Jarak beberapa meter, Harry mendengar kembali suara piano dengan instrumen bertempo lambat seperti di sebuah restoran romantis. Ia sangat menikmati itu. "Lily?!" terlena dengan alunan piano dari toko musik tersebut bubar seketika saat ia tak melihat Lily dan barang belanjaannya. Tepat saat permainan musik itu berhenti, Harry berlari menuju meja tempat ia minggalkan Lily sendiri.

"Thanks, Miss Greyson. Aku senang sekali."

"Sama-sama, Lily. Kalau kau mau datanglah kemari lagi."

Suara itu membuat Harry berbalik dan benar.. ia melihat Lily keluar dari toko musik bersama seorang pegawai berseragam toko tersebut. Keduanya sedang saling mengobrolkan sesuatu.

"Sayang, kamu di sini." Kata Harry khawatir. "Hampir saja Dad ke pusat informasi. Dad khawatir, Nak." Harry memeluk Lily dengan satu tangannya. Ia sedang membawa kantung plastik berisi cola pesanan Ron.

"Maaf, Dad. Lily kira Dad lama. Maafkan Lily, ya." Pinta Lily memelas.

"Oh, maaf.. Mr. Potter? Ayahnya Lily?"

"Ah, iya. Maaf sudah merepotkan Anda."

"Tidak apa, Mr. Potter. Saya juga salah, malah mengajak Lily bermain. Sekali lagi mohon maaf." Kata perempuan muda bernama Amara Greyson itu, rambut coklatnya digelung kecil membuatnya tampil elegan. "Kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih sudah menjaga Lily. Lils, katakan terima kasih untuk Miss Greyson." Harry meminta Lily mengucapkan terima kasih sebelum berpisah. "Terima kasih, Miss Greyson. Semoga kita bisa bertemu lagi."

"Sama-sama, Lily. Kamu hebat!" Lily hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Saat Lily sudah menarik tangan Harry menjauh sambil melambai, Amara sempat berpesan kepada Harry. "Terus diberi dukungan, Mr. Potter. Lily anak yang berbakat." Katanya penuh kebanggaan.

Harry hanya bisa mengangguk. Tak paham.


"Kau tak bilang, kan, kalau kau ingin yang besar? Iya, kan, Lily?"

"Benar. Uncle Ron hanya bilang pesan satu botol cola. Itu saja. Tidak bilang kalau pesan yang besar," Lily memberi dukungan penjelasan ayahnya tadi. Toh memang benar begitu.

Ron hanya bisa mengembungkan pipinya sambil meneguk cola dari botol 425 ml. Salahnya juga, tidak berpesan untuk membelikan yang 1 liter. Ekspresinya itu malah membuat satu keluarga yang sedang berkumpul di The Burrow tertawa geli.

Seperti prediksi Harry sebelumnya, makanan yang ia bawa tidak sia-sia. Beberapa anggota keluarga yang lain juga berkumpul.

Para anak sedang berkumpul sendiri sedangkan para orang tua sudah membuat forum tersendiri di ruang tengah.

"Seigatku ada buku mewarna yang dibelikan Mom kemarin." Hugo sedang berusaha menelan burgernya lahap. "Coba kau cari di tumpukan buku itu."

"Oke!"

"Ditumpukan buku tipis ya, Lils. Bukan buku-buku tebal. Itu punya Mom!"

"Aku tahu!" Lily gemas juga dengan Hugo. Semua orang di sana tahu, buku tebal adalah 'saudara' Hermione. Tak ada yang sudi menjadikan buku-buku 500an halaman menjadi buku bacaan ringan untuk sehari-hari. Kecuali Hermione.

Saat Lily berlari menuju rak yang ada di ruang tengah, Harry sempat melihat putrinya itu sedang asik memilah-milih buku yang bisa ia buat menggambar dengan Hugo.

'Terus diberi dukungan, Mr. Potter. Lily anak yang berbakat.' Apa maksud perempuan tadi. Bakat? Lily tentu saja punya bakat. Bakat sihir. Tapi.. apa mungkin perempuan di toko itu melihat Lily menggunakan.. sihir? 'Tidak, tidak mungkin.' Harry hanya bisa menghilangkan pikiran buruknya itu. Ia tidak akan pernah rela menangkap anaknya sendiri karena menggunakan sihir di depan Muggle. Lalu, bakat apa?

Belum habis lamunan Harry tentang putrinya, Lily sudah bergegas lari dengan setumpuk buku anak-anak di tangannya. Tujuannya adalah tempatnya semula dengan Hugo.

"Bagaiamana kalau besok kita coba mengunjungi tempat makan setelah dari Kementerian? Besok tidak ada hal penting di kantor kan, Harry?" panggil Ron sedikit berteriak. Ia melihat lawan bicaranya itu sedang melamun. "HARRY!"

"Ah, iya. Besok hanya rapat masalah penempatan pegawai-pegawai baru saja, Ron. Tapi, ingat besok tetap masuk. Jangan sampai bolos, tahu besok tidak begitu banyak masalah jadi kamu nggak mau masuk. Kalau kau sampai bolos kerja, kau akan dapat masalah. Ini perintah!" ancam Harry tidak main-main. Sebagai kepala Auror, Harry tidak mau pandang bulu menindak siapapun yang lalai dengan kewajiban tugasnya. Walaupun itu dilakukan oleh keluarganya sendiri.

Para istri lantas menyahut dengan semangat pula. "Nah, boleh juga. Sudah lama aku tak makan di tempat Muggle. Mungkin Hermione tahu di mana tempat yang asik untuk di kunjungi?" Ginny mengambil sepotong pizza di atas meja dan menggigitnya sedikit.

Harry melirik Ginny dengan pandangan protes, "kau sendiri yang suka menolak aku ajak makan di cafe." Ginny nyengir.

"Bagaimana kalau kita coba ke cafe yang dekat dengan Mall itu. Aku sempat lihat saat berkunjung ke rumah Mom, mereka punya konsep baru. Ada penampilan musiknya juga. Bagaimana?" saran Hermione. Ya, hanya ia dan Harrylah yang sedikit banyak tahu seluk-beluk kawasan Muggle.

Tidak ada jawaban hingga Harry buka suara, "boleh juga. Lokasinya tak jauh dari sekolah Lily. Aku bisa menjemputnya untuk langsung ke cafe. Bagaimana?"

"Setuju!" jawab mereka kompak.

"Aunt Hermione, aku boleh pinjam buku ini?" Lily berteriak dari tempatnya dan Hugo bermain ke arah Hermione. Lily menunjukkan buku agak sedikit lebar dan lumayan tebal berwarna hitam ke arahnya.

Wonderful of Classic Pianos, over so easy pieces to play. Itu tulisan yang tercetak ada di sampul depannya. "Boleh, sayang. Bawalah!" Hermione langsung mengiyakan saja, padahal ia sendiri masih bingung kenapa Lily mau meminjam buku partitur piano itu. Buku itu hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang mengerti not balok dan paham bermain musik.

'Dasar anak-anak. Nanti kalau dia tidak mengerti pasti dikembalikan' batin Hermione santai.


Malam ini Ginny memasak sup untuk keluarganya. Lily yang meminta. Setelah makan malam selesai. Harry, Ginny, dan Lily langsung asik dengan kesibukan masing-masing. Ginny sudah duduk di meja dekan televisi dengan kertas naskah tulisannya untuk Daily Prophet. Ginny lebih sering mengoreksi pekerjaannya itu setelah semua pekerjaannya selesai. Biasanya ia akan mulai mengurus tumpukan naskahnya sambil duduk melihat TV bersama suaminya.

Harry, jiwa Muggle ibunya memang tidak bisa hilang. Ia kini sedang asik duduk di depan laptopnya sambil membaca berita-berita Muggle dari beberapa situs. Dahinya mengernyit saat membaca tentang kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah apartemen di pusat kota.

"Daddy!" Lily turun dari tangga sambil membawa buku hitam yang Harry tahu itu milik Hermione. "Ya, sayang!" sahut Harry sekilas menatap putrinya dan kembali membaca.

"Dad sedang buka internet nggak?"

"Iya, memang kenapa, sayang?" Lily lantas mendekati Harry dan duduk dipangkuannya. Kebiasaan Lily jika sudah dekat dan bermanja-manjaan dengan ayahnya. Dengan posisinya, Harry akan dengan mudah memeluk putri satu-satunya itu dari belakang.

"Pembunuhan? Mengerikan." Komentar Lily saat membaca berita yang ia lihat di laptop Harry.

"Iya, para polisi sudah menangkap pelakunya. Jadi sekarang sudah aman, Lily!" Harry makin mempererat pelukannya. Ia serasa sedang memeluk Ginny dalam versi kecil. Harry tak pernah menyangka akan memiliki seorang putri. Kelahiran dua anak laki-laki sebelumnya, James dan Albus, sudah membuatnya bahagia. Meskipun ia sempat berharap memiliki anak perempuan. Ya, ternyata doanya terkabul. Dua tahun setelah kelahiran Albus, Ginny kembali hamil dan melahirkan anak perempuan yang kini berusia 9 tahun bernama Lily Luna Potter, gabungan nama ibu dan sahabat dekat Harry. Sebuah anugrah yang tak terkira bagi keluarga kecil Potter.

"Eh, kamu tadi tanya Dad buka internet kenapa?"

"Ow, Lily mau pinjam sebentar. Mau cari tahu wajah seseorang." Kata Lily langsung membuka halaman baru. Harry hanya diam tanpa komentar. Penasaran dengan siapa yang ingin Lily cari. Ia mengetikan sebuah nama, dan muncullah gambar

"Profesor Snape?" Harry melonggo melihat wajah yang muncul dari hasil pencarian.

"Franz Liszt, Dad!"

"Penyihir?" Harry penasara.

"Oh, sayangnya bukan, dia.."

Dan kemudian laptop mati. Harry dan Lily sama-sama melongo. Ginny yang tak sengaja melihat keduanya hanya bisa menutup wajah dengan beberapa lembar kertas tugasnya. "Oh Merlin, mereka mirip sekali." Tawa Ginny meledak hampir membuatnya sesak napas.

Malam semakin larut. Lampu-lampu ruangan sudah dimatikan. Si kecil Lily sudah nyenyak dengan memeluk boneka kelincinya. Harry menyempatkan masuk untuk memastikan apakah Lily sudah benar-benar tidur. "Mimpi indah, Nak. Hari ini kau seperti sedang menciptakan teka-teki untuk Dad." Harry mencium kening Lily dan keluar dari kamar berusaha tidak mengeluarkan suara. Gadis 9 tahun itu kini sendirian di kamar.

"Sudah tidur?" Ginny bertanya saat Harry menutup kembali pintu kamar mereka.

Harry mengangguk dan mengambil posisi berbaring di samping Ginny. "Bakat." Harry tampak berguman. "Bakat? Bakat apa Harry?" Ginny mendengarnya.

"Ah bukan apa-apa, hanya saja.. Ginny," Harry kini duduk bersandar di kepala ranjang dan menatap istrinya penuh tanda tanya, "anak-anak kita," sambungnya.

"Bakat anak-anak kita? Tentu saja mereka punya bakat, sayang. Bahkan sejak mereka masih di dalam sini, seratus persen aku sudah yakin mereka punya bakat.. sebagai penyihir." Kata Ginny menunjuk perutnya. Ya, namanya juga orang tua penyihir. Harry juga paham bahwa anak-anak mereka nantinya akan menjadi penyihir juga. Ia dan istrinya adalah penyihir berbakat. Semua penyihir tahu itu. Tapi bukan itu yang ia maksud.

Ginny sudah menutup tubuhnya dengan selimut tebal ranjang mereka, "sudahlah, sayang. Anak-anak memiliki bakatnya masing-masing. Begitu juga anak-anak kita. Seperti James, bakatnya luar biasa.. menjahili orang. Al, dia anak yang tenang dan cerdas. Itu bakat spesial mereka." Harry masih mendengarnya seksama. "Ini sudah malam. Aku tak mau wajahmu masuk Daily Prophet karena kau tertidur di meja kerjamu seharian besok. Okeh!" Ginny mengecup bibir Harry untuk mengakhiri percakapan malam itu.

(Hai, ini adalah fic pertama saya. Baru di chapter ke 3 ini saya muncul, hehehe. Kalau bisa tinggalkan review ya, buat bahan perbaikan di chap selanjutnya ^_^ )