Ketika Gouenji membuka pintu rumahnya di pagi buta, tiga orang yang ia tidak kenal langsung menyerobot masuk ke rumahnya. "Hei! Apa yang kalian lakukan?" teriaknya, takut kalau-kalau orang-orang itu adalah utusan dari akademi militer untuk mengambil Kazemaru kembali.

Ah, tunggu…

Mengapa ia takut?

Mengapa ia gelisah?

Mengapa ia khawatir?

Padahal, kalau ditelaah, Kazemaru selama ini memang merepotkannya. Seharusnya ia bersyukur ada orang yang mau mengambil Kazemaru kembali tanpa harus ia yang memintanya.

Lalu mengapa ia takut jika Kazemaru kembali ke akademi? Bukankah itu memang tempat asal dan tujuan dari pemuda itu?

"Aku tidak mau pulang!"

Sang dokter muda mengenali suara itu, bahkan walau suaranya tidak dikenali sekalipun, semua orang tahu kalau yang berteriak di sana adalah Kazemaru. Karena hanya ia yang ada di dalam rumah Gouenji saat ini.

Gouenji dengan cepat masuk kembali ke dalam rumahnya, dan mendapati pemuda militer itu sedang ditarik paksa oleh ketiga orang tadi agar keluar dari rumah. "Aku sudah bilang tidak mau pulang!" teriaknya, meronta dengan sekuat tenaga dari cengkeraman orang-orang itu.

"Jangan membantah! Kepala Akademi sudah memanggilmu pulang! Cepat kembali atau kau akan terus dipaksa untuk pulang, dengan cara yang lebih kasar dari ini!" salah satu dari ketiga orang itu mulai berseru.

"Dada dan punggungku belum sembuh total, tahu! Kalian mau membawaku menghadap Kepala Akademi dengan keadaan begini?" balas Kazemaru tak terima. Meski begitu, ketiga orang tadi terus memaksa Kazemaru untuk ikut dengan mereka, "kau akan segera disembuhkan di akademi. Sekarang kau harus pulang!"

Kesal, Kazemaru mulai berteriak lantang, "aku mau pulang kalau ada Endou! Kalau Endou tak ada, aku tak mau pulang!"

Eh?

Gouenji yang memang sengaja menguping untuk melihat keadaan sedikit terkejut. 'Dia hanya mau pulang kalau ada Endou?' ia membatin keheranan. Sepenting itukah sosok seorang Endou di mata Kazemaru?

Walaupun Gouenji sudah berjanji agar tak mencampuri urusan Kazemaru, dokter itu penasaran juga. Memangnya ada apa di antara Endou dan Kazemaru, sehingga pemuda yang ditolongnya itu sangat memperhatikan Endou, bahkan tak mau pulang kembali ke akademi militer kalau tak ada dia?

"Endou? Dia sudah meninggal, tak ada lagi. Sekarang kau harus pulang!" ketiga orang yang menyeret Kazemaru tadi mulanya agak kaget waktu Kazemaru berkata kalau ia tak mau pulang. Tapi kemudian mereka bersikap biasa kembali.

Sedangkan Kazemaru, tetap berteriak kalau ia hanya ingin pulang kalau ada Endou. "Aku tak mau tahu! Pokoknya aku hanya mau pulang kalau ada Endou! Kalian bawa Endou hidup-hidup ke sini, baru aku mau pulang!"

Karena berisik –oh, dan mungkin saja ada alasan lain-, Gouenji menengahi keempat orang yang tengah berseteru itu. "Maaf, tapi kupikir tak baik untuk memaksa anak ini pulang. Walau bagaimanapun, ia tak mau pulang kalau tak ada seseorang bernama Endou itu, bukan? Aku rasa kalian tak bisa memaksanya begitu saja," sanggahnya tanpa maksud membela Kazemaru.

Salah satu dari ketiga orang itu mendengus, "tahu apa kau? Anak ini adalah tanggung jawab kami. Dia siswa yang penting di akademi militer kami."

Sang dokter memutar matanya, sekaligus berpikir untuk mencari alasan logis agar ketiga orang itu tak membawa Kazemaru pulang.

Ah…

'Ternyata aku memang tak ingin Kazemaru pulang ke akademi,' batinnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Pura-pura bingung padahal canggung pada pemikiran sendiri.

"Dasar bodoh," ucapnya. Entah pada siapa. "Aku memang tak tahu apa-apa. Soal Kazemaru yang menjadi siswa penting di akademi kalian, atau apa pun. Yang jelas…" dokter itu memotong kalimatnya-

"Kalian telah membuat rumahku yang dari tadi sunyi menjadi berisik! Sekarang keluar atau kutendang kalian!"

-dan berteriak marah. Plus deathglare seram gratis dari mata onyx cerahnya. Oh, dan jangan lupakan ancaman tendangan itu.

"Keluar! Atau akan kupanggil polisi sekarang!" ia berteriak lagi. Kali ini sambil mengambil pesawat telepon, berlagak ingin menghubungi polisi.

Ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak. "Dokter! Di sini mana ada polisi!" kata mereka, mengejek.

"Ini bukan Distrik 3, tolol. Ini Distrik 0. Distrik rahasia yang tentu saja dilindungi, apalagi untuk seseorang yang langka sepertiku," Gouenji membalas, tapi tak bermaksud untuk menyombong.

Sesaat, ketiga orang itu melihat Gouenji. Dia memang dokter biasa.

Tapi, ada sesuatu yang lain mengenai dokter yang satu ini.

Dengan sangat terpaksa, tiga orang itu keluar dengan tangan hampa. Tanpa membawa Kazemaru yang harusnya mereka bawa pulang ke akademi.

"Kau bertingkah konyol," komentar Kazemaru saat tiga orang yang ingin membawanya tadi telah jauh. Catat, ia berkomentar dengan wajah tanpa ekspresi, seperti yang biasa ia lakukan ketika sedang mengejek orang atau mengerjai juniornya dulu.

Gouenji mengedikkan bahu. "Yang penting rumahku tak berisik," sahutnya mantap. Walau sebenarnya ia memang sudah menyiapkan alasan itu jika Kazemaru bertanya mengapa pria itu menahan kepergiannya.

Ternyata benar.

Gouenji sama sekali tak ingin Kazemaru pergi.


.

.


Kokoro?

An Inazuma Eleven Fanfic

Chapter 3

*He?*

Disclaimer:

Ehem, Kawan, kalo saya punya Inazuma Eleven, bakal saya jadiin penuh shonen-ai, dan saya jadiin anime macam Sa*nt Se*ya main bola!

Eh, emang udah kayak gitu ya?

Ya, udah deh…

Inazuma Eleven © Level-5? Yabuno Tenya? Akihiro Hino? Katsuhito Akiyama? Miyao Yoshikazu? Siapa pun, yang pasti bukan saya! #mewek sendiri

Warning:

Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya

Saya dah bilang ini fic ooc kan?


.

.

.


"Dasar merepotkan," gumam Kazemaru sendirian. Ia meringkuk di atas sofa sambil memeluk bantal. Menahan dingin yang selalu ada di Distrik 0 ini.

"Siapa yang merepotkan?" tanya Gouenji sembari menyampirkan handuk di bahunya. Barangkali dokter itu mau mandi. Kazemaru tidak menjawab, hanya melanjutkan ocehan yang ia buat sendiri. Ia mungkin sama sekali tak sadar kalau sedari tadi Gouenji sedang bertanya.

Seketika, Gouenji memperhatikan Kazemaru. Anak militer itu sama sekali tak merasa dipandangi seperti biasanya. Ia lebih memfokuskan diri pada kejadian tadi pagi, dan mengoceh-ngoceh tak jelas sambil terus-menerus bilang merepotkan.

'Jangan-jangan, anak ini jarang mandi, ya?' batin sang dokter. Menyadari kalau di lingkungan militer, mungkin saja Kazemaru tidak punya waktu banyak untuk mandi karena jadwalnya yang pasti amit-amit ketatnya itu. Mana murid-muridnya harus disiplin pula. Siswa penting seperti Kazemaru, tentu saja akan mematuhi peraturan, dan melupakan keharusan –oh, atau mungkin sebut saja ini sebagai keWAJIBan- seorang remaja untuk mandi.

Setahunya, sih, remaja itu perlu mandi. Sayangnya ia tak tahu banyak soal remaja. Ia bukan ahli dalam bidang itu. Ia dokter untuk organ dalam.

Yah, semua orang saja perlu mandi, masa' remaja dibedakan sendiri? Kecuali mereka ada kelainan mungkin saja.

Mengangkat bahunya –Gouenji tak mau tahu urusan anak itu lagi, titik! Ia sudah bertekad!-, dokter itu segera berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Kazemaru sendirian yang masih setia dengan ocehan panjang merepotkannya.

Setelah bunyi klik pelan terdengar, Kazemaru tiba-tiba berhenti mengoceh. Ya, sebenarnya ia sadar dan tahu kalau dari tadi Gouenji memperhatikannya, dan menanyakan kalimat yang sama padanya. Tapi ia hanya melanjutkan ocehan tak jelasnya.

Dia sengaja, agar sang dokter cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Dan ia bisa-

"Cih, dasar Gouenji sialan…"

-bebas untuk mengumpat mengolok-olok seorang Gouenji, yang sudah menyelamatkan nyawanya. Seenak jidatnya.

Oh, tidak, tidak. Kazemaru tidak ingin mengejek Gouenji tanpa alasan. Ia hanya…

Ah, bagaimana bilangnya, ya? Habisnya, menurut Kazemaru, Gouenji itu tidak perlu melerai sampai mengusir seperti tadi, karena ia sendiri pun sebenarnya bisa mengatasi tiga orang tadi sendirian. Meskipun ia dalam keadaan terluka dan tanpa senjata.

Dan Kazemaru sama sekali tidak menyangka, Gouenji akan menahan kepergiannya, entah kenapa. Ia pikir dokter itu senang karena ada yang menjemputnya, tapi secara tak terduga penyelamat nyawanya itu malah tidak mengizinkannya pergi.

Ya, ia tahu itu. Walaupun tidak secara langsung. Memang ia tak punya hati, tapi ia tak bodoh. Dan sikap Gouenji itu membuatnya sedikit…

Senang?

Kazemaru mengerucutkan bibirnya, ia tidak boleh merasa senang sebenarnya.

Hmph, meskipun ada yang membuatnya penasaran dengan sang dokter. Ia heran, mengapa tiga orang tadi menurut pada kata-katanya? Sebenarnya siapa dia? Benarkah Gouenji itu hanya dokter kebetulan lewat yang pernah ia katakan?

Ah, ia tak tahu. Dan ia tak ingin mencari tahu. Itu bukan urusannya. Siapa pun Gouenji, yang jelas semua itu bukanlah bagian dari urusannya. Urusannya hanyalah militer, dan ia hanya akan kembali ke militer kalau Endou sudah ia temukan.

Tanpa sadar, kaki Kazemaru membawanya ke dalam kamar mandi. Ia sama sekali lupa, dan tidak sadar kalau di sana masih ada Gouenji. Atau sepasang kaki yang membawa tubuh atletisnya ke kamar mandi.

Ia. Tidak. Sadar.

Harap camkan itu.

"!"

'Dia…' Kazemaru membatin ngeri. Di hadapannya itu. Terlihat tubuh seorang manusia. Gouenji. Membelakanginya.

Tubuh itu tidak memakai sehelai benang pun pakaian. Dikarenakan ia sedang mencuci rambutnya yang…

'Rambutnya… tidak salah lagi, dia benar-benar 'orang itu'. Gouenji…'

"Ng?" sang pemilik tubuh, yang baru tersadar kalau ia diperhatikan sedari tadi, secara refleks menoleh ke belakang. Lalu-

"AAAAAHHHH! KELUAAAAARRRR!"

-melempari sang 'pengintip' dengan apa pun yang ada di dekatnya. Entah itu botol sampo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan lain-lain.

Baru sadar akan perbuatannya, Kazemaru segera keluar tanpa menjawab. Ia melindungi kepala biru hijaunya dari lemparan maut alat-alat mandi dengan kedua tangan. Kemudian ia mendengar Gouenji menutup keras daun pintu dari dalam, dan menguncinya. Menyebabkan Kazemaru tak bisa melihat apa yang tadinya ia lihat.

Ups, jangan berpikiran negatif dulu. Kazemaru tidak melihat apa-apa, hanya rambut, kok.

'Huh, dasar. Padahal aku mandi tiap hari bersama teman-teman di pemandian umum, tidak ada yang berteriak seperti itu tuh,' batin Kazemaru. Mengingat kembali masa-masa di mana ia dan teman-teman militernya biasa mandi bersama di pemandian umum akademi beramai-ramai. Bahkan ia dan Endou dulu saling menggosok punggung.

'Tapi rambutnya tadi… ternyata Gouenji memang 'orang itu'. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya…'

Tik.

Tik.

Tik.

Tidak ada seorang pun yang ingin bicara saat itu, semua hening. Hanya bunyi detak jam yang ada.

Hening.

Kazemaru memalingkan wajah, tak mau bertemu muka dengan sang dokter yang barusan ia intip di dalam kamar mandi. Tapi, hei, itu tidak sengaja. Ia tak bermaksud seperti itu. Jadi itu bukan sepenuhnya kesalahannya.

Sedangkan Gouenji sang objek intipan, sedang memasang muka kusut yang sangat tak enak dilihat. Maklum saja, se-stoic apa pun dia, kalau sedang mandi terus diintip orang, ya jelas marah. Meskipun tidak sengaja, tapi berbahaya juga, kan?

"Kenapa kau masuk ke dalam?" tanya Gouenji memecah keheningan. Nadanya terdengar dingin dan menusuk, menandakan ia sedang marah.

Kazemaru mencibir, "aku tidak sengaja," katanya, tidak dengan ketus ataupun dengan baik. "Aku sama sekali tak sadar kalau kau sedang ada di kamar mandi," erangnya membela diri.

Menghela napas panjang, Gouenji mencoba untuk bersabar. "Baik, kau tidak sengaja. Aku maklumi itu," karena ia memang melihat Kazemaru yang mengoceh-ngoceh tak jelas dan tidak menyadari apa-apa walaupun ia memanggil. Tanpa tahu sebenarnya si anak militer hanya pura-pura saja waktu itu.

"Tapi tak bisakah kau langsung menutup pintunya? Yang kau lakukan hanya membiarkan dirimu meli –AARGH! Aku tak tahu apa yang kau lihat, yang pasti itu-"

"Aku hanya lihat rambutmu, dan kau memang 'orang itu' kan, Gouenji?" Kazemaru memotong kalimat si dokter. Pria itu segera menoleh kepada Kazemaru, dengan tatapan horor.

Ups.

Sepertinya Kazemaru baru saja melakukan satu kesalahan fatal.

Mata Gouenji memicing, entah apa yang ia pikirkan. Sedangkan Kazemaru di hadapannya hanya menjilati es krim yang sedang dimakannya –es krim itu diambil dengan seenak jidatnya dari lemari es, yang merupakan benda keramat Gouenji- tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

"Boleh, kan, kalau kumakan satu es krimmu?" tanya Kazemaru, sebenarnya sudah sangat terlambat untuk mengatakan itu, tapi dia tidak peduli dan terus menjilat es krim.

Sang dokter mengepalkan tangannya. Ia, sih tidak masalah kalau es krim di kulkas hilang sebuah. Tapi bilang-bilang, dong, kalau mau makan!

Lemari es memang benda keramatnya, yang berarti tidak seorang pun boleh menyentuh apalagi membukanya sembarangan. Tapi karena Kazemaru anak militer, dan militer pasti tak mengajarkan sopan santun, ia memaklumi sikap Kazemaru.

Kembali ke kenyataan. Siapakah 'orang itu' yang Kazemaru maksud?

"Apa maksudmu dengan 'orang itu'?" yah, bahkan Gouenji pun bertanya, padahal dirinyalah yang disebut sebagai 'orang itu' oleh si pemuda militer.

Kazemaru mengedikkan bahu. "Ah, susah bicara pada orang yang kabur dan tidak bertanggung jawab," sindirnya tajam dan menusuk. Namun sepertinya Gouenji tidak peduli, ia hanya tetap memperhatikan Kazemaru, maksudnya mau menginterogasi 'orang itu' yang dimaksud olehnya.

"Kau anak kecil yang sok tahu, ya," komentar Gouenji. Kesannya pedas tapi ia mengucapkannya dengan datar dan tanpa ekspresi.

Sang pemuda militer, tampak tidak peduli. Ia memutar mata madunya dan tidak melirik Gouenji sama sekali. "Mau anak kecil atau bukan, kenyataannya aku tidak berusaha lari dari tanggung jawab sepertimu."

"Ya, kau lari," ucap Gouenji membela diri. "Buktinya?" tuntut Kazemaru, meminta alasan Gouenji mengatakannya lari dari tanggung jawab.

Gouenji tertawa dalam hati. Dalam hati, camkan itu. Ia tak berniat mencari masalah dengan anak militer labil yang menghadapi kematian teman saja tak sanggup. Dampaknya akan sangat mengerikan, sungguh.

"Kau hanya mau pulang ke akademi kalau ada Endou. Itu membuktikan kau masih lemah dan lari dari tanggung jawabmu sebagai siswa militer yang wajib pulang. Menghadapi kematian teman saja kau tak bisa," olok sang dokter. Ia tak peduli lagi bagaimana wajah Kazemaru, entah masih datar, entah sudah tak berbentuk lagi sekarang.

"Enak saja kau bicara. Endou itu bukan teman biasa bagiku."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kazemaru. Spontan. Refleks. Es krim yang kini hanya tinggal stiknya ia buang entah ke mana. Ke tong sampah, mungkin. Kazemaru termasuk orang yang cinta kebersihan, terima kasih.

"Endou itu teman yang kupercaya, kusegani, kukagumi, dan kusayangi. Dia sahabat terbaikku. Dia selalu mendukungku. Kami saling membutuhkan, satu hilang maka semua hancur, jadi kau jangan sembarangan bicara."

Wow, meskipun Gouenji tahu kalau Kazemaru itu pintar bicara, tapi ia tak menyangka pemuda itu akan membela dirinya sampai segitunya. Hebat sekali orang bernama Endou itu, bisa mempengaruhi Kazemaru sampai seperti ini.

"Racun apa yang Endou berikan padamu sampai kau bisa bicara seperti itu?" seringai di wajah Gouenji mengembang. Entah apa arti di balik itu.

Kazemaru mendengus, tidak mengerti dengan apa yang Gouenji katakan. "Entahlah. Mungkin racun yang di sekolah militer kami dinamakan 'kasih sayang'," ia menjawab sekenanya.


.

.

.


Anak itu terfokus. Hanya di depan matanya.

"Pintu kedap suara, air, dan peluru ditutup. Ujian Kenaikan Tingkat dimulai."

Di tangan kirinya tidak terdapat apa pun. Sedangkan tangan kanannya menggenggam sebilah pedang panjang. Pada punggung kecil yang baru akan tumbuh itu tersingkap kedua pedang lainnya. Sebagai ganti jika yang ada di tangan kanannya tak bisa digunakan kembali.

"Nomor urut Dua Belas, Tingkat Ketujuh Kazemaru, melawan nomor urut Satu, Tingkat Kedelapan Saginuma."

Anak itu bernama Kazemaru, siswa tingkat ketujuh di Akademi Militer Distrik 3.

"Peraturan pertama dan satu-satunya, habisi lawan di hadapanmu hingga tumbang. Jika lawanmu pingsan, terluka, atau mati, kau yang menang."

Untuk ujian kenaikan tingkat di akademi militer, semua orang tahu kalau harus saling membunuh dengan kakak kelas atau adik kelas. Senior membunuh junior, junior membunuh senior. Itu semua adalah adat di Akademi Militer Distrik 3, tidak ada yang bisa mengganggu gugatnya.

Nomor urut ditentukan dengan undian, yang dilakukan sehari sebelum praktik ujian dilaksanakan, di dalam kelas masing-masing. Dua belas melawan satu artinya ada sebelas orang yang ditumbangkan oleh orang yang memegang nomor urut satu, sendirian. Entah terbunuh semua, entah tidak.

Hanya satu peraturan yang dilarang di Akademi Militer Distrik 3.

Yaitu, jika lawan sudah pingsan atau terluka, tak ada yang boleh membunuhnya.

Sebab dalam peperangan yang sebenarnya, musuh yang terluka dapat dijadikan tawanan untuk jaminan perjanjian.

Heh, taktik yang cerdas? Tidak juga. Tidak semua orang mau menukarkan tawanan dengan jaminan perjanjian. Kebanyakan malah menganggap bunuh saja tawanan itu, hanya membuat pusing.

Nomor urut Satu, Tingkat Kedelapan Saginuma, adalah orang yang harus dihadapi Kazemaru saat ini. Ia berambut hitam, dengan mata tajam menusuk dan wajah tanpa ekspresi itu membuatnya terlihat menyeramkan. Apalagi prestasinya di akademi bukan main-main. Peringkat ketiga seangkatan selama lima tahun berturut-turut selalu disandangnya.

Keahliannya adalah menyerang secara bertahap, perlahan namun pasti ia akan menaklukkan apa yang ada di depannya. Terkadang ia bahkan melakukan hal yang tak terduga. Monster seperti itulah dia.

Namun Kazemaru sama sekali tidak takut. Militer tak pernah mengajarkan rasa takut. Matanya tetap memicing tajam dan tetap memandang seniornya itu dengan wajah siap membunuh.

Ia tidak mengenal Saginuma, Saginuma juga tidak mengenalnya. Tidak ada alasan untuk saling mengasihani.

Bunuh saja semua yang menghalangi. Itulah misinya sekarang ini.

Saginuma menyerang, Kazemaru tak mau kalah. Ia telah belajar bagaimana cara menyerang saat diserang. Ia selalu mengingat apa yang dikatakan para pengajarnya.

Ketika kita diserang, saat itulah kita menyerang.

Walau begitu, melawan jawara di tingkat delapan bukan hal mudah bagi jawara tingkat tujuh seperti Kazemaru. Butuh perjuangan keras.

"Akh!"

Kazemaru menjerit tertahan. Kakinya secara refleks mundur tiga langkah ke belakang. Memegangi mata kirinya. Mata kanannya memandangi sesuatu yang menggelinding ke dekat kakinya.

Ya, itu bola mata kirinya.

Yang kelopaknya telah ditebas, dan isi di dalamnya dicongkel kemudian dikeluarkan oleh Saginuma, dengan cepat dan tanpa belas kasihan.

Sekali lagi, tak perlu ada alasan untuk saling mengasihani.

Kazemaru memaklumi itu.

"Ujian Kenaikan Tingkat selesai. Nomor urut Dua Belas, Tingkat Ketujuh Kazemaru, gagal melanjutkan ke tingkat berikutnya. Mengulang satu tahun lagi untuk-"

"Tunggu! Aku masih bisa melawan!" teriak Kazemaru, memotong perkataan secara spontan dari sebuah mesin di atap dalam ruangan itu. Entah siapa dan dari mana yang mengucapkannya, yang penting Kazemaru tak mau gagal dalam ujian kali ini. Ia mendapat predikat yang terbaik pada tahun lalu, ia tak mau gagal kali ini.

Saginuma memicing, tanpa alasan mengejek. "Kau yakin masih bisa bertarung? Matamu hanya tinggal sebuah sekarang," tanyanya.

Siswa angkatan tujuh itu menyeringai. "Tidak apa-apa. Aku masih bisa melanjutkan ujian," katanya mantap.

"Ujian Kenaikan Tingkat dilanjutkan. Nomor urut Dua Belas, Tingkat Ketujuh Kazemaru, melawan nomor urut Satu, Tingkat Kedelapan Saginuma."

Mata Kazemaru, yang kini hanya tinggal sebelah kanan, memandang Saginuma. Ia tidak mempedulikan rasa sakit luar biasa yang mendera lubang tempat mata kirinya dahulu bersarang. Ia tidak mempedulikan darah segar yang terus mengalir melalui lubang itu. Ia juga tidak mempedulikan jangkauan pandangannya yang kini tinggal setengah dari yang seharusnya.

Yang penting, kalahkan.

Dan itulah yang ia lakukan sekarang.

Menusuk tepat di jantung Saginuma, dari belakang.

"Ujian Kenaikan Tingkat selesai. Nomor urut Dua Belas, Tingkat Ketujuh Kazemaru, berhasil melanjutkan ke tingkat berikutnya. Nomor urut Satu, Tingkat Kedelapan Saginuma, gagalmelanjutkan ke tingkat berikutnya. Pintu kedap air, suara, dan peluru dibuka."

Kazemaru menggenggam bola matanya. Tadi ia sempat mengambil benda bundar itu sesaat setelah Saginuma ambruk.

Dan pintu itu terbuka. Kazemaru melangkah gontai dengan berlumur darah yang keluar dari mata kirinya –atau boleh juga disebut 'lubang bekas mata kirinya'-. Melirik sedikit menggunakan mata kanannya, pemuda itu tak mengindahkan tatapan mereka yang memandanginya jijik namun hanya diam saja.

"Kazemaru! Bagaimana ujianmu –AKH!"

Secara tak terduga oleh sang pemuda turquoise, Endou datang menjemputnya. Padahal ia tahu kalau ruangan ujian mereka terpisah tiga kelas.

Di Akademi Militer Distrik 3, ruang ujian ada lima kelas untuk setiap angkatan. Kelas pertama, yang ditempati oleh Kazemaru tadi. Berisi siswa-siswi nomor urut satu hingga lima belas di setiap angkatan. Kelas kedua, ditempati peserta ujian nomor enam belas hingga tiga puluh. Kelas ketiga, dari tiga puluh satu hingga enam puluh. Kelas keempat, enam puluh satu sampai seratus dua puluh. Sedangkan kelas terakhir ditempati seratus dua puluh satu hingga dua ratus empat puluh.

Sedikit? Hm… lumayan. Sebagai akademi raksasa, jumlah siswa itu termasuk sedikit. Karena meskipun wilayahnya luas, tak banyak penduduk di negara ini. Mungkin disebabkan oleh banyaknya yang meninggal akibat perang saudara.

Hanya angkatan terakhir yang tidak memiliki ruang ujian.

Tahu sendiri, kan? Senior melawan junior. Artinya mereka digabung ke angkatan sepuluh. Lagi pula pembagian ruang ujian tidak bergantung pada angkatan, tapi nomor undian.

Ujian Kenaikan Tingkat hanya satu kali, otomatis hanya satu hal yang bisa dilakukan.

Yaitu, menang.

Agar tak mengganggu para peserta ujian dengan peserta yang ujian lain –kalau mau melihat suasana ruang tunggu di depan kelas ujian ketika Ujian Kenaikan Tingkat sedang berlangsung, samakan saja dengan sekitar puluhan para suami yang dengan gelisah menunggu istrinya di depan sebuah ruang bersalin, seperti itulah suasananya-, setiap kelas ruang ujian diberi jarak dua lantai.

Tidak ada lift di gedungnya. Hanya ada tangga. Padahal Akademi Militer Distrik 3 memiliki empat gedung yang masing-masing mempunyai jumlah lantai mencapai angka dua puluh lima. Dan bayangkan saja, tidak ada satu pun lift di sana!

Sungguh luar biasa!

Tidak ada lift, bukan berarti Akademi Militer Distrik 3 sebegitu miskinnya sampai-sampai lift pun tidak ada. Tujuan mereka tidak memasang lift tidak lain tidak bukan adalah untuk menjaga kedisiplinan para siswa dan supaya ketahanan tubuh mereka tetap terjamin.

Nah, kembali ke Endou, yang kini sedang menarik tangan Kazemaru. "Kau harus segera dibawa ke Ruang Kesehatan Level A!" teriaknya panik, sambil terus menarik tangan Kazemaru.

"Iya, iya. Aku tahu itu, Endou. Tanpa diberi tahu pun aku sudah mengerti kalau aku harus pergi ke sana. Sekarang bisakah kau lepaskan tanganku? Kalau seperti ini-"

-kyut.

Ucapan pemuda itu terhenti.

Ia bisa merasakan genggaman tangan sang sahabat pada tangan kirinya itu semakin erat. "Endou?" panggilnya. Tangan kanan Kazemaru masih menggenggam bola mata kirinya yang tadi dilepaskan Saginuma.

Ia tidak dendam pada Saginuma, sungguh. Ia membunuh seniornya itu karena tuntutan peraturan saja. Ia harus membunuhnya kalau tidak mau dibunuh olehnya.

"Aku khawatir, tahu."

Endou berucap tiba-tiba. Pemuda di belakangnya hanya mengangkat alis. Sumpah, dia tidak mengerti dengan tubuhnya sekarang.

Karena, getaran di dadanya jauh lebih menyesakkan daripada rasa sakit di lubang mata kirinya. Entah apa yang terjadi pada dirinya.

"Aku tidak mengerti, Endou," ujar Kazemaru jujur. Sebagai orang yang tidak punya perasaan, ia jelas tidak mengetahui segala sesuatu yang tubuhnya rasakan sekarang.

Endou menunduk. Dari raut wajahnya, bisa terlihat kalau dia sedang kesal. "Tidak mengerti dengan apa?" berusaha tenang, Endou tidak ingin sahabat kecilnya itu merasa serba salah, apalagi Kazemaru dikenal sebagai 'manusia tak berhati yang sesungguhnya'.

Kazemaru menggelengkan kepalanya, berat. "Lupakan saja. Aku ingin cepat-cepat ke Ruang Kesehatan," katanya, mendahului Endou yang menatapnya kosong.

"Seharusnya kau berhati-hati," kalimat terakhir dari dokter di ruang kesehatan itu ditiru dengan nada mengejek oleh Endou. Karena, ia dan Kazemaru tahu kalau dokter di sana cerewetnya minta ampun, apalagi di Level A.

Kazemaru tak merespon apa-apa. Ia tak merasa memiliki waktu untuk mengejek dokter. Jadi ia hanya duduk dan terdiam sambil bengong tak jelas.

Perlahan, tangannya meraba lubang matanya yang diperban. Terasa agak sakit, tapi ia tak meringis. Meringis pun tak akan mengurangi rasa sakitnya, kan?

Dokter bilang, Kazemaru selamanya tak akan bisa menggunakan mata kirinya lagi. Toh, sudah terlepas ini, buat apa dimasukkan lagi? Tapi ia tak menyesal menjadi buta sebelah. Ini resiko yang harus ia tanggung di dalam militer.

Setelah dokter pergi, tinggal Kazemaru dan Endou yang ada di ruangan itu.

Hening.

"Hei, Endou…"

Yang dipanggil menolehkan kepala. "Apa?" sahutnya datar.

Sebenarnya, Kazemaru menyadari kalau apa yang ingin ia tanyakan tak ada gunanya. Namun ia merasa harus menanyakannya. "Kau malu tidak, kalau berteman denganku dalam keadaan seperti ini?"

"Tidak."

Endou menjawab. Spontan. Refleks. Seperti sangat Endou. Selalu jujur apa adanya di hadapan siapa pun.

Kazemaru menghela napas. Seharusnya ia sudah tahu jawaban begitu akan keluar dari mulut seorang Endou. "Sini, kurapikan rambutmu," kata Endou sambil mendekati kasur yang diduduki sahabatnya itu.

Tangan Endou terulur ke depan wajah Kazemaru. Merapikan rambut sang sahabat yang mulanya berponi belah tengah, menjadi menutupi hampir setengah wajah bagian kirinya. Dengan mengambil poni yang semula disemitkan oleh sang empunya di telinga kiri, Endou memindahkan poni itu ke mata kiri Kazemaru.

"Selesai."

Dan inilah hasilnya. Mata kiri Kazemaru yang telah tertutup sempurna. Tak akan ada yang menyadari kalau dirinya buta sebelah sebelum membuka poni itu.

Kazemaru memperhatikan dirinya di hadapan cermin besar yang terpasang pada lemari obat. "Wow… terima kasih, En… dou?"

Ucapannya terbata. Disertai tanda tanya.

Lantaran Endou mendekapnya erat, dalam sebuah pelukan hangat, antar sahabat, mungkin.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu."

Hening. Kembali.

"Aku sungguh-sungguh."

Kazemaru hanya bisa terdiam. Tak bermaksud menyela. Ia tahu dan mengerti kalau Endou sedang sangat serius.

"Aku menyukaimu, Kazemaru."

Namun sayangnya, ia tidak tahu, dan tidak mengerti, arti dari kata 'menyukai' yang dipakai Endou dalam kalimatnya kali ini.


.

.

.


Pagi ini, Kazemaru –dengan tumbennya, sejak ia tinggal di rumah Gouenji- bangun pagi sekali. "Hei, Gouenji, aku ingin lihat klinikmu," tiba-tiba Kazemaru melompat dari sofa yang ia duduki, dan berjalan mengekor di belakang sang dokter tanpa disuruh. Seperti bebek mengikuti induknya.

"Itu bukan klinik milikku, aku hanya dititipi teman. Lagi pula siapa yang mengizinkanmu ikut denganku?"

Jleb.

Telak.

Kazemaru manyun, Gouenji menyeringai penuh kemenangan. "Aku bosan di sini seharian. Sekali-sekali kau harus mengajakku ke tempat lain, paling tidak ke tempat kerjamu," ucap sang pemuda militer membela diri. Ia memang bosan sebenarnya, setiap hari hanya berdiam diri di dalam rumah, rumah orang pula, dasar tidak modal.

Gouenji berbalik, mencoba untuk memberikan penjelasan pada Kazemaru agar anak militer keras kepala itu mau mengerti. "Dengar," katanya, sambil memegang bahu Kazemaru dengan pandangan yang terlihat aneh. "Ini bukan Distrik 3, ini Distrik 0. Polisi berkeliaran di mana-mana, tentara selalu berdiri di setiap sudut, dan aparat keamanan mengintai di semua bangunan umum."

Kazemaru seharusnya mengerti itu, ia sudah diceritakan kalau Distrik 0 adalah daerah yang sangat dilindungi. Wajar kalau keamanannya ketat begitu. "Mereka akan curiga kalau ada anak berjalan berputar-putar sendirian di sekeliling distrik. Kau mau ditangkap, diinterogasi, lalu dipulangkan ke akademi?" ancam Gouenji.

Kazemaru menggeleng pelan-pelan. Sepertinya ia sangat mengerti dengan penjelasan yang diberikan. "Bagus," komentar sang dokter, puas. "Jadilah anak baik di rumah, kalau kau tidak mau diam, jangan harap bisa datang ke sini lagi."

Hening.

"Kau menyembunyikan Endou?" tanya Kazemaru tak yakin, ketika langkah Gouenji baru akan memasuki yang ketiga dari luar rumah. Mendengar itu, jelas sang dokter terhenti, namun ia tak berniat untuk berbalik, hanya menoleh sedikit, memandangi Kazemaru dari ekor matanya, dan kembali berjalan menuju klinik tempatnya bekerja.

Kalau Kazemaru yang dulu, ia akan memelototi orang yang mengabaikannya, dan memasang muka marah. Dilanjutkan dengan tak saling menegur selama satu hari penuh. Sudah dibuktikan bersama Endou ketika ia dan sahabat sejak kecilnya itu masih di angkatan ketiga.

Tapi, Kazemaru yang sekarang, hanya bisa menghela napas panjang. Dengan ekspresi sedih.

'Benarkah aku tak bisa bertemu Endou lagi?'

Hanya bisa menggenggam erat-erat kedua tangannya. Dengan tubuh yang bergetar hebat.

'Aku merindukan Endou…'

Hanya bisa menggumamkan sepatah kalimat sederhana. Dengan rasa rindu yang luar biasa.

'Endou…'

Hanya bisa memanggil nama ia yang dirindukan. Dengan gigi menggertak menahan sesak.

"Apa maksud tatapanmu itu Gouenji? Kenapa kau bilang kalau Endou mati? Kau bohong padaku? Kalau kau jujur, tunjukkan padaku makamnya!"

Terlambat, sang dokter sudah tak terlihat. Yang ada di depan hanya butiran salju yang menghalangi pandangan, dan kabut tebal yang menghalangi penglihatan.

"Gouenji!"

Walau ia berteriak, ketahuilah, sang dokter yang dipanggil tak akan datang.

"GOUENJI!"

Walau suaranya habis, ketahuilah, sang dokter yang dipanggil tak akan muncul.

"Sialan…"

Dan Kazemaru, hanya bisa terduduk pilu di teras rumah kecil penyelamat nyawanya. Tak peduli akan dingin yang menerpa tubuh terlatihnya, ia sudah kebal.

"Kau benar-benar 'orang itu', kan? Jawab aku, Brengsek!" ia berteriak lagi. Sama sekali tak bisa dimengerti apa arti dari 'orang itu' yang ia maksud.

Kazemaru memutuskan untuk duduk bersila di ambang pintu yang memang sengaja ia buka. 'Biar saja nanti kalau ada angin saljunya masuk, akan kubuat dia repot dengan harus membersihkan sisa salju yang masuk ke dalam rumah,' batinnya licik.

"Kenapa kau kabur? Kau pengecut! Kau dulu memang masih kecil, tapi setelah kau menjadi orang dewasa kenapa kau tidak kembali? Kau payah, Gouenji! Payah!" gumam Kazemaru, malas berteriak takut suaranya habis –walau itu tak akan mungkin terjadi, mengingat Kazemaru jagonya teriak-.

Diambilnya sebatang ranting, lalu ia memainkan ranting itu di atas permukaan tanah. Mencoret-coret sesuatu di atas bidang salju.

"Ishido Shuuji benar-benar payah!"


TBC.


A/N:

Nah, saya sudah mengapdet fic ini. Sekarang ada teka-teki lagi, siapakah Ishido Shuuji? Mengapa ia disebut tidak bertanggung jawab? Yang bisa jawab bener dapet hadiah dari saya #plak

Hehe, di chapter kemaren ada yang bilang Kazemaru OOC berlebihan, sekarang gantian Gouenji yang OOC berlebihan! #dfire tornado

Hmm, mungkin ad yg nanya, di chapter 1 Endou disebut tak punya hati, tapi kenapa dia menyatakan suka pada Kazemaru?

Jawabannya, chapter depan! #dgod hand

Perlu diketahui #alah, fic ini saya rombak habis-habisan! Chapter 3 yang sebenarnya bukan yang ini, tapi saya jadikan itu chapter 5! #wow

Ehem, jadi intinya, fic ini akan menjadi panjang. Tapi ga panjang-panjang banget, kok. Saya juga capek mikirin lanjutan fic multichap, kalian juga pasti capek nunggu apdetnya kan? Ngerti, bgerti… #dterbangin

INI CHAPTER PALING PANJANG DAN PALING GALAU YANG PERNAH SAYA BIKIN!

Eh, chapter ini ga ada sesi balas-balas review, saya ngantuk #padahalnyelesainnyapagi

Ehem, izinkan saya promosi….

KAWAN, WAKTUNYA IFA 2012!

Apakah IFA 2012 itu?

IFA adalah singkatan dari Indonesian Fanfiction Awards, sebuah ajang penghargaan bagi karya dan author fanfiksi berbahasa Indonesia terbaik yang dibagi dalam kategori-kategori yang dilombakan. IFA pertama kali diadakan pada tahun 2008, dan awalnya dilaksanakan terbatas di Infantrum dengan metode penjurian. Pada tahun 2009, IFA mulai disosialisasikan keluar Infantrum dan dilaksanakan dengan metode polling. IFA 2010 dan 2011 sukses dijalankan di luar Infantrum dengan metode penjurian-polling, dan menggunakan media yang mudah diakses oleh semua orang. Melalui kuesioner yang diadakan panitia, format ini dirasa telah sesuai dan bisa digunakan pada penyelenggaraan IFA berikutnya.

IFA kali ini tidak hanya menaungi FFn seperti pada tahun tahun sebelumnya, IFA 2012 juga mengikutsertakan fanfiksi dan author yang berasal dari AO3. IFA 2012 menggunakan mekanisme yang sama dengan IFA 2010 dan IFA 2011. Metode penjaringan nominasi melalui online-sheet/spread-sheet yang akan memudahkan setiap orang mengakses dan mengisinya. Setelah nominasi selesai, akan dilakukan tahap seleksi syarat umum oleh panitia IFA, setelah itu karya IFA akan dikirimkan kepada juri IFA 2012 untuk dinilai sesuai parameter yang sudah ditetapkan. Pada akhirnya, akan diambil 5 karya dengan poin tertinggi dari setiap kategori untuk di-polling. Polling akan dilakukan melalui web IFA dan hasilnya akan diumumkan di berbagai media terkait seperti jejaring sosial.

Bagaimana? Tertarik untuk ikut? Silakan kunjungi link berikut (hilangkan spasi):

www. fanfiction u/ 3558869/ IFA-2012