Committed Suicide
.
Karena jatuh cinta adalah suatu komitmen. Kadang jatuh cinta sering berakhiran dengan bunuh diri. Berkomitmen bunuh diri? [hong jisoo / joshua x kim mingyu short-fics collection. Cerita gak sehoror judul, santai aja.]
.
Of Hot Chocolates, Sweetness, and Kiss.
.
Kalau boleh jujur, comeback inilah yang Mingyu rasa akan menjadi salah satu momen paling bahagia di hidupnya.
Kemenangan pertama untuk Seventeen—rasanya seperti terbayar sudah semua perjuangannya sejak sebelum debut sampai saat ini. Kemenangan pertama, yang membuatnya akhirnya berpikir untuk mencetak banyak kemenangan lagi bersama teman-teman setimnya.
Keesokan harinya setelah usai eurofia mereka tentang kemenangan, Seventeen hanya memiliki satu jadwal tampil pada sore hari. Mereka memiliki waktu senggang.
Seharusnya Mingyu menghabiskan 'jadwal renggang' mereka dengan bangun siang seperti biasanya, tetapi ia malah mendapati dirinya bangun paling pagi daripada rekan-rekan sekamarnya hari ini. Langit belum terang, belum ada cahaya matahari yang menembus dari jendela. Kepalanya pusing, tidak biasa bangun sepagi ini. Namun apa boleh buat, dia tidak bisa tertidur lagi.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju dapur. Meminum segelas susu di pagi hari sepertinya ide yang bagus. Lalu menonton televisi, sebelum member lain terbangun dan menghancurkan pagi ini. Dan bermalas-malasan sampai manajer mereka menyuruhnya mandi.
Langkahnya terhenti begitu mendengar suara pintu kamar lain terbuka. Ada member lain yang sudah terbangun.
"Hai Jisoo hyung."
Jisoo megerjapkan matanya, sebelum ia menoleh ke arah Mingyu dan tersenyum. Wajahnya masih mengantuk, membuat Mingyu terkekeh amat pelan. "Hai Mingyu-ah. Tumben sekali kau sudah bangun."
Mingyu balas tersenyum. "Entahlah. Sepertinya aku tidur tidak terlalu nyenyak."
Jisoo mengangguk. Ia berjalan mendekati Mingyu lalu menepuk bahu pemuda yang lebih tinggi. "Mau kubuatkan cokelat panas?" tawar Jisoo, masih dengan senyumannya.
"Untuk apa? Aku sudah terbangun, hyung," kekeh Mingyu lagi. Jisoo merengut kecil, tanda tidak menerima penolakan. Mingyu menghela nafas. Dia tidak mengerti dengan Jisoo, manusia di hadapannya ini bilang bahwa dia tidak suka aegyo. Tetapi wajahnya benar-benar imut alami. "Baiklah, baiklah. Buatkan aku cokelat panas ya, hyung?"
.
Sebenarnya Mingyu tidak pernah menyangka bahwa insiden 'bangun pagi' yang dikarenakan ketidak-sengajaan ini akan berakhiran dengan ia dan Jisoo duduk santai di balkon dorm mereka dengan dua cangkir cokelat panas.
Jisoo adalah hyung-nya yang paling manis, Mingyu mengakui hal itu. Bukan Wonwoo, karena Wonwoo adalah makhluk menyebalkan dan tidak ada manis-manisnya bagi Mingyu. Bukan juga Jihoon, karena dia benar-benar tsundere yang bahkan Seungcheol tidak bisa atur. Dan bukan Jeonghan.
Jisoo itu manis karena senyumnya menenangkan. Semua member mengetahui bahwa dia-lah yang paling sering memberi layanan 'cokelat panas gratis'—bagi Hong Jisoo meminum cokelat akan membantu meringankan pikiranmu. Pertama kali Mingyu mendapatkan cokelat panas gratis tersebut, ia merasa bahwa itu hal yang konyol.
Hanya saja setelah Mingyu mengenal sosoknya lebih jauh, ia tahu bahwa Jisoo memiliki pola pikir yang membuatnya tertarik.
"Ne, Mingyu-ah," suara Jisoo mengalun di udara pagi yang masih terasa dingin ini. "Bagaimana perasaanmu?"
Mingyu hampir saja tersedak cokelat panasnya—beruntunglah ia bisa menelan semuanya dengan baik. "Perasaanku, hyung?"
Jisoo mengangguk, menyesap cokelat panasnya dengan gestur paling sempurn yang pernah Mingyu lihat. "Ya. Tentang kemenangan kemarin," lanjut Jisoo, matanya terarah ke langit yang mulai terang meski masih remang. "Aku menangis, sedikit. Rasanya seperti mimpi."
"Ahh… Aku merasa senang. Terharu. Dan membuatku semakin menyayangi Carat," jawab Mingyu, perlahan tersenyum simpul di balik cangkir cokelatnya. "Aku tidak menduga Jihoon hyung akan menangis separah itu di panggung."
Rasanya senang mendengar Jisoo akhirnya tertawa juga di pagi hari ini. Tawanya halus, membuat Mingyu bertanya-tanya bagaimana reaksi para fans saat mendengar tawa Jisoo di acara realiti mereka. "Kau tidak boleh begitu, Gyu-ah. Semua juga merasa tersentuh dan terharu," Jisoo meletakkan cangkir cokelat panasnya dan menatap Mingyu dengan mata kucingnya. "Kau tahu, terkadang aku juga ingin membuat lagu seperti Jihoon. Hanya saja, aku merasa belum cukup baik dalam membuat lirik lagu."
Mingyu memberanikan diri untuk balas menatap Jisoo tepat di mata.
Kedua iris itu indah.
"Hyung bisa belajar dari Jihoon hyung. Atau mungkin Seungcheol hyung."
Keduanya bertatapan lama. Mingyu tidak tahu apa yang Jisoo lihat dari dirinya, tetapi ia tahu apa yang ia lihat dari diri Jisoo. Sesosok pemuda yang menggambarkan apa itu sempurna baginya—bahkan Mingyu menganggap kekurangannya adalah bagian dari kesempurnaan tersebut.
Ingatkan Kim Mingyu, bahwa tiap harinya ia terjatuh semakin dalam ke pesona Hong Jisoo.
.
Promosi mereka untuk album pertama Seventeen telah usai, dan mereka akan mempersiapkan diri untuk tur pertama mereka beberapa waktu lagi. Seluruh member diberi waktu libur tiga hari, dan semuanya memutuskan untuk tetap di dorm karena mereka hanya membutuhkan istirahat.
Mingyu sendiri kini tengah berguling-guling di kasurnya, tidak tahu harus melakukan apa. Member lain memilih untuk berjalan-jalan keluar dorm, tetapi ia malas untuk ikut. Sepertinya Hansol dan Chan juga tidak ikut, katanya ingin menyelesaikan pekerjaan rumah mereka.
Mata Mingyu baru saja akan terpejam begitu mendengar pintu kamarnya diketuk, membuatnya mengerang lalu bangkit dari kasurnya.
Dia cukup terkejut begitu mengetahui bahwa Jisoo berdiri di ambang pintu kamarnya, membawa nampan berisi segelas air putih, semangkuk sup hangat, dan… Obat?
"Bagaimana keadaanmu, Mingyu-ah?" tanya Jisoo begitu Mingyu mempersilahkannya masuk. Mingyu mengerutkan keningnya. "Jeonghan hyung bilang kepalamu sakit sehingga kau tidak bisa ikut berjalan-jalan."
Erangan lolos dari bibir Mingyu, menyadari kebodohannya sendiri karena telah berbohong dengan Jeonghan. Dia tidak mau dipaksa-paksa member berambut panjang yang satu itu, pada akhirnya ia berbohong bahwa kepalanya sakit. Ia tidak menduga bahwa Jeonghan akan mengadu pada Jisoo, dan Jisoo saat ini benar-benar terlihat khawatir dengan kondisinya.
Dalam hati Mingyu memohon ampunan dosa karena telah membuat sesosok malaikat berwujud manusia mencemaskan dirinya.
"Sebenarnya aku baik-baik saja, hyung," jawab Mingyu, membuat Jisoo yang baru saja meletakkan nampan itu di lantai dekat kasur Mingyu itu mengerutkan keningnya. "Aku tidak benar-benar sakit. Kelelahan, iya. Tapi tidak sakit. Itu hanya alasanku saja, hehe."
Ia bisa mendengar Jisoo menghela nafas. "Syukurlah kau baik-baik saja," kemudian Jisoo memukul lengannya pelan. "Kau tidak seharusnya berbohong, Mingyu-ah. Seungkwan benar-benar mencemaskanmu tadi."
Hening pun menyergap. Mingyu duduk di pinggiran kasurnya sementara Jisoo duduk bersila di lantai, di sampingnya ada air putih, obat, dan sup yang belum tersentuh.
"Lalu hyung mau apakan supnya?"
Otomatis Jisoo mengangkat wajahnya untuk menatap Mingyu. "Entahlah," jawab Jisoo pelan. "Aku sedang tidak mau makan sup."
Alis Mingyu terangkat, mendapati bahwa hyung-nya ini benar-benar menggemaskan. "Hyung tidak mau memberikannya padaku?" tanya Mingyu, turun dari kasurnya dan mensejajarkan dirinya dengan Jisoo sehingga kini ia berhadapan dengan lawan bicara.'
"Kubuatkan itu untukmu. Tapi mengetahui bahwa kau sebenarnya tidak sakit…," Jisoo melirik sup buatannya lagi sebelum mengerang, membuat Mingyu tertawa kecil. "Baiklah! Kau boleh memakan sup itu."
Reaksi lucu dari Jisoo pada akhirnya membawa tangan Mingyu untuk mengacak surai gelap pemuda yang lebih tua darinya itu. "Jangan marah, ne? Aku minta maaf, hyung. Dan aku juga akan minta maaf pada Jeonghan hyung. Dan yang lainnya," kata Mingyu, mulai mengambil sendok sup dan mencicipi sup buatan Jisoo. "Supmu enak seperti biasanya."
"Aku jarang membuat sup."
"Ayolah, aku sudah meminta maaf kepada hyung. Jangan ngambek."
Jisoo memainkan ujung sweater yang dikenakannya sambil menggigit bibirnya, suatu gestur yang menandakan bahwa Jisoo tidak bisa membalas pernyataan Mingyu dengan benar, membuat Mingyu yakin bahwa hyung-nya sudah terpojok. "Kau menyebalkan, Kim Mingyu."
Sendok sup yang sedari tadi berada di tangan Mingyu pun kini ia sodorkan ke Jisoo—lengkap dengan supnya. "Makan ini, hyung."
Mata Jisoo melebar. "Ini jatahmu!"
"Aku sudah kenyang," jawab Mingyu singkat, mengulas senyum tipis ke arah pemuda bermata kucing di hadapannya. "Lagipula, ada satu hal yang ingin kulakukan." Dan Mingyu pun merubah posisi duduknya.
"Kau mau apa Kim Mi—"
Untuk kedua kalinya, mata Jisoo melebar begitu mendapati bahwa jaraknya dengan Mingyu sudah terhapus sepenuhnya.
Mingyu menciumnya.
Mingyu mencium pujaan hatinya.
Begitu Mingyu merasakan bahwa nafas Jisoo mulai teratur dan mata mereka berdua sudah terpejam, Mingyu meletakkan mangkuk supnya yang sudah setengah kosong dan perlahan mulai menangkup wajah Jisoo.
Bahkan wajahnya terasa pas di tangkupan tangan Mingyu.
Ciuman itu tidak berlangsung terlalu lama. Hanya ketika tangan Jisoo mulai meremas kuat bagian depan kaus Mingyu tanda ia mulai kehabisan afas, Mingyu melepas tautan bibir mereka. Ia yakin ia mencium Jisoo dengan sangat lembut dan hati-hati sembari mengusap tulang pipi pemuda tersebut, membuat Mingyu tersenyum seketika.
"Mengapa menciumku tiba-tiba, Kim Mingyu?"
Dan Mingyu kembali tertawa, sebelum ia menarik tubuh yang lebih mungil itu ke pangkuannya—menyatukan jemari-jemari mereka dan meletakkan dagunya di bahu sosok berbau seperti manisan beri tersebut.
"Karena aku merindukanmu."
"Kita bahkan bertemu setiap hari."
"Tapi tidak berduaan dan berciuman setiap hari, kan," Mingyu menghirup dalam-dalam ceruk leher Jisoo. "Kau benar-benar manis, hyung."
"Kau menyebalkan."
"Dan orang menyebalkan ini adalah milikmu sepenuhnya, Hong Jisoo."
Begitu rona merah pekat muncul di wajah Jisoo, Mingyu kembali mencium kekasihnya.
.
Committed Suicide – Of Hot Chocolate, Sweetness, and Kiss © Mato-san
.
A/N : Jadi intinya, dari adegan pertama itu sebenarnya Mingyu dan Jisoo udah pacaran. Cuma semacam… Jaga jarak gitu.
Well, this is the fluffest thing that I ever write! With a not very light but sweet kiss, and not a meaningful conversation... Sebenernya adegan ngobrol gak penting soal perasaan sering banget terjadi antara aku dan doi.
Aku gak begitu pinter nulis cerita dengan latar kejadian kehidupan mereka yang sesungguhnya, maka itu rencananya chapter depan mau bikin domestic!AU . Wife!Jisoo kayaknya merupakan sesuatu yang bener-bener greget minta ditulis.
Well, mind to review? :9
