PLAY WITH ME

Cast : Kai, Sehun, Minho, Etc

Genre : Fantasy, Romance

Werewolf, Human.

Terima kasih untuk semua yang udah review, mohon reviewnya lagi ya untuk chapter ini dan seterusnya. And ff ini sebenarnya ga punya chapter yang banyak. Karena ini ff sebenarnya project untuk ff dengan tema fantasy di grup, terus tema untuk cerita selanjutnya sudah ditentuin ma ketua grup, jadi yah dari pada keteteran bikinnya mending di bikin end aja #plakk.

Sejujurnya aku juga rada ga nyangka loh, kalo banyak yang bahas bokong berlemak Sehun di review. Hihihi... karena jujur aku ngetik ini di grup dengan karakter utamanya cewe, waktu kak juju minta dibikin versi kaihun, langsung mikir di ffn aku ubah aja deh dari straight menjadi yaoi n jadilah ff Play With Me di ffn sedikit berbeda dengan aslinya di grup.

No edit.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

Cukup lama bagi Sehun untuk menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi kepadanya dan juga Jongin, hingga saat tangan Jongin hampir menyusup masuk ke dalam kaosnya, Sehun menyadari kesalahannya, namja manis itu terlonjak kaget dari pangkuan Jongin, menyebabkan tautan bibir keduanya terputus dan bokong berlemak Sehun harus merasakan kerasnya lantai bus itu.

"Aduhhh..." Sehun mengerang seraya mengusap bokongnya yang terasa sakit.

"Kau tak apa-apa?" Jongin tak menyangka gerak refleks Sehun terlalu cepat, hingga ia yang masih dalam mode terlena dengan ciumannya tak sempat menahan tubuh Sehun untuk tidak terjatuh ke lantai."

"Tidak apa-apa dengkulmu, ini sakit tahu," Sehun cemberut, namun tak urung ia menerima uluran tangan Jongin yang ingin membantunya untuk berdiri.

"Ada apa ini?" guru yang mendengar keributan di kursi belakang segera menghampiri keduanya, di ikuti oleh pandangan dari seluruh siswa yang ada di dalam bus itu.

"Tidak apa-apa ssaem, Sehun tertidur dan ia bermimpi buruk." Jongin melirik pada Sehun dan sedikit menyeringai.

"Ah, benarkah Sehun?"

Sehun mengangguk dengan kaku," sedikit banyak merasa dongkol pada Jongin yang seenaknya mengatakan kalau ia sedang bermimpi buruk. Ya meski sebenarnya ada benarnya juga Jongin mengatakan itu, bukankah ia baru saja kehilangan ciuman pertamanya di dalam bus, itu benar-benar mimpi buruk bagi Sehun karena ia membayangkan kalau ia akan memberikan ciuman pertamanya pada orang yang ia cintai di tempat yang romantis dan pastinya bukan di dalam bus yang tengah melaju seperti ini. Sialan, mata Kim Jongin telah menghipnotisnya hingga mau-maunya ia berciuman dengan si playboy itu. Sehun harus berusaha untuk menghindarinya.

Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Sehun bahkan tak menyadari kalau bus mereka sudah sampai ke tempat tujuan.

"Mau sampai kapan kau duduk disitu, kau masih ingin mengulangi kejadian tadi?" Jongin mengedipkan sebelah matanya.

"Dalam mimpimu, dasar playboy," Sehun menyikut perut Sehun dengan rusuknya. Berharap Jongin akan merasakan kesakitan, namun yang ia dapatkan malah membuat dahi Sehun berkerut, perut Jongin terasa begitu keras, sialan, selain playboy namja disampingnya ini sepertinya juga rajin berolahraga tidak seperti dirinya.

"Kenapa Sehunie, menikmati sentuhanmu?"

"Kim Jongin sialan," Sehun memajukan bibirnya, kakinya sedikit menghentak saat akhirnya ia bangkit dari duduknya dan berjalan melewati Jongin, memberikan pandangan yang menyegarkan bagi namja tampan itu. Bokong berlemak Sehun terlihat bergerak-gerak seirama dengan langkah kaki Sehun yang menjauh, terlihat begitu menggiurkan.

Setelah memastikan tak ada orang lain lagi di bus, Jonginpun keluar dari bus dan langsung menghampiri anggota klubnya yang sudah berkumpul.

"Kita akan mendirikan tenda di dekat sini, satu tenda untuk dua orang."

Sehun langsung menghampiri Baekhyun dan menggandengnya. "Aku denganmu saja ya?"

"Ah, oke." Baekhyun mengangguk.

Jongin yang mendengar ucapan Sehun hanya bisa menyeringai, 'Kita lihat saja nanti baby, kau akan tidur denganku.'

"Yang sudah menentukan siapa pasangan tidurnya malam ini, segera buat tenda."

Sehun mengerutkan keningnya, pasangan tidur? kenapa rasanya kalimat yang di katakan Jongin ambigu sekali, ia segera menyenggol pundak Baekhyun dan menanyakan apa maksud dari perkataan Jongin.

"Ah itu..." Baekhyun menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Jongin tadi kan bilang satu tenda untuk dua orang, bukankah dua orang itu sama seperti orang yang berpasangan, makanya ia bilang seperti itu." dalam hati Baekhyun meringis, susah juga menjelaskan pada manusia biasa ya. Sehun jelas tidak tahu apa maksud berpasangan menurut kaum mereka, Jongin secara terang-terangan tadi sudah meminta mereka untuk satu tenda dengan mate mereka masing-masing. Beruntung bagi Baekhyun karena saat ini ia belum mendapatkan matenya jadi ia bisa tidur menemani Sehun.

"Bukan begitu caranya cantik, kau akan membuat tendanya roboh kalau tertiup angin."

Sehun dengan cepat menoleh ke sumber suara dan bibirnya langsung mengerucut, saat mengetahui siapa pemilik suara itu, Kim Jongin. "Dasar playboy," Sehun menatap tak suka pada Jongin yang melingkarkan tangannya di pinggang yeoja yang sedang ia bantu untuk mendirikan tenda.

"Kau lihat apa Sehunie, ayo bantu aku mendirikan tenda.'

"Ah, iya." Niatnya sih memang ingin membantu tapi Sehun baru ingat, ia kan tidak pernah belajar cara mendirikan tenda. "Baekkie, aku belum pernah melakukan ini."

Baekhyun menepuk jidatnya, "Aku juga tidak bisa, lalu bagaimana ini?"

Sehun mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap ada satu orang yang sedang menganggur dan bisa menolong mereka. Tapi yang ia dapatkan malah Jongin yang sedang merayu seorang namja manis di ujung lapangan sana. Sehun mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi kenapa ia harus melihat namja playboy itu merayu orang sih.

"Dasar playboy," gerutu Sehun.

"Siapa?"

"Itu, Jongin."

"Ah..." Baekhyun menyipitkan matanya untuk melihat ke arah yang ditunjukkan Sehun. Di sana ia melihat Jongin yang sedang bercanda sambil memeluk tubuh seseorang. Tunggu, bukankah itu beta dari pack mereka, orang yang sangat akrab dengan Jongin. "Itu bukan kekasihnya."

"Tentu saja ia tidak punya kekasih tetap, ia kan playboy," Sehun mencibir, seraya mengedarkan pandangannya lagi. "Sepertinya semua orang sedang sibuk dengan tenda masing-masing. Lalu bagaimana dengan kita? aku tidak bisa tidur di luar."

Baekhyun mencoba sekali lagi menatap Jongin dan memberi isyarat padanya untuk mendekat. Berhasil, Jongin kini menoleh ke arahnya dan kemudian berjalan menghampiri. Namun sepertinya Jongin kalah cepat, karena sudah ada orang lain yang lebih dulu menyapa.

"Butuh bantuan Sehunie?"

Sehun menatap dengan canggung pada Minho. Namja itu entah bagaimana caranya, kini sudah ada di dekatnya dan menawarkan bantuan. Sehun menoleh ke seberang lapangan ke arah tenda kelompok Minho didirikan. "Kelompokmu sudah selesai mendirikan tenda?"

"Belum sih," Minho menggaruk tengkuknya. "Aku bisa melakukannya nanti, tadi aku melihat kau terlihat kebingungan, makanya aku kemari. Ayo aku bantu."

"Aku harap kau masih ingat dengan peraturan di klub kita wakil ketua, di larang untuk membantu anggota kelompok lain, bahkan meskipun itu saudara ataupun kekasihmu."

Ucapan bernada dingin itu sukses membuat gerakan tangan Minho yang ingin meraih tangan Sehun langsung terhenti. Ia kembali menurunkan tangannya ke sisi tubuhnya. "Jongin..."

"Kembalilah ke kelompokmu, ku rasa aku masih bisa mengurus kelompokmu sendiri."

Minho menatap pada Sehun yang menganggukkan kepalanya. "Pergilah, Seulgi sepertinya sudah mencarimu." Sehun melihat di ujung lapangan sana, seulgi menatap ke arah mereka.

"Baiklah," dengan berat hati Minho membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Sekali lagi, ia gagal mendekati Sehun. Kenapa Jongin selalu bisa membuatnya menjauh dari Sehun?

"Jadi cantik, kenapa tenda kalian belum juga selesai didirikan?"

"Jangan panggil cantik, lebih baik kau katakan itu pada yeoja yang tadi kau bantu," Sehun mengerucutkan bibirnya.

Alis Jongin terangkat satu, "Wah, Sehunie ternyata diam-diam memperhatikanku ya, aku senang sekali."

"Dalam mimpimu, dasar playboy."

"Jangan terus cemberut sayang, kau tak mau aku mencium bibirmu lagi kan?"

"Lagi?" Baekhyun menoleh pada Sehun dengan ekspresi terkejut. "Kau pernah berciuman dengan Jongin?"

"Tidak," Sehun cepat-cepat menggeleng. "Mana mau aku dengan playboy ini, kau lihat sendiri kan, bahkan kita baru datang ke sini dia sudah merayu empat orang."

Jongin tersenyum geli, "Kau jatuh cinta padaku ya, aku bahkan tidak tahu kalau aku sudah merayu empat orang."

"Diam, playboy." Sehun menghentakkan kakinya dengan kesal. "Jauh-jauh dariku."

"Yakin, lalu bagaimana dengan tenda kalian?"

Sehun menggigit bibir bawahnya, kenapa ia sempat lupa dengan masalah tenda sih. "Ya, kau bantu dulu, setelah itu pergilah."

Jongin tersenyum tipis, "Jongdae-ya, ayo bantu aku mendirikan tenda untuk princess cantik ini." Ia menoleh pada Jongdae yang sudah selesai mendirikan satu tenda.

"Oke."

Jongin menoleh lagi pada Sehun, "Bersabarlah sebentar lagi princess."

"Aku bukan princess dan jangan merayuku, rayu saja yang lain."

"Kau tidak keberatan? Dari tadi saat aku dekat dengan yang lain, kurasa punggungku akan bolong karena tatapan tajam darimu."

"Yak, aku tidak melakukannya. Kau menyebalkan." Sehun menghentakkan kakinya dengan kesal. "Baekki bantu aku melawan playboy ini."

"Eh, aku..." Baekhyun menunjuk dirinya sendiri sebelum menoleh pada Jongin dan tersenyum kaku. Meski saat di sekolah ia di perbolehkan memanggil nama pada Jongin, tapi tetap saja Jongin itu pimpinan mereka, alpha yang harus ia hormati, mana berani Baekhyun melawannya.

"Kau tidak berani?"

"Bukan begitu, aku hanya..."

"Tendanya sudah selesai," Jongdae menyela ucapan mereka.

"Mwo, cepat sekali." Sehun menatap tak percaya.

"Ini sih hal kecil, kami sudah terlalu sering melakukannya." Jongdae membanggakan dirinya sendiri.

Sehun nyengir, ia meraih tangan Baekhyun. "Ayo Baekkie, kita taruh ransel dulu ke dalam."

"Tunggu."

Gerakan Sehun dan Baekhyun langsung terhenti, keduanya menoleh pada Jongin dengan pandangan bingung.

"Baekhyun kau tidur dengan Jongdae."

"Eh, kenapa begitu, lalu aku dengan siapa?" Sehun protes.

"Denganku tentu saja."

"Aku tidak mau," Sehun langsung menolak, masih terbayang di benaknya bagaimana Jongin menciumnya di dalam bus, itu hanya karena mereka duduk berdampingan, Jongin menciumnya. Kalau mereka harus tidur bersama juga, bisa bisa Jongin akan melakukan yang lebih lagi.

"Yakin?" Jongin melipat kedua tangannya. "Ini hutan, bukan rumahmu yang nyaman ataupun hotel mewah yang bisa menyediakan segalanya. Ini bukan tempat yang aman Sehuna. Kalau kau jauh dariku, aku tak akan menjamin kau aman."

Baekhyun mengerti apa yang di ucapkan Jongin. Sehun hanyalah manusia biasa dan ia sendiri hanyalah seorang omega yang tentunya juga tak akan bisa melindungi Sehun kalau terjadi sesuatu. Tapi ia juga paham kalau Sehun tak akan mengerti akan hal itu, di sekolah mereka 95% murid dan gurunya adalah werewolf dan mereka semua sudah terbiasa menyembunyikan status mereka hingga murid yang bukan werewolf tidak curiga. Tapi ini di hutan, terdapat banyak makhluk-makhluk yang tak terduga dan Sehun mungkin tak akan aman kalau tak berada di bawah perlindungan sang alpha.

"Kurasa Jongin benar, lagi pula kalau salah satu dari kita ingin pipis saat malam hari aku tak akan berani keluar tenda. Aku takut gelap." Bohong, seorang serigala tak pernah takut akan kegelapan tapi kali ini Baekhyun terpaksa berbohong demi kebaikan Sehun.

Sehun menatap pada Jongin dan juga Baekhyun bergantian, menggigit bibirnya, telihat berpikir sebelum kemudian mengangguk pasrah. "Baiklah, tapi tidurnya jangan dekat-dekat denganku."

Jongin menyeringai, "Bagaimana ya, padahal aku berencana menjadikanmu bantal guling malam ini."

"Jongiiiiiinnn..."

"Iya-iya, cepat bereskan ranselmu sana," Jongin mendorong tubuh Sehun ke dalam tenda sebelum menoleh pada Jongdae dan Baekhyun. "Awasi Minho setelah ini," bisiknya lirih.

"Eh, ada apa dengannya alpha?"

"Sepertinya Seulgi lepas kendali dan secara tak sengaja mengubah Minho menjadi werewolf, aku bisa merasakannya. Dan..." tatapan Jongin terlihat lebih serius. "Malam ini bulan purnama dan dia akan melakukan perubahan pertamanya. Aku hanya takut dia akan melukai Sehun."

"Kami mengerti, tapi apa hubungan perubahan ini dengan Sehun?" tanya Baekhyun bingung.

"Apa kau bodoh, Minho menyukai Sehun dan kurasa serigalanya juga, karena itulah kita harus melindungi Sehun, aku sudah mengatakan hal ini pada yang lain."

"Apa Seulgi mengetahui hal ini?" tanya Jongdae.

"Kau pikir apa lagi yang bisa membuat dia lepas kendali?" Jongin balas bertanya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Sehun yang baru keluar dari tendanya.

"Tak ada, aku hanya mengatakan kalau acara akan kita tunda hingga besok," jawab Jongin. ya, ia tidak bisa melanjutkan acara game yang harusnya mereka lakukan sore ini, tapi mengingat Minho yang kemungkinan akan lepas kendali dan melakukan perubahan pertamanya, Jongin lebih memilih menundanya.

"Ah, jadi apa yang akan kita lakukan?"

"Kau dan Baekhyun bisa membantu yang lain memasak, aku dan Jongdae akan mencari kayu bakar."

Pandangan Sehun terarah ke hutan lebat, "Kalian yakin? Hutannya lebat sekali."

"Tak akan terjadi sesuatu kok, kalian cepatlah berkumpul dengan yang lain." Pandangan Jongin lurus ke seberang lapangan, mata tajamnya dapat melihat Minho yang tampak gelisah di sana. 'Sudah di mulai'

.

.

.

.

.

.

Temui aku di hutan belakang tendamu

Sehun mengerutkan keningnya ketika membaca pesan yang dikirimkan Minho padanya. Mau apa Minho memintanya bertemu malam hari seperti ini?

"Ada apa?" tanya Baekhyun. Ia baru saja selesai membereskan tempat makan mereka saat melihat Sehun mengernyitkan alisnya saat menatap handphone.

"Ah tidak apa," Sehun memasukkan handphonenya ke saku jaket. "Aku hanya agak mengantuk."

Baekhyun mengangguk, ia mengedarkan pandangan kesekeliling dan menemukan orang yang ia cari tengah berbicara berdua dengan beta di ujung sana. "Tapi Jongin sepertinya sedang sibuk, kau mau aku temani?"

"Ish, si playboy itu," geram Sehun. ia bangkit dari duduknya di atas potongan kayu dan kemudian berjalan menjauh dengan kaki dihentakkan.

"Sehuna, kau mau ku temani?" tawar Baekhyun sekali lagi.

Sehun menghentikan langkahnya, teringat dengan isi pesan dari Minho tadi. "Tidak usah, aku bisa sendiri, lagi pula aku ingin langsung tidur."

"Oh, kalau begitu baiklah." Baekhyun sama sekali tampak tak curiga jadi Sehun mempercepat langkahnya dan menyelinap diam-diam memasuki kawasan hutan.

Kegelapan yang menyapa pandangan Sehun dan juga bayangan pohon-pohon besar membuat langkah Sehun terlihat ragu. "Minho?" ia memanggil pelan.

Terdengar suara gemerisik kaki orang berjalan di susul bunyi ranting yang patah karena terinjak.

"Minho." Sehun memanggil sekali lagi.

"Sehun," Minho muncul dari sebalik pohon besar. Namja tampan itu mendongak ke atas menatap pada bulan yang tertutup awan hitam. Sepertinya akan hujan, jadi ia mempercepat langkahnya untuk menghampiri Sehun dan kemudian menarik lengan Sehun.

"Kau mau bawa aku kemana?" Diam-diam Sehun merasa menyesal telah menemui Minho, karena kini namja itu membawanya makin jauh masuk ke dalam hutan, beberapa kali langkah Sehun harus tersandung akar pohon dan membuatnya hampir terjatuh andai saja Minho tidak dengan sigap menahannya.

"Minho," Sehun menyentakkan tangannya dengan kasar hingga pegangan Minho terlepas. Namja manis itu berhenti melangkah dan menatap tajam pada Minho. "Kenapa kau bawa aku kemari?"

"Kita butuh bicara Sehun."

"Tapi tidak perlu membawaku ke tengah hutan juga kan, kita bisa bicara di lapangan tadi."

"Tidak bisa, selama ada Jongin di sana, ia akan menjauhkanmu dariku."

"Kenapa Jongin harus melakukannya?" Sehun mendekap tubuhnya sendiri ketika merasakan angin berhembus dengan kencang, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Di atas sana, perlahan awan hitam yang semula menutupi cahaya bulan perlahan mulai menjauh terbawa angin, hingga samar-samar cahaya bulan mulai menerangi hutan dan membuat Sehun menyadari kalau kini ia benar-benar berada ditengah hutan dan tak tahu arah menuju jalan pulang. "Jongin hanya melakukan hal yang harus ia lakukan sebagai ketua. Sekarang ayo kita kembali, aku akan bicara pada Jongin supaya memperbolehkan aku bicara denganmu."

Minho menatap Sehun dengan pandangan yang sulit di artikan. "Kau mencintai Jongin?"

"Apa?" Sehun terlihat bingung sejenak, sebelum kemudian ia balas menatap pada Minho. Sehun tak bohong kalau di satu sisi ia merasa kalau ia merindukan dirinya, tapi cinta? Mungkin Sehun masih merasakannya, tapi sisi hatinya yang lain mengatakan tidak. Sehun menyadari kenapa ia merasa hal seperti itu, Minho sudah menyakitinya, meski mungkin hal itu tidak disadari oleh Minho, tapi Sehun sudah merasakan sakit dan ia tidak menyukai kenyataan itu. Meski Minho mengatakan kalau ia tetaplah sahabatnya, tetap saja rasanya ada yang berubah. Sehun kini yakin kalau ia tidak menyukai Minho lagi.

"Kenapa kau tidak pernah mencintaiku? Kuhabiskan banyak wakutku denganmu dari pada orang lain. Kita telah banyak melewati waktu bermain dan mengobrol bersama, tapi kenapa kita tak bisa menjadi sepasang kekasih?"

Minho menghela napas, "Entahlah, mungkin karena kita terbiasa bersama sepanjang hari, jadi aku menganggap kalau itu hal yang biasa. Paling tidak itulah yang terjadi padaku. Dan aku tak harus khawatir kalau kau akan pergi dariku karena kau mencintaiku."

Itu sebelum kau punya kekasih dan Jongin datang dikehidupanku.

"Yeah, itu karena kau tidak menganggapku sebagai orang yang pantas kau cintai. Kau melihat orang lain lebih sempurna untukmu."

"Alasan yang sebenarnya adalah, karena aku tak tahu kalau akan terasa menyakitkan bagiku melihat kau dekat dengan namja lain. Kau membuatku menyadari apa yang telah kulakukan terhadapmu."

"Kau tahu, tadinya aku berpikir kalau kau akan menjadi kekasihku dan kemudian melakukan ciuman pertama denganku, tapi ternyata tidak, aku malah melakukannya dengan orang lain." Sehun bertanya-tanya di dalam hati kenapa ia bisa mengatakan itu semua dengan gampang, apa memang sudah tak ada lagi kepingan hatinya untuk Minho?

"Semua sudah terjadi, jadi kau berciuman dengan Jongin?"

"Menurutmu?"

"Jadi kau mencintainya?"

"Kalau ya memangnya kenapa?"

Minho melangkah mendekat ke arah Sehun dan sedikit mencondongkan wajahnya.

"Apa yang kau lakukan ? kau tidak akan menciumku kan?"

"Menurutmu?" Minho makin mendekatkan wajahnya ke arah Sehun.

"Yak, Choi Minho." Sehun melangkah mundur dan kemudian menyadari kalau di belakangnya ada sebatang pohon besar yang menghalanginya. Ia terjebak dan tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu di tempat perkemahan, Jongin yang tidak mencium aroma tubuh Sehun segera menjauh dari betanya dan menghampiri Baekhyun yang tengah berbincang dengan yang lain. "Di mana Sehun?" tanyanya tanpa basa basi.

"Dia bilang kalau dia kembali ke tenda, alpha." Baekhyun menjawab.

"Kau tidak menemaninya?"

"Sehun bilang ia ingin sendiri, memangnya kenapa?"

"Aku tidak mencium aroma tubuhnya," Jongin mendongak sejenak, "Shit, aku juga tidak mencium keberadaan Minho. Semua anggota, berpencar dan cari Sehun sekarang."

Tak ada bantahan, bahkan dari para guru yang ada di sana, mereka semua bergegas mencari Sehun sesuai perintah alpha mereka.

"Sehuna, ku mohon, semoga tidak terjadi sesuatu padamu." Jongin memejamkan matanya dan ketika ia kembali membuka matanya, dan warna matanya sudah berubah. "Aku masih bisa mencium jejak sisa aromanya, dia belum pergi lama. Sehuna, bertahanlah." Dan dengan itu, Jongin melesat pergi setelah sekali lagi menatap ke arah bulan. Sudah hampir tiba waktunya bagi Minho untuk berubah dan Jongin harap ia tidak terlambat.

.

.

.

.

.

.

Sehun memalingkan wajahnya hingga bibir Minho meleset ke pipinya, sedetik kemudian Minho mundur dan tersenyum menatap pada Sehun dengan tatapan terluka. "Sepertinya aku memang sudah terlambat."

"Apa maksudmu?"

"Karena kau tidak ingin ku cium. Aku jelas telah terlambat untuk memilikimu."

"Kau sudah punya Seulgi, lebih baik jangan sia-siakan dia, dia sepertinya tulus mencintaimu."

Minho tersenyum pahit, "Meskipun dia adalah orang yang telah mengubahku?"

"Aku tak tahu mengubah seperti apa yang kau maksud, tapi aku lihat kau bahagia bersamanya."

"Benarkah?"

Sehun mengangguk.

"Kau benar-benar tidak ingin memberikan kesempatan kedua untukku rupanya."

"Kau tau benar seperti apa aku," jawab Sehun.

Minho mengangguk, namun setelah itu ia mendadak mengerang dan memegang kepalanya.

"Minho kau kenapa?" Sehun ingin melangkah mendekat, namun Minho lebih dulu mengibaskan tangannya.

"Larilah Sehun, menjauh dariku."

"Tapi..." Ucapan Sehun terhenti saat ia melihat Minho mendongak untuk menatapnya. Ada taring yang mencuat dari sela-sela bibirnya. dan tubuh Sehun gemetar melihatnya.

"Menjauh Sehun... sekarang..."

Tak ada pilihan lain, Sehun berbalik dan kemudian berlari ke arah yang ia sendiri tak tahu. Di belakang sana, terdengar erangan dari Minho yang semakin menjadi, suara gemeratak tulang di iringi jeritan dan kemudian auman khas serigala. Sehun terjatuh saat kakinya tersandung, ia baru ingin berdiri saat merasakan sesuatu yang melompat dan mendekat ke arahnya. Sehun menoleh dan matanya terbelalak melihat seekor serigala berbulu hitam membuka mulut dan menatap ke arahnya.

"Hiks... jangan bunuh aku, tolong..."

Grrrr...

"Toloooonnggg..." Sehun berteriak sambil menutup wajahnya saat serigala itu melompat ke arahnya.

"Sial.."

Bughhh

Brakkk

Sehun membuka matanya dan menurunkan tangan dari wajahnya. Mulutnya terbuka lebar, melihat di depannya berdiri serigala yang amat besar, jauh lebih besar dari serigala yang pertama tengah berdiri membelakanginya. Bulunya yang berwarna gold tampak begitu indah.

Grrrrrrr...

Serigala itu menggeram dan pandangan Sehun jatuh ke depan sana, dan napasnya tersentak saat ia melihat serigala itu terkapar di bawah sebatang pohon besar. Perlahan serigala itu berubah menjadi sesosok tubuh yang Sehun kenal. Itu Minho.

"Minho."

Satu kejutan lagi untuk Sehun, ia melihat Seulgi yang entah datang dari arah mana kini tiba di hadapan Minho dan memeluknya. Seulgi menatap lurus ke depan tepatnya ke arah serigala besar yang melindungi Sehun, menunduk hormat lalu kemudian ia menyelimuti tubuh Minho dan berlalu pergi.

Serigala besar itu berbalik, menatap Sehun yang masih terduduk di tanah.

'Dasar bodoh'

Tubuh Sehun tersentak, ia seperti mendengar suara Jongin di dalam kepalanya. "Jongin..."

'Kenapa kau tetap pergi walau kau sudah tahu kalau tempat ini tidak aman?'

"Jongin, kau di mana, ada serigala besar sedang menatapku sekarang, aku takut."

'Ini aku bodoh...'

Sekali lagi Sehun tersentak, "Kau Jongin?"

Serigala itu menggeram, berjalan melewati Sehun menuju sebatang pohon besar. Sehun berbalik untuk melihat serigala itu yang ternyata bersembunyi di balik pohon itu dan tak lama kemudian Sehun kembali terkejut saat sosok Jonginlah yang keluar dari balik pohon itu. "Kau... serigala tadi..."

"Yeah, itu aku." Jongin melangkah dengan tenang menghampiri Sehun dan membantunya berdiri.

"Bagaimana bisa?" Sehun rasanya tak bisa percaya dengan mudah apa yang dilihatnya.

"Tentu saja, karena aku manusia serigala."

"Lalu Minho...?"

"Ya, dia juga..."

"Tapi..."

"Ku rasa dia tidak memberitahumu ya, tapi kekasihnya sudah mengubahnya menjadi sama seperti kami."

"Kami?"

"Ya, aku, Minho, Baekhyun, Seulgi dan seluruh orang yang ikut perkemahan ini, tidak termasuk dirimu tentunya."

"Apa..." Sehun melangkah mundur terlalu terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui.

"Kau takut?"

Sehun menatap mata Jongin, anehnya ia tidak merasakan rasa takut, hanya ada rasa terkejut di sana. "Tidak."

"Bagus,"Jongin menyeringai. "Karena aku tidak mau membuat lunaku ketakutan."

"Luna?" sedikit banyak Sehun pernah membaca hal tentang manusia serigala dan fakta bahwa Jongin baru saja menyebutnya luna, membuatnya kembali terkejut. "Aku Luna darimu?"

Jongin mengangguk kalem, "Aku alpha dan kau jelas akan menjadi lunaku?"

"Apa ini caramu untuk menaklukkan orang lain, dengan menyebut mereka calon luna? Aku tidak mau menjadi pasangan dari namja playboy sepertimu."

"Aku berkata yang sebenarnya, kau memang lunaku."

"Aku tidak mau menjadi lunamu. Kau playboy dan pastinya nanti akan meninggalkanku."

"Dan menyia-nyiakan kesempatanku untuk memiliku dengan segala aset yang menggiurkan milikmu? Tidak sayang, aku lebih rela tidak bersentuhan dengan orang lain dari pada harus menjauh darimu." Jongin melangkah mendekat.

Dan seperti dejavu, Sehun kembali melangkah mundur dan kali ini lagi-lagi kali ini tubuhnya terhalang sebatang pohon besar.

Jongin mengurung tubuh Sehun di sana dan meletakkan tangan kanannya di sebelah telinga Sehun. sementara tangan kirinya mengelus pipi kiri Sehun. "Aku mencintaimu Sehuna, sejak pertama kali kau melangkahkan kakimu di sekolah dan aku sengaja bersikap seperti itu agar kau melihat ke arahku."

"Kau menyebalkan."

"Ya, harus ku akui."

"Kau playboy."

"Demi mendapatkan perhatianmu."

"Aku membencimu."

"Terima kasih dan aku mencintaimu."

"Jangan sentuh aku, menjauhlah dariku."

"Benarkah? Tapi kau jelas-jelas menikmati waktumu ketika berdekatan denganku."

"Kau..."

Sehun mengayunkan kakinya, berniat menendang Jongin, namun dengan sigap Jongin menahan pergelangan kakinya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyusup masuk ke balik jaket Sehun, membelai perutnya dan kemudian tangan itu menyusup masuk ke dalam celana training yang dipakai Sehun, membelai kejantanannya yang masih tertutup celana dalam.

"Ahhh... Jongin..."

Sehun memegang pergelangan tangan Jongin yang masih mengusap-usap kejantanannya di dalam sana.

"Jangan menolakku lagi Sehuna." Dan Jongin kemudian mencium bibir Sehun dengan lembut.

Sehun merasa tubuhnya melemah dan ia melepaskan pegangannya di tangan Jongin dan memilih untuk melingkarkan tangannya di leher Jongin.

Jongin tersenyum miring ketika ia melepaskan ciumannya. "Siap untuk ke tahap selanjutnya, Oh Sehun?"

.

.

.

.

.

TBC

Satu chap lagi end. Mohon reviewnya ya...

Salam sayang KaiHun Hardshipper.

KaiHun Lovea.