28 Februari 20YX
46 Unread Messages from MISA
23 Calls from MISA
Desahan pelan meluncur dari mulut Light.
Hari itu adalah tanggal yang sama dengan hari kelahirannya yang ke-26. Dan justru karena itulah ia menginginkan satu hari itu saja bisa terlepas dari sosok yang kerap menambah penat kepalanya dengan kebisingan akan kicauan-kicauan berisikan hal-hal manis yang membuatnya muak.
Disibukkan dengan aneka tugas kepolisian yang menyebabkan langkanya kesempatan pulang ke rumah, tentunya senyum manis adik perempuan kesayangannya yang kini akan segera menyelesaikan kuliahnya, sosok Ibunya yang senantiasa sabar menanti kepulangannya, dan senyum bangga terulas di wajah renta Ayahnya menjadi dambaan seorang Light Yagami ketika sampai di rumahnya nanti.
Apalagi semua anggota keluarganya menyempatkan diri untuk tinggal di rumah dan mengadakan pesta kecil untuknya. Umur Light memang sedikit terlalu tua untuk mengadakan acara semacam itu. Tapi… yah, apa salahnya merayakan hari yang spesial bersama orang-orang terdekatnya sesekali?
Sayangnya bukan aroma ayam panggang, cake yang baru keluar dari oven, maupun percakapan hangat keluarganya di ruang makan yang menyambut kepulangannya.
Hanya bau amis darah dan cairan merah pekat menguar dari tiga sosok yang tak lagi bernyawa.
Chapter 3
The Black King:Captured
Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
That King, the smart one
.
That King, the tricky one
.
That King
.
the innocent one
21 April 20XX
"Apa lagi yang harus kulakukan supaya kau mengerti bahwa aku bukan orang yang kaucari?" Matt mengerang frustasi pada 'teman' yang menunggunya di luar bar seusai shiftnya berakhir. "Dengar, namaku memang Matt dan aku mungkin sedikit mirip dengan temanmu itu, tapi aku bukan dia!"
"Kau tidak mirip dengannya," sahut si pemuda pirang. "Kau persis sama dengannya. Dari segi fisik maupun selera berpakaian."
Matt memijit keningnya penuh frustasi. "Baik," ia menghela nafas. "Coba ceritakan sedikit mengenai Matt-mu itu."
"… Dia selalu mengenakan baju bermotif garis; entah apa warnanya, yang pasti motifnya selalu sama. Dan kecanduannya pada gameboy-nya sudah tak bisa kutolerir lagi. Terlepas dari gaya hidupnya yang tidak sehat, entah mengapa ia menyukai masakan Jepang."
Matt menelan ludah. Seperti apapun sosok yang dibahas bos Mafia di hadapannya itu, orang itu pastilah memiliki banyak kesamaan dengannya.
… Tapi orang itu tetap bukan dia!
Mello melanjutkan, "… Matt datang ke panti asuhan yang sama denganku di Inggris pada umur sekitar 10 tahun, dan dia…"
"Itu dia!" potong Matt. "Aku tinggal bersama dengan kerabatku di Jepang sejak kecil!" seru Matt menggebu-gebu.
Mello terdiam sejenak sementara Matt mencemoohnya dalam hati, sedikit bangga bisa membuat Bos mafia keras kepala itu kehabisan kata-kata. Sepertinya kilat keyakinan dari sorot mata azure itu luput dari penglihatannya.
"… Matt, aku tidak tahu siapa atau apa alasan oknum melakukan pencucian otak padamu, tapi kalau kau ikut denganku, aku bisa…"
"Dammit! Mello Yellow Marshmallow, aku tidak pernah berurusan dengan Inggris, panti asuhan, organisasi mafia, apalagi orang sepertimu! Apa perlu kutunjukkan foto-foto liburanku dengan keluargaku agar kau percaya bahwa aku tidak pernah tinggal di panti asuhan?"
"… Ide yang bagus, Matt. Perlihatkan padaku," Mello menampakkan telapak tangannya, menunggu Matt untuk memberikan bukti yang ia tawarkan.
"… Mana mungkin kubawa, bodoh. Apa membawa-bawa foto keluarga tampak seperti kebiasaan bartender sepertiku? Kecuali kau bersedia ikut denganku ke apartemenku sekarang juga dan melihatnya secara langsung…"
"Kalau begitu, antar aku kesana."
Sungguh, betapa Matt menyesali tidak mengerem kalimat yang akan ia lontarkan dari mulutnya.
22 April 20XX
.
"Saya menyatakan Beyond Birthday bebas dari tuduhan kasus mutilasi."
.
Berpasang-pasang mata di ruang penyelidikan terbelalak mendengar kalimat dengan nada monoton tersebut keluar dari mulut bocah albino penyandang nama 'L'. Tidak terkecuali sang komandan kepolisian.
Hari itu 'L' dan agen-agennya akan memaparkan kesimpulan yang mereka dapatkan dari interogasi B.B. pada tim penyelidik khusus kepolisian; satu-satunya tim yang mengetahui fakta mengenai kematian L sebelumnya.
"Dan bisakah kau jelaskan alasan argumen itu… L?" lidah Light terasa kelu ketika menyebutkan nama yang menurutnya tidak pantas diturunkan untuk sosok berbalut piyama putih di hadapannya itu.
Near; atau 'L', berjengit, seakan merasa enggan hanya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya barusan. "Yagami san, dengan kemampuan nalar segitu apakah tidak lebih baik kau mengundurkan diri dari jabatan ini?"
Bahkan untuk orang seperti Light sekalipun, butuh kesabaran ekstra untuk tidak membalas ucapan barusan dengan kepalan tangannya.
Tidak ambil pusing pada ekspresi tak terdefinisikan yang tampak pada raut wajah Light, Near menjawab pertanyaan sang komandan kepolisan, "Kita bahas dari yang paling sederhana; motif."
Near memutar kursi beroda yang didudukinya hingga ia berhadapan dengan salah seorang anggota penyidik bawahan Light. "Bisakah anda menjelaskan motif kasus pembunuhan berantai di Los Angeles?"
Pria yang ditegur menelan ludah, dengan gugup membuka kembali lembaran dokumen di tangannya. "Beyond Birthday atau BB, pernah menjadi anak asuh di panti asuhan yang sama dengan L sebelumnya. Obsesinya untuk mengalahkan L memotivasinya menciptakan 'kasus yang tak bisa terpecahkan' dengan menjadi pelaku pembunuhan berantai. Dan…"
Isyarat untuk diam dari Near memotong kalimatnya. "Kau dengar itu, Yagami san?" ditolehkannya kepalanya ke arah orang yang ia sebut namanya barusan. "Jika BB membunuh karena L, mengapa pembunuhan tetap berlanjut meski L sebelumnya sudah tewas?"
Pertanyaan sederhana yang mampu membuat sang kepala kepolisian terhenyak sesaat.
"Dan lagi…" Near melanjutkan, mengacuhkan kenyataan bahwa bibir sang pemilik mata hazel tampak bergerak sesaat seakan mencoba mengeluarkan kalimat untuk mematahkan argumennya, "coba bandingkan ini."
Near menyodorkan lembaran foto korban hasil penyelidikan. Beberapa diambil dari kasus di L.A., dan sisanya diperoleh dari kasus yang sekarang ini mereka hadapi.
"Di kasus L.A. korban biasanya memiliki keunikan khusus yang tidak ditemukan pada korban mutilasi pada umumnya, misalnya Quarter Queen. Gadis belia ini ditemukan tanpa bola mata di kamar apartemennya sendiri. Korban BB lainnya juga meninggalkan keganjilan pada korban lainnya. Seakan sang pelaku berusaha menyisakan jejak-jejak misteri atas nyawa yang telah ia cabut."
"… Sedangkan kalau yang kita lihat pada foto ini," Near kini menunjuk foto-foto dari kategori terakhir, "…tubuh korban dicabik-cabik tanpa ada ciri pengulangan tertentu. Umumnya mutilasi seperti ini berdasar motif dendam."
"Dengan kata lain…" Near mengelung rambut sewarna saljunya, "… tidak ada bukti bahwa BB pasti bukan pelakunya, namun di sisi lain, tidak ada bukti yang mendukung bahwa BB adalah pelakunya bukan?"
25 April 20XX
"…'L' turun tangan, huh? Sebenarnya aku tidak heran, mengingat Lawliet juga merupakan salah satu korban mutilasi itu," ucapnya sementara jemarinya masih asyik mengaduk-aduk isi kaleng selai yang tinggal sepertiganya.
Meski dinyatakan bebas dari dakwaan kasus mutilasi, mestinya si mata ruby ini tetap mendekam di penjara atas kasus Los Angeles kreasinya, namun seperti yang sudah disinggung; melarikan diri bukan perkara sulit baginya. Apalagi ia punya bidak yang takkan berkhianat padanya…
Lawan bicaranya; si 'peluncur' mengerutkan kening. "Siapa itu Lawliet?"
Hanya terdengar tawa kecil dari mulut B sebagai balasan atas pertanyaan barusan. Matty kecilnya tidak perlu tahu lebih jauh mengenai Wammy dan segala antek-anteknya, juga kematian L yang 'asli'. Dia tidak ingin peluncurnya itu melakukan sesuatu yang melenceng dari rencananya.
Tentu saja, sedikit banyak B sudah menceritakan sedikit mengenai sosok sang detektif nomor satu dunia itu pada pion sekaligus mata-matanya. Namun sekali lagi, hanya sedikit. Hanya sebatas yang perlu Matt ketahui agar bisa bergerak sesuai keinginannya.
"Bukan hal penting. Omong-omong, bagaimana kabar Mihael kun?" bukannya menjawab pertanyaan Matt, si rambut raven malah balik melontarkan pertanyaan.
Matt menaikkan sebelah alisnya. Apa sih yang membuat raja 'dunia belakang' ini begitu tertarik pada si pirang itu? Apa karena sang Bos Mafia memiliki andil besar dalam mempengaruhi bisnis illegal 'dunia belakang'?
"… Aku berhasil meluruskan kesalahpahaman dan meyakinkannya bahwa aku bukan orang yang dia cari. Lalu… begitulah, kami tidak pernah saling kontak lagi."
Melihat reaksi kebisuan Matt, bagaimana sang pemuda berambut merah menghindari kontak mata dengannya, dan diakhiri dengan pernyataan yang sedikit terlalu terburu-buru, tidak sulit bagi B mengetahui bocah yang dikenalnya sejak belasan tahun silam itu menyembunyikan sesuatu.
Tapi justru itulah yang membuat kasus yang bersilangan ini semakin menarik, bukan?
Hanya dengan mengira-ngira apa yang tengah terjadi diantara 'Ratu' dan 'Peluncur'nya, tak ayal membuat seringainya terpoles sempurna pada parasnya.
21 April 20XX
Chevy Camaro SS yang disetir Matt dengan berat hati akhirnya mengantarkan mereka memasuki lahan parkir salah satu apartemen besar dengan konsep minimalis di jantung kota.
Jelas, tempat itu bukan hunian dengan harga terjangkau bagi kalangan menengah, ditambah lagi jika kita mengingat fakta bahwa fasilitas tempat tinggal di Jepang memiliki harga terlampau tinggi jika dibandingkan standar negara lainnya.
"Jadi," si pirang memulai pembicaraan begitu ia menjejakkan kakinya pada salah satu kamar di lantai teratas apartemen itu. "Mana foto yang tadi kau singgung?"
Matt menelan ludah. "Err… sebenarnya… aku dan keluargaku tidak suka berfoto…"
Mello menghela nafas, seakan sudah menduga akhirnya akan jadi begini. "Lalu untuk apa kau membawaku kemari?"
Seandainya tidak kau paksa juga aku tidak mau membawamu!
Tapi ketimbang memproyeksikan pikirannya barusan dalam bentuk lisan, Matt malah memberikan lembaran dokumen pada Mello.
"Itu sertifikat sekolahku dari awal hingga menamatkan SMA di Jepang. Kau cukup puas dengan itu?"
Yang ditanya bukannya memberi respon positif malah mendengus dan menghempaskan dokumen itu ke atas meja. "Yang seperti ini bisa saja dipalsukan."
Darah kembali menaiki ubun-ubun Matt. Tapi ia tahu jika sampai terpancing emosi saat berurusan dengan Bos Mafia di hadapannya ini, bukan tidak mungkin satu atau dua peluru akan bersarang di otaknya.
"Untuk apa juga aku memalsukan sertifikat belajar dari taman kanak-kanak hingga SMA?" ujarnya, mencoba untuk terdengar kalem.
Mello menyeringai sebelum akhirnya menjawab, "Kau seorang hacker, malah aneh kalau kau tidak punya surat-surat yang mendukung identitas palsumu. Bagaimanapun juga, pasti ada kalanya orang yang terlibat dengan 'dunia belakang' memerlukannya."
Matt terhenyak. Oke, ia memang pernah membuat pemalsuan semacam itu beberapa kali. Tapi itu order! Bukan untuk pribadi! Apa dia sebegitu bodohnya hingga surat tanda tamat belajar saja harus dipalsukan?
… Tunggu…
"Siapa yang bilang aku seorang hacker?"
Lawan bicaranya tertawa kecil. "Semua orang juga tahu gaji bartender tidak akan cukup untuk menyewa apartemen macam ini."
Matt mendelik. "Bukan berarti aku seorang hacker 'kan?"
"Yeah, tapi kau terlalu dungu untuk ukuran seorang informan, mengingat kau mengundang Bos Mafia masuk begitu saja ke dalam kediamanmu."
"Tapi, kau yang…"
"Cukup," Mello memotong kalimat Matt sebelum sang pemilik sepasang emerald itu menyelesaikan omongannya. "Daripada masalah kau-hacker-atau-bukan, aku lebih ingin kau memperlihatkan bukti bahwa kau memang bukan Matt yang kucari; kalau memang ada."
Matt mengerang. "Kalau sertifikatku yang tadi saja kau bilang palsu, bukti seperti apa lagi yang harus kutunjukkan?"
Pemilik mata azure di hadapannya tampak berpikir sejenak sebleum membuka mulutnya. "Aku tahu, bukti yang tak bisa hilang walau dipalsukan..."
.
"...Buka celanamu."
.
22 April 20XX
"… Sebenarnya, saya memiliki dugaan tersendiri pada sosok tersangka yang sebenarnya."
Semua pasang mata di dalam ruangan penyelidikan kembali tertuju pada sang bocah albino yang belum bergerak samasekali dari posisi awalnya di atas kursi beroda.
"… Komandan kepolisian Yagami, anda saya tahan atas dugaan sebagai terdakwa kasus mutilasi sampai anda benar-benar terbukti bersih."
Belasan pasang mata membelalak, tak sedikit pula emosinya. Bagaimana tidak, sosok komandan yang selama ini selalu menjadi figur panutan dicurigai sebagai tersangka pembunuhan oleh seorang bocah aneh yang mengaku sebagai L.
Namun tak satupun dari mereka bergerak. Selain karena mereka harus menjaga wibawa sebagai anggota kepolisian, tentunya 'L' yang satu ini mestinya sudah menyiapkan penjelasan di balik keputusannya.
Light tersenyum simpul. Dalam kepolisian, tentunya bawahannya akan jauh lebih mempercayainya daripada seorang detektif swasta yang lebih tampak seperti bocah ingusan. Dan lagi pemilik dua pasang hazel itu meyakini posibilitas Near memiliki bukti yang mendukung tuduhan konyolnya itu sama dengan nol, mengingat ia memang tidak memiliki sangkut paut dengan kasus ini. Begitu mestinya'kan?
"Dan bisa kau jelaskan kenapa posibilitas bahwa aku adalah tersangkanya muncul, 'L'?"
Near menghela nafas. Ia merasa sedikit terbebani karena harus menjelaskan dengan detail, mengingat betapa statisnya pola pikir kepolisian jika ia hanya mengumpani mereka dengan secuil informasi saja.
"Saya rasa tidak satupun anggota kepolisian menyadarinya, karena hal ini berkaitan dengan kehidupan pribadi korban yang tidak berkaitan dengan data yang diperlukan kasus ini. Tapi anda pasti menyadarinya bukan, Yagami san?"
"… Bahwa semua korban memiliki pernah memiliki hubungan dengan Anda."
"Saya menjelajah isi komputer Lawliet san; pria yang awalnya tak teridentifikasi itu, setelah mengadakan kontak dengan 'kerabat'nya. Dari situ saya tahu bahwa anda cukup sering berkirim e-mail dengannya. Dan melihat sedetail apa data kepolisian yang telah anda bocorkan padanya, saya rasa sudah jelas anda berdua memiliki hubungan yang… istimewa."
Semua pasang mata kini beralih pada sang komandan kepolisian. Mereka tidak menyangka atasan yang begitu mereka banggakan mampu membocorkan rahasia kepolisian pada salah satu warga sipil; atau setidaknya begitulah yang mereka ketahui.
Sementara yang bersangkutan tidak mampu menyangkal dan hanya bisa menelan ludah; bingung antara mencaci L di dunia sana atau memaki bocah albino di hadapannya. Ia tahu 'L' yang satu ini pasti sudah menyiapkan segala bukti kalaupun ada bantahan yang meluncur dari mulutnya.
"Korban lainnya, Marry Hasegawa-san… dia mengikuti kegiatan tenis sepertimu di universitas, bukan? Dan wanita Asia bermarga Takada itu adalah teman anda di SMU dulu. Hal ini juga berlaku pada dua korban sebelumnya…" Near berhenti sejenak untuk melihat reaksi sang komandan kepolisian dimana kobaran emosi mulai terlihat pada pancaran sepasang hazelnya.
"… Sepertinya tak perlu saya lanjutkan lagi, bukan? Jika ada seorang pun disini yang masih meragukan kebenaran pemaparan tadi, agen saya siap memperlihatkan bukti-bukti mengenai itu."
"… Kalau aku memang mengenal mereka, lantas kenapa? Betapa bodohnya aku sebagai komandan kepolisian mau bekerja sama dengan 'L' yang menuduh orang seenaknya karena hal semacam ini."
"… Selain hal itu, tidak ada lagi kesamaan diantara lima korban ini. Terlalu ganjil jika dibilang kebetulan bukan? Dan lagi... Saya tahu B.B. memang layak mendapat kurungan di balik jeruji besi setelah pembunuhan yang ia lakukan di L.A., Tapi anda sampai melemparkan tuduhan tersangka kasus ini hanya karena ia kebetulan berada di Jepang dan tidak memiliki alibi yang cukup..."
"… Berarti jika menurut anda saya menuduh dengan alasan absurd, bukankah yang anda juga melakukan hal yang sama pada B.B.?"
Light mengerang. Sebagai orang yang memiliki rasa keadilan tinggi, tentu sekedar tersinggung tidak akan cukup mendeskripsikan perasaannya manakala seseorang menuduhnya sebagai pembunuh tanpa dasar yang logis.
"'L', teorimu itu benar-benar abstrak…"
Near tampaknya tidak mengindahkan ucapan sang Komandan kepolisian.
"… Kalaupun anda memang bukan pelakunya, saya menangkap sesuatu yang ganjil pada tindakan anda. Anda biasanya bertindak secara tenang dan terencana; atau setidaknya begitulah yang saya dengar dari bawahan anda. Namun tindakan Anda menangkap B.B. tanpa disertai bukti jelas menunjukkan ketergesaan anda dalam kasus ini. Apa karena anda tak ingin jatuh korban lebih banyak atau…"
"… Anda ingin menjadikan B.B. sebagai tameng untuk menyamarkan keterkaitan anda dengan kasus ini?"
To be Continued
Hayoo... siapa yg udah yakin banget kalo BB emang pelakunya? XD #PLAK
Kayaknya fic ini gak bakal panjang2 banget deh, soalnya misterinya lumayan cepet saya kupas(?). Ngomong2 mengenai posisi dalem catur, sebenernya itu nggak termasuk misteri lho, soalnya langsung saya bahas secara nggak langsung di chaps2 sebelomnya. Jadi buat yg masih penasaran ato ragu, coba baca ulang lagi, pasti langsung ketauan~
Silakan laporkan pada author jika ada typo ato kesalahan lainnya, seperti biasa~
Review... onegaaaaaaaiiiiiiiii~? :3 *nebar bidak catur*
