"Museong ye han nunbit, tta bunhae haneun pyojeong

Yejeon gwaneun dareun, haengdondg gwa maltu

Shiwon hage, mal dolliji malgo

Yaegi hae (neo) teonoh goseo"

Check This Out...

Love Chronicle chappy 3..

3

2

1

Action... Selamat Membaca...

Habis Baca...Don't Forget To Review, Ok!

Disclaimer : Only Aoyama Gosho Seorang

Pair: Shinichi x Ran... 4EveR

~Love Chronicle~

Chapter 3

"Terima kasih ya atas bantuannya ya Shinichi..." ucap Takagi begitu mobil ferrari merah yang di tumpanginya bersama sang kekasih, Miwako berhenti di depan sebuah rumah mewah yang bergaya Eropa.

"Sama- sama paman Takagi... Ini kan memang sudah jadi pekerjaanku..." jawab Shinichi. Lalu pemuda itu pun turun dari mobil yang mengantarnya pulang itu.

"Paman Takagi, bibi Miwako... Terima kasih ya sudah mau mengantarku pulang." Ucap Shinichi.

"Sama sama detektif..." jawab Miwako.

"Kalau begitu kami permisi dulu ya Shinichi... Selamat malam..." ucap Takagi.

"Ya... Selamat malam paman Takagi, bibi Miwako..."

Begitu mobil Miwako dan Takagi tadi sudah pergi. Shinichi pun mulai merogoh rogoh saku celana panjang nya. Setelah menemukan kunci dari dalam sakunya. Shinichi langsung membuka pintu gerbang rumahnya yang masih terkunci itu. Lalu Shinichi berjalan memasuki rumahnya itu.

.

~Love Chronicle~

.

"Oh... Kau sudah pulang Shinichi..." sapa Prof. Agasa.

Shinichi yang merasa di ajak bicara pun menoleh ke belakang.

"Profesor..." Sapa Shinichi. Shinichi pun berjalan menghampiri Prof. Agasa yang berdiri di balik tembok rumah keluarga Kudo ini.

"Ada apa Profesor?" tanya Shinichi.

"Ah, tidak. Tidak apa apa. Kau baru pulang malam malam begini?"

"Iya... Tadi kasusnya cukup rumit dan pelakunya juga mengelak terus. Jadi yah baru selesai jam segini..." jelas Shinichi.

"Lalu kau pulang naik apa?"

"Oh... Tadi aku di antar oleh Pak Takagi dan bu Miwako..."

Prof. Agasa hanya mengangguk angguk.

"Oh iya Shinichi, tadi siang Ran dan Sonoko datang mencarimu ." kata Prof. Agasa.

"Ran dan Sonoko? Memangnya ada apa?" tanya Shinichi.

Prof. Agasa hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya Sonoko marah padamu?" kata Prof. Agasa.

"Hah? Sonoko marah padaku? Memangnya apa yang ku lakukan?" tanya Shinichi bingung.

Untuk yang kedua kalinya Profesor pencipta jam tangan peluru bius itu hanya menggeleng.

"Ya sudah kalau begitu... Aku masuk dulu ya Profesor." Pamit Shinichi.

"Ya..."

.

~Love Chronicle~

.

Begitu Shinichi memasuki rumahnya ia langsung menyalakan semua lampu rumah. Begitu susasana sudah terang. Shinichi malah menuju ke ruang baca yang ada di rumahnya. Di sebut ruang baca karena ruangan itu di penuhi rak rak tinggi berisi buku buku misteri. Yah, berkat buku buku itulah Shinichi bisa menjadi detektif SMU yang hebat sekarang.

Begitu memasuki ruangan itu Shinichi langsung duduk bersandar di kursi yang ada di belakang meja kerja yang dulunya adalah meja kerja ayahnya itu. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, melipat kedua tangannya di dada, dan juga menselunjurkan kedua kakinya lurus lurus. Kemudian Shinichi memejamkan kedua matanya. Hal itu selalu di lakukan Shinichi ketika ia merasa lelah ataupun ketika ia sedang berpikir.

~Love Chronicle~

Kasus hari ini benar benar membuat Shinichi merasa lelah. Belum lagi Shinichi harus menuliskan laporan kasusnya dan segera menyerahkannya pada Ins Megure esok hari. Dan juga tugas tugas sekolah yang sudah menumpuk. Walaupun ia sudah kelas 3, guru guru di sekolahnya malah semakin rajin saja memberikan siswa siswinya itu tugas sekolah.

Oh... Iya tadi Prof. Agasa mengatakan kalau Ran dan Sonoko tadi siang mencari Shinichi. Memangnya ada apa? Apalagi Prof. Agasa juga mengatakan kalau Sonoko sepertinya marah dengan Shinichi. Memangnya apa yang sudah ia lakukan? Shinichi benar benar tidak mengerti.

Lebih baik aku menelpon Ran saja... Pikir Shinichi.

Shinichi pun segera mengeluarkan handphone dari dalam saku bajunya. Lalu Shinichi pun mencari nomor telepon kekasihnya itu di phone booksnya. Kemudian Shinichi menmpelkan handphone flip nya itu di telinganya. Menuggu telepon tersmbung.

'Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan' Bukannya suara merdu Ran yang terdengar tapi malah suara nyaring operator yang terdengar.

"Kok nggak aktif..." gumam Shinichi. " Tumben..."

"Haah... Sudahlah tanya besok saja... Toh kalau dia ada perlu denganku. Pasti dia bicara padaku besok." Kata Shinichi.

Shinichi pun bangkit dari duduknya. Lalu ia melangkah menuju tangga menuju kamarnya.

Setelah mandi Shinichi turun dari tangga. Shinichi melangkah menuju dapur rumahnya yang sepi itu. Lalu ia membuka kulkas nya itu. Melihat apa yang bisa ia makan. Namun ketika Shinichi membuka kulkas. Ternyata di dalam kulkas tidak ada makanan apapun, sebutir telur saja tidak ada. Bahkan Shinichi lupa kalau ia juga tidak punya nasi. Yah beginilah resiko hidup sendiri. Walaupun ia memiliki kekasih, tapi tidak setiap hari Ran datang membuatkan makanan untuk Shinichi.

'Hahhh' Shinichi hanya menghela nafas panjang. Lebih baik ia numpang makan malam di rumah Prof. Agasa saja.

.

~Love Chronicle~

.

Setelah makan malam rumah di rumah Prof Agasa. Shinichi langsung mengunci semua pintu dan jendela yang ada dirumahnya. Setelah merasa rumahnya aman dari seseorang yang di sebut pencuri atau istilah kerennya di sebut maling. Shinichi segera masuk lagi ke kamarnya untuk mengerjakan tugas tugas sekolahnya. Hanya perlu waktu 30 menit bagi Shinichi untuk mengerjakan seluruh tugas tugas sekolahnya. Setelah itu ia sudah bisa langsung terbang ke alam mimpi.

Namun sepertinya itu bukan hal yang mudah untuk Shinichi malam ini. Karena sudah sejak beberapa menit yang lalu Shinichi membaringkan diri di atas tempat tidur namun ia masih belum bisa memejamakan matanya sedikitpun. Shinichi masih memikirkan apa yang ingin Ran atau Sonoko bicarakan padanya. Dan ia juga penasaran kenapa Sonoko marah padanya. Walaupun itu belum pasti, karena tadi Prof. Agasa juga mengatakan sepertinya. Jadi ada kemungkinan kalau itu tidak benar. Dan belum tentu Sonoko marah padanya. Tapi Shinichi masih tidak mengerti kenapa Sonoko harus marah padanya. Kalau gadis itu marah karena Shinichi sudah mengambil Ran dari Sonoko. Untuk soal itu Shinichi sepertinya sudah pernah minta maaf pada Sonoko.

Apa ini ada hubungannya dengan Ran juga. Biasanya Sonoko ikut ikutan marah kalau Shinichi mencampakan Ran jika sedang memecahkan kasus. Hand phone Ran juga sampai sekarang belum aktif aktif. Shinichi juga tadi sudah mencoba menelpon rumah Ran. Tapi tidak ada yang mengangkatnya. Yang tersisa sekarang hanyalah Sonoko. Kalau Shinichi benar benar ingin tahu, sekarang ia bisa saja menelpon Sonoko. Tapi kalau ia menelpon Sonoko dan langsung mendapat kan damprat dari gadis itu, kalau Sonoko benar benar marah padanya bagaimana? Terus terang Shinichi malas mendengar ocehan Sonoko malam malam begini. Tiba tiba Shinichi tersentak, ia teringat sesuatu yang memang menjadi pikirannya beberapa hari ini.

Jangan jangan tentang kejadian di hotel itu... duga Shinichi. Semoga saja bukan. Batin Shinichi.

Lebih baik Shinichi langsung menanyakannya saja besok. Shinichi kembali mencoba memejamkan matanya. Dan akhirnya sang detektif terlelap menuju alam mimpi.

.

L

O

.

V

E

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01. 00 dini hari. Tapi gadis kelas 3 SMU ini masih belum bisa memejamkan matanya. Ran malah sedang duduk termenung di meja belajarnya. Ia masih kaget dengan apa yang ia ketahui hari ini. Ran... Hamil. Satu kata terakhir itu benar benar membuat Ran shock hari ini. Ia hamil itu artinya ada sebuah kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam rahimnya. Dan tentu saja akan ada seorang bayi yang akan lahir dari dalam rahimnya sembilan bulan lagi. Perlahan Ran menyentuh perutnya lalu menggosok gosokknya lembut. Ia tidak menyangka bahwa di dalam sini, di dalam perutnya ada calon anaknya dengan Shinichi. Ya... Kini Ran yakin bahwa ayah dari bayi yang di kandungnya adalah kekasihnya, Shinichi Kudo. Tangan kanan Ran pun perlahan menarik laci yang ada di bagian kanan meja belajarnya. Ia mengambil sebuah amplop berwarna putih dari dalam laci tersebut. Lalu Ran membuka amplop itu, ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop itu. Kertas itu adalah kertas hasil tes urinenya. Selembar kertas yang membuatnya shock tadi dan mungkin juga akan mengubah hidupnya nanti.

Ran kembali membaca hasil tes urinenya itu. Saat membacanya Ran ingin sekali merobek robek kertas itu kemudian membakarnya menjadi debu. Namun ada atau tanpa adanya kertas ini. Ran akan tetap hamil. Ia akan tetap mengandung anak Shinichi. Bagaimanapun nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Kini Ran hanya bisa memberi lauk pauk pada bubur polos itu supaya ia lebih berwarna dan lebih lezat ketika di makan.

.

~Love Chronicle~

.

Tes... tes... Tanpa di sadari Ran, tetes demi tetes liquid bening yang di sebut air mata sudah mulai membasahi pipi Ran. Entah ia menangis sedih atau menangis bahagia. Atau malah Ran menangisi nasib malangnya ini. Kalau saja ia sudah menikah, kehamilannya ini pasti akan jadi berita yang menggembirakan untuknya dan untuk suaminya kelak. Akan tetapi untuk saat ini. Ran masih sekolah dan ia masih ingin meraih cita citanya. Kehamilannya ini pasti akan menghancurkan masa depannya. Walau bagaiamanapun kehamilannya ini adalah aib yang sangat memalukan untuknya dan juga untuk keluarganya. Bicara soal keluarga, untung saja sejak beberapa hari ini ayahnya sedang berada di luar kota. Karena itulah sejak kemarin Sonoko menginap di rumah Ran untuk menamani Ran. Kini masih ada satu masalah lagi yang menanti Ran. Yaitu kedua orang tuanya, Kogoro dan Eri. Bagaimana reaksi kedua orang tuanya nanti saat mengetahui kalau Ran sedang mengandung. Pasti Eri dan Kogoro akan marah sekali pada Ran. Ran juga akan mengecewakan sekaligus membuat kedua orang tuanya itu malu. Bukan hanya itu saja, sekolah serta prestasi Ran sebagai atlet karateka juga akan terancam. Sekarang Ran tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ran kembali terisak, air mata kembali berdesakkan keluar dari pelupuk matanya.

Shinichi... Batin Ran.

Ran pun meraih sebuah foto yang terpajang di meja belajarnya. Foto itu adalah foto dirinya dan Shinichi ketika sedang bermain Ice skating sekitar beberapa minggu yang lalu.

"Shinichi... Kenapa kau lakukan ini padaku Shin... Kenapa?" gumam Ran. Sembari kedua tangannya menyentuh pelan gambar Shinichi yang ada di foto itu. Dengan air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk matanya.

.

L

O

.

V

E

.

Sonoko membuka matanya perlahan. Lalu ia mengucek kucek kedua matanya itu.

"HOAAAHHMM" Sonoko menguap lebar.

Kemudian Sonoko menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di atas meja belajar Ran.

"Jam setengah 6 ya..." gumam gadis itu.

Ia lalu menoleh ke sampingnya ke arah Ran yang masih tertidur pulas. Dengan segera Sonoko membangunkan Ran.

"Ran... Bangun Ran... Ini sudah pagi..." panggil Sonoko sembari menepuk nepuk pipi Ran.

"Ehm... Ada apa Sonoko? Aku masih ngantuk..." Jawab Ran yang masih enggan untuk membuka matanya.

"Cepat bangun Ran... Cepat!" suruh Sonoko.

Ran pun menggeliatkan tubuhnya lalu sedikit membuka matanya.

"Bangun Ran... Kau harus mencobanya, mumpung masih pagi?" kata Sonoko.

"Mencoba apa, Sonoko?" tanya Ran bingung. Kali ini Ran sudah terduduk di atas tempat tidur.

"Tentu saja mencoba alat tes kehamilan yang kemarin kita beli..." terang Sonoko.

"Ehm... Baiklah..." kata Ran yang masih terlihat ragu ragu. Ran dengan segera bangkit dari tempat tidur.

"Ini..." Sonoko pun menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang yang masih terbungkus plastik itu pada Ran.

"Ehm... Sonoko, bagaiamana kalau mencoba nanti saja. Kita harus siap siap untuk berangkat sekolah kan." Kata Ran.

"Tidak bisa Ran. Kalau pagi hari hasilnya akan lebih akurat.."

"Berarti kalau bukan pagi hari hasilnya bisa salah?" tanya Ran.

"Bukan begitu Ran..."

"Tapi Sonoko, aku tidak bisa cara menggunakan alat ini..."

"Masukkan urinemu ke dalam sebuah wadah kecil setelah itu masukkan alat itu ke dalam wadah berisi urinemu itu. Lalu tunggulah beberapa menit baru hasilnya akan keluar..." jelas Sonoko.

"Kenapa kau bisa tahu Sonoko? Jangan jangan kau sudah pernah menggunakan alat ini ya?" tanya Ran sangsi.

"Tidak Ran. Aku tahu dari kakakku, kakakku kan sekarang sedang hamil... Ya sudah cepat sana..."

Ran pun segera masuk ke dalam kamar mandi.

"Bagaimana aku bisa menggunakan alat itu. Kalau bertemu dengan Makoto saja, jarang... Haaahhh" Sonoko hanya menghela nafas panjang.

Beberapa menit kemudian...

"Bagaimana?" tanya Sonoko begitu Ran keluar dari kamar mandi.

"Aku tidak tahu Sonoko... Aku tidak berani melihatnya..." jawab Ran.

.

~Love Chronicle~

.

"Ran apa kau tidak mau melihat hasilnya?" tanya Sonoko begitu mereka mau berangkat sekolah.

"Nanti kalau tiba tiba paman Kogoro pulang dan masuk ke kamar mandi gimana?" tanya Sonoko takut takut.

"Kau benar juga... Tapi..."

"Biar aku saja yang melihatnya..." Sonoko pun langsung masuk ke kamar mandi. Lalu Sonoko keluar dengan membawa alat tes yang di gunakan Ran tadi beserta bungkusnya yang belum dibuang.

"Kalau muncul dua garis, berarti positif. Kalau hanya satu berarti negatif..." kata Sonoko sembari membaca tulisan pada bagian belakang bungkus itu.

Sementara Ran, ia hanya bisa pasrah menerima hasilnya.

"Ran... Dua garis..."

~Love Chronicle~

T...B...C

Ghifia Kuraudo ( Kayaknya.. Ran beneran hamil deh... Thank you, Pia-chan)

Kudo Kun Ran (Menurut hasil tesnya sih Ran hamil... Namanya jga orang mabuk, pastikan gak sadar...Udah Jodoh kali ya. Thank you)

Kudo Widya-chan Edogawa ( Shinichi kan juga manusia, pasti bisa salah dong. Gimana reaksi Kogoro?.. Hmmm. Kita lihat saja nanti... Thank you)

ReyNa Splash ( I..iya pasti Shinichi tanggung jawab...Thank you)

Tachi Edogawa (Nikah? Perjuangan masih panjang bung... Thank You)

Chiaki 'Sha' Akera ( gpp kok Sha... Shinichi keren apanya Sha? Iya aq ska lgu lgu K-pop, kmu jga? Umurku tahun ini 16. Thank You)

Uchihyuu Nagisa ( Yah... semoga... Thank You.. salam kenal)

Kouri ( Udah apdate .. Thank you.. salam kenal)

Sheila Juwita (Wordsnya skitar 1900-an. Awalnya Ninna kget bca review dri Sheila-san, krena ternyta Seila-san itu orngnya teliti bget. Ninna aja gk kpikiran untuk ngitung kta pun. Tpi Ninna jg smpet sedih krena kbanyakan kta pun malah bkin Sheila-san eneg sama fic ini. Tpi ujung ujungnya Ninna jdi mlu sndiri *nutup muka pake bantal* krena ternyata Ninna blum bsa nulis fanfic dgn benr... Thank you Sheila-san. Salam kenal... Ninna jdi smkin semngat nulis fanfic ini... Btw Sheila-san pernah review chpy 1?)

ShinichiRanKudo( Seru? Thank you... Oke.. Salam kenal, Thank you.)

Terima Kasih banyak... Atas Review nya, Ntar Review lagi ya...^^

~Ninna Fumiya~