The Existence of A Soul

Rating: T

Warning: Mungkin bakal ada typing yang berantakan lagi seperti dichapter sebelumnya, makanya bacanya pelan-pelan dan -teman yang baca ketawa-ketawa bukan karena ada humornya,tapi karena ketikannya yang berantakan. Jadi malu saya,aduuh (BLETAK *digamparin massal). Pokoknya kekurangan di fic ini memang typo doang, selebihnya menurut yang baca udah oke sih. Sementara buat ceritanya, hehe makin complex di Elizabeth.

Character: Ciel Phantomhive (for sure), Sebastian (of course), Elizabeth Middleford, and Madam Red.

A/N: Mungkin banyak kata-kata yang garing, jadi maaf ya, saya cuma mau biar suasana fic ini ngak tegang melulu. Yang suka pairing Ciel X Elizabeth dianjurkan baca ini (plak). Enjoy it, everyone! .

~~~Chapter 3: The Secret~~~

Kegaduhan pagi itu dimansion milik keluarga Phantomhive disebabkan oleh para pesuruh rumah yaitu Bard, Finny dan Maylene (kecuali Pak Tanaka yang bahkan kalo diem aja pun udah ngebantu banget). Dan Ciel-pun baru menerima undangan untuk pesta dansa—yang amat ia benci—dari Madam Red kemarin malam. Jika Madam Red tidak memaksa dan mengancam dirinya, ia tidak akan sudi untuk pergi. Dan Elizabeth, tunangannya juga diundang. Dia tidak bisa dibilang senang juga tapi tahu bahwa Lizzy juga akan hadir di pesta itu entah mengapa menaikkan tingkat termometer semangatnya.

Lizzy, gadis yang selama ini selalu memenuhi pikiran Earl Phantomhive namun selalu menyangkalnya.

Ciel menyesap teh Assam yang kali itu dihidangkan butler-nya ,Sebastian, dan entah mengapa ia tak berselera untuk sarapan kali makanan manis-pun tidak membuat ia berselera untuk sarapan. Sedikitpun tidak. Ia terus kepikiran Lizzy yang tidak jua berkunjung setelah malam ia mengusirnya. Soma-pun sepertinya semakin dekat dengan Lizzy karena dari pagi ia pergi ke kediaman Lizzy bersama butler setianya pula, Agni (dia ini tokoh favorit author lho selain Ciel).

"Ada apa lagi diluar sana, Sebastian?" tanya Ciel tenang, meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong ke atas meja oak dekat jendela kamarnya. "Suruh mereka diam, tangani apa yang membuat mereka ribut seperti itu,".

Sebastian membuat simpul akhir pemasangan dasi pada majikan ciliknya. Ia berlutut dengan lutut menyentuh lantai, memasangkan sepasang sepatu boot kulit ditungkai kaki Ciel yang kurus dan terlihat bakal tak kuat mengangkat kaki jika memakai sepatu itu. Ciel mulai habis kesabaran karena Sebastian tidak menyahuti ucapannya. Dan ketika Sebastian selesai membantunya berganti pakaian Ciel hampir meledak marah dengan melempar kursi *nggak juga sih, itu lebay.

Secepat itu juga Sebastian menahan tangan Ciel yang udah mulai menjelajah mencari benda untuk menimpuk butler-nya, kemudian sambil tersenyum tertahan (err..menyeringai tepatnya) ia mendongak memandang Ciel. "Bagaimana jika penyebab kegaduhan itu Nona Elizabeth—lagi?".

Untuk pertama kalinya Ciel menghadapi perasaan dan bertingkah tak berkutik. Justru jantungnya kini berdegup karena memikirkan bahwa mungkin Elizabeth sudah melupakan peristiwa malam itu dan berkunjung untuk tersenyum padanya seperti biasa. Ciel merasa berharap dan bergantung dengan satu nama itu.

"Well, berarti dia datang kesini hanya untuk menggangguku dan membicarakan soal pesat dansa itu. Terima kasih, aku ingin sekali mengusirnya lagi," gumam Ciel tidak jelas dan masih dengan menyangkal—munafik banget itu anak—untuk menutupi salah tingkahnya mendengar nama Lizzy disebut.

"Tidak juga, jangan salah tingkah begitu, Young Master,". Sebenarnya cara bicara Sebastian udah biasa dan datar namun entah mengapa sangat menusuk bagi Ciel dan seolah butler-nya mampu membaca pikirannya. "Atau mungkin mereka tengah berusaha menyenangkan Anda dengan menjalankan pekerjaan mereka sebaik mungkin,".

"Itu yang paling masuk akal,".

Namun di hari libur seperti ini hanya sedikit waktu yang Ciel punyai untuk bersenang-senang. Bahkan ia tidak pernah bersenang-senang, ia sudah lupa bagaimana saat ia tersenyum dan memori yang ingin ia lupakan justru muncul kembali. Itu memang menyakitkan dan ia tercekat jika mengingat hal itu. Terutama saat Andrew Knottburn menyinggung kata kami dalam kasus pembantaian keluarga Phantomhive 3 tahun lalu. Ia menggeleng kuat-kuat untuk mengusir memori itu, kemudian Sebastian memasangkan kain hitam penutup untuk mata kanannya yang tertutup anak rambut yang sengaja dipelihara panjang supaya matanya itu tertutup rapi.

"Sebastian," kata Ciel dan mendongak memandang butler-nya yang jangkung berkulit pucat. "Sebaiknya kau katakan pada Madam Red bahwa aku takkan mengikuti acara pesta dansa yang ia adakan itu,".

"Kenapa seperti itu, Young Master?,"ujar Seabastian heran." Lagipula, Nona Elizabeth juga diundang kesana. Anda dengan Miss Middleford sudah memiliki relasi sebagai tunangan, mengapa tidak muncul bersama?. Para tamu pasti akan bertanya-tanya,".

"Aku tidak peduli, aku tidak pernah menyukai pesta. Aku benci suasananya dan aku benci berdansa,".

"Anda benci berdansa hanya karena Anda tak bisa berdansa, bukan?," lagi-lagi ucapan Sebastian tepat mengenainya."Anda tahu bahwa acara itu sangat penting, terutama Madam Red spesial mengundang Anda kesana, juga Nona Elizabeth, tidak seharusnya Anda tidak datang. Jika hanya soal dansa yang menjadi kendala Anda untuk menghadiri acara itu, saya bisa menjadi tutor Anda dalam berdansa,".

"Jangan bicara omong kosong, Sebastian. Kau hanyalah seorang butler. Lagipula Bibi An terlalu sering mengadakan pesta dirumahnya yang besar itu. Dan mansion mana lagi yang akan ia pakai untuk pesta kali ini?. Aku bosan ,Sebastian,".

"Saya yakin Nona Elizabeth juga tidak akan datang jika Anda tidak datang,".

"Apa urusannya dan apa hubungannya jika aku tidak datang dengan Elizabeth?," ujar Ciel, yang justru bernada nyolot. "Dia datang tak datang bukan urusanku,".

Kali ini Sebastian memeberinya tatapan yang seolah berkata ,'yakin jika Anda tidak datang dan melewatkan kesempatan itu dan Elizabeth akan bersama lelaki lain dan bukan bersamamu?,'. Ah, kenapa Sebastian seolah bisa mengetahui setiap perasaan yang ia rasakan, apa ia bisa menyadap perasaan orang disekitarnya?.

"Status Anda dengan Miss Middleford akan jadi tidak jelas jika Anda tidak hadir dan tidak menyertainya—juga tidak berdansa dengan Nona Elizabeth," akhirnya Sebastian berkata demikian, merapikan peranti makanan yang isinya masih utuh yang sama sekali tidak disentuh tuannya, menaruhnya ditroli kemudian membungkuk rendah. "Jika Anda membutuhkan saya, Anda tinggal memanggil saya, Anda tahu kan, Young Master?,".

Tanpa perlu dipanggilpun Sebastian akan tahu kapan ia dibutuhkan dan kapan ia harus datang ,butler itu selalu tahu apa yang harus ia lakukan tanpa perlu perintah langsung sang majikan. Mereka seolah dua orang dengan pikiran satu yang bisa saling bertukar perasaan dan pikiran.

"Errr.. Sebastian," Ciel memanggil butler-nya yang hendak membuka pintu untuk keluar kamar dan kembali ke dapur. Tanpa menatap si butler, Ciel berkata, "kurasa aku punya waktu untuk berlatih melakukan beberapa gerakan berdansa. Mungkin aku akan hadir, Madam Red—err..maksudku Bibi An pasti mengharapkan kedatanganku,".

"Yes, my Lord," butler-nya tersenyum kemudian keluar kamar sang majikan.

Ciel hanya terdiam sesaat dan baru menyadari pada apa yang barusan ia katakan dan alasan mengapa ia mengatakannya. Ah, jangan dipikirkan, lagipula hari ini jadwal-nya padat, bukan?.

-ooo-

"Sudahlah, Sebastian," kata Ciel terengah dan dengan jengkel melepaskan pegangannya pada butler-nya. Ia berjalan ke arah sofa tunggal didepan perapian yang biasa ia duduki. "Aku mungkin memang tidak berbakat untuk berdansa,". Tentu saja tidak jika partner berlatihnya adalah pria jangkung seperti Sebastian itu. Tidak mungkin, tidak hanya ia yang menginjak sepatu pantofel pelayannya itu tapi juga Sebastian yang menyerempet tungkai dan telapak kakinya.

"Kita baru berlatih selama beberapa menit, Young Master,".

"Beberapa menit katamu?. Apa waktu seperti tidak terasa bagimu?. Kita sudah berlatih berjam-jam dan tak ada hasil yang memuaskan sama sekali. Jika bukan aku yang menginjakmu, aku selalu tersandung kakimu. Itu bisa merusak image-ku jika terjadi sesuatu saat acara dansa itu. Dan bagaimana aku bisa berdansa dengan Lizz—" ia menghentikan ucapannya dengan wajah semerah tomat segar. Ia menunduk dan menghangatkan telapak tangannya di depan perapian.

"Justru itulah, Young Master,"Sebastian menambah kayu bakar ke perapian yang apinya menyala redup itu untuk menjaga agar tuannya tetap merasa hangat. "Jika Anda ingin berdansa dengan Nona Elizabeth, Anda harus berlatih dengan baik agar semakin mahir berdansa. Kegiatan berdansa adalah kegiatan wajib bagi seorang Earl Phantomhive,".

"Kau ini ngomong apa sih, Sebastian?," kilahnya gusar. "Tak ada hubungannya dengan Elizabeth, kau dengar itu. Menyebalkan sekali kau,". Yang diajak bicara hanya menyeringai saja. "Aku ingin cemilan manis untuk sore ini,".

'Tapi Anda tidak seharusnya—".

"Kau tinggal buatkan saja dan bawakan makanan itu padaku, itu mudah kan?. Apa urusannya jika aku makan manis?. Bukan kau yang rugi,".

Well, nggak mungkin kan Sebastian membantah tuannya?.

Baru saja Sebastian keluar dari hall itu ketika Ciel mendengar suara langkah kaki yang berjalan tenang kearahnya dan ia siap meledak lagi. Emosinya tengah naik turun belakangan ini yang tak ada hubungannya dengan PMS. Juga Soma yang berbaik hati untuk menjadi partner berdansanya malah lebih asik joget atau dansa India ala Bollywood daripada melakukan dansa waltz. Ciel bangkit berdiri dan yakin bahwa Soma yang akan mengajaknya sekadar menghabiskan waktu yang berharga dengan percuma.

"Untuk apa kau kesini?," ia berbalik ,"kan sudah kubilang agar jangan menggangguku—"

Tapi bukannya Prince Soma yang berhadapannya tapi gadis yang telah berhasil membuat perhatiannya menjadi tak fokus yang membuat ia tak mau mengakui perasannya ini hanya karena gengsi yang kelewat tinggi. Elizabeth memakai gaun ala Victorian yang cukup tebal untuk menahan hawa dingin disekitar mansion milik Phantom. Ia memandang Ciel takut-takut.

"Aku datang kesini diantar seorang kusir yang nanti akan menjemputku lagi. D-dan aku sudah meminta izin orangtuaku untuk berkunjung kemari, aku tidak bohong,".

"Oh, kau,".

Entah perasaan apa ini dan untuk pertama kalinya Ciel mengenal perasaan bahagia setelah bertahun-tahun perasaan itu tidak menghampiri hatinya yang layu dan seolah mati itu. Bukan, bukan perasaan bahagia yang biasa, ini sesuatu yang tak biasa. Bahkan melihat kedatangan Elizabeth dihadapannya saja memberi sensasi tersendiri bagi dirinya, sesuatu yang berbeda. Tapi haruskah ia merasakan kebahagiaan seperti ini?. Ini bukan berbunga-bunga, bukan bahagia yang hanya bisa membuat seseorang tersenyum. Dadanya seakan meledak melihat Elizabeth tersenyum padanya, ia berdebar untuk pertama kalinya dihadapan seorang takut Lizzy melihat perubahan dalam dirinya seperti blushing dipipinya dan ia takut Lizzy bisa mendengar jantungnya yang seharusnya bisa bergema keseluruh lorong mansion ini. Tidak tergambarkan rasanya tapi Ciel memberi tatapan pada Elizabeth seolah ia seorang buta yang bisa melihat matahari terbit seumur hidupnya. Well, itu terlalu indah, tapi tak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Jadi seperti inikah romance?.

"Untuk apa kau kemari?," ia berusaha menyembunyikan perasaannya dan berdeham keras.

"Aku ingin mengunjungi Ciel. Sekaligus minta maaf soal kejadian malam itu, aku tidak berani kemari tadinya, tapi aku memutuskan bahwa seharusnya aku minta maaf. Dan akupun hanya ingin mengantarkan sweter yang waktu itu kubuat, ini kan kubuatkan khusus untukmu, dan asal kau sudah menerimanya terserah ingin kau apakan," Lizzy menyodorkan sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan kertas pembungkus berwarna gelap.

Ciel menerimanya dan membuka kotak itu. Didalamnya terdapat sebuah sweter hitam—warna favoritnya—dengan garis merah marun. Dia nyaris tidak percaya jika Lizzy yang membuatnya, rajutannya rapat dan sangat rapi. "Err..terima kasih, Eliza," ia terlalu gengsi untuk memanggilnya dengan sebutan 'Lizzy' meski hampir keceplosan. "Kau akan langsung pulang?. Kau kesini hanya untuk mengantarkan ini?,".

"Y-yeah, untuk apa lagi?. Lagipula, Ciel juga takkan mengharapkan kehadiranku disini terlalu lama, bukan?," kabut seperti menyelimuti wajahnya dan Ciel diliputi perasaan bersalah. Melihat air muka gadis itu membuat ia tercekat dan tak bisa berkata-kata lagi seperti ada benda padat menyumbat tenggorakannya.

Ciel melepas mantel panjang yang biasa ia kenakan dan memakai sweter yang ukurannya sangat pas untuknya. Ia menyukai sweter ini lebih karena Lizzy yang memberikannya special untuknya, tidak peduli bagus atau tidak."Bagaimana menurutmu?. Pantas tidak aku mengenakannya?,".

"Cute!" Lizzy seperti nyaris menjerit histeris melihat Ciel namun menahan diri. Ia berbinar dan binar dimata gadis itu lebih berharga daripada berlian ribuan karat yang diberikan cuma-cuma untuknya.

Kemudian Ciel mengulurkan tangan pada Lizzy yang masih berbahagia itu, membungkuk sopan kemudian mendongak," maukah Anda berdansa dengan saya, Young Lady?".

"K-kau tidak becanda, kan,Ciel?," melihat gelengannya Lizzy menyambut tawaran berdansa tunangannya dan ia menjadi semerah kelopak mawar saat berdekatan dengan Ciel, dan justru ia yang banyak melakukan kesalahan dalam dansa itu yang entah mengapa Ciel tiba-tiba menjadi amat mahir. Diam-diam momen seperti ini bukan hanya Lizzy semata yang megharapkannya, tapi Ciel-pun dalam hati amat bersyukur—untuk pertama kalinya—bahwa ia telah ditutorkan pelajaran berdansa oleh Sebastian.

"Aku sayang Ciel," dengan polosnya Lizzy mengatakan itu tanpa sadar dampak apa yang timbul dalam diri yang disebut belakangan tadi. Justru Ciel yang merasakan jantungnya seolah berdebur kencang bak ombak (wuih, author-nya kebanyakan baca kisah roman nih,jadi makin gombal selangit kalimatnya).

-ooo-

Seperti pada pesta kebanyakan, suasana didalam manor yang luas amat ramai dengan musik klasik yang mengalun indah,ocehan para tamu undangan yang bahkan lebih ribut daripada gonggongan anjing ditengah merasa rikuh berada disekitar orang-orang yang tak ia kenal dengan baik yang mencoba-coba menuri perhatiannya, siapapun itu. Tapi selama Sebastian mendampinginya ia merasa bahwa pesta ini tidaklah semengerikan yang ia kira, apalagi Lizzy yang seharusnya sudah tiba sejak tadi. Tapi dimana gadis itu?. Dialah alasan utama mengapa ia mau hadir dan muncul disini.

"Arah jam tiga, sebelah kanan Anda, Young Master,"bisik butler-nya ditelinganya.

Ciel melihat ke arah yang diberitahukan Sebastian dan ia seperti tidak mengenali gadis berambut golden blonde yang memakai gaun bergaya Victorian berwarna hitam yang berjalan terburu-buru kerahnya. Ia baru tersadar ketika gadis itu sampai dihadapannya dengan napas satu-dua ,ia terbungkuk-bungkuk mencoba menarik napas.

"Sori aku telat, Ciel, maaf ya—aduh, aku benci korset! "ia bergumam tak jelas disela-sela usahanya untuk mengambil napas.

"Lizzy?"

"Ya?" mendengar namanya disebut gadis itu mendongak berharap dan tersenyum manis, ia senang sekali Ciel mau memanggil nama panggilan sayang untuknya. Ia melihat Ciel terheran-heran melihatnya dan Sebastian yang tadinya juga berekspresi sama seperti tuannya kini tersenyum juga.

Kemudian Ciel menawarkan lengan untuk menggandengnya dan dengan tersipu-sipu Lizzy mengaitkan lengannya pada Ciel dan entah darimana Madam Red muncul dan menjadi juru bicara kedua orang yang tengah berjalan dipinggiran hall Red mengoceh panjang dan amat lebar tentang hubungan antara Ciel Phantomhive, keponakan tersayangnya dengan seorang gadis bernama Elizabeth Middleford, ia terus berkoar-koar dengan segelas red wine ditangan. Oops, rupanya dia setengah mabuk dan terus mengumumkan hal itu kepada semua orang yang mau mendengarnya.

Tapi Ciel memilih mengajak Lizzy berdansa ditengah hall dansa yang dipenuhi pasangan pria-wanita ataupun mereka yang seumuran Ciel. Ia tidak terlalu peduli lagi soal Lizzy yang mulai merasakan perubahan dalam dirinya yang mau merima ia sebagai tunangannya, mungkin Lizzy lebih berarti dari apapun?. Begitulah untuk seperti ini.

Namun ia sedikit waspada karena ia merasa seperti ada beberapa pasang mata yang mengawasi gerak-geriknya, ia memutar Lizzy dalam satu lingkaran sambil melihat sekeliling. Ah, rupanya Madam Red yang sudah kelewat mabuk mulai meracau dan menunjuk-nunjuk kearah Ciel sambil bergumam tak jelas dan beberapa orang mulai menggotongnya keluar dari hall dansa. Tapi entah mengapa insting waspada Ciel malah semakin bertambah.

Tapi ia tak mau melewatkan momen yang bisa dibilang indah seperti menatap sepasang mata hijau cemerlang yang balik menatapnya dan ia mulai berpikir bahwa inilah yang namanya jatuh cinta...

-ooo-

"Well, setidaknya nama Phantomhive tidak dikaitkan dengan kematian Sir Andrew Knottburn," kata Ciel sambil membuka harian malam yang baru tiba kali itu." Dia telah mendapatkan ganjaran yang pantas dengan perbuatannya,".

"Tidak ada yang salah dalam tindakan Anda, Young Master," kata Sebastian yang berdiri dibelakang kursi tempat Ciel duduk manis, hari memang sudah larut, hampir tengah malam.

"Tapi..tapi aku masih terpikir dengan ucapan Knottburn, tentang ," ia terlihat sulit sekali untuk menyelesaikan kalimatnya ,"tentang kematian orangtuaku tiga tahun lalu. Dia menyebut kami, Sebastian, dan aku curiga bahwa—bahwa .."

"Bahwa ada segelintir orang yang mengharapkan dan melakukan pembunuhan agar keluarga Phantomhive hancur?," Sebastian menuntaskannya. "Kita tidak bisa memastikannya, tapi menurut Anda begitu?,".

"Tapi mereka melewatkan bagian bahwa aku selamat, mereka salah, Phantomhive telah kembali dan menjadi lebih kuat. Aku mengharapkan kesetiaanmu padaku tidak berubah seperti yang tertulis dalam kontrak kita, Sebastian," Ciel menutup harian malamnya dan membuka pakaianya. Dibantu Sebastian, ia mengganti pakaian formalnya dengan piyama sutera dari lemarinya.

"Anda melupakan satu hal yang harus Anda patuhi yang belum kita tulis dikontrak," Sebastian menahan atasan piyama yang dikenakan tuannya dan berbisik, "kita harus menambahkan satu hal dalam kontrak kita,". Ia menurunkan atasan Ciel dan memandang punggung Ciel yang penuh dengan bekas luka terbuka yang warnanya lebih gelap dari warna kulit asli Ciel yang pucat.

Bekas luka itu adalah berupa tulisan dalam huruf indah seperti kaligrafi yang seolah ditorehkan dengan benda tajam dengan sangat ahlinya. Tulisannya adalah : loyality, honesty, dan devotion yang berarti kesetiaan, kejujuran (tidak berdusta pada sang majikan) dan pengabdian penuh pada majikannya. Sebastian mengeluarkan sebuah pena bulu hitam dengan ujung yang pasti setajam silet.

Ciel menatap pena bulu itu dengan ngeri kemudian membelakangi Sebastian dan meremas pinggiran meja siap menahan sakit yang ia terima nanti. Ujung pena itu menggores kulitnya dan kontrak yang baru telah dibuat diatas daging dengan darah.

"Compensation," yang dibisikkan Sebastian persis dengan garis melingkar bak kaligrafi diatas kulit Ciel.

Anak itu menggeram menahan rasa sakit namun sekalipun ia telah mengatupkan mulutnya kuat-kuat untuk menahan sakit toh ia tetap setengah berteriak saat perih yang luar biasa menyengatnya. Namun ia terdiam saat mendengar pekik suara kecil yang asalnya tidak dari dalam ruangan ini. Ia mendongak dan menoleh ke arah Sebastian yang juga menyadari hal yang sama dan tepat saat itu juga suara langkah kaki berlari tergesa membuat ia keluar dari kamarnya menuju lorong untuk melihat siapa yang telah berdiri diluar kamarnya dan mencuri dengar. Yang pasti orang itu telah memegang rahasia terbesarnya...

~~~Chapter 3 Selesai~~~

A/N: Maaf kalo ada misstypo lagi, gomen!. Tapi setelah chapter ini mungkin bakal rehat sebentar, saya mau buat fic lain yang idenya udah ngalir deras banget. Cerita ini bisa panjang dan makan waktu kalo terlalu fokus dengan satu cerita aja. Maaf juga kalo suasananya kebanyakan suram dan nggak ada humornya, kalo adapun pasti garing, apalagi kalimat disana kelewat gombal, tak tahu nih saya terlalu fokus menggambarkan perasaan karakter. Saya nggak mau buat Ciel sebagai seorang gadis seperti banyak fic yang saya baca kategori kuroshitusji ini karena sekalipun saya buat fic yang AU saya nggak bakal ngerubah kelamin karakter. Oke deh tunggu dichapter berikutnya, saya mau ilangin rasa males saya deh. JANGA LUPA REVIEW! Gomenasai and arigatou :D.