"Ini mendadak, namun kami memiliki pengumuman penting untuk kalian semua ketahui.
Karena kesehatan Jasmine You yang tengah buruk, pada saat ini Ia harus berhenti dari segala aktifitasnya termasuk rekaman.
Adapun pengumuman yang di buat beberapa waktu lalu tentang SCUBERDIVE ~shibuya ga taihen~ pada 3 Agustus yang dimana Versailles pada awalnya dijadwalkan untuk tampil sebagai band rahasia pada hari itu. Bagaimanapun, setelah mempertimbangkan kondisi buruk Jasmine You, kami mengadakan meeting bersama para member dan staff dengan maksud membatalkan penampilan pada hari itu.
Hasil dari pertemuan itu adalah saat ini keempat member yang tersisa akan tampil pada acara tersebut.
Mengenai konser lain yang telah direncanakan dimana Versailles akan tampil, masih belum jelas apakah Jasmine You akan turut serta atau tidak.
Kami memohon maaf sedalam-dalamnya kepada para fans beserta staff atas setiap ketidakenakan yang disebabkan oleh masalah ini. Kami berharap anda semua memahami situasi ini.
Selain itu, situs resmi kami dapat diubah setiap saat dengan tambahan pengumuman tentang kondisi kesehatan Jasmine You. Sayangnya, harap dipahami bahwa pihak Delacroix maupun sponsor acara tidak dapat menerima pertanyaan tentang kondisi Jasmine."
***
"Maaf, Sensei, boleh diulangi? Saya kurang jelas mendengarnya," kataku.
Sebenarnya aku sudah mendengar kata itu dengan baik, namun aku tidak percaya. Mungkin dokter paruh baya di depanku ini salah mengucapkan istilah medis yang memang sering membuat lidah orang Jepang jadi terpilin itu.
Dokter itu mengulangi kata-katanya.
Aku mengulangi kata-kata itu dan dokter paruh baya itu pun mengangguk.
"Ya, Akazaki-sama, sangat disayangkan," katanya.
Sekarang aku bahkan tidak mempercayai mulutku sendiri yang telah mengucapkan istilah itu. Istilah yang sangat aneh, namun terdengar sangat mengerikan ketika kau tahu apa artinya.
Aku terdiam.
"Yuuichi?" aku bergumam sendiri.
Dokter itu menundukkan pandangannya, menatap dokumen-dokumen hasil pemeriksaannya tehadap Yuuichi.
"Sejak kapan? Setahu saya itu bukan disebabkan oleh virus, maksud saya... butuh waktu cukup lama untuk bisa menjadi seburuk ini," tanyaku. Aku masih tidak percaya hal seburuk ini terjadi padanya.
"Saya sudah curiga sejak lama, namun saya baru bisa menyimpulkannya pada musim semi dua tahun yang lalu setelah seluruh pemeriksaan dilakukan secara lengkap. Namun, hontou ni, saya tidak menyangka akan memburuk secepat ini,"
Aku kembali terdiam.
Musim semi dua tahun yang lalu adalah saat-saat di mana Yuuichi memulai debutnya dengan Versailles, dan pada saat yang sama pula takdir buruk atas dirinya dipastikan. Ironis.
"Seharusnya masih ada sekitar lima sampai sepuluh tahun lagi, 'kan?" tanyaku.
Dokter itu melepas kacamatanya, memperlihatkan sepasang matanya yang selalu berair.
"Saya pun tidak menyangka dapat memburuk secepat ini, Akazaki-sama, gomen..."
"Keluarganya sudah tahu, 'kan?" tanyaku.
"Mmm... sebenarnya, Akazaki-sama, Anda adalah orang pertama yang saya beritahu,"
Mataku terasa melebar hingga dua kali lipat karena kaget.
"Bahkan keluarganya?" tanyaku tidak percaya.
"Mereka tidak tahu, maksud saya... mereka tidak ingin tahu. Mungkin mereka sudah merasa bahwa ini serius, ketika saya ingin mengatakan tentang penyakit Kageyama-sama, mereka mengatakan 'jangan', katanya mereka ingin bisa terus berharap. Karena itu..."
"Mereka tidak ingin mengetahui kenyataan yang hanya akan membuat mereka putus harapan, yang membuat mereka menjadi tidak bisa berharap lagi,"
"Begitulah," kata dokter paruh baya itu sambil menundukkan kepalanya.
"Namun ini bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, bukan? Setahu saya dengan serangkaian terapi pasien dapat diperpanjang harapan hidupnya," kataku setelah melihat serangkaian hasil pemeriksaan terhadap Yuuichi.
"Terapi itu cukup berat, terutama untuk Kageyama-sama..."
Ya, selama terapi yang cukup lama itu tentu saja dia harus menghentikan semua aktivitasnya, sementara sekarang Jasmine You tengah bersinar di atas panggung. Ia yang suka dengan keramaian dan perhatian... tentu saja menjalani terapi yang membuatnya harus terpisah dari semua itu menjadi sangat berat baginya. Lagipula tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan terapi itu. Mungkin jika ia menjalaninya, Jasmine You telah pergi sejak lama, dan mungkin tidak akan pernah kembali.
Tapi persetan dengan Jasmine You yang liar itu. Setidaknya aku masih bisa menjaga Yuuichi yang kukenal.
Namun apakah ia akan bahagia jika ia harus melepaskan Jasmine You; mungkin untuk selamanya?
Sedangkan mereka telah menjadi satu, satu yang saling melengkapi dan tergantung satu sama lain.
"Bahkan Yuuchi pun tidak tahu..." gumamku. Tiba-tiba segala pikiran berkecamuk di kepalaku.
"Saya rasa Kageyama-sama sudah tahu tentang penyakitnya yang serius, namun sama seperti keluarganya, ia tidak mau saya memberitahunya. Katanya ia ingin menjaga kualitas hidupnya, ia ingin menjaga Jasmine You terus bersinar selama yang ia bisa,"
Jasmine You... Jasmine You lagi!
Seandainya ia tidak terobsesi dengan alien aneh dengan berbagai hal yang ada di kepalanya itu, tentu ia tidak akan jadi seperti ini. Dan aku mulai membenci Jasmine You. Jasmine You yang telah merampas Yuuichi yang kukenal.
"Lalu mengapa Anda mengatakan semua ini kepada saya? Sesuatu yang bahkan Yuuichi pun tidak tahu," tanyaku.
Aku melihat tatapan penjilat pada kilatan mata orang di depanku ini.
"Sebenarnya, Akazaki-sama... berat bagi saya untuk menanggung semua ini sendiri, terutama akhir-akhir ini banyak wartawan yang seolah-olah meneror saya, menanyakan tentang Kageyama-sama secara bertubi-tubi. Saya rasa Anda adalah orang yang tepat untuk berdiskusi. Sebagaimana kita ketahui, Kageyama-sama sekarang bukanlah orang biasa, ia adalah public figure yang selalu diamati oleh orang banyak. Lagipula bukankan Akazaki-sama, Anda adalah..."
"Saya sekarang hanya seorang pegawai di sebuah bar kecil di Tokyo. Tolong minta saya melakukan sesuatu dalam kapasitas saya sebagai seorang pegawai di sebuah bar kecil di Tokyo, dan seorang teman dari Kageyama Yuuichi. Tidak lebih. Yoroshiku onegaishimasu," kataku sambil berdiri dan membungkukkan badanku. Aku tidak pernah suka jika orang-orang melihatku bukan dalam kapasitasku saat ini.
"Maaf, Akazaki-sama," kata dokter paruh baya itu.
***
Aroma melati yang kukenal menyeruak ketika aku membuka pintu kamar itu. Aroma yang kuat itu bahkan telah mengalahkan aroma desinfektan yang biasa ada di sebuah kamar di rumah sakit. Sebuah tas besar tergeletak di atas sofa.
"Ini rumah sakit, Yuu! Kau bukan pergi piknik atau konser sekarang," komentarku sambil memasuki kamar itu.
"Ah, Akazaki... err, Shun! aku tidak bisa meninggalkan bath-set ku!" katanya sambil tertawa.
Dia duduk bersandar di tempat tidur, dengan infus di tangan kirinya dan kabel-kabel kardiograf.
Namun ia tidak nampak pucat atau sakit. Corak kulitnya tetap bagus. Tangan kanannya bahkan sibuk mengetik sesuatu dengan ponselnya. Rambutnya yang halus; yang biasanya tertutup wig besar; dibiarkannya tergerai.
"Kau menulis blog?" tanyaku.
"Tidak, aku membalas email dari fans di seluruh dunia!" jawabnya bersemangat sambil melanjutkan mengetikkan sesuatu.
"Membalas email?!? Ahou! Berapa ribu email yang masuk ke inbox-mu?" tanyaku tidak percaya.
"Tidak semua, hanya yang menurutku menarik saja. Kau tahu, fans di Spanyol membuatkan seribu bangau kertas untukku dalan proyek Get Well Soon Jasmine! Bahkan aku yakin mereka tidak tahu bagaimana cara membuat sebuah bangau kertas... apalagi seribu," katanya sambil tertawa.
"Ketika bangau-bangau itu tiba, ternyata kau sedang konser di Spanyol!" lanjutku, menanggapi semangatnya.
Dia tertawa.
"Ada lagi, seorang fans dari Indonesia, kau tahu Indonesia, Shun?" tanyanya. Aku tahu ia hanya mengetesku.
"Indonesia... sebuah negara kepulauan besar, di barat daya Jepang letaknya, masuk ke dalam wilayah Asia Tenggara. Sebuah negara tropis, jadi di sana hangat sepanjang tahun, memiliki laut yang indah dan nama presidennya... aku lupa,"
"As expected from Shun Akazaki!" serunya menggunakan Bahasa Inggris. Aku tidak begitu mengerti artinya. Sepertinya sebuah pujian.
"Kau tahu, katanya Jasmine adalah bunga nasional di Indonesia, sama seperti Sakura di Jepang. Namun anehnya justru aroma Jasmine di Indonesia diidentikkan dengan kedatangan arwah atau hantu dan hal-hal mistis lainnya," katanya.
"Berarti hantu di Indonesia memakai bath-set yang sama denganmu, sugoi!" komentarku. Dan kami tertawa.
"Kujawab saja, 'mulai sekarang kau jangan takut lagi pada aroma Jasmine, anggap saja mulai sekarang jika kau menciumnya berarti ada Jasmine You di dekatmu, hanya saja dia sedang melakukan trik magic untuk menghindari paparazzi sehingga kamu tidak bisa melihatnya', bagaimana?" tanyanya.
"Jawaban bagus, untuk orang yang bahkan tidak tahu bagaimana Indonesia," komentarku.
Dia tersenyum, menutup ponselnya.
"Aku merasa mereka, fans-fans di seluruh dunia, sekarang tengah memeluk Jasmine You dengan hangat, memberikan kekuatan supaya Jasmine You bisa berdiri dan bersinar di atas panggung lagi, dakara..."
Aku menatap kedua matanya yang hangat dan berbinar itu. Matanya menjanjikan bahwa ia akan segera sembuh dan tampil di atas panggung kembali.
"Dakara, aku pun ingin memeluk mereka semua, aku ingin mereka juga merasakan Jamine You memeluk mereka dengan hangat dan erat,"
Entah mengapa air mataku terasa mengambang.
"Nanti ketika kami tampil di live selanjutnya, aku akan memamerkan bangau kertas buatan mereka, dan... satu lagi! Aku akan memamerkan trik magic terbaruku!"
katanya bersemangat.
"Apa itu?" tanyaku.
"Aku akan menghilang, kemudian muncul di antara penonton! Bagaimana Shun? menakjubkan, bukan?" tanyanya.
"Lalu bass-mu bagaimana? bukankah itu ada kabelnya?" tanyaku.
"Ah, ya! Aku lupa..." jawabnya sambil melihat ke arah cermin di samping ranjangnya.
"Tadinya aku merupakan personel Versailles yang paling sering bercermin, tapi sekarang aku takut Hime mengalahkanku," katanya sambil tertawa.
"Hime?" tanyaku.
"Hizaki-san. Aku suka memanggilnya Hime dan sepertinya dia pun tidak keberatan," katanya.
Dan kuakui Hizaki memang selalu tampil layaknya seorang Hime.
***
Kami bicara banyak sore itu. Kebanyakan mengenai debut majornya dan teman-teman se-band maupun teman-teman sesama artis dari Sherow Artist Society.
Ia menceritakan kekagumannya kepada Kamijou yang dapat berpikir dengan cepat, Hizaki; yang disebutnya 'Hime'; yang sangat cantik dan berbakat, kemudian berceita tentang Teru yang hampir selalu minta maaf karena datang terlambat dalam hampir setiap acara, juga tentang Yuki yang kuat minum dan juga merupakan teman baik Teru dalam membuat kelakar-kelakar yang dapat membuat mereka semua tertawa.
Sementara berbagai hal berkecamuk di otakku.
