Hi everybody!
Makasih ya untuk yang udah ngereview chapter sebelumnya ^0^
Ini chapter selanjutnya, sebenarnya 2 chapter yang dijadiin satu karena Athrun hanya muncul sedikit di chapter 3.
Enjoy ^0^
Chapter 3
Sepedaku berhenti tepat di depan toko bunga milik Madame Jasmine, tokoh yang berarti dalam hidupku. Aku mengunci sepedaku sebelum masuk kedalam toko. Di dalam, masih ada beberapa pegawai yang belum berganti shift. Aku menegur mereka sambil tersenyum.
"Selamat siang, Erika, Sai" sapaku kepada mereka berdua. Mereka sedang duduk santai dan megobrol di dekat meja kasir karena tidak ada pelanggan di dalam toko.
"Siang Cagalli" balas Erika
"Wow, kejutan kamu datang sebelum aku pulang" jawab Sai sambil tertawa cekikikan.
Aku hanya mencibir, "Kau memang pulang paling cepat dibandingkan yang lain. Bukan salahku kita jarang bertemu" Dia hanya tertawa.
Mataku mecari orang yang paling ingin aku temui, tapi aku tidak menemukannya di dalam toko. Kuputuskan untuk mencarinya di rumah kaca. Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak sambil tersenyum sendiri. Aku selalu merasa santai jika berada di taman ini. Suasananya begitu familiar, menyejukkan, dan menenangkan.
Orang yang ingin kutemui memang sedang berada di dalam rumah kaca. Beliau adalah seorang wanita separuh baya yang memiliki wajah secantik mawar dan hati seharum melati. Dia adalah pahlawanku satu-satunya.
"Selamat siang,Madame Jasmine" sapaku sambil menghampirinya. Ia tidak tampak terkejut. Ia tersenyum lembut sambil terus bekerja mencangok tanaman.
"Selamat siang, Cagalli. Apa harimu menyenangkan?" balasnya.
Ini yang aku sukai dari Madame Jasmine, ia tidak pernah berprasangka. Ia tidak pernah bertanya mengapa aku sering datang terlambat atau mengapa aku datang lebih awal hari ini. Yang ingin ia tahu hanyalah bagaimana aku menjalani hidupku sehari-hari. Ia juga satu-satunya orang yang bisa membaca pikiranku, aku tidak berani berbohong kepadanya.
"Miss Natarle memarahiku tadi pagi. Sepertinya jika ada program PHK selanjutnya, akulah yang akan dia ajukan pertama kali" ceritaku sambil membantu Madame mencangkok tanaman daffodil.
Madame Jasmine tertawa, "Percayalah, dia tidak akan berani. Kamu terlalu berharga untuk dilepaskannya"
Aku hanya menaikkan bahuku, "Sebaiknya madame melihat sosok Miss Natarle dari dekat. Aku rasa dia tidak sebaik itu"
Aku mengambil pot bunga yang sudah selesai ke rak-rak yang ada di pinggir kaca. Setelah itu aku kembali lagi ke sisi Madame Jasmine, sesekali menguap karena udara hangat yang ada di rumah kaca.
"Kamu terlalu banyak bekerja,Cagalli" ujar Madame Jasmine yang melihatku menguap untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak apa-apa madame, hanya udara ha—" ucapanku dengan cepat dipotong oleh madame.
"Udara hangat hanyalah faktor pendukung. Kondisi badanmulah yang merupakan faktor utama" potongnya, "Kurangi waktu bekerjamu, badanmu sudah dalam tahap jenuh"
"Badanku tidak apa-apa,madame, percayalah" aku masih keras kepala, "lagipula aku sudah tidak bekerja lagi di hari minggu"
Madame Jasmine tersenyum kaku, "ini bukan yang diinginkan oleh ayahmu,Cagalli" ia berkata dengan nada penuh simpati, "ia akan menangis jika melihatmu seperti ini"
Ekspresi wajahku berubah, topik pembicaraan ini sangat sensitive untukku. Sambil sedikit membuang muka,aku melanjutkan pekerjaanku tanpa menjawab. Aku tidak melihat ekspresi Madame Jasmine saat itu,tapi aku yakin dia sedang tersenyum. Terkadang aku menyesal dia bisa membaca seluruh pikiranku.
Keadaan airport sore itu lain dari biasanya. Bukan karena ada isu bom atau artis mancanegara yang datang, tapi karena pandangan orang-orang tertuju kepada seseorang yang memakai kacamata hitam dan berjalan santai sambil menyeret-nyeret koper kecil berwarna krem muda miliknya. Ia berhenti tepat di depan mesin penjual minuman. Laki-laki itu meneguk habis minuman yang baru dibelinya lalu melemparnya kearah kotak sampah tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Mulai menyadari pandangan aneh dari sekelilingnya, laki-laki itu tetap diam dan tanpa ekspresi. Ia kembali berjalan dengan langkah yang lebih lebar dari yang seharusnya. Begitu keluar dari gedung airport, seorang laki-laki setengah baya berpakaian rapi datang menyambutnya dan langsung mengambil koper yang dibawa laki-laki muda tadi.
"Selamat datang kembali, tuan muda" laki-laki setengah baya itu menyapa 'tuan muda' dengan senyuman yang sangat menawan.
Tuan muda itu diam sebentar sambil memperhatikan sekelilingnya. Tangan kanannya melepas kacamata hitam yang bertenger di matanya,memperlihatkan warna emerald yang tersembunyi. Ia tersenyum sedikit kearah laki-laki tua itu, "Senang berjumpa denganmu, Thomas. Kota ini banyak berubah"
Thomas tertawa kecil, "Anda meninggalkan kota ini terlalu lama, tuan muda Athrun. Senang rasanya melihat keluarga Zala akan berkumpul kembali mulai hari ini"
Athrun Zala mengangguk kecil.
"Lewat sini…" Thomas mulai berjalan kearah sebuah mobil mewah yang terparkir di tempat khusus. Ia membuka pintu untuk Athrun lalu memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
"Apakah Anda ingin langsung pulang ke rumah atau ingin singgah ke tempat lain,tuan muda," Tanya Thomas sesaat mobil keluar dari parkiran airport.
"Perpustakaan kota. Ada yang ingin aku cari disana"
Setiap hari jumat aku selalu mampir ke perpustakaan, bekerja disana. Perpustakaan setiap harinya melakukan open recruitment. Tidak ada ikatan bahwa pekerja harus bekerja setiap hari, kalian boleh datang sesuka hati untuk bekerja dan pulang dengan sedikit uang. Alasan aku bekerja di perpustakaan karena aku ingin membaca buku sekaligus mendapat tambahan uang jajan untuk diriku sendiri.
Hari ini perpustakaan relatif sepi. Hal ini memang sering terjadi di jumat atau sabtu malam,banyak orang memilih untuk pergi ke tempat yang menyenangkan dibandingkan ke tempat ini.
Aku sengaja datang lebih awal agar aku bisa menempati kursi resepsionis. Aku sudah terlalu capek untuk bergerak dan memanjat tangga untuk menaruh buku. Tapi rupanya tidak hanya aku yang berpikir begitu. Seluruh kursi resepsionis sudah penuh dan sepertinya mereka akan betah berlama-lama disana.
Sambil mendesah pelan aku mengambil dorongan yang berisi buku dan mendorongnya pelan. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri sampai akhirnya seseorang menegurku.
"Cagalli!"
Tanganku berhenti,"Auel?"
"Hei! Aku kira kamu tidak datang hari ini" jawabnya ceria.
"Bukannya aku selalu datang setiap hari jumat"
Dia jadi salah tingkah,"oh ya maaf.. Aku lupa hari ini hari jumat,hehe.."
Aku tersenyum,"tidak apa-apa" kemudian aku melanjutkan pekerjaanku. Aku masih bisa merasakan tatapan matanya ke arahku, "ada apa?"
"Tidak.. Tidak ada apa-apa" dia salah tingkah lagi, "hanya saja.."
"Hmm.." Aku sedikit menaikkan alis kananku.
"Kau tau besok akan ada festival di alun-alun kota,kan?" Tanyanya
Aku mengangguk,"aku melihat posternya dimana-mana"
"Aku hanya berpikir bag--"
"Hei kalian berdua!!" Seseorang tiba2 memotong ucapan Auel,ia berdiri di belakangku.
"Bisakah salah satu dari kalian menggantikanku di resepsionis? Aku harus pulang" ujar laki2 muda itu.
Aku jadi senang,"biar aku saja!"
Laki2 itu mengangguk,"terima kasih" ujarnya lalu pergi.
Aku kembali menatap Auel,mukanya kusut dan sepertinya memaki laki-laki itu,"jadi.. Apa yang ingin kau katakan tadi?"
"Sudahlah.. Lain kali saja,kau harus ke meja" jawabnya.
"Baiklah,sampai jumpa nanti" aku sedikit melambai kepadanya lalu berjalan menjauh. Aku duduk di salah satu meja resepsionis kosong dan berkenalan dengan dua orang wanita yg duduk di samping kanan dan kiriku. Tidak ada pekerja tetap disini sehingga kau akan jarang menemukan orang yang sama.
Aku membuka buku yang tadi kubawa dan mulai membacanya. Waktu kosong seperti inilah yang kugunakan untuk membaca buku.
"Permisi..."
Aku sedikit terkejut dan langsung mendongak. Didepanku berdiri seorang laki-laki muda dengan wajah yang menawan. Kulitnya putih seperti wanita dan rambutnya yang berwarna biru membuatnya bertambah spesial. Tapi dia mirip dengan seseorang...
Alis laki2 itu berpadu melihatku,akupun langsung tersadar.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku sedikit terbata2.
Tanpa berbicara dan tetap memandangku dengan tatapan tidak suka,ia menunjuk ke arah tumpukan buku yang ada di atas meja.
Aku mengambil buku2 itu," boleh saya pinjam kartu perpustakaan Anda?"
"Tidak ada" jawabnya singkat.
"Maaf tuan,tanpa kartu Anda tidak bisa meminjam buku. Mau saya buatkan dulu kartu untuk Anda?"
"Aku tidak pernah menggunakan kartu" kali ini kalimatnya sedikit lebih panjang.
"Jadi Anda menggunakan apa?" Tanyaku penasaran.
"Apa kau pegawai baru?" Laki2 itu berbalik tanya.
"Tidak juga.. Saya sudah 2 tahun bekerja disini dan tidak pernah menemui kasus seperti Anda"
"Berarti baru..." Kesimpulan yang dibuatnya tidak masuk akal bagiku,"mana Mrs. Leila ?"
"Mrs. Leila sudah tidak bekerja disini"
"Jadi yang tersisa hanyalah pegawai2 baru?"
Aku tidak menyukainya, "Maaf tuan,saya tidak mengerti maksud Anda. Tapi jika Anda mau meminjam buku disini,Anda harus menggunakan kartu"
"Kau keras kepala" kenapa ia tiba2 menghinaku?
"Sepertinya Anda yang keras kepala" suaraku mulai sedikit meninggi.
"Panggilkan pimpinanmu disini"
"Saya rasa masalah ini tidak perlu melibatkan pimpinan"
"Apa kau takut dipecat?" Ia bertanya dengan senyum mengejek.
Aku menarik nafas dalam2,orang ini mengetes kesabaranku, "disini orang bekerja sukarela,tidak ada yang mendaftar secara resmi ataupun dipecat secara resmi. Jika Anda tidak ingin membuat kartu,maka tidak usah meminjam buku dari sini!"
"Kau juga cerewet" apa-apaan orang ini.
"Athrun??"
Laki2 itu berbalik. Ia tersenyum kepada yang datang tanpa diundang kesini. adalah pimpinan perpustakaan.
menjabat tangan laki2 menyebalkan itu sambil menepuk bahunya, "bagaimana kuliahmu? Kalau kau sudah kembali kesini berarti kau sudah menyelesaikannya"
Laki2 itu mengangguk,"aku akan membantu papa disini sambil mengambil S2"
"Hahaha.. Kau sudah hebat seperti papamu,athrun!"
"Terima kasih"
kemudian melihatku yang memasang tampang jutek karena kejadian tadi.
"Well.. Well.. Well.. Ada masalah apa ini?" Tanyanya.
"Apakah dia pegawai baru?" Lagi2 dia menyebut kata pegawai baru.
"Maksudmu Cagalli? Mungkin ia pegawai paling senior disini,tidak ada orang yang mau bekerja lama2 di perpustakaan sekarang ini" jawab .
"Apakah disini ada pengecualian orang meminjam buku tanpa menggunakan kartu?" Tanyaku, "padahal aku pikir disini semua orang sama"
"Meminjam buku tanpa kartu? Apa maksudnya?" Pandangan beralih ke laki2 itu.
"Mrs. Leila membiarkanku" jawabnya singkat.
hanya tertawa, "maafkan aku athrun,sepertinya kali ini kau harus membuatnya,aku tidak ingin kehilangan pegawai seniorku lagi"
Laki2 yang dipanggil Athrun itu memandangku. Aku balas dengan tatapan mengejek.
Ia menghampiri meja lalu mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya, "kali ini kau menang"
Aku tidak membalas dan berpura2 sibuk mengurusi kartu miliknya. Ia terlihat mengobrol santai dengan .
"Sepertinya perusahaan papamu semakin hari semakin besar" aku mendengar berbicara.
"Terima kasih" laki2 itu sangat irit berbicara.
Aku memutuskan untuk tidak mendengar pembicaraan mereka lagi. Aku melihat kartu identitas laki2 itu,perasaanku benar. Aku merasa ia mirip dengan seseorang yang tak lain tak bukan adalah muridku sendiri,Alex..
Athrun Zala.
Aku tidak tahu kakaknya begitu menyebalkan. Aku harap aku tidak akan berurusan lebih lanjut dengannya.
It's done!
Sebenarnya aku mengalami masalah dengan fanfiction, entah mengapa text yang kuedit tidak bisa disave dan banyak nama tokoh yang hilang dengan sendirinya ==.
Jika kalian menemukan hal yang demikian, tolong beritahu saya ^0^
terima kasih
please review
