Ia mengingat betul bagaimana ia dan Baekhyun bertemu. Saat itu mereka memasuki hari pertama sebagai siswa sekolah dasar. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Baekhyun kecil menangis saat beberapa anak bandel merebut boneka rilakuma yang selalu Baekhyun bawa kemana-mana.

"Kembalikan bonekanya atau akan kubuat kalian pulang sambil menangis!"

Semua orang disana menoleh, Termasuk Baekhyun yang masih sesegukan. Anak itu Jongin sambil memasang kuda-kuda dan kepalan tangan menatap dengan wajah seolah menantang anak bandel itu dan berujung dengan Jongin yang meringis memegang perut nya yang nyeri.

Satu lawan tiga, Mana yang menurut kalian akan menang?

Baekhyun kecil berjongkok di sambil tubuh Jongin yang masih meringkuk karena nyeri di perutnya.

"Kau bodoh! Jika tak bisa berkelahi ya sudah jangan ikutan!" Baekhyun kecil membentak lalu menangis dengan kencang.

Jongin segera mendudukan tubuh nya, Dan gelapan melihat Baekhyun yang menangis degan kencang. "Hey, Jangan menangis. Maafkan aku tak bisa mengembalikan boneka mu."

Tapi Baekhyun kecil makin menangis kencang. Hidung dan telinga nya memerah.

Jongin kecil dengan kikuk memeluk tubuh yang bergetar itu. "Jangan menangis, Aku akan belajar berkelahi agar boneka mu tak di ambil lagi."

"Kau bodoh! Nanti kau terluka bagaimana, Bodoh!"

Jongin kecil melepaskan pelukannya dan menggaruk tengkuk nya sambil nyengir. "Aku kan laki-laki luka sedit tak apa-apa."

Tangisan Baekhyun kecil terhenti walaupun masih meninggalkan isakan tersendat ia bersuara. "Aku juga laki-laki."

Mata Jongin kecil melotot. "Benarkah?"

Baekhyun kecil mengangguk dengan cepat lalu menyedot cairan dihidung nya dengan lucu.

"Tapi kau cantik sekali, Aku menyukaimu. Ayo kita pacaran!"

"Huwaaaaaaa... Ibuuuuuuuuuu!"

Byun Baekhyun

Park Chanyeol — Oh Sehun

All Other

ChanBaek

BoyXBoy

Yaoi

ChanBaek Area

Love and U

Note : Huruf miring (italic) itu artinya flashback an ya. Well, Ini ff tercipta karena rasa kesal diriku terhdap perlakuan Chanyeol sama Baekhyun yang keterlaluan. Jadi ff ini tercipta untuk menistakan tiang bernama Park Chayeol. Jangan dibaca jika tak suka dan please Review jika membaca nya. Lestarikan review setelah membaca. Itu penting untuk author nya.

Baekhyun tidak pernah mengerti apa yang tengah lelaki tinggi yang berada di hadapannya ini pikirkan. Saat menjalin hubungan dengannya lelaki ini malah bermain api dengan lelaki lain tapi setelah Baekhyun mengakhiri hubungannya seolah tak terjadi apa-apa lelaki ini ingin kembali padanya, Baekhyun merasa telah dipermainkan selama ini. urat pelipisnya berdenyut pening, Mata nya menatap tak percaya pada ucapan Chanyeol, Mantan kekasihnya.

"Chan— Ini..." Baekhyun menghela nafas kasar.

"Kita belum berpisah, Baek. Tidak, Dan tak akan pernah."

"Jangan egois, Chan." Baekhyun bersuara tak percaya akan ucapan lelaki tinggi ini.

"Kau yang egois, Baek. Kau memutuskan hubungan kita secara sepihak dan setelah itu kau pergi berkencan dengan lelaki lain! Tidak kah itu egois—" Ucapan Chanyeol terhenti, Wajahnya menyamping akibat tamparan si mungil. Chanyeol kembali menatap si mungil di depannya yang kini mata nya berkaca-kaca.

"Tidak kah kau pikiran kenapa aku mengakhiri hubungan kita, Chan? Tidakkah kau pikirkan kesalahanan mu?" Baekhyun bertanya dengan payah, Dada nya bergerumuh hebat. Tangannya masih bisa merasakan panas akibat menampar Chanyeol beberapa waktu lalu.

Kaki Chanyeol melangkah mendekat tapi selangkah Chanyeol mendekat, Selangkah juga Baekhyun megambil mundurr. Dengan air mata yang mulai megalir Baekhyun menatap tepat pada bola mata kelam itu. menatap seolah lewat pancaran mata itu bisa mengatakan bahwa ia yang amat terluka dengan sikap Chanyeol.

Nafas Chanyeol seolah tercekat, Tangannya terangkat menyentuh pipi putih milik Baekhyun yang dibanjiri air mata. Mengusap secara berlahan air mata itu dengan hati-hati.

"Aku takut, kau akan menjadi kerinduan jika aku menghapusmu, Jadi aku tak bisa membiarkanmu pergi. Tidak kah kau tahu aku begitu menyesal, Baek?"

"Sebuah penyesalan selalu datang terlambat, Tidak ada yang bisa kulakukan lagi untukmu, Chan." Tangan Baekhyun terangkat, Menggenggam tangan Chanyeol yang berada di pipinya lalu melepaskannya secara berlahan. "Kita tetap berakhir." Lalu berbalik, Meninggalkan Chanyeol dan menghampiri lelaki albino yang sedari tadi memperhatikan mereka.

Baekhyun tersenyum dengan terpaksa pada lelaki albino itu.

"Jangan tersenyum seperti itu." Sehun berucap, Menarik tubuh mungil itu mendekat dan memeluk nya erat membiarkan si mungil menangis di dadanya. lalu pandangannya bertemu dengan lelaki tinggi lain.

"Jangan bercanda." Baekhyun berdecak lidah, Memukul dada bidang kekasihnya.

"Aku sedang tdak bercanda, Baek." Chanyeol memutar mata nya. Lengan nya semakin erat memeluk lelaki mungil itu.

"Oke, Baiklah." Baekhyun terkekeh jenaka. Mendongkak lalu mengecup bibir kekasihnya itu. "Jadi, Apa yang akan kau lakukan pada cinta pertama mu ini?" Lalu kembali terkekeh.

"Baek, Please.. Aku serius mengatakan bahwa kau cinta pertama ku. Jangan tertawa." Lalu tangan besar Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, Mencubit gemas pipi putih bersih itu.

Baekhyun merengut dengan lucu, Kepalanya ia gerakan ke samping dan menggigit pelan punggung tangan Chanyeol.

Chanyeol pura-pura meringis kesakitan. "Hya! Kenapa menggigit ku, Aduh tanganku."

Baekhyun melepaskan gigitannya dan tertawa lepas. Membuat Chanyeol ikut tertawa dan memeluk erat tubuh mungil itu.

"Kau tahu aku sangat mencintai mu, Bukan?" Chanyeol bertanya sambil memainkan anak rambut milik Baekhyun.

Baekhyun menganggik dalam pelukan Chanyeol, Semakin menenggelamkan wajah nya di dada bidang kekasihnya.

"Aku sangat mencintaimu dan kau akan menjadi cinta pertama dan terakhir untukku."

Baekhyun merenggangkan pelukannya, Kepalanya mendongkak menatap wajah tampan kekasihnya. "Kau berjanji?"

Chanyeol balik menatap mata milik kekasihnya itu. "Aku berjanji, Baek."

Sudut Bibir Baekhyun terangkat keatas, Garis matanya melengkung membentuk eye smile yang indah. "Akan ku bunuh jika kau ingkar." Ucapnya lalu kembali memeluk Chanyeol dengan erat.

Tubuh tinggi Kris terhempas ke dinding, Belum sempat ia berdiri dengan benar satu pukulan mengenai rahangnya dengan keras. Bibir nya meringis mersakan nyeri tapi kemuadian bibir nya membentuk seringai tipis.

"Bukan kah sudah ku peringatkan untuk tidak mendekatkan mereka berdua lagi, Apa maksud mu mempertemukan mereka, Sialan!"

Kris terkekeh pelan. "Kapan kau akan membuka topeng domba mu, Jongin? Aku sudah muak ngomong-ngomong." Bibir nya menyeringai tajam.

"Brengsek!" Satu pukulan kembali Jongin layangkan pada rahang Kris. "Akan ku singkirkan semua yang menyentuh Baekhyun-ku. Termasuk kau, Kris!" Jongin menatap tajam Kris lalu berbalik untuk meninggalkan nya sampai suara Kris menghentikan langkahnya.

"Bukan kah Cinta pertama tidak akan pernah berhasil, Jongin."

"Apa maksud mu?" Jongin berbalik, Kembali menatap tajam Kris.

"Baekhyun, Bukan kah dia cinta pertama mu? Apa aku salah?"

"Berhenti berbicara omong kosong, Jangan sama kan aku dengan cinta pertama mu yang berakhir menyedihkan, Kris." Jongin balik menyeringai. Kaki nya melangkah mendekati Kris dengan tatapan remeh. "Cinta pertama mu, Yang lebih memilih mati bersama sahabat mu sendiri. Bukan kah begitu menyedihkan?" Raut wajah Jongin sendu dibuat-buat dengan seringai remehnya. "Nana pasti bahagia dengan Baekboom di surga sana, Kris." lanjut Jongin.

Tubuh Kris kaku dengan rahang nya yang mengeras, Menatap penuh benci pada Jongin yang menyeringai kepadanya.

Di sisi lain, Di balik sebuah tembok lelaki albino itu mendengar semua percakapan Kris dan Jongin. Ia mendengus tak percaya akan apa yang ia dengar. Bibir nya menyeringai tipis kemuadian kaki nya melangkah pergi.

• • •

Baekhyun menghela nafasnya beberapa kali, Langkah nya terasa berat saat menapaki lorong koridor sekolah nya. Ujian kelulusan sudah hampir didepan mata tapi pikirannya tidak bisa fokus bahkan untuk membaca sebuah buku. Langkah nya ia bawa ke perpustakaan sekolah, Cinta memang rumit seperti sebuah rumus matematika tapi rumus matematika bisa ia pecahkan dengan mudah bukan seperti sebuah cinta. Berbelit, Rumit dan yang paling menjengkel kan dimana sebuah permainan takdir didalam nya. Baekhyun menyalahkan hormon remaja nya yang masih haus akan sebuah cinta, Tapi seolah ditampar oleh takdir, Baekhyun berpikir bahwa yang harus ia selesaikan adalah pendidikan nya sekarang. Ujian tinggal beberapa minggu lagi ia tak bisa bermain-main dengan yang namanya.

"Rumus nya tidak akan selesai jika kau hanya melamun seperti itu." Suara seseorang menyentaknya.

Baekhyun menolehkan kepala nya ke kiri dan kekanan tapi tak menemukan asal suara itu dari meja yang sedang ia duduki sekarang.

Seseorang itu menghela nafas nya pelan. "Aku di belakang mu, Pria mungil-Ku."

Baekhyun kembali tersentak, Kepalanya menoleh dengan cepat ke belakang dan mendapati Jongin yang sedang berdiri di belakang nya. Bibir nya tersenyum melihat sahabatnya itu lalu setelah nya merengut dengan lucu.

"Kenapa?" Alis Jongin menungkik bingung.

"Kenapa kau selalu memanggil ku begitu, Aku tidak suka." Rajuk nya masih mempertahankan bibir nya yang merengut.

Jongin mengusap surai Baekhyun dengan gemas lalu terkekeh melihat rambut Baekhyun yang berantakan karna nya. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Tidak biasa nya kau kesini." Jongin bertanya sambil menarik kursi di sebelah Baekhyun dan mendudukinya, Kepalanya bersandar pada tangannya yang siku nya ia tekuk pada meja.

"Beberapa minggu lagi kita ujian dan aku dengan bodoh nya belum mempersiapkan apapun, Peringkat ku akan turun lagi." Baekhyun masih merengut lalu wajah nya ia tenggelamkan pada halaman buku.

"Nanti aku beri contekan." Suara Jongin terdengar santai, Tangan nya kembali ia jatuhkan pada surai si mungil.

"Bagaimana bisa begitu, Itu kan curang." Baekhyun kemudia menegakkan kepalanya. "Lagi pula kau kan peringkat akhir, Mau menarik ku jatuh ke jurang yang sama? Menyebalkan."

"Nanti aku akan belajar yang rajin agar kau bisa mencontek dengan ku."

"Haish,, Kau ini tidak bisa berubah." Sambil merengut Baekhyun berdiri dan berjalan sambil menghentak-hentak kan kakinya.

"Bagaimana aku bisa berubah jika kau masih Baekhyun-ku yang dulu." Jongin bergumam. memperhatikan bagaimana tubuh Baekhyun yang semakin menjauh darinya.

• • •

"Sun— Sunbae..." Mata burung hantu itu menatap tak percaya sosok lelaki di depannya sekarang, Wajah nya ia tundukan takut dan mata nya bergerak gelisah tidak berani menatap senior yang selama ini ia kagumi selama dua tahun terakhir.

"Kau tidak lupa bukan apa yang ku ucapkan beberapa hari yang lalu?" Jongin dengan wajah nya tang datar berlahan melangkah kan kaki nya mendekati si mungil. "Kau sudah berjanji bukan untuk melakulannya?"

Kepala Kyungsoo terangkat dengan gerakan kaku, Melihat bagaimana wajah yang sering ia puja dihiasi oleh seringai kejam. "Ten—Tentu aku ingat... Sunbae, Tapi—"

"Kenapa? Kau takut dan ingin menyerah?"

"Sun—Sunbae..." Kyungsoo beringsut mundur saat tubuh Jongin terus memojokkan tubuhnya.

"Hanya dekati saja mereka, Buat mereka menjauhi Baekhyun."

"Tapi... Mereka menyayangi Baekhyun dan—"

"Omong kosong, Kyungsoo!" Jongin berteriak tepat di wajah lugu Kyungsoo. "Mereka hanya ingin mempermainkan Baekhyun! Mereka semua hanya seorang brengsek yang ingin merusak Baekhyun!" Mata Jongin menyala marah, Kerah baju Kyungsoo ia tarik hingga membuat lelaki mungil itu meringis.

"Sunbae..."

Tangan Jongin tiba-tiba melemah. "Kau tahu bahwa aku haya ingin menjaga Baekhyun. Dia seperti keluarga untukku." Tatapan Jongin berubah sendu. "Kau ingin membantu ku, Bukan?" Tangan Jongin terangkat, Mengusap pelan pipi putih milik Kyungsoo.

Kyungsoo ikut menatap wajah itu sendu. Perlahan dengan gerakan kaku ia mengangguk kan kepalanya. "Tentu, Karena aku mencintai sunbae. Akan aku lakuka apa pun." Bibir hati milik nya tersenyum dengan manis.

Jongin ikut tersenyum. Tubuh Kyungsoo yang awalnya ia sudut kan berlahan kaki nya melangkah mundur. "Masuk lah ke kelas mu, Sebentar lagi bel berbunyi."

Kyungsoo mengangguk, Tangan nya melambai sebentar dan melangkah meninggalkan Jongin.

Setelah Kyungsoo menghilang pada tikungan, Bibir yang awalnya membentuk sebuah senyum berubah menjadi seringai yang kejam. "Hanya aku yang bisa menjaga Baekhyun dan hanya aku yang bisa menyentuh dan memilikinya, Tak akan ada yang bisa, Kyungsoo."

• • •

Wajah datar miliknya menatap dengan malas rentetan kalimat di layar laptop miliknya, Helaan nafas ia hembuskan saat sesuatu di dalam rongga dada nya berdetak tidak karuan, Sekilas wajah tersenyum kekanakan Baekhyun kembali memenuhi otaknya. Kepala nya dengan cepat menggeleng, Menyingkirkan pikiran yang mungkin akan merusak rencana nya.

Ponsel nya berdering, Dengan ragu-ragu ia menggeser ikon hijau dan mengangkat benda tipis persegi itu ketelinganya. "Ya, Ayah?"

"Kau sudah mendekati si Byun itu?"

"Tentu, Aku ahli nya."

"Bagus, Bagaimana pun juga kita membutuhkan keluarga mereka. Ingat rencana awal yang telah kita susun."

"Tentu saja, Tapi bagaimana bila aku..." Sehun menjilat bibir nya gugup. Kilasan bagaimana wajah tersenyum Baekhyun kembali memenuhi pikirannya.

"Bagaimana apa? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta dengan anak mereka?"

Tubuh Sehun menjadi kaku, Bola mata nya bergerak gelisah akan kemarahan sang ayah namun suara gelak tawa membuat kening nya berkerut bingung.

"Tidak ku sangka akan secepat itu, Tak masalah untukku. Tapi jangan pernah terperdaya oleh cinta mu, Sehun. Karena pada akhirnya kau harus menikahinya. Membuat si Byun itu terperdaya dan memberikan semua yang kita inginkan. Jangan lupakan perjuangan Nana, Sehun."

Pandangan Sehun berubah tajam. "Tentu aku mengingatnya, Tapi aku tak akan pernah berakhir seperti nya. Ingat itu." Sambungan itu ia akhir, Meremat ponsel nya dengan erat.

"Kau dalam masalah Oh Sehun, Bagaimana bisa kau mendapatkan cinta pertama di situasi yang seperti ini." Sehun bergumam. Tangan nya yang lain terangkat, Menyentuh dada nya yang bergerumuh hebat. "Benar-benar dalam masalah."

• • •

Kaki nya terus ia langkah kan dengan cepat, Menulikan telinga nya akan teriakan si jangkung yang terus mengejar nya di belakang. Si mungil mengigit bibir nya gelisah karena lelaki itu terus mengejar nya sambil meneriakan namanya. Sedangkan disisi lain, Chanyeol dengan tergesa-gesa mengejar lelaki mungil itu, Mengabaikan bagaimaa umpatan orang-orang yang ia tabrak. Ketika tubuh mungil itu semakin dekat, Ia raih tangan si mungil. Menahannya untuk tidak kabur lagi.

Baekhyun merengut saat merasakan telinga nya gatal oleh sekuncup bunga yang terseling di daun telinganya, Tangan nya terangkat ingin melepaskannya namun pergerakan nya di tahan oleh lelaki jangkung yang paha nya menjadi bantalan ia berbaring di bawah sebuah pohon di sebuah taman.

"Ini gatal, Yeol.." Baekhyun merengut dengan gemasnya.

Chanyeol hanya nyengir bodoh dan terus mengarahkan kamera ponsel nya pada Baekhyun. "Kau cantik."

Baekhyun menggigit bibirnya, Pipi nya terasa panas akan dua kata yang si tinggi baru ucapkan. "Tapi aku kan laki-laki.." Lirih nya.

"Ya, Laki-laki yang cantik dan ibu dari anak-anak ku." Chanyeol meletakkan ponsel nya di rerumputan, tangan nya yang besar mengusap berlahan pipi si mungil yang berbaring di pahanya. "Aku ingin mencium mu, Bagaimana ini..."

"Idiot!" Baekhyun semakin merengut untuk menutupi pipinya yang amat memerah bibir nya ia kerucutkan menahan senyum yang ingin terukir di wajahnya.

"Sekali saja..." Chanyeol terus berusaha, Tubuh nya sedikit menunduk mengikis jarak wajahnya dengan Baekhyun.

"Nanti juga bilangnya sekali lagi.." Suara Baekhyun mencicit saat hidung mereka kini bersentuhan.

"Ya sudah, Dua kali saja.."

"Tidak mau..." Namun bibir mereka menyatu dengan sebuah ciuman lembut dan berakhir dengan sebuah lumatan yang sensual. Baekhyun menutup matanya dengan erat, Sedangkan Chanyeol membuka sedikit mata nya, menikmati pemandangan saat bagaimana mata indah itu terpejam karena perlakuannya.

Baekhyun menolehkan kepalanya, Nafasnya tersengal dengan keringat di pelipisnya

"Baekhyun..." Nafas Chanyeol ikut tersengal. "Kumohon.. Ayo kita bicara lagi, Kita perlu—"

"Sunbae..."

Namun sepasang tangan lain menarik pergelangan tangan Chanyeol yang lain dari belakang. Chanyeol melirk tangan itu, lalu melarikan pandangannya pada si pemilik yang menarik tangannya.

Kyungsoo dengan senyum bentuk hati miliknya menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit Chanyeol artikan.

"Kita perlu bicara, Sunbae." Ucap Kyungsoo masih mempertahankan lengan Chanyeol di genggamannya.

Baekhyun melihat inteaksi keduanya. Bibir nya membentuk sebuah senyum miris, Berlahan tangannya yang lain terangkat melepaskan tangan Chanyeol. Chanyeol tidak meyadarinya karena terlalu fokus kepada Kyungsoo, Hingga kaki Baekhyun melangkah mundur ia tetap tidak sadar dan terus memandang wajah Kyungsoo.

Di saat yang bersamaan, Di balik pilar sosok tinggi lain bersembunyi dengan seringai yang tajam. "Cinta pertama memang tidak akan pernah berhasil." Gumam nya.

• • •

TBC!

• • •

A/n : Oke, ini gue tau melenceng dari apa yg gue bilang buat menistakan si Yolo :" Dan ini gue tau ini chp terburuk yang pernah gue ketik :" tidak ada yg fluff dan sangat ngaur :" Ada yg bisa nebak ini ff bakal jadi apaan? Soal nya gue sendri gak tau ini jadi ff apaan :"V plot nya ngembag begitu aja, dan chp ini si Yolo beneran brengsek yah :"V /eh kok gue kek ripiu yah hahaa. Dan juga, ini plot jadi ngembang kek bolu yg dimasukjn keopen dikarenakan aku baca salah satu review yg bilang Jongin 'lick' banget gitu jadi yeah begitulah, makasih yah buat kamu /cipokin /digampar. Seharusnya ff ini selasai dan di update pada malming kemaren cuma dikarenakan akutu lagi banyak pikiran jadi begink deh. maap juga kalo ada typo nih :" Keybord akutu rusak syalan pengen aku kunyah rasanya ini keybord duh :" btw akutu selesain ngetik nya sambil liat angsa berantem yawloh nista ya /jadi ooc deh. Kecepatan update ff itu tergantung review dan sebenernya gak mudah buat fast update, tapi aku selalu usahain buat tepat update di malam-malam para jones kesepian /digampar. So, ada kah yg mau ini di lanjut lagi? Hahaha

Thanks for review :

whiteshades, selepy, BaekhyunOh, bbkhyn, FlashMrB, Kanaya Ozi, MiraKimLu, myzmsandraa99, Ricon66, LyWoo.

Keep review yah kesayangan :"*