Jaejoong tidak tahu kenapa ia sampai bisa berbuat seperti ini. Sebelumnya, semua kekasihnya tidak pernah ia goda. Mereka 'lah yang selalu terlebih dahulu menggodanya hingga akhirnya dapat berada di atas ranjang bersama. Terlebih, kekasihnya yang dulu bukanlah orang yang naïf—yang dengan lucunya begitu canggung membelai tubuhnya, dan berpikir jika ia akan merasa kesakitan dengan belaian kasar, begitu mementingkan kenikmatan untuknya. Mereka semua bernafsu, tidak segan melampiaskan semua keinginan tubuh mereka pada setiap jengkal kulitnya. Tidak khawatir ia akan memberontak karena tidak nyaman dengan setiap sentuhan. Menurut mereka—sebenarnya menurut sepenglihatannya—Jaejoong tidak lebih dari seorang namja yang menginginkan belaian lembut dari pasangannya.
Jaejoong tanpa sadar meringis sakit saat memikirkannya, membuat Yunho yang sedang menandai lehernya berhenti. Melihat wajahnya dengan pandangan khawatir dan merasa bersalah.
Beberapa menit yang lalu Yunho telah mengaku jika ia memang belum pernah sekalipun menandai istrinya. Dan kemudian mereka melanjutkan semuanya yang sempat tertunda dengan hanya percakapan—mungkin akan membantu laju pertumbuhan hubungan keduanya. Tapi sekarang ia mendengar suara halus itu meringis. Apa ia telah berbuat sesuatu yang salah? Atau ia terlalu keras memberi tanda hingga Jaejoong kesakitan dan merasa tidak nyaman?
Yunho panik.
"Kau tidak apa?" tanyanya membelai pipi tirus berkulit halus itu.
Jaejoong membuka matanya. Melihat wajah tampan dengan mata musang memancarkan cahaya begitu menenangkan. Apa ia telah salah menggoda pria? Karena tidak ingin berlama-lama dengan pikiran negativenya, Jaejoong tersenyum. "Tak apa," katanya balas membelai kedua belah pipi Yunho. Ia mengecup pelan pipi sebelah kiri Yunho, mencoba menenangkan hati dan jantungnya bergejolak. "Bisa kau peluk aku dengan erat? Aku merasa begitu kedinginan." Katanya lagi.
Yunho tahu seharusnya ia merengkuh tubuh cantik ini. Tapi, tidak… ia tidak hanya ingin merengkuh, biarkan kata itu yang menjadi bagian akhir kegiatan mereka. Sekarang, ia menginginkan lebih dari pelukan. Sebuah… cumbuan.
.
Disclaimer: Semua cast memang bukan milik saya, mereka semua milik Tuhan, keluarga dan diri mereka masing-masing. Tapi fiksi ini jelas milik saya.
Rated: M (For sexual contens)
Pairing: YunJae, slight Yoosu
Warning: OOC, Typos and Miss Typos, Boys Love, Alur terlalu membingungkan, NC, Sex Scene, Naif|Yunho, and Arogan|Jaejoong.
.
Yoochun terkekeh. Ia sangat bergairah sekarang, dan pemuda berbokong seksi ini malah semakin membuatnya berada di puncak. Berselingan dengan desahan, Junsu—nama si pemuda berbokong seksi—dengan nekatnya bertanya padanya. Membuatnya semakin gemas ingin mendengar jeritan serak Junsu.
"Kenapa kau—ahh—mendukung Yunho hyung berselingkuh… nghh, Yoochun-ah?"
Yoochun tertawa halus. Ia masih dengan gencar meremas bokong sintal Junsu dengan keras. Sesekali membelai bagian berdaging tebal itu dengan lembut, dan sesekali langsung menggoyangkannya dengan kencang—membuat Junsu mati-matian harus dapat membuat suaranya tidak bergetar mengikuti goyangan tangan Yoochun pada bokongnya.
Ia mengecup sedikit lapisan kulit Junsu, "Karena aku baru pertama kali melihat Yunho seperti sekarang. Sebelumnya, ia adalah seorang pria yang terlalu baik. Berpikir jika ia memang menginginkan Boa sebagai pendamping hidup sematinya, tanpa ada konflik sedikit pun. Bahkan saat Boa berselingkuh dan mengalami kecelakaan hingga berbuah pada kemandulan wanita itu. Yunho tidak masih bersikeras untuk memperbaiki semuanya, menganggap jika apa yang dilakukan wanita itu hanya hasutan sekejap." Yoochun terkekeh sesaat. Melihat Junsu dengan lembut, "Dan kau tahu, aku akan menyadarkan Yunho bahwa yang dilakukan Boa saat itu bukan hasutan semata."
Junsu menampilkan wajah bingung.
"Kau tidak mengerti?"
Junsu menggeleng canggung. Yoochun bertanya dengan wajah yang begitu tampan, dan bagusnya ia dalam keadaan hard untuk menunjukkan wajah bingungnya yang berlebih.
"Aku ingin menunjukkan pada pria itu, bahwa sebenarnya satu ketidakjujuran dalam suatu hubungan akan berdampak pada segalanya di masa yang akan datang. Dan bagusnya, Yunho sekarang merasa jatuh pada Jaejoong." Katanya mengecup gemas bibir merah Junsu.
Junsu tersenyum, akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud Yoochun. Kekasihnya ini hanya tidak suka dengan wanita yang telah membuat sahabatnya merasakan sakit, dan mencoba memberikan satu penjelasan kasat mata, bahwa 'setiap hubungan itu haruslah dilandasi dengan kejujuran. Saat sekali orang yang berperan dalam hubungan itu melakukan kesalahan, akan ada bayaran untuk semua'. Ya, sepertinya begitu.
Junsu memeluk Yoochun tidak tahan. Ia berbisik dengan lembut di telinga Yoochun, "Dan aku yakin, Jae hyung tidak akan mengecewakan Yunho hyung, Yoochun-ah. Kau tenang saja."
.
.
.
Yunho merasa semuanya begitu indah. Bukan hanya perasaaannya yang berbunga-bunga, akan tetapi matanya pun dimanjakan dengan pemandangan di bawahnya. Tubuh—tanpa atasan—yang mulus berkulit halus, memantulkan cahaya remang di ruangan itu, begitu indah berhiaskan beberapa bulir keringat dan ruam kemerahan di beberapa bagian dada dan leher. Menggiurkan.
Yunho meneguk ludah, tidak pernah sebelumnya ia begitu tergiur akan pemandangan seperti sekarang. Jika ia harus membandingkan tubuh Boa yang—menurut namja lain—begitu sexy, maka ia akan lebih memilih tubuh Jaejoong tanpa selempar kain yang menutupi'lah yang paling indah. Sebut ia tidak waras, karena ia begitu rela untuk disebut seperti itu jika itu untuk mengakui kecantikan tubuh namja ini.
Wajah sensual merona, bibir bawah sedikit membengkak, leher jenjang yang dihiasi beberapa noda miliknya, dan dada mulus bertahtakan kedua punting mencuat. Yunho meneguk ludah, perlahan ia melepas setiap kancing kemejanya—tanpa tahu jika yang ia lakukan justru membuat Jaejoong begitu terbawa suasana. Dada bidangnya yang membentuk terpampang begitu jelas, tercetak seperti dua buah roti berukuran besar.
Jaejoong perlahan bangkit. Ia sedikit mendorong dada Yunho hingga pria itu terduduk di depannya—saling berhadapan. Jaejoong dengan mata menyayu membelai dada itu dengan perlahan. Rasanya sedikit lengket, ada gelenyar aneh saat menyentuh kulit berotot itu, dan sedikit halus dengan beberapa bulu halus di tengah. Mendekatkan bibirnya dengan punting sebelah kiri Yunho, Jaejoong menjilat perlahan punting merah itu. Dadanya berdebar cepat, dan suaranya terasa bergetar saat melirih.
"Yunho-ah,"
Yunho diam, membungkam mulutnya agar tidak sedikit pun terbuka. Ia sangat yakin akan mengeluarkan suara berbeda apabila kedua belah bibirnya terbuka. Yunho meremat rambut Jaejoong, mengelusnya dan semakin menekan kepala namja cantik itu pada dadanya. Tidak, ia bukan orang yang minta dimanjakan, tapi setiap kelihaian lidah namja ini begitu menggodanya hingga terasa begitu tidak mustahil untuk menolak belaiannya. Begitu, memabukkan.
"Jongieh.."
Jaejoong melenguh. Ia tidak tahan. Hanya mengecup dan mengecap rasa dari lapisan kulit Yunho tidaklah cukup untuk membuat hasratnya sekarang terpenuhi. Ia memerlukan sesuatu yang lebih panas, lebih terasa, dan lebih dapat membuatnya mendesah. Ia memerlukan Yunho ikut perpartisipasi dalam peran permainan ranjang mereka.
Tanpa sadar, Jaejoong menginginkan Yunho dalam dirinya.
Memerlukan benda lembab, panjang, besar dan berurat milik Yunho bermain dan mengambil alih fungsi tubuhnya menjadi peluap nafsu.
"Jongieh~"
Dan kebetulan sekali, Yunho pun tidak tahan. Ia tidak mau menjadi orang dimanjakan, tetapi menjadi pemanja.
Kedua tubuh itu bertindihan kembali. Jaejoong dengan manja mengalungkan tangannya di leher Yunho, bermaksud menarik kepala prianya malam ini agar lebih intim lagi dengannya. Membalut bibir mereka dalam satu kecupan paling panas, dan basah. Bahasa tubuh yang saling menginginkan satu sama lain itu menari dalam rabaan tangan masing-masing. Jaejoong melenguh saat satu tangan Yunho berhasil meraba sampai titik tersensitifnya. Sebuah benda miliknya yang menegang di bawah sana.
Ia mendengar suara tarikan relseting. Merasakan sedikit terpaan hangat dan rasa terbebas dari sesak. Jaejoong mengangkat pinggulnya lebih ke atas satu satu tangan Yunho menarik turun celana levis yang dipakainya. Jaejoong berbaring tanpa atasan, hanya celana dalam hitam yang begitu kontras dengan kulit—antara selanggangannya—yang melekat di tubuhnya. Pemandangan yang sangat menyilaukan, tapi sekaligus begitu tidak dapat ditolak.
Yunho mengelus benda itu dengan gerakan memutar. Sedikit merematnya karena gemas.
"Ungh…" Lenguhan itu seperti lagu dalam pengantar ia ke surga dunia.
Yunho tertegun sesaat. Melihat wajah Jaejoong yang memerah itu lebih lama lagi. Jantungnya berdebum dengan kencang saat sadar jika ia adalah suami yang memilik seorang istri di rumah. 'Apa ini benar? Apa semua ini akan baik-baik saja? Apakah ini adalah nafsu sesaat, dan pelarianku dari semua yang Boa pernah lakukan?' Yunho terdiam, ia bingung. Haruskah ia melanjutkan semuanya, merengkuh sosok maneki cantik ini dalam pelukan berpeluhnya? Atau… meninggalkan semuanya, dan kembali pada kenyataan.
Jika ia memiliki seorang istri?
Haruskah?
Yunho menggeleng, perlahan ia menarik diri. Semuanya salah, dan ia pun telah memilih.
Perlahan, Yunho beranjak dari tubuh berbaring Jaejoong. Berdiri di lantai dingin ini sambil menatap Jaejoong penuh arti. Ia telah mengerti semuanya. Semua ini harus diakhiri.
"Jaejoong,"
Sret
—dan satu-satunya daerah pribadi miliknya telah benar-benar terlihat.
Ya, ini semua salah. Tapi Yunho telah memilih untuk melanjutkan aktifitasnya, ia harus mengakhiri semua kemunafikannya. Berpikir jika sebenarnya hubungannya dengan Boa baik-baik saja. Yunho mengerti sekarang kenapa Yoochun pernah mengatainya pria paling naïf yang pernah sahabatnya itu kenal. Berpikir jika mungkin ia bisa memperbaiki keadaan rumah tangganya yang sebenarnya tidak bisa lagi pertahankan. Dari awal, semuanya sudah tidak benar. Ia tidak pernah memiliki perasaan lebih pada wanita di rumahnya, dia menikahi yeoja itu hanya karena pemilikirannya yang pernah terpesona sekali. Ya, sekali… saat wanita itu menyanyi di atas panggung pementasan sekolah.
Berpikir mungkin itu adalah pandangan pertamanya. Yunho begitu bodoh hingga dapat berpikir seperti itu, sedangkan ia baru merasakan jantungnya berdegup begitu kencang saat bersama namja cantik ini. Sekarang, disini, saat mereka tengah bersama-sama, saling menatap jauh ke dalam bola mata masing-masing.
Yunho menyeringai, ia keluar dari sifatnya yang begitu bodoh.
"Yunho-ah?"
"Jaejoong, aku…" ia merangkak kembali ke atas tubuh Jaejoong. Memenjarakan tubuh ramping itu dalam kekungan kedua tangannya. Menahan pergerakan kecil dari kaki jenjang Jaejoong dengan kakinya—membuat kedua benda menggantung itu bersentuhan. "…aku mencintaimu."
Cup
Namja cantik itu terbelalak. Pria diatasnya ini… kenapa?
Jaejoong tidak bisa menjawab, tidak mampu melempar pertayaan, apalagi menyanggah dengan pernyataan. Mereka baru bertemu, dan pria ini sudah menyatakan perasaannya. Ternyata Yunho lebih naïf dari yang ia kira. Walaupun ia tahu, namja tampan ini sudah menguntipnya hampir setiap malam, tapi… apa tidak terlalu gila menyatakan perasaannya disaat seperti sekarang, dan—saat pertama kali pertemuan bertatap wajah?
Dan apa ini… cinta?
Seumur perjalanan hubungannya dengan kekasih-kekasihnya, Jaejoong tidak mendapatkan pernyataan seperti itu dengan menggunakan kata 'cinta'. Hampir semua dari mereka lebih memilih kata, 'menyukai', 'tertarik', atau 'menginginkan'. Sebuah kata yang menariknya untuk bahkan mengharuskan ia menjadi milik mereka—walah hanya untuk beberapa saat, seperti pertemuan mereka yang berakhir di ranjang.
Tapi benarkah yang dimaksud pria ini cinta?
Jaejoong memejamkan matanya perlahan, terhanyut dalam setiap belaian lidah terampil pria diatasnya. Setiap belaian basah ini melingkari inchi lapisan bibirnya, Jaejoong akan membalas dengan menjepit lidah itu dengan bibirnya. Melumat daging tanpa tulang itu dengan bibirnya, menariknya dalam satu perang lidah paling bergairah. Saling menjilat lidah masing-masing, mengeruk saliva pasangannya dan meneguknya dalam pengambilan satu tarikan nafas lalu saling melumat kembali.
Semuanya begitu bergairah. Kecupan, dan hisapan mesra yang diberikan Yunho pada kulitnya. Titik gairahnya semakin mengeras, percumnya pun mulai berbaur dengan percum milik Yunho di atas celana dalam Jaejoong. Jaejoong melenguh, mendengah, dan melirih. Ini begitu gila, ia tidak pernah sebelumnya begitu berdebar dalam cumbuan kekasihnya. Ini begitu… membuat perutnya mulas dan setiap cairan dalam tubuhnya mendesir—berkumpul dalam satu titik paling tinggi.
"Yunho-ah… oh~ more! More!" Jaejoong tidak peduli. Ia ingin menjerit, melampiskan semuanya dalam satu tarikan nafas yang menghasilkan suara sensual.
Yunho menjilat kulit Jaejoong dari dagu, turun ke leher—memberikan beberapa tanda disana, lalu turun kembali ke salah satu punting Jaejoong yang mencuat—ia menyentilnya sebelum mencubit lalu mengecup dan melahapnya, menyusu dengan gencar serta merta berharap jika akan ada beberapa tetes susu yang keluar dari sana.
Jaejoong semakin bergerak gelisah. Kedua kaki jenjang putihnya semakin terbuka lebar, beberapa kali pinggulnya ikut terangkat dan digerakan beberapa kali untuk semakin menggesekkan barang milik mereka berdua—yang terhalang selembar kain miliknya. Ini nikmat sekali, andai Jaejoong bisa berteriak sekarang, ia akan benar-benar berteriak seperti itu. Tapi sekarang yang dapat dikeluarkannya hanya desahan tertahan dengan suara serak memuncrat dengan saliva di setiap sudut bibirnya.
"Akhr!"
Jaejoong semakin aktif. Ia semakin menggesek kedua 'benda tegang' milik mereka—semakin cepat menaik turunkan pinggulnya, menarik tekuk Yunho agar melumat bibirnya terus-menerus, dan mencengkram punggung Yunho seperti tidak ingin merasakan dingin sama sekali di dadanya. Ia begitu bergairah sekarang. Semuanya terasa panas, dan ia yakin beberapa menit lagi ia bisa mencapai puncaknya.
"Yunnieh~ akhr!"
Benar, tidak sampai empat menit berlalu, Jaejoong pun mencapai puncaknya.
Yunho tersenyum, ia merapihkan sedikit helaian rambut Jaejoong. Menyingkirkannya dengan jari-jarinya dengan lembut, lalu mengecup kening namja cantik itu dengan penuh cinta. "Kita bisa langsung ke permainan inti, Joongie?"
Jaejoong tidak punya tenaga walau hanya untuk mengangguk. Ia hanya dalam memejamkan matanya sebagai isyarat bahwa Yunho dapat melakukan apapun untuk tubuhnya, karena ia akan menerima semuanya dengan kepasrahan.
.
Jaejoong melenguh, kedua tangannya menjulur ke bawah—menekan kepala Yunho untuk semakin dalam menelan miliknya—jari-jarinya meremat rambut Yunho gemas. Bibir munggilnya terbuka lebar, mengeluarkan suara desahan nikmat yang terdengar nikmat dan saliva yang mengalir lebih banyak dari sudut bibir. Matanya terpejam, seperti sedang meresapi rasa hangat dan kejangan-kejangan di tubuh bawahnya.
Jaejoong mengangkang lebar dan sesekali mengangkat pinggulnya saat Yunho melakukan gerakan seperti ingin melepaskan miliknya. Ia begitu terbuai hingga rasanya tidak rela jika harus menyelesaikan semua ini begitu cepat. Ia ingin semua ini lebih lama lagi.
Yunho sibuk mengulum kejantanan milik Jaejoong. Kejantanan itu terlihat lebih kecil darinya, tapi lumayan untuk seorang laki-laki, berwarna putih dengan hanya memiliki sedikit bulu di sekitarnya, di beberapa bagian kulitnya terlihat sedikit mengkerut—terlihat bergitu menarik untuk dikerjai tangan lihai Yunho. Pria berkulit coklat itu terlihat sesekali membelai paha dalam Jaejoong. Memberikan inklus ransangan berupa rasa geli.
Jaejoong menggeram kesal saat tangannya dicekal Yunho. Ia masih ingin merasa hangat, tapi pasangannya ini malah menyelesaikannya, bahkan sebelum ia mencapai klimaksnya.
"Yunnie~" Jaejoong mengeluh kesal. Beberapa detik yang lalu, Yunho menyuruhnya memanggil pria itu dengan sebutan yang lebih manis jika ia merasa ingin lebih lagi.
Yunho terkekeh. Ia menekan tubuh Jaejoong lebih dalam dengan tangannya. Mengecup beberapa bagian di leher Jaejoong. "Sabarlah, Joongie. Yunnie hanya ingin ke permainan inti." Katanya berbisik lembut. Yunho mengulum daun telinga Jaejoong, sedangkan satu tangannya bergerak ke bawah lagi. Menarik satu tungkai paha Jaejoong ke samping agar semakin lembar. Ia mendesis saat merasakan bagian rapat, bercincin berupa kerutan kulit. Yunho tidak langsung memasukkan jarinya. Ia bermain terlebih dahulu disana. Melakukan gerakan memutar, tekanan-tekanan kecil di bagian tengahnya dan lalu sedikit mencubiti lingkaran kulit mengkerut itu.
Yunho senang dengan suara Jaejoong yang mendesah gelisah di bawahnya. Menikmati bergesekan dada mereka. Tapi… ia juga tidak yakin dapat menahan rasa meledak di kejantanannya.
Yunho menurunkan tubuhnya. Ia mengangkat kaki Jaejoong dan melebarkannya ke samping lalu menahan sepasangan kaki itu agar terus terbuka. Ia mendorong pinggul Jaejoong agar naik ke atas, hingga tubuh Jaejoong membentuk huruf C terbalik. Yunho menatap tidak berkedip ke bagian privat Jaejoong. Ada beberapa titik hitam disana, pertanda jika bagian itu sudah dimasuki beberapa kali—oleh orang lain.
Sakit sebenarnya, tapi Yunho masih berusaha bersikap lembut.
Lidahnya menjulur, mengalirkan salivanya pada lingkaran cincin lubang Jaejoong. Sesekali ia menjilati bagian mengkerut di sisinya, lalu sedikit menekan lidahnya ke tengah lubang. Beberapa kali melakukan itu, dan Yunho hampir menjerit senang saat Jaejoong di waktu yang bersamaan memberikan perlawanan. Membuat lubang itu menjadi menekan lidah Yunho.
Suara hisapan terdengar begitu nyaring. Kecapan-kecapan itu beriringan dengan suara jerit manja Jaejoong.
"Ughh… ahh! Yunnie! Ahhh~"
Spot spot spot
Yunho tetap melakukan gerakan yang sama. Mengalirkan air liurnya, dan langsung menghisapnya dengan keras. Ia menjulurkan tangannya, menekankan satu jari telunjuk untuk masuk kesana. Memberikan gerakan memutar dengan perlahan, lalu memasukkan satu jari lagi.
Beberapa kali pinggul serta tubuh Jaejoong terhentak saat gerakan keluar masuk dua jari Yunho di tubuhnya dipercepat. Tumbukan demi tumbukan di lubang bawahnya semakin intens. Ia membuka mulut lebih lebar, suaranya bergetar saat keluar.
Kaki Jaejoong yang sejak tadi bergerak tidak nyaman diturunkan. ia memijat sebentar kejantanannya, lalu kembali mengangkat pinggul Jaejoong naik. Memposisikan tubuhnya di depan pintu gerbang menuju surga dalam. "Aku… masuk, Jae." Yunho perlahan menurunkan tubuhnya sebelum Jaejoong menjawab. Ia memasukan perlahan bagian kejantanannya. Mulut lubang Jaejoong terlihat melahap sedikit demi sedikit bagian kepala besar berwarna coklat kemerahan milik Yunho. Precum dan air liur Yunho mempermudah proses pelahapan lubang Jaejoong pada miliknya.
Sensasi itu terasa berbeda. Yunho begitu nikmat saat seluruh kebanggannya masuk ke dalam gua hangat Jaejoong. Sedangkan namja cantik itu terlihat gelisah. Seperti antara merasakan sakit, nikmat, tidak nyaman tapi… begitu memabukan. Kepalanya berputar, tubuhnya bergetar tidak tahan, dan mulutnya seperti ingin memuntarkan sesuatu yang mendesak keluar.
Ia mendesah kencang saat Yunho mulai menghentak. Lembut, dan pelan. Semuanya berjalan seperti biasa. Jaejoong menjerit saat Yunho tiba-tiba memberikan hentakan lebih keras. "La-lagih!" Merasa diberikan komando tanpa menerima penolakan, Yunho semakin gencar membobol semuanya. Kepala kejantanannya menumbuk ke berbagai tempat di dalam sana. Mencari satu titik prostat milik Jaejoong agar merasa nikmat. Ia merasakan satu daerah bulat yang kenyal. Yunho tersenyum, itu satu daerah ransangan terbesar dalam satu hubungan seksual sesama jenis.
Prostat milik Jaejoong.
Ia menggempur titik itu. Jeritan, desahan dan erangan manja Jaejoong menariknya mendekat. Membiarkan si namja cantik juga mendengar geraman miliknya.
Keduanya berpelukan. Yunho mulai merasa batasnya. Ia menyemburkan benih miliknya di gua hangat itu. Sesekali masih melakukan gerakan maju mundur, hingga lenguhan nikmat Jaejoong terdengar.
Ya, akhirnya… mereka sampai bersama.
Menumpahkan sari cinta mereka di tubuh pasangannya.
.
.
.
Disisi lain, seorang wanita dengan wajah cantik terlihat begitu gelisah. Beberapa waktu yang lalu, seorang wanita saingannya datang berkunjung. Memberikan amplop coklat sambil menyeringai menyebalkan. Wanita itu—Ahra—seseorang yang selalu mengejar Yunho, bahkan membuat isu perselingkuhan pada keduanya dulu. Tapi selalu gagal, karena Yunho memang pintar untuk membuktikan sesuatu yang tidak benar.
Ahra datang dengan senyum kemenangan. Wanita itu memberinya sesuatu, yang sampai saat ini membuatnya terus bimbang.
"Apa Yunho mulai benar-benar berselingkuh?"
.
.
.
.
.
Tobe continue
A/N: Sorry for typos. Chapter besok akan menjadi chapter terakhir. Terima kasih, saya masih menunggu reviewnya. Kalau ga review, saya ga akan post chapter terkhirnya. Terima kasih.
