A Fanfiction story by AthenaAD

It's F and Y

Disclaimer: Boboiboy dkk belongs to Animonsta. This story belongs to me.

Note: Typo, kata tidak baku, gaje, EYD tidak sesuai, dll

Happy Reading

•••

"Hey."

Aku membuka mataku perlahan. Pandanganku mengabur dan sekitarku terasa berputar, mengirimkan gelenyar tidak menyenangkan ke perutku, mengaduknya, hingga rasanya aku ingin muntah.

"Hey, tenangkan dirimu. Tarik napas, buang. Ya, terus begitu. Ikuti suaraku, oke?"

Tarik napas, buang, tarik napas, buang. Kuturuti semua ucapannya. Dan usaha itu membuahkan hasil yang baik. Pandanganku sudah tidak kabur dan memutar lagi, perlahan mulai fokus. Aku menoleh ke orang itu, hendak berterima kasih.

Ternyata Fang.

"Fang?" Aku terheran-heran melihatnya berpakaian seragam sekolah. "Ini jam berapa?"

Aku hendak bangkit, namun pusing mendadak menyerangku. Fang menahan tubuhku, lantas membaringkanku kembali.

"Hari ini kamu nggak usah sekolah dulu," ucapnya.

"Tapi hari ini guru Zila akan menerangkan bab untuk ulangan minggu depan! Aku nggak mau ketinggalan!"

"Ying." Dia menatapku dengan sorot tegas. "Kamu sakit. Artinya kamu harus istirahat. Tubuhmu butuh istirahat."

"Baiklah baiklah. Setidaknya beritahu aku jam berapa sekarang."

Dia menghela napas. Sepertinya mencoba bersabar dalam menghadapi kekeras kepalaanku. Dia mengambil jam digital di meja nakas lalu memperlihatkannya padaku. Angka yang tertera di sana membuatku melotot tidak percaya.

Apa?! Jam sepuluh?!!

"Sudah kutepati." Fang mengembalikan jam itu ke tempatnya semula.

"Sekarang makan dulu, terus minum obat," lanjutnya.

Tangannya bergerak ke arah keningku, mengambil kain yang menempel di sana, lalu memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan tangan ke keningku. Detik berikutnya, dia mencelupkan kain itu dan menempelkannya kembali ke keningku. Tunggu, sejak kapan itu ada di sana? Aku bahkan tidak merasakannya sama sekali.

"Panasnya turun sedikit," gumamnya.

"Nenekmu meneleponku kalau kamu jatuh sakit. Aku langsung bergegas ke sini untuk melihat keadaanmu. Karena waktuku tidak banyak, aku hanya sempat mengompresmu dan membelikanmu obat. Oh ya, kamu udah sarapan kan?"

Aku mengangguk. Masih ingat di benakku saat nenek menyuapiku dengan semangkuk bubur hangat dan juga air hangat. Lalu meminum obat yang diberikan nenek padaku. Tapi aku sama sekali tidak sadar kalau sebelum itu, Fang datang untuk mengompresku.

"Tidak perlu dipikirkan." Jari telunjuknya mengetuk pelan keningku yang berkerut. Tidak sakit, tapi aku refleks mengaduh. Dia mulai panik, aku tertawa kecil.

"Itu apa?" tanyaku yang melihatnya sedang memegang mangkuk.

"Sup wortel," katanya.

"Khas kamu sekali ya."

Dia tertawa. Aku juga tertawa. Padahal tidak lucu, tapi rasanya ingin tertawa saja.

"Kamu yang buat?" tanyaku.

Anggukan kuterima darinya. "Iya. Aku nggak mau beli, nggak higienis. Nanti bukannya sembuh, kamu tambah sakit. Aku nggak mau."

"Ya nggak lah, Fang. Selama ini aku beli makanan di luar biasa-biasa aja kok. Nggak keracunan," ujarku bercanda.

Dia menggeleng." Nggak mau. Kalo aku yang masak kan nanti cepat sembuh, soalnya udah aku tambahin mantra rahasia."

"Apa?"

"Mantra cinta."

"Santet dong."

Dia melotot. "Bukan santet duh! Cubit nih."

Dia cemberut. Aku tergelak geli. Aduh Fang, jangan buat aku tertawa terus dong. Kan lagi sakit.

Satu suapan diberikan, aku membuka mulutku agar transfer makanan itu berjalan lancar. Aku mengunyah, rasa manis wortel dengan gurihnya kaldu ayam yang lembut menyapa indera pengecapku.

Heran. Harusnya kalau sakit, indera pengecapku jadi mati rasa. Tapi aku masih bisa merasakan perpaduan rasa yang luar biasa itu. Mungkin ucapan Fang benar, dia memberi jampi-jampi pada makanannya.

"Ying."

"Iya?"

Dia terdiam sesaat.

"Aku kangen."

"Kan udah ketemu," ucapku.

"Tapi di sekolah nggak."

Aku tersenyum. Lagi dan lagi, aku tak bisa menahan kehangatan yang menjalar hingga ke tulang. Mungkin pada orang lain, dia adalah pribadi yang jutek, dingin, dan cuek. Tapi di depanku, dia menjadi pribadi yang hangat. Hanya di depanku.

Duh, Fang-ku kenapa manis sekali sih.

"Aku juga kangen kamu, Tataneon."

Dia kembali melotot. Aku pun kembali tergelak. Dan semakin tergelak saat melihat telinganya yang memerah. Sangat merah, semerah buah cherry, atau semerah tomat.

"Jangan diungkit lagi ah. Males nih."

Aku tersenyum lebar. "Habisnya aku heran. Kok bisa sih, dulu waktu kecil nyebut stasiun malah tataneon."

"Lah, kamu sendiri juga kan? Nyebut wafer malah syafam," ucapnya. Aku melayangkan tatapan sebal ke arahnya.

Balas dendam, ceritanya.

Dia tertawa sembari mengelus rambutku yang terurai dan sedikit berantakan.

"Ayo makan lagi, Syafam."

•••

Kelopak mataku bergerak, lantas terbuka perlahan. Memperlihatkan iris sejernih kanvas langit yang bermandikan warna biru beberapa waktu lalu. Aku terbangun dari tidur nyenyakku.

Tubuhku bangkit secara perlahan untuk menyandarkan punggung pada dipan, lalu menyamankan diri di sana. Tubuhku sudah tidak seberat sebelumnya, kepalaku pun terasa lebih ringan, walau terkadang denyut kecil sesekali menghampiri.

Aku melihat ke sisi kasur, Fang sudah tak berada di sana. Sebenarnya pemuda itu mengajukan diri ingin menjagaku, tapi aku menolaknya lantaran tidak ingin dia tertular demamku.

Mengingatnya membuatku kembali tersenyum. Fang tidak pernah meninggalkanku, setidaknya tidak dalam keadaan sadar. Setiap aku membuka mata, dia sudah ada di sana, berdiri di sampingku untuk menjaga dan merawatku.

Setiap jam istirahat, dia terus berkunjung ke sini hanya untuk mengetahui perkembanganku serta mengatur pola makan dan jadwal minum obat yang harus dikonsumsi. Aku tahu itu karena aku selalu melihat jam setiap aku membuka mata. Dan waktu itu bertepatan dengan waktu istirahat di sekolah kami.

Coba bayangkan, bagaimana aku tidak semakin jatuh hati padanya jika seperti ini?

"Uhh.. haus." Aku memegangi leherku untuk sesaat. Tenggorokanku terasa kering, mungkin efek sakit.

Hendak aku beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Namun saat pandanganku tanpa sengaja tertuju ke meja nakas, aku menemukan segelas air putih di sana dengan sticky note yang tertempel pada badan gelas.

Aku tahu kamu pasti haus saat bangun tidur nanti. Sudah kusiapkan minumnya, jadi jangan beranjak kemana-mana. Kamu masih sakit!

Senyumku semakin mengembang. Fang memang yang terbaik. Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan dan apa yang baik untukku.

Gelas tersebut kuraih, lantas kuhabiskan isinya untuk memuaskan dahaga. Setelah kosong, aku mengembalikan gelas tersebut ke tempat semula.

"Apa ini?" gumamku.

Sebuah binder kulit warna coklat berukuran sedang tergeletak di dekat gelas kosong tersebut. Setahuku, aku tidak punya buku yang seperti itu di sini. Semuanya hanya buku biasa.

Rasa penasaran mendorongku untuk meraih buku itu. Aku melihat-lihat untuk beberapa saat, lalu kuputuskan untuk melihat isinya. Sebelum akhirnya, mataku dibuat terbelalak olehnya. Aku melihat lembaran demi lembaran, dan semakin cepat tiap detiknya.

Ini... bukannya bahan untuk ulangan Fisika minggu depan?

Aku memaksakan diri beranjak dari kasur yang nyaman, mempertemukan telapak kakiku dengan permukaan lantai yang dingin. Kuraih handphoneku yang tergeletak di meja belajar, lantas kembali ke kasur. Tanpa berlama-lama, aku segera mencari kontaknya lalu menghubunginya.

"Halo Ying? Kenapa telepon? Ada yang sakit? Nanti aku langsung ke sa--"

Aku segera memotong ucapannya. "Nggak, nggak usah. Nggak ada yang sakit, malah aku jauh lebih baik dari tadi pagi."

"Jadi? Ada apa? Ini udah jam 9 malam loh. Kamu harus segera tidur," ucapnya melalui sambungan telepon.

"Aku tahu. Nanti aku tidur lagi. Sekarang aku mau nanya sama kamu."

"Apa?"

"Ini, catatan Fisika.. kamu yang buat?"

Jeda untuk beberapa saat. Sebelum aku kembali mendengar suara Fang yang tegas penuh keyakinan. "Ya. Itu aku yang buat."

"Terus Matematika, Bahasa inggris, sama Kimia, kamu juga yang buat?"

"Iya."

"Kamu bolos dari kelas kamu sendiri?"

"Nggaklah," sanggahnya. "Aku minjem catatan punya Yaya untuk kusalin. Makanya aku agak terlambat datang ke rumah kamu tadi."

Kehangatan lagi-lagi menjalariku. Memelukku dengan lembut sampai-sampai aku tidak bisa menahan senyumanku.

Fang, kenapa kamu sangat pengertian?

"Fang."

"Ya?"

"Terima kasih, Tataneon."

--Ying

Terima kasih, demam. Tanpamu, aku nggak akan melihat sisi manis Fang yang lain.

~

~

~~~

~

~

~

TBC

Akhirnya chapter 3 kelar.

Well, ternyata cukup susah mikirin ide untuk bikin fic romance ketimbang action atau horror. Apalagi otakku tidak dalam mode banjir ide, tapi nggak dalam kondisi buntu juga. Intinya, netral lah. Setelah melalui diskusi dengan otak, akhirnya kuputuskan ide ini jadi bahan untuk chapter 3.

Fyi, soal Tataneon dan Syafam, itu murni pengalamanku. Waktu kecil, aku malah nyebut syafam bukan wafer. Dan adik sepupuku juga waktu kecil diajarin ibunya nyebut stasiun, tapi yang disebut malah tataneon.

Jangan ketawa ya. Cubit nih kalo ketawa.

Terima kasih yang sudah menyempatkan diri untuk komen ceritaku, bahkan fave dan follow. I'm really happy about that. Tbh, komen dari kalian lah yang membuatku menggebu-gebu untuk segera melanjutkan chapter, namun saat mau nulis malah nggak tahu mau nulis apa. Ogeb emang.

Udah ah. Sekian curcol dari aku, kayaknya udah kepanjangan banget A/N nya. I love you guys, semoga kita bisa terus meriuhkan fandom yang mulai sepi ini.

Regards,

AthenaAD