Oy… Oy… Ohisashiburidesu ne… Ogenki desu ka?

Lama tak bertemu… ternyata pembuatan chappie ke-3 ini cukup makan waktu juga =.=;

Nggak usah pake banyak cincong lagi… langsung baca ajah ya…

Selamat menikmati chappie ke-3 ini^^ *sambil buka tudung saji*

disclaimer # Gosho Aoyama-sensei^^

genre # Mystery, Friendship and Supernatural

Ginko no Rhapsody

Rhapsody 3: Illusion

Jika banyak orang berkata padaku bahwa aku adalah orang yang sulit di mengerti, itu benar. Karena, aku sendiri tidak pernah benar-benar memahami diriku sendiri. Bukannya aku tidak menghargai diriku, hanya saja, jalan pikiran dan kata hatiku seringkali tak sejalan. Sehingga membuatku seringkali bertindak hanya dengan menuruti naluriku saja. Pada akhirnya, semua itu hanya membawa kesialan untukku. Ya… sama seperti sekarang…

Aku merasa diriku benar-benar aneh. Apakah sebegitu penasarannya diriku dengan Sonoko? Sehingga aku jauh-jauh datang ke pedesaan seperti ini? Di tengah cuaca dingin, yang… asal kalian tahu saja, ini benar-benar dingin. Aku berkali-kali berusaha untuk tidak peduli dan mengacuhkan kertas alamat keluarga Suzuki pemberian Kisaki-sensei. Tapi, sekali lagi. Naluriku berkata lain. Tidak, tidak hanya naluriku saja. Ada yang lain… ada yang lain lagi, seolah-olah seperti ada yang memanggilku…

"Maaf pak, apakah anda tahu alamat ini?"

"Hmm… dari stasiun ini kau jalan kaki saja, lurus lalu belok kanan di persimpangan, kurang lebih 30 menit kau akan sampai." ucap si bapak penjaga stasiun sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah depan lalu berbelok ke kanan.

"Oh, baiklah, terima—HATCHU!"

"Kau tidak apa-apa nak?"

"Iya. Terimakasih pak."

Aku kembali berjalan sambil mengusap-ngusap hidungku yang terasa gatal dan dingin. Apakah aku tertular flunya Kisaki-sensei?

Tak lama setelah itu, aku sampai di persimpangan. Kutengokkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Belok kanan?

Baiklah…

Kunaikkan posisi kacamataku yang lagi-lagi turun. Kemudian kupandang langit yang mulai mengeluarkan serpihan putih salju yang dingin.

Oke Makoto, kaulah yang memutuskan untuk datang kemari. Jika kau mundur sekarang, maka kau adalah seorang pecundang! Pecundang? Oh, tak ada hubungannya ya? Baiklah. Kalau kau mundur sekarang maka kau tidak akan bisa memastikan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan tentang siapa sebenarnya Sonoko, kenyataan tentang gadis mirip Sonoko yang menghilang itu dan tentang kenyataan-kenyataan lain yang sudah menungguku.

Bicara tentang Sonoko, sepertinya ia masih tidak berniat mengatakan atau menjelaskan apapun padaku. Di hari kelima ini, ia semakin serius berlatih. Kesalahannya yang kemarin pun, bisa sedikit ia kurangi.

Ingin sekali aku bertanya langsung padanya. Tapi aku tidak bisa. Setiap aku akan bertanya, ia selalu saja bisa mengalihkan perhatianku dari fokus tujuan awalku. Lagipula, lagi-lagi tadi aku melihat ilusi itu. Ilusi tentang siluet mirip Sonoko yang sedang bermain piano di antara daun-daun ginko yang berterbangan. Aku tidak tahu apakah ilusi itu nyata atau tidak. Tapi aku tahu pasti ilusi itu ada hubungannya dengan semua keganjilan ini. Semoga saja aku bisa menemukan jawabannya…

Karena waktuku dengan Sonoko hanya tinggal 2 hari lagi. Maka, kuputuskan untuk langsung ke tempat ini setelah mengajar Sonoko.

Ya… ke rumah keluiarga Suzuki yang ada di hadapanku ini.

###

Seorang wanita dengan rambut kuncir kuda, keluar menyambutku saat aku memencet bel rumah. Matanya tajam dan tegas. Ia memandangku dengan tatapan yang jelas-jelas mengatakan, "Siapa kau?". Aku maklum, karena aku juga tidak mengenalnya. Hanya satu yang sedari tadi kuucap berulang kali di dalam hatiku, semoga saja aku tidak salah tempat.

"Apakah benar ini rumah keluarga Suzuki?"

Ia terdiam menatapku. Cukup lama. Mungkin ia sedang menerapkan siasat 'hati-hati dengan orang yang belum dikenal'.

"Iya… Kau siapa?"

Nah! Benar kan dugaanku?

"Nama saya Kyogoku Makoto. Saya seorang pelajar dari Tokyo. Bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?"

Ia kembali terdiam. Kini, alisnya mengernyit sempurna. Mungkin jika aku seorang esper dan aku bisa membaca pikirannya. Aku yakin, kata-kata yang ada di dalam pikirannya sekarang mungkin seperti ini, "Pelajar mencurigakan dari Tokyo? Salesman sekarang benar-benar pintar mencari alasan ya? Mungkin besok ada salesman yang berkata bahwa dirinya adalah seorang peneliti dari NASA."

"Ya…" jawabnya dengan nada skeptis.

Aku merogoh saku celana sekolah sebelah kiriku dan kemudian mengeluarkan selembar foto. Foto berwarna hitam putih berisi sejumlah murid Teitan yang kutemukan saat aku bersih-bersih bersama Kisaki-sensei kemarin. Aku serahkan foto itu pada si wanita kuncir kuda. Tapi, lagi-lagi ia mengernyitkan alisnya.

"Apakah di keluarga Suzuki ini ada seseorang yang bernama Suzuki Sonoko? Orangnya yang ini," kataku sambil menunjuk orang yang mirip dengan Sonoko di dalam foto hitam putih yang sedang dipegangnya dengan jari telunjukku.

"Aku—"

"Ada siapa Rena?"

Tiba-tiba saja, dari dalam rumah keluar seorang wanita. Wanita itu terlihat lebih tua dari si wanita kuncir kuda. Warna rambutnya sudah mulai memutih dengan kerutan di pinggir-pinggir lukisan wajahnya. Mungkin ibunya? Ia mengenakan furisode dengan warna musim gugur.

"Tidak Ibu, ini… ada pelajar dari Tokyo yang sedang mencari orang dan sepertinya… ia salah tempat…" ucap si wanita kuncir kuda sambil melirikku.

"Tidak, maaf Nyonya, aku yakin tidak salah alamat. Mungkin anda lebih tahu?" ucapku pada si wanita furisode sambil mengambil foto yang sedang dipegang si wanita kuncir kuda. Ia lalu menatapku tajam.

"Apa yang kau lakukan? Tidak! Disini tidak ada yang namanya Suzuki Sonoko!"

"Tapi papan nama rumah ini jelas-jelas tertulis 'Suzuki', berarti disini rumah keluarga Suzuki kan?"

"Ya, ini memang rumah keluarga Suzuki, tapi tidak ada yang bernama—"

"Suzuki Sonoko…?"

Kami berdua berhenti berdebat saat si wanita furisode mengucapkan nama Sonoko. Aku terkejut begitupun dengan si wanita kuncir kuda. Sepertinya ia tidak terima ibunya mengenal orang asing.

Si wanita furisode pun mendekatiku, "Kau… mencari orang yang bernama Suzuki Sonoko?"

Aku mengangguk. Si wanita kuncir kuda hanya mendengus kesal.

"Ini fotonya," kataku sambil menyerahkan satu-satunya foto berwarna hitam putih yang bisa menjadi petunjuk itu. Ayolah Nyonya… jangan buat kedatanganku ke tempat ini menjadi sia-sia… batinku berharap.

Si wanita furisode itu terdiam cukup lama. Aku tegang, lalu menaikkan posisi kacamataku yang… entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini. Ia masih terdiam berpikir, tapi aku maklum. Tidak apa-apa… mungkin akibat masa penuaan yang mulai menggerogoti tubuh dan kemampuan otaknya untuk bekerja, pikirku.

"Nak… Bagaimana kau bisa tahu tentang adik ibuku yang menghilang 93 tahun lalu?"

###

Aku benar-benar terkejut.

Jantungku terus-menerus berdentam-dentam tiada henti. Aku tidak salah dengar kan?

Si wanita furisode kemudian mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya. Ternyata, ia adalah Mizunashi Kayoko, anak ketiga dari Suzuki Ayako -kakaknya Sonoko-. Sedangkan si wanita kuncir kuda yang sepertinya… tidak menyukai orang asing, salesman maupun diriku itu adalah anaknya yang bernama Mizunashi Rena.

Sambil berbincang-bincang, ia mengajakku pergi ke kamar Suzuki Ayako.

"Lebih baik kau sendiri yang bicara pada Ibu."

Begitulah katanya. Aku pun mengikuti langkah demi langkahnya yang seirama dengan degup jantungku. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku. Apakah aku sudah siap untuk menghadapi kenyataan ini?

Kami berdua berhenti di depan sebuah kamar yang terletak di paling ujung lorong. Kamar itu begitu sunyi. Seperti tidak ada orang di dalamnya. Hanya suara desau angin yang dapat terdengar olehku.

"Ibuku sudah berumur lebih dari 100 tahun, hebat kan? Eh, bukan itu maksudku. Jangan bicara terlalu banyak padanya. Haha." ucap bibi Kayoko hampir berbisik sambil menggeser shoji. Sepertinya ia tahu aku tegang dan ia berusaha menghilangkan keteganganku dengan leluconnya yang 'tidak lucu' itu. Tapi sayang sekali… itu tidak membuat jantungku berhenti berdetak lebih normal.

Shoji semakin terbuka lebar. Aku mengikuti langkah bibi Kayoko masuk ke dalam.

Kamar ini… benar-benar sunyi bagiku, seperti menggambarkan kesepian yang dirasakan oleh si penghuni kamar. Seorang wanita tua -yang benar-benar tua- tidur terbaring di atas sebuah kasur putih di hadapanku. Matanya hanya membuka sebagian karena tertutup oleh kulit di sekitar wajahnya yang mulai mengkerut dan melemah. Suara napasnya begitu pelan. Bahkan hampir tidak terdengar sama sekali. Diakah Suzuki Ayako?

Setelah berbisik pada nenek tua itu, bibi Kayoko tersenyum padaku dan pergi keluar. Ia meninggalkanku berdua saja dengan nenek tua yang aku ragu… bernama Ayako itu. Aku semakin gugup karena di antara kami tidak ada yang berbicara. Waktu benar-benar mengerikan, batinku sambil memandangi nenek Ayako.

"Apakah… benar nenek kakak dari Suzuki Sonoko?"

"Ya… sudah lama sekali sejak terakhir kali ada orang yang bertanya tentang adikku itu. Adikku… yang menghilang." jawabnya dengan suara parau khas nenek-nenek yang hanya tinggal menunggu waktu sampai ajal menjemputnya. Aku menelan ludahku.

"Ceritakanlah padaku nak… darimana kau tahu tentang adikku?"

Aku terdiam sejenak. Berusaha mengontrol aktivitas jantungku yang terlalu berlebihan bekerja. Kutarik napas kuat-kuat dan kemudian kuhembuskan dengan perlahan…

"Nama saya adalah Kyogoku Makoto. Saya pelajar dari Tokyo, tepatnya saya adalah seorang siswa SMA Teitan."

Nenek Ayako menggerakkan kepalanya perlahan agar ia bisa melihat ke arahku. Aku bingung, tenggorokanku seperti tercekat.

"Ya… Sonoko… dulu juga pernah bersekolah di tempat itu…"

"Sebenarnya saya baru beberapa hari bersekolah di Teitan dan… terserah anda mau percaya atau tidak… saya… sudah beberapa hari ini bertemu dan berbicara dengan orang yang mengatakan dirinya bernama Suzuki Sonoko. Ia… memintaku untuk mengajarinya memainkan Requiem dengan biola selama seminggu sejak 5 hari yang lalu."

Nenek Ayako tergelak. Sepertinya… matanya membelalak kaget walau tak terlihat. Aku kembali menaikkan posisi kacamataku.

"Benarkah itu nak…?"

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil yang sudah keriput milik nenek Ayako. Ia terdiam. Matanya menatap ke langit-langit kamar, tapi terasa menerawang ke tempat yang begitu jauh.

"Dulu… Sonoko pernah berjanji padaku. Di hari ulang tahunku… ia akan memainkan Requiem dengan biola… karena kubilang aku suka mendengar permainan suara biola…"

Jadi begitu?

Itukah alasan Sonoko memintaku mengajarinya untuk bermain biola?

Karena janjinya pada kakaknya?

Aku menelan ludahku, "Ya… karena saya tidak mengenalnya, maka saya bersikap biasa saja. Tapi setelah itu, seorang guru saya memperlihatkan sebuah foto lama. Di dalam foto berwarna hitam putih itu ada seseorang yang sangat mirip dengan Sonoko yang kutemui beberapa hari itu. Ia pun menceritakan tentang kisah Suzuki Sonoko yang tiba-tiba menghilang 93 tahun yang lalu, tepatnya pada suatu malam di tahun 1917. Maka dari itu, saya datang bertemu dengan anda untuk memastikan apa yang terjadi dengan Sonoko sebenarnya…"

Air mata mengalir perlahan dari kedua bola mata nenek Ayako yang sepertinya sudah tidak berfungsi dengan baik itu. "Sepertinya… orang yang kau temui itu benar-benar Sonoko… entah mengapa… tapi aku yakin itu… Sonoko…"

Aku terkesiap, "Kalau benar begitu, aku merasa… ia… seperti memanggilku untuk menolongnya… Aku sering melihat ilusi aneh."

"Ya… Sonoko menghilang 93 tahun yang lalu… tepatnya… besok lusa…"

Eh? Besok lusa berarti… hari terakhirku mengajar Sonoko…?

"Aku… mustahil…" gumamku tidak percaya. Rasanya… seperti cerita di film-film horror jaman dulu…

"Percayalah nak… segala hal yang terjadi di dalam hidup ini pasti memiliki arti. Mungkin… kaulah orang yang ditakdirkan untuk menemukan Sonoko… bagiku tak apa walau hanya tinggal jasadnya saja…"

"Mengapa… nenek percaya padaku? Mungkin saja… saya hanya berbohong kan?"

Ayako menggeleng pelan, "Selama apapun… kehilangan orang yang penting tidak akan pernah terlupakan… dan sampai sekarang aku masih ingat persis seperti apa Sonoko itu…"

Aku menundukkan wajahku dan kami pun kembali terdiam. Hanya suara angin yang masih bisa kudengar. Tapi tiba-tiba saja aku seperti merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh pipiku. Aku kembali menengadahkan wajahku ke atas dan melihat… begitu banyak daun ginko berguguran di sekitarku…

Aku terpana… ilusi itu muncul lagi…

Tapi kali ini berbeda…

Siluet Sonoko itu tidak sedang memainkan piano. Tapi, ia sedang berdiri dengan anggunnya di samping tempat tidur nenek Ayako, sambil memegang sebuah kotak musik -yang sama dengan yang ditunjukkan Sonoko waktu itu- dengan kedua tangannya. Mulutnya bergerak-gerak kecil seperti menggumamkan sesuatu. Dan ia… memandangku dengan wajah yang seperti ingin menangis…

'Sepi… Gelap… Aku takut… Kakak.'

Suara yang pilu itu berbisik…

Menggumamkan kata-kata yang sama… Menggema di dalam kepalaku…

Meminta pertolongan…

###

Setelah mendengar cerita dari nenek Ayako dan bibi Kayoko bukan berarti aku sudah tahu semua kenyataan tentang Sonoko dan masalah terselesaikan. Akal sehatku masih tidak bisa menerimanya. Walaupun aku tahu nenek Ayako dan bibi Kayoko tidak mungkin berbohong. Dan aku juga tidak bisa mengakui bahwa semua yang kujalani di ruang musik lama selama lima hari itu hanyalah mimpi atau khayalanku belaka. Semua itu terasa begitu nyata. Senyumannya, pandangan matanya, tawanya, permainan biolanya dan yang lainnya. Bahkan metafisika pun tidak akan bisa menjelaskannya.

Karena hari sudah begitu malam, bibi Kayoko menyuruhku untuk menginap sehari di rumahnya, baru besok pagi aku boleh kembali ke Tokyo. Maka dari itu, sepertinya besok aku tidak akan bisa pergi ke sekolah dan tidak akan bisa mengajarkan Sonoko bermain biola lagi. Mungkin Sonoko akan bingung karena aku tidak ada di ruang musik saat pulang sekolah. Aku ingin sekali melihat reaksinya. Sonoko dengan wajah masamnya berdiri di depan jendela, sambil sesekali ia menengokkan kepalanya melihat ke dalam ruang musik dengan mata jenakanya. Kemudian, ia merutuki diriku yang tidak datang mengajarnya. Apakah benar seperti itu, Sonoko?

Malamnya, aku sama sekali tidak bisa tidur. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu itu seolah-olah menyuruhku untuk tidak berhenti sampai disini. Mengetahui saja sepertinya belum cukup. Semua masih belum pasti dan akulah yang harus memastikannya.

Ibarat sebuah puzzle, aku telah mengumpulkan semua kepingan-kepingannya. Aku hanya tinggal menyusunnya dan… voila! Aku mendapatkan gambar yang kuinginkan. Jawaban yang kuinginkan. Mengetahui mana sosok Sonoko yang sebenarnya. Ya… aku hanya tinggal menyusunnya saja.

Tapi… disitulah justru letak masalahnya! Darimana aku harus memulainya?

Sementara… batas waktunya hanya tinggal dua hari lagi.

Aku harus segera berpikir dengan cepat.

###

*tsuzuku*

Huhuhu…. T.T syukurlah kita masih bertemu lagi dan chappie ketiga ini bisa selesai. Saya sempat negative thinking kalau cerita ini tidak akan berlanjut, karena… ini adalah cerita yang sudah lama sekali. Entah kapan pertama kali saya mendapatkan ide untuk membuat cerita ini. Hahaha ==;

Bagaimana cerita chappie ketiga kali ini? Aneh? Gaje? Membosankan? Oh ya, disini saya menggunakan original chara untuk 'Mizunashi Kayoko', habis… nggak tahu mau pakai siapa lagi T.T imagenya nggak ada yang pas. Hahaha… masih bisa diterima kan?

Inilah jawaban review chappie kedua:

Rei Sakaki. Wah… maaf. Saya tak sadar… Hehe^^ Gomen ne (-/\-). Oh… terimakasih atas sarannya, akan saya perhatikan itu. Maklum, kan masih dalam tahap belajar^^. Arigatou…

AriciaBetelguese. Hontou ni? Tidak… ini belum berakhir… rencananya sih… masih ada satu chappie lagi. Arigatou^^ Keep reading yaa!

Naomi Kudo. Arigatou atas pujiannya^^. Maaf… untuk update kelamaan itu karena saya nggak puny aide buat ngelanjutin ceritanya. Hehehe.

Azalea Yukiko. Kyaaa! Dipuji Yuki lagiiii^^ Hontou ni? Arigatou Gozaimasu! Keep reading yaaa!

Arigatou gozaimasu bagi yang sudah membaca dan mereview cerita ini (-/\-). Semoga chappie ketiga ini yang review banyak… kan sebagai sumber latihan saya juga^^

Kalau begitu, ditunggu reviewnya lagi ya. Kesan-kesan, komentar kalian, pujian –hahahha XP *ngarep*- bahkan kritikan kalian (tapi bukan flame! saya ingatkan sekali lagi bukan flame! tapi kritik yang membangun!).

Jaa mata ne (/O_o)

Douzo… tekan tulisan 'review' di bawah ini… (-/\-)