"Oi, cebol sialan" Hiruma memanggil adik bungsunya itu.

Sena menoleh dari Yamato dan Kakei yang sedang mengajarinya PRnya. Hari ini kebetulan, mereka sekeluarga berkumpul di rumah. Suatu kebetulan yang aneh, karena pada musim panas latihan klub menjadi semakin sering, membuat mereka kelelahan dan jarang ketemu satu sama lain. Makanya mereka sangat menghargai waktu mereka bisa sama-sama berkumpul seperti ini

"Ya? Hiruma-niichan?" Tanya Sena polos pada kakaknya itu.

"Siapa cebol sialan yang bersamamu tadi?" Tanya Hiruma.

"Cebol sialan yang mana?" Tanya Sena.

Hiruma mendelik tajam pada adiknya itu, tapi Sena, ya Sena, sudah kebal dengan delikan itu jadi dia cuma memandang Hiruma dengan pandangan tidak mengerti.

"Si cebol sialan rambut putih sang RB Seibu itu!" Seru Hiruma.

Sekarang semua kakak-kakak Sena ikut-ikutan memandang Sena, melihat wajah adik mereka itu perlahan-lahan berubah dari pandangan bingung menjadi pandangan penuh pengertian.

"Oh, maksudnya…Riku?" Tanya Sena.

"Iya, cebol sialan, Kaitani Riku! Kenapa sepertinya kau dekat sekali dengannya?" Tanya Hiruma.

"Kau…kenal dengan Riku-kun, Sena-kun?" Tanya Yamato.

"Yamato-nii sendiri kenal dengan Riku?" Tanya Sena balik.

"Yah…dia kan salah satu RB terbaik di Tokyo, namanya sangat terkenal, Sena-kun, aku belum pernah melihatnya sih" kata Yamato.

"Dia belum pernah main tapi memang kehebatannya sudah sangat terkenal" kata Sakuraba.

"Kok aku tidak pernah tahu soal dia?" tanya Sena.

"Ya iyalah, matamu kan cuma tertuju pada Shin doang" kata Yamato.

"Ng…nggak kok" kata Sena.

"Jangan bohong, Sena-kun…" kata Sakuraba. "Kau dan Shin sama saja, cuma selalu melihat satu sama lain seperti dunia ini cuma milik kalian berdua…"

"Jadi…siapa dia, cebol sialan?" Tanya Hiruma, kali ini sambil menodongkan machine gunnya pada Sena, yah in case dia bertanya sesuatu lagi.

Wajah Sena jadi pias, dia sampai terbelit lidah saat dia mencoba menjawab pertanyaan Hiruma karena gugup dan takut. "Em…Riku…anu dia…Riku itu…a…dia…temanku waktu kecil…"

Semua mata langsung memandang Sena. "Teman sejak kecil, aku tidak ingat pernah kenal dia" kata Hiruma.

"A…Hiruma-niichan, kau memang tidak kenal dia, tapi jika kau tanya Mamori-neesan dia pasti tahu, dia sering melihatku bersama Riku" kata Sena.

"Kenapa bisa cuma Mamori yang kenal dia?" tanya Kakei.

"Karena dia sering pindah karena pekerjaan ayahnya, dia cuma tinggal selama seminggu di sini"

"Seminggu? Cepat sekali! Irama hidupnya pasti cepat ya…nada seperti musik hip-hop yang cepat tapi berirama bagus…" kata Akaba sambil tetap memainkan gitarnya.

"Lalu…kenapa kau bisa dekat sekali dengan dia? Dengan teman yang kenal bertahun-tahun saja kau tidak sedekat itu" kata Hiruma.

Pandangan mata Sena menjadi nanar. "Dia…alasan kenapa aku bisa jadi seperti sekarang…" kata Sena.

"EH?" seru kakak-kakanya bersamaan.

"Ya…dia adalah alasan aku bisa seperti sekarang, menjadi seorang RB yang lumayan punya nama. Itu semua karena dia…" kata Sena.

"Apa hubungannya dengan dia, cebol sialan?" seru Hiruma.

"Habis…yang mengajariku untuk berlari itu…Riku…" kata Sena pelan.

"APA?" Seru kakak-kakaknya bersamaan lagi.

"Iya…yang mengajariku tekhnik lari itu Riku. Awalnya itu cuma untuk mempertahankan diri sih. Dia bilang kalau aku tidak bisa berantem jadi lebih baik aku menghindar…dan karena itu dia mengajariku lari" kata Sena.

"Lalu?" tanya Kakei

"Lalu dia pindah karena pekerjaan ayahnya. Sebelum berpisah aku…janji padanya kalau aku akan tetap mengingat cara lari yang diajarkannya dan…" wajah Sena berubah merah padam. "Aku tidak akan disuruh-suruh lagi"

"Tapi sampai sekarang kau masih disuruh-suruh, cebol sialan" kata Hiruma.

"Aku tahu itu!" seru Sena. "Karena itu aku…merasa bersalah sama Riku. Dia tahu kalau aku tidak menepati janji padanya"

"Apa dia tahu…kalau kau adalah Eyeshield 21?" tanya Yamato. "Sebagai sesama RB, dia pasti akan menganggapmu rival, Sena-kun. Apalagi RB di tim Deimon yang mengalahkan tim kami."

"Aku…tidak tahu" kata Sena. "Tapi kalaupun dia tahu…kuharap dia tidak marah padaku"

Tiba-tiba handphone Sena berbunyi. Sena mengambil handphonenya dan melihat nama Riku di caller idnya. Dia segera menjawab panggilannya sambil berjalan pergi keluar dari ruang tamu. Saat dia berjalan keluar dari ruang tamu dan bersandar di dinding, dia tidak sadar kalau kaka-kakaknya mengikutinya dan menguping pembicaraannya.

"Hei Riku" kata Sena. Mendengarnya, kakak-kakaknya langsung pasang telinga.

"Buat apa Riku-kun meneleponnya?" tanya Kakei.

"Mungkin cuma untuk memperbaharui persahabatan yang sudah lama tidak terjalin" kata Sakuraba.

"Atau mungkin Riku-kun mengajaknya kencan" kata Yamato sambil nyengir.

"Hmmm…irama yang bagus sih kalau mereka bersama. Pasti lagu yang dihasilkan akan bagus" kata Akaba sambil membenarkan letak sunglassesnya.

"Dasar cebol sialan itu! Aku tidak punya data apapun untuk mengancam si cebol Seibu itu" kata Hiruma sambil melihat-lihat buku ancamannya.

Mari kita kembali kepada Sena.

"Hei, Riku" kata Sena.

"Hei Sena" kata Riku di seberang telepon.

"Ada apa sampai kau meneleponku?" tanya Sena lagi.

"Aku cuma mau tanya, besok kau ada acara nggak?" tanya Riku.

"Acara? Nggak, aku kosong kok. Ada apa?" tanya Sena.

"Aku ingin mengajakmu jalan. Apa kau keberatan?" tanya Riku.

"Jalan?" tanya Sena bingung. Di ruang tamu, seringai Yamato semakin lebar saat mendengarnya. "Ke…ke mana?"

"Ke Tokyo Disneyland. Ayah memberiku dua buah tiket untuk ke sana. Saat aku bilang aku ketemu kamu tadi siang, ayah menyuruhku untuk mengajakmu" kata Riku.

"Tokyo Disneyland? Dari dulu aku ingin sekali ke sana! Mau, mau, aku mau!" seru Sena antusias.

Riku tertawa mendengar Sena yang sangat antusias. "Yah…besok aku akan menjemputmu sekitar…jam 11" katanya.

"Oke" kata Sena.

"Apa…tidak ada yang keberatan aku mengajakmu pergi?" tanya Riku.

Sena langsung ingat dengan kakak-kakaknya. Dia tahu kakak-kakaknya, terutama Hiruma dan kecuali Yamato yang santai dan Sakuraba yang kalem dan pengertian pasti protes, tapi entah kenapa dia sangat keras kepala hari ini, entah karena Riku mengajaknya ke Tokyo Disneyland yang sudah lama ingin dikunjunginya atau karena ini Riku yang mengajaknya, dia langsung berkata dengan Riku. "Nggak, nggak ada. Kalaupun ada, biarkan saja. Bagaimanapun besok kan libur, juga tidak ada latihan klub" dalam hati dia mengatakan. 'HARUS TIDAK ADA LATIHAN KLUB!' karena dia tahu Hiruma bisa saja seenaknya mengubah dan menentukan jadwal latihan mereka.

Yamato yang mendengar nada bicara Sena tertawa pelan. "Dari nada suaranya, dia akan tetap pergi dengan cuek walaupun kau menyuruhnya latihan besok, Hiruma-nii" kata Yamato dengan nada iseng pada Hiruma.

"Dasar si cebol sialan itu!" kata Hiruma yang juga menyadari maksud perkataan Sena.

"Oke, kalau begitu aku akan menjemputmu besok. Siap-siap dan minta izin kakakmu untuk membiarkanmu pergi seharian ya?" kata Riku,

"Oke" kata Sena.

"Baiklah, sampai besok ya" kata Riku

"Sampai besok juga" kata Sena

Dan hubungan teleponpun diputus…

Senapun kembali memasuki ruang tamu dan langsung disambut Yamato yang memeluk Sena.

"Wahh…aku tidak menyangka adikku sudah besar ya" kata Yamato riang.

"Apa? Apa maksudmu?" tanya Sena nggak mengerti.

"Kau mau kencan kan dengan Riku?" kata Yamato.

Wajah Sena langsung merah padam. "Ti…tidak kok!" serunya.

"Jangan bohong, Sena-kun. Bohong itu tidak baik" kata Sakuraba.

"Aku tidak bohong! Dia cuma mengajakku jalan-jalan!" seru Sena.

"Jalan-jalan itu sama dengan kencan" kata Kakei datar sambil tetap membaca majalah yang dipegangnya.

"Da…darimana…pernyataan apa…" kata Sena tergagap-gagap.

"Irama bicaramu kacau Sena-kun…" kata Akaba sambil kembali memainkan gitarnya.

"Ah…eh…" kata Sena.

"Pokoknya pulang jam Sembilan malam! Kalau kau belum pulang setelah itu, akan kutembak mati kau!" kata Hiruma.

"Ba…baik…" kata Sena.

"Cih…sudahlah, pergi tidur cepat. Besok bisa-bisa kau bangun siang" kata Hiruma.

"Baik" kata Sena sambil berlari ke kamarnya.

Di ruang tamu…

"Aku benar kan, Riku-kun mengajaknya kencan?" kata Yamato.

"Apa menurutmu Riku akan nembak dia?" kata Kakei datar.

"Tidak mungkin" kata Yamato sambil mengayunkan tangannya. "Dari yang kulihat, Riku-kun itu bukan tipe yang 'langsung' seperti itu"

"Memang, sepertinya dia tipe yang berpikir masak-masak sebelum melakukan sesuatu…" kata Sakuraba.

"Karena itu…bagaimana kalau kita goda Riku-kun sedikit?" kata Yamato. Sifat isengnya kambuh.

"Goda dia bagaimana?" tanya Sakuraba khawatir.

"Kita goda dia dengan bikin Sena-kun jadi sosok imut yang pasti bakal bikin Riku salah tingkah" kata Yamato sambil nyengir.

"Kau benar-benar…" kata Sakuraba sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau ikut-ikutan rencana gilamu" kata Kakei sambil tetap membaca majalah.

"Habis Sena-kun kan pergi kencan, dia harus sempurna, dong" kata Yamato.

"Kalau itu aku setuju…memang Sena-kun tidak punya fashion sense yang bagus" kata Sakuraba.

"Jadi…sang model terkenal…bantu Sena-kun supaya terlihat manis ya…" kata Yamato.

"Jangan bilang aku model terkenal ya! Aku sudah bilang berkali-kali kan?" kata Sakuraba.

"Tapi memang fashion sensemu lebih baik daripada Sena…" kata Kakei.

"Fuu…sepertinya besok akan ada lagu dengan beat yang bagus…" kata Akaba.

"Dasar sialan! Si cebol sialan RB itu!" kata Hiruma kesal.

Di kamar Sena…

Sena langsung mengganti bajunya dengan baju tidur dan merayap ke tempat tidurnya. Dia merapatkan selimut ke tubuh mungilnya. Dia berpikir…tumben Riku ngajak dia jalan-jalan? Apa ini tanda…ah, tidak mungkin…

Sena berbalik di ranjangnya. Sena memikirkan Riku. Dia sangat menyukai dan mengagumi Riku sebagai kakaknya…tapi saat dia melihat Riku hari ini…dia merasakan sensasi aneh di hatinya…dia berdebar-debar. Apa dia…mulai melihat Riku sebagai seseorang yang lebih dari teman, rival, dan kakak? Apa dia mulai melihat Riku sebagai orang yang disukainya?

Sena menghela napas dan menutupi matanya dengan tangannya. Dia menutup matanya dan menutup matanya. Tidak lama kemudian, dia jatuh tertidur dengan lelapnya…

Author note:

Okee, ini chapter ketiga di fanfic eyeshield 21.

Bagi para readers, wajib mereview usai membaca yaaa! –langsung dihajar para reader-