Makasih banget buat Reviewers :)
kalian bikin aku tetep nerusin cerita ini. Ini multi-chap pertama aku, yaampun aku kira bakalan gak ada yang baca :') *terharu beneran*

buat thya. : maaf ya aku kemaren typo nulis nama kamu ( ._.) *peluk :D

Antares Malfoy : yang ternyata akunnya belom sembuh-sembuh juga, makasih yah XD

DracoDormiens137-ELF : iya Draconya ngambek XD rencananya sih ada, tapi aku suka berubah-ubah pikiran disaat-saat terakhir ._. tetep review ya :)

Maria Magdalena Roseline : Maria, aku cengar cengir sendiri XD ide kamu bagus :D aku ambil sedikit (atau banyak mungkin :p) buat dimasukin ke Something New ini yah XD makasih lho idenya keren B). tetep Review yah :)

Christabelicious : iya, chapter dua memang aku bikin campur aduk, mungkin karena aku juga lg campur aduk kali yah XD tetep review yah :))

Shinta Malfoy : Makasih shinta, aku berusaha memperbaiki kekurangan tulisan ku, mudah-mudahan lebih baik lagi ya di Chapter 3 ini. belum tau sampe berapa Chapter hihihi mungkin 5 :D tetep review yah :)

Semoga kalian suka :) selamat membaca :)


All Character belong to J. K. Rowling

Something New

Chapter 3

Pukul 23.59 Hermione's Flat


Sudah lebih dari lima jam, Hermione hanya duduk di depan jendela sebuah ruangan di lantai dua Flat munggil tersebut, jendela itu menghadap langsung ke halaman Flat-nya. Sekarang, kepalanya terasa pusing dan perutnya yang belum diisi sama sekali sejak kemarin malam, mulai terasa mual. Dia merasa kosong, rasanya semua yang dilakukannya sepanjang hari salah.

Ginny dan Harry mengunjunginya sore tadi, saat dia mulai duduk termenung di ambang jendelanya. Mereka ikut menyesal dengan apa yang terjadi padanya. Disela-sela diamnya, Hermione mendengar bagaimana Ginny membicarakan betapa bodohnya Ron dengan nada marah yang mirip sekali dengan Mrs. Weasley, walaupun dia tidak melihat Ginny secara langsung, dia tahu pasti Ginny marah dengan tangan di pinggangnya, itu kebiasaaannya. Sedangkan Hermione tidak menangkap satu katapun yang di katakan Harry, tapi dia merasakan pelukan seorang sahabat yang diberikan Harry.

Ginny yang tampak kesal memaksanya untuk makan, tapi apa daya, Hermione yang sama sekali tak mempunyai nafsu makan, hanya diam memandang bukit kecil di kejauhan. Akhirnya keduanya menyerah memaksanya makan, bahkan menyerah untuk berbicara padanya, karena Hermione hanya diam seperti mayat hidup. Mereka pulang dalam kekalahan.

Alarm sihirnya berbunyi hampir setiap satu jam sekali sejak kemarin malam, menandakan orang yang tidak diinginkan sedang berusaha menembus pertahanan yang dipasanganya di sekitar Flat itu. Mantra alarm sihir ini berfungsi hampir sama dengan mantra fidelius, hanya bedanya tak perlu seorang penjaga rahasia. Kau hanya perlu menyebut nama orang yang tidak kau harapkan datang ketempat dimana mantra ini dipasang. Dan satu nama yang Hermione sebut saat mendaraskan mantra ini adalah Ronald Bilius Weasley.

Ron berkali-kali mencoba bertemu dengan Hermione seharian ini, tapi dia telah berbicara pada, Mrs. Fluge- asistennya yang baru di Departemen Kerjasama Sihir Internasional- untuk tidak membiarkan siapapun menemuinya hari ini.

Sepanjang hari ini, dia hanya duduk memandang kosong ke tumpukan perkamen di atas meja kerjanya, surat-surat penawaran pengimporan barang, surat-surat yang membahas tentang Kerjasama Politik dan Keamanan dengan Asia, dan beberapa laporan yang harus diperiksanya, hanya tergeletak tanpa disentuh. Padahal ini adalah hari pertamanya di Departement Kerjasama Sihir Internasional. Mungkin besok dia akan dipanggil oleh Perdana Menteri atau salah satu Staffnya dan dipecat saat itu juga kalau kinerja kerjanya tetap seperti itu. Namanya akan langsung masuk ke halaman depan Daily Prophet, dengan judul besar 'Seorang pegawai Kementerian yang hanya menjabat 24 jam sebagai Kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional'.

Bagus sekali! Ron-si-idiot-Weasley telah menghancurkan hidupku hanya dalam sekejap mata. Batinnya berang.

Setelah lama terdiam, Hermione menghela nafasnya, rumah ini terasa sepi. Biasanya seorang pemuda akan menyalahkan perapian itu setiap malam, menjaga agar ruangan ini tetap hangat, tapi sekarang perapian itu padam. Ruangan ini pun gelap tanpa cahaya, entah karena rumah ini kehilangan satu penghuninya atau hanya karena Hermione tak menyalahkan lampu-lampunya.

Dia yakin pasti karena alasan pertama. Setiap malam lampu-lampu di seluruh rumah pun pasti akan dipadamkan, tapi Hermione tak pernah merasa segelap ini. Bahkan saat memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang diberikan pemuda yang kini hilang pun tidak pernah segelap ini, penglihatannya selalu bercahaya seakan rambut putih pirang itu memberikan cahaya khusus.

"Bip," terdengar suara dari arloji yang dipakainya, menandakan tengah malam telah menyambutnya. Setelah sadar itu adalah arloji pemberian orang idiot yang menghancurkan segalanya, dia merengut arloji itu hingga talinya putus, membuat pergelangan tangannya sedikit terluka. Dia menatap arloji sialan itu sejenak dan melemparnya. Arloji itu membentur tembok dan hancur terjatuh di sudut ruangan. Hermione membuang muka, kembali bersandar di ambang jendela dan memandang kosong keluar.

Hembusan nafasnya membuat seberkas embun di jendelanya, suhu udara yang rendah di luar jendela pun membuat kaca jendela itu semakin buram. Menit demi menit berlalu dalam diam yang tak tenang. Pikirannya memaksanya untuk tetap terjaga, memikirkan dimana lagi dia harus mencari 'bagian' hidupnya yang hilang, tapi tubuhnya tidak cukup kuat untuk mengikuti jalan pikirannya. Dia terlalu lelah.

"Drake…" gumam lirih Hermione yang sekarang tampak hampir tertidur di ambang jendela, bibirnya memucat akibat suhu udara yang semakin rendah seiring larutnya malam.

Tapi tak ada yang menjawab panggilannya itu, baik saat Hermione memanggilnya secara sadar atau tidak.

Lebih dari dua puluh empat jam dia mencari di setiap tempat yang kemungkinan didatangi orang itu, tapi tidak satu tempat pun yang memuaskan pencariannya. Dia mulai dari Flat kecil ini, Flat kecil yang berdiri di desa Ottery St. Catchpole. Setiap ruangan sudah ditelusuri tapi Flat ini tetap sama seperti saat dia meninggalkannya pagi itu, tempat tidur yang masih berantakan, baju-bajunya yang bertebaran di sekeliling kamarnya, dan secarik perkamen yang tergeletak di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Flat itu kosong.

Dia beralih dengan sedikit harapan ke kawasan barat London, wilayah Kensington. Dimana sebuah Penthouse mewah berdiri, dia disambut oleh pintu putih besar yang terkunci rapat. Bersyukur pintu itu dapat dibuka dengan sihir, tapi keadaan di dalamnya tak jauh beda dengan Flat Hermione. Kosong tak berpenghuni. Setiap sisi rumah itu terasa angkuh tanpa kehadiran orang yang dicarinya. Hermione sedikit lebih lama di dalam Penthouse itu, tak bisa dipungkiri dia sedikit berharap sang pemilik melangkah memasuki pintu besar itu. Tapi ternyata tak ada yang terjadi, tak ada seorangpun yang masuk. Bahkan lukisan besar di ruang tamu pun kosong, lukisan Mr. dan Mrs. Malfoy mungkin sedang berada di Manor. Segala kekosongan ini seolah mengusirnya perlahan.

Dengan tanpa harapan dia ber-Apparate ke tempat-tempat yang muncul dipikirannya, Leaky Cauldron, Diagon Alley, salah satu pub penyihir di kota London, The Ebrius, tapi bahkan pub itu tutup (siapa pula orang bodoh yang akan ke pub disiang hari). Kemudian, di tengah keputus-asaannya dia teringat sebuah lapangan Quidditch yang dibangun tepat di belakang sebuah gedung megah dengan lambang "M" perak besar di puncak gedungnya. Hermione ber-Apparate, dan muncul di pinggir lapangan yang luas dan dilengkapi tiga tiang dengan tinggi yang berbeda di setiap sisinya. Bangku-bangku tinggi penonton yang hampir mirip seperti di Hogwarts mengisi sekelilingnya, tapi tak ada satupun sapu yang terlihat di udara. Lapangan itu kosong.

Ini pertama kalinya Hermione berharap melihat seseorang berambut pirang putih terbang dengan jubah Quidditch melambai di belakangnya. Sebelum ini dia tak pernah berusaha menutupi keenganannya dengan segala hal-hal idiot berbau Quidditch, bahkan dia selalu menolak jika diajak ke lapangan ini. Dan sekarang dia menyesal.

Hermione berlutut di pinggir lapangan itu, tenggorokannya tercekat, apakah ini vonis mati atas hubungannya?

Draco Malfoy meninggalkannya entah kemana, membawa separuh jiwanya dalam kesalahpahaman.

Hal seperti ini sebelumnya tak pernah terjadi. Draco tak pernah meninggalkannya, setidaknya sejak pertemuan kembali mereka di Perancis hampir setahun yang lalu. Bahkan, sebelum akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka saling mencintai, mereka tak pernah saling meninggalkan satu sama lain. Kehidupan mereka sangat damai, karena mungkin tak satu pun orang yang dikenalnya, yang dapat mengomentari kehidupan mereka selama di Perancis.

Bahkan sebulan terakhir, sejak Draco dan Hermione memutuskan kembali ke Inggris, dia pun tak pernah meninggalkan Hermione. Hampir setiap malam Draco menginap di Flat kecilnya, atau sebaliknya, Hermione yang menginap di Penthouse mewah Draco jika Draco mulai merasa bosan menghabiskan malam-malam mereka di ranjang Flat kecil itu.

Jadi, mengapa dia sekarang meninggalkannya bahkan sebelum Hermione menjelaskan semuanya. Apakah satu tahun belum cukup untuk membuatnya benar-benar mencintai Hermione? Sampai dia tega meninggalkannya, berlutut di pinggir lapangan kosong, di bawah hujan musim gugur yang tak punya belas kasihan. Iya, itu semua pasti belum cukup. Dia adalah Draco Malfoy, yang lebih dari sepuluh tahun hidup dalam kebenciannya atas Hermione, satu tahun pastilah tidak cukup lama untuk membuatnya berubah mencintai Hermione-si-gadis-darah-lumpur-Granger.

"Kau bodoh Draco, mengapa kau tak bisa merasa bahwa aku benar-benar mencintaimu," isak Hermione.

Matahari semakin meredup, hujan semakin deras, menutupi jejak air mata dipipinya. Dia bangkit dengan linglung, tapi ada satu tempat lagi dipikirannya, yang masih punya sedikit kemungkinan bisa memuaskan sedikit saja pencariannya. Zabini Company. Hermione berjalan dengan terhuyung, mencabut tongkat sihirnya dan kemudian ber-Apparate menuju pusat kota London. Dia muncul di depan bangunan yang lebih kecil dibanding Malfoy Corp, tapi tak kalah megahnya. Dengan air yang menetes dari jubahnya, dia memasuki bangunan itu dan langsung menuju ruangan utama. Hermione pernah kesini sebelumnya, jadi dia tahu dimana ruangan Zabini berada. Dia tak menghiraukan seorang assiten Zabini yang menahannya, melarangnya masuk, wanita muda itu berambut merah entah siapa namanya. Rambut merah itu semakin membuatnya marah, dia mendorong wanita itu. Tanpa mengetuk pintu dia memasuki ruangan yang terlihat megah, seluruh ruangan itu didominasi warna putih.

"Granger?" kata Zabini heran dan kemudian berdiri ragu-ragu.

"Maafkan saya Mr. Zabini, wanita ini memaksa masuk, saya sudah bilang untuk membuat janji tapi dia memaksa," ucap wanita berambut merah tadi, 'ha? 'Wanita' ini? Kau tak tahu kau berurusan siapa bodoh'.

"Pergilah, Vanessa!" kata Zabini ketus, dan terdengan suara pintu tertutup dibelakang. "Dan, ada apa denganmu, Granger?" lanjut Zabini setelah memperhatikan penampilan Hermione dari atas ke bawah, dia pasti tampak menyedihkan sekarang, rambut coklat tebal yang lepek, dengan jubah yang basah dan berlumpur.

"Mana Draco?" Tanya Hermione tanpa memperdulikan tatapan bertanya Zabini, "Zabini aku bertanya, dimana Draco!" lanjutnya histeris ketika Zabini hanya terdiam menatap Hermione dengan pandangan yang tak dimengertinya.

"Tenanglah, Granger! kau mengotori kantorku, dan sekarang kau berteriak kepadaku," sahut Zabini angkuh, tapi Hermione tak perduli apa yang dipikirkan Zabini tentang penampilan dan kelakuan gilanya sekarang, "Aku tak tahu, Granger. Draco datang tadi dan membatalkan permainan Quidditch sore ini, dia bilang ada urusan penting," lanjutnya kembali duduk tapi masih memandang Hermione.

"Oh, baiklah," sahut Hermione yang berbalik untuk pergi.

"Tunggu, Granger! Ada apa sebenarnya? Draco tampak… er marah."

'Draco marah? Sudah dia duga, pasti sekarang Draco membencinya', batin Hermione. "Tidak ada apa-apa Zabini, terima kasih, dan… maaf mengotori kantormu," jawab Hermione tanpa berbalik menghadap Zabini, dia tak ingin Zabini melihat kekalutannya.

Hermione kembali ke Flatnya yang kecil dan tetap tanpa penghuni, dalam balutan kecemasan. Teringat olehnya wajah Draco yang mengeras, mata abu-abunya dengan tatapan mematikan, bantingan pintu dengan suara memekakan telinga, dan kata-kata Zabini: 'Draco tampak… er marah'.

Ya, ini benar-benar vonis mati atas hubungannya.

Dia berjalan terhuyung ke dalam kamarnya, aroma musk pekat yang ditinggalkan Draco seolah mengejeknya. Dia berlari ke kamar mandi, melewati tempat tidurnya yang masih berantakan, menghindari aroma yang mengundang tersebut. Tapi kamar mandi ini justru lebih parah, aroma vanilla dari sampo favoritnya seolah menghilang, yang tersisa hanya aroma musk yang lebih pekat.

Dan, begitulah ia melewati sisa harinya. Menghindari segala sesuatu yang mengingatkannya akan Draco, tapi pikirannya masih bergelung mencari tempat-tempat yang bisa didatanginya, tapi selalu berakhir sama. Pencariannya tak membuahkan hasil, sampailah dia kembali kesini, ke flat kecilnya dengan keadaan lelah, dan sekarang dia tertidur di ambang jendela. Menyedihkan.

Satu yang sedang berusaha diyakininya adalah, bahwa Draco ternyata tidak benar-benar mencintainya, jika dia mencintai Hermione, dia tak mungkin semudah itu meninggalkannya sendiri dalam kekalutan ini. Tetapi akal sehatnya tidak berjalan beriringan dengan hatinya. Dia tetap mencintai laki-laki itu.


OoOoO


Pop.

Pemuda itu muncul disebuah Flat yang terlihat nyaman, perabotnya didominasi warna merah dan putih susu, sofa-sofa nyaman berwarna merah ditata rapi di tengah rungan, tapi Flat ini tampak kosong dan tidak seperti biasanya, perapian putih diruang tamu itu tampak dingin, seakan tak pernah dinyalahkan, lantainya penuh jejak lumpur.

'Dimana dia,' batin pemuda itu.

Dia memasuki kamar utama, kamar yang paling besar di Flat ini, kamar itu gelap, bukan bearti biasanya terang benderang, tapi seolah kegelapan ini tak wajar.

"Lumos," bisiknya, dan cahaya muncul dari ujung tongkatnya. Menerangi ruangan itu, cukup untuk melihat jelas bahwa ruangan itu masih berantakan, seprainya yang kusut, selimut yang tergeletak dingin di lantai, dan beberapa helai pakaian yang tersebar di sekeliling tempat tidurnya. Tempat tidur berseprai kusut itu kosong.

'Dimana dia? Apa yang terjadi padanya?' batinnya semakin cemas.

Dia keluar menuju kamar yang lain, kamar ini lebih kecil dari yang sebelumnya tapi jauh lebih rapi. Keadaan yang sama menyambutnya, ruangan yang gelap tanpa penerangan, dan kasur yang kosong tanpa penghuni. Dia semakin panik kali ini.

Dia tidak melihat ke dapur karena tak ada suara sekecil apapun di sana, dapat dipastikan bahwa si pemilik rumah pun tidak ada di dapurnya. Dia langsung melangkahkan kakinya ke lantai atas, ada dua ruangan disini, satu kamar kecil dan satu ruang duduk.

Dia memeriksa kamar kecil itu lebih dahulu, mengingat sekarang larut malam, pastilah pemilik rumah ini sudah tertidur. Kamar itu terkunci, dia mengumamkan mantra untuk membukanya dan kembali menyalahkan tongkat sihirnya, karena lantai ini tidak kalah gelapnya dengan di bawah. Hanya cahaya bulan dari setiap jendela yang meneranginya. Dia disambut oleh kamar berdebu, kamar itu kosong.

Beralih ke ruangan terakhir, pintu ruangan itu terbuka beberapa centi, hanya memperlihatkan sedikit pemandangan di dalamnya. Dibukanya perlahan, dan di sanalah dia, terduduk di ambang jendela dan sepertinya tertidur pulas. Dia mendekati gadis itu tanpa suara, wajah gadis itu pucat dan kulitnya panas saat disentuh.

'Apa dia sakit?' batinnya lagi.

Dia memeriksa di sekeliling ruangan, siapa tahu ada orang lain di sini, tapi sepertinya tak ada orang selain gadis berambut coklat itu dan dirinya. Pemuda itu memasukan tongkatnya dan mengendong gadis yang tampak pucat itu, membawanya ke kamar kecil di lantai bawah, dia tak mungkin menaruhnya di kamar berdebu itu apalagi di kamar utama yang berantakan tadi. Gadis itu mengumam tak jelas dalam tidurnya, wajahnya cemas, tampak seperti memimpikan sesuatu yang buruk, tapi dia tidak terbangun.

Pemuda itu meletakan gadis yang digendongnya di kasur yang nyaman, dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Gadis itu bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi tetap tidak terbangun, sepertinya sangat kelelahan.

Dia duduk di tepi kasur itu perlahan, tak ingin membangunkannya. Menatap gadis ini dalam tidur cukup untuk mengobati rasa sakit di hatinya. Dia masih belum menemukan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Tampak semuanya yang buruk berdesakan masuk kedalam tubuhnya; sakit, marah, kecewa, binggung dan masih banyak lagi. Rasa ini benar-benar tak dimengerti.

Tapi menatap gadis yang dia cintai ini tampaknya bukan mengobati sakitnya, dia justru seperti sedang mengkonsumsi heroin. Sekarang dia menatapnya sampai puas dan besok dia akan merasakan rasa sakit yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ini bukan mengobati namanya, tapi menambah luka yang tidak kasat mata tapi menyenangkan.

Menyenangkan?

'HENTIKAN ! STOP!' dia meneriaki dirinya sendiri. Sekarang dia hanya bisa duduk diam dengan wajah di dalam tangannya.

Seharusnya dia tidak melakukan hal ini, seharusnya dia langsung meninggalkan gadis ini sejauh mungkin, dan yang paling penting adalah kemanapun dia berlari, dia tak boleh kembali lagi, karena jika dia kembali, dia akan terus menyebabkan gadis yang sedang tertidur di hadapannya ini, terkurung dalam percintaan yang terpaksa.

Dia tak boleh menyebabkan gadis yang masih mencintai laki-laki lain ini, terpaksa untuk mencintainya, terpaksa untuk berada di sampingnya, hanya karena rasa terima kasih atas kehadirannya yang menghibur setahun yang lalu, saat dimana gadis ini sedang mengalami badai dalam percintaannya. Dia hanya sebatas penolong untuk memperbaiki perasaan gadis ini, bukan sebagai penolong untuk menyembuhkan lukanya dan terus berada di sisinya sebagai orang yang dicintainya.

Lalu apa yang terjadi selama satu tahun ini? Kebersamaannya? Kegiatan ranjangnya setiap malam? Percintaannya? Rencana besarnya, seperti pernikahan?

Dia yakin, dalam waktu beberapa menit dia akan bertransformasi menjadi orang gila.

Ini adalah pertama kalinya ia merasakan cinta selain dari keluarganya, cinta yang berbeda. Dan dia akhirnya mengerti artinya. Tak ingin kehilangan, kebersamaan, sikap saling memiliki, dan saling menjaga satu sama lain.

Tapi sekarang apa yang dirasakannya? Perasaan yang campur aduk ini apa namanya? Apa ini bagian dari yang disebut cinta? Sial! Dimana adilnya ini semua!

Gadis yang dicintainya mencium dan dicium laki-laki lain tanpa paksaan, tanpa perlawanan, dan mungkin dengan cinta. Dia tak pernah menghadapi sesuatu yang seperti ini, ini adalah sesuatu yang baru, berbeda saat melihat puluhan pacarnya semasa sekolah berciuman dengan lelaki lain, dia tampak biasa saja, tak pernah merasa seperti ini. Mungkin karena dia memang tidak benar-benar mencintai salah satu dari mereka, tapi sekarang berbeda.

Dia telah mencintai gadis ini, gadis yang tertidur pulas di hadapannya.

Sepertinya takdir benar-benar tak berpihak padanya, pertama takdir merengut ayahnya, kemudian takdir itu membawa ibu yang dicintainya ke dunia kematian, dan sekarang, sang takdir akan menjauhkannya dari gadis yang dicintainya. 'Drama picisan konyol sekarang terjadi dihidupku,' batinnya berang.

Dia mengangkat wajahnya, kembali memandang sang gadis dan kemudian menyentuh pipi gadis itu, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya. Kulitnya terasa semakin panas dibawah jemari tangannya. Demam. Tapi kenapa gadis ini sakit? Bukankah seharusnya dia bahagia karena akhirnya dia punya kesempatan berdekatan lagi dengan orang yang dicintainya? Atau dia sakit karena memikirkan aku?

'Jangan berpikir idiot! Kau hanya akan menyiksa dirimu!' batinnya.

Dia berdiri dan berniat meninggalkan gadis itu sesegera mungkin, sebelum pikiran konyol yang justru akan menengelamkannya ke dalam kesakitan semakin menjadi-jadi.

"Drake… Draco", gumam gadis itu.

Dia berdiri mematung.

'Hermione, dia memanggil namaku?', batinnya kalut antara senang, tidak percaya dan takut.

Senang karena mungkin gadis ini sedang merindukan dan memimpikannya. Tidak percaya apakah telinganya tidak bermasalah? Siapa tahu dia salah dengar, dan takut, apakah gadis ini terbangun? Sepertinya tidak.

"Draco, kembali," gumam Hermione lagi, dan sekarang tidurnya tak tenang.

Draco kembali terduduk di sisi tempat tidur kecil itu, kerutan kecil muncul di antara alisnya. Hermione benar-benar merindukannya. Apakah bukan sebuah kesalahan yang fatal jika meninggalkannya lagi? Dia terdiam, berpikir sampai dentang jam besar diruang tamu berbunyi dua kali. Waktu membodohinya, ternyata hampir dua jam dia hanya memandangi gadis ini dan duduk diam di sini bergulat dengan pikirannya.

Hermione sekarang terisak, seolah menangis dalam tidurnya, "Draco…" gumamnya lagi untuk ketiga kalinya.

Draco menjulurkan tangannya, mendekatkan diri untuk mengusap pipinya yang panas, berusaha menenangkannya. Aroma vanilla langsung menusuk hidungnya. Jika dia berniat meninggalkan gadis ini, dia bersumpah aroma vanilla ini akan menghantuinya seumur hidup. Hermione kembali terlelap dalam tidurnya.

Draco berdiri, melambaikan tongkatnya, dua mangkuk besar berisi bubur, sup bawang hangat dan beberapa potong roti muncul di atas meja kecil di samping tempat tidur munggil itu, dia mendaraskan mantra lagi agar sup dan bubur itu tetap hangat sampai si pemilik rumah bangun. Kemudian dia mengacungkan tongkatnya ke arah perapian kecil tepat disebrang pintu masuk, dan perapian itu menyalah. Menghangatkan ruangan ini.

Draco mengecup kening Hermione, lalu dia pergi, untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukannya.


OoOoO


Hermione terbangun, dia merasakan badannya sakit semua. Pasti karena dia tidur semalaman di ambang jendela, pikirnya.

Wajahnya terasa kaku karena bekas-bekas air mata dipipinya, dia memejamkan matanya lagi, silau karena sorot cahaya matahari memasuki kamar itu dari sebuah jendela besar tepat di depan tempat tidurnya… tempat tidur?

Hermione langsung bangkit, langsung saja kamar ini sekarang terasa berputar. Dia duduk bersandar di kepala tempat tidurnya, tangannya mencengkram kepalanya yang sangat pusing. Berpikir, siapa yang memindahkannya ke kamar? Karena seinggatnya dia tertidur di ambang jendela lantai atas, dan tak pernah ingat bahwa semalam dia menuruni tangga menuju kamar ini.

Dia menggeleng, menjernihkan pikirannya, membuat kepalanya semakin terasa pusing.

Hermione memutuskan mungkin dia lupa, mungkin dia sendiri yang berjalan turun dan tidur di kamar ini setelah merasa tak nyaman tidur di ambang jendela, lagi pula dua hari ini dia memang tak pernah ingat apa yang dilakukannya.

Dia menghela nafasnya, dan ketika itu juga aroma sup bawang yang lezat tercium olehnya. Dia menoleh dan melihat semangkuk sup bawang yang masih berasap, semangkuk bubur, dan potongan roti di atas meja kecil samping tempat tidurnya.

Tunggu…

Dia kembali mengendus ruangan itu, ada aroma lain selain aroma sup bawang yang mengiurkan, aroma bubur, dan aroma gandum dari potongan roti itu. Aroma yang lain ini adalah aroma… musk.

Hermione terdiam, seakan membatu. Raut wajahnya mengeras, syok.

'tidak mungkin.'

Draco memang tidak pernah memasuki kamar ini, kecuali dihari pertama mereka menginjakan kaki di rumah ini. Hermione membawanya berkeliling rumah untuk menunjukan hasil jerih payah karirnya yang semakin menanjak di Kementerian Sihir, jadi aroma musk ini tidak seharusnya sepekat ini.

Tiba-tiba dia tertawa, dia pasti sedang bermimpi. Ya, inilah jawaban yang paling masuk akal. Dia bermimpi. Bahwa sebenarnya dia masih tertidur di ambang jendela dan menangisi laki-laki itu dan tidak ada satu orangpun datang ke sini membawa aroma musk ini.

Kepalanya semakin sakit, dan sekarang aroma sup bawang yang mengiurkan itu berubah menjadi aroma yang membuatnya ingin muntah, padahal seharusnya dia tergiur, karena makanan terakhir yang masuk ke perutnya adalah cereal yang dimakannya di malam saat dia pulang dari Zabini Company.

Ini semakin meyakinkannya kalau dia masih bermimpi, semua tampak tidak masuk akal. Tiba-tiba dia berada di kamar kecil ini, kemudian aroma musk yang dihirupnya, sup bawang yang seharusnya mengiurkan tapi berubah menjijikan. Mimik wajahnya sekarang tampak seperti seseorang yang baru saja kabur dari bangsal Cedera Karena Mantra di St. Mungo, kebinggungan.

Hermione mengacungkan tongkat sihirnya ke arah mangkuk berisi sup bawang itu, dan sedetik kemudian sup itu lenyap, tapi dia masih belum bisa menghilangkan baunya.

Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan sebelah tangan mengengam tongkat dan tangan satunya mencengkram kepalanya. Sedikit terhuyung dia merembet dengan berpegangan pada tembok menuju westafel di dapur untuk mencuci mukanya. Sekarang dia seperti orang mabuk.

Belum sampai dia membuka pintu kamarnya seseorang masuk. Hermione mengangkat kepalanya yang berat, melihat siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah berkunjung.

Berdiri di ambang pintu, seorang pemuda yang jelas sekali tampan, badannya tegap, hidungnya mancung, mata abu-abu yang terlihat rapuh, dan wajah tampannya dibingkai rambut pirang putih yang membuat parasnya sempurna.

"Draco…" bisik Hermione yang masih menahan dirinya dengan satu tangan di tembok agar tidak terjatuh.

Kemudian dia mendengus geli, 'lihat! Sekarang mimpi melecehkanku. Aroma itu, sup berbau menjijikan yang datang entah dari mana, dan sekarang pemuda yang dikejarnya, dicarinya, dirindukannya, ada di depan matanya.'

"Hermione," Draco khayalannya berlari menangkap tubuh Hermione tepat ketika dia terjatuh lemas, "apa yang kau lakukan," lanjutnya, suaranya terdengar… cemas, marah, dingin, dan terasa jauh. Hatinya terasa sakit saat mendengarnya suara ini, melihat wajah ini, mengirup aroma ini.

'Mimpi macam apa ini, mengapa hanya rasa sakitnya yang terasa nyata.'

Sedetik kemudian Hermione tertawa keras, berharap tawa histerisnya bisa membangunkannya dari mimpi yang entah buruk atau indah ini.

"Hey! Kenapa aku tak terbangun," ujar Hermione kesal. Jelas sekali dia masih berdiri di samping pintu, dia masih bisa merasakan lengan Draco menahannya agar tetap berdiri.

"Aku tak mengerti yang kau bicarakan, Hermione?" sahut Draco, dia tampak merasakan sakit yang sama saat mengucapkan kata terakhirnya.

"Ya..ya.. jelas kau tidak mengerti, kau kan berasal dari mimpi," jawab Hermione, "biar ku jelaskan, aku ingin terbangun, oke? Aku tak ingin bermimpi seperti ini," lanjutnya.

"Mimpi?"

"Ya, mimpi Draco. Kau, Draco Malfoy hanya khayalanku. Draco yang sebenarnya entah berada dimana sekarang."

"Tapi kau sedang tidak tertidur atau menghayal, kau berdiri di hadapanku sekarang."

"Ha! Ya sebagai khayalan, kau pasti akan bilang begitu. Meyakinkanku untuk percaya bahwa ini bukan khayalan, dan membiarkanku bahagia di mimpiku sendiri, dan kemudian paginya aku terbangun… aku terbangun dan menyadari semua ini mimpi, dan menjadi gila karenanya, ya kan?!" Hermione meninggikan suaranya didua kata terakhir, mencengkram kemeja Draco khayalannya itu, mendongak untuk melihat wajah khayalan yang sempurna itu, wajah itu menyiratkan kebingungan bercampur sedih, entah mana yang lebih banyak.

"Hermione, kau mengangap aku khayalanmu?"

"Yaa… kau memang hanya khayalanku," bisiknya, "Karena Draco yang asli telah meninggalkanku! Dia pergi entah kemana! Meninggalkanku dalam kesakitan ini tanpa memberi kesempatan padaku untuk bicara satu kata saja!" lanjutnya berteriak histeris.

"Hermione maafkan aku, a-aku…"

"Tidak… tidak… pergilah! Aku tak ingin bermimpi, aku mau bangun!" isak Hermione, cengramannya di kemeja Draco mengendur, dan dia terjatuh, pingsan.


Draco menangkap Hermione yang terjatuh ke tubuhnya, "Mione… Hermione bangun!" panggilnya sembari menepuk pelan pipi Hermione.

Tapi gadis itu tidak menyahut, dia hanya seperti orang tertidur pulas tanpa bermimpi, padahal dia baru saja berkata ingin bangun, mengapa sekarang ia tertidur sepulas ini.

Draco mengambil tongkat dari sakunya sedang satu tangannya berusaha menahan agar Hermione tidak terjatuh. Kemudian dia mengangkat gadis itu, berputar di tempat, dan ber-Apparate menuju St. Mungo.

Dia sampai di sebuah ruangan luas, ruang penerimaan itu tampak tak begitu ramai mengingat sekarang masih pagi hari. Seorang penyihir wanita berbaju hijau-limau dengan lambang St. mungo- tongkat dan tulang yang menyilang- di dadanya, sedang menanyakan keluhan kepada seorang laki-laki berkumis yang kelihatan kesakitan. Penyihir wanita itu mendogakan wajahnya ketika Draco datang.

"Mr. Malfoy?" kata wanita itu penuh hormat sekaligus terlihat kaget melihat Draco mengendong seorang gadis yang pingsan.

"Jangan berdiri saja!" ucapnya kesal. Wanita itu memanggil seorang penyihir laki-laki bermuka malas dengan baju hijau-limun yang sama, bernama Garrick. Garrick terlihat sangat terganggu atas panggilan itu, tapi dia langsung berlari mendekat ketika dia melihat siapa yang membutuhkan pertolongan. Draco telah menjadi penyuntik dana terbesar di rumah sakit ini, mereka pasti tak akan mau jika dana itu berhenti mengalir.

"Mari, saya bantu Mr. Malfoy," ucap Garrick dengan suara menjilat.

'Bantu? Maksudmu bantu mengendong gadisku? Idiot! Seenaknya saja dia.' batin Draco jengah.

"Tidak!" Desis Draco dingin, "tunjukan saja jalannya," lanjutnya. Dia tak akan pernah terima lagi jika seseorang menyentuh Hermione, persetan dengan sahabat-sahabatnya.

"Ikuti aku Mr." cicit Garrick yang kemudian berbalik dan berjalan cepat menuju salah satu lift rumah sakit. Draco mengikutinya cepat, tapi Garrick berbelok sebelum sampai ke lift itu, bearti ruang pemeriksaan VIP ada dilantai dasar, baguslah!

Dia melewati papan petunjuk yang menunjukan 'Kecelakaan Karena Alat' ke arah kanan, tapi Garrick membawanya ke arah kiri. Garick berhenti dan mengetuk sebuah pintu besar berwarna putih bersih dengan tulisan :

Ruang Penyembuhan VIP

Penyembuh Khusus: Rowan Rackharrow

Penyembuh Tambahan : Donald Pomfrey

Tak ada jawaban dari dalam, Draco memandang Garrick tajam, memberi isarat untuk menyingkir dan dia menendang pintu besar itu sekuat tenaga. Pintu itu menjeblak terbuka, membuat seseorang berdiri kaget.

"Oh, Mr. Malfoy, maafkan saya, saya tidak mende…. Oh tidak kenapa dia?" Tanya si penyembuh idiot itu, kemudian dia berseru, "Mr. Rackharrow!"

Seorang penyembuh lain datang, jubah panjangnya berwarna hijau tua, tampak seperti penyembuh berpengalaman. 'Baguslah! Jika mereka tidak menyediakan penyembuh terbaik untuk Hermione, aku akan menstop semua aliran dana ke rumah sakit ini,' batin Draco.

"Oh, silahkan, letakan disini Mr. Malfoy," kata penyembuh bernama Mr. Rackharrow itu, suaranya berat tapi terdengar berwibawa, dia menunjuk tempat tidur biru di sisi kiri ruangan. Draco meletakan Hermione dengan hati-hati.

"Dia tampak demam semalam, dan saya tak tahu… dia tiba-tiba pingsan," jelas Draco cepat.

"Baiklah, Mr. Malfoy, anda bisa menunggu di luar jika…" Mr. Rackharrow tidak meneruskan kata-katanya ketika melihat tatapan mematikan dari mata abu-abu yang dingin itu.

"Jangan menyuruh saya keluar Mr. Rackharrow, cepat lakukan saja pemeriksaannya!" Desis Draco pelan.

"Bukan itu maksud saya, anda pasti tahu bahwa saya tak pernah bermakssud seperti itu. Er… baiklah," ujar Mr. Rackharrow cepat, dia mencabut tongkat sihirnya dan mengumamkan mantra-mantra yang belum pernah Draco dengar, seperti sedang menyanyi tanpa nada. Uap putih yang hangat keluar dari ujung tongkat itu. Mr. Rackharrow mengerakan tongkatnya memutar, mulai dari atas kepala Hermione sampai ke kakinya sehingga sekarang Hermione tampak tertutup uap hangat itu. Tongkat Mr. Rackharrow berhenti di permukaan perut Hermione dan uap itu mulai menghilang. Kemudian dia hanya menatap Draco.

"Nah?" Tanya Draco tak mengerti dengan tatapan bertanya si penyembuh. "Jangan membuat saya menunggu Mr. Rackharrow!" lanjut Draco.

"Maaf kan saya Mr. Malfoy," ujar Mr. Rackharrow. "Saya rasa istri anda tidak mengalami sesuatu yang serius," jelasnya. Draco hanya terdiam. Apa katanya tadi? istri? Apa tadi dia memperkenalkan Hermione sebagai istrinya? Ah masa bodo lah.

"Yaa… lalu dia kenapa?" Tanya Draco tak sabar.

"Istri anda hanya terlalu lelah, Mr. Malfoy," jelas si penyembuh, "kelihatannya dia juga tampak sedikit mengalami guncangan emosional, dia terlalu stres, dan kelihatannya dia belum makan, perutnya kosong, itu yang menyebabkan demamnya," lanjutnya.

Draco mengerutkan keningnya, seingatnya dia menyediakan semangkuk sup, bubur dan beberapa roti, mengapa Hermione tidak memakannya?

"Dan…" lanjut si penyembuh lagi, Draco kembali memfokuskan dirinya, "stres sangat tidak baik untuk bayi kalian, tapi sekarang ini belum terlalu berpengaruh, aku akan memberikan ramuan penenang dan dia bisa…"

"Tunggu... tunggu," potong Draco, "jelaskan pelan-pelan, bayi? Maksud anda, Hermione… eh, istriku hamil?"

"Iya… anda tidak mengetahui istri anda hamil, Mr. Malfoy?" kata si penyembuh, "usia kandungannya mencapai empat bulan."

Draco mematung di samping tempat tidur biru tersebut, jadi kemarin dia telah meninggalkan Hermione dan anaknya? Anak mereka?

Tapi tunggu… anak mereka? Iya, jika itu anakku, jika itu anak si musang bajingan itu bagaimana?!


OoOoO


Gimana Chap 3nya? alurnya kelambatan atau... gimana?
._. *tengok kanan kiri*