Desclaimer : Masashi Kishimoto
Summary :
Neji merupakan siswa terkenal di sekolahnya, namun ia selalu menolak gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. ternyata ada sesuatu yang menjadi alasannya menolak mereka semua, penasaran? Silahkan mampir../chapter 3 is up!
pair : Nejiten
Warn : tak mungkin luput dari Typo(s), gaje, ancur, dll. Mohon sarannya di kotak review..:)
.
.
"JII-NII...!" teriak seorang gadis yang mengalihkan atensi semua orang disana. Termasuk Neji, ia terbelalak melihat adiknya berada disini terlebih ia serta merta langsung menghambur ke arah Neji, berniat melindunginya.
"Hi-hinata?! Apa yang kau lakukan disini?! Sudah kubilang tung—ukh!"
"Jii-nii! Apa kau baik-baik saja?!" tanya Hinata saat melihat Neji mengerang dan memegangi perutnya.
"araa...~ jadi dia ya? Jadi karena dia kau dicampakkan. Yah.. wajar sih, ia lebih manis darimu, hahaha!" ujar seseorang di belakang Tenten, yang sepertinya tak mendengarkan dengan jelas bahwa panggilan itu diakhiri dengan suffix 'Nii' yang tentu saja artinya 'kakak'.
"Jii-nii, kumohon bertahanlah..hiks" lirih Hinata seraya menyentuh lengan Neji.
Sementara itu, Tenten terbelalak tak percaya dengan apa yang terjadi. Awalnya ia kesal dengan kedatangan Hinata yang ia kira kekasih Neji. Namun mendengar panggilan Hinata untuk Neji barusan, mengingatkannya pada suatu kejadian.
.
10 tahun lalu..
Seorang gadis kecil bercepol yang kira-kira berusia 6 tahun, tampak tengah berjalan santai di sekitar dojo karate milik pamannya, Tenten namanya. Ia baru selesai berlatih karate bersama pamannya tadi.
Tiba-tiba, sayup-sayup ia mendengar suara berat yang disertai tangisan cempreng khas anak-anak. Setelah diikuti sumber suaranya, Tenten menemukan ada beberapa orang di bagian pojok taman tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jii-nii..! Jii-nii...! hiks.. hiks.. talian tidak boleh natal sama Jii-nii! Tasian Jii-nii..!" ujar si anak kecil di sela-sela tangisannya. Anak perempuan bersurai indigo pendek yang tadi menangis itu sepertinya masih berusia sekitar 3 tahun—dilihat dari cara bicaranya yang belum lancar mengucapkan huruf "K" dan menggantinya dengan "T". Anak kecil itu berdiri dihadapan seorang anak laki-laki—sepertinya kakaknya—yang jatuh terlentang sambil memegangi beberapa bagian tubuhnya yang terluka, seperti habis dihajar habis-habisan.
"ah..! berisik..! menyingkir kau, bocah!" pekik anak laki-laki berbadan besar sepertinya ia murid SMP. Ia mendorong gadis kecil tadi hingga ia tersungkur.
"aa..!" teriak gadis kecil itu.
Bagus! Tenten kini sudah tak tahan lagi melihatnya!
"dengar! Aku punya waktu 3 detik untuk kalian segera pergi dari sini" pekik Tenten membuat semua orang disana menoleh ke arahnya. Para murid SMP itu hanya tertawa menanggapinya.
"heehh~ bocah lagi, sepertinya bocah disini senang dibully sampai-sampai menawarkan diri" ujar salah satu dari mereka. Tenten melanjutkan ucapannya,
"SATU!" Tenten perlahan mendekat dan mengepalkan tangannya.
"memangnya apa yang bisa dilakukan gadis kuno bercepol itu? paling-paling ia hanya akan bernasib seperti pengecut disana!" sahut lainnya menunjuk ke arah anak laki-laki bersurai kecoklatan sebahu yang tampak tak berdaya sama sekali.
"DUA!" Tenten tetap melanjutkan hitungannya, seraya mendekat.
"waa~! Aku takutt! Teman-teman mari kita pergii~" semua murid SMP itu tertawa puas.
"TIGA!"
BUAGHH...! salah satu dari mereka jatuh tersungkur setelah pelipisnya ditendang oleh Tenten.
"maigeri chudan to maigeri jodan..!(*) hyatt...!" Tenten menggunakan tehknik karatenya, yakni tendangan di kepala dan perut. Dan..tepat sasaran.
Bug! Prak..!
.
Kejadian berlangsung sangat cepat, yang Neji tahu semua murid SMP yang memukulinya lari terbirit-birit dan yang ia ingat bahwa penolongnya adalah seorang gadis bercepol dua. Setelah itu kesadarannya hilang sepenuhnya.
.
Saat sadar, Neji mendapati dirinya berada di kamarnya dengan orang tuanya berada di sisi kanan dan kiri ranjangnya, menatapnya khawatir. Tak lupa Hinata yang terisak di lengan kirinya.
"gomenassai, tou-san, kaa-san, aku tak bisa menjaga Hinata dengan baik" lirihnya seraya melihat sebuah plester di dahi Hinata..
"bukan salahmu, sekarang lebih baik kau beristirahat" ujar Tou-san.
"iya, benar kata tou-san mu, istirahatlah dulu. Nanti akan kaa-san bangunkan saat makan malam" ujar kaa-san sambil mengecup dahi putranya. Setelah itu mereka berdua meninggalkan Hinata dan Neji disana.
"Jii-nii, tau bait-bait saja tan?" tanya Hinata cemas.
"tentu. Ah..siapa yang membawaku kemari? Tak mungkin kau sendiri, 'kan?" tanya Neji.
"ooh.. itu, nee-san yang tadi menolong Jii-san, tau mengingatnya tan? Dia yang membantu tu mengantar Jii-nii" terang Hinata dan tak lupa celatnya.
Neji hanya terdiam, namun seulas senyum tipis terbit di bibirnya. 'aku ingin bertemu denganmu lagi', batinnya.
# # #
Tenten masih terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Ia merasa seperti.. de javu.. Tenten segera menepis tangan yang sejak tadi menahan pergelangan tangannya dan juga mulutnya.
"dengar! Aku punya waktu 3 detik untuk kalian segera pergi dari sini!" pekik Tenten. Hinata yang sejak tadi terisak disebelah Neji langsung menoleh ke arah Tenten, saking cepatnya mungkin bisa mematahkan lehernya sendiri. Begitupun dengan Neji, namun ia tak terlalu terkejut.
"SATU!"
"hoi! Kenapa kau lepaskan dia?! Dasar bodoh!" ujarnya pada seseorang yang menahan Tenten tadi, baru saja ia hendak mengatakan protesnya pada temannya itu, Tenten melanjutkan hitunganya,
"DUA!" Tenten mulai mendekat. Hinata membekap mulutnya tak percaya.
"o-oh.. kau pikir kami takut padamu?! Dasar gadis menyebalkan!" ia mulai menyiapkan kepalan tangannya, dan... dalam waktu sepersekian detik, tinju itu sudah ditahan oleh Tenten.
"TIGA!"
BUAGH...! satu hantaman mendarat mulus di dagu salah satu dari mereka. Tenten berujar sangat pelan didekatnya,
"dasar bodoh, kukira waktu 3 detik adalah waktu yang panjang sebelum...—"
BUG..! PRAK..! DUAGH..! dapat dipastikan mereka berdua terkapar di aspal jalan yang dingin, dengan luka lebam di wajah mereka.
"—aku memberi warna ungu pada wajah kalian" Tenten terkekeh pelan melihat mereka lari terbirit-birit. Kemudian ia menoleh ke arah dua orang bermata sama yang berada di sampingnya.
"ka-kau?! Ba-bagaimana bisa?!" ucap Hinata tak percaya. Tenten tersenyum tipis, ah..benar ia tak mencepol rambutnya seperti waktu itu.
"kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Tenten lembut. Tak disangka, Hinata justru langsung menghambur ke pelukan Tenten, Tenten tentu saja terkejut dengan reaksi Hinata. Hinata memeluknya erat seakan Tenten adalah orang yang sangat berharga, padahal mereka hanya sekali bertemu, itupun karena kejadian yang tidak menyenangkan dan sudah terjadi sekian tahun yang lalu.
"ehm.." suara deheman yang berasal dari Neji, menginterupsi acara reuni singkat mereka berdua, "kuharap kalian tidak melupakanku" lanjut Neji, ia bangun dengan susah payah karena beberapa luka ditubuhnya.
"dasar payah..haha" ejek Tenten pelan didekat Neji, jadi Hinata tak akan mendengarnya. Neji men-deathglare Tenten, yang hanya dibalas kekehan kecil.
"etto.. mungkin kau bisa pulang duluan supaya orang tuamu tidak mengkhawatirkanmu. Kakakkmu akan kuantar sebentar ke klinik...err?"
"Hinata. Hinata Hyuuga-desu" ucap Hinata memperkenalkan diri.
"ah iya, namaku Tenten, kalau begitu jaa Hinata-chan" ucap Tenten
"'hai Tenten-san.."
Setelah itu Hinata bergegas pulang dan mempercayai Tenten untuk membawa Neji ke klinik.
# # #
Sesampainya di klinik..
Tenten membeli beberapa perban dan obat luka serta es batu untuk mengobati luka Neji, ia membawa Neji ke bangku taman di dekat klinik.
Keduanya membisu. Tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan. Tenten pun terlihat fokus mengobati Neji saat ini. meski begitu ada banyak hal yang sebenarnya ingin ditanyakan Tenten.
"ano sa—" ucap keduanya bersamaan. Keduanya saling melirik, kemudian Neji berde
"aa.., kau duluan saja" ucap Tenten.
"tak apa, kau duluan.." ujar Neji tenang—walau sebenarnya tidak. Tenten meneguk salivanya dengan susah payah, gugup? Tentu saja.
"ehm..., jadi...kau sudah lama menyadarinya?" Tenten tetap meneruskan pekerjaannya mengobati lengan Neji.
"lalu, kau sendiri baru menyadarinya?" sindir Neji yang langsung menohok Tenten.
"heii! Aku bertanya sungguhan tahu!" balas Tenten kesal dan dengan sengaja ia menekan lengan Neji kuat.
"iitai..!" pekik Neji.
"rasakan! Itulah akibat bila menipuku!" Tenten menekannya lebih kuat lagi.
"heii! Ini benar-benar sakit, tahu!" sungut Neji yang beneran kesal. Tanpa sadar Tenten tertawa puas melihat Neji merajuk begitu.
Blush..! shimatta..! kenapa aku jadi seperti Hinata begini! Menyebalkan!, batin Neji yang merasa wajahnya memerah.
"ehmm..!" tawa Tenten terhenti. "lalu, sekarang kau sudah mengerti mengenai hal yang kau tanyakan— sebelum para berandal itu datang— tadi?" tanya Neji
"ooh itu, karena aku pernah menolongmu dulu, 'kan? jadi semacam balas budi? Ne—Ittaii!" pekik Tenten karena dahinya disentil keras oleh Neji. Ia kemudian menatap tajam kearah Neji, meminta penjelasan.
"baka" neji melanjutkan, "kau pikir aku bisa satu bersekolah di sekolah yang sama denganmu karena kebetulan, huh? Butuh waktu lama bagiku untuk mencari keberadaan gadis kecil bercepol dua yang samar diingatanku, kau tahu?! Dan kau sebut ini hanya kebetulan dan semacam balas budi?!" Neji berkata panjang lebar. Tenten hanya terdiam memperhatikan Neji.
Namun kemudian, tangannya beralih menuju dahi Neji yang terdapat luka disana. Neji pikir Tenten berniat mengobatinya, namun sepertinya ia salah..
Cup.. Tenten mencium tepat di luka itu, sehingga darah yang masih membekas di luka itu menodai sedikit ujung bibirnya. kemudian ia berujar lirih,
"arigatou, karena kau sudah berusaha untuk bertemu lagi denganku... senang bertemu dengamu, lagi" Tenten tersenyum manis menyebabkan matanya menyipit dan membentuk seperti bulan sabit. Cantik sekali..
Tiba-tiba, Neji meraih pinggang Tenten agar ia mendekat, semakin dekat, hingga dahi mereka bersentuhan, lalu kemudian hidung, dan terakhir... bibir keduanya menyatu. Kecupan singkat. Neji tersenyum miring, Tenten wajahnya sudah sangat merah sekarang. sebelah tangan Neji ia gunakan untuk menyeka sedikit sudut bibirnya. Ada bercak darah disana, darahnya sendiri yang tadi ada di bibir Tenten.
"bibirmu tadi sedikit terkena darah yang berada di dahiku, dasar bodoh, seharusnya kau bersihkan dulu sebelum mengecupnya tadi" ujar Neji. Tenten memalingkan wajahnya, ia terlalu malu untuk menolehkan wajah ke arah Neji. Kami-samaa! Ini benar-benar memalukan!, batin Tenten. Meskipun ia memalingkan wajah, namun telinganya tak bisa dibohongi. Rupanya rona merah itu sudah menjalar sampai telinganya. Neji mendengus geli melihatnya.
"hei, apa kau tak mau mengobati lukaku lagi? Masih ada satu di dahiku tahu" ujar Neji. Tenten hanya menggeleng dan memberikan obatnya pada Neji. Ayolah, bukan Neji namanya kalau ia tak mendapat apa yang ia mau. Ditariknya tangan Tenten, hingga mau tak mau Tenten menghadap ke arah nya.
"u-uh, Neji-kun menyebalkan" lirih Tenten seraya mengobati luka Neji itu. Neji menyeringai puas melihatnya.
# # #
Keesokan harinya...
Tenten berjalan riang di sepanjang koridor sekolah. Sesekali ia tersenyum dan menyapa orang-orang yang disekelilingnya. Hatinya tengah berbunga-bunga saat ini. sekarang ia tahu bagaimana perasaan si tensai Hyuuga itu padanya.
Tapi.. langkah Tenten terhenti.
Apa ia sanggup bertatapan dengan Neji setelah apa yang ia lakukan padanya kemarin?
Oh Hell..! bagaimana ini?! Bagaimana ini?!, pikir nya frustasi. Tanpa sadar ia menjambak cepolan rambutnya.
"kalau kau terus menjambaknya, rambutmu akan rusak" ujar Neji yang entah sejak kapan berada di hadapannya.
"Ne-Neji?!"
"ohayou" ucap Neji, ia tersenyum tipis.
"aah..etto.. o-ohayou" Tenten tersenyum kaku.
"bareng?" tawar Neji.
" 'ha-'hai..!"
Tenten berjalan di belakang Neji, dari sana ia bisa melihat punggung tegap Neji. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Masih tak percaya bahwa ia sekarang adalah kekasih Neji, Hyuuga Neji! Seorang prince charming sekolah, primadona yang menjadi incaran setiap kaum hawa. Astaga! Memikirkan hal itu saja, sudah membuat pipi Tenten bersemu.
Namun, tiba-tiba Neji menghentikan langkahnya. Otomatis, Tenten yang sejak awal jiwanya sudah ngelantur tak menyadari hal itu, akhirnya ia menabrak punggung Neji. Ia sedikit mengaduh terkejut.
"ada apa?" tanya Tenten yang menyembul dari balik punggung Neji"
"kyaa...! apa-apaan dia?! Bagaimana bisa ia berada disanaaa?!" teriak heboh Tayuya saat melihat Tenten yang ada di belakang Neji dan mulai mengaitkan tangannya pada lengan kanan Neji.
"heh! Tenten! lepaskan tanganmu sekarang juga..! dan, apa-apaan itu?! kau membuat bento lagi untuk Neji-kun?! dasar tak tahu malu..!—" pekik Shion yang sudah siap untuk menampar Tenten. Namun, tak semudah itu sayang... apa matamu tak bisa melihat ada pangeran yang siap menjaga putrinya kapanpun juga itu? Neji segera menahan tangan Shion.
"aku tak pernah merasa terganggu dengan apa yang ia lakukan. Jadi berhentilah mengganggu hime-ku dengan alasan untuk melindungiku!" talak Neji tegas. Kedua orang dihadapannya itu terkejut mendengar penggilan Neji untuk Tenten barusan. oke! Jangankan mereka berdua, orang yang bersangkutanpun terbelalak lebar mendengar penuturan Neji tadi. Sedangkan Neji? Ia bersikap sangat tenang seakan apa yang tadi ia katakan adalah hal yang sudah seharusnya ia katakan. "ah.. mengenai bento, bukankan itu hal wajar dilakukan seseorang untuk kekasihnya?"
Jleb!
Pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan Neji barusan terasa sangat menohok hati mereka berdua. Mereka hanya bisa membeku ditempat.
"sudah puas? Sekarang urusan kalian sudah selesai, 'kan? bisa kalian pergi sekarang? kami mau lewat" ucap Tenten sangat manis pada mereka berdua, lengkap dengan penekanan pada kata 'kami'.
Jleb! Jleb!
Neji dan Tenten tak menghiraukan respon mereka. Neji langsung menggandeng Tenten melewati mereka dan menuju kelas.
.
Tanpa sadar, Neji salah membawa Tenten ke arah kelas gadis tersebut. Mereka malah berada di koridor murid kelas X, sedangkan seharusnya mereka kelas XII. Sampai ujung koridor kelas X/I, keduanya berhenti dan saling bertatapan. Kemudian tertawa menyadari kebodohan mereka berdua. Jarak mereka sangat dekat saat tertawa, Neji lah yang duluan menyadarinya. Dengan sengaja ia mulai mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Tenten, Tenten baru menyadari ketika Neji sudah tepat berada di depan wajahnya. Semakin dekat. Semakin dekat. Hingga hanya 3 cm jarak yang memisahkan mereka. 2 cm. 1cm. Dan—
"Jii-nii..! Tenten-nee san...! apa yang kalian berdua lakukann?!" teriakan melengking yang sudah sangat familiar di telinga Neji menginterupsi acara mereka berdua.
"ckk... Hinata-himeee~ kau menghancurkan klimaks nyaa~" rajuk Naruto yang membuat Neji ingin mengulitinya saat itu juga!
"hn. Itu benar" ujar singkat pemuda berambut reven yang berada di sebelah gadis bersurai merah muda.
"sedikiiitttt lagii...aarrgg" geram Sakura gemas.
"arghh!.. padahal aku sudah menyiapkan kameraku untuk memotret moment bersejarah ini. jika tadi tidak gagal, aku dan Sai-kun pasti akan menempelkan foto itu dalam bentuk poster besar di mading dan menulis artikel utama dengan judul 'fakta yang membuktikan bahwa NEJI HYUUGA bukanlah seorang homo'" sungut Ino sambil merajuk pada kekasihnya Sai.
"OI...! Sai katakan pada kekasihmu untuk jangan menempel artikel sembarangan di mading sekolah!" ancam Neji
"em, aku tak janji" balas Sai sambil tetap tersenyum.
"sakura?! Ino?! Apa yang kalian berdua lakukan disini?!" pekik Tenten saat melihat kedua sahabat nya dan juga Hinata berada di balik jendela kelas X/I itu.
"hei..! kau ini bodoh atau pura-pura lupa, hah?" balas Ino
"tentu saja ini kelas kami, kau pikir kami ini kalian. Anak kelas XII yang nyasar ke kelas X." Sindir Sakura yang membuat Neji dan Tenten memalingkan wajah malu.
"dan juga orang yang sembarangan mencium kekasihnya di tempat umum" lanjut Sai.
"di pagi hari saat koridor sedang ramai-ramainya" lanjut Sasuke,
"dan yang paling penting... dihadapan sahabat mereka yang sialnya adalah raja dan ratu gosip seantero sekolah" ucap Naruto lengkap dengan seringai rubahnya. Semua orang disana bahkan Hinata pun juga menyeringai menatap Neji dan Tenten. Baiklah, hanya ada satu kata untuk kalian..
Mampus...!
.
.
.
~OWARI~
(*) maigeri chudan to maigeri jodan: adalah salah satu tekhnik karate dalam hal tendangan yang difokuskan pada kepala (maigeri jodan) dan perut (maigeri chudan)
Wkwk gini-gini author juga bisa karate lohh... #elah_sombong_banget_lu, masih_sabuk_kuning_juga #abaikan
A/N : fyuhhh! Akhirnya selesai juga ff gaje saya ini! hehe semoga reader puas dengan ff abal-abal ini. oh ya, sebenernya klo pada berminat, ff ini sejak awal sudah ada sequel nya, yah.. author rada-rada orangnya, makanya ngepost sequel dulu baru ff utamanya wkwkwkwk #digampar judulnya "bukan hanya kau yang bisa memberi hukuman" itu random bukan cuma Nejiten, tapi tetep pair utamanya Nejiten.
Maaf, author belum sempet kepikiran birthday fic untuk Neji hari ini... ~ tapi hepi betdayyy #inggris_ngaco buat kang Neji tercintaahhhh...! semoga kau terus mencintai Tenten sampai mati #udahmati #ditendang_FGNeji.. dan semoga para readers baik hati sekalian masih setia melestarikan budaya bangsa—ngaco. Melestarikan ff Nejiten di ini!
Mind to Review?
