Ether Chan proudly presents:

Can't Deny Love © Eternal Dream Chowz

Disclaimer: Masashi Kishimoto

No Plagiat It's Trully From my Brain

Pairing: Sasuke U x Hinata H, slight SasuSaku, SasoHina, NaruSaku

Genre: Hurt/Comfort, Romance, humor

Rate: T

Warning: OOC, Semi-canon, alur kecepatan

Summary: Aku Hyuuga Hinata adalah heiress klan Hyuuga, bersamaan dengan kerabat jauhku, Haruno Sakura, kami harus meluluhkan hati pangeran sombong bernama Uchiha Sasuke dari klan Uchiha. Tapi kami tidak tahu bahwa rantai takdir telah terjalin sejak dulu, saat kami belum ada di dunia ini.

.

.

Can't Deny Love © Eternal Dream Chowz

.

.

'Kapan aku bisa mendapatkan kebahagiaan?' –Hinata

'Kapan aku bisa kembali ke masa-masa itu?' –Sasuke

'Kapan aku bisa merelakan dirinya?' –Naruto

'Kapan aku bisa jujur pada diri sendiri?' –Sakura

'Kapan aku bisa lepas dari pertemanan ini?' –Sasori

Semua pertanyaan itu berputar di benak kami. Kami sendiri tak tahu kapan itu semua akan terjawab. Karena roda waktu yang akan memutuskan saatnya.

.

.

Can't Deny Love © Eternal Dream Chowz

.

.

Chap. 3 Reflection of My Heart

Hinata sudah tampak lebih sehat hari ini, rona kemerahan tipis sudah kembali menghiasi wajah pucatnya. Namun entah kenapa, aura yang menyelubungi tubuh Hinata sangatlah mencekam, berat dan gelap. Semua pelayan tampak menjaga jarak dengan nona muda mereka yang tegas itu, entah kenapa kalau mereka mendekat sedikit saja, Hinata mungkin akan langsung mengamuk pada mereka.

Benar saja, Hinata masih kalut karena kejadian kemarin. Bukankah dia sudah bertekad akan melupakan Sasuke, tapi kenapa? Kenapa air matanya masih saja meleleh kala mengingat kejadian kemarin? Kenapa Hinata yang dulu terus membayangi dirinya? Seolah-olah menyuruhnya untuk berhenti. Berhenti untuk apa? Kenapa Hinata masih membayangkan kejadian yang hanya akan membuatnya terluka?

Hinata mendesah, ia memilih untuk duduk di tepi roka yang menghadap ke taman bunga di kediamannya. Matanya menutup perlahan, meresapi dinginnya angin musim dingin yang menerpa wajahnya. Roka di dekat taman ini sangat jarang didatangi pelayan, karena mereka tahu bahwa nona mereka sangat suka menyendiri di taman ini. Maka para pelayan hanya mendatangi tempat ini saat pagi hari, untuk membersihkan dan merawat taman yang dulunya berada sepenuhnya dalam pengawasan Hinata sendiri.

Kebetulan, Sasori sang dokter tengah mencari Hinata, hendak mengecek kedaan sang nona muda yang baru saja sembuh dari demam. Kakinya menelusuri lorong-lorong yang panjang menuju taman. Sejak kecil, tempat itu adalah tempat favorit Hinata setelah kolam tanaman air yang sekarang telah terbengkalai itu.

Ah, surai indigo itu terlihat. Sasori melangkah semakin cepat, tak sabar bertemu dengan sang gadis yang dicintainya itu.

"Hinata-sa-," Sasori terdiam dan langsung terpana dengan apa yang dilihatnya sekarang. Hinata telah tertidur, wajahnya tampak anggun dan polos. Rambut Hinata terurai, membingkai wajah jelitanya. Mengingatkan Sasori pada Hinata yang dulu. Hinata yang lembut, penggugup, lemah, tak percaya diri dan selalu tersenyum hangat. Kakinya melangkah, membawa dirinya menuju Hinata.

"Bodoh. Di sini dingin kan?" ucapnya pelan, senyum tulus hadir di wajahnya. Ia menggendong sang nona muda dengan hati-hati, berusaha tidak mengganggu tidur Hinata.

Di belakang sebuah pohon ginkgo, Sakura menyeringai. Sudah lama ia mengawasi kejadian tadi. Mulanya ia ingin mengganggu Hinata, justru ia mendapat sebuah rahasia manis yang berduri.

"Kau mencintainya bukan? Sasori? Kau mungkin akan menjadi penentu dalam cerita buatanku." Senyum masih terukir di bibir Sakura, tapi senyum itu sarat akan luka dan penderitaan.

"Kalian harus bernasib sama sepertiku!"

.

.

Can't Deny Love © Eternal Dream Chowz

.

.

"S-sasuke-kun! Ch-chotto," Hinata berjalan dengan agak kesulitan. Geta yang dipakainya tak membantunya untuk berjalan lebih cepat. Salju yang menumpuk pun makin membuatnya kesulitan melangkah.

Di depannya seorang pria tegap berjalan angkuh seakan tak peduli pada Hinata yang kesusahan. Tapi langkah lebar itu terlalu cepat untuk dapat disusul Hinata.

"Sasuke-kun!" dengan suara lembutnya, Hinata kembali memanggil nama pria itu. Sang pria di depannya tersentak sesaat lalu memandang ke belakang.

"Cepatlah, Hinata." Ucapnya dengan nada dingin, Hinata menciut seketika. Sejak beberapa minggu yang lalu, Hinata memang merasa bahwa Sasuke semakin dingin. Sikapnya tak lagi hangat seperti dulu. Sasuke kembali berjalan, tak mengacuhkan sang tunangan yang kesulitan berjalan. Biasanya ia akan tersenyum tipis lalu menggandeng tangan Hinata, menyeimbangkan irama langkah mereka. Tapi sekarang Sasuke malah tak acuh dan melangkah semakin cepat.

Mata Hinata terasa panas, air mata mulai meleleh perlahan.

"Ittai…," Sakit. Bukan hanya kakiku yang mulai terluka, aku bisa menahannya. Tetapi, hatiku sakit, Sasuke. Rasanya perih.

Sasuke mendengus kesal. Kenapa gadis itu malah menangis? Dasar manja, batin Sasuke. Entah apa yang merasukinya, Sasuke pun menyadari bahwa akhir-akhir ini ia memang sering terbawa emosi pada Hinata yang tak melakukan kesalahan apapun.

Apa ini yang mereka katakan tentang bosan pada pasangan? Atau ia memang sudah tak mencintai Hinata lagi? Hatinya terasa kosong, seakan Hinata sudah memudar, layaknya tulisan di atas kertas yang mulai memudar karena dimakan waktu.

Sasuke mungkin sedang tak waras waktu itu. Ia melangkah menuju Hinata yang telah terduduk di atas tumpukan salju yang dingin. Waktu itu sepi, jalanan di dekat kediaman Hyuuga memang tak pernah terlalu ramai. Para pelayan pun pasti sudah kembali ke kediaman pelayan.

"Hei, Hinata. Dengarlah..,"

Hinata mendongak, apakah Sasuke akan membantunya?

"Ayo, kita berhenti."

"B-berhenti? Dari apa?" Suara Hinata tampak lemah. Hinata mendongak, menatap Sasuke yang tampak telah membulatkan keputusan.

"Ayo kita hentikan hubungan ini."

"Ti-tidak!" Hinata menolak. Air mata membasahi wajahnya. Tampak Hinata sangat takut, takut Sasuke benar-benar menyudahi hubungan asmara mereka.

"Aku tidak mencintaimu lagi Hinata."

Hati Hinata pecah saat itu juga. Apa yang telah mereka lalui selama ini hanyalah kebahagiaan sesaat. Mana Sasukenya yang dulu? Yang selalu melindunginya dan memeluknya dengan dekapan hangat? Kemana itu semua? Hanya kepalsuan belaka?

"T-tapi kau sudah berjanji padaku kan?" Hinata menjerit dengan tangis yang meledak. Sasuke merasa bersalah, tapi tak berniat menarik kata-katanya.

"Hn, aku sudah lupa. Anggaplah semua itu tak pernah terjadi."

"Tidak! Aku tidak mau!"

"Pulanglah, Hinata."

Hinata mengis dalam diam. Sasuke hanya menatap Hinata dengan tatapan pilu.

"Sayonara, Hinata." Sasuke meninggalkan Hinata di tengah guyuran salju.

"Sasukee!"

Hinata terbangun dengan perasaan kacau. Kenapa peristiwa itu berulang pada bagian yang paling menyakitkan? Nafasnya berderu kencang. Hinata memeluk lututnya dan kembali menangis tergugu.

Tenten yang sejak tadi berjaga di luar merasa kaget karena mendengar suara isakan dari kamar sang nona muda.

"Hinata-sama?!"

Tenten menghampiri Hinata dan berusaha menenangkannya. Sebagai seorang pelindung Hinata sejak sang nona masih belia, Tenten tahu betul bagaimana sang nona bisa berakhir tragis seperti sekarang ini.

"Tenanglah Hinata-sama. Apa perlu kupanggilkan Sasori-dono?"

"Iie, aku hanya bermimpi buruk. Jangan panggil dia. Aku tak ingin merepotkannya lagi."

"Hai, wakarimasu, Hinata-sama."

Sampai kapan ia mampu menelan pil pahit ini? Bunga tidur pun semakin membuat Hinata terpuruk. Di luar kamar Hinata, Sasuke berdiri dengan tatapn pilu. Semula ia datang hanya karena mendengar suara Tenten yang panik. Bahkan dalam tidurpun Sasuke masih saja membuat gadis itu terluka.

"Gomen, Hinata."

.

.

Can't Deny Love © Eternal Dream Chowz

.

.

Di kawasan hutan menuju wilayah Hyuuga, seorang pria tampak kesulitan membaca arah di tengah hutan yang lebat itu.

"Kuso! Dasar pertapa genit! Peta khusus apanya? Bahkan aku tidak bisa menentukan arah di hutan belantara ini." Pria itu menghempaskan sebuah gulungan peta dengan emosi. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas salju.

"Sial! Dingin sekali! Aku lupa kalau salju sudah turun." Cercanya sambil segera berdiri. Mengusap-usap punggungnya yang kedinginan karena menimpa slju.

"Cih, kalau hanya karena ini aku menyerah, namaku bukan Naruto!"

"Tunggu aku, Sakura-chan!"

To Be Continued

A/N: Hai, hai, sudah lama Ether gak update karena sibuk di RL dan di grup FB. Masih adakah yang ingat dengan fanfic ini? Semoga saja ada. Hehe, semoga minna-san mau memaklumi jadwal update yang ga beraturan ini. Maaf kalau chapter ini masih sama singkatnya dengan yang kemarin. #nunduk Mungkin chap depan akan diperpanjang. ^_^ Maaf karena Ether ga bisa balas review kalian satu persatu. Tapi sebagai author, Ether sangat senang dan berusaha memperhatikan saran dari semua reader dan reviewer.

See you!

Mind to,

R

n

R

?

Arigatou gozaimassu! X9