel Gerbang. Membuat kini gantian Yifan yang menaikan sebelah alisnya.
"Dari mana kau bisa yakin?"
"Dia harus menuntun Jongin keluar dari sana. Yang berarti, dia harus berkonsentrasi. Meskipun labirin ini adalah taman bermainnya, semua itu tidak berlaku untuk Jongin. Aku rasa, Lay tidak sebodoh itu untuk memberontak di waktu yang tidak tepat seperti ini." Tao mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum kecil.
"Lagi pula, aku yakin, Lay tidak punya banyak kekuatan sekarang. Tentu saja, anak itu tidak akan memberontak. Paling cuma mengeluh sana-sini karena kau menariknya paksa." Yifan hanya bisa mendengus mendengar pernyataan tepat sasaran dari ibu kedua anaknya itu.
Ah~ sepertinya ia menyia-nyiakan tenaganya dengan berubah ke wolf-form-nya dan untuk mencemaskan sesuatu yang tidak akan terjadi.
Lain kali, ia harus menanyakan apapun yang berhubungan dengan anak-anaknya terlebih dahulu pada Tao. Feeling ibu anak-anaknya itu selalu tepat sasaran.
.
.
Jongin terus berjalan menyusuri labirin itu dalam diam. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya. Matanya memandang sekeliling jalan, mencoba menikmati perjalanannya di dalam labirin yang senyap itu.
Sudah hampir 10 menit ia berjalan di dalam labirin ini dan tidak ada apapun yang terjadi. Semuanya berjalan lancar meskipun atmosfer canggung masih menggantung di sana –gara-gara yang tadi itu. Sepertinya ketakutan yang dialami Jongin sebelumnya tidak berguna sama sekali.
Seraya mendengarkan instruksi dari Yixing –yang hanya bicara sesekali saja- yang berada di ujung sana, ia mulai berjalan menyusuri labirin itu. Satu persatu tikungan ia lewati dan tidak ada satu hal pun menghalang. Perlahan tapi pasti, kakinya membawa dirinya menyusuri jalan lebar, terang dan terasa nyaman tersebut.
Aneh, bukankah ini semua terlalu aneh?
Tidak hanya suasana yang ada di sana. Sekeliling labirin itu pun juga. Semua ini terlalu aneh menurut Jongin.
Ini terlalu mudah. Tidak ada apapun yang terjadi. Seolah-olah, mereka hanya sekadar melakukan ritual ini untuk memenuhi tradisi. Sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi di dalam Clan Wu yang terkenal dengan berbagai macam ritualnya.
Sebenarnya, ada apa dibalik ini semua? Ini terlalu aneh untuk jadi kenyataan.
Tiba-tiba saja, di tengah-tengah pemikiran dalamnya, Jongin merasakan sesuatu. Tepatnya mencium sesuatu.
Hm? Wangi apa ini? Aneh sekali?
Jongin-ah?
Seraya berjalan, Jongin mencoba mengidentifikasi apa gerangan wangi tersebut. Wangi ini terasa sangat tidak familiar. Tapi di saat yang sama, membuatnya begitu nyaman. Entah bagaimana caranya.
Jongin-ah? Kau mencium wangi apa?
Wangi ini, bagaimana yah, terasa begitu manis, menyejukkan, membuat tubuh terasa begitu segar dan nyaman. Jongin hampir dibuat mabuk karenanya.
Jongin-ah? Jongin-ah?!
Hm... sebenarnya, wangi apa ini?
Masih tenggelam dalam harum yang begitu memabukkan itu, tiba-tiba saja, Jongin merasakan kakinya bergerak sendiri. Bergerak dengan lebih cepat dari yang sebelumnya. Membuatnya terkejut bukan main.
Apa yang terjadi?!
Ada apa? Jongin-ah, ada apa?
Gege, otteokhae? Kakiku mulai bergerak sendiri. Gumamnya setengah ketakutan. Waegeurae? Apa yang sedang terjadi pada dirinya?
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kakinya bergerak sendiri seperti ini? Kenapa tiba-tiba kakinya sulit sekali ia kendalikan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Apa tadi ia menginjak sesuatu? Semacam sebuah jebakan tidak terasa yang membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya atau mungkin sesuatu yang lain?
Sudah ia duga, semua ini tidak mungkin berjalan semudah itu. Mereka pasti sudah memasang jebakan. Tapi, jebakan macam apa ini? Kenapa ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya begini?
Eotteokhae? Eotteokaji?
Sementara itu, di sisi lain dari labirin itu, Yixing mulai berlari. Menerobos dinding-dinding labirin yang serasa bergerak – ah aniya, labirin ini memang bergerak. Yixing tau akan hal itu. Makanya ia mulai berlari sekarang.
Terlebih, Jongin sudah mulai terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya dan mulai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ck, sekarang ia tau kenapa para tetua itu memilihkan ia masuk dari sisi dalam labirin, bukan sisi luar dekat danau.
Black rose sedang mekar, sialan!
Bunga mawar berwarna aneh itu mengeluarkan wangi yang menyejukkan sekaligus mematikan. Siapapun yang menghirup wanginya, tidak akan bisa mengendalikan tubuhnya dan merasa kan bahwa tubuhnya bergerak sendiri.
Di perempatan ketiga dari pintu masuk sisi luar labirin, di ujung jalan sebelah kanan, ada taman black rose milik Neinei-nya –Nenek dari Papanya. Setiap setahun sekali di musim panas, tanaman mawar merambat itu akan mekar. Dan hari ini –ia baru ingat sialan!- adalah hari terakhir mawar-mawar itu mekar sebelum esoknya akan gugur semuanya. Yang berarti, mereka sedang kuat-kuatnya mengeluarkan baunya.
Sial! Sial! Sialaaan!
Tak memperdulikan jika kulitnya tergores akan duri dan ranting tanaman, ia terus berlari menerobos jalan. Ia harus cepat. Atau tidak, Jongin akan berjalan ke arah taman itu dan semuanya akan jadi kacau.
Meskipun Yixing yakin, siapapun itu, mau orang tuanya, atau orang tua Jongin atau malah para tetua itu, pasti sudah meminumkan Jongin ramuan –mengingat ia masih bisa bicara padanya- demi menjaga keselamatannya. Ia tetap tidak bisa membawa dirinya dalam perasaan tenang.
Sekali Jongin masuk ke areal taman itu, ia tidak akan bisa keluar sebelum kesadarannya menghilang. Skenario terburuk adalah, namja itu terhipnotis cermin yang ada di sana dan meminum air dari black rose. Jika itu terjadi, tamatlah semuanya.
Makanya, ia tidak bisa tenang. Sama sekali tidak bisa tenang. Secepat mungkin, ia harus bisa sampai di kolam di tengah labirin, mengambil air penawar dan membawanya ke Jongin agar namja itu tersadar sebelum semuanya terlambat.
Sialan! Ternyata ia memang terlalu menganggap remeh ritual ini! Menyebalkan!
Jongin, Jongin-ah? Kau bisa mendengarkan aku?
Ne, Ge. Aku bisa mendengarkanmu. Ugh... Ge, eotteokhae? Kakiku terus berjalan sendiri. Yixing mendecih kesal. Kakinya masih terus membawanya berlari lebih cepat melewati jalan-jalan yang tampak semakin lama semakin kecil dan membingungkan itu.
Tetap tenang. Bagaimanapun caranya, cobalah untuk memperlambat gerakanmu. Yixing sebenarnya tidak mau terdengar panik, tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Skenario-skenario terburuk terus saja berputar seperti film dan itu membuatnya takut.
Sangat takut.
Sialan, para tetua itu! Awas saja nanti kalau ia keluar!
.
Sementara itu, Jongin sekarang tengah berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya sangat sulit sekali.
Setiap detik yang terlewatkan, kakinya semakin cepat melangkah. Seolah-olah magnet yang menarik kakinya sudah semakin dekat saja.
Eotteokhae? Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa ia akan menggagal ritual ini?
Astaga! Jangan! Yixing-ge akan menerima hukuman kalau ia mengacaukan ritual ini!
Merasakan Jongin semakin panik, Yixing menggigit bibir bawahnya. Sialan! Benar-benar sialan! Kenapa mereka selalu saja membuat sesuatu yang sangat berbahaya seperti ini demi mengujinya sih?! Membahayakan orang lain demi kepentingan mereka sendiri.
Sialan! Benar-benar sialan! Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari dirinya sih?!
Jongin-ah, jangan panik. Aku mohon jangan panik! Semakin kau panik, semakin cepat kau berjalan. Kendalikan dirimu! Yixing hampir berteriak diluar batinnya saking frustasinya.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?!
Kalau memang tetua-tetua itu ada masalah dengannya, kenapa harus melibatkan orang luar?! Kenapa mereka harus melakukan hal ini jika yang jadi sasaran mereka adalah dirinya?! Kenapa mereka tidak panah saja dia dengan panah suci mereka dan menyegelnya selamanya di pohon abadi?
Kenapa harus melibatkan Jongin? Kenapa harus melibatkan mate-nya yang bahkan belum sepenuhnya jadi miliknya? Kenapa harus melibatkan dia yang sama sekali tidak tau apa-apa?
Sebenarnya, apa salahnya sampai mereka menyiksa apapun yang ia sayangi?
"SIALAAAAAN!"
.
.
Kraaaak
PYAAAR
"Yixing!"
.
.
Bruk
Sehun langsung jatuh terduduk. Kakinya serasa tidak memiliki tenaga sama sekali. Kedua matanya membulat sempurna. Ekspresi sangat syok terpampang di wajahnya.
Apa itu? Yang tadi itu apa? Kenapa ia merasakan ledakan energi sebesar itu secara tiba-tiba begini?
Dan kenapa pula ia merasakan bahwa...
"Sehun-ah,"
Sehun menolehkan kepalanya ke arah kanan, tepat di mana mate-nya –yang syukurnya- jatuh ke sofa di sampingnya. Mata mereka bertemu. Ekspresinya sama terkejutnya dengan miliknya sendiri.
Untuk kali itu saja, Sehun berharap ia tidak bisa membaca ekspresi Luhan sama sekali.
"Yixing..."
.
.
Bruk
Satu hempasan kuat, para tetua itu terdorong beberapa meter kebelakang. Segel yang mereka pasang ternyata memang tidak ada pengaruhnya terhadap kekuatan monster dari sang Head Alpha Clan terbesar di China itu.
"Wu Yifan, kendalikan dirimu!" salah satu dari mereka berseru. Mencoba menyadarkan sang Head Alpha.
Yang tentunya mereka tidak bisa lakukan. Mereka telah menekan satu tombol yang seharusnya tidak di tekan. Dan mereka tidak bisa mengembalikannya seperti semula.
"Kendalikan diri katamu?" alpha tone itu keluar begitu saja. Membuat mereka yang berlindung di balik segel prisai itu sedikit tergoyahkan. Mata merah kelam sang Head Alpha tampak lebih menakutkan dari biasanya.
Sangat lebih menakutkan. Seolah, ia akan menumpahkan darah siapapun hanya dengan pandangannya saja.
Mereka salah menganggapnya remeh. Mereka salah membuatnya marah. Mereka salah membuat putra sulungnya beserta calon menantunya dalam bahaya. Mereka salah menekan tombol yang seharusnya tidak di tekan.
Yang jelas, mereka salah memilih lawan.
"Kalau kau memang ada masalah dengan putra-putraku, katakan padaku dan aku akan mengurusnya. Kalian sama sekali tidak memiliki hak barang sebutir debu pun untuk melakukan apapun pada anakku tanpa sepengetahuanku." Nadanya datar, tak beremosi, dan begitu menakutkan. Langkah kakinya perlahan, mendekati para tetua itu yang sudah siap tempur. Aura di sekelilingnya sudah menggelap.
Yifan benar-benar sudah siap menumpahkan darah siapapun.
"Kami berhak dan tentunya memiliki hak! Kau fikir karena kau adalah Head Alpha, kau berhak menentukan semuanya atas kehendakmu sendiri?! Kami yang mengatur, kami yang menghukum! Kami yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum dia menjadi Head Alpha yang baru! Dan ini satu-satunya cara membuatnya mengerti bahwa dia harus menuruti apa kata kami dan tidak membantah!"
Satu geraman kencang dari Yifan, dan segel prisai mereka hancur seketika. Tangan namja itu sudah mengepal erat. Matanya semakin kelam. Auranya semakin gelap. Ia benar-benar sudah siap membunuh mereka, para tetua sialan itu, yang berani-beraninya bermain dengan nyawa putranya.
Karena siapapun yang berani menyakiti anak-anaknya, barang seujung rambut pun, mereka tidak akan pernah lagi melihat dunia.
Mereka harus mati!
"Kalian jangan pernah bercanda padaku. Mereka putraku. Mereka berada dalam pengawasanku. Mereka berada dalam tanggung jawabku. Mereka jiwaku. Kalau kau macam-macam dengan mereka, itu sama saja kau –"
"Kami tidak peduli sama sekali! Terserah kau mau menganggap apa mereka untukmu!" salah satu dari para tetua itu menyela. Matanya menyalang merah. Menatap Yifan yang kini sudah sepenuhnya tenggelam dalam aura gelapnya.
"Yang kami pedulikan adalah Head Alpha yang lebih kuat! Lebih tangguh! Lebih bisa diandalkan dan menurut pada peraturan! Kami tidak ingin lagi Head Alpha sepertimu yang selalu asal dalam segala hal!" yang lainnya melanjutkan kalimat yang satu. Matanya juga sudah semerah darah. Siap melawan sang Head Alpha yang kini matanya berubah menjadi merah gelap.
Sangat, sangat gelap sampai tampak hitam.
"Aku tidak pernah suka di sela." Dan ia menghilang dari sana. Membuat para tetua itu terkejut.
Mata merah mereka mulai bergerak-gerak, berusaha mencari di mana gerangan sang Head Alpha tersebut seraya membuat formasi melingkar.
Di mana, ada di mana?
"Terutama jika yang menyela,"
Suara gerakan tubuhnya tidak terdengar, bau tidak tercium, aura tidak terasa. Seolah telah ditelan bumi. Sang Head Alpha menghilang tak terlacak dari pandangan.
"Adalah kalian,"
Ada di mana? Ada di mana dia?!
"Orang-orang yang membuat jiwaku hampir mati."
Di mana –
"Di atas sini, kalian bodoh."
Terkejut setengah mati, mereka menatap ke arah atas. Di sana, di langit yang menggelap, Kris berdiri dengan angkuhnya. Kedua tangan bertumpu pada sebuah panah besar berukiran mantra-mantra dan satu ukiran nama WU YIFAN di sisi sebelah kanannya.
Semuanya terbelalak. Mata membesar, nafas tercekat dan jantung mereka terasa berhenti sesaat.
Tidak mungkin, sejak kapan Head Alpha mereka mempunyai Holy Arch. Jangan bilang, jangan bilang the Holy Wu –
Tidak mungkin. Itu tidak mungkin.
Kris tersenyum. Tidak menyeringai. Puas mendapati mereka menatapnya dengan tidak percaya.
Ia tentunya tau kalau mereka tidak tau kalau Yifan punya Holy Arch, seperti milik mereka. Bahkan lebih kuat. Mengingat yang membuatnya adalah langsung the old Healer atau bisa dibilang juga adalah kakek buyutnya.
Huh, mereka benar-benar salah, sangat amat salah menganggapnya remeh.
Sangat amat salah.
Masih dengan senyum mematikannya, Kris mengangkat Holy Arch miliknya, kemudian, ia pun mengambil anak panah yang ada di belakang punggungnya dan langsung meletakkannya pada posisi siap di lepaskan.
"Nikmatilah tidur kalian sampai kalian sadar apa kesalahan kalian –"
"PAPA!"
Semua orang terkejut ketika teriakan itu terdengar. Bahkan Kris yang sudah dalam mode menyerangnya langsung menurunkan busurnya dengan mata yang terbelalak.
Suara ini...
Sekejap mata, Kris langsung menghilang dari sana. Membuat para tetua yang melihatnya setengah bernafas lega.
Ketika ia sudah sampai di tanah lagi, Holy Arch sudah tidak ada di tangannya. Namja itu berdiru mematung di belakang Tao yang kini menangis dengan Yixing yang tidak berpakaian di pelukkannya.
Seolah dipanggil Bumi, Yifan langsung jatuh ke tanah, tepat di belakang Tao. Sang Head Alpha berlutut di belakang punggung mate-nya, menatap nanar dan penuh kesedihan pada putranya yang kini berwajah seputih salju. Benar-benar putih seperti orang tak bernyawa.
Nafas tak beraturan langsung keluar dari bibirnya ketika ia bertemu pandang dengan mata kelam putranya. Dadanya terasa sesak, ia tidak bisa bernafas dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Mata itu, mata yang biasanya penuh dengan binar keindahan kini kosong.
Kosong.
"Papa... a-a-a-ku-uh b-ba-baik hhhh... baik... hhh... saja..."
Yifan kini tau bagaimana perasaan mereka-mereka yang tersiksa sampai ingin mati.
Ia benar-benar tau sekarang.
"Yixing..." tangan Yifan yang bergetar terangkat menyentuh pipi putranya yang biasanya selalu merona merah.
Alangkah terkejutnya dia ketika dingin langsung menyapa.
"Papa benar-benar ingin mati, Yixing..." matanya berkaca-kaca dan terasa panas. Telapak tangannya yang memegang pipi Yixing terasa begitu dingin. Sangat amat dingin.
Yifan tidak kuat. Ia ingin membunuh siapapun yang membuat anaknya seperti ini kemudian mati. Ia ingin mati.
Harusnya ia melindungi New Star-nya. Harusnya ia melindungi anaknya. Anak yang susah payah ia dapatkan. Anak yang 5 tahun lebih ditunggunya. Anak yang pertama kali mengisi relung hatinya. Anak yang membukakan jalan baru untuk kehidupannya dengan Tao. Anak yang selalu bersamanya.
His New Star. His Xingxing.
Satu tetes air mata jatuh menuruni pipinya yang putih.
Bibir putih Yixing bergertar ketika ia melihat hal itu. Ini, ini adalah kali pertamanya ia melihat Papanya menumpahkan setetes air mata. Ini kali pertamanya melihat Papanya tak berdaya dan jatuh bertekuk lutut seperti ini.
Ia tidak suka melihatnya. Ia sangat tidak suka.
Dengan sekuat tenaga, Yixing menggerakkan tangan kanannya yang berlumuran darah. Segel di tangannya baru saja patah, rusak, pecah berkeping-keping. Segel yang harusnya sama sekali tidak bisa hancur itu kini remuk. Membuat aliran sungai kemerahan terus keluar dari sana.
Dan sekali lagi. Yifan ingin mati.
"A-aku... hhh... be-benar-benar b-b-baik... b-b-baik saja... Jongin hhh... j-juga... P-Papah... j-jangan khawatir... Xi-Xing-Xing hhh b-b-baik hhhhh... b-b-baik saja... hhh... d-darah i-ini hhhh... n-n-nanti... ak-akaaa-an... hhh –"
Kalimat Yixing terhenti ketika Papanya mengggelengkan kepalanya. Tanda bahwa sudah cukup, Papanya sudah mengerti semuanya.
Tapi, Yixing merasakan bahwa Papanya hanya tidak ingin ia menghabiskan nafasnya.
Dengan perlahan, Yifan mendekatkan kepalanya dengan kepala Yixing. Dengan begitu hati-hati, ia menempelkan keningnya yang hangat ke kening Yixing yang begitu dingin.
"Sudah cukup, Xingxing-er... sudah cukup, my son. Sudah cukup."
Yixing benci hari ini. Sangat amat benci.
Untuk pertama kalinya ia mendengar Mamanya yang tangguh dan tegar, yang selalu perkasa dan menganggap semuanya dengan positif, menangis, menjerit penuh ketakutan dan kekecewaan.
Juga untuk yang pertama kalinya, ia juga melihat Papanya, sang Head Alpha yang selalu datar tanpa emosi dan perasaan, menangis dalam diam.
Yixing benci hari ini. Sangat amat benci.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yosh haloo semuanyaaaaaaaaaaaaaa!
Bang Rey di sini. Heheheh #pasang wajah watados.
Udah berapa bulan yak gue kagak publish. Hmmm... #gampared
Maap, maap. Gue lagi sibuk persiapan kuliah gue musim semi nanti. Banyak banget yang musti gue lakuin sebelum kuliah. Buanyaaaaaaaaaaa#insert 1K 'a' disini#k banget. Jadinya nih fic kagak terlintas sama sekali di pikiran gue.
Untungnya, berkat Hana #pake nada ala-ala iklan# gue akhirnya inget kalo nih fic belom di lanjutin. Hehehehe... maap ya #pasang wajah watados lagi.
Gimana chapter ini? Gaje? Sedih? Agak aneh? Atau biasa-biasa aja? Menurut gue sih nih chapter rada gaje en roler coaster banget moodnya. Terus kagak nyambung banget ama judulnya. Tapi, ya udah lah. Gue demennya begini #pasang wajah watados# diamuk masa.
Oke, bales riview dulu ah...
Novisaputri09
Makasih udah baca
Syook? Fic terpanjang? Beneran? Wah nak, sepertinya anda harus mencoba baca salah satu fic kesukaan saya #yang sialannya gue lupa namanya#gampar# yang hampir 20k. #becanda
Kagak, kagak discontinue, cuma bakal lembet aja publishnya. Saya lagi sibuk banget. Maret udah mulai kuliah lagi. Jadinya yah... begitulah #sou desu!#kagak ngarti gue maskudnya.
Nikahnya masih tahun depan #et dah# kagak becanda. Nikahnya nanti abis chap entah keberapa #watados# gampared. Maap lama, stay tune aja kakak!
Laxyovrds
Makasih udah baca
Makasih udah bilang fic agak aneh ini keren. Belum muncul momentnya? Kalo yang ini udah muncul belom? Kalo belom maap #gali lubang terus ngumpet di sana.
Ren Choi
Makasih udah baca
Makasih atas pujiannya terhadap fic agak aLay ini. Chap depan selesai kok. Tunggu saat mereka mandi bersama saja, dan semua high ritual itu selesai O_O
Aku juga kangen... ah.. LayKai. Di mana engkau #buka t*blr tapi gak ada updetan# nangis#
Kai imut? Masa? Wow #kopral joget gangnam style#
Wah kalo soal 'lama-lama' saya gak jamin. Saya kan siput, meow (?)
Makasih udah baca
Iya, akhirnya update juga. Huaaaa... senangnya dirikuh #dibakar. Makasih udah muji fic ini, jadi malu ah #ditendang.
Jongin manis and lucu? Itu wow bro! Emang sih umur kagak bisa boong #mandang gue terus hana#nangis di pojokan# Jongin emang masih bocah. Tapi, kagak polos sama sekali #digampar Jongin.
Adek sehun... hmmm #kepikiran fic#digampar#selesein ini dulu kaleeee#iya iya#
Xing mae 30
Makasih udah baca
Huaaa... akhirnya update. Seperti yang saya bilang tadi. Saya adalah siput, jadi saya tidak bisa menjamin tidak akan 'lama-lama' meow (?)
choHunHan
Makasih udah baca
Kenapa engkau harus menangis karena fic ini bagus? Di pelukkan Kris lagi. Ugh... ntu emak-emak dua anak lagi pasang amunisi tuh #ngelirik Tao yang udah berkoar-koar.
Masa sih? Makasih ya. Emang. Biasanya 'kan yang sering diem dan kelewatan ceria itu rahasianya banyak. #pengalaman
Genieaaa
Makasih udah baca
Gak papa baru riview, kaga riview aja saya gak apa-apa #pundung dipojokan#
Hm.. jangan dipikirkan bagaimana saya membuatnya. Anda akan pusing kalau tau bagaimana saya menulis dan menganggap saya ini orang gila karena bicara sendiri #pundung lagi.
M Aldianor Alvon Kpopers II238
Makasih udah baca
Udah lanjuuuuuuuuuuuut!
Guest
Makasih udah baca
Makasih udah suka! Emang, segelnya banyak banget. Gue punya satu buku notes kecil yang hampir setengah bagiannya udah penuh ama ritual and segel-segel. Tau tuh, mungkin gegara kebanyakan baca harry potter dkk.
Oasana
Makasih udah baca
Saya akan semangat buat chap selanjutnya. Makasih udah penasaran! #muka berbinar#dibakar
Jongkwang
Makasih udah baca
Udah lanjut! Hehehe... makasih udah nunggu!
Sukmawindia anyeong
Makasih udah baca
Hai! Salam kenal juga! Makasih banyak atas pujiannya, jadi terharu.
Yosh udah lanjut!
Joy Wu.94
Makasih udah baca
Amazing? Itu berlebihan sobat! Fic ini kagak ada amazing amazingnya #pundung.
Makasih semangatnya. Huaaa... tao and kai aegyo #direkam terus dijual ke Kris and Lay# kkkkkk# dihajar duo item #dibakar Exo-L.
Kimbabyeoja
Makasih udah baca
Ya, itu memang seharusnya di TBC. Ntar kagak seru and menambah penasaran kalo kagak di TBC di sana. #wajah evil#digampar berjamaah.
Uwa O_O... reaksi anda terlalu berlebihan terhadap fic ini. Saya rasa fic ini tidak sebagus itu dah. Jangan baca malem-malem, ntar kebawa mimpi.
Hehehe... maap ya kalo keputer-puter, gue emang suka muter-muterin detail. Kagak tau kenapa. Mood and cara penulisan gue emang udah kayak gitu #terus nular ke adek gue and Hana. Makasih pujiannya
Hm... kagak ah... jangan di panjangin lagi. Di tambah ama footage entar jadi 10k sendiri #siapa suruh footage lo kebanyakan?# soal selesai menyelesaiakan, perlu adanya rapat anggota dewan selama 3 hari dua malam untuk memutuskan apakah fic ini sanggup di buat one shoot apa kagak. #dibakar#
Oke, saya akan coba update cepet supaya anda tidak lumutan. Tapi, seperti yang sudah saya bilang, saya ini siput meow (?)
Xiao yueliang
Makasih udah baca
Hai taotaoie! Wah ganti nama. Mari syukuran #gampar#
Saya sendiri kagak tau kenapa saya bisa kayak gitu. Saya cuma ngebiarin imajinasi melayang aja terus sambil ngetik dan tau-tau udah jadi nih fic. Kalo soal di catet, saya catet. Masalahnya takut lupa #biasa otak siput# oh itu makanan gue, baca buku-buku fiksi. Kalo Hana kayaknya juga #Cuma lebih tebel and lebih ribet kayaknya#
Kalo saya nggak mungkin publish, meskipun fic ini saya yang bikin, tema ide dsb punya Hana. Dan saya sendiri emang kagak bisa melangkah masuk ke dunia penulis secara real #kagak tahan liat bapak and bukan bidang gue sama sekali# bidang gue arsitektur bangunan# Hm... mungkin bakal dipertimbangkan sama Hana. Soalnya dia udah siap kirim satu novel tapi kagak tau jadinya bakal gimana.
Makasih. Emang sebenarnya Hana eneg sama hubungan Manusia x makhluk non human. Terlalu mainstream. Jadinya yah... jadilah fic ini. Clan terbesar di Korea emang cuma ada 5 (dari paling atas, Choi, Bang, Kim, Jung and Do) kalo di China cuma ada 3 (dari paling atas, Wu, Xi, Huang)
Silahkan aja PM. Hana pasti seneng banget dapet PM. Dia suka ngobrol apalagi soal tulis menulis. Kalau mau, bisa minta Line atau whatsup #PM dulu ya# pasti di kasih ama Hana #anak itu terlalu baik#geleng-geleng.
Noalin
Makasih udah baca
Penasaran? Bagus!
Emang sih, kagak banyak soalnya kalah sama the ultimate Kaisoo and duo angle SuLay #kesel guaaaa!# yah... kagak apa-apa sih #meskipun gua kesel!
Semoga aja lah. Seperti yang udah saya bilang, saya ini adalah sipu meow (?)
Oke, akhirnya selesai. Sampai nanti sobat #mungkin bulan depan#gampared#
Oh ya, satu lagi. Bagi siapa yang tau maksud 'meow'-nya gue, Gue bakal bikinin satu fic one shoot buat mereka. 5 tercepat ya. NC boleh, PG boleh, comedi boleh –tapi gak tanggung kagak lucunya-. Apa aja, tapi jangan fluff and Gore. Gue kagak bisa bikin fluff and gore. Kagak tahan bro.
Satu lagi, tema dari kalian. Oke? Deal ya!
Ok. C u next taim!
reYHan
