Chapter 3

Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah. Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya berubah.

Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.

Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.

oOo

"Kau dengar dan lihat semuanya kan, Gaara-san?" Naruto menyeret koper kecil di tangannya. Setelah menyelesaikan urusan menjemput 'istri'nya di Kanada, tak menunggu waktu lama untuk Naruto memboyong Sakura beserta seluruh barang-barangnya kembali ke Jepang. Pagi-pagi sekali Naruto sudah tiba di Bandara Internasional Konoha ditemani Gaara dengan beberapa koper ukuran besar di atas troli yang ia dorong. Sementara Sakura dan Tenten sedang pergi ke toilet sebentar Naruto mengambil kesempatan untuk mendekati Gaara.

"Ya." Gaara menjawab singkat.

"Coba pukul aku, sepertinya aku sedang bermimpi. Sebuah mimpi yang panjang."

Gaara mengangkat tangannya seperti hendak memukul wajah tuannya, Naruto terkesiap. Ia refleks memejamkan mata dan menyilangkan tangannya untuk melindungi diri.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Naruto menoleh melihat Sakura sudah berdiri di sampingnya ditemani Tenten. Gaara bergegas menurunkan tangannya, Naruto memegang dadanya yang berdetak cepat karena terkejut.

"Kau sungguh akan memukulku?!" Naruto meninju pelan lengan Gaara. Sakura hanya terkekeh geli melihatnya. Naruto sesaat menangkap kebahagiaan dari wajah Sakura yang tidak pernah ditunjukkannya sejak kemarin pada mereka. Meskipun hanya sebentar tapi jauh di dalam hati Naruto merasa senang.

"Apakah dulu aku menikahimu karena mencintaimu?" Pertanyaan bodoh sebenarnya. Mana mungkin seorang laki-laki dan wanita menikah tanpa didasari oleh perasaan cinta. Kecuali jika ada hal-hal tertentu yang terjadi di antara mereka.

Sakura tertegun sesaat. Mencari-cari kata dalam kepalanya yang bisa dengan tepat menjawab pertanyaan Naruto. Kedua mata mereka beradu dalam kebisuan, mata biru safir di depannya, sungguh demi Kami-sama Sakura sangat merindukan mata itu.

"Aku tidak tahu," jawabnya justru.

Sebelah alis Naruto terangkat. "Tidak mungkin,"

"Memang benar, seingatku kau tidak pernah sekali pun menyatakan cinta padaku selama dua tahun kebersamaan kita." Sakura menjawab dengan mudahnya seolah hal itu terdengar biasa diucapkan. Hanya saja cukup membuat Naruto bertambah bingung.

Mereka sampai di pintu keluar bandara. Sebuah chevrolet camaro merayap mendekati mereka lalu berhenti begitu sampai di hadapan Naruto. Shikamaru keluar dari kursi kemudi lantas berlari mendekati mereka. Ia menyerahkan kunci mobil kepada Gaara sebelum membukakan pintu belakang mempersilakan Sakura masuk terlebih dahulu. Kedua mata tajam Shikamaru mengunci lekat Sakura ke dalam pandangannya tanpa melepaskannya sedikit pun.

"Sudah selesai?" Naruto bertanya ambigu.

"Ya, beberapa pegawai kantor di antaranya sekretaris pribadi Nyonya Kushina, Yamanaka Ino, pengawal pribadi Tuan Minato bernama Sai, seluruh pelayan rumah Uzumaki, dan Paman Kakashi memang mengetahui perihal pernikahanmu. Mereka sengaja bungkam atas permintaan Tuan dan Nyonya."

Naruto terdiam sesaat mencerna kalimat Shikamaru yang terdengar rumit di kepalanya. "Kita lanjutkan nanti." Naruto bergegas masuk mengikuti Sakura ke dalam mobil. Sementara itu Tenten, pengasuh Sakura disediakan mobil yang berbeda sekaligus tempat membawa barang-barang Sakura yang super banyak.

Udara pagi di Jepang terasa sangat sejuk meskipun dihiasi para pejalan kaki yang bejubel memenuhi jalanan, Sakura senang bisa kembali melihat kota kelahirannya yang selalu hidup sepanjang waktu itu. Mobil yang membawa mereka terus berjalan menyusuri jalanan basah usai diguyur gerimis kecil di awal musim dingin. Sakura memeluk kedua tangannya merasakan udara yang mulai menyusup ke dalam mobil. Gaara fokus pada jalanan di depannya, sementara itu Naruto sibuk dengan pikirannya sendiri yang penuh sejak setelah kata istri mulai menjamah hidupnya.

"Oh ya, ada hal yang ingin kutanyakan lagi," sela Naruto di tengah keheningan.

"Ya, tentang?" Sakura menoleh menanggapi.

"Bayi? Aku hanya penasaran."

Sakura langsung menangkap maksud Naruto setelah itu. Ia menarik napas dalam sebelum menjawab, "tanyakanlah apa pun, aku akan menceritakan semuanya." Kalimat Sakura belum menjawab pertanyaan Naruto.

Mengingat kata bayi membuatnya merasa sesak tiba-tiba saja. Kedua matanya memerah seperti menahan tangisan. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.

"Dia laki-laki yang sangat aktif dan berusia dua puluh delapan minggu saat meninggal di dalam perutku. Rambut, hidung," Sakura menahan suaranya yang mulai bergetar entah karena apa. Susah payah ia keluarkan kata-kata dari mulutnya. "Semua tentang dia sangat persis sepertimu Naruto. Kau bahkan memeluknya sepanjang malam sambil menangis di rumah sakit saat itu."

Naruto tergetar. Entah mendadak hatinya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan dadanya merasakan sesak yang tak bisa ia gambarkan. Apa ini? Refleks Naruto bergerak menarik Sakura ke dalam pelukannya, berusaha mencoba menenangkan wanita di sampingnya. Gaara hanya diam tanpa berkomentar. Tubuh Sakura berguncang, ia menangis pelan di dalam pelukan suaminya. Sungguh ia tidak sanggup menanggung ingatan pedih itu. Ia tidak kuat mengingat kehilangan yang begitu dahsyat dialaminya sepanjang ia hidup, lebih dari saat diirinya kehilangan Naruto dan kehilangan dua orang yang ia anggap seperti orang tua kandungnya yaitu Kushina dan Minato.

Tak lama mobil mereka sampai di depan mansion Uzumaki yang megah. Di mobil belakang Tenten dibantu beberapa pelayan bagian dalam mansion membawakan barang-barang Sakura. Naruto menuntun Sakura langsung menuju lantai dua, mengantar istrinya ke kamar yang sudah ia sediakan untuk Sakura, tepatnya di samping kamar utama yang ia gunakan.

Sakura mendongak dan menelusuri setiap sudut kamarnya. "Kamar ini." Ia bergumam.

"Istirahatlah, biar Tenten atau pelayan lain yang akan membawakan makan siang ke sini. Aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan." Naruto hendak melangkah keluar meninggalkan Sakura namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar. Ia lantas berbalik dan memberikan isyarat pada Tenten dan pelayan lain agar keluar dari kamar Sakura. Setelah semua orang keluar dari kamar Sakura, Naruto memposisikan dirinya duduk bersebelahan dengan Sakura di samping tempat tidur.

"Haruno-san, tolong maafkan aku untuk ini. Aku bukannya sengaja memberimu kamar yang berbeda denganku, hanya saja, aku meminta agar kau memberiku sedikit waktu untuk menerima semua ini. Semua hal ini. Apa kau mengerti maksudku, nanti‒"

"Aku mengerti." Potong Sakura di tengah-tengah penjelasan Naruto yang panjang lebar.

Naruto tersenyum senang mendengar jawaban Sakura, kini tanpa ragu ia melenggang meninggalkan Sakura bersama keheningannya di dalam kamar. Sakura mulai memuat kembali ingatannya tentang kamar ini. Kamar yang baginya memiliki kenangan spesial dan indah. Ia bangkit dari posisi duduk lalu membuka pintu lemari tiga pintu yang menempel pada dinding kamarnya. Di dalam lemari Sakura menemukan sesuatu. Sebuah baju mungil berbahan kaos namun terdapat ukiran lolipop di atasnya. Baju yang sengaja ia sulam sendiri khusus untuk bayinya saat itu. Tangis Sakura pecah saat itu juga. Ia merasakan seluruh lututnya meluruh dan tubuhnya ambruk ke lantai. Sambil memeluk pakaian bayi iu Sakura menangis sejadi-jadinya sampai-sampai terdengar begitu memilukan.

"Kami-sama... Mengapa kau begitu banyak mengambil hal-hal berharga dalam hidupku?" Kini hal berharga yang dimilikinya hanya tersisa Naruto seorang. Itu pun dengan ingatan yang lenyap entah ke mana. "Aku tidak sanggup lagi!"

Saat itu Tenten masuk dan terkejut melihat kondisi Nyonya-nya begitu menggenaskan, dengan cepat Tenten menghampiri dan membantu Sakura untuk memindahkan dirinya ke tempat tidur. Tenten membaringkan tubuh Sakura, setelah membuka sepatu dan ikat pinggang ia menutup tubuh Sakura dengan selimut. Sakura terlelap sambil memeluk baju di tangannya.

oOo

Naruto turun dari lantai atas ketika Sakura sedang memasak omelet di counter dapur. Naruto bisa melihat punggung Sakura yang ringkih dengan cekatan memotong sayuran dan menggoreng telur tanpa dibantu oleh pelayan bagian dapur. Pagi ini udara dingin menusuk, gerimis kecil turun membasahi perkebunan di halaman mansion. Naruto mengancingkan lengan kemejanya setelah lengkap dengan dasi dan sebuah jas yang ia sampirkan di bahunya. Matanya menangkap sebuah buku bercover merah tergeletak di atas counter bar yang memisahkan dapur dan meja makan.

"Kau membaca fiksi juga?" Naruto meraih buku berjudul Unbelievable Love tersebut. Gambar di sampulnya cukup bagus, sebuah gambar abstrak yang membentuk wajah seseorang. Naruto melirik nama penulisnya,

Sean Vanues

Nama penulis novel tersebut. Sepertinya novel ini cukup populer jika melihat label bestseller bertengger di sampulnya. Naruto membalik buku tersebut melihat sinopsis di belakangnya.

Hanya tentang rindu dan hujan yang jatuh dari matamu

Izinkan aku menghapus setiap duka yang kau kunci dalam jendela jiwa

Naruto mengernyit, kata-katanya sangat puitis. Indah. Tapi terlalu melankolis. Dia kurang begitu menyukai karangan fiksi seperti ini, isinya hanya dramatisasi kehidupan. Tidak terlalu sesuai dengan kenyataan.

"Hanya buku itu."

Sakura menaruh sepiring omelet di atas meja makan. Ia berjalan mendekati Naruto, kedua tangannya bergerak membetulkan dasi di leher suaminya yang terpasang sedikit berantakan. Naruto terkesiap kaget, ia menahan napas ketika wajah Sakura begitu dekat dengan wajahnya. Entah apa yang membuat Naruto menyukai wangi shampo yang digunakan Sakura. Sepertinya menenangkan.

Sakura reflek menjauh saat menyadari apa yang sedang dilakukannya. "Ma-af."

Naruto masih dengan ekspresi terkejut, kedua matanya berkedip bingung. Sakura lantas berlari meninggalkan Naruto menuju meja makan. Sial, dia salah tingkah. Apa yang dilakukan olehnya benar-benar murni karena reflek tangannya. Tidak ada sedikit pun unsur kesengajaan.

"Kenapa hanya buku itu?" Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Oh, kenapa?"

Naruto berbalik untuk duduk di meja makan. "Kenapa hanya buku itu yang kau baca? Maaf apa pertanyaanku berlebihan?"

"Tentu saja tidak apa-apa. Karena buku itu menyimpan kenangan yang indah. Setidaknya, bagiku."

"Apakah buku itu pemberian dariku? Semacam hadiah?"

Sakura hanya berdehem sambil mengangguk pelan. Sarapan pagi itu pun berlangsung dengan suasana canggung.

oOo

Naruto memandang langit dari balik jendela raksasa di ruang kerjanya. Rupanya memandangi langit saja cukup bisa membuat perasaannya sedikit lebih baik. Udara sedikit lebih luas untuk dirinya bernapas sejenak. Permasalahan belakangan ini seperti hendak membunuhnya.

Di tengah keheningan ruangan terdengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu dan berdirilah di baliknya seorang wanita cantik berambut panjang tersenyum ke arah Naruto. Wanita itu berjalan masuk dengan anggun menuju meja Naruto tanpa ragu.

"Hai, Na-Naruto-kun?" sapanya terbata-bata entah karena gugup atau apa.

Sontak Naruto berdiri terkejut oleh kehadirannya. "Hi-Hinata-chan? Apa yang kau lakukan di sini?"

oOo

To be continued

Hai, sebelumnya perkenalkan Author labil ini. Semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan reviewnya untuk meningkatkan kualitas tulisan amatir ini.

Terima kasih kepada matarinegan, rosaerith, narto, anonim, nona fergi kennedy yang sudah menyempatkan berkomentar. Oh ya, untuk komentar soal panggilan Sakura pada Naruto itu benar, aku tidak sadar karena terburu-buru. Akan aku revisi! Terima kasih!