Still Love Me!!!

Disclaimer : Mashashi Kishimoto

Pairing : Uchiha Sasuke_Haruno Sakura_Rei Gaara

Rate : T

Genre : Romance, Friendship

Warning!!! Typo bertebaran, OOC, GaJe, Dan masih banyak kekurangan lainnya.

.

.

Chapter 3

.

.

~Universitas Kosugakure. Kelas Sastra Jepang, semester IV

Rei Gaara melirik pada Sakura yang sedang sibuk dengan buku catatannya, di samping gadis itu tampak Ino dan Hinata yang sedang asyik mengetik sesuatu di notebook mereka masing-masing. Nampaknya ketiga gadis itu sedang sibuk menyelesaikan tugas makalah kelompok mereka.

"Kau selalu memperhatikan Haruno ya akhir-akhir ini. " Gaara tersentak. Di sampingnya kini telah duduk seorang laki-laki nyentrik yang ikut memperhatikan ke arah Sakura. Gaara hanya diam. Dalam hati lelaki itu malah sibuk berpikir ' Apakah dia tidak risih memakai pakaian dan celana yang serba ketat seperti ini, dan berwarna hijau pula? '

"Apa kau menyukainya?"

Gaara mengernyit, dalam hati dirinya juga mempertanyakan hal yang sama. Mengapa akhir-akhir ini dirinya selalu memperhatikan Sakura, selalu tersenyum ketika melihat Sakura tertawa bersama teman-temannya, dadanya serasa bergemuruh apabila gadis bersurai pink itu ada di dekatnya, dan hatinya seperti terasa terbakar apabila melihat ada lelaki lain-terutama Sasuke-mendekati Sakura. Ada apa sebenarnya? Perasaan apa ini? Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Semenjak 2 bulan Sakura menjadi tetangganya membuat dirinya menjadi lebih sering bertemu dengan Sakura. Dan selama itu juga gadis bermata sewarna batu emerald itu telah memenuhi pikirannya.

"Haruno itu gadis yang baik, manis dan pintar. Aku juga pernah jatuh cinta padanya. " Gaara menatap temannya itu, meneliti ekspresi yang terlukis di wajahnya. Lelaki itu tersenyum lembut, matanya menatap Sakura dengan kerinduan. "Sangat mudah jatuh cinta pada Haruno. Tapi.. sangat sulit untuk membuatnya dapat membalas perasaan kita. "

"Apa maksudmu?" Akhirnya Gaara pun buka suara. Lelaki itu menatap Gaara dengan pandangan seolah mengatakan 'Oh ayolah, hal seperti itupun kau tidak mengerti?'

"Tentu saja karena hanya ada Uchiha Sasuke dihatinya."

Ctaaarrrr~

Gaara bungkam. Sebenarnya hal itu memang sudah sangat jelas, melihat sejak di SMA dulu Sakura selalu menempeli Sasuke hampir setiap saat. Bagaimana paniknya Sakura ketika Sasuke mengalami cedera saat pertandingan basket di SMA. Bagaimana Sakura mati-matian menahan cemburu apabila SasukeFC mengelilingi lelaki itu.

Ah, rupanya bahkan sejak SMA Gaara sudah sering mencuri pandang dan memperhatikan gadis itu.

"Menyerah sajalah Gaara! Jangan sampai kau merasakan sakit hati sepertiku." Gaara merasakan sebuah tepukan dibahunya, temannya itu tersenyum tulus padanya, lalu berbalik kembali ke kursinya.

"Lee!!" Panggil Gaara, lelaki itu menoleh padanya.

"Arigato."

Lee melongo, namun detik berikutnya lelaki beralis tebal itu tersenyum hangat. "Yaa..aku hanya tidak ingin kau bernasib sama denganku-"

"Tapi aku tidak peduli dengan itu." Gaara menyela ucapan Lee, wajah tenangnya menyiratkan kesungguhan hatinya. Lee sempat takjub akan hal itu. "Terimakasih sudah menasehatiku. Tapi, aku tidak akan mundur sebelum berjuang."

Mata bulat Lee melebar. Dalam hati mengagumi tekad lelaki bertato 'AI' di dahi kirinya itu.

"Kalau begitu aku kan mendukungmu." Lee mengacungkan jempolnya pada Gaara. Gaara tersenyum tipis.

Tepat saat itu Sakura menoleh ke arah mereka. Keningnya berkerut melihat sikap nyentrik Rock Lee. Pandangannya lalu beralih pada Gaara yang secara perlahan juga menatapnya. Emerald meet Jade. Sakura tersenyum lembut pada Gaara membuat lelaki itu sedikit kikuk dan merona.

Ino dan Hinata menyadari hal itu, keduanya saling mengerling dan tersenyum penuh arti.

••••••••••••••••••••

"Jadi sekarang kau sudah berpaling dari Sasuke eh, Sakura-chan??" Ino menyenggol bahu Sakura sembari tersenyum menggoda. Hinata yang duduk di hadapan mereka hanya tersenyum.

"A-apa maksudmu, Ino-chan?" Sakura melihat Ino dan Hinata bergantian. Mengesampingkan mie ramennya yang masih mengepul karena merasa ucapan Ino barusan lebih penting untuk dibahas. Saat ini mereka sedang berada di kantin untuk makan siang.

"Ahh sudahlah kau mengaku saja! Semenjak pindah ke kompleks perumahan Suna, kau juga jadi pindah ke lain hati ya? Hahahaa" Ucapan Ino sama sekali tidak membuat Sakura puas.

"Apa sih??" Sakura mulai merengut

"K-kami sering memperhatikan Sakura-chan dan Gaara-kun sa-saling pandang." Imbuh Hinata dengan gaya lembut khasnya.

"He?? Lalu apa hubungannya dengan aku yang berpaling dari Sasuke??" Sakura masih belum mengerti.

"Aahhh jangan pura-pura bodoh Haruno Sakura!!" Cibir Ino. "Tentu saja itu ada hubungannya, kau jatuh cinta pada Gaara 'kan?"

"Haa?" Seketika wajah Sakura merona, terlebih lagi beberapa orang yang kebetulan duduk di dekat mereka langsung menoleh karena merasa tertarik dengan kalimat yang diujarkan oleh Yamanaka Ino barusan. Tentu saja Sakura merasa malu.

"Ino no baka!! Apa yang kau katakan barusan ha!!! Kau membuat yang lainnya salah paham!"

•••••••••••••••

Sasuke sedang fokus menatap layar notebooknya sambil mengetik sesuatu. Di sampingnya nampak Nara Shikamaru yang sedang terlelap dengan damainya beralaskan tas milik Neji. Sasuke tersenyum puas melihat hasil karya ilmiahnya yang sudah hampir beres keseluruhannya, hanya tinggal membuat sampul depan dan kata pengantar. Merasa sedikit pegal, Sasuke pun memutuskan untuk menyudahi acara ketik mengetik tersebut. Mata onyx nya sempat melirik Shikamaru yang ternyata masih tertidur pulas. Sasuke meraih I-phone nya, terdapat sebuah pesan masuk dari Sakura yang mengatakan bahwa hari ini dirinya akan pulang bersama Ino dan Hinata.

Baru saja Sasuke akan menelepon Sakura, ketika Suigetsu menemuinya.

"Yo, Sasuke!"

"Hn, Suigetsu." Sasuke menatap Suigetsu sekilas kemudian kembali sibuk dengan I-phone nya.

"Barusan aku dari kantin dan melihat Sakura bersama teman-temannya." Tangan Sasuke berhenti, matanya lalu fokus pada Suigetsu. Sasuke tahu, pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu. Karena jika hanya tentang bertemu Sakura, tidak mungkin lelaki itu sampai memberinya laporan seperti ini.

"Hn."

"Aku tidak sengaja mendengarkan percakapan Sakura dan teman-temannya."

Sasuke menaikan sebelah alisnya. "Sejak kapan kau suka mendengarkan para wanita bergosip?"

"Hahaha bukan gosip murahan, Sasuke. Aku yakin, kau sendiri pasti sangat 'menyukai' gosip ini." Suigetsu menyeringai. Sasuke hanya diam, menunggu informasi apa yang akan diberikan oleh Suigetsu.

"Aku dengar dari percakapan mereka kalau Sakura..." Suigetsu sengaja menggantung ucapannya guna memancing reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh Sasuke.

Sasuke menyipitkan matanya, menatap tidak sabar pada Suigetsu. Suigetsu tersenyum puas karena merasa berhasil membuat sang Uchiha merasa terganggu. Rupanya lelaki yang selalu tampak cool seperti Sasuke pun bisa menjadi gusar hanya karena seorang Haruno Sakura.

"Ku dengar kalau Sakura.. menyukai Gaara."

••••••••••••••••

"Hai Gaara-Kun!"

Gaara yang sedang sibuk memilih-milih buku di perpustakaan menoleh, mendapati Sakura sedang berdiri di hadapannya. Gaara tersenyum tipis.

"Sakura."

"Sedang mencari buku apa?" Sakura melirik ke atas rak buku. Terdapat tulisan 'Sejarah' di atasnya.

"Buku tentang Ke'Shogun'an."

"Oohh tugas dari Sarutobi-sensei ya?" Gaara hanya mengangguk.

"Baiklah, aku ke rak sebelah ya, jaa-ne!" Tanpa menunggu balasan dari Gaara, Sakura sudah melenggang ke arah rak khusus novel. Gaara masih memperhatikan Sakura. Gadis itu tampak sangat menikmati waktunya di depan jajaran novel-novel tersebut. Mata Sakura lalu menangkap sebuah novel yang menarik minatnya. 'AISHITERU SHINSENGUMIKU' Sakura merasa tertarik pada kisah-kisah para shinsengumi. Semenjak menonton anime Hakuouki Sakura selalu merasa terbayang-bayang oleh kisah para pejuang yang melindungi Kyoto di kala itu.

Sakura mengulurkan tangannya hendak meraih novel tersebut, namun ternyata dirinya tidak cukup tinggi untuk dapat menjangkaunya.

"Sshh menyebalkan!" Desis Sakura kesal. Namun bukan Sakura namanya jika langsung menyerah begitu saja. Di ulurkan lagi tangannya tinggi-tinggi dan menjinjitkan kakinya, sekuat tenaga terus mencoba menggapai buku itu.

'Sedikit..lagi..'

Grebb...

"Eh..?" Sakura tertegun saat melihat sebuah tangan yang lain dari arah belakangnya terulur dan meraih novel itu dengan mudah.

"Kau bisa minta tolong padaku, Sakura!" Suara bariton lelaki itu membuat Sakura menjadi semakin terkejut, dengan posisi kakinya yang tidak menapak sempurna di lantai -masih berjinjit- membuat Sakura kehilangan keseimbangannya, Sakura merasa tubuhnya oleng ke belakang sehingga refleks tangannya meraih pinggiran rak buku di hadapannya, namun waktunya tidak tepat tangannya bahkan tidak bisa mencapai rak itu untuk menyangga tubuhnya.

Duk!!!

Gaara bergerak refleks, saat melihat Sakura berjinjit-jinjit untuk mengambil sebuah novel yang sulit dijangkaunya, tanpa pikir panjang kakinya sudah melangkah ke tempat Sakura dan langsung meraih novel tersebut, sepertinya Sakura terkejut dengan keberadaan Gaara yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Sakura hampir terjatuh sehingga Gaara yang masih berdiri di belakangnya pun spontan langsung memeluk pinggang Sakura. Kepala Sakura membentur dada Gaara sehingga Gaara tanpa sengaja langsung memeluk gadis itu, membuat novel tersebut yang dipegang oleh Gaara terjatuh dan menimbulkan suara 'gedebuk' di lantai. Keduanya yang menyadari posisi mereka saat ini seketika langsung merona.

"Gomen." Ujar Gaara sambil melepas pelukannya, wajahnya hampir menyaingi warna rambutnya. Sakura menoleh pada Gaara, wajahnya pun tak kalah meronanya, terlihat begitu manis dan menggemaskan. Gaara tertegun, lagi-lagi perasaan ini.. hatinya berdesir aneh dan jantungnya seperti menggila di dalamnya. Tanpa sadar Gaara menyentuh dadanya. Sakura yang melihatnya menjadi salah paham.

"Kau terluka Gaara? M-maafkan aku!!" Sakura yang merasa panik spontan ikut menyentuh tangan Gaara yang masih terletak di dadanya. Gaara semakin membeku, nafasnya tertahan. Sakura menjadi semakin panik, pikiran buruk tentang Gaara yang mungkin saja tiba-tiba mendapatkan serangan jantung langsung melintas di otanknya.

"Gaara!! Daijoubu desu ka??" Sakura menatap Gaara dengan wajah panik dan hampir menangis.

•••••••••••••

BRAAKKK!!!

Suigetsu menegang. Tak menyangka dengan reaksi Sasuke yang langsung menerjangnya begitu dirinya menyelesaikan ucapannya.

"Apa maksudmu dengan Sakura yang menyukai Gaara?" Desis Sasuke tajam, tangannya mencengkeram kerah kemeja Suigetsu membuat wajah lelaki itu menjadi pucat pasi. Shikamaru yang menyadari suara berisik dan mengusik tidurnya itu pun dengan malas membuka matanya, mata beriris grey-nya terbelalak melihat apa yang di lakukan oleh sahabat Uchihanya itu. Dengan gerakan cepat Shikamaru pun bangun meraih Sasuke.

"Apa yang kau lakukan Sasuke? Lepaskan Suigetsu!!" Bentak Shikamaru.

Sasuke bergeming masih menatap Suigetsu dengan aura dinginnya. Shikamaru bersyukur saat melihat Neji memasuki ruangan kelas, lelaki berambut cokelat panjang itu pun tak kalah terkejutnya dengan Shikamaru. Pasalnya selama mengenal dan bersahabat dengan Sasuke sejak SMA lelaki itu sangat jarang menunjukan emosinya seperti ini. Neji dan Shikamaru lalu menarik Sasuke menjauhkannya dari Suigetsu. Suigetsu masih gemetar, nyalinya langsung ciut oleh tatapan Sasuke. Niat awalnya hanya ingin menggoda lelaki itu, siapa sangka reaksi Sasuke menjadi seperti ini.

"Maaf Sasuke.. A-aku hanya mengatakan..a-apa yang aku de-dengarkan dari obrolan mereka." Kata Suigetsu takut-takut. Shikamaru dan Neji saling pandang, Shikamaru tidak mendengarkan percakapan mereka sebelumnya sehingga lelaki berkuncir nanas itu ikut bingung sama seperti Neji.

"GOMENASAI SASUKE-SAMAAAA!!!" Teriak Suigetsu tidak jelas sambil berlari keluar kelas.

Sasuke meninju meja di dekatnya sekuat tenaga, menimbulkan suara 'krak' disusul dengan retaknya meja kayu tersebut. Shikamaru dan Neji menelan ludah gugup.

"KUSO!!!!" Geram Sasuke.

••••••••••••••••••

Sakura dan Gaara duduk di taman dekat bangunan kelas mereka. Suasana diantara mereka masih sedikit canggung setelah insiden di perpustakaan tadi.

Gaara hanya diam, jantungnya masih berdebar tidak seperti biasanya, walaupun frekuensinya tidak segila tadi. Di sampingnya Sakura sedang meneguk air mineralnya perlahan. Sesekali gadis itu melirik ke arah Gaara. Saat ini Gaara menjadi lebih diam dari pada biasanya, dan hal itu membuat Sakura menjadi sedikit kikuk.

"Ano ne..Gaara-kun.."

"Hm?" Gaara menyahut pelan tanpa menoleh pada Sakura.

"Ini..tadi di kantin aku membeli beberapa roti isi. Kau mau??" Sakura mengulurkan beberapa jenis roti varian rasa. Gaara mengambil satu roti rasa isi selai strawberry.

"Arigato." Ujar Gaara kemudian membuka bungkus plastik roti tersebut perlahan. Sakura tersenyum, dalam hati merasa lega karena mempunyai alasan untuk mengajak Gaara berbicara sehingga suasana tidak sekaku tadi. Gaara menggigit rotinya, mengunyahnya perlahan.

"Gaara-kun.."

"Ya?"

"Terimakasih untuk yang tadi." Wajah Sakura memerah saat mengatakannya. Gaara menatapnya dengan sebelah alis terangkat (Jangan protes ya!! Anggap saja Gaara memiliki alis, akan jadi aneh kalau dalam kehidupan nyata ada pria tampan tak beralis 'kan? Hehe )

"Etto...umm..yang tadi di perpustakaan, kau menolongku mengambil novel dan...menahanku sehingga tidak terjatuh."

Blush!!!

Keduanya kembali memerah saat bayangan 'pelukan tak sengaja' itu kembali terbayang.

"Aa.. doite." Jawab Gaara setenang mungkin.

••••••••••••••

Sasuke mengernyit saat tidak sengaja telinganga mendengar percakapan dari beberapa kumpulan para gadis di koridor. Ahh sekarang apa beda dirinya dengan Suigetsu tadi??

"Iyaa yaa mesra sekali aku sampai iri pada Sakura-senpai.."

"Aku juga mau di peluk oleh Gaara-senpai seperti itu."

"Eehh kau pikir hanya kau saja yang mau, aku juga tahu!!"

"Aaahhh andai saja aku jadi Sakura-senpai ya, bisa berada di dekat Sasuke-senpai si pangeran Kosugakure dan juga Gaara-senpai yang cool itu."

Sasuke mendengus kesal, gadis-gadis itu membelakanginya sehingga tidak menyadari kalau di belakang mereka hanya berjarak 3 meter, Sasuke sedang berjuang mati-matian untuk tidak menerjang mereka dan menendangnya satu persatu. Di samping Sasuke, Shikamaru dan Neji bersikap waswas, khawatir kalau Sasuke kembali lepas kontrol. Kini keduanya tahu alasan yang menyebabkan sang Uchiha murka.

"Sasuke kau mau kemana??" Teriakan Neji ketika Sasuke beringsut pergi membuat kumpulan gadis-gadis itu langsung menoleh panik.

"Apakah tadi Sasuke-senpai mendengar apa yang kami katakan??"

"Apa Sasuke-senpai marah?"

"Apa yang harus kami lakukan??" Mereka terlihat hampir menangis. Shikamaru menghela napas. Sedangkan Neji mencoba untuk tersenyum menenangkan,

"Berdoalah dan kalau bisa, selama seminggu kedepan jangan tunjukan wajah kalian di depan Sasuke." Kata Neji santai.

Sasuke melangkahkan kakinya lebar-lebar. Mata hitamnya menyorot tajam membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri, latar di belakang Sasuke saat melangkah seperti di kelilingi oleh awan hitam di sertai dengan halilintar yang sahut menyahut.

Dari informasi yang di dapatkannya, saat ini Sakura sedang bersama dengan Gaara di taman dekat vakultas jurusan Sastra Jepang. Dengan langkah tergesa lelaki yang kini kembali menyerupai malaikat maut tersebut menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru taman, sampai akhirnya mata obsidiannya menangkap warna-warna yang mencolok. Pink dan merah.

Di bawah pohon sakura yang belum mekar, Sakura dan Gaara sedang bercakap-cakap dengan akrab, duduk bersampingan di sebuah kursi yang cukup panjang. Sasuke melihat Sakura tertawa karena sesuatu yang di ucapkan oleh Gaara. Pipi chubby gadis itu bersemu merah, dan Gaara jyga tertawa kecil.

Sasuke merasakan saat itu kepalanya seperti di hantam oleh palu raksasa, tak cukup dengan rasa itu, darahnya juga seperti mendidih naik ke kepalanya. Selama ini Sakura hampir tidak pernah dekat dengan lelaki lainnya, Sakura selalu berada di sampingnya, dan gadis itu biasanya akan merona seperti itu hanya karena Sasuke. Dan saat ini Sasuke melihat sendiri dengan mata kepalanya, Sakura bisa seakrab itu, tertawa lepas bersama lelaki lain. Kembali ucapan Suigetsu dan percakapan gadis-gadis itu terngiang di telinganya.

Sasuke mengernyit seperti menahan perih, dadanya seolah ada yang meremas dari dalam. Nafasnya terengah.

Shikamaru dan Neji berlari kecil menyusul Sasuke, kedua lelaki itu ikut terdiam melihat apa yang disaksikan oleh Sasuke. Tidak, tentu saja mereka tidak merasakan sakit seperti yang dialami oleh Sasuke saat ini. Mereka masih bisa berpikir jernih, mereka cukup bijak untuk berpikir kalau saat ini Sakura dan Gaara hanyalah sedang mengobrol biasa. Namun, terkadang pikiran orang yang sedang cemburu siapa yang bisa menebak??

Shikamaru melihat Sasuke mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras, dan dirinya sangat yakin Sasuke dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

"Oh tidakk.." Umpat Neji ketika Sasuke berjalan dengan langkah lebar ke arah Sakura dan Gaara.

"Jangan bilang kita berdua harus jadi sasaran sasaknya kalau harus ikut campur.." Erang Shikamaru

"Berdoa saja semoga Gaara tidak bernasib sial hari ini." Keduanya memilih diam dan memperhatikannya dari jauh, tidak berani mengambil resiko ikut campur terlalu jauh, toh belum tentu Sasuke akan menghajar Gaara.

Gaara yang lebih dulu menyadari keberadaan Sasuke. Lelaki itu bisa dengan jelas melihat ekspresi marah dari raut wajah Sasuke. Sakura mengikuti arah pandang Gaara. Mata beningnya menangkap sosok Sasuke berjalan ke arahnya.

"Hai.. Sasuke-kun!!" Sakura melambaikan tangannya bersemangat disertai senyuman lebar. Di tempatnya Shikamaru menepuk jidatnya menyesali kepolosan Sakura. Neji hanya tersenyum prihatin akan perasaan Sasuke yang sudah begitu meletup-letup namun rupanya Sakura tidak peka terhadapnya. Mungkin karena gadis itu sudah terbiasa mendapat perlakuan acuh dari Sasuke, dan sudah terbiasa melihat wajah Sasuke yang tidak ramah.

Gaara hanya diam. Sasuke mempercepat langkahnya. Sakura bengong karena Sasuke tidak melihat ke arahnya bahkan melewatinya. Sasuke mendekati Gaara.

GREB...

Sakura seketika itu juga melonjak berdiri dengan wajah shocknya ketika Sasuke langsung menarik kerah kemeja Gaara memaksa lelaki itu berdiri.

"Sasuke-kun apa-apaan kau?"

Sasuke tak menggubris teriakan Sakura. Shikamaru dan Neji berlari mendekati mereka namun tidak berniat melakukan apapun. Gaara yang saat ini ditatap garang oleh Sasuke tetap berusaha tenang dan tidak terlihat takut sama sekali.

"Sasuke-kun lepaskan Gaara-kun!! Kau ini kenapa sih!!" Teriak Sakura mulai panik sambil menarik-narik tangan Sasuke, namun nihil.

"Shika, Neji! Kalian jangan diam saja!! Tolong aku dong!! " Sungut Sakura kesal karena Shikamaru dan Neji tetap berdiri di tempatnya.

"Tenang Sakura!" Hanya itu yang di ucapkan oleh Shikamaru.

Sementara itu Sasuke masih mencengkeram kuat kerah kemeja Gaara, lelaki itu semakin geram karena tidak mendapat perlawanan dari Gaara, namun Sasuke juga bisa melihat ketenangan dari tatapan mata Gaara, bisa-bisanya lelaki itu tetap terlihat santai dalam keadaan seperti ini bersama Sasuke.

"Sialan kau Gaara!!!" Geram Sasuke. Gaara tetap tenang. "Apa maumu?" Hanya itu respon darinya.

"Jauhi Sakura!!!"

Sakura mengaga kaget. Shikamaru dan Neji meringis tak menyangka sahabatnya akan langsung to the point begini.

"Apa?" Barulah Gaara mulai bereaksi dan menunjukan emosinya. Jujur saja Sasuke cukup takjub oleh lelaki ini. Mata jade nya kini mulai berkilat dingin tak kalah dengan Sasuke.

"Ku bilang. JAUHI HARUNO SAKURA!!"

"Kenapa aku harus menjauhinya?" Tantang Gaara

Sasuke terdiam. Tangannya semakin mempererat cengkeramannya pada kerah Gaara, membuat lelaki bersurai merah itu sempat kesulitan bernapas.

"Sasuke-kun ku mohon hentikan.." Mohon Sakura hampir menangis.

Sasuke masih diam merenung oleh pertanyaan Gaara.

"Uchiha Sasuke. Ku rasa tak ada alasan masuk akal, kenapa aku harus menjauhi Sakura." Ujar Gaara lagi sedikit tersengal.

Sasuke menatapnya sengit. Sakura menggigit bibir bawahnya, setetes air mulai membasahi pipinya.

"Hentikan Sasuke-kun, Gaara-kun tidak bersalah-"

"Karena Haruno Sakura adalah MILIKKU."

~T.B.C~