Disclaimer : Masashi Kisimoto

"Aku Hyuuga Hinata, salam kenal. Mohon bimbingannya." kata Hinata sambil membungkuk didepan teman-teman barunya. Warna pink menghiasi pipi putihnya kala matanya kembali beradu pandang dengan kedua bola mata sebiru langit milik pemuda berambut kuning itu. bahkan sebelum mengetahui namanya pun Hinata yakin pemuda ini adalah pria yang baik.

"Hinata, kau boleh duduk disamping Naruto." ujar Kakashi mempersilahkan sambil menunjuk tempat duduk Naruto. Lalu Hinata pun beranjak ke kursi sebelah Naruto.

"Hi, aku Uzumaki Naruto." sapa Naruto ramah, memberikan senyuman charmingnya seperti biasa. Yang disapa hanya membalas dengan ramah, layaknya orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya.

Apa dia lupa padaku? Pikir Naruto sedih. Sepanjang pelajaran pikirannya hanya tertuju pada Hinata, orang yang menjadi cinta pertamanya sang pemilik topi putih.

Sebulan berlalu. Naruto yang telah melupakan kegalauannya karena dilupakan akhirnya memutuskan untuk mendekati Hinata, membuatnya tidak akan pernah melupakannya. Bahkan teman-temannya mendukungnya. Membuatnya sekelompok dengan Hinata, menyediakan bangku untuknya dan Hinata di kantin, pokoknya bagi Naruto kelakuan teman-temannya TOP BGT deh.

Sekarang genap sebulan mereka berteman-bisa dikatakan PDKT- dan hari ini, Naruto berencana menembak Hinata.

Baju? Cek

Celana? Cek

Rambut? Err, tidak bisa di apa-apakan lagi

Ok, Naruto Uzumaki siap berangkat!

Naruto POV

"Hina-chan!" seruku memanggil Hinata. Hinata berbalik dengan senyum menawan terpampang diwajahnya. Penampilan Hinata ini entah bagaimana bisa membuat hatiku dag-dig-dug gak jelas. Gyaaaa padahal baru ngelihat orangnya, bagaimana nanpi pas mau nembak?

"Naruto-kun" huwaaa... senyumannya makin terlihat manis.

"Sudah lama -hah- menunggu?-hah- Maaf ya, filmnya sudah –hah- mulai belum?" benar, aku sedang mengajak Hinata nonton. Hehehe istilahnya kencan begitu, sebenarnya aku agak terlambat gara-gara sesuatu yang tertinggal. Tapi tidak apa-apa, benda itu memang sangat penting untuk kesuksesan acara penembakanku ini.

"Hahaha, Naruto-kun atur dulu nafasmu. Tenang saja, filmnya belum dimulai kok, lagian aku sudah terbiasa dengan keterlambatanmu."

"Aduh, Hina-chan kau mau memaafkanku atau mengejekku sih?" kataku kesal. Dia hanya tertawa mendengar gerutuanku. Akhirnya, kami pun masuk ke dalam bioskop.

Sepanjang kencan kami –muter-muter taman ria- terasa amat menyenangkan. Hina-chan masih semanis seperti pertemuan pertama kami dulu. Meskipun hanya sekilas, aku yakin dialah orang yang kucarii selama ini. Kedengaran dramatis banget ya?

Cahaya matahari sore yang mengintip dari jendela di bianglala ini membuatnya semakin mempesona. Ayo Naruto! Ini kesempatan.

"Hina-chan?" dia menoleh menatapku. Tanpa kata, aku mengerti dia ingin aku melanjutkan perkataanku.

"Semenjak pertemuan pertama kita, aku telah terpesona padamu. Tiap hari aku mengecek pantai tempat pertemuan pertama kita. Mungkin kau tak mengingatku, karena memang pertemuan pertama kita amatlah singkat. Jadi…" kukeluarkan topi pantai putih yang menjadi saksi bisu pertemuan kami.

"Akan kukembalikan topi ini bersama hatiku yang sudah seharusnya bersamamu. Maukah kau menjadi pacarku." yes, aku berhasil mengatakannnya. Dengan perlahan ku alihkan wajahku yang masih terus menunduk melihat topi putih itu, menanti jawaban sang terkasih. A… apa itu? Kenapa sorot matanya penuh kekecewaan?

Tak…

Gerbong kami berhenti. Dengan sigap Hinata langsung berdiri. Tanpa memperdulikanku, dia langsung beranjak pergi.

Dapat!

Keberhasilanku menangkap lengannya dibalas dengan sorot mata penuh luka. Terkejut, kulepas lengannya. Bukan karena sorot mata itu, tapi kata-kata yang keluar darinya….

"Aku… bukanlah gadis di pantai itu."

End Naruto POV

To Be Continue

YEEY….!

Akhirnya, setelah sekian lama mengering, mata air imajinasi kembali mengalir!

Saya benar-benar minta maaf pada para reader sekalian yang masih mau membaca dan mereview fic gaje ini. Apalagi nih fic udah berlumut *dua tahun baru update!* sampai ada yang bilang fic ini gak dilanjutin. Jleb banget ke hati tuh *?*

Untuk permintaannya supaya lebih panjang, maaf banget gak bisa… T_T

Doakan saja supaya next chap bisa lebih panjang lagi ^_^ dan terima kasih untuk Heiress Hinata untuk sarannya. Saya benar-benar salah soal nama marga Hinata itu.

Thanks to orang-orang *?* yang sudah sudi mereview fic ini. Sudihkah anda memberikan review kalian lagi?