Village Behind Hills

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

3. First Impression


"SAI!"

"Eh… Ino-san. Kebetulan sekali…" Sai melirik pria yang ada di sebelah Ino, "Berdua dengan Sasuke-san saja?"

Ino dan Sasuke saling melirik. Kemudian…

"Terpaksa!" kata Ino sambil mengibaskan tangannya.

Sai memiringkan sedikit kepalanya. Kebingungan terlihat jelas di wajahnya yang pucat. Terlihat imut (?) dan lucu bagi Ino. Sambil menahan tawa, ia menceritakan sesuatu kepada Sai.

Flashback, tadi pagi pukul 04.40

"Yamanaka-sama, Uchiha-sama! Apalagi yang kalian lakukan, HAH? INI MASIH PAGI!" bentak Suigetsu frustasi bercampur kesal.

Bagaimana tidak kesal? Ia jatuh dari tempat tidur, karena kaget tiba tiba sekitar pukul 4 pagi ada yang menggedor-gedor pintu kamarnya. Begitu tahu bahwa Hinatalah yang mengetuk pintu dengan cara yang sangat tidak Hinata itu, ia berfirasat pasti ada hubungannya lagi dengan Sasuke dan Ino itu. Saking cepatnya, Suigetsu pergi tanpa mengunci pintu kamar dan hanya memakai kaus oblong putihnya dan celana boxer bergambar Jinchuuriki Nibi. Tak lupa bantal guling yang masih dipelukan. Ternyata? Yang dia lihat?

Uchiha Sasuke, dan Yamanaka Ino.

Dua orang anak dari keluarga pengusaha sukses dan terkemuka.

Sedang bermain.

Permainan petak umpet, tak jongkok (dibawah kolong benda apapun), lempar barang-bukan-pecah-belah, kejar-kejaran, lompat-diatas-kasur, perang bantal, dan permainan lain yang jika kalian mainkan di dalam rumah, bisa mengancam isi rumah itu.

"KALIAN SUDAH SMA, TAK ADAKAH CARA LAIN YANG LEBIH DEWASA UNTUK MENYALURKAN KEBENCIAN SELAIN MENJELMA JADI BALITA TANPA PENGASUH?"

Sasuke dan Ino yang sudah tak karuan. Ino, piyamanya sudah lecek, sandal kamarnya yang sebelah kanan sudah nyangkut di kepala Sasuke, sementara yang kiri malah sudah putus, rambut panjangnya sudah lengket dengan badannya yang sangat penuh peluh, dan… oh, apa yang melilit di tangan kirinya? Seperti kain besar berwarna biru tua, dan terlihat lambang kipas Uchiha di sana.

Sasuke? Jangan tanya dimana piyama atasannya, sudah dijelaskan diatas. Penutup mata sudah berubah kegunaan menjadi 'bandana' yang menahan poni depannya. Sasuke memang tidak pernah mau memakai sandal kamar, tapi entah kenapa kali ini ia memakainya di tangan?

Tampang keduanya pun tak lebih dari ekspresi merengut, kesal, dan ingin menghancurkan apapun untuk membunuh (?)

"KENAPA LAGI KALIAN?"

Ino: "Aku mau nonton Rurouni Kenshin pagi ini, tapi saluran TV-nya malah diganti si uke itu!"

Sasuke: "Hei, apa maksudmu uke! Aku juga mau nonton bola, sampai pukul 5 juga sudah habis!"

Ino: "Tapi Rurouni Kenshin juga sudah habis jam segitu! Egois!"

Sasuke: "Kau yang egois, pig!"

Ino: "Berisik bull-chicken!

Sasuke: "Dasar gen—"

"DIAM!"

Kedua anak yang sedang berdebat itu mematung.

Suigetsu menarik nafas dalam dalam, lalu dikeluarkan lengkap dengan rangkaian huruf dan kata—sebut saja membentak.

"Sekarang kalian mandi, lalu pergi berdua cari makan pagi, dan jangan pulang sebelum kusuruh! Kalian tidak dapat sarapan pagi ini!"

Flashback off

"Begitulah, Sai…" Ino mengakhiri ceritanya dengan cengiran. "Well, kami benar benar tidak boleh pulang sebelum Sui-nii meneleponku. Tadi saja, aku sempat menyelinap, sekedar mengambil snack di kamarku. Eh, begitu dia melihatku, aku langsung diteriaki, hehehe…"

Sai tertawa kecil. "Lalu…" Sai kembali melirik Sasuke yang pura-pura tak acuh padahal menguping juga, "Kalian mau kemana?"

Ino dan Sasuke mengendikkan bahu bersamaan. Membuat Sai mau tak mau tersenyum lagi, tipiiiis sekali.

"Well… Mau ke Blossom?"

"Blossom? Mau!"

Tanpa menunggu jawaban Sasuke, mereka—hanya Ino dan Sai, karena Sasuke diseret Ino karena memberontak—berjalan ke Blossom dengan ceria. Sesekali Ino bersenandung kecil.

*~VillageBehindHills~*

Blossom's Kindegarten

"Karin-neechan, mau pergi lagi?"

Sang kakak yang berambut merah menyala itu menghentikan langkahnya. Tanpa sedikitpun menoleh pada si adik, ia hanya berkata, "Ada urusan."

Si adik hanya bisa menatap punggung kakaknya dengan penuh pengharapan, walau ia tahu takkan mempan lagi pada kakaknya. Apalagi dilihat dari posisi mereka sekarang ini.

"Urusan? Kau tak pernah punya waktu untukku, kecuali saat kau mencurahkan perasaanmu, ya kan?"

"Nope. Kemarin aku sudah seharian bersamamu, sekarang waktunya aku untuk bebas, kan?"

"Tapi kau selalu melarangku ini itu! Padahal neechan sendiri bebas sekali."

Sang kakak akhirnya berbalik, menghela nafas pelan, "Kau mengerti tugasku, kan?" Gadis itu menepuk pelan puncak kepala adiknya yang ditutupi rambut berwarna merah muda, "Dan posisimu? Jadi, kumohon jangan mempersulitku, Saku… Oke?"

Karin tersenyum lembut dan menatap mata emerald adiknya dalam. Tak sengaja, Sakura melihat sekilas kilatan emosi di ruby milik kakaknya itu. Sebelum akhirnya tertutup oleh kelopak mata yang berbulu mata lentik, dan menjauh.

"Nee—"

"Sakura-chan!"

Sakura menoleh ke arah pintu masuk yang memiliki bel. Senyumnya terkembang melihat siapa yang datang.

"Naruto! Kebetulan, neechan pergi lagi. Kau mau membantuku, kan? Hari ini Blossoms sepertinya akan ramai. Biasa, musim panen tahu sendiri!"

Pria yang wajahnya berkilau karena keringat itu memamerkan giginya yang putih bersih. "Baiklah, Sakura-chan! Aku sedang bersemangat hari ini! Dattebayo!"

Dan setelah itu, mereka berdua sudah menikmati pembicaraan yang mengalir begitu saja. Naruto dengan berapi-api menceritakan bagaimana caranya ia mengalahkan Rock Lee dan timnya dalam pertandingan sepak bola yang biasa diadakan sekali seminggu. Tidak lama, terdengar suara dari lonceng kecil yang dipasang di pintu masuk.

"Hola, Sai! Mau bantu bantu juga?" sahut Naruto dengan kerasnya.

"Ya, dan kita juga akan dibantu dua pegawai baru lagi."

Masuklah Ino dan Sasuke-yang kaus biru tuanya masih dipegangi Ino. Wajah Ino sangat cerah sekali melihat Sakura.

"Ohayo, Sakura-san! Aku Yamanaka Ino, douzo yoroshiku, kita berteman, ya!" Seru Ino dengan penuh semangat.

Sakura yang sempat kaget juga melihat Ino, tersenyum manis dan membalas sapaannya.

"Douzo yoroshiku ne, Ino-chan!"

"Oh ya, ini Uchiha Sasuke, saudaraku! Katanya kalian sudah saling kenal, ya!"

Sakura menutup mulutnya dan seketika terdiam. Sementara onyx Sasuke yang biasanya terlihat sipit dan tajam itu, kini terbelalak dan membulat melihat Sakura.

"Ah! Alien pink!"

"Nani? Kamu kan orang gila sok keren yang waktu itu!"

"Hah? Come on, Kaulah yang tiba tiba menonjokku sampai 7 meter! Kau memang alien!"

Sakura terdiam sejenak. Sai dan Naruto hanya saling berpandangan bingung. Dan Ino wajahnya sudah memerah akibat terlalu lama menahan tawa, hingga akhirnya ia keluar dari Blossoms dan tertawa sekencang kencangnya.

Sasuke sama sekali tak menghiraukan mereka. Ia hanya berpikir bagaimana caranya memojokkan gadis yang pernah membuatnya malu ini.

"Kenapa kau, pinky? Tak bisa membalasku, heh?" kata Sasuke dengan seringai puasnya yang… yah, pokoknya cool lah!

"Grr… Aku sedang berpikir, tahu!"

"Oh? Berpikir? Ha! Alien jenis apa yang punya otak?"

"Aku beda denganmu! Aku akan berpikir dua kali sebelum bicara dengan orang asing nan aneh sepertimu!" Sakura menuding-nuding Sasuke tepat di depan hidungnya. (meskipun ia harus menjinjit)

"Tch! Gadis berandal! Baru pertama kali kulihat ada gadis yang berani menuding lawan bicaranya sendiri!"

"So, why? Everything is what I want! You don't have right to estimate me! Sekarang, kalau kau sudah tak punya keperluan lagi selain mengangguku, lebih baik pergi saja! Hush, hush!" Sakura menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang mengusir kucing.

Bagaimana dengan Sasuke? Tentu saja dia merasa emm… direndahkan.

Enough. Dua kali sudah gadis desa yang dianggapnya aneh dan menyebalkan ini menjatuhkannya. Pertama, dengan tonjokan. Kedua, dengan perkataan. Tentu jauh lebih parah. Apa tanggapan fans-mu kalau mereka melihat ini, Cold Prince?

Dan tentu, seorang Uchiha takkan diam saja, bukan?

Seakan sudah mendapat ide, si bungsu Uchiha ini kembali melebarkan seringai liciknya. Tiba tiba ia menggenggam kedua pergelangan tangan Sakura dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

"A-apa yang kau lakukan, bodoh!"

Seringai Sasuke semakin lebar. Apalagi setelah melihat rona di wajah Sakura. "Bagaimana kalau kita duel, hm?"

"Du-duel? Duel apa!"

"Kudengar dari Ino… Katanya, kau pemilik Blossom's Kindergarten ini?"

"Lalu? Jangan harap kau bisa menguasainya!"

"Hei, hei. Aku sama sekali tidak berniat begitu. Aku sudah cukup kaya, 'key? Aku hanya ingin tahu kepiawaianmu mengurus anak anak kecil yang dititip di sini. Itu saja."

"Heh, cuma itu?" tanggap Sakura dengan nada menantang.

"Hn." Jawab Sasuke sambil melepaskan genggamannya pada tangan Sakura.

Dengan gaya yang dibuat sejaim mungkin, Sakura membuat gerakan seolah membersihkan tangannya. Bahkan sampai meniup-niupnya segala.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Hei, sebegitu rendahnyakah aku bagimu? Yang dari tadi kau lakukan hanyalah melakukan hal yang membuatku merasa tersinggung dengan gaya 'cewek'mu itu," kata Sasuke sambil cemberut.

Bibir Sakura berkedut menahan tawa. Ia pura pura batuk untuk menyamarkan kikikannya.

"Aku memang selalu menjaga kebersihan. Tadi tanganku dipegangmu. Kau orang aneh. Orang aneh sudah pasti kotor. Jadi aku harus membersihkannya sebersih mungkin."

Sakura menyeringai puas yang membuat empat buah sudut di kepala Sasuke menampakkan wujudnya. Dengan begitu, Sakura melenggang ke dapur sambil menarik Naruto untuk membantunya. Sasuke baru saja akan berteriak saat tiba tiba tangan Ino menepuk pundaknya.

"Well, Sasuke,"Ino menepuk pundaknya dengan santai, "Sepertinya dia bukan alien, tapi wujud lain Hillary Clinton di Jepang."

Awalnya, Sasuke menatapnya dengan pandangan aneh. Ino hanya balas menatapnya penuh tanya.

Dan sebuah senyum terbentuk di bibir Ino yang mengkilat—efek lip balm.

.

.

Ah, Sasuke nyengir juga.

*~VillageBehindHills~*

"HUEEE neechan~!"

"Konohamaruuu! Lagi lagi kamu mengganggu anak anak perempuan! Harus berapa kali lagi kujewer supaya berhenti mengerecoki mereka, hah?"

Anak kecil yang telinganya dijewer Sakura itu mengaduh kesakitan, "Aduh, duh! Neechan, ampun! Aku kan cuma mau pinjam boneka Barbie yang pakai baju sailor, sebentar saja buat dipasangkan sama robotkuuu"

Sakura menghela nafas panjang. Setelah menghentikan aktivitas menjewer tadi, ia berkata sambil berkacak pinggang, "Alasanmu selalu itu. Kalau mau cari perhatian Kaede, bisa tidak sih tidak dengan membuat mereka menangis begitu!"

Konohamaru malah cemberut, "Memangnya aku harus apa, neechan? Aku gak tahu gimana caranya. Naruto-niichan justru menyarankan ini. Neechan yang pintar ini, bisa kasih saran tidak?"

Sakura memutar bola matanya. "Aku bukan laki laki."

Perlu diketahui bahwa kelembutannya hanya akan ditunjukkan pada anak anak yang polos. Tidak dengan Konohamaru—yang bisa dibilang si trouble maker, hampir tiap hari diperlakukan 'spesial' ketika seniornya—Naruto—tidak ada. Dan mereka berdua benar benar terlihat seperti adik dan kakak yang cara berkomunikasinya lewat 'fisik' dan 'adu-kuat'.

Ngomong-ngomong, kemana perginya Naruto, Ino, Sasuke dan Sai?

Oh, ternyata Naruto diminta Sakura kembali ke pasar untuk membeli bahan makanan anak anak yang dititipkan. Sisa yang ada sudah habis berkat Konohamaru untuk dibagikan pada beberapa pengemis yang datang saat Sakura sibuk di dapur tadi. Walau niatnya mulia, tetap saja dengan sungguh 'mulia'-nya anak itu dihadiahi jitakan 'mulia' oleh Naruto.

Ino dan Sai pergi ke motel tempat mereka menginap untuk menjemput Hinata. Karena Sai yang mengajukan usulan itu pada awalnya, Sasuke dengan ketus sekali menolak ikut. Padahal seharusnya Ino tetap di Blossoms untuk membantu Sakura.

Sasuke? Baru saja Sakura akan menyuruh Konohamaru untuk mencarinya, jika ia tak kebetulan terlihat tidur di ruang tengah tempat Sakura dan Konohamaru berada. Wajahnya benar benar rileks dan sangat polos. Sungguh sangat berbeda dengan ketika bangun. Iblis.

Sakura menaikkan alisnya begitu menyadari ada yang aneh dengan orang itu. "Ck, tak usah pura-pura, bodoh. Kau salah kalau mengira aku akan pura-pura terpesona dengan wajahmu, lalu aku tak jadi memintamu membantuku."

Baiklah. Apa lagi yang bisa Uchiha Sasuke lakukan agar bisa tetap tenang di waktu istirahatnya? Haruno Sakura tampaknya sangat tahu intrik-intrik itu—jangan tanya darimana—dan ia sepertinya ingin Sasuke ingat itu.

Camkan. Ino benar. Sakura benar benar Hillary-nya Jepang.

"Geez… come on, Sasuke, setelah marah marah tak jelas dengan Sai tadi, memangnya tak ada yang bisa kau lakukan? Tunjukkan kehebatanmu kalau kau memang bisa mengurus anak anak. Apalagi dia."

Sakura melirik Konohamaru. Yang dilirik hanya membuang muka.

Sasuke memutar bola matanya secara imajiner. Dia benar benar heran sekarang. Kenapa ada gadis desa berwajah polos seperti dia yang ternyata kelakuannya seperti Yamanaka Ino? Menghinanya, meremehkannya, bertengkar dengan anak umur tujuh tahun seperti Konohamaru, menantangnya, apalagi habis ini?

"Bicaramu itu, seakan sudah jadi baby-sitter handal saja. Kalau itu maumu, kau bisa bersantai sekarang di kamar. Pergilah, kuurus sendiri mereka."

Sakura menyeringai, "Oh, I wonder…"

"You want, or not?"

"Huh, yaaaa, baiklaaah."

Dan Sakura pun pergi ke lantai atas tanpa menimbulkan suara di tangga kayunya. Tunggu, itupun cara jalan yang elit, tanpa suara!

Sasuke sempat terheran juga, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Tapi, ia memutuskan untuk tak mempedulikannya. Begitu menoleh, ia baru ingat ada sesuatu yang harus diselesaikannya.

"Niisan siapanya Sakura-neechan sih?" tanya Konohamaru lugu.

"Buat apa anak ingusan tanya-tanya begitu?"

Konohamaru menyilangkan tangannya di depan dada. Oh, baiklah. Wajahnya sangat membuatnya teringat lagi dengan Sakura. Benar-benar mirip.

"Daripada itu…" Sasuke merangkul Konohamaru, "Kuajari teknik mencari perhatian gadis tanpa harus membuat masalah seperti tadi, mau?"

"Niisan bisa? Sakura-neechan saja sepertinya gak berpengaruh, tuh."

Pria emo itu hanya tersenyum masam. 'Untuk kali ini, aku setuju dengan Sakura untuk menganggap anak ini menyebalkan!' pikirnya.

"Ck, mau bukti?" tantang Sasuke. Sementara Konohamaru mengangguk mantap.

"Hn… See it,"

Sasuke memperlihatkan salah satu video di ponselnya—hasil rekaman tersembunyi milik Ino.

Saat itu ketika di sekolah, Sasuke sedang bermain truth or dare bersama teman temannya yang lain. Karena perkiraannya jika memilih truth maka akan ditanyai semua yang privasi—apalagi dia, si pangeran es dengan 1001 kemesteriusannya, pasti pertanyaannya akan sangat tidak masuk akal. Maka dari itu ia memilih dare. Tantangan untuknya, ia harus menembak salah satu gadis di sekolah yang ia anggap paling cantik di balkon lantai dua, dimana semua orang bisa melihat. Ia tahu tak mungkin memilih Hinata, jadi ia memilih Tayuya, anak cheerleader yang cantik dan populer. Dan para fangirl-nya yang menyaksikan di lapangan? Menangis meraung raung dengan tangan seolah menggapai-gapai Sasuke.

Konohamaru—dengan mata yang berbinar—hampir tidak percaya dengan video itu. Bagaimana tidak, lapangan itu luasnya dua kali lapangan sepak bola, dan penuh dengan gerombolan manusia. Dimana sebagian besar adalah para gadis yang sedang menangis! Atau dalam artian lain: mereka yang menangis adalah pengagum Sasuke!

"K-kau…" Bocah itu tergagap. Dengan jari telunjuk yang gemetaran, ia menuding Sasuke, "Bohong! Pasti kau artis! Dan itu salah satu adeganmu, kan?"

Sasuke memutar bola matanya. "Hell yeah, aku juga tidak mau dan tidak akan mempercayai ini, tapi begitulah kenyataannya."

"Baiklah… Mungkin setelah kau memberitahuku satu saja tips, aku bisa percaya," ucap Konohamaru, masih dengan pandangan tak percayanya.

"Hmm…" Untuk kesekian kalinya, Sasuke tersenyum tipis. "Ayo, kita lakukan dengan gentle." Dia merangkul Konohamaru seolah sudah akrab. Mereka ber-high five sambil tertawa-tawa.

'Oh, Kami-sama… Begini ya rasanya punya adik laki-laki?'

.

.

Sulit dipercaya memang, setelah sekian lama, Sasuke bisa tertawa sebebas itu. Dan ia akrab dengan seorang bocah—yang kepribadiannya mirip dengan Ino dan Sakura—ditambah Naruto. Konohamaru menariknya tangannya sambil setengah berlari ke ruang bermain. Tanpa sadar, ia bisa langsung menyesuaikan diri dengan anak anak itu—setidaknya sampai ada seorang ibu yang mengambil anaknya kembali—dan Sasuke membujuk si anak yang sempat kerasan di sana.

Pria emo itu tidak sadar, kalau Naruto, Ino, Hinata dan Sai sudah ada di luar dari tadi. Mereka memperhatikan Sasuke dari dinding Blossoms yang sengaja dibuat dari kaca—transparan, agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam dan udaranya tetap hangat. Sudah berapa banyak memori handphone Ino terpakai hanya untuk merekam kegiatan Sasuke itu? Bahkan ia sampai meminjam ponsel Hinata pula.

.

.

Dan Sakura… Ia melihat dari CCTV yang tersambung ke laptopnya sambil senyum senyum sendiri. Walaupun diawal dia sempat harus mengernyitkan keningnya beberapa kali, sekarang ia mengerti. Kenapa Ino dan Hinata itu tetap betah bersamanya.

"Hei!"

Sakura menggerutu ketika melihat es di gelasnya yang sudah mencair. Padahal ia suka sekali mengulum es batu yang berukuran kecil itu seperti permen. Mungkin karena AC di kamarnya tidak hidup, dan ia membiarkan jendela kamarnya terbuka membiarkan hawa sejuk—tepatnya panas masuk. Haruno itu hanya bisa menghela nafas kesal. Namun, begitu mengalihkan pandangan pada CCTV—yang memperlihatkan Sasuke yang sedang tertawa, gadis itu kembali tersenyum.

.

'Bahkan dalam sebuah kehangatan kecil saja, es sudah bisa mencair, kan?'

.

.

.

.

.

Kali ini, pandangannya tentang Sasuke: berubah.

To Be Continue


Drifter's Note!

Untuk kan-chan: oh, SasuHina itu hanya slight. Sejujurnya saya sendiri lebih suka kalau SasuHina itu saudaraan, apalagi ditambah Ino. Rasanya kalau punya saudara begitu... seru! (entah seru darimananya) terima kasih atas pujian dan reviewnya! ^^

yeah, akhirnya selesai juga! *ngelap keringet* setelah beberapa lama... rasanya gaya menulis saya jadi berubah, ya... ._.)a ah, maafkan ke-plinplan-an ini...

Mind to review?