An Evangelion Fanfiction
"KiSEKi"
Pair: Kaworu x Shinji
Genre: Romance, angst, hurt/comfort
a/n: Dapet dorongan buat ngetik penpik ini! Thanks God, karena ada cuti bersama nasional! *lagi*
*padahal udah mau UKK*
XD
Ucapan terimakasih saya haturkan kembali kepada orang dan benda yang sama, dan juga dukungan kawan-kawan yang sangat menantikan fict ini *plak*
Juga buat abang-abangan saya, cepat sembuh dari maag-nya! :')
Juga buat seniorku tersayang, D'aKo~cHaN 2 atas pinjaman laptop-nya, juga minumannya, juga semuanyaa… Semoga kita bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagii :') *kangen SMP*
Dan semua pihak yang terlibat dalam penpik ini, saya kembali menghaturkan terimakasih! Semoga fanfic ini bisa berlanjut hingga akhir tanpa gantung! Amiiiin! :P
Akhir kata dari author, selamat membaca, baca do'a dulu jangan lupa, dan yang paling penting, saya menanti review dari rekan sesama author! (
DISCLAIMER: Anime ini siapa yang punya…?
Anime ini siapa yang punya…?
Anime ini siapa yang punya…?
Yang punya… Bukan saya~ XD
Anime dan manga hanyalah milik GAINAX dan ormas-ormasnya…
Summary: Sebuah kalimat yang terdengar kurang penting sekalipun dapat membuka hati dan pikiran seseorang…
Day 3: Simple Decision
"Jadi… Bagaimana tidurmu semalam, Shinji-kun…?" Tanya Kaworu.
"Umm… Cukup nyenyak, kok…"jawab Shinji.
"Benarkah?", Kaworu memasang wajah takjub, "Kukira kau tidak bisa tidur karena kamarku yang kecil, Shinji-kun."
"Ah, ngomong-ngomong terimakasih banyak untuk makan malamnya. Juga masalah menginap semalam… Maaf aku jadi merepotkanmu, juga Fumiko-senpai…"
"Lho? Tak perlu meminta maaf! Lagipula semuanya itu aku yang mau, kan?" tukas Kaworu.
"Yaa… Setidaknya…"
"Nggak usah minta maaf, ya?" kali ini Kaworu memohon pada Shinji.
"Umm… I-iya…", balas Shinji, "Tapi kalau ungkapan terimakasih boleh, kan?"
"Hmm… Bagaimana, yaa…?"
"Ja-jangan bilang begitu, dong…"
"Iya… Sama-sama, Shinji-kun…"
Perlahan tapi pasti wajah Shinji memerah lagi seperti biasanya. Kali ini sebersit niat muncul terlintas di pikiran Shinji. Akhirnya, dengan segala daya upaya Shinji mengungkapkan apa yang ada dalam 'awang-awang'nya itu pada cowok berambut keperakan yang sedang berjalan beriringan dengannya.
"Ano... Kaworu-kun..."
"Hai?"
"Ba-bagaimana kalau..."
Sebelum Shinji menyelesaikan ajakannya, tiba-tiba terdengarlah suara orang lain yang menggema jauh di belakang mereka –yang mana orang itu juga memanggil nama mereka berdua. Baik Kaworu maupun Shinji akhirnya menoleh ke belakang, dan mendapati sosok sang ketua kelas yang sedang berlari ke arah mereka berdua.
"Nagisa-kun! Ikari-kun!"
"Aah… Itu Ketua Kelas, kan?" tanya Kaworu, sekedar memastikan.
"Tumben sekali ia berangkat lebih awal..."
"Rupanya kalian berdua cepat akrab, ya? Nagisa-kun?", sang Ketua Kelas menarik nafas untuk mengisi oksigen yang habis ia gunakan untuk lari-larian tadi, "Rasanya baru kemarin kalian berkenalan, bukan begitu?"
"Ehehehe… Begitulah…" Tutur Kaworu sambil tertawa kecil.
"Umm… Kemarin kau tidak ke asrama, Ikari-kun?"
"Eeh… Itu…"
"Berhubung aku baru masuk dua hari yang lalu, aku meminta Shinji-kun untuk mengajariku beberapa materi yang tertinggal.", ujar Kaworu, bohong setelah memotong kata-kata Shinji, "Iya 'kan, Shinji-kun…?"
Hikari membuka matanya lebar-lebar karena takjub, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Shinji yang nampak gelisah.
"Waah…", wajah sang ketua kelas terlihat bangga mendengar kebohongan Kaworu tadi, "Benar begitu, Ikari-kun?"
"Uhm… Yaa… Begitulah…" Shinji terpaksa membenarkan kebohongan itu.
"Ikari-kun benar-benar baik, deh!", puji sang ketua kelas, "Gak salah Ikari-kun masuk di kelas VIII.2 yang isinya orang brutal semua! Beruntung kelas yang kupegang masih punya nilai kebaikan, meskipun cuma selebar daun kecil."
"Aku setuju dengan pendapatmu Horaki-chan." tambah Kaworu.
"Aah… Kalian terlalu berlebihan…" ujar Shinji sambil tertunduk.
"Hei, hei… Aku gak bohong, lho! Bahkan Nagisa juga setuju sama pendapatku, kan?" bantah Hikari.
"Kalian salah menduga…" balas Shinji lagi.
"Kenapa harus bersedih, toh? Itu kelebihan yang Tuhan berikan padamu!"
"Kalian nggak tahu apa yang sebenarnya..." ujar Shinji dengan nada lirih.
Melihat Shinji yang memasang ekspresi seperti itu, tergerak pula hati Kaworu untuk menghibur anak yang baru ia kenal tersebut. Ia menghela nafas panjang, dan dengan senyuman yang masih terukir di wajah pucatnya, Kaworu merangkul Shinji yang -mungkin sedang galau itu.
"Ka-kaworu-kun!" Shinji spontan terlonjak kaget, tapi Hikari malah menanggapinya dengan ekspresi datar.
"Kau meragukan potensi yang ada dalam dirimu sendiri, Shinji-kun?"
"Ma-maksudku bu-bukan begitu!", wajah Shinji mulai memerah, "A-aku..."
"Umm... Nagisa-kun... Sepertinya Ikari-kun mulai sesak nafas..."
"Ah, gomenasai... Aku tadi sama sekali nggak bermaksud..." ujar Kaworu, menyesali apa yang ia lakukan pada Shinji.
"Daijoubu...", balas Shinji sambil tersenyum simpul, "Aah... Ngomong-ngomong, tumben hari ini kau berangkat pagi, Horaki-chan?"
"Hari ini aku dipaksa Ibu untuk berangkat bareng... Lalu, dijalan aku melihat kalian berdua... Aku meminta diturunkan di sini akhirnya..." balas Hikari dengan wajah riang.
"Ooh..." Kaworu dan Shinji cuma bisa melongo.
"Eeh... Kayaknya kita baru jalan bareng-bareng, deh..."
"Ada apa, Horaki-chan?"
"Kita sudah sampai sekolah..." ujar Hikari sambil menunjuk sebuah bangunan megah yang berjarak sekitar 20 meter dari posisi mereka.
"Benar juga, ya..." ujar Shinji, tak berkedip.
"Kira-kira petugas Tata Usaha sudah stand by belum, ya? Aku harus segera melunasi SPP bulan ini..." tanya Hikari panik.
"Sepertinya sudah..." gumam Shinji.
"Kalimat yang benar itu seharusnya, bukan sepertinya..." Kaworu meralat apa yang diucapkan Shinji.
"Eeh...?"
"Aah.. Ikari-kun, Nagisa-kun, sepertinya aku harus buru-buru ke Tata Usaha sekarang! Aku duluan, ya!" ujar Hikari sambil mengambil ancang-ancang berlari.
Tubuh sang Ketua Kelas perlahan menghilang, seperti apa yang dicetuskan oleh seorang ilmuwan dari zaman dahulu. Kaworu dan Shinji masih berjalan santai, sebelum akhirnya Shinji memasang panik lagi setelah melihat ke arah jam yang tertempel di dinding sekolah mereka.
"Umm… Sepertinya kita harus segera bergegas, Shinji-kun…" ujar Kaworu setengah berbisik.
"Ah, iya.", Shinji tersentak kaget, "Lewat sini, Kaworu-kun…"
Mereka berbelok ke arah yang berlawanan dengan si ketua kelas. Tepat di depan mereka terlihat sebuah lorong dengan pembatas berupa pintu besi. Shinji menerobos pembatas itu disusul Kaworu di belakangnya. Dan tepat di dalam pembatas itu, terbentang sebuah gedung panjang berlantai tiga. Ya, itulah asrama sekolah. Yang konon katanya menyimpan sejuta cerita misteri penuh kengerian, tapi Shinji sama sekali tidak mempedulikannya.
"Inikah gedung asramanya?" Tanya Kaworu.
"Yep. Kamarku ada di lantai dua." Jawab Shinji.
"Hmm… Kau tinggal sendiri?"
Shinji menoleh ke arah Kaworu, kemudian membuang pandangannya jauh-jauh ke langit.
"Mungkin bisa dibilang begitu…"
"Ano, Shinji-kun…"
"?", Shinji kembali menoleh ke arah Kaworu, "Doushite?"
"Rasanya aku jadi ingin tinggal di asrama juga, deh!"
"Lho? Nanti kakakmu bagaimana, Kaworu-kun?"
"Biasanya rumahku menjadi basecamp. Aku gak perlu khawatir nee-san kenapa-kenapa."
Shinji menapakkan kakinya pada anak tangga pertama menuju kamarnya. Untuk mencapai lokasi yang diinginkan, mereka harus melewati serangkaian anak tangga, dan bersyukur jika mereka tidak bertemu dengan senior yang 'kejam'. Jika iya, maka salah satu dari mereka pasti akan mendapatkan sanksi yang lumayan menguras batin dan fisik dari si senior itu.
"Dari sini masih jauh, ya?" Tanya Kaworu lagi.
"Nggak, kok.", Shinji menjawab pertanyaan itu dengan nada riang, "Nah, di sini…"
Shinji merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci yang kemudian ia masukkan ke dalam lubang kunci kamarnya. Pintu itu akhirnya terbuka dan mengekspos kamar Shinji –yang luar biasa tertata rapih untuk ukuran kamar anak laki-laki. Shinji kemudian mempersilahkan Kaworu untuk masuk ke dalamnya.
"Maaf, kamarku agak kecil." Ujar Shinji.
"Iya, gak pa-pa kok." Balas Kaworu sambil memandang sekitar kamar Shinji.
"Ano, silahkan duduk! Karena di sini perabotnya terbatas, kau boleh duduk di ranjangku."
"Hai. Arigatou, Shinji-kun…"
Shinji langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang lagi-lagi muncul di pipinya. Diletakkannya tas yang masih berisi buku pelajaran kemarin di atas meja belajar, lalu ia keluarkan satu per satu. Dibukanya laci tempat ia menyimpan buku pelajarannya, kemudian mengeluarkan buku yang seharusnya ia bawa hari ini dengan cepat agar Kaworu tidak menunggu terlalu lama. Setelah beberapa menit penuh kesunyian, gema suara Kaworu membuat suasana kembali 'aktif'.
"Kau suka melukis, Shinji-kun?"
"Aah!", Shinji refleks menoleh ke arah sumber suara, "Ka-kaworu-kun melihatnya?"
"Menurutku lukisan ini sangat indah. Sederhana, tapi kaya akan makna.", Puji Kaworu sambil menatap ke dinding tempat lukisan itu tersanggah, "Siapa orang yang kau lukis itu, Shinji-kun?"
"Umm…", raut wajah Shinji perlahan berubah, "Itu ibuku…"
Kaworu sangat memahami raut wajah Shinji untuk saat ini. Ia segera menghampiri Shinji yang kini terduduk di atas ranjangnya sendiri.
"Hontou ni gomenasai, Shinji-kun… Aku…"
"Gak pa-pa, kok. Kalau melihat lukisan ibu rasanya sedih sekali.", keluh Shinji, "Aku sangat merindukannya…"
"Ibumu tidak pernah menengokmu?"
"Dia… Sudah meninggal… Waktu aku masih kecil… Begitu kata ayah…"
"Aku benar-benar prihatin mendengarnya…", Kaworu melandaikan tangannya di atas bahu Shinji, "Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, ya?"
"Iya…" balas Shinji dengan wajah yang memerah.
"Lalu… Kau tinggal sendirian di kamar ini? Tiap kamar memiliki dua ranjang bukan?"
"Seperti yang kau lihat. Nggak ada yang tinggal sekamar denganku." Jawab Shinji, lagi-lagi dengan wajah murung.
"Nggak sepi?"
"Sebenarnya sih begitu… Tapi karena terbiasa, aku nggak ngerasain apapun…"
"Itu bukan karena kamu terbiasa."
Shinji menoleh kebingungan ke arah Kaworu.
"Maksudmu?"
"Kadang-kadang orang menimbun kebohongan atas dirinya sendiri. Mereka beranggapan kalau mereka terbiasa, mereka pasti bisa. Tapi bagiku, untuk kasusmu itu adalah keterpaksaan. Benar begitu, Shinji-kun?"
Shinji terdiam sebentar. Batinnya sedang mengolah rangkaian kata yang rumit tadi, dengan bantuan akal sehatnya.
"Benarkah begitu, Kaworu-kun?"
Kaworu mendekatkan dirinya pada sesosok anak laki-laki yang sedang 'galau' di sampingnya itu, kemudian memandanginya dengan tatapan serius –sekaligus 'menyamankan'.
"Nggak ada orang yang terbiasa dengan sesuatu yang buruk. Mereka hanya terpaksa. Sama halnya dengan dirimu…"
Shinji hanya tertunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sekarang kutanya sekali lagi.", Kaworu menghela nafas panjang, "Apa kau nggak mau punya teman?"
"Tentu saja aku mau…" jawab Shinji dengan suara tertahan.
"Kalau kau mau punya teman, berarti apa yang kukatakan semuanya benar, Shinji-kun. Kau cuma terpaksa…"
Shinji mengernyitkan dahinya, berbarengan dengan tangan Kaworu yang meremas bahunya pelan. Ia perlahan menoleh ke arah orang yang ada di sebelahnya.
"Kau hanya berpura-pura bisa. Padahal sebenarnya kau sendiri tersiksa bukan?", desak Kaworu, "Pasti pernah terlintas di pikiranmu 'kalau saja begini, tapi karena keadaannya begini mau diapakan lagi?'. Itulah yang membuatmu semakin betah dengan kesepian."
"Tapi… Apakah dengan keinginanku untuk memiliki teman, berarti aku ingin lepas dari kesepian?"
"Kau sendiri pasti bisa menjawabnya, Shinji-kun…"
"Eeh?"
"Makanya… Supaya kau nggak kesepian, ajaklah aku untuk tinggal di sini bersamamu…" goda Kaworu.
Wajah Shinji spontan berubah jadi merah, semerah benda apapun yang ada di dunia. Sementara Kaworu hanya tertawa kecil di sampingnya.
"Jangan diambil serius…Kau ini mudah terbawa suasana. Kalau tegang terus-terusan nggak enak, kan?"
"I-iya…"
"Ah, ya. Tapi… Pikirkan juga baik-baik kata-kataku yang tadi, ya…" pinta Kaworu pada Shinji.
"Haruskah…?"
"Yaa, tapi kalau kau tidak mau juga nggak pa-pa, sih… Aku cuma nggak mau lihat sahabatku kenapa-kenapa ke depannya…"
"Sahabat…? Kau menganggapku… Sahabat?" Tanya Shinji ragu.
"Ya, sahabat. Nggak boleh, ya?"
"Bu-bukan begitu… Aku hanya ragu… Aku takut nanti aku malah berbalik menjauhimu, demi kepentinganku sendiri…"
Kaworu tersenyum simpul.
"Satu lagi jawaban yang kudengar dari dirimu, Shinji-kun."
"Apa?"
"Kau terlalu berpikir dirimu egois… Kau selalu menyalahkan dirimu sendiri…"
Shinji terdiam.
"Kau bilang mau punya teman, kan?"
"Iya, tapi hanya teman…"
"Kau tahu bagaimana posisi sahabat, Shinji-kun?"
Shinji menggeleng pelan.
"Aku nggak tahu pastinya…"
"Aku ingin menjadi sahabatmu karena aku ingin mengenalmu lebih jauh. Itu saja…"
"Tapi kenapa…?"
"Karena kau membutuhkannya…"
Pupil Shinji melebar dari ukurannya semula. Ia merasakan sesuatu yang baru meluap dari dalam hatinya. Dari dalam tubuhnya, yang mungkin adalah aura yang selama ini terpendam dalam. Ia merasa lebih hidup, lebih nyata. Seperti ia benar-benar eksis di dunia ini, bukan di dunia mimpi.
"Nah, mulai sekarang kita sahabatan, ya?" ujar Kaworu seraya menawarkan jari kelingkingnya.
"I-iya…", balas Shinji senang, "Terimakasih sudah mau menjadi sahabatku. Kau adalah sahabatku yang pertama."
"Ehehehee… Kalau ada apa-apa yang mengganjal, cerita saja, ya?"
"Iya… Sekali lagi terimakasih banyak…"
"Nggak usah berterimakasih… Harusnya aku yang berterimakasih, Shinji-kun."
"Ta-tapi…"
"Nggak usah dipikirkan… Sekarang kita harus segera ke kelas, kalau tidak nanti kita bakal disangka telat, lho."
"Astaga… Aku lupa…", Shinji spontan bangkit dari duduknya, "Tunggu beberapa menit lagi ya, Kaworu-kun!"
Kaworu lagi-lagi hanya tertawa kecil. Ya, tapi meskipun kecil, hal ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi Shinji. Dalam hatinya, Kaworu mengucapkan rangkaian-rangkaian kalimat yang cocok untuk situasi saat itu. Harusnya kau tahu Shinji-kun... Kalau rasa kesepian berasal dari keinginanmu untuk memisahkan diri dengan orang lain. Semua orang sayang padamu, tapi kau tak pernah peduli karena ketakutanmu sendiri. Ketakutanmu untuk mencampakkan satu persatu dari mereka. Tapi, yang lebih penting lagi, rasa takut memiliki energi yang lebih kuat untuk diwujudkan. Jadi, bukan tidak mungkin apa yang kau takutkan itu akan terjadi. Aku berbuat begitu karena...
~chapter 3 FiN~
BGM yang didengar berulang-ulang selama penulisan fict ini:
1. 2ne1 - I am the best
2. Yui - TOKYO
3. Teresa Teng - Yue Liang Dai Biao Wo De Xin (The Moon Represents My Heart)
4. Teresa Teng - Watashini wa Dekinai
a/n Ditambah dengan kegalauan author atas first love-nya, menjadi penyebab lemotnya peng-apdetan fict ini di samping larut demo ekskul dan jualan pulsa -"
segala kesalahan ketik di sini, sekali lagi author mohooooon maaaaaf... ,
