Chapter 2 | Save One, Another
.
This One Is For You
.
One Month Later | Switzerland, Wengen Village.
.
.
.
Aku selalu menunggu kepulangan Erwin dari kota. Dan hari ini adalah hari kepulangannya, dimana perasaanku amatlah senang. Aku tidak tahu jam berapa ia kembali, tetapi aku akan mencari bahan-bahan untuk memasak sup ayam saat ia sudah sampai.
Ia sangat bertolak belakang dengan majikanku yang dulu, Tuan Wald.
Misalkan kalian masih hidup karena ditolong oleh seseorang, dan orang itu menolong kalian lagi seterusnya. Apakah kalian tidak merasa berterimakasih?
Dan entahlah, aku merasa aneh jika tidak ada dirinya. Pria tampan dengan alis tebal, surai pirang, netra sebiru lautan, kemeja putih, vest coklat, celana katun dan sepatu pantofel itu selalu ada di benakku.
Ini bukan perasaan cinta atau suka, tetapi ini adalah instingku untuk membalas budi. Ya, sebenarnya aku mengakui bahwa ia sangatlah tampan, tapi hubungan kami tidak lebih dari sekedar err-sahabat mungkin?
Atau malah seorang bos dan seorang asisten? Sudahlah.
Aku pun segera menyibakkan selimutku, serta merapihkan tempat tidurku. Aku bergegas mandi dan memakai kemeja putih berlengan panjang, rok coklat bermodel gypsy, dan sepatu flat berwarna gading.
Aku mengunci rumahku, dan segera pergi ke kantor Erwin. Aku membersihkan kantornya sedikit, lalu menguncinya kembali. Setelah dari kantornya, aku segera pergi ke pasar.
Di pasar, aku membeli daging ayam, wortel, kentang, kaldu ayam, merica, bawang putih dan garam. Setelah semua lengkap, aku bergegas ke rumah Erwin untuk memasak dan bersih-bersih.
Untuk sekedar informasi, semua kunci kantor dan semua kunci rumahnya diserahkan padaku. Kalau tidak, mengapa aku bisa mengunci rumahnya tadi? Tetapi, hanya satu kunci yang ia tidak beri padaku, yaitu kunci kamarnya.
Aku pun sampai di rumahnya. Aku segera menaruh kantung belanjaanku di dapur dan mulai membersihkan jendela rumahnya, lalu menyapu lantai, mengelap rak buku dan mencuci piring. Setelah itu, aku baru memasak.
Aku memotong dadu daging ayam yang kubeli, lalu aku menghaluskan bawang putih, kaldu ayam, merica dan garam.
Setelah itu, aku menumis ayam beserta bumbu yang dihaluskan dalam panci. Aku menuangkan air sebanyak satu liter ke dalam panci. Tak lupa kumasukkan wortel dan kentang setelahnya.
.
.
Sembari menunggu masakanku matang, aku duduk di meja makan sambil membaca buku milik Erwin tentang lapisan bumi yang belum selesai kubaca kemarin. Erwin memiliki banyak buku tentang pengetahuan alam dan sains. Aku sangat menyukai isi dari buku-buku tersebut.
TOK TOK TOK
Huft, belum satu menit kubaca sudah ada orang yang mengetuk pintu. Apa mungkin itu adalah Erwin? Tapi, tidak mungkin 'kan Erwin mengetuk pintu tanpa memanggil? Jika itu Erwin, dia pasti memanggil, "Petra, aku pulang!"
Mau tak mau, aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju pintu masuk. Dan saat kubuka pintu itu, terlihatlah seorang pria-
TUNGGU.
ITU MAJIKAN PITBULLKU YANG DULU!
"Kemana saja kau, Petra Ral?" Ucapnya dengan tersenyum sadis.
"T-tuan Wald?" Dengan perasaan kaget, aku menjawabnya. Aku terheran, dia tahu dari mana alamat rumah Erwin?
"Pulanglah bersamaku, Petra." Ucapnya memaksa sembari menarik kedua tanganku.
"Tidak, lepaskan." Aku menjawab dengan penuh penekanan.
Ia tidak menjawab, ia masih menahan tanganku dan tangan kirinya mengambil sesuatu dari kantung jasnya.
"Pulanglah, Petra sayang."
Seketika itu ia mengacungkan pisau belati tepat pada leherku. Aku merasakan perih yang amat sangat, tanda bahwa pisau itu telah menggores panjang kulit leherku. Aku meringis, menahan perih.
"Tidak, sampai kapanpun, bangsat."
Ia menggores lengan atasku dengan pisaunya, "Benarkah itu, sayang?" Aku lagi-lagi meringis, menahan perih.
"Selamat pagi, tuan. Bisakah kau lepaskan perempuan itu?" Aku mendengar suara berat nan maskulin seorang pria dari belakang Wald. Dan si pitbull itu menoleh ke belakang.
Dia sudah pulang?
"Sayangnya tidak, tuan."
"Benarkah itu?" Aku melihat Erwin yang sudah memegang senjata api dengan satu tangannya, yang sepertinya adalah jenis revolver yang kulihat di buku miliknya. Tangan kanannya menenteng tas travel besar. Oh ya, aku lupa memberitahu kalian bahwa Erwin itu kidal.
Erwin, dia menyelamatkanku lagi. Aku berhutang padanya, sangat.
Dan Wald sialan itu melepaskanku, menyimpan kembali belatinya.
"Bagus."
Ia meninggalkan kami berdua, tetapi ia berputar balik lagi dengan pisau di tangan. Aku yang melihatnya seperti itu, berteriak memperingatkan Erwin yang sedang menyimpan senjata apinya.
"MENYINGKIR, ERWIN SMITH!" Aku berteriak dan mendorong tubuhnya, sehingga bahuku yang terkena hujaman pisaunya.
"P-pergi.. Ke n-neraka kau.. Wald..." Ucapku sambil mencabut pisau itu. Majikan gila itu kabur, sementara Erwin terkaget. Aku berhasil mencabutnya, lalu aku melempar pisau itu ke arah Wald yang sedang kabur, dan pisau itu mengenai kakinya. Erwin masih diam mematung.
"Ayo, masuk Erwin. Aku sudah membuatkanmu sup ayam, spesial untuk merayakan kepulanganmu." Ucapku sambil memegang bahu yang terkena tancapan pisau.
.
.
"Kau seharusnya tidak berbuat senekat itu, Petra." Ucapnya sambil memperban lukaku yang tadi sempat Hanji obati.
"Hehe, hanya rasa terimakasih karena kau sudah menolongku. Bagaimana supnya tadi, enak?" Ucapku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba telepon genggam miliknya berdering, ia mengangkat panggilan itu. "Halo?" Ia tidak menjawab, raut wajahnya mengeras. Entah karena apa, tetapi aku yakin ia merasa kesal dengan orang yang meneleponnya. "Bukan urusanmu sialan."
Ia mematikan ponselnya, dan tentu saja aku bertanya. "Ada apa, Erwin?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Masakanmu memang selalu enak. Jangan mengalihkan pembicaraan, Petra. Kau tahu aku khawatir sekali seorang perempuan sepertimu tidak kesakitan saat ditancapkan pisau? Malah kau melempar pisau tepat ke arahnya dengan baik. Apakah kau mati rasa?"
Whoa, ini adalah rekor Erwin untuk berbicara panjang lebar. Tetapi.. Apakah ia sebegitu khawatirnya padaku?
"Hahaha, tidak. Aku masih normal, kok. Dan soal pisau itu, aku sangat mengenal benda itu sedari kecil."
"Lain kali, jangan kau berbuat kriminal lagi. Mengerti?"
"Sialan kau Erwin, aku tidak berbuat kriminal! Aku mencoba untuk-" Aku terdiam, tidak ingin melanjutkan.
"Untuk apa?"
Untuk melindungimu, Erwin. Siapapun yang mencoba menyakitimu, harus melangkahi mayatku dulu.
"Tidak, lupakan saja."
"Tch, baiklah. Petra, aku bawakan sesuatu untukmu. Kubeli dari kota kemarin sore." Ucapnya sembari mengambil tasnya, mengeluarkan sesuatu.
"Ini." Ia memberiku sebuah kalung emas berbandul permata safir.
"T-tidak Erwin. Ini pasti mahal sekali harganya. Kau berikan saja pada Hanji!"
"Tch, Hanji sudah dibelikan oleh tunangannya sendiri, kau tahu?" Ucapnya sembari memakaikanku kalung tersebut.
"Terima..kasih." Aku memeluknya, dan ia sama sekali tidak menolak, tetapi ia memelukku erat, sekan tidak mau melepaskan.
"Sama-sama."
Ada apa dengannya?
.
wordt vervolgdt
SPECIAL THANKS :
Marry Sykess, all readers, favorite and followers.
