Hai. Selamat tahun baru, ya.
Fic perayaan tahun barunya ini aja yok^^ kalau sempet saya buat yang lain~~
Semoga fic ini menghibur, dan anda tidak kecewa dengan fic ini!
Orange Butler
Oleh : ariadneLacie
.
BLEACH
Oleh : Tite Kubo
.
Kuroshitsuji
Oleh : Yana Toboso
Chapter 2
"Ulquiorra Schiffer."
Rukia menjatuhkan dirinya ke kasurnya yang sangat empuk. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam bantalnya yang beraroma vanilla. Biasanya aromanya ini dapat membuatnya lebih tenang. Ternyata tinggal di mansion yang luas hanya berdua itu cukup sepi, ya.
"Byakuya nii-sama... kira-kira kau ada dimana sekarang?" gumam Rukia sambil berguling dan menatap langit-langit kamarnya. Ia pun mengalihkan pandangannya dan melihat ke luar jendela. Dilihatnya seseorang sedang memandang ke dalam kamarnya dari atas pohon. "Cih, Ichigo. Kenapa sih kau selalu mengawasiku?"
Rukia pun bangkit dan duduk menghadap ke jendela. Ia menyipitkan matanya untuk melihat siapa sebenarnya yang selalu mengawasinya dari sana. Pasti Ichigo, sih. Soalnya rambutnya yang berwarna oranye nyentrik itu sangat terlihat di balik daun-daun pohon yang berwarna hijau. Tapi...
'Ichigo? Ah... bukan! Bukan Ichigo!' batin Rukia. 'Lalu siapa? Tapi... rambut oranye itu...!' Rukia pun berjalan ke jendela. Sungguh ceroboh untuk orang yang mengetahui bahwa ia sedang diawasi melalui jendela.
'Dia... perempuan?' kali ini Rukia dapat melihat sosok yang mengawasinya dengan agak jelas. Rambutnya berwarna oranye, disanggul sehingga terlihat pendek. Ia memakai jas hitam dengan kemeja putih, dan juga celana panjang hitam. Pakaian yang persis yang seperti dipakai oleh Ichigo.
PRANG!
Untung saja Rukia sempat menghindar sebelum benda yang dilemparkan wanita tadi mengenai kepalanya. Ia segera bersembunyi di balik dinding. Dilihatnya benda yang baru saja dilemparkan perempuan aneh tadi. Pisau perak. Ada surat tertancap di pisau itu.
"Ichigo," kata Rukia pelan. Dan, dalam sekejap Ichigo segera muncul di depan Rukia.
"Ada apa, nona?" tanya Ichigo pada Rukia yang sekarang ini berada di depannya.
"Siapa itu?" tanya Rukia. Ia menunjuk ke arah jendela di sampingnya menggunakan jempolnya. Ichigo segera melirik ke luar jendela. Menggunakan kemampuan matanya yang seperti mata elang untuk melihat ke setiap pohon-pohon di luar sana.
"Tidak ada siapa-siapa," kata Ichigo. Ia pun berbalik dan mengambil pisau yang tertancap di lantai kamar. Dan mengambil suratnya.
Hai.
Aku tahu, kau pasti sudah menyadari bahwa aku mengawasimu sejak kemarin. Yah, lagipula aku tidak berusaha menyembunyikan diriku disaat mengawasimu.
Tapi, apakah kau tahu kenapa aku mengawasimu?
Well, cepat atau lambat kau akan tahu.
Bersiaplah.
Ichigo mengamati baik-baik tulisan surat itu. Sepertinya ia mengenal tulisan itu.
"Apa isinya, Ichigo?" tanya Rukia.
"Hanya sebuah surat ancaman. Mungkin dari salah satu perusahaan yang merasa keberadaannya terusik oleh perusahaan kita," kata Ichigo sambil memasukan surat tersebut ke dalam saku jasnya. Ia memutuskan untuk menyelidikinya nanti saja. "Baiklah... mungkin ini saatnya untuk mencicipi cemilan? Karena kurasa makanan yang manis dapat membuat anda lebih baik."
"E-enaak!" seru Rukia dengan mata yang berbinar-binar. "Ini apa namanya, Ichigo? Rasanya aku baru pertama kali melihatnya..."
"Mille-Feuille," jawab Ichigo. "Makanan asal Prancis* dipadu dengan buah strawberry segar dan juga krim vanilla lembut. Krim vanilla yang manis dan strawberry yang agak asam menimbulkan cita rasa yang berbeda. Ditambah kulit pie yang renyah dan gurih. Karena nona termasuk penggemar vanilla... kurasa cemilan ini sangat cocok," jelas Ichigo panjang lebar. Rukia hanya manggut-manggut saja.
"Mungkin lain kali kau harus mengajariku cara memasak ini!" seru Rukia dengan mulut yang belepotan krim vanilla.
"Ahahaha. Tentu, nona," kata Ichigo sambil mengambil tisu dari meja dan mengelap mulut Rukia. Rukia agak tersentak sedikit. Wajahnya memerah karena wajah Ichigo dekat sekali. "Maaf, mulut anda belepotan sekali soalnya."
"Te... tewimaa kaahih..." kata Rukia dengan mulut yang penuh.
"Tentu," kata Ichigo sambil tersenyum. "Oh ya, nona, hari ini kita kedatangan tamu."
"Eh?"
"Bagaimana ini Ichigo? Tamunya datang 30 menit lagi! Tapi aku belum menemukan baju yang cocok!" seru Rukia kalang kabut di kamarnya. Kamarnya sudah berantakan dengan baju yang bertebaran dimana-mana. Sementara Ichigo yang sedang membetulkan jendela yang pecah hanya geleng-geleng kepala.
"Padahal anda sudah mencari baju cukup lama. Masa tidak ada yang cocok?" tanya Ichigo. Masih tetap sibuk dengan pekerjaannya membetulkan jendela.
"Ayolah... bantu aku... Ichigo..." kata Rukia memohon. Ia sampai menggunakan jurus mata berbinar-binar dan senyum innocent untuk membuat Ichigo membantunya.
"Bukankah anda bilang, kamar ini privasi anda? Berarti saya tidak boleh melihat-lihat isi lemari pakaian anda, dong?" kata Ichigo dengan senyum jahilnya.
'Sialan si Ichigo...' batin Rukia. Ia pun menyilangkan tangannya di dada dan berpikir. "Baiklah. Kali ini, tidak apa-apa. Lagipula kan aku yang minta," kata Rukia mengalah. Ichigo pun terkekeh kecil.
"Baiklah... mari kita lihat. Hmmm... yang datang kan tuan Ulquiorra Schiffer. Si direktur perusahaan coklat ya..." gumam Ichigo sambil berjalan menuju lemari pakaian Rukia. "Dan, kudengar ia teman masa kecil anda?"
DEG. Rukia tersentak sedikit. Ia pun berjalan dan duduk di samping kasurnya. "Err... ya. Sudah, hal itu tidak usah dibahas, deh."
Ichigo menatap Rukia sebentar lalu beralih dan kembali ke lemari pakaian Rukia. 'Hmmm? Anda menyukai tuan Ulquiorra, nona Rukia?' batin Ichigo. Setelah memilih-milih sebentar akhirnya Ichigo mengeluarkan beberapa helai pakaian.
"Jika kita mengkombinasikan ini, ini, dan ini, kurasa akan bagus dan manis. Bagaimana menurut anda?" tanya Ichigo sambil menjejerkan pakaian yang dimaksud di atas kasur.
"Hmmm... boleh juga. Baiklah, aku berganti dulu di kamar sebelah," kata Rukia sambil mengambil pakaian tersebut dan berjalan ke kamar sebelah.
5 menit kemudian...
"Hei, Ichigo," kata Rukia sambil membuka sedikit pintu kamarnya. Dilihatnya Ichigo masih sibuk memasang kaca jendela yang baru.
"Ya?" Ichigo segera menghentikan pekerjaannya dan berbalik ke arah Rukia.
"Bagaimana?" tanya Rukia. Dan ia membuka pintunya lebar-lebar dan memperlihatkan sosoknya.
Rukia mengenakan flat shoes berwarna hitam dan stocking hitam. Bajunya adalah dress putih yang tidak berlengan dan panjangnya selutut. Terdapat hiasan pita hitam besar di pinggangnya, dan juga pita-pita hitam kecil di sekitar pinggangnya dan bagian atas dressnya. Sekarang Rukia terlihat seperti boneka lolita yang imut dan manis.
"Wah, pilihan saya memang tepat. Anda manis sekali. Seperti mau pergi ke pesta dansa saja," kata Ichigo sambil tersenyum puas. Dalam hati, ia mengakui bahwa nona-nya ini benar-benar manis dan... cantik.
"Benarkah? Eheheh." Rukia masuk dan berputar-putar pelan di depan cermin besar yang terdapat di kamarnya. Ia pun tersenyum manis melihat dirinya yang sekarang.
"Baiklah. Jendelanya sudah selesai. Dan 5 menit lagi tuan Ulquiorra seharusnya sudah datang. Ayo, kita ke bawah, nona," kata Ichigo sambil melirik jam dinding yang ada di kamar Rukia.
"Hnn," jawab Rukia dan berjalan duluan ke luar kamarnya.
Tepat pukul tujuh malam. Ulquiorra sudah datang. Begitu mendengar bel di depan berbunyi, Ichigo bergegas membuka pintu dan mendapati dua orang sudah berdiri di depan.
Seorang pria dengan rambut hitam agak panjang dan mata hijau yang dingin. Pakaiannya hampir sama dengan yang dikenakan Ichigo. Sementara di belakangnya berdiri seorang wanita yang lebih pendek sedikit darinya. Rambutnya yang berwarna oranye digerai rapi. Ia mengenakan gaun tanpa lengan dengan panjang selutut. Berwarna hitam dipadu dengan kain tipis yang menutupi kedua lengan dan punggungnya. Ia tersenyum sopan ke arah Ichigo.
"Selamat malam, tuan dan nona. Perkenalkan, nama saya Kurosaki Ichigo. Butler keluarga Kuchiki," kata Ichigo sambil membungkuk sedikit dan mempersilakan Ulquiorra dan seorang wanita di belakangnya masuk. Ia pun menuntun Ulquiorra ke ruang tamu yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Tepat melewati grand piano yang berada sekitar 10 meter di depan pintu masuk.
"Rukia suka bermain piano?" tanya Ulquiorra pada Ichigo. (Ulquiorra memanggil Rukia dengan sebutan Rukia karena ia adalah teman masa kecilnya.)
"Ya. Ada apa memangnya?" tanya Ichigo.
"Tidak. Saat kukenal dulu, Rukia membenci musik," kata Ulquiorra.
Ichigo pun terdiam. Setelah sampai di ruang tamu, dilihatnya Rukia duduk di sofa yang menghadap ke jendela. Membuat mereka bertiga tidak dapat melihat wajah Rukia. Menyadari kedatangan mereka bertiga, Rukia berdiri dan segera berbalik.
"Ah, lama tidak jumpa, Ulquiorra!"
"Jadi... dia... tunanganmu?" tanya Rukia sekali lagi setelah Ulquiorra mengenalkan wanita berambut oranye yang bersamanya. Ichigo yang sedari tadi berdiri di belakang Rukia memandang nona-nya dengan tampang prihatin.
"Iya. Aku kemari ingin mengenalkan dia kepadamu. Sekaligus aku ingin bekerjasama dengan perusahaan cake-mu itu," kata Ulquiorra sambil melihat-lihat lukisan yang ada di dinding. "Lagipula, sudah berapa tahun lamanya ya... kita tidak bertemu."
Rukia hanya terdiam. Perasaannya bercampur aduk antara senang, sedih, rindu, dan cemburu. Ia senang akhirnya dapat bertemu dengan Ulquiorra lagi. Tapi ia juga sedih, karena ia tahu ia tidak dapat sering-sering bertemu dengan Ulquiorra. Dan ia juga cemburu, pada tunangan Ulquiorra itu.
"Hmm... begitu ya. Baiklah, salam kenal ya, Orihime-san," kata Rukia sambil mengulurkan tangan kanannya. Orihime tersenyum dan menjabat tangan Rukia.
"Jadi... kau ingin menjalin kerja sama seperti apa?" tanya Rukia.
"Aku ingin kita mengadakan pameran saja. Tapi... kudengar kau sekarang suka bermain musik, ya? Mungkin kita bisa sekalian mengadakan konser untukmu," kata Ulquiorra.
"Eh? hmm... ide bagus, sih. Menurutmu, Ichigo?" tanya Rukia sambil menengok pada Ichigo.
"Silahkan saja, saya tidak keberatan," kata Ichigo sambil sesekali melirik Orihime. Ia merasakan hal yang aneh pada si tunangan Ulquiorra ini.
"Baiklah. Setuju. Kapan?" tanya Rukia.
"Secepatnya. Bagaimana 2 minggu lagi?" tanya Ulquiorra.
"Deal!" Rukia pun mengulurkan tangannya. Dan Ulquiorra menjabatnya dengan mantap.
Pukul delapan malam. Terdengar suara sendok beradu dengan piring di ruang makan yang luas di kediaman Kuchiki. Meja makannya panjang, cukup untuk digunakan oleh 10 orang. Tetapi, hanya ada satu orang yang duduk. Dan juga seorang lagi yang sedang berdiri di belakangnya.
"Hei, Ichigo. Aku bingung. Apakah iblis benar-benar tidak makan?" tanya Rukia sambil melirik Ichigo yang sedari tadi diam saja di belakangnya.
"Kami makan. Tapi, kami tidak makan makanan manusia," kata Ichigo.
"Wew. Bagaimana jika kau coba saja makanan manusia? Daripada diam terus disitu. Tidak enak tahu," kata Rukia. "Lagipula aku kesepian kalau makan sendiri terus! Ayo, duduk sini! Di sebelahku!" kata Rukia sambil menggeser kursi di sebelahnya.
Mau tak mau Ichigo pun duduk di sebelah Rukia.
"Sini, aaaam..." kata Rukia sambil mengarahkan garpu dengan potongan steak ke mulut Ichigo. Ichigo hanya diam saja. "Hei, buka mulutmu!" seru Rukia karena Ichigo tidak kunjung membuka mulutnya.
"A... bagaimana jika aku makan sendiri saj—upph!" ya, dan Rukia menggunakan kesempatan di saat Ichigo sedang berbicara untuk menjejalkan steak di garpunya ke mulut Ichigo.
"Ahahaha! Kena kau!" seru Rukia gembira.
Ichigo hanya menatap Rukia dengan agak kesal. Ia pun mengunyah steak buatannya sendiri dan meresapi rasanya. 'Rasanya... biasa saja. Tapi, sepertinya ini menjadi lebih lezat... kenapa? Apakah karena ada kehangatan seorang Kuchiki Rukia disini?' batin Ichigo. Sebenarnya, dalam hati ia merasa sedikit lega disaat melihat wajah Rukia yang bahagia seperti ini. Tidak seperti saat ada Ulquiorra tadi.
Dan, di kejauhan sana, di balik kegelapan malam. Terlihat sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan sebuah seringai yang menyeramkan.
"Cepat atau lambat... ahahah... bersiaplah... Kurosaki Ichigo..." gumamnya.
To Be Continued
*mille-feuille asal Prancis, di dapat dari wikipedia. Well, itu bener ga ya? *tidak bertanggung jawab
Selesai. Kok jadi geje, ya? DX yah, namanya juga author tidak sempurna. Kadang2 fic pasti gaje. Chapter kedepan semoga lebih bener, ya.
Anyway, selamat tahun baru ya! Apa rencana dan harapan kalian di tahun depan? Rencana author sih... pingin sukses kalo-kalo author ikut konser piano atau biola. Eheheh. Dan... masih banyaaak lagi.
Thanks for the reviews!
Wi3nter : Tujuan Ichi bikin kontrak? Yaah... gitu deh. Sebenernya udah pernah dijelasin, tapi apa kurang jelas? Nanti deh, pasti diperjelas kok~ yah, saya harap chapter ini udah banyak scene IchiRuki nya yaa~
Sayuukyo Akira Recievold : Ngga, ga ada Ciel... ga ada Sebas juga... #authorpundung #ehloh soalnya ini bukan crossover XD
ruki-darklight17 : daan... sekarang apdet lah chapter 3 yang geje dan garing abis DX Iya tuh iyaa! si byakun... TEGA! #dibankaibyakuya apakah iblis punya perasaan? Well, kalo iblis di versi fic ini sih... ya gitu. Kayakny chapter yg ini menjelaskan hal itu ya? XD
choCo purPLe : Kyaa~ Sebastiaan~~! #gila yang ngeliatin Rukia... udah dijelasin di chap ini^^ beneran Byakun mau jual Rukia? Just see next chapter!
Kyu9 : Iya, Byakun tega... #digampar hmm... saya gak pinter bikin romance XD tapi, saya usahakan~ waaah... MAKASIH! makasih udah faave! #lebe
mamoru okta-chan lemonberry : adegan romance IchiRuki... *ngebayangin yang aneh2 aaah! aku ga pinter bikin romaance! #depresi tapi, akan saya usahakan^^ GinRan dan IshiNemu? Hmm.. saya usahakan juga~
Dee : wahahah, tapi kayakny chap ini ga bikin penasaran... #pundung
Kurosaki Mitsuki : Makasih^^ yosh, emang asik. Author aja sampe iri... #dasar
Icchy La La La : ... ettoo... mungkin chap ini ga bikin penasaran... #hiiks eh? ko ingin ketawa? padahal Ichigo disini sama sekali tidak mengeluarkan aura kocak! aura dia itu suram! S-U-R-A-M! #digamparIchigo
QRen : Makasih^^ semoga chap ini seru ya!
Rakha Matsuyama : Makasih^^ yosh, ini udah apdet~!
Loonatic Aqueous : Yosh, ni udah apdet! Maaf kalo g kilat... kapasitas inspirasi author terbataas! #nangisgeje yang bikin Ichigo kecewa? Eeh... apa ya... *author yang tidak bertanggung jawab.
Maaf jika ada kesalahan penulisan pen-name. Mau review lagi?
