Oke lain kali, tolong ingatkan Fang untuk tidak tertidur di rumah bobrok yang menjadi markasnya itu, karena disana ternyata jauh lebih mengerikan dari yang pernah dibayangkan si bocah populer.
BoBoiBoy adalah milik Animonsta Studios
Nightmare Party adalah milik AzuraRii
Warning : Sebuah percobaan genre Mystery dan Action (Omong-omong masalah action, kayak nya genre ini tidak tercantum di opsi pilihan genre ya. Ckckckck jadi saya pilih suspense saja :3 #pret) , Alurnya kemungkinan berantakan, peng-abuse an chara dengan biadab, klise harap dimaklumi. (Omong-omong lagi, semua yang tercetak tebal itu hanya sebuah penekanan dengan maksud men-dramatisir, oh oke lupakan.)
Catatan : Benda ini tanpa pairing, er… yah, kalau ada pun mungkin sekedar hints hambar. Saya juga tidak bisa jamin sih :3 #yaelah
Selamat membaca dan semoga Anda menikmati ceritanya! :3
…
…
( Bagian 3 : Pesta Mimpi Buruk. )
…
Langkah-langkah kakinya menggema di tangga tua berdebu itu.
Tuk-tuk-tuk-tuk— Ketukan-ketukan ber-ritme pelan itu seperti menyebarkan suara langkah kakinya ke segala arah, Fang menggenggam lebih erat pistol dan pedang panjang yang dibawanya, satu set bola mata hitam itu melirik ke arah kiri dan kanan. Bersiap untuk menerima yang terburuk.
"Hah … Hah …." Desah napas Fang pelan, suasana sepi yang ganjil itu membuat level kewaspadaan nya meningkat.
Tinggal beberapa tanjakan yang tersisa dan sebelum akhirnya dia telah turun sepenuhnya dari keseluruhan anak tangga, melangkah di lantai kusam yang cukup familiar baginya dengan beberapa barang rongsokan yang sama yang selalu dilihatnya tiap masuk ke dalam tempat ini.
Oh— Tapi ada sesuatu yang sedikit mengganjal baginya.
Ada cairan-cairan hitam keunguan menjijikkan yang sedari tadi dilihatnya mengucur bak darah bagi si monster-monster itu terlihat melapisi rongsokan-rongsokan di sekitarnya, melapisi dinding seperti cat dan bahkan melapisi lantai dingin dan kusam yang dipijaknya.
Fang terdiam sebentar menatap fenomena aneh itu, kemudian dia menghilangkan pistol bayang –nya sebentar dan memindahkan pedang bayangan yang panjang itu ke tangan kirinya, sementara tangan kanan terlihat sibuk mengambil sebuah coklat batangan yang tersimpan di saku celananya.
Uh… Ya, perutnya sudah meronta-ronta sedari tadi melawan tiga monster mengganggu di lantai dua diatas sana. Jadi di saat situasi terlihat cukup terkendali seperti saat ini, tentunya tidak masalah 'kan kalau dia meluangkan waktunya sebentar untuk menggigit batangan coklat sambil mengingat-ingat dimana letak pintu keluarnya sekarang? Oh, omong-omong , tempat ini cukup gelap yang pintu kayu besar itu tak terlihat dimana pun.
Pintu itu terasa seperti dengan sengaja disembunyikan. Entah dimana.
Apa cairan hitam keunguan itu membuat pintunya menjadi sedikit lebih… Sulit untuk dilihat atau semacamnya?
Fang lalu menggigit batangan coklat di tangannya, merasakan sensasi manis dan pahit yang bercampur di dalam mulutnya dan tidak lupa untuk mengangkat tangan kirinya yang memegang pedang. Membuat pose defensif sambil mencoba untuk mengecek ruangan di sekitarnya.
Suara patahan batangan coklat itu lagi-lagi menggema ke seluruh ruangan, dan Fang masih tetap menatapi cairan-cairan hitam itu di sekelilingnya.
Dan ia merasakan sebuah keganjilan menguar dari cairan-cairan menjijikkan itu, yang semakin dia dekati, semakin benda cair itu bergerak-gerak mengumpul— menyatu dan membesar hingga seukuran satu sampai dua meter, jumlahnya cukup banyak dan Fang tak sempat menghitungnya karena tiba-tiba saja salah satu benda itu telah berubah sepenuhnya menjadi sesosok monster mengerikan.
Monster yang sama dengan yang dilawannya beberapa belas menit yang lalu.
"Ko … Ko …." Gumam salah satu dari monster itu pelan, tapi cukup jelas untuk dapat di dengar oleh Fang melihat jaraknya dengan makhluk itu cukup dekat.
Ia segera mengambil jarak aman, tangan kanannya yang memegang sisa batangan cokelat itu lalu memasukkan si cokelat ke kembali ke saku celana— dengan cepat membentuk bayangan pistol yang tadi sempat dilenyapkannya sementara.
Mata terbuka lebar milik moster di hadapannya itu terlihat begitu terfokus menatapnya— sedari tadi menatap penuh perhatian pada cokelat yang dimasukkannya itu ke saku celana.
Dan sejenak Fang mulai mencerna keadaan, melihat begitu banyaknya cairan hitam-ungu yang menyatu dan berubah menjadi begitu banyak monster beruang-dinosaurus ini.
Mereka mengincar cokelat. Sama seperti alien-alien kotak yang dikenalnya.
Jadi…? Apa mereka sebenarnya memang dikirim oleh Adu Du dan Probe seperti dugaan awalnya? Atau ada orang lain selain mereka yang mengetahui keberadaan cokelat dan mulai mengincar nya, membuat sebuah penemuan gila seperti er… Cocodino? Seperti monster mengerikan berwujud dinosaurus sebesar beruang yang mengincar cokelat batangan yang ada di sakunya?
Oke, dia sepertinya telah menemukan nama yang cocok untuk makhluk itu ; Cocodino, terdengar menggelikan memang, tapi setidaknya bisa menggambarkan rupa dan apa yang mereka incar secara bersamaan.
Beberapa dari Cocodino yang berukuran tak begitu besar segera meloncat ke arahnya, dan Fang dengan cepat mempersiapkan kuda-kuda terbaik nya untuk menyerang.
"Hyaaaahhhh!" Seru nya menebas perut mereka dengan satu tarikan pedang, membuat teriakan nyaring terdengar dari mereka di hadapannya. Dan Fang segera menendang salah satu dari mereka, mengakibatkan para monster yang ukurannya tak begitu besar itu terhempas mundur.
Satu dari Cocodino yang berukuran besar lalu melemparkan beberapa rongsokan ke arah Fang.
"Eiiiits—" Fang segera menghindar setelah sebuah meja terlempar ke arahnya, ia melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah, "Hahaha, tidak kena," Seru ketika lagi-lagi sebuah sofa mengarah padanya, "Apa hanya itu saja yang kau bisa?"
Fang berkata dengan gaya menantang, tangannya membenarkan pegangan pada pedang sepanjang satu meter yang digenggam nya.
Sebuah lemari berukuran sedang seketika terlempar ke arahnya.
"Uurrrrggggghh!" Fang tak bisa menghindari lemari usang itu, benda itu cukup panjang dan menghindarinya bukanlah pilihan yang tepat bagi Fang saat ini, "Akh! Benda ini terasa berat!" Seru nya sambil menahan lemari itu dengan pedangnya, tapi monster-monster di depannya itu sekarang malah mendorong lemari itu, cukup kuat untuk membuat pertahanan Fang melemah dan akhirnya terdorong mundur.
"Ouch! Hey! Sakit tahu!"
Sialnya, tangannya yang menggenggam pedang malah tertimpa oleh lemari usang sialan itu.
Para Cocodino itu perlahan mulai mengepungnya, membentuk separuh lingkaran dengan teratur dan berhasil membuatnya terpojok di dinding ruangan dengan salah satu tangannya yang tertimpa barang rongsokan super berat.
Fang hanya bisa berharap kalau keahliannya dalam menembak bisa sedikit lebih hebat dari sebelumnya, atau setidaknya dia harus bisa menembak kira-kira… Enam? Delapan? Tujuh? — Oh sial, bahkan sekarang hitungannya menjadi kacau.
Tangan kirinya yang bebas berusaha membidik salah satu dari monster di dekatnya, ia mengincar yang bertubuh paling besar dan gempal supaya kemungkinannya untuk meleset semakin kecil.
Terdengar bunyi tembakan keras dan cipratan cairan darah-hitam, Fang menutup matanya erat-erat ketika terdengar erangan kesakitan yang begitu keras, juga begitu dekat dengan jarak dirinya saat ini.
"Graaaaawrrrrrr" Tapi monster itu tidak berhenti bergerak dan sekarang tubuhnya terasa begitu ringan, sesuatu terasa mencekik nya, membuat pegangannya pada pedang dan pistol di tangannya mulai merenggang dan akhirnya kedua senjata itu lenyap tanpa sisa.
Fang merasakan sesuatu mulai patah di lehernya jika saja tangannya tak bergerak cepat untuk melawan tangan-tangan besar dan kasar milik sang monster, kekuatannya saat ini tentu saja tak bisa menandingi monster itu, dan Fang memutuskan untuk segera menggigit tangan itu, sekuat yang giginya bisa lakukan.
Crack!
Ia berhasil menggigit tangan monster itu kuat, membuat si monster kembali mengerang kesakitan dan segera membanting nya ke dinding terdekat.
"Ukh …" Oke, sudah kedua kalinya ia terlempar ke dinding malam ini, dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Serius. Sekarang kepalanya terasa berdenyut-denyut menyakitkan., seperti ada seseorang yang memalu kepalanya dengan paku-paku kecil, membuat tempurung kepalanya retak dan darah merembes kemana-mana.
… Ya, penjelasan itu memang terdengar agak berlebih-lebihan. Tapi dia sama sekali tak berbohong soal denyutan menyakitkan dan bau amis darah yang terasa mengalir di pelipis nya.
Oh, dan seperti ingin ikut memperburuk keadaannya saat ini, matanya terasa tak fokus dan seluruh hal yang masuk ke retina matanya terasa berpecah menjadi tiga bayangan kasar.
Sebuah kata seakan terus terngiang di kepalanya, membuat Fang cepat-cepat bangkit. Persetan dengan pusing mengganggu yang seakan membelah kepalanya, dia memaksakan kakinya untuk memijak lantai meskipun seluruh tubuhnya memberontak kelelahan.
Lari. Lari. Lari—!
Atau nyawanya bisa saja melayang malam ini.
Semakin mendekat ke jalan keluar, monster yang ditemui akan semakin kuat. Berevolusi, memiliki taring, cakar, intelegensi, besar, regenerasi menyebalkan, dan apapun. Atau itulah yang Fang tengah perkirakan saat ini.
Satu-satunya hal yang disyukuri nya adalah gerakan mereka yang tidak begitu cepat. Langkah kaki makhluk itu besar dan menggetarkan, tapi tidak begitu cepat untuk mengejarnya yang bahkan bergerak dengan menyeret-nyeret kakinya. Oh… Terkutuklah pintu kayu yang tiba-tiba saja seolah menghilang di saat-saat krusial macam sekarang.
"Serangan bayang!" —Fang berseru, bayangan jarum-jarum raksasa seketika menghantam nyaris sebagian dari monster yang mengejarnya.
"Cih!"
Kurang begitu kuat. Dia sudah terlalu lelah untuk membuat jarum-jarum itu cukup tajam untuk membelah daging busuk makhluk itu. Bayangannya hanya melukai mereka, bukan serangan yang mematikan dan beberapa makhluk yang memiliki re-generasi yang bagus mulai terlihat pulih.
Sial.
Ada beberapa pilihan yang mulai tersusun di kepalanya, Fang mengusap peluh dingin yang mengalir di pelipis nya.
Pertama, menyerahkan cokelat di sakunya. Ada sedikit kemungkinan jika itu akan membuat para monster itu berhenti mengejarnya. Tapi ada kemungkinan lain yang membuatnya urung untuk memilih si pilihan pertama : yaitu kemungkinan bahwa monster itu bisa berkali lipat lebih kuat dari sebelumnya jika mendapatkan sumber tenaga terkuat. Seperti yang terjadi Probe.
Kedua, pasrah dan lawan mereka hingga titik darah penghabisan—Baiklah, yang ini sudah pasti sia-sia. Lagipula Fang sama sekali tidak memiliki rencana untuk mati muda, ayo lah, masih ada segudang keinginan di kepalanya yang belum terlaksana.
Ketiga, mengulur waktu hingga Matahari terbit.
Bola mata hitamnya segera melirik ke arah arloji di tangan, kurang dari satu setengah jam lagi.
Dia tidak pernah melihat makhluk itu ada di pagi maupun siang hari, dan dia yakin hal itu memiliki sebuah alasan yang jelas, yang membuatnya mendapatkan sebuah kemungkinan ketiga : Bahwa monster ini akan musnah bila Matahari telah datang. Hal yang membuatnya bahkan tak pernah menyadari kehadiran makhluk itu di siang kala dia berlatih di dalam rumah ini.
Jika ada sebuah tempat yang cukup aman saat ini, maka mungkin itu adalah di lantai atas.
Setidaknya dia cukup yakin bahwa monster tangguh di lantai atas sana hanyalah si tiga yang bertubuh ekstra gempal yang telah dibunuhnya tadi.
Dan melawan mereka dari jarak jauh kalau dipikir-pikir cukup menguntungkan untuk dirinya, karena jujur saja, Fang mengaku kalau dirinya memang tidak sebaik Boboiboy atau bahkan Ying dan Yaya dalam pertarungan jarak dekat. Dia lebih suka berdiri di belakang dan memanggil beragam monster untuk mengalahkan musuh daripada harus repot-repot menghajar mereka satu-persatu dengan tangannya.
Dengan memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi jika dia berbalik dan naik melalui tangga utama ( yang pastinya akan memakan waktu lebih banyak, oh, pilihan itu juga merupakan salah satu yang paling 'cari mati' ) Dia akhirnya membuat sebuah tali yang cukup tebal dan melemparkannya ke atas, dengan sengaja membuatnya tersangkut diantara benda rongsok berat di lantai atas.
Fang lalu melakukan sedikit gerakan untuk membuat tali itu menarik tubuhnya secara otomatis ke lantai atas.
Jika saja tidak ada sesuatu yang terasa menarik kakinya.
Sialan.
Monster bertubuh tak seberapa itu menarik-narik kakinya. Tak cukup kuat memang, tapi tetap saja membuat pergerakannya semakin melambat karena beban yang harus diangkut oleh bayangan ciptaannya jadi makin besar.
"Hei—Enyahlah kau!" Fang beberapa kali menendang makhluk itu tepat di muka. Tapi reaksi makhluk itu malah hanya bergeser beberapa centimeter dari tempat awalnya. Nyaris tak berkutik, seperti menunggu temannya yang lebih kuat dan kekar untuk menggilas Fang dengan giginya. Uh… Jika saja dia tak sedang terpojok begini, Fang pasti tak segan-segan mencongkel mata kecebong bertanduk ini untuk dijadikan souvenir.
Baru saja ia ingin menghempas kecebong yang menempel di kakinya dan tiba-tiba saja si boss kecebong ini malah sudah ada di hadapannya.
"Errrggghhh!"
Satu geraman garang terdengar dengan sebuah ekor panjang menghempas tubuhnya, cukup kuat dan nyaris saja kembali membuatnya menghantam dinding jika saja tangannya tak dengan sigap mencakari lantai. Membuat gesekan keras antara kukunya dengan licin nya keramik terdengar cukup kuat. Dan Fang bisa merasakan kalau salah satu kukunya berdarah karenanya.
Bagus, mereka kembali mengerubungi nya seperti semut bertemu gula.
Sesuatu kembali terasa mencengkeram lehernya kuat, begitu kuat hingga udara terasa sempit di paru-paru nya yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.
Tamat sudah riwayatnya malam ini…
Fang lalu menutup matanya, bersiap untuk menerima hal yang terburuk.
"Serah … Kan … Koko," Makhluk itu berkata terputus, begitu serak dan lebih terdengar seperti auman gagal. Tangan-tangan kasar itu mencengkeram lehernya lebih kuat, mengangkat tubuhnya ke udara dan kembali mengaum, si Cocodino bertubuh paling besar itu mengayunkan nya ke kiri dan ke kanan dengan cepat dan sepertinya berhasil mengocok keseluruhan isi perut Fang, sukses membuatnya merasa mual sebab sepertinya asam lambungnya bergerak naik di kerongkongan.
Beberapa saat lagi dan sepertinya pandangannya akan menggelap, gelap dan gelap hingga hanya hitam yang terasa menghiasi sekelilingnya.
Makhluk itu lagi-lagi menggeram penuh emosi.
"SERAHKAN—!"
…
( Bagian 3 : Pesta Mimpi Buruk— selesai. )
…
A/N :
Ahahahaha~ Akhirnya saya bisa apdet cerita ini lagi~ yaayyy!
Sungguh! Maafmaafmaafmaaf banget kalau ini masih sangat pendek dan mungkin ada yang lupa sama jalan ceritanya saking lamanya enggak apdet? #horrorsendiri Sungguh, ini semua karena ada beberapa hal yang perlu saya edit. Dandandan sungguh saya janji kalau chapter depan akan lebih panjang!
Psssttt— dan chapter depan juga adalah yang terakhir sih~ Ahahahaha~
Omong-omong, terimakasih untuk yang sudah membaca hingga sejauh ini~ Nantikan project fiksi saya yang lainnya yah~ #promo #kedips penuh arti #WOI!
(pssttt— dan omong-omong lagi, kenapa kayak nya orang-orang di fandom ini sudah pada saling kenal sih? #celingak-celinguk #duhRiimerasasendiri #MAMASAYABUKANJOMBLOMA— Hshshshs, adakah yang mau jadi teman saya? #danlaluhening)
Er… Baiklah, maaf untuk paragraf yang di atas tadi jika sedikit menyinggung ataupun terkesan banyak omong, salam tomat untuk kalian semua ya~ Semoga hari kalian menyenangkan~!
AzuraRii~
