Semua tokoh adalah milik J.K. Rowling
Chapter 3 _curiga_
Langit mendung menandakan akan timbul badai. Bahkan sampai siang ini pun matahari tampak pelit untuk bersinar. Semua murid Durmstrang jalan tergesah-gesah dari kapalnya di danau menuju ke kastil langsung masuk ke aula besar untuk makan siang. Begitu pula dengan Eltanin, Ayahnya Viktor Krum langsung pergi tadi pagi selesai sarapan menuju kementrian dimana sebenernya adalah tamu, dan tidak memiliki kepentingan di Hogwarst, melainkan di kementerian untuk mengurusi piala dunia Quidditch yang akan tahun depan sebagai ketua oraganisasi Quidditch Internasional. Ayahnya akan kembali nanti saat makan malam untuk pesta pembukaan dan kemudian pulang ke Bulgaria. Eltanin sudah memasukkan namanya sebelum sarapan pagi tadi, Eltanin kemudian masuk ke aula besar dan menghampiri Albus di meja Gryffindor.
"Hei, lama tak jumpa" sapa Albus sambil membalas lambaian tangan Albus
"Ah, ya. Tahun kemarin eh, terakhir kau ke rumah. Bagaimana kabar James?" Eltanin lebih dekat dengan James daripada Albus.
"James sudah lulus. dia sedang mempersiapkan diri untuk seleksi Auror" jawab Albus.
"Wow, perlukah? Paman Harry sudah cukup sepertinya" kata Eltanin sambil menyerigai mengingat paman Harry adalah kepala Auror, Eltanin rasa tidak perlu James mengikuti seleksi, pasti diterima. "Apakah kau ikut turnamen?"tanya Eltanin.
"Tidak, aku belum 17 tahun, aku hanya berharap Jhon Thomas yang terpilih, tadi dia sudah memasukkan namanya sebelum sarapan. Aku berharap dari Gryffindor yang masuk" jawab Albus.
"Kau harus mendukungku kalau bukan dari Gryffindor tentunya" timpal Eltanin menyerigai lagi.
"Ah, Malfoy memasukkan namanya, mana mungkin dia masih kelas 6 sama seperti kita kan. Uh, masa juara Hogwarst dari Slytherin. Ini tak bisa, tadi pagi aku lihat Nott juga memasukkan namanya" kata Rose Weasley mendengus.
"Dia sudah 17 tahun berarti. Dan ya, tidak bisa dipercaya ulang tahunku 3 bulan lagi" kata Albus kesal tidak bisa ikut turnamen.
Eltanin melihat arah murid yang dibicarakan Albus dan Rose. Murid berambut pirang platina itu masuk ke aula besar dan duduk di meja paling ujung kanan dan mulai memakan sarapannya. "Siapa dia?" tanya Eltanin.
"ah, Malfoy. Scorpius Malfoy. Demi celana Merlin yang paling bau dia anak paling menyebalkan di Hogwarst" jawab Albus
"Sudahlah Albus, kau kesal karena dia pernah mengalahkan James hah. Menurutku Dia cukup oke" timpal Lily baru datang. "Apa kabar El?" Lily memeluk Eltanin dan mendudukkan dirinya di sebelah Eltanin. "Wah kalau kau sekolah disini aku yakin kau pasti terpilih."
"Oh, sekarang adikku sendiri membela musuh. Dasar ular, ngapain kau disini? Pindah sana kemejamu" seru Albus.
"Maaf kakakku tersayang, aku hanya ingin menyapa El. Masuk kelas apa kalau begitu jika kau disini? 6 atau 7?" tanya Lily tanpa menghiraukan protes kakaknya.
"Kelas 7 aku rasa. Aku lahir bulan Juni. Kau tambah cantik Lil" kata Eltanin. "Jadi menurutmu Malfoy itu tidak menyebalkan?" tambah Eltanin. Eltanin sudah tau sistem Hogwarst tentu saja karena membaca buku sejarah Hogwarst milik ibunya.
"Yap, dia memang jahil tapi tak sejahil Zabini dan dia pintar. Murid paling pintar di kelas 6. Mereka kesal karena dia 2 kali pernah mengalahkan James, tapi James lebih banyak menang sih." jawab Lily
"Dan demi kutil-kutil Merlin, kau sudah hampir menyamai ular-ular itu adikku" sergah Albus.
"Dan jangan bilang kau menyukainya adik sepupu" seru Rose.
"Haha, kalian lucu. Aku bangga kalau aku bisa jadi ular seperti mereka. Terima kasih" jawab Lily sarkastis. "Aku juga merasa El akan dengan senang hati di asrama yang sama denganku kalau dia di Hogwarst."
"Jadi kau bangga menjadi salah satu ular-ular itu?" tuntut Rose tak percaya.
"Yap, dan dari semua Potter yang ada hanya Aku yang bisa menjadi peringkat satu di kelas. Tidak seperti James ataupun kau Al. Dan tahun ini aku terpilih Prefect dan aku akan main sebagai chaser, chaser wanita slytherin pertama sepanjang yang pernah tercatat dalam sejarah Hogwarst. Aku mengukir sejarahku sendiri Albus" jelas Lily panjang Lebar.
"Stop" sela Eltanin melihat Albus sudah mau menjawab.
"Baiklah, aku lebih baik pindah ke meja kebesaranku saja. Selamat datang di Hogwarst El" kata Lily sambil menyerigai meninggalkan meja Gryffindor dan berjalan kearah meja slytherin.
"Dia terpilih sebagai chaser? Aku tau dia oke Albus!" kata Rose.
"Dan licik" tambah Albus
Eltanin hanya diam menyaksikan pertengkaran antara Albus dan Lily. Eltanin memang dekat dengan James Quidditch alasanya, walaupun usianya lebih dekat dengan Albus. Tapi di antara mereka (Potter dan Weasley) Lily adalah yang paling dekat dengannya. Lily punya pemikiran yang hampir sama dengannya yang biasanya selalu membuat para Potter dan Weasley geleng-geleng kepala ketika mereka berkumpul. Dan bisa dibilang Lily seperti oposisi di antara mereka.
.
.
Lily berjalan menyeberangi aula besar menuju kearah meja Slytherin. Dia kesal pada Albus seperti biasanya kalau kakaknya itu sudah mulai mengungkit tentang asrama. Ya Lily masuk Slytherin, membuat keluarga Weasley terkejut, neneknya bahkan hampir pingsan saat mendengarnya. Tapi Lily santai saja, malah dia berkata sambil tersenyum 'aku harus mempersiapkan diri untuk tidak mendapatkan warisan'. Tapi anehnya ayahnya menerima saja dan tidak terlalu mempersoalkannya, ayahnya malah berkata 'Semua Potter sebelumku adalah darah murni dan ibumu darah murni walaupun lebih sering dibilang darah penghianat, tapi ada Slytherin yang lebih berani dibandingkan Gryffindor yang pernah kukenal, dan aku sangat senang kalau kau bisa menghargainya', begitu juga dengan Aunt Hermione (walaupun tidak memiliki ikatan persaudaraan tapi sudah dianggap keluarga Weasley) 'tidak ada yang salah dengan Slytherin. Malah banyak diantara mereka yang benar-benar pintar mengalahkan Ravenclaw, sekarang dunia sudah damai akan lebih baik kalau anak Potter masuk Slytherin, jadi pertengkaran kedua asrama itu bisa selesai', lain dengan ibunya walaupun tidak berkomentar tapi ada raut kecewa diwajahnya, tapi Lily yakin ibunya pun tak mempermasalahkannya.
Sewaktu Albus pertama kali masuk Hogwarst, dia sangat takut kalau dia akan masuk Slytherin karena namanya dan diejek terus oleh James. Ayahnya menenangkannya dan mengatakan bahwa topi seleksi mempertimbangkan pilihan kita. Dan saat Lily memakai topi seleksi, topi seleksi memang memberi tau bahwa dia bisa sukses di Slytherin yang ditolak oleh sebagian Potter, akhirnya Lily memilih Slytherin, mengambil pilihan yang tidak diambil oleh Potter yang lain dan mencoba mempercayai penelaian topi seleksi, dan Lily tidak menyesal. Dia selalu menjadi peringkat pertama di angkatannya, hal yang tak pernah terjadi pada Albus, James, maupun Ayahnya, bahkan kakeknya yang dikatakan pintar dijamannya masih kalah dari Sirus temannya. Lily merasa Lily seperti Sirius ayah batis ayahnya, Sirus menolak Slytherin dan masuk Gryffindor dan dia paling bersinar diantara semua keluarganya dan Lily menolak Gryffindor dan memilih Slytherin dan bisa dibilang dia paling bersinar diantara semua kakak-kakaknya.
Lily memposisikan dirinya duduk dihadapan Simone Zabini kapten Quidditch Slytherin dan Scorpius Malfoy. Sebenarnya Simone dengan setengah hati menerima Lily ke dalam tim, tapi Lily yakin Simone btidak menyesal memilihnya masuk ke dalam tim. Lily mengalahkan semua kadindidat yang mendaftar, Lily satu-satunya anggota yang perempuan, dan dengan berat hati Simone menerimanya dan bilang 'yang penting tidak ada PMS'. 'Demi celana Merlin yang paling norak apa yang ada dipikirannya'. Sedangkan Malfoy satu ini juga adalah peringkat pertama di angkatannya 'sepertinya topi seleksi memang harus pensiun'. Scorpius menurut Lily adalah pemuda yang tau sopan santun dibandingkan kedua kakaknya, dia selalu memperingatkan yang lain walau bagaimanapun Lily tetap perempuan membuatnya nyaman memakai kamar mandi dalam kamar ganti, dan Lily berterima kasih akan hal itu bayangkan sesudah latihan keras penuh keringat laki-laki itu selalu dengan seenaknya membuka baju dan celana mereka di kamar ganti, sebenarnya Lily tidak terlalu memperhatikan dibesarkan oleh dua kakak laki-laki dan keluar weasley yang banyak itu bukan hal biasa, tapi Slytherin tidak pernah punya anggota perempuan, jadinya Scorpius selalu menyuruh Lily menggunakan kamar ganti duluan atau paling akhir.
"Kenapa kau?" tanya scorpius dingin.
"..." Lily tidak menjawab.
"PMS" kata Simone menyerigai.
"Kau sangat pintar Zabini" jawab Lily ketus.
"Wow kau baru tau? Lily selasa malam kita ada latihan jadi PMS mu harus sudah selesai sebelum hari itu, okey" kata Simone
"Oh, Simone please. Kau bisa lebih pintar dari ini?" jawab Lily.
"Stop" kata Scorpius sebelum ada perang mulut diantara mereka. "Kau kenal pemuda itu Lily? Sepertinya kalian sangat akrab?" tanya Scorpius datar, tapi matanya menuntut jawaban.
"Siapa?" Lily menoleh mengikuti pandangan Scorpius. "Oh, Eltanin? Dia anak bibiku yang tinggal di Bulgaria Scorp, tapi bukan bibi kandung, ya sahabat ayahku. Kenapa? Apakah dia tampan?" Simone tertawa keras mendengar kalimat terakhir Lily.
"Aku hanya bertanya dan aku masih normal" jawab Scorpius dingin.
"Aku pikir kau bertanya untuk Simone" jawab Lily sekenanya, giliran Scorpius yang tertawa keras.
"Dan apa maksudmu itu Potter girl?"
"Kau yang mulai Simone"
"Semua orang tau aku yang paling tampan. Tak perlu diperdebatkan dan aku bisa mendapatkan gadis cantik mana saja, dan bukan laki-laki asli ataupun jadi-jadian." Kata Simone dingin
"Tapi menurutku kau tidak tampan Simone Zabini" jawab Lily sambil menyerigai.
"hahaha, santai mate" mencegah Simone untuk berbicara Scorpius tidak bisa menahan tawanya. "Lily hanya bercanda. Jadi nona Potter siapa yang menurutmu paling tampan disini, kalau bukan Mr. Zabini ini?" tanya Scorpius.
"2 atau 3 tahun lagi Louise Weasley" jawab Lily.
"Hah hah, kau harusnya masuk Gryffindor saja" kata Zabini "Jangan mencari jawaban saja aku tampan"
"Aku jujur, walaupun Slytherin jarang berkata jujur. Louise anak dari pamanku William Weasley, anak laki-laki 'kakekku' Arthur Weasley yang paling tampan sebelum digigit manusia serigala, dan ibunya keturunan vella, sekarang saja dia masih 14 tahun tapi 2 atau 3 tahun lagi aku yakin semua wanita mengejarnya" jelas Lily. Scorpius memandang Loise weasley yang sedang makan di meja Gryffindor tidak jauh dari Albus dan Rose. Loise memang tampan, kau tak akan mengira dia Weasley karena rambutnya tidak merah, pirang tepatnya.
"Kau benar" kata Scorpius.
"Mate, jangan bilang kau suka laki-laki" kata Simone agak terkejut.
"Tentu tidak, tapi kata Lily benar dia tampan. Kau kalah 2 atau 3 tahun lagi. Kalau sekarang siapa yang paling tampan Lily?" jawab scorpius santai memasukkan kembali daging panggang ke piring dan mulai makan lagi.
"Yang pasti tidak lebih tampan dari aku?" Scorpius menggangkat wajahnya dari piring dan melihat ayahnya duduk di sebelah Lily di hadapanya. "Father?" kata Scorpius terkejut. Draco hanya mengacak rambut anaknya itu.
"Kenapa kau datang?" kata Scorpius
"Menghadiri pesta kecil ini" jawab Draco sambil mengangkat bahu.
"Ah, Father aku memasukkan namaku ke dalam Piala api"
"Kau jadi ikut, wah aku harus mengundurkan diri menjadi juri kalau kau terpilih" kata Draco menyerigai.
"Kau Ikut Scorp? Baguslah kau harus terpilih dan kalahkan semua anak bego Hogwarst yang mendaftar" kata Lily semangat. Lily masih kesal dengan Albus dan Rose.
Draco melirik gadis disebelahnya. Rambutnya merah panjang menjuntai. Draco menaikkan satu alisnya memandang anaknya bertanya. "Father, ini Lily Potter. Dia salah satu anggota tim Quidditch kami" jawab Scorpius.
"Really? Anak Pothead?" Draco tidak bisa menahan serigainya "Maaf, hanya kebiasaan" melihat Lily sudah melotot. "Maksudku, son kau tak pernah cerita anak salah satu Potter masuk Slytherin?"
"Apakah harus?" kata Scorpius.
"Tidak juga, kurasa darah penghianat masih melekat padamu gadis cantik" kata Draco tersenyum. Kata-katanya memang mengejek tapi dilihat dari matanya itu Cuma bercanda.
"Thank you Mr. Malfoy" jawab Lily sambil menyerigai.
"Oh, aku rasa kau tidak menyesal menjadi Slytherin" tambah Draco. "Baiklah, aku hanya ingin menyapa. Aku akan ke kantor Dumbledore mengurus urusan ini. Oh iya, aku akan tinggal sampai makan malam." Draco meninggalkan meja Slytherin.
"Ah, apakah dia selalu seperti itu? aku rasa ayahmu yang paling tampan Scorp? Dan suaranya sexy" kata Lily masih memandangi pintu aula besar.
"Ya dan seingatku dia masih punya ibuku. Dia terlalu tua untukmu Lily" kata Scorpius memperingatkan.
"Aku juga tidak berpikir seperti itu Scorp. Hanya saja dia memang tampan"
"Kalau begitu kau kencan saja dengan Scorpius, kan dia setengah ayahnya" kata Simone masih kesal kalah tampan versi Lily.
"haha, boleh saja. Kalau Scorp berjanji akan setampan ayahnya saat seusia itu." Jawab Lily enteng.
"So, bagaimana Scorpie" tanya Simone menggoda
"Terserah kau saja" jawab Scorpius sekenanya. Dia menyelesaikan makanannya dan meninggalkan aula besar. Scorpius tidak mengira bahwa ada pemuda lain yang terus memandangnya sedari tadi.
_TBC_
Gimana-gimana? Please untuk reviewnya
Ini FF aku yang pertama, sebenernya aku baru-baru ini baca FF jadi ngk begitu tau banyak. Kemarin ada yang bilang kalau ceritanya mirip, jadi aku baca-baca lagi ff yang lain dan emang ada ff yang mirip dengan cerita awal yang aku buat, akhirnya aku hapus chapter 4 dan 5 yang udah aku buat (mumpung kerjaan lagi belum banyak), dan merombak habis chapter 3 ini. semoga aja tidak mengecewakan. Jadi mohon maaf kalau masih kurang berkenan, saya juga lagi belajar. Hehehe xoxoxo
