A Wolf and A Lamb

.

.

Disclaimer : All rights goes to Yamaha© and other company that made Vocaloid.

.

.

Summary : Shion Kaito merupakan seorang murid yang baru saja pindah ke salah satu sekolah di Tokyo. Walaupun baru 1 hari dia bersekolah di sekolah tersebut, tanpa sengaja, dia membuat seorang senior marah kepada nya dan menantang nya dalam sebuah permainan aneh yang dapat membuat jantung sang Shion menggila.

.

.

Warnings : Bisa ada typo, alur terlalu cepat, shounen-ai; bahkan bisa yaoi di kemudian hari, dan kurang menarik.

.

.


TEEEET TEEEET

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Gila, otak ku nyaris error karena pelajaran Matematika barusan. Dan lagi, minggu depan ulangan. Nooo !

Yuuma tadi tidak sempat masuk karena terkena demam sejak kemarin. Waduh, semoga cepat sembuh. Kalau misalnya bocah itu tidak masuk besok, akan kucoba untuk menjenguknya.

. . . .

Setalah mengambil makanan, akupun duduk di salah satu kursi yang tersedia.

"Itadakimasu!"

Lalu, tidak lama kemudian, anak honey-blonde yang beberapa minggu yang lalu di bully itu menghampiri ku. Dapat terlihat kalau dia agak malu saat ingin berbicara denganku. Tenanglah, aku ini bukan Godzilla 'kok.

Akhirnya, dia mulai berbicara, "...ano, Anda Kaito Shion? Shion-senpai dari kelas XI-C? Te-terima kasih karena telah menolong ku waktu itu. Aku minta maaf karena telah melibatkan Shion-senpai. Dan baru sekarang aku membalas budi senpai. Gomenasai!"

Tiba-tiba saja, dia membungkuk dihadapan ku ! Dan lagi, banyak yang melihat !

"Awawawa! He-hentikan! Ti-tidak usah sampai berbungkuk seperti itu. Kau menarik banyak perhatian orang. Da-dan lagi, boleh kutahu nama mu?"

Sekitar 3 detik kemudian, anak itu berdiri kembali. Dengan mata yang cukup berkaca-kaca, dia lalu berbicara kembali.

"Len! Kagamine Len! Salam kenal, Shion-senpai~!"

. . . .

Akhirnya kami berdua makan bersama. Dirinya baru selesai makan Banana Split, sementara aku masih mengunyah keripik yang baru kemarin aku beli.

"Ano, senpai..."

"...hmm? Kenapa?"

"...aku benar-benar berterima kasih. Kalau Shion-senpai waktu itu tidak ada, mungkin aku sudah akan menangis."

"Ah, tidak apa-apa 'kok. Yang penting kamu tak apa."

Len-kun lalu terdiam sejenak. Lalu, dia seperti sedang meraih sesuatu didalam saku jas sekolahnya.

"Shion-senpai, maaf jika ini kurang cukup tapi kukasih senpai Pocky saja ya. Maaf..."

"Po-pocky? Aku suka Pocky! Wah, terima kasih Len-kun. Dan jangan sedih, ini sudah cukup 'kok."

"Aaah~ Aku senang kalau senpai menerimanya~!"


Setelah makan dan berpisah dari Len-kun, aku pun lalu menuju ke atap sekolah. Mencari angin sejuk setelah pelajaran yang susah dapat membuat diriku segar kembali.

KRIEEETT

"Huuuuaaahh~ Timing-nya tepat pula~ Anginnya mulai menerpa diriku~!"

Semilir angin mulai berhembus dari arah kiri ku. Aku hanya dapat menutup kedua mataku, agar dapat merasakan lembutnya dan sejuknya tiupan angin.

Namun rasa senang itu hancur seketika saat ada suara yang memanggil, "oi, sedang apa kau? Sok dramatis sekali."

Dear Lord, why is he here ?! Kenapa Gakupo-senpai ada disini ?!

"Lanjutkan saja aksi mu tadi. Paling-paling aku hanya akan tertawa." Sial ! Mengganggu orang saja ! Kenapa aku harus bertemu dengan dia 'sih ?!

. . . .

Sebenarnya tadi aku mau turun kembali, tapi Gakupo-senpai melarangku untuk turun. Katanya turunnya saat bel masuk sudah berbunyi saja.

Nyesek tahu kalau aku didekat mu senpai. Nyesek, nyesek !


KRAUUKK KRAUUKK

"Berisik. Kamu makan apaan sih To, sampai berisik begitu?"

"Idih. Yang makan siapa, kenapa kamu yang protes?"

"Bunyinya mengganggu. Makan lebih pelan."

KRAAUUUKK! KRAAUUKK!

"Oi! Kamu ingin aku lempar dari sini?!"

"Lagian kenapa aku nggak boleh turun, hah?! Jadi salah siapa coba ?! Weeekkk~"

Nge-troll seorang senpai itu, rasanya mantaps~!

. . . .

"Lagian kamu makan apaan 'sih? Dasar, makan jangan nafsu juga 'kali."

"Kenapa? Aku barusan dikasih sekotak Pocky oleh Len-kun. Tidak akan kuberikan satu batang pun kepada mu."

Lalu, entah aku salah bicara atau apa, tiba-tiba saja, senpai itu dengan segera membalikkan badannya dan berjalan kearah ku. Setelah sampai di hadapan ku, dia lalu mengambil salah satu pocky. Dan memegangnya; pocky itu seperti menunjuk kearah ku.

"Hei! Sudah kubilang, aku tidak akan memberikan pocky ini ke sen-"

"Cukup. Gigit ujungnya, sekarang."

"...? A-apa maksud sen-"

"Sudah. Gigit saja bagian cokelatnya. Nanti kau akan tahu sendiri."

Tanpa tahu apa-apa, aku langsung menggigit ujung pocky tersebut.

KRAAKK

Tapi yang kudapat setelah itu adalah sebuah pukulan diatas kepala.

"Hei, hei! Sakit tahu! Kenapa kau menjitakku? Seperti yang kau katakkan, gigit 'kan?"

"Maksudku jangan sampai patah pocky nya, BaKaito."

"Ish, karena itu, kalau bicara yang jelas. Kau sengaja ya?!" Andaikan aku punya semacam Death Note, sudah pasti akan kutulis nama senpai ini duluan!

"Sudah! Ulangi lagi! Dan kali ini, jangan sampai patah."

"Hah? Sudah kukatakan 'kan; kalau aku tidak akan mau memberikan pocky ini ke senpa-"

"...kau menyerah, hitsuji-kun? Ini termasuk di 'permainan' kita 'loh. Yah aku 'sih tidak akan memaksa tapi, kalau kau tidak mau, kuanggap kau gagal dan kau harus melaksanakan apa yang kumau."

...oh God. Can you kill him, like, right now ?! I seriously hate him !

"...baiklah. Akan kuusahakan agar tidak patah."

"Good boy. Now, shall we...?"


Ternyata mencari angin segar di atap saja dapat membawa malapetaka ! Padahal aku lagi tidak mau melihat muka abstrak senpai yang satu ini ! Uuurrgghhh, I really want to go back now !

"...siap, Shion-kun?"

"Uuurrghh, rasanya aku sakit perut."

"Alasan macam apa itu?! Tidak bermutu sekali. Lebih cepat, lebih baik. Ayo, ambil pocky-nya. Dan cepat gigit ujungnya."

Astaga, pikiran senpai ini benar-benar sangat tidak dapat diprediksi ! Buat apa aku gigit ujungnya, tapi tidak boleh kumakan ? Apa maksudnya ini ?!

. . . .

"Sudah 'nih. Terus kalau nggak boleh patah, harus kuapain sekarang pocky nya?" Mungkin, itu merupakan pertanyaan terbodoh dan hal terburuk yang pernah kulakukan. Pasalnya, ini senpai mulai menggigit ujung yang satunya ! Oh meh God, kenapa... KENAPA ?!

"...nah sekarang, gigit terus pocky-nya hingga habis. Tapi ingat, jangan sampai kau lepaskan gigitan mu dari pocky ini."

ASDFGHJKL ?! I-ini... KALAU MISALNYA HABIS..!

Aku pun lalu melepaskan gigitan ku dari pocky itu, sehingga pocky-nya sepenuhnya ada di gigitan Gakupo-senpai.

"BAKAITO! SUDAH KUBILANG JANGAN LEPAS!"

"Ta-tapi senpai, kalau pocky-nya ha-habis..."

"SUDAH KUBILANG! LEBIH CEPAT, LEBIH BAIK! GIGIT SEKARANG SEBELUM BEL MASUK BERBUNYI!"

Oh tidak, nada suaranya mulai meninggi, berarti dia benar-benar marah. Tapi, apa senpai itu sadar kalau misalnya kita saling gigit pocky itu, kemungkinan aku dan senpai itu akan...


Akhirnya daripada dimarahi lagi, aku pun kembali menggigit pocky tadi. Astaga, ini benar-benar memalukan. Kenapa juga senpai ini menyuruhku melakukan ini ?

"Siap, BaKaito?"

"I-iya..."

. . . .

Kami pun lalu saling menggigit ujung pocky tersebut. Pocky nya 'sih memang enak, tapi kalau aku memalingkan wajahku ke depan, rasa pocky tersebut menjadi sedikit hambar.

Semakin lama digigit, semakin dekat jarak mukaku dengan muka Gakupo-senpai. Kalau aku lepas, nanti dia akan marah lagi; ah bukan marah, bisa-bisa dia akan membunuhku. Tapi posisi seperti ini, sungguh, membuat jantung dapat berdetak tidak karuan ! Dan lagi, bunyi detakannya menjadi lebih keras seiiring pocky ini semakin pendek !

BADUMP BADUMP BADUMP BADUMP

Uuuuurrgghh, rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. JARAK MUKA KAMI HANYA SETENGAH JENGKAL SEKARANG !

5 cm... 4 cm...

BADUMP BADUMP BADUMP BADUMP

Akupun hanya bisa menggigit sambil memejamkan kedua mataku sekuat mungkin. Aku benar-benar tidak ingin melihat mukanya.

Keringatku mulai membasahi wajahku, kedua telapak tanganku sudah berada didepan dadaku; seperti sedang bersiap-siap ingin mendorong senpai ini. Aku ingin ini cepat berakhir !

BADUMP BADUMP BADUMP BADUMP

Oh bel sekolah, cepatlah kau berbunyi ! Aku sudah mulai tidak tahan !


...eh ? Seharusnya, pocky-nya sudah habis. Kok rasanya pocky-nya masih tersisa sekitar 3 cm ?

Aku pun lalu membuka mataku. Aku hanya memandanginya, memandang mukanya yang entah menahan rasa kesal atau malu. Lalu dia tersenyum, lalu berkata, "kau sungguh mengharapkan bahwa aku akan menggigit ini sampai habis?"

TEEEET TEEEET

Tanpa aba-aba, senpai lalu melepaskan gigitannya. Membuat nafas pelannya menjauh dari hadapan mukaku.

"Ah, sudah bel masuk. Ya sampai disini saja sekarang." Gakupo-senpai lalu berjalan kearah pintu tangga, meninggalkan aku yang masih berdiri gemetaran. Apa itu ? Kenapa jadi begini ? Tadi itu apa ? Kenapa aku harus mengigit pocky dengannya ? Pikiran ku mulai tercampur aduk. Aku tidak tahu harus berpikir apa.

KRIEEET

Senpai sudah membuka pintunya. Aku masih berdiri, belum berpaling ke arah pintu tangga. Namun, suaranya mengagetkan ku, "tadi 'permainan' yang cukup menyenangkan. Mau coba lagi lain kali?"

"..."

Sempat aku terdiam sejenak, mencoba untuk kembali ke kenyataan. Lalu aku berbalik, menghadap senpai itu, "...! tidak mau! Buat apa aku memainkan permainan aneh seperti itu lagi?! Bel masuk sudah berbunyi tadi! Sudah, masuk dulu saja sana!"

Angin lalu menerpa dari arah kanan ku. Aku sudah menampilkan ekspresi marah ku kepadanya. Baru kali ini aku sekesal ini. Baru kali ini saja.

Namun, senpai itu malah tersenyum ! Dan lagi, nyaris tertawa kecil ! AAAHHH ! Ini senpai beneran mau mati ya ?!

"...hehe. Pilihanku memang tepat. Domba kecil seperti mu memang sangat menarik. Dapat membuat para serigala semakin nafsu. Rasa adrenalin untuk mengejar domba seperti itu sungguh dapat memompa semangat mereka untuk benar-benar menangkap mangsa itu. Baiklah Shion, tunggu saja, akan aku buat kau lemah. Akan kubuat kau seperti domba lainnya, rapuh dan tidak berdaya."


Sambil berjalan ke kelas, aku masih memikirkan kata-kata Gakupo-senpai. Tapi tetap saja, aku masih tidak mengerti maksud tersembunyi dari kata-kata itu. Dan entah mengapa, saat senpai melepaskan gigitannya tadi, aku merasa...

...amat teramat sedih.


Stage 3/12 : Completed.


Balasan Review.

vermiehans : -Gakupo waktu itu nggak sengaja ngelewatin UKS, dan kebetulan melihat Kaito yang lagi terluka. Jadinya, tanpa komando, dia langsung ngacir ( ? ) nyari Kaito setelah Yukari pergi. -Yuuma ya.., bisa normal bisa tidak. Tapi mau nya enggak normal #authorsadis #plaakk. Oh dan first kiss itu nanti. Masih lama.. *shot*

Chalice07 : Yosh! Gakupo nanti akan punya saingan ( walaupun masih nanti #inispoilerloh #plaakk ). Memang sengaja saya buatnya supaya fujoshi mode nya langsung on~ #dilempar. Dan nyaris M ? Nanti akan saya usahakan.. #ingatumurhoi.

Hikari Shourai : Hikaaaaa-saaaann~~! I miss yu so mach~! #dibuang-ke-laut. Seperti biasa, saya bisa belajar banyak tentang cara menulis fic yang benar dari Anda. ^^ Dan saya cukup kaget saat Hika-san menulis kalau Hika-san bacanya saat jam pelajaran. *shot* Dan seperti nya kemuculan Yukari cukup mengganggu adegan ahay ( ? ) GakuKai, ya ? #dilindes.

CatPhones : Yo! I hope you satisfied with this chapter~!

tail-dei-dei-mon : -"Wolf and Lamb" itu memang aslinya tentang "kejar-kejaran". Entahlah apa yang muncul di pikiran author fujoshi binti gaje ini. Jadinya ceritanya menjadi seperti yang telah Anda baca. -Saya suka GakuKai, yaoi nya gereget~! #plaakk-plookk.

NaHaZa : Saya juga punya 3 kata buat Anda : Anda luar biasa~! *shot* Kalau tentang author yang bagus, seperti nya asalkan kita memang niat dan berani menyalurkan cerita kita sendiri, hasil nya akan bagus. ^^


See you all in the next chapter~!