Shoes

Boboiboy © Animonsta Studio

Shoes © frkstn

Summary: Untuk pertama kalinya Yaya menyesal pergi ke perpustakaan.

.

.

.

.

.

Chapter 3: T?

"Assalamualaikum,"

"Walaikumsalam, Yaya lemas sekali he?"

Wanita paruh baya itu tersenyum kecil saat melihat keadaaan anak sulungnya. Yaya kelelahan.

"Iya Ma, 2 hari aku memimpin rapat OSIS dan sampai sekarang kami bahkan belum menemukan kesepakatan," keluh Yaya menaruh tas di kursi makan.

"Kau memimpin rapat? Ketuanya tidak masuk?" Mama Yaya menyodorkan segelas air putih.

Yaya segera meminumnya, "Kak Gempa sakit,"

"Hihi kasian sekali putriku," ujar Mama mengusap rambut Yaya. "Nah, biar segar, lebih baik Yaya sekarang mandi dan istirahat ya,"

Yaya mengangguk pelan, membawa tasnya dan berjalan gontai ke kamarnya. Mama yang melihatnya hanya terkekeh. Melihat Yaya, membuatnya teringat akan masa sekolahnya dulu.

"Kau memang mirip ssepeerti Mama, Yaya,"

.

.

.

.

.

Yaya keluar dari kamar mandi dengan piyama putihnya. Mandi dengan air hangat memang yang terbaik. Ia segera menuju ke meja belajarnya.

Meja yang bernuansa putih dan pink itu penuh dengan kertas-kertas. Baik yang bertumpuk maupun yang berserakan. Semua itu tak lain adalah tugas, note hafalan dan juga proposal-proposal organisasi. Meja ini adalah tempat paling berantakan di kamar Yaya.

"Hm, tugas untuk pelajaran hari senin sudah kukerjakan," Yaya mengecek dan mulai membereskan buku-buku yang akan dibawanya.

TRING

Ponsel Yaya berbunyi. Ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Tertera nama 'Kak Gempa' disana.

'Yaya, bagaimana rapat OSIS-nya? Apa sudah ada kesepakatan? Maaf aku jadi merepotkanmu,'

Yaya dengan cepat membalas, 'Belum ada kesepakatan Kak. Tidak, sama sekali tidak merepotkan. Kalau aku boleh tau, Kak Gempa sakit apa?'

Send.

'Hm, belum ada kesepakatan ya. Kalau begitu, lusa kita lanjutkan rapat. Aku hanya sakit demam biasa. Seharusnya hari ini aku masuk, tapi ternyata kondisiku belum terlalu sehat'

Yaya menghela nafas, jarinya dengan cekatan mengetik lagi,

'Lusa? Baiklah. Istirahat saja jika belum pulih, Kak,'

1 menit berlalu. Pesan baru diterima.

"Terima kasih,"

Yaya meletakkan ponselnya di meja kemudian naik ke tempat tidur. Ia merenungkan keadaan Gempa, sang Ketua OSIS.

"Kak Gempa terlalu memaksakan diri, tanggung jawab seorang Ketua memang besar,"

lmao

"Bagaimana keadaanmu?"

"Sedikit lebih baik Kak,"

"Hahh, jangan melakukan pekerjaan dulu kalau belum sembuh," Halilintar menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Dengar itu Gempa," timpal Taufan.

Kembaran termuda dari Boboiboy bersaudara itu tersenyum tipis. Sangat beruntung memiliki saudara seperti mereka. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak biasanya kakak-kakaknya ini kompak. Biasanya mereka itu.. ah kepala Gempa sakit untuk mengingatnya.

"Hari senin aku akan masuk," Gempa menaruh obatnya di atas meja makan. "Rapat tidak akan selesai kalau aku terus-menerus tak masuk sekolah,"

"Kenapa pengurus OSIS tahun ini tidak becus semua," ucap Taufan tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.

"Maaf?"

"Ergh.. maksudku bukan kau Gempa. Tapi anak buahmu," Taufan menoleh dan menatap Gempa polos.

"Orang yang buta kegiatan organisasi sepertimu tau apa?" Halilintar berjalan ke arah ruang tengah lalu melempar lap kotor ke wajah Taufan.

"Puh, Kak Hali sendiri? Kau juga tidak masuk organisasi apapun 'kan?" Taufan melempar asal lap kotor itu.

"Cih," Halilintar membuang wajahnya ke samping.

"Haha, skak mat,"

BLETAK

"Hahh, dasar...," Gempa menggelengkan kepala, mengambil lap kotor tadi lalu memasukannya ke bak cucian.

Taufan mengelus atas kepalanya. Jitakan dari Halilintar lumayan sakit. Balasan yang kau dapat jika menjahili orang seperti Halilintar.

lmao

Suara langkah kaki yang menaiki tangga terdengar nyaring. Gadis yang hari ini sudah rapi (sudah mandi, dan lain-lain) terlihat buru-buru menuju kamar bernuansa luar angkasa, berniat membangunkan orang yang ia kira masih bermimpi.

BRAK

Yep, bisa kau bayangkan apa yang ia lakukan?

"Totoitoy sayang...," Yaya mengambil nafas dalam. "BAAANGGUUNNNNNNNNNNNNNNNNNN!"

Manik hazel sang adik langsung terbuka.

"KAK YA, KENAPA TIDAK MENGETUK PINTU DULU? ASAL KAU TAU AKU SUDAH BANGUN DARITADI,"

Ya, siapapun pasti tidak suka kalau dibangunkan secara paksa.

"Kalau memang sudah bangun, kenapa tidak turun ke bawah? Kau tau 'kan ini hari apa?" ucap Yaya sambil bersandar di pintu kamar Totoitoy.

"Hari untukku bersantai," balas sang adik, kembali menyelimuti tubuhnya dan mengubah posisi tidurnya jadi membelakangi Yaya.

"Hmm, coba kita lihat," Yaya mengambil kalender di meja belajar adiknya. "Ini hari sabtu minggu ketiga, yang berarti jadwalmu untuk mencuci semua sendal dan sepatu,"

"Kau lupa atau pura-pura tak tau, hm?"

Totoitoy terkejut, suasana di kamarnya tiba-tiba terasa berat. A-aura macam apa ini? Dan kenapa aku merinding? Batinnya.

"B-baik Kak, aku akan segera mencucinya," Totoitoy bangkit.

"Bagus, cepat ya,"

Dan setelah itu aura aneh yang tadi mengelilingi kamar Totoitoy hilang dengan cepat. "He, menyeramkan sekali," lirih Totoitoy.

lmao

Bak berwarna hijau tua itu penuh dengan beberapa pasang sepatu dan sendal. Dari sendal dengan motif bunga sampai sepatu hitam untuk sekolah, semuanya bertumpuk jadi satu. Menunggu untuk dicuci oleh anak berumur 10 tahun itu.

"Ah mari hitung. 1,2,3..," Totoitoy menghitung keseluruhan dari objek yang akan ia cuci.

"10. Ada 10 pasang sendal dan sepatu,"

Totoitoy mengambil bangku kecil, satu sikat dan satu sabun cuci. Ia mulai menyikat semua sendal dan sepatu satu-persatu.

Ada 4 minggu dalam 1 bulan. Minggu pertama dan ketiga adalah jadwal Totoitoy untuk mencuci. Sedangkan, di minggu kedua dan keempat giliran Yaya yang mengerjakan hal itu. Hari ini kebetulan Yaya menyuruhnya untuk mencuci alas kaki. Kakaknya itu memegang prinsip "Setiap minggu, semua atribut sekolah harus bersih,". Tak peduli cuaca sedang musim hujan, semuanya harus dicuci.

"Fuh," Totoitoy menyeka sedikit keringat di keningnya.

Setelah 20 menit, semuanya sudah bersih. Tinggal sepasang sepatu yang masih kotor. Sepatu seribu umat, sepatu Yaya.

Totoitoy membasahi kedua sepatu dengan air, lalu mulai memasukkan sabun cuci ke dalamnya dengan tangan. Saat ia memasukkan tangannya ke dalam sepatu yang sebelah kiri, ada benda aneh. Totoitoy merabanya dan karena penasaran ia mencoba mengeluarkannya. Sedikit licin, tapi bukan masalah.

"T?" Ternyata, sebuah kertas tipis berwarna biru yang dibalut dengan lakban yang membentuk huruf T.

Ini mungkin bisa membantu Kak Ya menemukan sepatunya. Batinnya, memasukkan kertas itu ke kantung celananya.

lmao

"Kak Ya, Kak Yaaaaa!"

"Kak Ya ada di kamar sayang,"

"Terima kasih Ma,"

Setengah berlari Totoitoy segera menuju kamar kakaknya tersayang.

TOK

Sang adik membuka pintu putih itu dengan perlahan, menyembulkan kepalanya Totoitoy berbisik, "Kak?"

Yaya menoleh, "Masuk Totoitoy,"

Karena sudah dipersilahkan ia pun masuk dan mendekati kakaknya yang sedang berkutat dengan kertas yang Totoitoy tak mengerti arti dan fungsinya.

"Kak Ya, lihat apa yang kutemukan di dalam sepatumu tadi," Totoitoy memperlihatkan kertas huruf T itu ke hadapan Yaya.

Yaya mengambil kertas itu dan memperhatikannya, "Dari sepatu yang kupakai? Hm...,"

"Ini bisa jadi petunjuk untukmu menemukan sepatumu. Orang yang menukar sepatumu pasti namanya berawalan huruf T," ujar Totoitoy menunjuk kertas yang sedang berada di jari Yaya.

"T ya?" Yaya berpikir. "Totoitoy?"

"Hahahahah... tidak lucu,"

"Huh dasar, tidak bisa diajak bercanda,"

Totoitoy memandang kakaknya malas dan kemudian pergi keluar.

Yaya melirik inisial T itu.

T, awas kau.

lmao

"Ying, coba sebutkan orang-orang yang kau tau yang namanya berawalan dengan huruf T,"

"Hm? Itu.., ah, memangnya kenapa?"

"Aku menemukan kertas kecil dengan huruf itu di sepatuku sabtu kemarin,"

Yaya mengeluarkan inisial itu dan memperlihatkannya pada sahabatnya. Ying berhenti menyendokkan bekalnya, kemudian memandangi wajah Yaya dan kertas itu bergantian.

Ah ya, aku hampir lupa menyebutkan kalau mereka sedang berada di kantin.

"Coba sebutkan, Ying,"

"Eung...Tata, Tommy. Tsabita, Tavi, Tarra, Tian, Tyndall-"

"Tyndall? Seperti nama ilmuwan," Yaya memotong permbicaraan Ying.

"Ya, kau benar. Lalu ada, Teddy, Taka, kemudian...," Ying sedikit lupa.

"TAUFAN! BERHENTI KAU!"

"Ah ya Taufan, Tristan.. okay, hanya itu yang aku tau,"

"Taufan?" Yaya mendongak untuk melhat siapa yang habis diteriaki tadi.

L-lho?

.

.

.

.

.

Balasan Review:

Meltavi01003:Hee yang lebih kasian itu Yaya tau hahah. Oh ya? Memang, main ToD itu menyenangkan sekaligus memalukan :v. Maaf ya update-nya lambat, soalnya saya baru selesai UAS'-')/

Willy0610: Hm, setau saya pelajaran eksak itu yang mengandung unsur(?) itung-itungan, kayak Matematika, Fisika, sama Kimia. Eh atau saya yang salah? Hahah, tapi makasih ya atas koreksinya :D

IntonPutri Ice Diamond: Makasih ya. Saya juga udah baca fict kakak, dan itu menarik bikin penasaran haha*-*. Pairnya TauYa? Emm.. kasih tau ngga ya? Hihi.

Captain Caizo: Makasih ya mau meluangkan waktu untuk memberi review di ff saya :') saya udah baca fict kakak, awesome*-*

Murasaki Dokugi: Wah, makasih. Tapi menurut saya, ff ini masih jauh dari kata 'bagus' kok ._. Hee, belum tentu TauYa.. heheh.

Rampaging Snow: Namanya juga Taufan(?). Andai dia ngga nuker itu sepatu, dia ngga bakal ketemu sama Yaya. Hahah

Guest: Hee, gimana ya? Kita anggap aja kalo kaki Yaya itu agak sedikit lebih panjang dari ukuran kaki perempuan normal . Yaya: OI! .Heheh makasih review-nya~

Lightning Princess: makasih sudah review~ muach. Eh?

Tasha: Terima kasih, chapter 3 udah up ya~

Annisa Arliyani Wijayanti: Yang dipakai Taufan itu punya Yaya, tapi Taufan ngga tau kalo itu punya Yaya. Hm, fict saya membingungkan ya? Maklum ya masih amatir soalnya. Hihi~

Nfl162: Yep, tcb eh tbc :v

Kagayaku Mangetsu-Chan: salahkan Fang karena ngasih dare yang aneh-aneh. Fang: Masalah huh?. Etdah Fang-_-. makasih udah review~

Hanna Yoora: Jawaban untuk kepenasaran itu(?) sudah dijawab di chapter 2. Hanna belum bacakah?. Hihi, hebat ya Hanna jadi senior, sekretaris OSIS lagi*-*. Makasih~

Rizki5665: Sudah dilanjut yaa, makasih~

Eung... karena satu, dua hal, update selanjutnya bakal lama. Tapi kalian semua bakal tetep nunggu kan? *eyesmile

Hali: Cih, satu, dua hal. Bilang saja malas.

Hali, kenapa nethink mulu sama frei sih?-_-

Terima kasih...~~~