THE LEGEND OF KORRA
VLAKER
Chapter 3 "Search"
Angin dingin musim gugur menerbangkan helaian daun kering dari beberapa pohon Maple yang berjejer rapi di tepian jalan. Di bawah pohon yang tak lagi berdaun terdapat sebuah kursi taman tua dengan cat yang sudah terkelupas.
Seorang anak perempuan tengah duduk termenung di kursi itu dan mengayunkan kedua kakinya yang tak sampai ke tanah. Ia masih mengenakan seragam sekolah dengan ransel biru muda di sampingnya. Rambut berwarna saddle brown panjang dengan poni tirai yang hampir menutupi alisnya melambai indah tertiup angin, saat poninya tersingkap nampak luka merah melintang di kening gadis kecil itu. Si gadis kecil meringis pelan ketika tangan kirinya menyentuh luka lain di pipinya, ia ingin menangis tapi tak ada sebulir air matapun yang jatuh dari matanya. Mata dengan manik lime green indah yang kehilangan sinarnya beberapa tahun belakangan hanya memandang sendu dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan.
_oOo_
Zura sedang duduk di sebuah kursi taman memutar-mutar bola api kecil di jemarinya sambil bersenandung pelan sementara Grace di sampingnya duduk tenang dengan mata yang tertuju pada tulisan-tulisan dalam sebuah buku sejarah tentang sang Avatar dan hubungannya dengan Vlaker.
Ketukan langkahdari arah depan membuat Zura buru-buru manarik bola api dari jemarinya dan mematikannya seketika-ia harus menyembunyikan identitas sebelum semua Vlaker ditemukan. Kenapa begitu ceroboh? Seharusnya dari tadi Zura menyadari untuk tidak bermain dengan fire bending-nya di tempat umum. Saat nada terkejut ia rasakan dari orang yang mendekatinya, ia mengutuk dirinya habis-habisan. Tapi, setelah tahu siapa orang-orang itu, ia malah menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seringaian.
"Apa itu tadi?" Brittany memekik dari tempatnya berdiri-tak jauh dari Zura dan Grace. "Max, kau lihatkan?! Dia.."
"Fire bender." Max memotong perkataan Brittany dengan tak kalah terkejutnya.
"Apa?" Brittany menutup mulutnya dengan jemari lentik bertahtakan cat kuku berwarna magenta mengilap.
"Huh.. Sebenarnya aku mau mengatakannya sendiri, tapi ternyata kalian sudah melihatnya…" Zura berdiri dari bangku taman lantas berjalan pelan ke hadapan Brittany membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Sementara Grace hanya mengawasi tanpa mengubah sedikitpun posisinya kecuali buku sejarah yang tak lagi ia baca.
"Max Banevolt dan Brittany Clarkson kalian mau tak mau harus menerima takdir kalian."
"Takdir? Takdir apa maksudmu? Jika hanya permainan anak-anak nerd tak penting yang ingin kau bicarakan, sebaiknya kau tahu diri karena menyuruhku dan Max datang ke sini." Brittany berusaha mempertahankan image-nya meskipun bibirnya bergetar kala mengucapkan kalimat barusan. Oh ayolah, fire bender berdiri di hadapanmu sekarang. Bisa sajakan jika salah bicara, kulitmu akan gosong.
"Owh tunggu dulu nona muda, aku bahkan belum bercerita secuilpun dan kau telah mengambil kesimpulan. Oh lucu sekali." Grace tertawa bergemerincing bak lonceng-mencoba mengintimidasi gadis sombong di hadapannya. Kapan lagi membuat si tukang bully merasa ketakutan seperti itu. Gracepun ikut tersenyum di ujung sana.
Max mendorong pelan Brittany, menggantikan posisinya berhadapan dengan Zura. "Berhenti bermain-main. Jelaskan pada kami Zura." Seperti biasa ketenangan mengalir di setiap kata yang diucapkan Max membuat seorang gadis yang masih duduk di bangku taman itu mengulum senyum dengan hati berdesir. Satu-satunya cowok yang dapat setiap saat membuat si pemilik manik mata hitam ini hanya menatap ke arahnya.
Rentetan cerita mengalir tanpa melewatkan sedikitpun bagian-bagian terkecil darinya. Semua Zura paparkan dengan jelas kepada sepasang remaja yang tengah mendengarkan dengan seksama-membuat mereka mengerti akan jalan cerita yang bukan hanya sekedar dongeng pengantar tidur atau sejarah yang membosankan. Tentang dirinya, Kota Republik, Sang Avatar Korra, dan Vlaker ia rampung sedemikian rupa tanpa ada pengurangan atau penambahan yang menarik perhatian bagai iklan produk. Mungkin tak terlalu spesifik karena mereka juga mempelajarinya sebagai pelajaran wajib di sekolah.
Hingga akhirnya Zura mengatakan kenyataan pahit bahwa takdir mereka untuk menjadi Vlaker membuat mereka harus kehilangan orang tua yang mewariskan darah pengendalian pikiran kepada mereka. Begitupun masa depan yang juga tak kalah menyedihkan, takkan sempat melihat wajah putra atau putri mereka, takkan sempat berkata "Ibu menyayangi mu, nak" atau "Ayah bangga akan kehadiranmu, jagoan" secara langsung, apalagi merawat dan membesarkan mereka. Intinya tidak ada masa depan dengan keluarga yang lengkap. Ya, kecuali dengan kemungkinan lain, adopsi misalnya.
Brittany yang semula tenang di samping Max alih-alih meraih telapak tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat, membuat si pemilik menoleh ke arah gadis bermata biru itu-ya, mereka sudah berpacaran. Max membalas genggaman Brittany dengan hangat mencoba mengalirkan ketenangan yang ia miliki.
Aliran listrik yang menggelikan berubah menjadi ganas seakan menyambar dan membakar hati Grace kala melihat adegan itu, tak perlu pikir panjang untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau jangan mengarang cerita Zura, ayahku meninggal karena kecelakaan di tempatnya bekerja, bukan karena hal mustahil yang kau dongengkan.." Brittany menarik napas lantas membuangnya pelan, kemudian melanjutkan. "Oke, Vlaker memang sangat agung dan begitu dihormati karena jasa mereka, tapi ayahku bukan salah satu dari mereka, ia hanya pria biasa yang tidak berumur panjang dan tidak diberi kesempatan untuk bertemu putrinya, bukan karena hal magis seperti yang kau bilang.." Brittany mulai melankolis.
"Ini memang sulit untuk kau dan Max mengerti, Britt. Tapi, tolong kau pikirkan lagi. Bukan hanya kau yang mengalami hal ini, Grace juga kehilangan ibunya karena takdir memilihnya menjadi Vlaker dan begitupun dengan banyak calon pengendali pikiran yang lain." Zura sedikit merendahkan nada bicaranya, berharap Brittany berubah pikiran atau setidaknya memberikan sedikit kepercayaan pada apa yang ia katakan. Tapi, sepertinya harapan itu sia-sia, karena Brittany mulai beranjak dari tempatnya, melepaskan genggaman Max dan menatap Zura dingin "Aku tidak percaya dan takkan pernah percaya.." Langkahnyapun menjauh.
"Britt.." Bahkan panggilan sang pujaanpun ia abaikan.
Max ingin mengejar dan mencoba menjangkau gadisnya. Tapi terhenti, saat Grace beranjak dari kursi taman itu dan dengan cepat menangkap pergelangan tangannya, Max menoleh dan mata mereka bertemu. Manik hitam Grace bagai black hole di luar angkasa yang dapat menarik apa saja tenggelam kepusarannya, membawa ke tanah antah berantah, begitu dalam, begitu kelam layaknya malam tanpa gemerlap lampu dan bintang, benar-benar menghanyutkan. "Kumohon percayalah.." Dua kata yang memasuki kepalanya seakan terukir dari sepasang manik hitam itu.
Grace tersadar, dengan cepat ia menundukkan pandangannya dan dengan perlahan melepaskan pergelangan tangan Max lalu mundur beberapa langkah. Gesture kaku kembali ia tunjukkan. Sedang Max, di tengah keterkejutan dari apa yang baru ia rasakan, ia menoleh ke arah perginya sang kekasih. Tak langsung berlari ke arah itu, tetapi beralih memandang Grace dan Zura bergantian.
"Aku percaya, aku sudah tahu sejak lama. Aku yakin ibuku akan bangga.." Max tersenyum setelah perkataan singkatnya berakhir lantas dengan cepat berlalu dari hadapan dua gadis yang saling bertukar pandang.
_oOo_
"Hey, aku yang pertama kali melihatnya. Jadi, sebaiknya kau sadar diri dan menyerahlah sebelum kau kalah!" suara berat-yang baru saja berubah di usia enam belas tahunnya-terdengar saat cowok manis ini menatap lawan bicaranya dengan bumbu intimidasi. Sedang si lawan bicara hanya melirik tak peduli lantas mengukir seringaian lebih kepada senyum mengejek. Ia memperkecil jarak antara mereka lalu kembali tersenyum tapi kali ini senyum yang sulit diartikan.
Mereka berhadapan, seperti saling bercermin. Tinggi yang sama, kulit yang sedikit kecokelatan, wajah mirip identik, rambut hitam pendek khas cowok-cowok cool, mata sipit dengan iris emeraldyang tidak ada bedanya, hidung kecil nan mancung, dan sepasang bibir yang agak tebal namun sensual. Tapi, keduanya memiliki ekspresi berbeda.
"Sebaiknya kau mengatakan itu pada dirimu sendiri, nyatanya aku yang pertama kali mengenalnya, dan kau tahu? Dia yang mengajukan dirinya saat akan berkenalan denganku.." Ucapnya tenang.
"Itu karena ia mengira kau adalah aku.." Nada suara cowok pertama mulai meninggi. Sedang cowok lain dihadapannya hanya mengedikkan bahu.
"Ren? Rick? Apa lagi yang kalian ributkan? Motor? Pelajaran? Atau.. cewek?" Seseorang muncul dari balik pintu di sisi kiri ruangan, wanita usia sekitar lima puluhan memisahkan jarak sepasang putra kembarnya dan berdiri di antara keduanya lantas menatap mereka bergantian. Cowok yang lebih bisa mengekspresikan dirinya, Ren. Ia tersenyum-senyum tak jelas, terlihat sekali ingin menutupi sesuatu. Sang ibu menatapnya curiga.
"Ah tidak apa-apa, mom. Ini hanya masalah anak-anak cowok. Biasalah.." Rick mengalihkan perhatian ibu mereka. Ren hanya mengangguk setuju tanpa tahu harus berkata apa.
_oOo_
Wuihh selesai juga.. lama updet karena sibuk kuliah.. dan akhirnya bisa terlaksana sekarang. Gimana? terlalu nanggung tbc nya? aku udah bingung. Semoga tidak bosan ya…
Di sini alurnya agak lambat.. sengaja biar vlakernya muncul pelan-pelan.. semoga next chap bisa munculin Korra dkk..
Fighting ^^
