Chapter 3

"Aku.. Aku.. Hmm,, aku ingin bersekolah! Pasti seru!" ucap Lucy yang malah membuat Natsu melongo.

"Keputusan yang bagus Lucy. Eh, maksudku Luce," ujar Igneel dengan ekspresi berbunga-bunga.

"Nah Natsu, jika Luce bersekolah, kau juga harus bersekolah. Kau tak ingin kan membiarkan Luce pergi sendiri kan?" lanjut Igneel.

"Ck. Baiklah. Baiklah.. Aku akan mengikuti kemauan kalian berdua," jawab Natsu pasrah yang disambut senyum polos Lucy.

*My lose memory by Fi-chan Nalupi

*Fairy tail by Hiro Mashima

*Warning: Typo, gaje, OOC dan banyak kata skip

Kini hari telah berganti. Seorang gadis bersurai pirang sedang bingung untuk membangunkan pemuda berambut pink yang masih tertidur pulas di hadapannya. "Natsu! Bangun!" serunya berulang-ulang. Tapi tetap saja Natsu masih tidak membuka matanya. Berbagai cara telah Lucy lakukan untuk membangunkan Natsu. Mulai dari menderingkan alarm, menarik-narik Natsu, bahkan memukuli Natsu. "Huh, ini melelahkan. Bagaimana cara membangunkannya ya?" pikir Lucy sambil terus memandangi punggung Natsu. Tiba-tiba sebuah ide usil menghampiri otaknya. "Apa tidak apa-apa ya? Tapi kata tou-san... "

*FLASHBACK

Malam ini, sehabis makan malam tepatnya, Natsu sudah pergi tidur karena kekenyangan. Sedangkan Lucy masih menonton televisi. Dan Igneel sedang membaca koran di seberang Lucy.

"Besok, kau dan Natsu akan pergi ke sekolah. Semua keperluan kalian sudah aku urus. Jadi sekarang kau tidurlah dulu Luce," ucap Igneel. Tapi pandangannya masih setia pada deretan kalimat yang ia baca.

"Paman..," panggil Lucy tiba-tiba.

"Ya?"

"Kalau boleh aku tau, apakah aku anak paman?" tanya Lucy yang membuat Igneel terkejut. Igneel terlihat berpikir keras, lalu menjawab pertanyaan gadis bersurai pirang itu.

"Iya. Kau adalah anakku. Jadi jangan memanggil aku paman. Tapi ayah. Dan Natsu adalah kakak laki-lakimu," jawab Igneel.

"Begitu.. Tapi kenapa aku tak bisa mengingatnya?"

"Karena kau lupa ingatan nak. Beberapa hari yang lalu, kau terjatuh dari bukit belakang dan terbentur," jelas Igneel walau sedikit bingung. Tapi untung saja Lucy tak mempersalahkan itu semua.

"Baiklah otou-san. Aku akan pergi tidur. Karena besok aku akan pergi ke sekolah. Oyasumi," ujar Lucy lalu meninggalkan pria berambut merah tersebut sendiri.

"Oyasumi Lucy. Maafkan aku," gumam Igneel pelan.

*FLASHBACK END

"Jadi tentu saja aku boleh menjahili kakakku sendiri. Hihi," lanjut Lucy lalu berlari keluar. Selang 5 menit, ia sudah kembali. Dengan semangat diguyurnya wajah Natsu dengan air es.

"Akh!" teriak Natsu lalu terbangun. Dingin, itulah yang dirasakan Natsu saat ini. Sedangkan Lucy terus tertawa tak henti-hentinya sampai meneteskan air mata ketika melihat wajah Natsu yang aneh. Antara terkejut, kedinginan dan marah.

*NATSU POV

"Akh!" teriakku lalu terbangun. Dingin, itulah yang kurasakan saat ini. Sedangkan suara gelak tawa yang tak ada hentinya terus terdengar di sampingku. Aku pun menoleh ke arah suara. Kulihat Lucy yang terus tertawa sambil memegang perutnya.

"Haha! Natsu, wajahmu lucu sekali!" ucapnya lalu tertawa kembali. "Apa-apaan itu?! Huh menyebalkan sekali dia," pikirku. Tapi tunggu, Lucy merubah penampilannya. Rambut pirangnya ia ikat dua ke samping. Bajunya,, ia memakai seragam sekolah. "Manis," pikirku lagi. Aku pun blushing. Tapi seragam sekolah? Ah! Aku hampir lupa. Sekarang aku dan Lucy harus segera pergi ke sekolah. Aku pun segera melompat dari tempat tidur lalu bergegas menuju kamar mandi.

Setelah mandi, kupandangi pantulan diriku di cermin. Sesudah menyisir rambut pinkku, aku memakai dasi. "Hah, aku tidak suka seperti ini," gerutuku. Kulihat dari cermin, Lucy tertawa.

"Penampilanmu acak-acakan sekali. Kau kakak yang tidak bisa dibanggakan," ejek Lucy lalu mendekatiku.

"Kakak? Ah, pasti ini ulah tou-san," pikirku lalu tersenyum. Tiba-tiba Lucy sudah berdiri sangat dekat denganku. Kedua tangannya sibuk membenarkan dasiku. Aku tentu saja hanya bisa blushing. Jadi, kuputuskan untuk diam dan mendongak ke atas.

"Nah, sekarang kau sudah terlihat sangat tampan daripada tadi. Jadi, ayo sekarang kita berangkat!" ajak Lucy lalu menarik lengan tanganku. Apa katanya? Tampan? Astaga.. Kurasa wajahku semakin memerah.

*skip

*NORMAL POV

Bel berdering. Menandakan pelajaran telah usai. Semua siswa-siswi SMA Fairy mulai berhamburan keluar. Akan tetapi masih ada beberapa siswa-siswi yang masih berada dalam ruang kelas tersebut. Termasuk Natsu dan Lucy.

Seorang gadis berambut merah panjang berjalan menghampiri Lucy yang diikuti seorang gadis berambut biru pendek.

"Hai, namamu Luce ya? Bolehkah kita berkenalan?" tanya gadis berambut merah. Mendengar namanya disebut, Lucy dengan segera memandang gadis tersebut.

"Ah iya. Namaku Luce. Tentu. Siapa namamu?" tanya Lucy balik.

"Aku Erza Scarlet dan gadis di sebelahku ini bernama Levy. Salam kenal," jelas gadis berambut merah, bernama Erza.

"Salam kenal," ucap gadis berambut biru, bernama Levy.

"Salam kenal Scarlet-san. Salam kenal Levy-san," ucap Lucy sopan.

"Ah, tak perlu begitu. Panggil saja aku Erza. Dan jangan terlalu sopan begitu. Kita kan seumuran."

"Erza benar. Panggil saja aku Levy-chan. Dan aku akan memanggilmu Lu-chan. Jadi kita bisa cepat akrab," sahut Levy.

"Baiklah Erza, Levy-chan," ucap Lucy sambil tersenyum senang.

"Nah, begitu kan enak didengar," kata Erza ikut tersenyum. Sedangkan Levy hanya mengangguk, membenarkan perkataan Erza.

Disisi lain, Natsu juga berkenalan dengan pemuda bernama Gray, Jellal, dan Gajeel. Mereka berempat sangat cepat sekali akrab. Walau terkadang mereka saling bertengkar satu sama lainnya.

Natsu hanya tersenyum melihat Lucy yang tertawa bersama teman-temannya. "Akan lebih baik jika terus begini," pikir Natsu. "Eh, ayo! Ada yang ingin aku kenalkan pada kalian," ajak Natsu pada Gray, Jellal dan Gajeel. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju Lucy dkk.

"Perkenalkan ini Luce," ucap Natsu.

"Hai, aku Luce. Salam kenal," sapa Lucy dengan riang.

"Salam kenal Luce. Aku Jellal," ucap pemuda berambut biru dengan tato di bawah mata kanannya.

"Salam kenal. Aku Gray," ucap pemuda berambut raven.

"Yo. Aku Gajeel," ucap pemuda terakhir berambut hitam panjang.

"Dia pacarmu ya?" tanya Jellal pada Natsu.

"Bukan. Aku adalah adik Natsu," sahut Lucy sebelum Natsu sempat menjawab.

"Oh adiknya, tapi kenapa gak mirip ya?" tanya Gray sambil memandang Lucy dan Natsu secara bergantian.

"Ah, berisik sekali kau. Eh, ini teman-teman Luce?" tanya Natsu mengalihkan pembicaraan.

"Yo. Aku Natsu," kenalnya pada Erza dan Levy.

"Aku Erza dan dia Levy," ucap Erza mewakilkan.

"Kalau begitu kalian bertiga juga perkenalkan diri kalian pada Erza dan Levy," suruh Natsu yang langsung dilaksanakan oleh Jellal, Gray dan Gajeel. Setelah acara perkenalan selesai, mereka semua saling mengobrol bersama. Sesekali Erza melirik Jellal, sedangkan Levy melirik Gajeel. Kedua gadis itu sepertinya merasakan cinta pada pandangan pertama.

*skip

"Wah Natsu. Ternyata bersekolah sangat menyenangkan ya?" tanya Lucy sambil memainkan tasnya.

"Ya, sedikit," jawab Natsu malas. Karena sedari tadi ia tak bisa tidur di kelas. Dan semua itu di sebabkan oleh ulah Gray yang terus mengerjainya. Mengingat hal tersebut, Natsu kembali merutuki Gray sepanjang perjalanan.

"Kau kenapa Natsu? Wajahmu kusut sekali?" tanya Lucy seraya memperhatikan wajah Natsu.

"Tak apa. Hei, tunggulah di sini dulu Luce. Aku mau membeli bahan makanan di toko seberang," ijin Natsu.

"Ya, baiklah. Jangan lama-lama Natsu," pesan Lucy lalu duduk di bawah pohon sakura yang belum mekar.

"Tentu!"

Lucy pun menunggu Natsu sambil menikmati pemandangan matahari terbenam. "Sangat indah," pikirnya. Tak berapa lama, tiba-tiba segerombolan pemabuk mendatangi Lucy.

"Oh, nona ini sendirian. Mau ditemani?" tawar pemabuk bertubuh besar. Lucy hanya menatapnya dengan polos.

"Tidak, terima kasih," balas Lucy.

"Dia menolakmu," cibir pemabuk kedua.

"Bagaimana kalau aku yang menemanimu?" lanjut pemabuk kedua.

"Tidak," jawab Lucy sekali lagi.

"Dia juga menolakmu," ejek pemabuk pertama.

"Cih! Kalau begitu ayo ikut aku," paksa pemabuk dua sambil memegang lengan kanan Lucy sangat erat. Hingga mengakibatkan Lucy kesakitan. Sedangkan pemabuk ketiga dan keempat hanya menyeringai.

"Lepaskan!" seru Lucy sambil mencoba melepaskan tangannya yang luar biasa sakit. Akan tetapi tak bisa. Karena kekuatan pemabuk kedua itu sungguh kuat.

"Hei! Lepaskan dia!" teriak seorang pemuda lalu menonjok wajah para pemabuk itu. Hingga mereka semua melarikan diri.

"Kau tidak apa-apa?"

To Be Continue

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Balasan review dulu ya.. :

LRCN : udah lanjut

Melda Heartfilia :Haha, tapi aku gak janji loh. Mungkin ada hurtnya dikit . Tenang,, tidak parah kok. XD

Sakuraminamimura : Hehe, maaf,, biar agak seru #plakk

Ganba-chanEgao SM : terima kasih. Gak apa-apa. Ini udah next.

Ai-chan : iya, ini udah lanjut kok. Terima kasih.

Indah: Kenapa lu pakai akun ku? Wah, wah.. Ngajak ribut.. #bercanda

: terima kasih il,, terharu aku.

Yosh! Balasan reviewnya udah kelar. Siapa yang bisa nebak? Siapa pemuda yang nolongin Lucy?

Haha,.

Kalau begitu aku undur diri dulu. Jangan lupa review-nya ya?

Salam manis,

Fi-chan Nalupi