Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
HOPE IS GHONE
By Putra Joendra
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
Walaupun semua telah berlalu dengan menyakitkan, tapi apa daya yang membuat pemikiran seorang anak kecil yang tidak akan paham dengan pemahaman yang dia terima dan dia jalani. Pahit kehidupan dimakannya mentah-mentah, realita kehidupan ditelannya bulat-bulat hingga sampai kapan dia akan merasa senang akan perputaran realita yang berbelit-belit. Berjalan menapaki pinggiran desa yang sudah hafal bagi dirinya, menghindar dari keramaian, kesendirian yang selalu menemaninya menjalani pemikiran oleh otak kecilnya.
Apa salahnya..? Apa dosanya..? Menapa arus kehidupan yang pahit dijalaninya..? Tak akan pernah terjawab pertanyaan yang muncul dihatinya.
"Haaah, sudahlah, jalani saja." Sebuah mantra yang selalu diucapkannya ketika sudah tak sanggup lagi menerima semua tekanan batin maupun fisik. Dia masih berjalan gontai tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Menutup telinga, mengunci mulut, membutakan mata sendiri akan dunia luar yang selalu menghinggapinya, hingga langkahnya terhenti ditandakan adanya seorang atau lebih tepatnya seorang shinobi yang kemungkinan berpangkat Chunin, yang menghadang jalannya.
"Hohoho, si bocah monster sedang berjalan-jalan ya..?" tanya sang Chunin dengan seringaian yang menjijikkan bagi si bocah di hadapannya ini
"..." sang bocah hanya diam tanpa suara, melihat menantang terhadap Chunin di depannya dengan tatapan tajam.
Di dalam hatinya, sebetulnya dia gentar, dan ingin lari namun semua kenangan buruk yang dilaluinya menguap ke permukaan hatinya yang membuat pandangan matanya lebih menajam. Bola mata yang berwarna biru laut itu telah tergantikan dengan bola mata yang biru pucat, tangannya bergetar sendiri bukan tanda takut.
Namun, menginginkan sesuatu yang lebih, kesadarannya mulai lenyap secara perlahan, tapi tubuhnya masih bisa berdiri tegak. Seakan ini bukanlah dirinya, mungkin sesuatu yang menggantikan kesadarannya sementara.
"Apa yang kau lihat bocah monster, apa kau ingin mati cepat ehh..?" ancam sang Chunin dengan tekanan chakranya sedikit meningkat, guna memberikan tekanan mental terhadap sang bocah di hadapannya.
Namun, bukannya takut, bocah yang di hadapannya, melainkan memberikan seringaian yang menjanjikan akan sebuah derita dari seekor monster yang mulai retak topengnya. Sang bocah melangkah maju dengan pelan, tanpa terpengaruh tekanan Chakra sang chunin di depannya. Itu membuat sang Chunin semakin murka, maka sang Chunin pun mengambil sebuah kunai dari kantong peralatan ninjanya dan melompat dengan sekuat emosi yang ingin dilampiaskannya. Hendak menikam dari depan dengan sebuah kunai yang digenggamnya erat.
Ketika jaraknya semakin mendekat, dekat dan dekat, akhirnya kunai tersebut menembus bahu sang bocah hingga tembus ke bagian tubuh belakangnya.
CRAAAASH!
Darah merah pun bertebaran di tanah, baju yang dipakai sang bocah koyak dinodai oleh darah merah kental. Luka yang cukup fatal, tanpa ada suara teriakan kesakitan terdengar. Melainkan, seringaian iblis itu semakin melebar menghiasi wajah sang bocah, yang membuat sang Chunin melompat kembali ke belakang karena keterkejutannya terhadap ekspresi wajah bocah di depannya yang menampakkan sebuah ekspresi kenikmatan dan seringaian kesenangan.
Tanpa menunggu waktu lama si Chunin membuat segel tangan untuk melepaskan sebuah jutsu. Menghirup udara sedalam-dalam napasnya dan selanjutnya menghentakkan jutsu yang telah selesai terangkai.
"Katon: Hosenka no jutsu!"
Hembusan napas yang kuat, memanipulasi Chakra menjadi kobaran api yang lumayan besar menjalar siap membakar sang bocah sebagai targetnya. Di depannya hingga terjadi ledakan berskala kecil membumihanguskan tubuh sang bocah di hadapannya.
Jutsu yang mengenai target, api membakar tubuh kecil yang di hadapannya semakin berkobar, tercium bau hangus dari tubuh yang terbakar, menghitam gosong bagai kayu arang.
"Hahaha, aku telah berhasil membunuh monster!" teriak sang Chunin girang.
Ketika jutsu Katon-nya berhasil membakar tubuh target, kobaran api masih setia membakar tubuhnya hingga hangus. Namun terlihat ganjil jika si bocah, tubuhnya yang terbakar masih berdiri kokoh di hadapan si chunin. Tak perlu menunggu waktu lama hingga apinya padam dan menyisakan seonggok tubuh yang telah hangus terbakar masih berdiri kokoh.
"Aku berhasil! Aku berhasil! Aku berhasil!" sorak kegirangan sang Chunin ketika dirinya merasa berhasil membunuh sang bocah monster."Sekarang aku... Aku sang pahlawan konoha! Hahaha! AKU PAHLAWAN!"
Dia berteriak lagi dengan penuh haru, melihat tubuh yang hangus sudah tak bernyawa di depannya. Setelah itu, si Chunin pun berbalik hendak meninggalkan jalan setapak yang sepi itu
TAP! TAP! TAP!
Ketika dia sudah melangkah untuk menjauh, dia merasakan terpaan angin dari belakangnya. Karena penasaran sang Chunin pun berbalik untuk memastikan keadaan.
Tiba-tiba...
WHUUUUUS! WHUUUUUUUUUUS!
Terpaan angin yang lumayan kuat mengitari tubuh hangus sang bocah, hingga makin lama debu bertebaran karena hembusan angin yang berputar mengelilingi tubuh itu, dan darah bekas yang berceceran di tanah perlahan saling bertautan bergerak sendiri bagai air yang menyatu membuat sebuah pola aneh. Membentuk sendiri pola aneh yang berupa tulisan kanji dan garis-garis tak beraturan membingkai menjadi seperti lingkaran mengitari tubuh hangus tersebut. Darah yang tercetak menjadi tulisan-tulisan kanji berpola seperti tulisan beberapa segel rumit.
WHUUUUUUUUSH!
Tercipta pusaran angin tornado kecil yang mengelilingi tubuh sang bocah, yang dilapisi pancaran cahaya orange. Lama-kelamaan cahaya tersebut menjadi warna merah dan tulisan-tulisan kanji bagai aksara-aksara alam saling bertautan tercetak dengan sendirinya di tanah bekas tumpahan darah bocah tersebut. Mulai mengeluarkan cahaya warna merah sepekat darah bergerak berputar pelan mengelilingi area sekitar tubuh hangus tersebut. Pusaran angin yang mengaburkan pandangan sang Chunin pun mengambil posisi siaga, karena dia merasakan firasat aneh yang membuat instingnya menajam.
'Apa yang terjadi?' batin sang Chunin memperhatikan ke depannya, tanpa dia mengalihkan.
.
.
.
"Aku... Aku... Tidak tahu, yang aku ingat pada waktu tadi, aku melewati jalan ini, namun dalam perjalanan si bocah monster ini menyerangku. Maka untuk melindungi diri, aku pun bertahan, dan membalas dengan melepaskan jutsu: Katon-ku untuk melumpuhkannya, dan terakhirnya malah menjadi seperti ini...," jelas sang Chunin sedikit berbohong akan kronologi kejadian tersebut.
Sang Anbu pun mengangguk mengerti, walau ada sedikit janggal dari kronologi yang diceritakan oleh Chunin tersebut. Maka dia melirik Anbu di sebelahnya yang memakai topeng putih mempunyai tipe rambut berwarna putih acak mencuat ke atas, dia mempunyai Sharingan di mata sebelah kirinya, hanya mengangguk dan memberikan kode pada anggotanya yang lain untuk berada di posisi masing-masing supaya menjaga jika keadaan di luar kendali mereka.
WHUUUSH!
Angin pun mulai melambat, cahaya yang menyerbak mulai memudar seiring tulisan-tulisan kanji berbagai segel aksara-aksara tercetak dari darah tersebut beringsut bergerak perlahan membungkus tubuh bocah yang hangus tersebut. Hingga kulit yang gosong hangus mulai terkikis oleh lingkupan tulisan aksara tersebut menyerap memasuki tubuh tersebut. Maka semua kulit yang gosong, organ tubuh yang hancur menghangus sendiri, kulit yang hitam karena gosong membuih seperti membuat lapisan jaringan sel kulit sendiri hingga tubuh yang hangus tersebut kembali pada bentuk sedia kala. Kulit yang putih pucat, rambut sang bocah sedikit berubah menjadi orange dengan baju yang habis terbakar menyisakan celana yang compang camping.
Melihat perubahan tersebut, semua orang yang berada di sana menatap takjub, dan waspada. Karena mereka merasakan tekanan chakra yang gelap, memperhatikan hingga proses penyembuhan telah selesai, dan sang bocah pun mulai bernapas tenang hingga dia membuka mata. Mata yang telihat, bukan mata yang berbola biru langit yang cerah, melainkan bola mata yang berwarna merah dengan pola garis hitam vertikal di tengahnya, yang menandakan bola mata tersebut adalah milik Kyuubi. Kyuubi, sang monster menguasai kesadaran bocah tersebut, badan yang sedikit menunduk ke tanah siap untuk menyerang musuhnya, tangan yang dilengkapi kuku panjang, gurat-gurat wajah yang sedikit kasar, gigi taring yang sedikit memanjang seakan menjilati bibirnya dilengkapi seringaian yang mengerikan.
"Hohoho, ada beberapa makhluk kecil di sini!" kata sang bocah dengan suara yang lebih serak dan padat intonasi yang merendahkan."Jika kalian sendiri yang mengundangku ke sini, tak masalah. Karena setiap kali aku ingin mengambil kesadarannya bocah ini, dia selalu melawan dan menekan akan keeksestensianku di dalam tubuhnya, namun kurasa sekarang waktu yang tepat untuk menikmati ini semua, hahaha!" Sang bocah tertawa sangat mengerikan.
Mendengar suara serak sang monster, membuat beberapa Anbu, sedikit tersentak takut, karena tekanan Chakra yang terpancar dari bocah tersebut sangat besar dan kuat. Ditambah lagi dengan tampilannya sedikit menyeramkan.
"Bagaimana ini kapten?" tanya seorang anggota Anbu tersebut kepada kaptennya.
"Tetap di posisi kalian, dan tingkatkan kewaspadaan kalian, karena kita belum tahu tingkatan bocah tersebut," perintah kapten Anbu tersebut terhadap anggotanya.
"Hei, Chunin-san! Kau coba pergi ke kantor Hokage untuk melaporkan akan hal ini secepatnya!" sang Kapten Anbu memberikan perintah lagi kepada Chunin tersebut.
"Baik!" jawab chunin tersebut berlari melompat meninggalkan area tersebut menuju kantor Hokage secepatnya.
"Haaaa... Hari yang akan melelahkan, Itachi..." helaan nafas dari Anbu yang berada di samping sang Kapten.
"Hn, bersiaplah Kakashi-senpai!" balas sang Kapten Anbu dengan serius dan dibalas dengan anggukan kepala oleh partnertnya dengan posisi siap siaga ketika melihat sang bocah perwujudan monster mulai bergerak pelan seakan melihat keadaan di sekitarnya.
Maka sang bocah monster mulai menunjukkan taringnya!
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
NOTE:
Sekian dan terima kasih.
