~BLUE MOON~ / PART 3

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Judul : Blue Moon

Author : Ciel Bocchan a.k.a Febi N Maulida

Genre : Romance, Fantasy, Action, Drama, Supernatural, Comedy, AU, Drama

Pairing : NaruHina (Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)

Rating : T


"Kau harus tetap di sisinya. Lakukan apa yang tak pernah bisa kulakukan untuknya, Naruto. Dia adalah orang yang berharga bagi kita..."

Naruto mendadak terbangun dari tidurnya dalam keadaan kaget. Ia mendengar suara itu dalam tidur singkatnya. Itu suara Ashura. Ia sangat yakin.

"Batalkan kontak itu" kata Nagato tegas sambil berjalan keluar dari kamarnya dengan sebuah ransel di punggung. Naruto duduk dengan kening mengerut. Ia ternyata tertidur di atas meja rendah di atas tatami. Jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Sudah berapa lamakah ia tertidur sejak Ino pulang beberapa jam lalu?

"Kau sudah mau pulang?" tanya Naruto yang hanya melihat Nagato yang sudah duduk di atas tatami dengan ransel yang terus menempel di punggugngnya. Hyuuga Hinata duduk di samping Naruto. Gadis rubah itu tetap di sana selama Naruto tertidur tadi. Nagato terus saja menyuruh Hinata untuk pergi sementara ia memasukkan pakaiannya ke dalam ransel.

"Dengar, Naruto. Gadis rubah ini tak ada hubungannya dengan kita. Kalau memang kau adalah reinkarnasi dari orang yang dia kenal, itu sama sekali bukan masalah karena kau adalah kau yang sekarang. Masa lalu tak bisa mengganggu hidup kita. Batalkan kontrak itu agar gadis rubah ini..."

"Nagato!" suara keras Naruto menghentikan ocehan Nagato. Hinata yang tadinya sedang menatap Nagato sangat marah akhirnya beralih menatap Naruto yang tiba-tiba terlihat marah.

"Jangan berkata seperti itu padanya. Aku memang tidak ingin dia berada bersamaku selamanya. Aku juga ingin dia tidak menggangguku" kata Naruto sambil menatap tajam pada Nagato. Hinata kaget mendengar kalimat itu. Ia benar-benar tidak bisa lagi berada di dunia ini tanpa Ashura, tanpa Naruto. Jika pemuda itu tak menginginkannya lagi, maka, semua akan berakhir dalam sekejap.

"Tapi, aku merasa aneh pada diriku sendiri. Aku seperti benar-benar terikat oleh sesuatu yang tak nyata antara aku dan Hinata. Semakin aku berpikir untuk lepas darinya semakin kuat ikatan itu menarikku agar tetap berada di sisinya. Aku memikirkannya sejak Hinata muncul pagi tadi. Aku berpikir bagaimana agar aku bisa membuatnya pergi dari sini. Tetapi, semua yang dia lakukan memancing perhatianku. Aku juga bersikap aneh seolah-olah aku telah sangat mengenalnya"

Hinata tercengang mendengar penyataan Naruto. Gadis rubah itu ingin menangis. Ia ingin menangis dan memeluk Naruto. Kontrak itu memang mengikat mereka. Salah satu dari mereka tidak akan bisa meninggalkan yang lain selama kontrak itu masih ada. Namun, kontrak bukanlah sesuatu yang sebenarnya mengikat Naruto dan Hinata. Dahulu, Ashura begitu mencintai Hyuuga Hinata. Pria itu tidak pernah ingin meninggalkan Hinata. Begitu juga sebaliknya. Bagi Hinata, Ashura adalah segalanya. Mereka terikat oleh cinta dan rasa percaya yang terlalu kuat. Karena dahulu manusia banyak yang mengincar Yokai terkuat. Dan Yokai mengikat manusia yang menurut mereka pantas menjadi majikan. Rasa khawatir akan kehilangan tersebutlah yang membuat Ashura dan Hinata akhirnya membuat kontrak dihadapan Dewa.

"Aku tidak akan pernah meninggalkan Ashu...Naruto" tegas Hinata

"Lihat, kau terus saja memanggilnya Ashura. Itu berarti kalau yang sebenarnya kau inginkan itu bukanlah Naruto melainkan Ashura. Walaupun Naruto adalah reinkarnasi dari pria itu. Tapi, Naruto jelas sangat berbeda. Kau hanya akan mengganggu hidupnya jika terus berada di dekatnya. Jadi, lebih baik batalkan saja kontrak kalian" Nagato tetap bersikeras ingin Hyuuga Hinata agar tidak mengganggu Naruto lebih jauh lagi.

"Aku akan membatalkan kontrak tersebut jika Naruto yang menyuruhku" kata Hinata tegas. Gadis itu menatap Nagato penuh amarah. Ia lalu beralih pada Naruto. Menatap pemuda itu untuk menemukan adakah sedikit saja perasaan Ashura yang tertinggal dalam dirinya. Bahkan jika kontrak itu tidak ada. Hinata tahu kalau Ashura akan tetap bersamanya. Pria itu sudah berjanji di depannya. Dihadapan Dewa. Mereka sudah saling berjanji di depan Dewa agar apa dan siapapun tidak akan pernah bisa memisahkan mereka kecuali maut. Kontrak itu hanya untuk membuat segel agar Yokai dan manusia lain tak ada yang mengincar mereka.

"Lakukan, Naruto. Kita harus kembali pada kehidupan normal kita" kejar Nagato sambil menatap Naruto dengan tatapan memaksa.

Naruto terdiam. Ia juga ingin melakukan semua yang telah Nagato katakan padanya. Ia ingin hidupnya normal dan tetap seperti biasa. Tetapi, Hyuuga Hinata tidak bisa ia abaikan begitu saja. Pikirannya ingin sekali menyuruh gadis rubah itu untuk pergi. Tapi hatinya sungguh menolak. Hati dan pikirannya menjadi tak sejalan lagi. Ketika suara tadi tiba-tiba muncul dalam tidurnya, Naruto benar-benar ingin melakukan apa yang suara itu katakan. Itu Ashura. Ia tahu. Ia bisa merasakan jiwa pria itu memang berada dalam dirinya. Bahwa dirinya memang adalah Ashura. Dan Naruto tahu kalau Hyuuga Hinata adalah orang yang sangat penting bagi pria bernama Ashura itu. Ia bisa merasakannya. Bagaimana perasaannya yang paling dalam berusaha bangun dan menyambut Hyuuga Hinata.

"Apa semua orang yang bereinkarnasi tidak dapat mengingat siapa mereka sebelumnya?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Tergantung apakah di kehidupan sebelumnya mereka masih memiliki beban atau tidak. Kau tidak memiliki ingatan apapun tentang siapa dirimu di masa lalu. Aku tidak tahu kalau kau tidak akan mengingatku. Ootsutsuki tidak mengatakan apapun saat berjanji padaku"

"Berjanji? Janji apa?" tanya Naruto. Hinata melirik sebentar ke arah Nagato. Ia tidak bisa menceritakan masa lalunya dengan Ashura di depan orang asing seperti Nagato yang jelas tidak menyukainya. Naruto mengerti situasi ketika Hinata melihat tajam ke arah sepupunya itu.

"Ootsutsuki yang kau maksud itu...Dewi Ootsutsuki?" tanya Nagato

"Memangnya ada yag lain?" Hinata malah balik bertanya karena ia pikir ada Ootsutsuki lain selain yang ia maskud.

"Tentu saja tidak ada" sela Naruto

"Kau membuat janji dengan seorang Dewi?" seru Nagato kaget. Tentu saja pemuda itu kaget. Ia tidak pernah tahu kalau ada yokai rubah atau yokai apapun yang berani membuat perjanjian dengan Dewa. Dan Hyuuga Hinata membuat janji dengan Dewi Ootsutsuki. Apa yang begitu diinginkan gadis rubah itu sampai berani membuat perjanjian denga Dewa yang sudah pasti siapapun yang membuat janji dengan Dewa-Dewi maka bayarannya haruslah setimpal dengan apa yang mereka inginkan. Setidaknya itulah yang Nagato tahu.

"Kenapa kau berani membuat janji dengan Dewa?" tanya Nagato

"Bukan urusanmu" sahut Hinata. Naruto hanya tersenyum kecil mendengar betapa ketusnya suara gadis rubah itu menjawab pertanyaan Nagato.

"Baiklah-baiklah. Jadi, bagaimana kalau kau pergi sekarang karena aku juga mau pulang. Kita bisa keluar bersama dari apartemen ini" kata Nagato sambil berdiri dan berjalan menuju pintu apartemen. Naruto ikut berdiri untuk mengantar Nagato sampai ke halte depan. Hinata juga ikut berdiri ketika melihat Naruto berdiri.

"Aku tidak akan pergi dari Naruto. Aku akan tetap bersamanya. Dan ingat ini. Aku tidak suka berdekatan dengan orang yang berbau anjing sepertimu" kata Hinata yang berjalan tepat di sisi Naruto. Nagato berjalan agak jauh dari dua orang itu. Pemuda itu melihat Yamainu yang ternyata sudah berjalan jauh di depan mereka untuk menjaga jarak dengan Hyuuga Hinata. Nagato tidak tahu kenapa rubah dan anjing itu terlihat saling tidak menyukai. Nagato tidak menyangka kalau hidup normalnya sudah berakhir sejak dua yokai itu muncul pagi tadi.

Hinata berjalan sambil melihat sekelilingnya. Gadis rubah itu bahkan belum sempat melihat dengan detail bagaimana dunia telah berubah ketika pagi tadi ia langsung menemui Ootsutsuki dengan kecepatannya. Ia takjub melihat dunia yang ternyata telah berubah sangat jauh. Jalanan yang ramai. Suara-suara. Kereta-kereta yang berjalan sendiri tanpa kuda. Dan masih terlalu banyak yang gadis rubah itu tak kenali. Ketika akhirnya perhatiannya tertuju pada beberapa orang yang ternyata menatapnya dengan aneh setiap kali melewati manusia-manusia itu. Apa ada yang salah dengannya? Pikir Hinata.

Mereka akhirnya sampai di halte. Ketika pintu bus terbuka Hinata secara reflkes memegang salah satu lengan Naruto. Pemuda berambut kuning itu kaget dan menoleh pada Hinata.

"Kenapa?"

"Kau mau pergi?"

"Aku? Tidak. Kita hanya mengantar Nagato" ujar Naruto heran. Tapi Hinata malah memegang lengannya semakin erat. Gadis rubah itu terlihat benar-benar takut kalau Naruto akan pergi.

Nagato menghela nafas melihat bagaimana Hyuuga Hinata benar-benar lengket dengan Naruto. Dan Naruto, apa yang sepupunya pikiran? Hyuuga Hinata sudah jelas bukan manusia. Gadis itu hanya seekor yokai rubah yang datang dari masa lalu. Siapa peduli dia kembali untuk mencari pria bernama Ashura itu? Naruto bukan pria itu meskipun dia adalah reinkarnasinya. Naruto seharusnya tahu juga kalau ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis rubah itu. Sangat mudah sebenarnya bagi Naruto agar Hinata bisa segera pergi. Hanya tinggal membatalkan kontrak antara mereka dan semuanya akan selesai. Nagato juga hanya tinggal menyuruh Yamainu untuk pergi. Kemudian kehidupan normal mereka akan kembali.

"Tunggu!" seru Hinata tiba-tiba saat Nagato sudah naik ke dalam bus. Pemuda itu menoleh. Dan Hinata menggenggam lengan Naruto dengan kedua tangannya semakin erat.

"Katakan pada Tetua klanmu kalau aku kembali untuk mengambil Naruto. Aku yakin mereka sudah tahu. Jika mereka melawanku. Aku bisa menyingkirkan semua orang yang akan membuatku dan Naruto terpisah. Tidak akan kubiarkan siapapun mengambil Naruto dariku lagi. Tidak juga Dewa" peringat Hinata dengan wajah serius. Naruto tertegun sambil menatap ke arah gadis itu. Ketika ia manatap wajah itu. Rindu yang sangat dalam di hatinya terus saja meluap. Naruto tidak tahu apa yang pernah terjadi antara dirinya di masa lalu dengan Hyuuga Hinata. Tetapi, Naruto bisa merasakan kalau gadis rubah itu sangat mencintai pria bernama Ashura. Yang berarti itu adalah dirinya sekarang. Namun, Naruto belum menemukan perasaan apapun dalam dirinya untuk Hyuuga Hinata. Ia hanya menyadari kalau dirinya merindukan gadis itu.

"Seberapa pentingkah pria bernama Ashura itu bagimu?" tanya Nagato

"Lebih penting dari hidupku. Sebagai apapun dia bereinkarnasi perasaanku tidak akan pernah berubah. Aku akan tetap di sisi Naruto. Jika kalian tidak suka. Maka kita adalah musuh"

"...Hinata" gumam Naruto. Untuk pertama kalinya Naruto benar-benar merasa sebagai orang yang paling diinginkan di dunia.

"Kau dengar itu Naruto? Aku akan memberitahu paman dan bibi" kata Nagato lalu kembali masuk ke dalam bus diikuti Yamainu. Yokai anjing itu memberi peringatan pada Naruto agar berhati-hati terhadap Hinata sebelum dia ikut naik bersama Nagato. Bus lalu kembali melaju. Naruto melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul empat sore. Pemuda itu menoleh pada Hyuuga Hinata lalu bertanya.

"Sekarang, kau akan kemana?" tanyanya

"Kemana?! Aku tidak akan kemana-mana. Tentu saja aku akan bersamamu" jawab Hinata heran dengan pertanyaan Naruto.

"Ap-apa? Kau tidak bisa tinggal denganku"

"Kenapa tidak bisa?"

"Ya jelas tidak bisa. Lagipula, apa kau menginginkan sesuatu dariku?"

"Aku mencintaimu. Sebagai apa dan siapapun Ashura bereinkarnasi aku akan tetap mencintainya. Aku akan berada di sisinya, yang berarti aku akan berada di sisimu. Dan berapa kalipun kau akan bereinkarnasi nantinya. Aku sudah mengatakan tujuanku sejak awal. Ashura adalah segalanya bagiku. Kau juga" jelas Hyuuga Hinata.

Naruto bingung. Bagaimana ia harus menghadapi gadis rubah itu. Meskipun Hyuuga Hinata ingin berada di sisinya. Mengatakan kalau ia mencintainya atau apapun. Tapi tidak mungkin ia akan membiarkan gadis itu tinggal di apartemennya. Tidak. Naruto benar-benar ingin gadis rubah itu menjauh darinya tapi hatinya menolak. Sebagian dari dirnya ingin gadis rubah itu pergi dan sebagian lainnya ingin terus bersama gadis rubah itu. Apakah mungkin sebagian dirinya yang tetap ingin bersama gadis itu adalah Ashura?

"Aku akan tinggal bersamamu" tegas Hinata

"Hah? T-tidak bisa..."

"Kau tidak perlu memberiku makan. Aku bisa mencari makananku sendiri. Kau juga tidak perlu memberiku uang atau apapun. Aku hanya ingin tinggal bersamamu. Aku harus menjagamu. Kau tidak akan tahu siapa saja yang akan mengincarmu karena musuh sadar bahwa aku telah kembali"

" Aku tidak mempermasalahkan makanan atau uang. Kau memang tidak bisa tinggal bersamaku. Kita bukan keluarga. Orang-orang akan berpikiran macam-macam kalau kita tingga bersama"

"Kalau begitu kau tinggal mengatakan pada mereka kalau aku keluargamu" ujar Hinata

"Kau tahu. Semua ini sangat terasa aneh bagiku. Aku hanya siswa biasa yang tiba-tiba didatangi yokai sepertimu. Aku belum bisa sepenuhnya berpikir dengan jernih. Biarkan aku membicarakan ini dengan orangtuaku dulu" jelas Naruto

"Apa itu berarti kau menolakku?" pertanyaan tiba-tiba Hinata membuat Naruto sangat kaget. Pemuda itu menatap wajah Hinata yang berubah dingin. Wajah gadis itu dingin dan sedih. Ada amarah di sana.

"Apa itu berarti kau menolakku?" Hinata mengulang pertanyaan yang sama. Naruto terdiam. Bagaimana ia harus menjawabnya?

"Tapi aku tetap tidak bisa memaksa untuk berada di sisimu kalau kau tidak menginginkanku. Seharusnya aku sadar itu. Kau memang reinkarnasi Ashura. Jiwa kalian sama. Tapi kau entah kenapa berbeda darinya. Dalam beberapa hal. Beberapa hal seperti kau tak ingin aku di sisimu. Kau bahkan tidak bisa mengingatku. Sekarang, semuanya terserah padamu. Kau bisa menolak atau menyuruhku pergi. Tapi aku akan tetap mengawasimu. Sudah kukatakan kalau Ashura adalah segalanya bagiku. Aku bisa merasakannya. Kalau kau tidak menerimaku sejak awal. Kontrak kita bisa kubatalkan jika kau mau. Dengan atau tanpa kontrak yang mengikat kita itu, aku akan tetap bersamamu. Menjagamu meskipun aku tidak bisa berada di sisimu" jelas Hinata. Naruto tertegun lagi. Setiap kali Hinata berbicara tentang dirinya dan Ashura membuat Naruto tak bisa berhenti kaget dan takjub pada gadis rubah itu. Bagaimana yokai sepertinya bisa begitu mencintai seorang manusia? Menunggunya bahkan hingga ratusan tahun lamanya. Dak ketika akhirnya Ashura bereinkarnasi menjadi dirinya, Naruto tidak bisa mengingat seperti apa dirinya dulu. Bagaimana dia sebelum bereinkarnasi.

"Ayo pulang" kata Naruto akhirnya. Ia tidak tahu bagaimana harus memperlakukan gadis itu. Namun untuk saat ini, ia akan mengikuti keinginan Ashura untuk tetap bersama gadis itu. Entah sampai kapan.

"Pulang?" seru Hinata

"Pulang. Kau mau ikut denganku, bukan?"

"Ya" sahut Hiinata dengan senyum kecil. Mereka kemudian berjalan pulang menuju apartemen Naruto. Hinata tidak bisa berhenti menatap pemuda itu. Ia terlalu merindukan Ashura setelah ratusan tahun ia menunggu pria itu bereinkarnasi. Bahkan waktu satu tahun tak cukup baginya untuk membayar rindu selama ratusan tahun itu.

OoooO

Malam yang dingin. Hyuuga Hinata mendatangi kuil Dewi Ootsutsuki untuk kedua kalinya. Gadis rubah itu ingin Ootsutsuki menjelaskan secara langsung kenapa Ashura sampai bisa kehilangan ingatannya. Saat ia meminta agar Ashura dilahirkan kembali, Ootsutsuki tidak mengatakan apapun tentang hilang ingatan atau apapun. Dan lagi, Hinata bisa meraskan kalau masih banyak yokai di dunia ini. Gadis rubah itu juga bisa merasakan keberadaan Indra. Entah itu hanya perasaannya atau tidak. Namun, jika Indra juga bereinkarnasi, bagaimana bisa? Kenapa Indra harus dilahirkan kembali?

Gadis kelinci pelayan Ootsutsuki keluar dan menemui Hinata yang menunggu di depan keluar karena tak bisa masuk.

"Dewi akan menjelaskannya pada Anda" kata pelayan itu sambil terbang di belakang Hyuuga Hinata. Pelayan kelinci itu lalu menempelkan telapak tangannya di pundak Hinata.

"Senang kau kembali, Hinata" suara Ootsutsuki tiba-tiba terdengar di kepalanya. Sepertinya ia hanya bisa berbicara dengan Ootsutsuki melalu cara ini.

"Ootsutsuki, jelaskan semuanya padaku!"

"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu melalui surat itu? Aku lupa memberitahumu kalau salah satu resiko jika Ashura dilahirkan kembali adalah ia akan kehilangan seluruh ingatannya. Pada dasarnya jika di masa lalu seseorang memiliki yokai dan masalah yang belum terselesaikan, ia tidak akan kehilangan ingatannya ketika dilahirkan kembali. Tapi berbeda pada Ashura. Dia tak boleh mengingat apapun. Dan aku sudah mengatakannya padamu saat kau memohon dahulu. Bahwa dosa yang pernah Ashura lakukan seharusnya membuat dia tak bisa bereinkarnasi. Tapi kau memohon dan memaksaku dengan bayaran yang fatal itu"

"Bagaimana kau bisa lupa dengan hal penting seperti itu?"

"Karena aku mencemaskanmu, Hinata. Kau meminta hal yang seharusnya tak boleh siapapun minta. Membuat Ashura bereinkarnasi adalah kesalahan besar. Tapi kau bersedia menanggungnya demi manusia itu. Ingatannya hilang adalah salah satu resiko baginya. Dan juga...salah satu dari akibat yang telah tejadi padamu saat ini adalah...kau pasti sudah menyadarinya, bahwa kekuatan sihirmu menurun. Aku tahu kalau kau hehilangan tiga dari enam ekor yang kau miliki"

Hinata sedikit kaget mendengar kalimat terahir Ootsutsuki. Ya, sebenarnya Hinata kaget ketika ia berubah dalam wujud rubahnya pagi tadi dan hanya tiga dari enam ekornya yang muncul. Jadi, itu pertanda kalau kekuatannya telah menurun?

"Lalu, apa ingatannya akan kembali?"

"...Tidak. Sejak awal aku sudah memberitahumu kalau kalian tidak mungkin bersama. Terlalu banyak hal bodoh dan membahayakan yang kau lakukan demi Ashura"

"Jangan membohongiku Ootsutuki. Aku tahu kau tak pernah ingin aku bersama Ashura. Ingatannya pasti akan kembali jika aku terus berada di sisinya, bukan?"

"Tidak, Hinata. Ingatannya tak akan pernah kembali. Dunia kalian sudah menjadi semakin berbeda. Uzumaki Naruto hanya siswa biasa dan hidup di dunia baru di mana kepercayaan tentang adanya yokai telah hilang. Dan tak pernah lagi ada perang yang terjadi. Kau harus menerima kenyataan. Batalkan kontrak yang telah kalian lakukan dan bebaskan dirimu dari pria itu. Kau bisa membuat Uzumaki Naruto tetap hidup aman dengan tak berada di sisinya"

"Kau tahu aku tak bisa hidup tanpa Ashura"

"Ya. Aku tahu"

"Kalau begitu berhenti memaksaku untuk pergi dari sisi Uzumaki Naruto. Tidak ada siapa dan apapun yang bisa membahayakannya selama aku berada bersamanya"

"Pikirkanlah dirimu juga. Semuanya akan berakhir jika kau mati"

"...Aku tahu."

OoooO

Naruto terbangun tepat saat alarm di kamarnya berbunyi. Pemuda itu lalu berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Hinata. Bekas kamar yang ditempati Nagato. Pintunya terbuka dan ia tak menemukan gadis itu di sana. Saat pulang dari halte sore kemarin, mereka sempat bertemu dengan salah satu tetangga apartemen Naruto. Naruto akhirnya memperkenalkan Hinata sebagai sepupunya yang baru saja datang berkunjung ke Tokyo untuk mengikuti pentas drama. Itu untuk menyamarkan pakaian aneh gadis rubah itu. Setelah itu, Naruto ingat kalau Hinata bilang akan pergi ke suatu tempat. Sampai malam tiba gadis itu belum juga kembali. Naruto akhirnya tidur lebih dulu tanpa mengunci pintu apartemen agar gadis itu bisa masuk saat pulang nanti.

"Oh, aku sudah bangun" suara Hinata tiba-tiba terdengar di belakangnya. Naruto menoleh dengan wajah kaget.

"Apa yang kau lakukan?"

"Huh? Aku membuatkan ini untukmu" katanya sambil memperlihatkan lima tusuk dango di atas piring di tangannya. Naruto melihat ke arah dango tersebut.

"Kau bisa membuat dango?" tanya Naruto kaget

"Ya. Dulu Ashura suka sekali makan dango. Jadi aku belajar membuatkan dango untuknya. Apa kau juga suka dango? Kalau tidak aku bisa membuangnya"

"Tidak. Jangan...Aku suka dango" kata Naruto cepat. Hinata tersenyum kecil. Dalam hatinya gadis itu bergumam kalau Naruto benar-benar adalah Ashura meskipun dia kehilangan ingatannya.

"...Aku mau siap-siap berangkat ke sekolah. Kau bisa menaruhnya di meja depan" kata Naruto lalu segera beranjak menuju kamarnya. Naruto merasa kalau dirinya benar-benar seperti Ashura. Jadi dulu Ashura juga suka makan dango? Dan gadis rubah itu bisa membuatkannya untuknya? Bagaimana cara gadis yang bukan manusia itu bisa membuatkan makanan untuk Ashura?

"Kau membuat dengan alat-alat di dapur?" tanya Naruto ketika beberapa menit kemudian ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

"Ya. Aku menanyakan cara membuat dango dengan alat seperti itu pada tetanggamu. Dulu saat aku membuatkan untuk Ashura caranya berbeda. Dunia sekarang menggunakan mesin agar semuanya berjalan lancar bahkan untuk membuat makanan"

"Jadi kau sering membutkan Ashura dango"

"Ya. Aku membuatkannya setiap pagi dan sore. Katanya dia sangat menyukai dango buatanku. Kau tahu, aku belajar membuat dango yang benar hampir satu bulan"

Naruto takjub pada bagaimana besar rasa cinta gadis rubah itu pada Ashura. Pria seperti apakah Ashura itu hingga yokai seperti Hyuuga Hinata bisa sangat mencintainya bahkan menunggunya bereinkarnasi selama ratusan tahun. Naruto ingin tahu. Ia ingin tahu seperti apa dirinya di masa lalu. Bagaimana ia yang manusia bisa jatuh cinta pada yokai.

"Kau juga ingin makan seperti yang Nagato masak kemarin pagi?" tanya Hinata ketika Naruto sudah duduk dan makan dango buatannya.

"Kenapa?"

"Aku bisa belajar membuat makanan seperti itu untukmu"

"Hah? T-tidak usah. Aku bisa memasaknya sendiri...Aah, ini enak"

"Kalian mengatakan hal yang sama" gumam Hinata pelan.

Naruto selesai memakan lima tusuk dango tersebut. Sebenarnya ia ingin sarapan. Tapi, karena Hinata sudah membuatkannya dango. Pemuda itu bisa makan saat di sekolah nanti. Pikir Naruto, pasti Nagato sudah memberitahu Ayah dan Ibu mengenai Hyuuga Hinata. Walaupun sampai pagi ini mereka sama sekali belum menelpon.

"Aku mau berangkat sekolah. Kau tetap di sini. Jangan kemana-mana sampai aku kembali"

"Sekolah?"

"Belajar" sahut Naruto. Hinata mengangguk-angguk sambil berjalan mengikuti Naruto sampai di depan pintu.

"Dengarkan aku. Kalau ada orang yang mencurigakan datang, jangan biarkan masuk ke dalam. Kalau kau lapar, masih banyak daging di dalam kulkas. Jangan memakannya saat masih mentah. Jangan keluar dari sini karena orang-orang akan curiga padamu"

"Um. Baiklah. Apa aku tidak boleh ikut denganmu?"

"Tidak boleh. Aku berangkat" kata Naruto hendak berjalan menyusuri koridor pendek apartemen ketika Hinata tiba-tiba menarik ujung lengan seragamnya. Naruto menoleh heran dengan kening mengerut. Gadis rubah itu tiba-tiba memeluknya dengan wajah sedih. Naruto menghela nafas. Begitu takut dan cemaskah Hyuuga Hinata ketika ia harus pergi walaupun hanya untuk pergi sekolah?

"...Aku akan pulang cepat hari ini" kata Naruto akhirnya. Dalam hatinya ia menggerutu. Kenapa ia harus menjanjikan hal seperti itu pada Hinata? Kenapa ia harus meninggalkan latihan Kyudo-nya demi gadis rubah itu?

"Naruto, hati-hati" gumamnya pelan setelah melepas pelukannya dari Naruto.

"Tidak ada yang akan membahayakanku" sahut Naruto dengan senyum kecil lalu berjalan melewati koridor pendek tersebut kemudian menuruni tangga. Karena apartemennya ada di lantai dua. Sebenarnya, Naruto sedikit cemas meninggalkan Hinata sendirian di apertemennya. Dan lagi, kenapa sejak awal Naruto sama sekali tidak takut setelah tahu bahwa gadis itu aslinya hanyalah seekor yokai rubah yang bisa berubah wujud menjadi manusia.

OoooO

"Sasuke-sama, saya memang tidak bisa mencium bau dengan tajam. Tapi saya yakin kalau saya mencium bau rubah dari tubuh Naruto-sama" bisik Aoda pada Sasuke ketika Naruto yang baru saja datang menyapa mereka kemudian langsung masuk ke dalam kelas.

"Apa itu bau rubah yang Tengu maksud?"

"Entahlah. Tapi baunya memang bau rubah perempuan"

Sasuke menoleh ketika tiba-tiba Gaara datang setengah berlari ke arahnya.

"Sasuke, apa rubah perempuan itu benar-benar telah kembali?" tanya Gaara dengan suara tertahan agar tak ada yang mendengar.

"Kau tahu tentang rubah perempuan itu?" tanya Sasuke kaget

"Semua yokai membicarakannya. Tapi tak ada yang tahu dia di mana. Shukaku bilang kalau rubah itu sepertinya menutupi baunya" kata Gaara lagi

"Gaara-sama, aku mencium bau rubah perempuan di sini" kata Shukaku yang ada di samping Gaara. Namun yokai itu juga seperti Aoda, bisa membuat diri mereka tak terlihat oleh manusia biasa.

"Baunya berasal dari tubuh Naruto" gumam Sasuke

"Hah? Bagaimana bisa?" seru Gaara. Sasuke menggeleng.

"Apa Naruto jangan-jangan sudah bertemu rubah itu?" tebak Gaara

"Apa kita harus bertanya?" tanya Sasuke pelan. Wajah Gaara langsung terlihat ragu. Kalau mereka tiba-tiba bertanya tentang yokai rubah perempuan pada Naruto dan ternyata Naruto tidak tahu apa-apa, bagaimana? Tapi bau rubah perempuan itu jelas berasal darinya. Tidak mungkin kalau itu hanya kebetulan. Apa yang Sasuke dan Gaara ketahui sebenarnya berbeda. Yang Sasuke tahu adalah bahwa yokai rubah akan bangkit kembali untuk mencari reinkarnasi Ashura yang kemungkinan besar adalah Naruto. Sementara yang Gaara tahu adalah bahwa ada yokai rubah perempuan yang akan bangkit kembali ketika bulan biru untuk membalaskan dendam yang di masa lalu pada seseorang yang telah bereinkarnasi sekarang.

Bel masuk berbunyi ketika mereka sedang berpikir apakah mereka akan langsung bertanya pada Naruto atau tidak. Namun, kesimpulan akhir yang disampaikan Sasuke pada Gaara adalah; mereka belum boleh berbicara apapun sebelum Naruto sendiri yang berbicara. Dan lagi, jika kemungkinan Naruto sudah bertemu dengan rubah perempuan itu pasti sepupunya Nagato pasti sudah tahu. Karena Nagato juga memiliki yokai yang bisa memastikan keberadaan rubah itu lebih detail daripada mereka.

"Kenapa kau terus melihatku?" tanya Naruto sambil mengeluarkan buku-buku pelajarannya setelah Sasuke masuk ke dalam kelas. Naruto sadar kalau sejak ia sampai di sekolah, temannya itu selalu memperhatikannya dengan wajah serius.

"...Naruto, apa kau percaya pada keberadaan yokai?" Sasuke akhirnya bertanya juga karena merasa tidak sabar ingin mengetahui tentang rubah perempuan yang mencari Naruto.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" sahut Naruto tanpa melihat pada Sasuke dan malah membuka-buka buku pelajarannya.

"Aku hanya ingin tahu karena kau tak pernah terlihat percaya pada mereka"

"Aku percaya. Dan apa kau sudah pernah melihat yokai secara langsung?"

"Aku bahkan memelihara satu ekor" gumam Sasuke

"Apa?" Naruto menoleh padanya

"Huh? Tidak apa-apa"

Naruto bahkan tidak bisa sedetikpun tidak memikirkan Hyuuga Hinata sejak ia meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen. Ia cemas membiarkan gadis yang tak tahu apapun tentang dunia yang baru ini tinggal sendirian di apartemen meskipun hanya sementara. Naruto juga belum mendapatkan ide apapun tentang apa yang harus ia lakukan pada gadis itu untuk ke depannya. Tidak mungkin kalau Hinata akan tinggal di apartemennya selamanya.

Aoda melihat sebentar ke arah Naruto yang sedang memperhatikan guru di depan namun kedua matanya tak menunjukan kalau dia ada di dalam kelas.

"Naruto-sama seperti sedang gelisah" bisik Aoda pada Sasuke yang juga sedang memperhatikan pelajaran yang disampaikan guru di depan kelas. Sasuke langsung melirik sebentar ke arah Naruto. Bahkan tangan kanan Naruto yang memegang pulpen terus bergerak memukulkan benda kecil itu di atas buku meskipun tidak menimbulkan suara yang berisik.

OoooO

Naruto menyuruh Sasuke untuk memesan makanan untuknya sementara ia meminta izin sebentar untuk menelpon ke rumah katanya. Sasuke hanya mengangguk bingung lalu melihat Naruto berjalan cepat dan agak menjauh dari keramaian sampai Sasuke tak bisa lagi melihatnya.

Pemuda bermata biru safir itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu tetangga apartemennya. Karin. Via video call.

"Naruto-san?" seru Karin kaget karena tidak biasanya Naruto menghubunginya via video call.

"Ngng...Karin-san, apa kau sudah akan berangkat kerja?" tanya Naruto.

"Sekitar dua puluh menit lagi. Kenapa?"

"Apa aku bisa minta bantuan? Aku ingin berbicara dengan sepupuku sebentar. Ponselnya sedang rusak jadi aku tak bisa menghubunginya"

"Aaah, sepupumu yang kemarin itu?"

"Iya. Dia ada di apartemenku"

"Baiklah. Tunggu sebentar" kata Karin tanpa mematikan sambungan. Gadis itu segera keluar dari apartemennya kemudian menguncinya. Ia memang sudah bersiap untuk berangkat kerja ketika ia ingin membuka pintu dan Naruto tiba-tiba menelponnya. Gadis berambut merah itu kemudian berjalan menuju kamar apartemen Naruto yang hanya berselang dua apartemen dari kamar apartemennya.

"Karin-san, kau bisa menunggu di luar ketika aku berbicara dengannya?" tanya Naruto saat Karin sudah hendak membunyikan bel pintu.

"Ummm...tidak masalah" kata gadis itu lalu menekan bel yang ada di samping pintu.

"Biarkan aku yang memberitahunya" kata Naruto. Karin mengangguk lalu mendekatkan ponselnya ke arah pintu.

"Hinata, ini aku." Karin kaget ketika ia yakin bahkan lima detik belum berlalu sejak Naruto berbicara dan pintu langsung membuka. Gadis itu langsung menarik ponselnya dari depan pintu.

"Aku mendengar suara Naruto" kata Hinata yang sudah berdiri di depan Karin dengan wajah bingung.

"I-ini dia" sahut Karin sambil memperlihatkan ponsel dengan wajah Naruto di dalamnya. Kening Hinata mengerut. Gadis rubah itu langsung ingin berseru kaget dan kencang ketika ia sadar kalau dunia memang sudah jauh berbeda. Hinata juga mengingat tentang televisi di ruang tamu apartemen Naruto. Mungkin sama dengan benda yang sekarang di pegang tetangga Naruto ini.

"Jangan lama-lama Naruto-san. Kau bisa membuatku terlambat bekerja" ujar Karin lalu menyodorkan ponselnya pada Karin. Hinata menatap curiga pada gadis itu.

"Hinata, pegang ponsel itu" kata Naruto. Hinata yang kaget mendengar suara Naruto langsung menarik ponsel tersebut dari tangan Karin. Sementara Karin menjadi heran dengan sikap sepupu Naruto itu. Dia terlihat aneh. Tapi gadis itu hanya tersenyum lalu kembali ke apartemennya, menunggu Naruto dan Hinata selesai berbicara.

"N-Naruto?" panggil Hinata sambil setelah mendekatakan layar ponsel tepat di depan matanya.

"Jangan terlalu dekat" seru Naruto lalu Hinata langsung membuat jarak antara wajahnya dan ponsel dengan wajah Naruto di dalamnya.

"Kau baik-baik saja? Maksudku, kau tidak melakukan hal yang aneh, bukan?"

"Tidak. Aku hanya duduk menunggumu di atas tatami" jawab Hinata cepat

"Astaga. Jangan menunggu seperti itu, lakukan sesuatu yang tidak membuatmu bosan. Kau bisa menyalakan televisi. Aku sudah memberitahumu caranya, bukan?"

"Menunggumu tidak pernah membosankan, Naruto" kata Hinata dengan nada dan wajah yang ingin meyakinkan Naruto. Naruto hanya menghela nafas.

"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin tahu kau tidak melakukan hal yang aneh. Berikan lagi ponselnya pada Karin-san"

"Ya...tapi kau akan pulang, kan?" tanya Hinata

"Iya" jawab Naruto sambil mengangguk.

Pemuda itu kemudian memutuskan video call setelah berterimakasih pada Karin. Ia kemudian tersenyum kecil sambil berjalan kembali menuju kantin. Setelah melihat Hinata membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Tiba-tiba Naruto baru menyadari kalau ia sama sekali tak melihat Nagato hari ini. Tidak mungkin kalau Nagato tidak mendatanginya setelah apa yang terjadi kemarin. Apa hari ini dia absen? Jika iya, pasti ketidakhadiran Nagato pagi ini berkaitan dengan masalah Hyuuga Hinata.

OoooO

Inugami sama sekali tak mencium bau rubah perempuan itu di manapun. Ia dan Obito sangat yakin pasti karena Hyuuga Hinata telah menyembunyikan baunya. Entah dengan alasan apa atau mungkin gadis rubah itu sadar kalau Indra telah dilahirkan kembali. Kabuto dan Guren yang dikirim sejak sebelum rubah perempuan itu bangkit bahkan belum mendapatkan petunjuk apapun.

Obito hanya duduk di beranda rumahnya yang masih bergaya jepang asli. Akhir-akhir ini ia cemas memikirkan rubah perempuan itu. Ia bahkan tak bisa merasakan keberadaan Hyuuga Hinata di manapun.

"Obito-sama." Inugami sudah duduk di belakang Uchiha Obito dengan wujud manusia.

"Sejak aku lahir kembali kau tak pernah memperlihatkan wujud itu lagi di depanku" kata Obito. Inugami bisa merubah wujudnya menjadi manusia. Seperti Hyuuga Hinata. Karena mereka adalah yokai tingkat tinggi.

"Saya hanya ingin anda mengingat tentang wujud manusia ini" sahut Obito.

"Inugami, apa yang harus kita lakukan pada rubah itu?"

"Saya pasti akan membawanya kembali pada anda. Dengan wujud ini saya bisa mencarinya dengan leluasa. Dia takkan bisa mengenali saya dengan mudah dalam wujud seperti ini"

"Aku ingin melihat seperti apa reinkarnasi Ashura sekarang. Hinata sangat bodoh karena terlalu mencintainya. Ashura seharusnya tak bisa dilahirkan kembali karena dosa yang pernah dia lakukan di masa lalu"

"Apa? Jadi sebenarnya Ashura tak bisa dilahirkan kembali? Tapi bagaimana bisa Dewa melakukannya..."

"Sudah kubilang karena Hinata terlalu mencintai pria itu. Aku terlahir kembali karena masalah kita di masa lalu belum selesai. Tapi Ashura, dia beruntung bisa terlahir kembali karena yokai bodoh seperti Hinata telah tergila-gila padanya"

"Apa sebenarnya yang telah rubah perempuan itu lakukan sampai Dewa bersedia melahirkan Ashura kembali?" tanya Inugami.

"...Itu yang selalu aku pikirkan. Apa yang telah Hinata lakukan selama ini demi Ashura" gumam Obito.

Mereka kemudian terdiam beberapa saat. Obito mengingatnya karena Inugami bertanya. Apa yang sebenarnya telah rubah perempuan itu lakukan sampai Dewa bersedia melahirkan Ashura kembali. Obito tidak pernah tahu. Ia ingin tahu. Bayaran seperti apa yang Hinata berikan pada Dewa agar Ashura bisa bereinkarnasi.

Sementara Inugami bahkan tidak habis pikir tentang bagaimana bisa seseorang seperti Ashura yang seharusnya tak bisa bereinkarnasi malah terlahir kembali berkat Hinata yang terlalu mencintainya. Inugami hanya tahu kalau Ashura terlahir kembali karena masalah di masa lalu antara mereka memang tak pernah selesai hingga tali takdir membuat Indra maupun Ashura bereinkarnasi kembali. Dan untuk menunggu Ashura bereinkarnasi, Hinata meminta Ootsutsuki untuk membuatnya tertidur sampai waktunya tiba ketika ia bangun lagi saat Ashura telah dilahirkan kembali. Itu yang Inugami tahu. Ia bahkan tidak tahu kalau sebenarnya Ashura tak boleh dilahirkan kembali karena dosa yang telah pria itu lakukan. Entah dosa seperti apa yang Ashura lakukan sampai Dewa membuatnya tidak akan bisa bereinkarnasi lagi.

"Inugami, sepertinya ini sudah saatnya. Aku ingin menemuinya"

"Kenapa anda tiba-tiba ingin bertemu dengannya?"

"Aku hanya ingin memastikan kalau dia masih berada di pihak kita. Jika sesuatu terjadi, kita membutuhkanya untuk melumpuhkan Hinata"

"Baiklah"

"Ini sangat lucu, bukan? Bahkan dia juga bereinkarnasi. Aku dan dia sama. Kami bereinkarnasi karena ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak kami."

OoooO

Nagato akhirnya menghubungi Naruto melalui ponsel saat Naruto sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemennya. Sepupunya itu pasti membawa berita dan keluarga mereka. Mungkin berita yang buruk. Tapi berita baik mungkin juga ada dengan kemungkinan sepuluh persen.

"Naruto? Kau masih di sekolah?" tanya Nagato begitu Naruto menjawab panggilannya.

"Tidak. Aku sedang berjalan menuju apartemen"

"Kau tidak latihan?"

"Aku ingin tapi aku tidak bisa membiarkan Hinata sendirian di apartemen terlalu lama" sahut Naruto. Jeda cukup panjang sampai Nagato kemudian berbicara lagi.

"Naruto, paman dan bibi menyuruhmu untuk pulang ke Nagoya hari ini juga"

"Haaah?" Naruto berseru kaget. Untungnya jalanan menuju apartemennya cukup sepi.

"Aku akan meminta izin pada pihak sekolah besok pagi"

"T-tunggu-tunggu! Kenapa aku harus pulang?"

"Dan kau harus membawa rubah itu juga" kata Nagato tanpa menjawab pertanyaan Naruto

"Apa? Kenapa Hinata harus ikut..."

"Keluarga kita ingin melihat rubah itu. Tetua ingin melihatnya. Kau tahu kenapa hari ini aku absen? Aku sedang dalam perjalanan kembali ke Tokyo sekarang"

"Jadi kau pulang?" Naruto berseru lagi, kaget.

"Iya. Untuk memberitahu langsung tentang rubah itu"

Naruto menghentikan langkahnya. Naruto mengira kalau keluarganya hanya akan menelpon atau Ayah dan Ibunya akan datang untuk berbicara dengannya. Tapi ini diluar perkiraan. Mereka terlalu kaget, cemas, atau mungkin takut sehingga menyuruh Naruto kembali ke Nagoya dengan membawa Hinata. Apa yang sebenarnya Tetua mereka pikirkan? Apa sebegitu buruknyakah jika Hinata bangkit kembali untuk mencarinya?

Nagato kemudian menjelaskan secara singkat lagi bahwa Naruto hanya kembali ke Nagoya sebentar saja, untuk mempertemukan Hyuuga Hinata dengan klan Uzumaki. Dia hanya akan menginap selama satu malam di rumah dan bisa kembali ke Tokyo esok harinya. Dan masalahnya bukan hanya sebentar dan menginap satu malam. Tapi bagaimana ia mengajak Hinata untuk menemui klan Uzumaki yang jelas sedang berusaha mengintimidasinya. Ayah dan Ibu juga pasti tidak setuju dengan datangnya yokai rubah itu untuk mencari putra mereka. Mereka semua pasti tidak akan menyukai Hinata. Sebelum Hinata bangkit saja mereka sudah seperti menjaga Naruto bagai seorang pangeran yang kapan saja bisa diserang oleh penjahat.

"Malam tadi kami sudah mengadakan pertemuan kecil tentang menyuruhmu kembali ke Nagoya dengan membawa yokai rubah itu"

"Tapi kenapa kau kembali ke Tokyo sekarang dan tidak menungguku di sana?"

"Tugasku sudah selesai dengan memberitahu mereka tentang rubah itu. Aku kembali karena aku sudah membolos satu hari. Dan juga untuk memita izin kalau besok kau akan absen"

Nagato langsung memutuskan sambungan begitu selesai mengatakan kalimat itu. Naruto langsung berjalan cepat menuju apartemennya. Ketika ia membuka pintu apartemennya yang ternyata tak dikunci, pemuda itu langsung memanggil Hinata. Tapi gadis itu tak menyahut. Naruto membuka sepatunya dengan cepat.

"Hinata..." suara Naruto mendadak pelan ketika ternyata Hinata sedang tertidur sambil duduk di atas sofa dengan televisi yang menyala tanpa suara. Gadis itu pasti hanya bisa menyalakan dan tidak tahu bagaimana cara membesarkan volume. Naruto tersenyum kecil kemudian segera menuju kamarnya untuk mengganti seragam.

"Naruto?" suara Hinata tiba-tiba terdengar di belakangnya tepat ketika Naruto sudah selesai mengganti seragamnya dan sudah memakai ransel kecil di punggungnya.

"Oh, kau sudah bangun?" tanya Naruto

"Kau baru saja pulang? Karena aku baru saja mencium baumu" kata Hinata. Naruto tersenyum hambar karena Hinata selalu mengatakan tentang bau tubuhnya untuk mengetahui di mana dirinya. Gadis itu pasti langsung bangun begitu mencium bau Naruto.

"Kita akan ke Nagoya sore ini"

"Hah? Nagoya?"

OoooO

[ to be continued ]