NB : Maaf ganggu sebentar. Sebelum ngetik fic ini, Karen lagi bingung stadium galau. Karen liat di akun FFn Karen, fic ini reviewnya 7, tapi pas diliat reviewnya cuman ada 6. Itu gimana, tuh? Nanti Karen dianggep gak nanggepin reviewnya lagi ==a Mohon bantuannya, ya. Terima kasih.

The Story Of Konohaloid

Disclaimer :

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Vocaloid belongs to Yamaha Corp.

.

.

.

Part Three : World Is Mine!

Main Chara : Sakura Haruno with Sasuke Uchiha

.

.

.

"Sakura-sama, hari telah pagi."

"Sakura-sama, air hangat sudah tersedia di bathtube."

"Sakura-sama, seragam ada di atas tempat tidur."

"Sarapan pagi ini Honey Pancake, Sakura-sama."

"Sakura-sama."

"Sakura-sama."

Sakura memulai aktifitasnya dengan menatap lurus sarapan paginya. Ia mengucek matanya yang masih menyipit, lalu mulai memakan Honey Pancake di hadapannya dengan lahap namun anggun. Setelah selesai, ia langsung pergi ke depan rumahnya, bersiap pergi ke sekolahnya dengan mobil mewahnya.

"Yamato-san, kita tak usah ke sekolah," pinta Sakura dengan sungguh-sungguh di tengah perjalanan. Yamato hanya tetap melajukan mobilnya menuju sekolah. "Ugh! Yamato-san!"

"Ini perintah, Sakura-hime." Sakura cemberut. "Ayolah, Sakura-hime, tak ada yang buruk dalam sekolah."

"Buruk! Sangat buruk! Mereka semua membosankan, Yamato-san!" Yamato terkekeh mendengarnya. "Bukannya aku ini ratu untuk seluruh penjuru dunia ini, Yamato-san?" Ia terkekeh lagi.

"Tentu, Sakura-hime. Tentu saja."

oOo

Sakura Haruno tampil berbeda hari ini. Rambutnya yang biasa ia ikat ekor kuda kini ia ikat dua tinggi-tinggi, namun rambutnya yang panjang tetap dapat menyentuh punggung. Ia memakai tas keluaran terbaru dari D&C, melenggang anggun di antara para murid yang menatapnya iri.

"Hei, Sakura pakai tas baru!"

"Ia selalu pakai barang baru. Setiap hari, malah. Aku sampai bosan."

Sakura memutar kedua bola matanya meremehkan, lalu membiarkan mereka berbicara masing-masing dengan penampilannya hari ini. Ia masih duduk di kelas 2 SMA Konoid di Konoha.

Ia menghempaskan tubuhnya ke atas bangku empuk kelas superiornya. Ia memandang pasrah keluar jendela, berharap menemukan kehidupan baru yang jauh dari kata membosankan.

BRUKK! KYAAA!

Sakura menutup telinga kanannya yang berdenging. Suara teriakan ala fangirls memenuhi gendang telinganya. Ia berjengit jijik, namun langsung dilemparkannya pandangan ke hadapan pintu.

Ia terkejut. Lututnya bergetar. Ia mencengkeram rok abu-abu pendeknya erat.

"Selamat pagi, Ohime-sama."

oOo

"Cukup, Ino! Aku sedang tak ingin diganggu!" Sakura yang merasa terusik dengan keberadaan Ino yang selalu menanyakan hubungannya dengan pemuda misterius tadi pagi menyuruhnya untuk berhenti. "Aku gak kenal."

"Tapi dia kenal kamu, kok." Ino meneruskan make up. "Mungkin, dia secret admirermu, Ra!" Sakura langsung berjingkrak narsis.

"Aku, kan, ratu. Banyak yang mengidolakanku tentu saja." Ia mengibaskan rambutnya ke belakang, membuat Ino menautkan kedua alisnya lalu memutar kedua bola matanya bosan.

"Oke, oke, simpan teori-akulah-ratu milikmu itu untuk sementara waktu ini." Sakura menggumam tak jelas. "Ntar siang jadi nggak ke KTC?"

"Jadi, dong!" Sakura berujar riang. "Bayar sendiri." Ino mendengus.

"Katanya ratu, bayarin rakyatnya kok gak mau!" Sakura berdecak kesal, namun kini senyum puas tersirat di wajahnya.

"Ne, Ino, kau mengaku sebagai rakyatku?"

oOo

Sakura melanggar janjinya. Pemuda tadi menyuruhnya untuk menunggu di parkiran setelah pulang sekolah. Ia menuju KTC dengan Ino menggunakan mobil milik Ino. Mereka memang biasa belanja bersama.

"Ia menyebalkan, Ino. Ia memalukan, sungguh." Ino tak habis-habisnya bertanya tentang pemuda misterius itu pada Sakura. "Kalau kau ingin tahu, dia itu bekerja untukku. Begitu saja." Ino menaikkan alis kanannya, lalu menoleh ke arah Sakura.

"Begitu saja, katamu? Itu kontroversial, Sakura!" Ino mengerem mendadak saat lampu merah. "Pemuda setampan itu tak kau kenalkan padaku, dan kini kau mengakuinya sebagai pelayanmu!"

"Bodoh! Jangan berhenti mendadak begini!" Ino langsung cekikikan.

"Sori, sori. Ayo kita jalan lagi, Ohime-sama." Sakura tersenyum puas. "Ah, aku terpaksa. Kau harus bayar aku kalau aku menyebutmu begitu."

"Aku tak ingin kau menganggapku sebagai atasan," ujar Sakura pelan, "aku ingin kau memandangku tulus. Sebagai teman, Ino. Kuharap kau begitu."

Ino hanya diam. Matanya menatap lurus jalanan.

oOo

"Lama sekali..." gumam pemuda berambut hitam yang selalu melirik jam tangannya. Sudah hampir 1 jam ia menunggu di parkiran. Sekolah telah menjadi senyap sekarang. Hanya ada suara sayup-sayup anak-anak yang masih piket dan ikut kegiatan ekskul.

Ia melangkah masuk dalam mobil sedan silvernya, lalu membanting pintu dengan geram. Kalau saja ia tak disuruh ayahnya untuk memenuhi biaya hutangnya, tak mungkin seorang pemuda setampan Sasuke Uchiha kesal gara-gara seorang perempuan.

Ia mengambil ponselnya. Sunyi, tak ada e-mail satupun, membuatnya semakin geram dan kini ia melampiaskannya dengan membanting dashboard di hadapannya. Setir yang membeku dingin dalam mobil kini ia pegang dan ia putar-putar menurut arah jalan.

Mobilnya berderu pelan menuju kompleks KTC yang ramai hari itu. Ratunya kali ini memang gila belanja dan sedikit nyentrik, namun ia kesepian dan Sasuke ditugaskan untuk menjaganya sampai sebulan ke depan.

"Bagaimana aku tahan menjaganya sebulan ini!" Ia memarkirkan mobilnya di sebelah mobil merah keluaran terbaru. "Baru sehari sudah seenaknya saja."

Ia melangkah cepat menuju butik dimana Sakura sering berbelanja. Ia diberi tahu oleh Yamato, supir kepercayaan keluarga Haruno. Ia menghentikan langkahnya saat melihat bayangan merah muda dengan tawa yang meledak di sebelah gadis berambut pirang.

Satu kata. Merepotkan.

oOo

"Makanannya enak banget! Kenyang, deh!" Ino mengangguk gamblang. "Kita kemana udah ini?"

"Umm, aku mau bolos les dulu hari ini. Bosen ah, les mulu." Sakura mengangguk semangat.

"Aku males banget kalo disuruh les ini-itu. Apalagi les MIPA sama les piano. Bikin ngantuk." Ino tertawa mendengarnya. "Biasalah, orang tua yang ngajarin, gak ngerti selera anak muda."

PUTS!

"Apaan, sih!" Sakura menoleh ke belakang, dan kini langkahnya mundur ke belakang selangkah. Matanya membulat, lalu ia menyapu wajahnya pelan dengan wajah frustasi. "Ngapain kesini, sih?"

"Menemuimu." Sasuke Uchiha memutar kedua bola matanya bosan. "Sudah kewajibanku." Sakura berdecak kesal.

"Aku sedang ingin belanja. Sana! Hus!" Sakura mengusir Sasuke dengan gaya mengusir kucing. Sasuke menahan rasa kesal dalam hatinya. "Pergi gak? Nanti aku panggil satpam, nih!" Sasuke tersenyum miring, membuat Ino menahan napas.

"Yamanaka-san," panggil Sasuke dengan nada dibuat-buat, "boleh kupinjam Sakura dulu?" Ino langsung mengangguk canggung, lalu menggaruk tengkuknya dan menundukkan kepala. Sasuke mendekatinya, lalu membisikinya, membuat wajah Ino merona malu.

"B-Baiklah." Ino membungkuk sebentar sebelum hilang ditelan keramaian. Sakura yang melihatnya langsung diam.

"Apa yang kau lakukan pada Ino?" tanya Sakura. Sasuke mengangkat bahu.

"Semacam bisikan." Sakura mendesis. "Hanya berbisik."

oOo

Mereka langsung pulang ke rumah. Keadaan tak membuat Sakura mood untuk mengelilingi KTC seharian ini. Mendadak tengkuknya memberat dan pandangannya mengabur, membuatnya harus menyimpan tenaganya yang tersisa itu untuk besok.

Sakura melempar tasnya ke sembarang tempat, lalu duduk sembarangan di atas sofa ruang tengah. Sasuke meletakkan tasnya di atas sofa dengan sopan, lalu bersiap berganti pakaian butler.

Sakura memeriksa dahinya lalu mencubit pipinya sendiri.

Hangat dan sakit.

Semuanya bukan mimpi.

"Ada yang bisa saya bantu, Ohime-sama?" Sasuke telah muncul dalam sekejap di dekat Sakura dengan gaya khas butler. Sakura terkejut mendengarnya, namun ia terpana sesaat melihat wajah Sasuke yang cukup –err, cukup cocok untuk jadi butler impian semua wanita.

"Camilan." Sakura menjawab singkat, lalu duduk dengan gaya sombongnya. Sasuke membungkuk sebentar, lalu pergi ke dapur. Sakura menonton tv dengan jengah.

Selang beberapa menit, Sasuke kembali dengan camilan di kedua tangannya, meletakkannya di meja kaca di hadapan Sakura, lalu berdiri di sebelah Sakura yang menikmati camilannya.

"Siapa yang membuatnya, Sasuke?" tanya Sakura.

"Koki dapur, Sakura-sama." Ia mendecih dalam hati mengucapkan kalimat barusan. Sakura nampak menimbang-nimbang sebentar.

"Gulanya terlalu banyak, banyakkan saja cokelat. Tepungnya pilih yang merk XXX jangan merk YYY. Mengerti?" Sasuke menelan ludah.

"Baik, Sakura-sama. Dalam usaha." Sakura mendengus sebentar, lalu meminum jus stroberinya.

"Biji buahnya masih ada." Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. "Buatkan yang baru."

BURST!

oOo

Hari kedua Sasuke berposisi sebagai butler Sakura, dan tibalah hari tersialnya.

"Hari ini aku akan mengetesmu."

Ia berdecih.

"Nah, kau lihat aku memakai hairstyle baru hari ini?" Aku tidak peduli, batin Sasuke. "Kau harus memandangnya dengan penuh kagum setiap kau bersamaku, jauh dari lubuk hatimu. Itu tes yang pertama untuk hari ini sampai seminggu seterusnya."

Sial.

"Yang kedua," Sakura kini memutar-mutar tubuhnya, "kau lihat ini? Aku memakai pakaian terbaru bulan ini. Kau harus menjaganya, jangan sampai ada anak-anak nakal yang mengotori pakaianku sengaja maupun tidak. Sebulan penuh."

Lebih sial.

"Yang terakhir." Sakura menatapnya lurus lalu tersenyum senang. "Kau harus memperlakukanku seperti seorang putri asli –eh, aku memang ratu, sih. Tapi, kau harus memperlakukanku istimewa.

"Kau harus mencium tanganku setiap aku menjabat tanganmu untuk turun dari mobil maupun untuk berjalan bersamamu. Kau harus menganggapku seorang wanita, bukan sebagai seorang atasan. Kau harus menyukaiku dari dalam lubuk hatimu."

Kesialan apalagi yang akan menimpa kali ini.

Sasuke menepuk dahinya pasrah, lalu mengangguk pelan. Sakura tersenyum bahagia. Kali ini, ia mungkin tak akan jengah lagi.

oOo

Tes pertama.

Sasuke harus memaksakan dirinya untuk tidak mual melihat tingkah laku genit Sakura yang menginginkan Sasuke selalu memperhatikan penampilannya. Hari ini, misalnya. Sakura menggelung rambutnya ke atas, lalu menghiasnya dengan pita putih besar.

"Tes pertama, Sasuke." Sakura mendelik ke arah Sasuke, yang membuat Sasuke jengah melihatnya. Ia menarik napas perlahan, lalu memainkan rambut Sakura dengan tatapan bosan.

"Ohime-sama, rambut Anda cantik sekali hari ini. Bagaimana dengan hairstyle baru lagi untuk besok? Seperti kribo, misalnya?"

JDUAGH!

Gagal. Hampir berhasil. Gagal. Hampir berhasil. Ga-UMPH!

oOo

Tes kedua.

Sakura duduk di kantin sekolah bersama Ino dan Sasuke. Sasuke memandang bosan ke lapangan dodge ball sekolah barunya, sementara Sakura dan Ino sibuk bercengkerama satu sama lain.

BRAKK!

"Eh monyong monyong bapak gue copot!" Sakura terjatuh ke depan mejanya, membuatnya terjungkal ke depan dan hampir terjun bebas ke kuah kamabako hangat di hadapannya. "Begok! Siapa yang ngedorong gue!"

Bahasa dewa Sakura.

Akhirnya keluar.

"A-Maafkan aku, Sakura-sama." Seorang gadis culun berambut kacamata, ternyata. Sakura langsung menarik kerah lehernya, lalu menunjuk noda basah di bagian saku seragamnya. "Ma-Maafkan aku. Aku tak sengaja."

"Maaf seenak jidat aja lo! Lo mau laundry beribu kali juga gak bakalan bisa bersih ini seragam!" Mulai lagi, kesombongan Sakura menguar begitu saja. "Lo harus gue kasih hukuman!"

Ino tersenyum licik di sebelah Sakura, sedangkan Sasuke memandangnya biasa saja.

"Heh! Lo! Sini!" Sakura meneriaki telinga Sasuke yang kini menutupnya dengan cepat.

"Aku tidak tuli, bodoh." Sasuke menoleh. "Apa?"

"Tes kedua, Uchiha." Sakura tersenyum miring. "Kau ingat?" Sasuke menggeleng cepat.

"Ah! Bodo amat sama si Uchiha itu, Ra! Kita hukum aja si culun ini!" Ino mendorong tubuh gadis itu hingga terjengkang ke belakang, lalu menatap Sakura dengan tatapan setajam elang. Sakura berdeham sebentar, sebelum kini ia melancarkan aksi death glarenya untuk Sasuke.

Sasuke berdiri dari bangkunya, mengambil sapu tangan dari sakunya, lalu mengelap bekas basah di seragam Sakura yang tepat berada di-

PLAK! PLAK! PLAK!

-bagian dada kanan bawah dengan tidak ikhlasnya.

Mendekati.

oOo

Tes Ketiga. Tes ini telah berulang kali gagal.

Setengah tahun berlalu sejak Sasuke merangkap menjadi butler sekaligus teman sekelas Sakura. Banyak hal yang bisa ia pelajari dari pekerjaan barunya, begitu pula dengan Sakura yang mendapat teman pria pertama kali dalam hidupnya yang begitu dekat dengannya.

"Sasuke, bantu aku turun." Sasuke berdiri di hadapan Sakura tanpa rasa canggung, lalu menggandeng tangan Sakura dan mengajaknya berkeliling. Taman dipenuhi salju kali itu, membuat Sakura kini merapatkan jasnya di tengah dinginnya salju.

"Kau gila?" Sakura mendongak. "Berjalan di tengah salju seperti ini, kau mau lihat apa?" Sakura mengernyitkan dahi.

"Tumben kau bertanya." Sasuke langsung salah tingkah dan membuang muka. "Bukan urusanmu, kan, Sasuke?"

"Hn. Terserahlah." Sakura menggeram. "Mau kemana?" Sakura menepuk dahinya.

"Lu-Lupa." Dasar dia ini, batin Sasuke kesal. "Sudahlah, ayo duduk disana dulu." Sakura menunjuk bangku kayu panjang di pinggir jalan membelah taman. Mereka duduk dengan tenang tanpa bicara sampai beberapa menit.

"Kedinginan?" Sasuke melirik Sakura yang mengusap-usap sarung tangannya.

"Kurang tebel, nih." Sakura mengeluh. "Padahal udah beli mahal. Komplain nanti, ah. Masa ratu dikibulin? Gak enak banget."

Lagi-lagi teori-akulah-ratu keluar.

Sasuke melepaskan syal biru tuanya, lalu mengalungkannya di leher Sakura. Sakura sedikit merasakan rona hangat menjalar di wajahnya saat Sasuke melakukan hal itu, lalu ia mengangguk dan mencium bau maksulin yang menguar dari syal biru tua tersebut.

Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang merona, membuatnya ikut merona dan kini membuang wajahnya agar tak menatap wajah manis Sakura yang tersenyum malu. Sasuke kini berdiri di hadapan Sakura, ia menahan segara rona malunya dengan buncahan rasa yang menggelitik ulu hatinya.

"Sakura." Sakura mendongak, melihat sebuah kilatan tajam di wajah tampan Sasuke. "Aku akan melaksanakan tes yang ketiga."

Sakura memutar kedua bola matanya bosan. "Kau sudah melakukannya berkali-kali, dan gagal." Sasuke kini memberikan uluran tangan di hadapan Sakura. Sakura meraih tangan itu, dan kini Sasuke mencium punggung tangannya dengan lembut.

"Kali ini tak akan gagal, Ohime-sama." Sasuke tersenyum lembut sambil membungkuk. "Karena aku sudah berhasil menganggapmu sebagai seorang wanita jauh di dalam lubuk hatiku." Wajah Sakura semakin merona. Ia pernah berpikir bahwa tes ketiganya memang memiliki sangkut pautnya dengan hal-hal begini.

Namun, ia tak menyangka bahwa tes ketiga kini Sasuke lakukan untuk ke-17 kalinya. Di umur keduanya.

"Wah, akhirnya kau lulus juga, ya, Sasuke. Aku senang sekali." Air mata turun di bola mata Sakura. "Itu tandanya, kau sudah lulus sebagai butler pengalaman."

Sasuke mendongak sebentar, melihat sebuah sirat haru dan duka yang campur aduk di wajah bulat Sakura.

"Selamat, Sasuke."

oOo

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Ini hari terakhirnya di mansion Sakura. Ia harus kembali pulang ke Osaka karena tugasnya sebagai butler Sakura telah selesai ia laksanakan dalam 6 bulan.

Pantas Sakura menangis kemarin. Harusnya ia lebih peka tentang hal ini sejak lama. Ia duduk di tepi jendelanya yang terbuka menampilkan langit berbintang. Ia menatap sendu seluruh bintang itu.

Suara pintu diketuk. Sasuke menoleh ke belakang, lalu menghembuskan napas sebentar sebelum berjalan menuju pintu.

"Siapa disana?" Ia belum membukanya.

"Ini aku, Sakura."

DEG!

"Hn. Ada apa?" Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

Sakura yang berada di seberang suara Sasuke merasa amat bersalah. Ia meremas rambutnya lalu menangis kecil di depan pintu, lalu bersandar dan badannya merosot ke bawah. Daster putihnya kini ikut terjatuh bebas ke lantai.

"Maafkan aku, Sasuke." Suaranya bergetar, dan Sasuke dapat mendengarnya. "Maafkan aku karena tak memberitahumu sejak awal. Harusnya aku memberitahumu sejak awal, jadi kau tak perlu selama ini untuk menjadi butlerku."

Hening.

Sasuke justru tak ingin semuanya cepat berakhir. Dulunya, Sakura adalah pribadi yang cerewet dan menyebalkan. Namun, kini Sakura telah bertransformasi menjadi gadis baik penuh perhatian yang punya banyak teman, kontras dengan kesepiannya yang pekat di tahun lalu.

Sakura masih menangis sesenggukan. Ia tak ingin berpisah. Ia sengaja tak memberitahu Sasuke, agar Sasuke tetap berada di sampingnya.

Perasaan egois antara sang ratu dengan sang butler, apakah tak boleh Sakura dan Sasuke rasakan?

CKREK!

Pintu terbuka.

"The world is your, Ohime-sama."

oOo

Wanita karier itu menunduk dalam, menatap dua makam yang masih baru di hadapannya dengan tangis yang tak kunjung berhenti. Terpampang dua foto orang paling berharga baginya di atas gundukan tanah makam itu.

Ia mengelap lalu membasuh lagi lalu mengelap terus air matanya di wajah bulatnya yang memerah. Rambut merah mudanya di urai sembarangan. Mata hijaunya yang biasanya cerah di layar tv berubah redup seredup suara jangkrik di akhir musim panas.

Sang ratu panggung, Sakura Haruno, kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat kemarin pagi.

"Ayah... Ibu..." Tangisnya tak dapat teredam. Hujan turun deras. Lututnya bergetar seakan ingin meleleh. Ia mendongak, merasakan jarum-jarum halus itu menerpa wajahnya. Rambutnya kini menjadi lepek.

Di usianya yang ke-20 tahun, Sakura Haruno mampu menjadi artis terkenal di Jepang, bahkan sampai ke dunia internasional. Ia baru saja selesai mengadakan konser di Indonesia, dan harus segera pulang karena ada kabar duka yang membuatnya semakin syok sekarang.

PLUK!

Ada yang menyentuh bahunya dari belakang. Ia menoleh dengan sisa keberaniannya, lalu menatap nanar pria di hadapannya.

Pria itu masih sama. Masih sama tampannya, namun mungkin ada beberapa penegasan di beberapa titik wajahnya yang membuatnya terlihat gagah. Sakura tertunduk lemas, lalu terduduk di atas tanah becek. Pria itu menangkupnya, sebelum memeluknya erat.

"Ayo, Ohime-sama, mobil telah menunggu di depan."

Pria itu, Sasuke Uchiha, kembali.

.

.

.

Part Three : END

.

.

.

AN : Waaa karakternya disini kok malah jadi ke-switch yaa =A=; Kitty Kurova-san mintanya versi Len ini malah jadi versinya Miku aaaa TT^TT Maafkan akuu~~~ #pundung

Karakter Sasuke disini macem tsundere deh =u= Yah meski aku sudah berusaha sebaik mungkin buat mereka IC tapi hasilnya ternyata masih OOC juga. Banyak sekali typo(s) yang kutemukan di ch sebelumnya maupun ch 1. Mohon maaf =A=;

Bagaimana? Apakah puas dengan ch ini, World is Mine? Ah, alur terakhir itu sengaja dibikin begitu #plakplakplak.

Baiklah, untuk Karin Hyuuga, so pasti dilanjutin dan selama masih ada req yang mengalir(?) Malam ini aku update 2 fic sekaligus woohoo #plakk Thanks for review!

Beralih ke Lavender's Violin yang request lagu Romeo and Cinderella. Nanti, ya ^^'a Ditunggu saja chnya kei? ;) Thanks for review!

Ada lagi dari Ricchu, aku tau itu Lightis X3~~ Pyoyoo lagunya unyu sih~~ Thanks for review, lho!

Terakhir, malam ini sebagai penutup ada FHYama Shikamaru-san yang req Evil series. Ditunggu saja, ya :) Thanks for review!

Ch depan : Kagerou Days yang nguras air mata #bersiap dengan tisu #plakplakplak

Ch 5 : Magnet - Eien Hanabi - Karakuri Burst (pilih salah satu lewat review!)

Review ditunggu, dan terima kasih atas reviewnya, minna-san~! :D

RnR, da ze? :D