Hanya dengan tiga ketukan dariku dan semua keinginanmu akan...terkabul!

Bingo!


TRIPLE KNOCK

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story: Lotuce

Inspired: "Triple Knock" comic

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, Friendship, Family, Hurt/Comfort

Rate: T


"Ayah. Boleh aku memanggil Anda dengan 'ayah'?"

Gadis dengan pupil lavender itu membuat Minato tidak fokus. Ditambah pertanyaan berupa permohonan yang gadis itu utarakan. Ini begitu tiba-tiba bagi Minato yang bungkam sedaritadi.

"Ah, maaf. Tak sepantasnya saya bertanya seperti itu." Gadis cantik itu menundukkan kepala di salah-satu sofa, raut wajahnya yang penuh harap berubah lesu.

Minato yang masih hilang fokus tak menyadari kedatangan sang istri dengan nampan berisi sandwich yang baru sang istri buat beserta tiga gelas teh hangat.

"Eh, sayang, kau kenapa?" Kushina menaruh nampan di tengah meja dan segera menatap gadis itu khawatir. Sebelum ia pergi ke dapur yang tak jauh dari ruang keluarga, gadis itu masih baik-baik saja. Kushina melirik tajam Minato, yakin suaminya yang membuat gadis itu terpuruk dan tak menjawab pertanyaannya. "MINATO! Beraninya kau buat malaikat kecilku sedih begini!" Kushina melabrak Minato yang baru tersadar sesudah Kushina menggoyang kasar tubuhnya.

"Eh? Eh? Ada apa, honey?" Tersadar dari ke-blank-annya, Minato berusaha menghentikan kekasaran sang istri.

"Maaf, tak seharusnya saya berada disini." Sang gadis membuat Kushina menghentikan aksinya. Gadis itu berkaca-kaca, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang akan menetes.

"Oh, sayang, jangan begitu." Kushina menghampiri gadis berkulit seputih susu itu, mengusap lembut surai indigo sang gadis, mencoba menenangkan. "Lihat, Minato! Gara-gara kau anak kita jadi sedih. Kau apakan barusan?" Kushina membentak Minato dengan nada cukup pelan, tak ingin gadis itu merasa takut mendengar suaranya yang membahana.

"Aku melakukan apa?" Minato yang duduk berhadapan dengan sang gadis di sofa single masih tak mengerti dengan situasi yang ada. "Anak kita?"

"Hiks~" Isakan pelan terdengar dari bibir tipis sang gadis.

"Astaga, Minato! Kau benar-benar keterlaluan!" Kushina mengusap rambut sang gadis yang tengah terisak.

"Tunggu, honey~ aku masih tidak mengerti." Minato menatap heran pada dua perempuan di hadapannya. Yang muda menangis sedangkan yang lebih tua menatapnya garang.

"Sebaiknya sa-saya kembali hiks ke Mi-Milan, bu..."

"Hah?" Kushina terkejut akan perkataan gadis itu. "Sayang, kami tidak akan membiarkanmu disana sendirian, mengerti, 'kan?" Ia mencoba meyakinkan sang gadis agar tak kembali ke kota asalnya yang memang sangat jauh. "Ya, 'kan, Minato?"

"Eh?" Minato masih tak paham.

Kushina mendelik tajam pada sang suami. "Minato?!"

"Ten-tentu, honey." Ucap Minato yang masih belum paham akan situasinya.

"Sayang, kau dengarkan apa kata ayahmu barusan?" Kushina mengusap hati-hati jejak air mata di pipi sang gadis sambil tersenyum cerah.

"Ja-jadi aku boleh tinggal disini, bu?" Tanya sang gadis dan dijawab anggukan oleh Kushina. "Dan boleh memanggil 'ayah'?" Tanya sang gadis lagi sambil melihat kearah Minato.

"A-Ayah?" Minato heran. Kushina yang menatapnya tajam membuatnya takut. "Ah, tentu. Panggil aku 'ayah'. Ya, 'ayah' hahaha..." Minato tertawa garing.

"Te-terimakasih," gadis itu mengarahkan pandangannya pada Minato, "ayah."

"Yoohoo~" Kushina berteriak senang berhasil membuat gadis berparas dewi itu 'sah' menjadi bagian dari keluarga kecilnya. "Nah, sekarang makanlah!" Kushina duduk di sebelah kanan sang gadis.

"Ehm, honey~" Minato menatap lembut sang istri, "tapi bolehkan aku tahu kenapa gadis ini kita a-adopsi?"

"Kau ini!" Kushina menegur Minato yang tak tahu situasi. Kushina takut gadis yang sudah 'resmi' menjadi anaknya itu kembali bersedih.

"Tak apa, bu." Jawab sang gadis, tahu apa yang Kushina khawatirkan.

"Baiklah, akan kujelaskan." Kushina menarik nafas. "Kau tahu, 'kan, aku punya banyak kenalan di Milan?" Minato yang merasa ditanya hanya menjawab dengan anggukan. " Nah, salah-satunya adalah keluarga anak kita ini, namanya Lewis Marina, ia lebih tua dariku 10 tahun. Tapi saat aku bertemu dengannya, dia sudah sekarat dan..meninggal." Kushina menghentikan ceritanya dan melirik kearah sang gadis.

"Maaf, aku turut berduka." Minato menatap sendu sang gadis.

"Tak apa, ayah."

Kushina kemudian melanjutkan. "Sebelum beliau pergi untuk selamanya, ia menitipkan anak perempuannya padaku. Beliau dulunya seorang yatim dan tak punya sanak keluarga."

"Oh, jadi begitu." Minato yang mulai paham mengangguk-angguk tanda mengerti. "Lalu ayahnya apa sudah 'pergi' juga?" Tanya Minato yang ditujukan pada Kushina.

"Beliau tidak pernah menikah."

"Eh?!" Minato heran.

Kushina melirik lagi sang gadis yang hanya tersenyum padanya. Kushina pun kembali melanjutkan. "Beliau mengadopsinya, Minato." Minato yang mendengarnya terkejut bukan main namun Minato masih diam belum ingin menanggapi. "Pokoknya begitu. Aku mana tega membiarkan anak kita yang cantik ini tinggal sendirian disana. Yah walaupun temanku itu punya bisnis dan rumah sendiri tapi tetap saja aku tak tega. Makanya aku mengajaknya kemari. Setidaknya aku mengabulkan permintaan terakhir beliau."

"Ah, jadi begitu. Baiklah kalau begitu kau akan menjadi bagian dari keluarga kami, nak."

"Benarkah?"

"Ya, tentu." Jawab Minato tegas dan penuh wibawa. Ia juga senang mempunyai anggota baru dalam keluarga kecilnya, walau seorang anak adopsi yang diadopsi.

"Sayang~" Kushina memeluk sang putri, "kau dengarkan apa yang ayahmu bilang? Sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluarga Namikaze. Kau senang, bukan?"

"Senang sekali, bu." Gadis itu membalas pelukan sang ibu, ya, wanita yang kini menjadi ibu barunya.

"Oh, dan siapa namamu, nak?" Tanya Minato penuh antusias.

"Namaku Lewis Hi –"

BRAKKKK

Belum sempat gadis itu menyebutkan nama lengkapnya, suara gaduh pintu kaca yang digeser keras membuat kaget mereka bertiga. Seorang remaja pria muncul tanpa salam terlebih dahulu melewati orangtuanya yang duduk di ruang keluarga.

"Dasar anak badung!" Kushina naik pitam, kaget bercampur kesal. "Bukannya memeluk ibunya yang baru bepergian, kau malah mau langsung masuk kamar, Naruto!"

"Hai, bu!" Sahut pemuda pirang tanpa membalikkan badan sekedar menyapa sopan sang ibu. "Welcome!" sekejap mata, pemuda pirang itu menaiki anak tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.

"NARUTOOOO!"

Lengkingan keras membuat Minato harus menutup telinganya sedangkan gadis yang masih duduk itu hanya terdiam memperhatikan.

"Sudahlah, honey. Mungkin dia lelah dengan kuliahnya." Minato menghampiri Kushina yang berdiri di dekat tangga keramik.

"Huh! Setidaknya anak itu harus memelukku dulu!"

"Hhahaha~ kau terlalu berharap, honey..." Minato menggelengkan kepala. Ia sudah tahu sifat anak prianya yang tsundere dan tak pernah membalas pelukan ibunya. Jika terpaksa barulah anak muda itu membalas memeluk sang ibu yang sudah melahirkannya ke dunia.

Kushina yang menyadari bahwa gadis yang ia adopsi itu kebingungan dan hanya diam di tempat membuat Kushina tersenyum kembali. "Maaf, sayang, ibu marah tadi karena anak badung itu tak bisa diatur." Kushina kembali duduk di sebelah sang gadis, disusul Minato yang duduk di tempat semula.

"Jadi dia kakakku, bu?"

"Hmm begitulah, sayang. Semoga kau bisa sabar menghadapi kakakmu yang tak punya etika itu," pinta Kushina penuh harap.

"Ibu tenang saja, aku pasti akan menjadi adik yang baik." Kata gadis itu membuat hati Kushina merekah, betapa senangnya mempunyai seorang putri yang baik hati.

"Kau sangat baik ternyata." Minato tersenyum, nampaknya ia tak salah mengadopsi anak perempuan seperti gadis itu.

"Terimakasih, ayah." Sang gadis membalas senyuman ayahnya. "Tapi aku sedikit cemburu."

"Kenapa begitu, sayang?" Kushina menatap lembut sang gadis disampingnya.

"Kakak sangat mirip dengan ayah. Rambutnya juga."

"Ahahahahaha kau ini~" Minato tertawa malu-malu.

"Yah, mereka memang mirip," Kushina melirik Minato, "kelakuannya pun tak jauh beda. Susah diatur."

"Honey~" Minato tak terima.

"Hahaha~" Gadis itu tertawa pelan melihat interaksi pasangan suami-istri di hadapannya.

"Eh?" Minato yang bingung pun malah tersenyum dan merona melihat gadis cantik itu tertawa. Begitu mempesona.

"Akhirnya kau tertawa juga, sayang." Kushina begitu senang melihat gadis yang tadinya sedih itu kembali tersenyum cerah. "Kembalilah ke kamar dan tidurlah. Besok akan menjadi hari yang melelahkan, lho~"

"Melelahkan?" Minato bertanya tak mengerti.

"Aku akan mengajaknya jalan-jalan dan mengurus keperluan sekolahnya. Ada masalah?"

"O-Oh tdak kok." Jawab Minato takut. "Ah, siapa namamu?"

"Lewis Hinata, ayah."

"Nama yang indah."

"Tunggu, sayang. Namamu bukan lagi Lewis Hinata. Tapi Namikaze Hinata!" Kushina nampak antusias sedang gadis itu tersenyum malu-malu pertanda setuju dengan nama barunya.

"Kalau begitu aku akan ke kamar. Selamat malam, ayah, ibu." Gadis bermata lavender itu bangkit berdiri dan berlalu setelah orangtua angkatnya membalas salamnya.

"Hoamm~~" Kushina yang juga sudah mengantuk mengambil langkah memasuki kamarnya di sebelah ruang keluarga.

"Lho, kau mau kemana, honey?"

"Mau ke kamarlah, aku mau tidur." Jawab Kushina tanpa minat.

"Lalu siapa yang akan membuat makan malam? Honey, aku belum makan malam tadi~"

"Kau buat sendiri saja, Minato! Aku capek!" Kushina pun segera pergi tanpa mempedulikan sang suami yang menjerit akan ketidakpedulian istrinya.

.

Hinata, gadis bermata lavender itu membuka pintu kaca kamar barunya. Tapi sebelum ia benar-benar masuk, gadis itu memandang ruang kaca sebelahnya, kamar kakaknya.

"Hmm... Namikaze Naruto, ya?"

Lalu iapun segera memasuki kamarnya dan menutupnya pelan.

OOOO

Aromamu.

Siluetmu.

Aku merasakannya.

Kau belum tahu bahwa semua ini akan dimulai.

Kau memang tak perlu tahu dan tak usah mengetahuinya.

Tunggulah sampai kita mendekati pemisah kehancuran dalam kehidupan.

Kau tak akan terbebas dengan sendirinya kecuali kau menyadarinya.

Hei, kau, kemarilah!

Teruslah memohon dalam kesiaan.

Begitu, semuanya akan cepat berakhir.

Kau akan terbebas dalam jurang kesesakkan.

Namun tenggelam dalam lautan yang fana.

OOOO

Namikaze.

Perempuan mana yang tidak terpikat oleh sang pewaris marga itu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua keturunan Namikaze adalah pria. Sebagian mengatakan bahwa itu kutukan, sebagian lagi beranggapan bahwa ada gen langka yang keturunan Namikaze idap.

Namun yang menarik perhatian rakyat Jepang adalah kenyataan bahwa keturunan Namikaze berparas rupawan dan diwarisi harta berlimpah. Tak perlu berpikir lama, para orangtua yang memiliki anak perempuan akan berusaha keras menjodohkannya dengan pemilik marga itu.

.

"Aku pergi dulu." Pemuda jabrik berlalu pergi tanpa menunggu balasan dari ibunya yang menunggu di bawah tangga ruang keluarga.

"Setidaknya makan dulu, Naruto!" Kushina meneriaki putranya yang sudah menghilang.

"Tumben anak itu berangkat sepagi ini. Yang kutahu dia tak pernah ada kelas pagi." Minato menghampiri sang istri yang masih berdiri di ruangan itu.

"Padahal aku ingin membangunkannya tadi untuk sarapan. Anak itu jadi aneh."

"Sudahlah. Kita sarapan, yuk~" Minato memeluk pinggang Kushina, "putri kita sudah menunggu."

Kushina yang mendengar penuturan sang suami bergegas menuju ruang makan di lorong sebelah ruang keluarga. Ia hampir lupa bahwa putrinya sudah menunggu disana.

"Pagi, bu!"

"Wah, Hinata, kau sangat cantik dengan dress itu~" Kushina duduk tepat di sebelah gadis dengan short dress marun.

"Ah, benarkah, bu?" Hinata melirik sekilas dress yang tadi Kushina pilihkan –dengan paksa –untuknya. "Aku lebih senang memakai kaos oblong, sebenarnya."

Pengakuan sang gadis membuat Minato tertarik. "Hinata, kau adalah gadis yang menarik."

"Ayah berlebihan." Hinata tersenyum malu.

"Tapi tetap saja ibu lebih suka kau memakai pakaian feminim, sayang~" Kushina tak mau kalah.

"Iya, bu. Aku hanya akan menuruti untuk kali ini saja." Jawaban Hinata disertai gurauan membuat Kushina ganti posisi memunggungi sang putri angkat Namikaze itu.

"Honey~ kau tak boleh memaksakan selera anak kita~" tutur Minato penuh keusilan.

"Iya-iya baiklah." Kushina melirik anak perempuannya, "tapi kau harus berjanji akan memakainya sekali-kali. Oke?"

"Tentu, bu."

"Penurut sekali." Kushina memainkan rambut halus Hinata. "Cepat makan, sayang. Kita berangkat setengah jam lagi."

"Baik, bu."

"Rencananya Hinata akan sekolah dimana?" Kepala keluarga Namikaze menanyai sang istri. Ia sangat kagum melihat istrinya, Kushina, yang susah akrab itu tampak bahagia menjadikan Hinata sebagai anak. Bahkan tanpa Minato duga, Kushina sudah mengurus dokumen-dokumen sang putri yang kini resmi mereka adopsi.

"SMA Saga. Sekolah Naruto dulu."

"Benarkah? Kelas berapa?"

"Umurku sudah 18 tahun, Ayah, berarti kelas 12 ya?" Hinata yang bermaksud menjawab malah bingung sendiri.

Kushina yang melihat wajah bertanya-tanya sang suami membantu menjelaskan. "Hinata dulu homeschoolling." Minato mengangguk tanda mengerti. "Ya, sayang, kau akan masuk di semester terakhir SMA. Tak apa, 'kan?" Kushina begitu sedih dengan alasannya sendiri. Pertama, ia kasihan karena gadis itu mungkin tak akan punya banyak teman berhubung ia anak baru, di semester terakhir pula. Kedua dan terakhir, Kushina khawatir Hinata sulit menyesuaikan diri di lingkungan baru apalagi jika sampai di bully oleh siswi-siswi yang sirik dengan kecantikan Hinata.

"Ibu tak usah khawatir. Aku malah sangat senang bisa merasakan kehidupan sekolah."

"Manisnya~"

"Ngomong-ngomong kakak dimana?"

"Naruto tadi sudah berangkat kuliah." Jawab Minato seraya memasukkan tempura ke mulutnya.

"Yah...padahal Hinata gak sabar berkenalan dengan kakak."

"Tak apa, sayang. Nanti malam anak badung itu akan ibu kenalkan."

"Baiklah kalau begitu. Dan terimakasih untuk makanannya. Ini enak sekali." Gadis bertubuh proporsional itu menyudahi sarapannya.

"Ahahahaha~tentu saja itu enak, 'kan ibu yang masak!" Bangga Kushina. Minato selaku suaminya bergumam tak jelas. "Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang, sayang!"

"Eh? Honey, tunggu sebentar, aku belum selesai sarapan!" Minato tampak tak mau Kushina pergi duluan. Biasanya, istrinya pasti menunggunya selesai sarapan, baru pergi entah kemana sepenting apapun urusan istrinya itu.

"Lalu?" Sebelum sepenuhnya beranjak dari ruang makan bersama Hinata, Kushina menatap Minato geram.

"Hati-hati di jalan!" Sahut Minato takut-takut.

"Ayo kita pergi, sayang!" Ajak Kushina pada Hinata.

"Sampai jumpa, ayah!" Hinata pamit pada ayah angkatnya.

Lagi-lagi Minato ditinggalkan seorang diri oleh istrinya tercinta.

OOOO

Kasak-kusuk terdengar di seluruh sudut kampus tempat Naruto mengejar gelar Sarjana Ekonomi-nya. Bukan hal yang asing bagi Naruto jika gosip itu cepat menyebar. Ah, Naruto sadar, itu bukan gosip, melainkan kenyataan. Fakta bahwa pewaris Namikaze itu single saat ini. Penghuni kampus mulai berdebat mengutarakan opini mereka mengenai putusnya pasangan Naruto-Shion yang melegenda.

Naruto tiba di taman Fakultas Ilmu Komunikasi menjadi daya tarik sendiri bagi para mahasiswa-mahasiswi fakultas itu. Tak peduli sapaan ramah yang berbeda-beda nada itu, Naruto melanjutkan berjalan memasuki salah-satu gedung perkuliahan.

Tak ia hiraukan teriakan mahasiswi yang kini menargetkan dirinya sebagai pria lajang yang harus segera dipacari. Rupanya persaingan merebutkan hati tunggal Namikaze itu sudah dimulai sejak kabar dirinya putus dengan Shion.

"N-Naruto-senpai~" Mahasiswi-mahasiswi yang berada dalam gedung terpana mengetahui pria ideal bagi kaum hawa itu ada di hadapan mereka. Beruntung sekali. Pagi yang cerah ditemani wajah tampan Namikaze Naruto. Bahkan mereka tidak menyesal (baca:melupakan) kelas pagi dengan dosen killer.

Tak peduli dengan 'kepungan' mahasiswi yang berjejer rapi mengelilinginya, Naruto masuk ke dalam salah-satu ruangan. Ia hafal betul jadwal perkuliahan mantan kekasihnya itu. Namun, nihil. Gadis yang ia cari tidak ada. Atau belum datang? Naruto tak tahu. Ia hubungi pun, Shion tak merespon.

"Naruto?" Suigetsu yang berada dalam kelas tertarik dengan kehadiran Naruto. Ia pun beranjak menghampirinya. "Mencari Shion, ya?"

Sebenarnya Naruto tak terlalu ingin mengobrol bahkan bergumam pada pria yang menyapanya. Namun situasi yang memaksanya untuk menggubris pertanyaan sukarela yang Suigetsu ajukan.

"Hm. Kau melihatnya?

"Aha..tadi aku lihat dia di taman auditorium –"

"Oke, "potong Naruto tanpa peduli dengan perasaan lawan bicaranya.

" –bersama Pein."

DEG

"SIAL!" Rutuk Naruto dalam hati.

Suigetsu tersenyum miring. Ia tahu Naruto tempramental. Entah apa yang membuatnya ingin menjahili tunggal Namikaze. Suigetsu memang melihat Shion tadi, tapi bukan bersama dengan Pein melainkan teman perempuannya. Iri? Ya, ia sangat iri pada pria bernama Namikaze Naruto. Balas dendam? Tentu saja. Naruto saja yang sepertinya lupa dengan perbuatannya.

OOOO

"Shion!"

Naruto mencoba mensejajarkan langkah cepat mantan kekasihnya. Tak ia duga Shion tak menoleh sedikitpun padanya.

"Oh, jangan pura-pura tak dengar, Shion!" Naruto kembali diacuhkan. Mencoba memegang lengannya, Shion semakin berlari menjauh.

"Ayo, Hana! Kelas sebentar lagi mulai." Ucap Shion pada teman sejajarnya.

"I-iya." Hana gelisah menyadari sosok pemuda yang masih terus mengikuti mereka sejak di taman. Apalagi Shion yang tiba-tiba mengajaknya segera pergi ketika melihat ada Naruto di kejauhan.

"Mana si culun itu, hah? Cepat sekali dia pergi!" Naruto semakin salah paham. Melihat Shion yang terburu-buru pergi, Naruto yakin ada si culun Pein yang bersama Shion tadi. Entah sudah pergi kemana lelaki itu. "Setakut itukah dia melihatku?!"

Shion yang mendengarnya geram. Bagaimana pula Naruto menyimpulkan hal-hal tak masuk akal itu? Namun ia enggan untuk mengklarifikasinya. Sudah malas Shion berurusan dengan Naruto.

"Jadi benar, kau begini karena anak culun itu!"

"Cukup!" Shion menatap tajam Naruto. "Apa maumu?!"

"Lihat, 'kan, kau baru menanggapi kalau nama si culun itu kubawa!"

"Berisik! Jangan ganggu aku!"

"Dengar, Shion, aku hanya ingin balikan. Mengerti?" Naruto menatap intens mata indah Shion.

"Aku tak mau!" Shion melepas genggaman Naruto di kedua tangannya. "Ayo, Hana!" Shion menarik tangan Hana dan membawanya berlari menjauh.

"Aku akan menunggumu, Shion!" Emosi, Naruto menendang asal kerikil di tanah lapang itu.

"Apa Naruto terluka?" Mata Shion tertuju pada sang pemuda yang tampak kesal. Sebelum berbelok gedung, Shion kembali melirik perban di tangan kanan Naruto.

OOOO

Hinata nampak asik membantu sang ibu membuat makan malam. Walau seharian mereka habiskan dengan jalan-jalan mengitari kota namun mereka masih kelebihan tenaga.

Kushina meletakkan panci besar berisi sop iga yang mengepul di atas meja makan yang terletak di dapur. Tak lupa ia mengecek ulang tata letak peralatan makan yang tersusun rapi diatas meja.

"Sempurna!" Kushina berujar heboh.

"Ibu, kau hebat sekali!"

"Tentu saja!"

"Wah, wangi! Apa yang kau masak, honey?" Minato yang baru pulang kantor serasa menemukan hadiah jackpot.

"Ibu memasak sop iga, ayah." Balas Hinata walau bukan ia yang ditanya.

"Baiklah, ayo makan!" Ajak kepala keluarga Namikaze yang langsung mengambil tempat duduk.

"Jangan berani menyentuhnya, Minato! Tunggu sampai Naruto datang!"

"Aish baiklah-baiklah!"

Mereka pun menunggu puluhan menit. Sosok yang mereka tunggu tak kunjung datang. Padahal Kushina sudah menghubungi Naruto agar pulang lebih awal.

BRAKKKKKK

Lagi-lagi, suara gebrakan keras mengiringi kepulangan Naruto. Minato mendengar dengan jelas walau dapur cukup jauh dari sumber suara. Ia komat-kamit merapalkan doa agar putra tunggalnya bebas dari kemarahan sang bunda.

"Kemari, Naruto!" Teriak Kushina pada Naruto yang masih berada di ruang keluarga dan hendak menuju kamarnya di lantai atas. Tak ada sahutan, Kushina beranjak dari meja makan berniat menghampiri Naruto.

Sebelum menaiki anak tangga, Naruto sudah dihadang oleh ibunya. Raut kesal Kushina mendominasi.

"Naruto, apa suara ibu kurang keras tadi?"

"Aku dengar, bu."

"Kalau dengar kenapa bukannya nyahut?"

"Aku capek, mau tidur." Singkat, padat, dan jelas. Tanpa peduli, Naruto melangkahkan kakinya.

"Badung!" Kushina menarik tangan kanan Naruto mencoba menahan pemuda itu agar diam di tempat.

"AWWW!" Naruto merasakan sakit akibat genggaman Kushina.

"Kenapa tanganmu?" Suara berat itu berasal dari Minato yang sudah berada di ruang keluarga diiringi Hinata di belakangnya.

"Astaga, Naruto! Kenapa sampai diperban begini?!" Kushina melihat baik-baik perban putih yang menutupi telapak tangan anaknya sampai jemarinya pun tak luput dari benda putih itu.

"Hanya terjatuh dan tanganku kena pecahan kaca." Dusta Naruto.

"Tapi pasti sangat sakit, kak." Hinata mendekati Naruto dan mengusap lembut perban Naruto seolah berkata agar cepat sembuh.

"Beraninya kau menyentuhku!" Naruto menepis tangan Hinata. "Siapa kau!?"

"Hinata!" Kushina menopang tubuh Hinata yang limbung. Tepisan Naruto cukup kuat.

"Naruto!" Minato sungguh kesal pada Naruto. Kapan ia mengajari putranya untuk bersikap kasar? Tidak pernah, tentunya. "Hinata adalah adikmu! Jadi, bersikap baiklah!"

Naruto memicingkan mata. Kapan ibunya melahirkan anak perempuan? Hanya ialah satu-satunya keturunan Namikaze. Jangan-jangan...

"Ibu selingkuh, ya?"

BUK

"Dasar badung!" Kushina menjitak kepala Naruto. Yang dijitak meringis sakit tapi tak berani membalas.

Minato yang mendengar tuduhan Naruto tentang Kushina berusaha menjelaskan. "Hinata kita adopsi. Jadi buanglah pikiran anehmu ~" Minato memegang kepalanya, pusing.

"Dengar, 'kan! Jadi jangan berani kau kasari adikmu sendiri, Naruto!"

"Cih!" Mata Naruto tak lepas memandang Hinata, "adik apanya, " ia pun melangkah naik tanpa peduli sang ibu yang menyebutnya anak badung.

"Haha~ Hinata, maafkan Naruto, ya. Dia memang suka begitu kalau baru kenal."

"Tak apa, ayah."

"Huh! Anak itu semakin lama semakin tak tahu etika!"

"Sudahlah, honey~ mungkin Naruto lelah..."

"Lelah apanya, Minato! Ah, sudahlah! Sayang, kita makan saja!" Kushina mengapit Hinata, membawanya ke dapur.

Lagi-lagi Minato ditinggalkan dan tak dianggap.

OOOO

Tok

Tok

Tok

Masih tak ada sahutan, sang pengetok pintu kaca kamar Naruto kembali mengulang aksinya.

Tok

Tok

Tok

Lagi. Pemilik kamar, Naruto, masih enggan membuka pintu. Sudah malam, ia ingin tidur nyenyak.

Tok

Tok

Tok

Tok

Tok

"Berisik!" Naruto terperangah memandang Hinata yang berdiri dengan senyuman di wajah manisnya. Rupanya Hinata tak menyadari pemilik kamar yang kesal karena ulahnya.

"Hai, kak!"

BRAK

Sekali hentak, pintu itu tertutup.

Tok

Tok

Tok

Hinata kembali mengetuk pintu yang barusan Naruto tutup dengan kencang.

Tok

Tok

Tok

Tok

"Apa maumu!?"

Hinata tersenyum ceria, akhirnya Naruto mau bicara dengannya.

"Aku khawatir padamu, kak. Apa perlu aku bantu merawat tangan kakak?" Tunjuk Hinata kearah perban Naruto.

"Cuma itu? Kau benar-benar mengganggu!"

"Jangan marah dulu, kak. Aku hanya ingin mengenal kakak lebih jauh."

"Khe...kau bisa membuat orangtuaku menyayangimu, tapi aku tahu kau itu ada niat lain!"

"Tidak. Aku sama sekali bukan orang seperti itu." Gadis bersurai indigo itu kehilangan senyumannya.

"Apa yang kau inginkan, hah? Uang? Makanya kau berani menginjakkan kaki disini?"

"Kakak salah paham, aku hanya –"

"Dengar ya, kau jangan pernah bermimpi menjadi anggota keluarga Namikaze. Tunggu saja sampai kubuktikan pada ayah dan ibu siapa kau sebenarnya!"

"Baiklah. Itu terserah kakak. Tapi biarkan aku mengenalkan diri dan bersalaman dengan kakak."

"Tak perlu! Aku tak sudi mendengar suaramu!"

"Namaku Hinata." Tak peduli larangan Naruto, gadis itu memaksakan tangan Naruto berjabat dengan tangannya. Naruto yang risih tidak dapat mengelak. "Senang berkenalan denganmu –" setelah memaksa Naruto berjabat tangan, Hinata segera melepas kasar tangan Naruto dari genggamannya, " –KAKAK."

"Shit! Beraninya kau!" Naruto nampak kesakitan dengan aksi Hinata menghempas kasar tangan kanannya yang masih diperban.

BRAK

Hinata menutup keras pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Naruto.

"Gadis menyebalkan!"

OOOO

Khukhukhu

Terdengar.

Aku mendengarnya.

Sakit yang kau rasa.

Kebimbangan.

Harapan.

Memohonlah!

Jangan ragu!

Dengan begitu, ini akan cepat berakhir.

Mintalah apapun yang kau mau.

Akan ku kabulkan.

Kau sudah terikat perjanjian denganku.

Tanda yang sudah kutorehkan dilukamu.

Hei, kau yang begitu serakah dan egois!

Cepatlah memohon padaku!

Akan kukabulkan keinginanmu.

Apapun itu.

OOOO

"Terimakasih makanannya! Ayah, ibu, aku berangkat!"

"Hinata, kau yakin tak perlu ayah antar? Ini hari pertamamu, lho."

"Aku cuma perlu naik bis satu kali dan berjalan 5 menit, ayah. Tak usah khawatir. Di Milan, aku sudah terbiasa naik kendaraan umum."

"Wah, manisnya~" Kushina menatap Hinata bangga. Jarang ia temukan gadis remaja yang mandiri seperti Hinata.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Dah ayah, "Hinata mengecup pipi kiri Minato, "ibu, " tak lupa Kushina pun kebagian ciuman di pipi kanannya, "ah, kak Naruto, sampai jumpa!" Hinata melemparkan senyuman pada pemuda jabrik yang baru tiba di ruang makan.

"Kenapa sih kau?! Sok akrab!" Tanpa peduli akan ketidaksukaan Naruto terhadap dirinya, Hinata melanjutkan acara berangkat ke sekolah. Tak lupa Hinata tersenyum dingin pada Naruto tanpa kelihatan oleh kedua orangtua angkatnya. "Cih!"

"Bilang saja kau cemburu, 'kan, Naruto. Punya adik secantik Hinata~"

"Ibu belum tau aja sifatnya!" Sehabis meneguk air putih, Naruto meninggalkan Minato dan Kushina yang masih asik menikmati sarapan.

"Dasar aneh. Hei, Naruto, jangan lupa ganti perban lukamu!" Kushina meneriaki putranya yang sudah tak kelihatan lagi.

OOOO

CITTT

CITTT

CITTT

CITTT

"Pagi, burung-burung!"

Remaja putri bernama Hinata itu nampak asik menikmati pagi hari yang cerah. Udara pagi memang yang terbaik. Ia mengamati burung pipit yang beterbangan dalam satu kelompok besar. Sebagian hinggap di pepohonan nan rimbun di trotoar jalan. Sejuk. Pagi itu masih pukul tujuh sehingga hanya sedikit kendaraan pribadi di jalanan.

Ia telah tiba di depan gerbang sekolah barunya. Hanya ada beberapa murid yang berlalu-lalang. Mungkin karena sekolah dimulai 30 menit lagi sehingga hanya beberapa siswa yang baru tiba. Apalagi hari ini adalah awal semester baru. Tak salah lagi, mereka pasti masih malas untuk masuk sekolah.

Hinata sengaja memperlamban jalannya dan berencana mengelilingi sekolah dulu. Ia mulai berjalan mengitari halaman yang cukup luas lalu berkeliling menikmati taman belakang yang asri. Dilanjutkan dengan memasuki bangunan sekolah, Hinata melihat-lihat ruangan apa saja yang ada di sekolah itu.

Entah karena apa, Hinata merasa terusik.

Gadis cantik itu menengok ke samping lalu ia menyadari pandangan murid-murid yang tengah memandanginya penuh kagum. Rupanya ia baru tahu posisinya yang berada di koridor kelas lantai dua.

Merasa terganggu, segera Hinata meninggalkan lokasi itu. Ia menuju ruang guru di lantai satu. Untunglah tadi ia sudah melewati ruang guru sehingga tak perlu menanyakan dimana lokasinya.

Ruang guru itu cukup luas. Ia perkirakan ada 30 meja disana, berarti ada 30 guru, pikir Hinata.

"Selamat pagi!" Hinata menyapa ramah calon-calon pengajarnya di ruangan itu. Beberapa guru yang sudah datang menyapa Hinata dan mengizinkannya masuk.

"Ada perlu apa? Sebentar lagi masuk." Seorang wanita yang sudah bersiap-siap mengajar menanyai gadis indigo itu.

"Saya mencari Okyo-sensei. Saya murid baru, sensei."

"Oh, jadi kau Namikaze Hinata, ya?" Semua penghuni ruangan seketika menyoroti gadis muda itu antusias. Bukan hanya karena keelokan sang gadis, tapi juga karena marga gadis itu.

"Benar, sensei."

"Pas sekali. Aku Okyo, wali kelasmu. Sebaiknya kau ikut aku ke kelas sekarang, Hinata."

"Baik, sensei."

Sepanjang perjalanan, wali kelas gadis itu menceritakan betapa kagetnya ia mengetahui ada siswi baru dengan gelar Namikaze, ditambah yang ia tahu, keturunan Namikaze hanyalah laki-laki. Okyo pun bercerita mengenai Kushina, ibu angkatnya, yang mendaftarkannya di sekolah itu.

"Pagi, anak-anak!" Okyo menyapa murid-muridnya sedangkan Hinata berdiri di sebelah Okyo di depan kelas.

"Pagi, sensei!"

"Apa kalian menikmati liburan semester kemarin?"

Terdengarlah berbagai jawaban protes mengenai durasi liburan yang menurut mereka sangat sebentar, hanya dua minggu. Namun, seolah tersadar, mereka memperhatikan Hinata yang masih terdiam.

"Sensei, siapa dia?" Siswa bernama Kiba begitu terpesona oleh kemolekan Hinata.

"Oh, iya, dia murid baru disini. Silahkan, perkenalkan dirimu!"

Menurut, Hinata tersenyum kearah murid-murid yang hanya berjumlah 11 orang itu. "Namaku Namikaze Hinata. Salam kenal semua!"

"What? Namikaze?!"

Masih banyak suara-suara lainnya yang berpendapat ini-itu, terutama mempertanyakan marga Hinata. Mereka tak percaya.

"Sudahlah, berhenti mengobrolnya. Namanya Namikaze Hinata, itu benar." Okyo membenarkan pernyataan Hinata tadi. "Jadi, ada yang mau kalian tanyakan pada teman baru kalian?"

"Saya!"

"Saya!"

"Aku saja!"

"Berisik! Aku duluan!"

"Pokoknya aku!"

Begitulah, para pria sangat tertarik untuk bertanya pada Hinata. Hanya satu pria saja yang nampak asik memandangi langit biru diluar sana. Dan jika kebanyakan siswa di kelas itu asik berebut siapa yang bertanya dahulu, kelima siswi lainnya nampak kesal.

"Bagaimana kalau ketua kelas saja?" Tunjuk Okyo kearah pria dengan rambut coklat panjang. Siswa-siswa yang lain langsung bungkam mendapati ketidakberuntungan mereka.

"Hai, Hinata, kenalkan, aku Neji. Hyuuga Neji."

"Sok akrab!"

"Cepatlah, Neji! Kalau kau tak mau bertanya biar aku saja!"

Neji tak mempedulikan ucapan teman-temannya. Ia masih memperhatikan ke depan, lebih tepatnya ke wajah cantik Hinata. "Apa kau sudah punya pacar?"

"What?! Modus banget!"

"Apaan tuh!"

"Gombal!"

"Belum punya." Jawaban singkat yang terucap dari bibir ranum Hinata seolah menjadi angin segar bagi kelima siswa itu.

"Oke, sudah cukup! Neji, sensei tak mengira kau bisa modus begitu." Okyo menggoda Neji, ketua kelas yang dikenal serius dan kaku, ternyata dapat mengajukan pertanyaan gombal. Neji pun hanya memalingkan wajahnya, malu. "Silahkan, Hinata, duduklah disana." Okyo menunjuk satu-satunya bangku yang dapat ia tempati.

"Terimakasih, sensei!" Hinata berjalan menuju bangkunya. Tak lupa ia tersenyum pada teman sebangkunya. Namun pria berambut merah itu nampak tak tertarik.

"Hei, hei! Berhenti melihat Hinata seperti itu! Dasar!" Siswa-siswa yang tadi terpesona pun memalingkan wajah mereka. Jangan sampai murid baru itu men-cap mereka sebagai pria mesum karena serius memandanginya.

.

Hinata tengah memakan bekal buatan Kushina di mejanya. Ia sempat menawari teman sebangkunya yang bernama Sabaku Gaara namun ditolak. Kelima siswi lainnya terutama perempuan berambut coklat panjang nampak jengkel luar biasa. Mereka tak suka perhatian yang seharusnya berpusat pada mereka tiba-tiba teralihkan semenjak kedatangan Hinata.

"Gaara, mau ke kantin gak?" Siswi berambut coklat panjang itu menghampiri Gaara di bangkunya yang terletak di pojok kiri belakang.

"Tidak." Hati siswi itu langsung terbelah dua. Memang sudah biasa Gaara menolak segala bentuk tawarannya. Namun ia tidak suka jika harus meninggalkan pujaan hatinya berduaan dengan murid baru.

"Ayo, Matsuri!" Ajak temannya yang lain. Siswi bernama Matsuri itu pun pergi keluar kelas bersama teman-temannya. Tak lupa ia memandang tajam kearah Hinata.

"Gadis tak tahu malu!" Batin Hinata yang paling tak suka dipandangi seperti itu.

Akhirnya hanya mereka berdua yang masih di dalam kelas. Hinata masih sibuk memakan bekalnya sedangkan pria disebelah kirinya masih asik memandang keluar jendela.

"Kenyangnya~!" Hinata merapikan kembali kotak bekalnya. "Kau tidak makan siang?" Tanya Hinata yang melihat Gaara hanya terdiam di bangkunya.

"Tidak lapar." Jawab Gaara singkat.

"Oh~kau pasti sudah sarapan banyak ya..."

Hinata mengambil botol minum dan meneguknya rakus. Kerongkongannya kering, ia harus minum banyak. "Uhuk! Uhuk!"

"Minumlah perlahan." Gaara menepuk ringan pundak Hinata, membantu Hinata agar lebih rileks. Tapi waktunya kurang tepat. Kesepuluh murid yang lain masuk bersamaan seiring bel berbunyi.

"Wah, Gaara, apa yang kau lakukan padanya?!" Tuding satu-satunya murid kelebihan lemak di kelas itu.

"Neji, kau punya saingan berat, nih!" Sahut Kiba memanas-manasi.

"Hinata, kau tersedak, ya?" Tanya Neji yang melihat Hinata masih terbatuk.

"Ayo, Matsuri, kita duduk." Ujar siswi berambut pirang, tak mau temannya berbuat nekat pada Hinata.

"Ayo, semua, duduk di tempat masing-masing!" Pria berkemeja panjang dengan celana panjang katun segera mengambil alih perhatian kelas.

DEG

Hinata merasakan sakit. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Kepalanya seperti diserang listrik 400 volt.

"Aku akan mengabsen kalian seperti biasa."

Pria berperawakan tampan itu membuat Hinata jengah.

"Akamichi Chouji?"

Suaranya bahkan menyakiti telinga gadis bermata lavender itu.

"Aburame Shino?"

Hinata ingin segera keluar dari kelas.

"...Haruno Sakura?"

Tapi ia tidak bisa.

"...Sabaku Gaara?"

Pria itu masih melanjutkan mengabsen seisi kelas.

"Ah, rupanya ada murid baru. Namikaze, ya? Namikaze Hinata? Yang mana orangnya?"

"Dasar penganggu!" Hinata menjerit frustasi.

"Tadi kau bilang apa?"

"Eh? Apa dia mendengarnya?" Hinata terbelalak kaget.

OOOO

To be continued...

.

.

.

Thanks untuk review, follow, dan favoritnya untuk Triple Knock ^^

Maaf update lama dan terimakasih udah nyempetin review fict ini..

.

.

Balasan Review..

Morita Naomi

Hinata udah muncul tuh Naomi-san hehe makasih ya udah nungguin kelanjutannya. Gimana part 2?menghiburkah?

Namikaze Minto

Hahaha bagusnya apa dong? Yang ada di otak author Cuma kata itu doang wkwk

Sora48

Tugasnya masih dirahasiakan nih.. Hinata berambut biru-indigo

Lotta Cygnus

Makasih supportnya ^.^ salam kenal juga yaelah oke deh mari lanjutin bacanya, semoga terhibur :))

Daisuki

Wah beneran?aminnnn doakan terus ya ^^

Himetsubaki

Author jg bingung mau dibawa kemana ini fict haha..hmm kasian sasori sama gaara klo jd nerd jd si pein aja deh hehe kan langka tuh pein yg jd karakter cupu di fict-fict (ngomong apa sih)..msh blm tau nih doain yg terbaik aja buat si nerd yaa

SasuTeme

Wkwkwk tumben ya pein menkol(melankolis),ga ah biarkan pein merasakan jadi karakter culun dulu hehehe

GUNMA

Haha jangan resah kawan~ oke udh dilanjut ya slamat baca :))

Soul11b

Makasihhhh..waduh jangan main kilat-kilatanlah(?)

Sulli

Sama, author jg bingung -_- tuh udah muncul hehe..eh kashi mana ya?

Otsutsuki

Kok jd pd bingung?bagian mana nih yg buat bingung? Okay chayooo

Sumando

Aduhh lupa namanya, udah lama sih bacanya :,( makasihh iya sepertinya begitu..yap setuju banget, kasihan klo oro jd nerdnya(kasihan shion jd gebetan orochi)

Kuro Kiba

Makasih banyak :)) klo obat kaki gmn?hehe *kidding*

Kimimiki

Thank you so much ^~ ini udh lanjut lho...fighting!

Furasawa99

Hehe Neji emang kurang cocok jd anak culun~~ makasihhh ^^ yg dibawa tsunade? Yap tuh cwek hinata yg dibawa mami kushina..slamat ngepoin deh hehe tp kashi emang jd karakter penting disini hayo tebak jadi apa...arigatou jg fura-san :))

.

.

Special Thanks to:

Aileem712 I Lotta Cygnus I Morita Naomi I Namikaze Minto I shinobigila I SanSan I Pretty Puma I sora48 I daisuki I Himetsubaki I SasuTeme I GUNMA I soul11b I Sulli I otsutsuki I Sumando I Kuro Kiba I kimimiki I Furasawa99 I Rama Dewanagari