Ini terjadi bertahun-tahun lalu, ketika ia dan dia bertemu pandang untuk pertama kali.


Character(s) © God

I take no profit, just for fun

3rd : Childhood


Chanyeol menemukannya secara tak sengaja.

Kala itu ia berjalan pulang sendirian. Genggaman pada tali ransel mengerat seiring dengan langkah kakinya yang pendek-pendek. Sepuh jingga mulai mewarnai langit dan Chanyeol menambah kecepatan langkahnya. Hidupnya damai sentosa.

"HUAAAAAAAAAA…"

Sebelum ia mendengar suara melengking itu.

Chanyeol dengan reflek menutup kuping saking dahsyatnya suara cempreng itu. Ia segera berlari mendekati sumber keributan dan menemukan seorang anak berjongkok di depan sebuah pohon. Menangis.

Chanyeol mendekati anak itu dan menepuk pundaknya, "Hei," ia merasakan bahu si anak menengang, "kenapa kamu menangis?"

Bocah itu terisak-isak, kemudian membalik badan perlahan-lahan.

"I-itu,"

Chanyeol menemukannya secara tak sengaja.

Kerlip bintang yang indah itu—

"layanganku tersangkut…"

kini bertemu dengan malamnya.

Tak sadar kini Chanyeol terpaku dengan mulut ternganga. Karena untuk pertama kalinya terasa ribuan kembang api memercik di dalam dadanya, rasa yang membuat jantung kecil Chanyeol berdebar-debar ketika menatap wajah elok bocah itu.

"Di-dimana?"

Awalnya Chanyeol pikir dia perempuan. Karena wajahnya sangat manis ditambah rambut kecokelatan yang agak panjang. Apalagi matanya yang berkaca-kaca ditambah wajah merah membuat si bocah terlihat beribu kali lebih manis dan lebih rapuh.

Mendadak suatu perasaan ingin melindungi muncul dalam diri Chanyeol.

"Di atas pohon itu…"

Si anak berdiri sambil menunjuk keatas, dan Chanyeol akhirnya sadar kalau anak itu laki-laki, melihat seragam yang ia kenakan.

Chanyeol ikut mendongak dan melihat sebuah layangan berwarna merah tersangkut di antara ranting pepohonan. Tidak terlalu tinggi, dan Chanyeol jago memanjat pohon. Ia lalu nyengir pada bocah itu, "Aku akan mengambilkannya untukmu."

Anak manis yang mengusap air matanya mendongak menatap Chanyeol, "Be-benarkah?"

"Um! Tunggu disini dan jaga tas-ku, ya!"

Maka Chanyeol memanjat pohon itu dengan semangat menggebu. Kalau ia berhasil meraih layangan itu pasti si anak manis akan memujinya. Dengan keyakinan itulah Chanyeol berhasil menuntaskan misinya.

"Lihat! Aku mendapatkannya!"

Chanyeol mengangkat layangan tersebut tinggi-tinggi dan di bawah sana, si anak melompat-lompat gembira.

Chanyeol turun dari pohon tanpa susah payah. Ia menyerahkan layangan yang agak rusak sambil cengengesan, "Ini, hehe…"

Anak itu mengambil miliknya dengan mata berbinar-binar, yang langsung menjadi favorit Chanyeol. Ia tersenyum amat lebar kemudian memeluk Chanyeol sambil tertawa.

"Terimakasih! Terimakasih! Terimakasiiih!"

Ia suka tawa anak itu, ia suka pelukan si bocah. Chanyeol menyukainya.

"Siapa namamu?"

Sang kerlip bintang tersenyum padanya, "Baekhyun!"

Dan sang malam balas mengusak kepala bintangnya, "Aku Chanyeol. Salam kenal, Baek."


Tak butuh waktu lama untuk mereka menjadi akrab. Cukup lima menit obrolan tak penting, Baekhyun dan Chanyeol sudah merekat seperti lem gajah.

Sore itu mereka berpisah di tikungan rumah Baekhyun dan berjanji untuk bertemu keesokan harinya.

Maka pagi berbaik hati untuk datang lebih cepat. Chanyeol mengikat tali sepatunya tergesa-gesa kemudian berlari keluar rumah dengan riang, tak sabar bertemu Baekhyun. Sampai di tikungan kemarin sore, Baekhyun sudah disana sambil nyengir lebar dan melambai-lambai.

"Yeoool!"

"Baekhyun!"

Chanyeol sampai di depan anak itu dengan napas putus-putus, "Ayo berangkat!"

Baekhyun mengangguk riang, rambut cokelatnya bergoyang-goyang, "Um!"

Mereka bercerita banyak hal, terutama Baekhyun. Dan Chanyeol selaku pendengar yang baik sesekali menimpali sambil terus memerhatikan mata Baekhyun yang berbinar-binar. Favoritnya.

Chanyeol kaget saat Baekhyun bilang umurnya juga sepuluh tahun, bahkan lebih tua darinya lima bulan. Pasalnya kelakuan Baekhyun sama sekali tidak mencerminkan bocah usia sepuluh. Baekhyun mengerucutan bibirnya sebal saat Chanyeol membahas hal itu.

Mereka kemudian berpisah di pertigaan menuju sekolah masing-masing dan berjanji lagi untuk bertemu sepulang sekolah.


"Chanyeol,"

"Hm?"

Pukul dua sore dan cuaca sedang panas-panasnya. Baekhyun dan Chanyeol memutuskan untuk membeli es krim (sempat terjadi perdebatan sengit memilih es krim pisang atau stoberi—yang kemudian dimenangkan oleh vanila, entah bagaimana) lalu beristirahat di taman kota.

Baekhyun menjilat es krim-nya yang meleleh, "Chanyeol suka olahraga apa?"

Chanyeol memiringkan kepala, "Aku suka basket. Memangnya kenapa, Baek?"

Baekhyun menggeleng-geleng lucu, "Aku mau lihat Chanyeol main basket."

Mereka berakhir di lapangan basket dekat taman, tempat Chanyeol sering berlatih. Di tangannya ada bola basket yang Chanyeol ambil dahulu di rumahnya. Sementara Baekhyun duduk di bangku pinggir lapangan sambil menggoyang-goyangkan kaki, menatap Chanyeol berbinar-binar.

Chanyeol tersenyum kemudian menantul-mantulkan bola basket dengan lihai, "Ini namanya dribble," jelasnya.

Baekhyun memasang ekspresi ingin tahu sekaligus kagum. Yang membuat Chanyeol nyengir lebar.

Chanyeol mulai men-dribble bolanya sambil berlari mendekati ring. Ia mengambil posisi menembak tiga poin dan memasukkan bolanya dengan mulus. Baekhyun berseru kagum.

"Itu namanya shoot."

"Kereeen!" Baekhyun bertepuk tangan senang.

"Kau belum melihat yang ini, Baek,"

Chanyeol mengambil bola basket yang terkapar di rerumputan kemudian men-dribble sambil berputar. Ia berlari menuju ring sambil menyeringai, kemudian melompat.

Melompat tinggi seperti burung. Jauh tak tergapai dan Baekhyun terkesima.

Chanyeol indah sekali.

Walaupun tinggi Chanyeol diatas rata-rata seusianya, tentunya ia tidak bisa menjangkau ring. Namun si kulit bundar dengan eloknya melesat sempurna dari tangan Chanyeol, mengetuk ring sekali kemudian masuk dengan mulus.

Baekhyun turun dari bangkunya dan berlari mendekati Chanyeol. Ia melompat-lompat kecil dengan wajah berbinar, "Apa namanya? Apa namanya?" tanyanya semangat.

Chanyeol terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya. "Ah, aku kurang tinggi," lalu terseyum, mengusap kepala Baekhyun, "padahal aku ingin melakukan dunk."

Baekhyun suka dunk. Baekhyun menyukai lompatan Chanyeol. Selalu.


"Chanyeool…" Baekhyun mencicit takut.

"Tidak apa, kok, aku 'kan anak baik, hehe…" balas Chanyeol percaya diri.

Mereka ada di depan rumah Baekhyun, dua minggu setelah pertemuan pertama. Baekhyun berencana mengenalkan Chanyeol pada keluarganya setelah Baekbum mengungkit-ungkit kepulangan Baekhyun yang terlalu sore akibat bertemu Chanyeol terlebih dahulu.

Chanyeol membuka pintu, Baekhyun berseru "Aku pulang" dan terdegar jawaban lembut dari dalam. Chanyeol pikir itu pasti ibu Baekhyun. Ia mulai melangkahkan kaki kecilnya ke dalam, melepas sepatunya sementara Baekhyu berlari-lari tergesa. Chanyeol mencium bau sup rumput laut dan mendadak merasa lapar.

Ia masuk lebih dalam, ada sofa dan televisi, mungkin ruang tengah. Chanyeol tak mau duduk sebelum dipersilahkan.

"Siapa?"

Chanyeol mendengar sayup-sayup, kemudian langkah kaki, lalu terlihatlah Baekhyun bersama seorang wanita yang mirip dengannya.

"Halo," Chanyeol membungkuk, "namaku Park Chanyeol."

"Temannya Baekhyun?" ibu Baekhyun nampak gembira, Chanyeol mengangguk membenarkan.

"Astaga!" ibu Baekhyun segera menarik tangan Chanyeol, "ayo duduklah, Chanyeol-ah! Bibi sempat khawatir Baekhyun tidak punya teman karena belum ada satu pun yang ia bawa ke rumah!"

Chanyeol menatap Baekhyun dan anak itu pura-pura bicara dengan tembok.

"Be-benarkah?" Chanyeol mennggaruk tengkuknya, "menurutku Baekhyun pasti punya banyak teman, dia 'kan anak yang baik,"

Ibu Baekhyun tampak tersanjung, Baekhyun merunduk malu-malu di sudut ruangan.

"Baekhyun, kenapa disana? Ayo temani temanmu."

Setelah itu mereka mengobrol basa-basi, seperti bagaimana sekolah Chanyeol dan sekolah Baekhyun yang berbeda. Tak lama, karena suara "Aku pulang" terdengar lagi dari pintu depan, disusul kemunculan pria yang agak tambun bersama anak laki-laki.

Chanyeol sdengan refleks berdiri dan mengucap salam, "Halo, namaku Park Chanyeol, teman Baekhyun."

Laki-laki tambun yang Chanyeol asumsikan adalah ayah Baekhyun nampak kaget, "Park Chanyeol?"

Dia segera mendekati Chanyeol, "Gangsan Blok A nomor 2?!"

Chanyeol mengangguk dan tiba-tiba saja anak laki-laki mirip ayah Baekhyun menerjangnya.

"Wow, Park! Aku selalu ingin menanyakan ini, bisakah aku main ke rumahmu?"

"Baekbum!" seru Baekhyun dan ibunya protes.

"Kenapa?" anak bernama Baekbum merangkul Chanyeol, "katanya dia teman Baekhyun. Teman si bocah berarti temanku juga." sambil nyengir tak bersalah.

Chanyeol cengengesan, "Tentu bisa, hyung, datang saja kapan pun."

"Aku lebih tua empat tahun darimu, Park," Baekbum menepuk-nepuk dadanya, "panggil aku Big Brother, oke? Big Brother."


"Wow," Baekhyun menggigit es krim-nya, "tadi itu hebat sekali, Yeol!"

Yah, setelah perkenalan singkat dan basa-basi paling basi, Chanyeol mulai diinterogasi tentang keluarganya yang sibuk dengan kerajaan bisnis seperti di drama-drama. Bahkan kakak Chanyeol pun dituntut untuk menjadi sempurna, dan Chanyeol bersyukur sang kakak membela Chanyeol agar tidak hidup terkekang seperti dirinya.

Ibu Baekhyun langsung memeluknya simpati saat Chanyeol bilang ia hanya bertemu orangtua sebulan sekali, tiga kali kalau beruntung. Istana yang dikagumi Baekbum itu sama sekali tidak hangat. Tapi itu tak mengurungkan niat Baekbum untuk menjelajah disana.

"Mulai sekarang anggap saja aku ibumu, Chanyeol. Mulai sekarang kami juga keluargamu, mengerti?"

Itu adalah pencapaian luar biasa dalam sehari. Chanyeol menyombongkan diri dalam hati.

Baekhyun membuang stik es krim-nya (sembarangan) lalu menatap Chanyeol, "Sekarang Chanyeol keluargaku!" ia melompat memeluk Chanyeol yang terkekeh-kekeh.

Chanyeol melepas belitan Baekhyun, memandangi wajah manis anak itu, "Kau juga harus bertemu keluargaku, Baek."


"Wow, lihat siapa yang datang."

Baekhyun bersembunyi di balik punggung Chanyeol, menggenggam erat-erat kaos Chanyeol, ketakutan.

"Kakak membuatnya takut."

"Benarkah?"

Anak perempuan itu mirip sekali dengan Chanyeol, dan sedikit lebih tinggi. Baekhyun takut melihat senyumnya yang lebar, seakan-akan melihat Baekhyun seperti melihat boneka baru yang siap dimainkan. Rambutnya pendek sebahu, Chanyeol bilang kakaknya lebih tua lima tahun darinya.

"Halo," kakak Chanyeol mengulurkan tangannya pada Baekhyun, "aku Park Yura, panggil saja Yura-eoni,"

"Ehm, kakak, dia ini laki-laki."

Hening lama.

"Apa?!"

Baekhyun menjabat tangan Yura takut-takut, Yura menganga tak percaya, "Na-namaku Byun Baekhyun…"

"Uuuuggghh… manisnyaaaa!" Yura memeluk Baekhyun tiba-tiba hingga yang bersangkutan mengap-mengap.

"Kakak, kau membuatnya sesak!"

Yura melepas pelukannya dan menatap Baekhyun dengan mata berbinar-binar dan senyum hangat. Mendadak ketakutan Baekhyun sirna seketika.

"Kupikir kau anak perempuan yang diberi misi oleh orangtuanya untuk mendekati Chanyeol."

Saat itu Baekhyun belum mengerti betapa drama queen-nya seorang Park Yura.

"Tapi karena kau laki-laki," Yura terkikik-kikik mencurigakan, "selamat datang di rumah, adik iparku!"

Sayangnya saat itu Baekhyun belum mengerti makna "adik ipar".

Yang ia mengerti adalah bahwa ia diterima, sebagai keluarga.


Tapi keluarga Chanyeol bukan hanya Yura.

Hari itu adalah tepat sepuluh hari ketika Chanyeol mengenalkannya pada Yura. Baekhyun kembali ke rumah Chanyeol atas paksaan sang tuan rumah. Karena hari itu orangtua Chanyeol—untuk pertama kali setelah sebulan keliling Eropa—pulang.

Seperti pertemuan pertamanya dengan Yura, Baekhyun juga bersembunyi di balik punggung Chanyeol, menatap takut-takut pada sepasang mata horor dari seorang wanita cantik namun terlihat angkuh, dan juga pandangan menilai seorang pria yang mirip Chanyeol.

"Siapa ini, Chanyeol?"

"Temanku."

Baekhyun sempat tersentak saat Chanyeol bicara dengan nada datar. Tidakkah Chanyeol rindu ayah-ibunya? pikir Baekhyun. Ini baru pertama kalinya Baekhyun mendengar Chanyeol bicara sedingin itu.

"Oh," wanita yang Baekhyun kira ibu Chanyeol mendelik padanya, "dari keluarga mana?"

Chanyeol mendesah lelah. Ini, inilah yang membuatnya tidak punya teman yang benar-benar teman. Ibunya pikir putera-putera bangsawan yang dikenalkan padanya itu benar-benar baik? Oh, tentu saja ibunya tak tahu, yang menjalani itu semua 'kan bukan dia.

"Rumah pertama di tikungan, pagarnya biru."

Ibu Chanyeol selalu menilai sesuatu dari harga, orang dewasa selalu seperti itu. Mereka suka angka. Mereka tidak bisa melihat keindahan dari bunga mawar di tepi jalan dan lebih memilih berlian yang mahal, yang memiliki angka lebih banyak. Kadang Chanyeol tak ingin tumbuh dewasa.

"Ibu sudah mengijinkanmu sekolah di tempat yang tidak berkualitas," ibunya bersidekap, "tapi ibu tidak pernah mengijinkanmu bergaul dengan orang yang tidak berkelas juga, Park Chanyeol."

Chanyeol mengepalkan tangannya erat, Baekhyun merunduk sedih. Sedikit banyak ia tahu bahwa ibu Chanyeol tidak menyukai eksistensinya dalam hidup Chanyeol.

"Aku ingin dengar pendapat ayah."

Chanyeol mendongak menatap ayahnya dengan pandangan memelas, dan memaksa. Kepala keluarga Park balas menatap Chanyeol datar seperti biasa.

"Apa yang akan kau lakukan jika kupisahkan kau dengan anak ini?"

Chanyeol dengan refleks menggenggam pergelangan tangan Baekhyun, semakin menyembunyikan tubuh Baekhyun yang lebih kecil di balik punggungnya. Ia mendesis marah, menatap ayahnya menantang.

"Aku akan memberontak," katanya tegas, "dan Baekhyun sama sekali tidak merugikan. Aku menyelesaikan PR-ku lebih cepat agar bisa bermain dengannya."

Ayah Chanyeol, seperti pebisnis kebanyakan, menilai sesuatu dari segi keuntungan. Maka Chanyeol dengan cerdas memanfaatkan hal itu. Entah sebenarnya Baekhyun yang terlalu kekanakan atau Chanyeol yang terlalu dewasa dari usia sebenarnya.

Akhirnya sang ayah berdehem, berbalik memunggungi Chanyeol, "Asal kau tetap fokus pada tujuanmu, terserah kau saja."

Wajah Chanyeol menjadi cerah, berkebalikan dengan mimik ibunya.

"Tapi, sayang—"

"Aku tak mau lagi mengurusi hal tidak penting seperti Chanyeol yang memberontak."

Dengan itu Tuan Park pergi ke kamarnya, sementara Nyonya Park menyusul sesudah memberi Baekhyun pandangan menyeramkan.

"Chanyeol…"

Chanyeol berbalik dan betapa terkejutnya ia melihat mata Baekhyun berkaca-kaca, "Ibumu tidak menyukaiku…"

Maka Chanyeol memeluknya. Baekhyun yang ingin ia lindungi, sekarang terluka karena kesalahannya. Seharusnya Chanyeol tidak usah mengenalkan Baekhyun, seharusnya ia tahu ini akan terjadi. Chanyeol pikir manisnya Baekhyun akan mampu meluluhkan bekunya hati ayah dan ibunya, tapi dia salah.

Yura yang sedari tadi mengintip kemudian mendekati Baekhyun, menepuk kepalanya, "Jangan menangis, Baekhyun."

"Kakak…" Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada bahu Chanyeol, membuat Yura ikut sedih melihatnya.

"Sudah, sudah, jangan dipikirkan. Bagaimana kalau hari ini kita bersenang-senang saja?"

Yura mengeluarkan tiga tiket Dream Land sambil nyengir lebar.


Dream Land benar-benar bisa mengembalikan tawa Baekhyun. Hari itu mereka bermain hingga sore, sampai-sampai Yura kewalahan mengurusi dua bocah yang sama hiperaktif-nya itu.

Langit berubah jingga, Chanyeol dan Baekhyun menghempaskan diri di tanah berumput sambil tertawa-tawa. Yura ikut duduk, tersenyum melihat kedua adiknya senang.

"Kamu suka kesini, Baek?"

"Um!" Baekhyun mengusap keringat di dahinya, "main bersama Chanyeol menyenangkan!"

"Kalau begitu sekarang kita pulang," Yura mengecek jam tangannya, "sudah sore dan orangtuamu pasti khawatir, Baekhyun."

Maka mereka berjalan pulang bertiga sambil bercerita tentang permainan yang tadi mereka mainkan. Yura mengangguk-angguk mendengarkan Chanyeol dan Baekhyun yang begitu bersemangat.

"Permisi," seorang paman menghampiri mereka, "karena ini masih dua hari setelah ulang tahun Dream Land, ada souvenir gratis untuk anak-anak."

Paman itu membawa mainan duduk berbentuk hewan. Chanyeol dan Baekhyun mulai memilih-milih. Kemudian Baekhyun memutuskan untuk mengambil mainan lumba-lumba yang tersisa satu, tapi sayangnya Chanyeol juga memilih mainan yang sama.

"Lumba-lumba hanya satu, kalau kalian mau mainan kembar ambil saja yang lain." saran si Paman.

Baekhyun dan Chanyeol saling berpandangan, keduanya sama-sama ingin lumba-lumba. Yura mencoba menengahi.

"Lakukan gunting-batu-kertas saja."

Baekhyun baru saja memulai ancang-ancang namun tangan Chanyeol lebih cepat mengambil mainan berbentuk ikan badut. "Sepertinya aku ambil yang ini saja," kemudian ia mengambil mainan lumba-lumba dan menyodorkannya pada Baekhyun, sambil tersenyum lembut.

"Ini, Baekhyun. Untukmu."


.


Baekhyun memandanginya lama, lama sekali. Astaga, kenapa dia bisa lupa benda berharga ini?

Hari itu Baekhyun memutuskan untuk membongkar barang lama dalam kardus di bawah ranjang. Ia terkejut saat menemukan layang-layang merah di dalam sana, dan mainan lumba-lumba. Semua ini mengingatkannya pada Chanyeol dan pertemuan mereka.

Baekhyun tersenyum, kemudian menggantung layang-layang setengah rusak di samping meja belajarnya. Ia mengambil lumba-lumba, membersihkannya sedikit kemudian menaruh benda itu diatas meja belajar. Tersenyum lagi dengan wajah merona.

Chanyeol…

"Astaga!" Baekhyun menepuk keningnya, "aku lupaaaa!"

Tergesa-gesa ia membereskan barang-barangnya kemudian berlari kencang keluar rumah. Baekbum meledeknya namun Baekhyun tak mendengarkan. Ia mengecek jam tangan dan mempercepat larinya.

"Tinggal lima menit!"


Hari Jumat berarti Chanyeol latihan basket sampai sore. Sebelum ia selesai, Baekhyun sudah ada di bangku penonton (kadang dengan es krim vanila) menunggu Chanyeol dan mereka akan pulang bersama.

Baekhyun tiba sambil terengah-engah. Ia segera duduk di bangku penonton kemudian melihat permainan Chanyeol. Chanyeol sempat memandangnya dan nyengir lebar pada Baekhyun.

Chanyeol selalu hebat di lapangan basket. Baekhyun mengagumi permainan Chanyeol sejak pertama melihatnya. Bagaimana Chanyeol men-dribble, melakukan shoot, kemudian…

…melompat bebas. Melayang di udara seperti burung.

"Whooaa…"

Sampai sekarang pun Baekhyun masih terkesima dengan lompatan Chanyeol. Bagaimana kakinya menekuk, kemudian lengkung badannya, dan tangan bersama bola yang meluncur mulus mencetak angka. Seakan-akan ada blink di sekitar Chanyeol, membuatnya terlihat indah.

Sampai sekarang pun Baekhyun masih menyukai dunk. Menyukai lompatan Chanyeol.


"Kukira kau tak datang, Baek."

Masih dengan latar sore yang sama, dan es krim vanila di tangan, Baekhyun dan Chanyeol berjalan bersisian.

"Aku datang, kok."

Chanyeol dengan jahil menyentuhkan es krim-nya dengan hidung Baekhyun sampai anak itu berteriak terkejut.

"Chanyeol, itu jorok!"

Chanyeol nyengir tak berdosa, "Memangnya anak lelaki mana yang tidak jorok, huh?"

Baekhyun mengumpat tak jelas sambil menyeka sisa es krim Chanyeol.

"Oh iya, kau masih ingat mainan lumba dari Dream Land?"

Chanyeol berpikir sambil menggigit es krim-nya, "Masih, kenapa?"

"Tadi aku menemukannya di kardus," Baekhyun tersenyum, "dan ku taruh di meja belajar."

Chanyeol mengangguk-angguk, "Punyaku entah dimana, yang ikan Nemo itu."

"Itu ikan badut, Chanyeol. Astaga."

"Apa kau mengenal manusia yang lebih dulu memanggil ikan badut dengan Nemo sebelum aku, Baek? Yang menangis setelah selesai menonton film-nya itu, loh."

"Jangan meledekku!" Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya sebal.

"Kenapa memangnya? Aku berkata jujur, kok."

"Tapi—"

"Omong-omong tentang itu, aku jadi ingat pertemuan pertama kita, saat itu kau menangis kencang dengan suara cemprengmu itu—"

"Jangan bahas itu!"

"—Kau tahu, Baek, suaramu dahsyat sekali, telingaku diare mendengarnya—"

"Chanyeol! Kubilang jangan—"

"—Bisa tidak kau tunjukkan padaku sekali lagi? Rasanya walau cempreng, suaramu membuatku kangen—"

"CHANYEOOOOL!"


Finite


Kim's note :

Aduh maaf kalo nggak nge-feel.. alurnya kecepetan, saya pikir. saya baru pisah sama seseorang yang saya udah anggep kayak kakak.. perasaan saya jadi rumit(?) /malah curhat/ aslinya mau update kamis kemarin biar nggak terlalu lama tapi apa daya PR memanggil-manggil -_-

Btw Yura udah punya jiwa fujo dari kecil muahaha.. /ga penting/

Scene Chanyeol sama Baekhyun yang ngerebutin mainan lumba-lumba (mainan duduk, tau kan?) itu dari scene anime FREE! Ada yang tau anime itu? hehe

Pojokan(?) Ch 2 :

Q : setiap chap akan berubah judul ya?

A : iyap, karena ini oneshot bersambung(?)

Q : kelinci si baek begimana jadinya?

A : hyunyeol udah aman di surga :D

Kapan ChanBaek jadian?

Hmm.. kapan-kapan? /plak/

-:-

Thanks for :

La Eclairs , mfayumu , Shouda Shikaku , nadyadwiandini10 , vitCB9 , nopiefa , Sniaanggrn , chika love baby baekhyun , hunhanrakaisoo , uchanbaek , CussonsBaekBy , alfi lee , welcumbaek, Parkbaekyoda , Sonewbamin , Maple fujoshi2309 , oneal , neli . shawolslockets , BLUEFIRE0805 , Changsha , Kim Bo Mi , BLAUESKI , hyunyoung , indah byunjungkim , Re . Tao , ChanBaekLuv , nur991fah , baguettes

-:-

Walau ga bisa bales satu-satu tapi percayalah, saya bacanya berulang-ulang sambil nyengir kesenengan XD

Makasih segala review manisnyaa! Makasih juga buat yang fav/follow! Semoga kalian terhibur dg fic gaje ini, hehe :D

Wanna give me a review again? :D