DCMK bukan milik saya!
Warning : Yandere!Kaito, yaoi, twincest, AU, typo(s), gore, chara death, dll.
MATURE CONTENT! R18!
.
The side you don't know milik Kyuushirou
Part 03
.
Suara jangrik dan beberapa hewan lain tengah memenuhi sebuah hutan di tepi kota. Karena hutan tersebut sering dikatai hutan terlarang atau hutan terkutuk—membuat suasana pepohonan di sana sangat terlihat suram dan angker. Rumor di sekitar masyarakat juga sering mengatakan bahwa siapapun yang masuk ke dalam sana, maka mereka tak akan pernah bisa kembali karena tertangkap oleh 'makhluk' yang tinggal di sana.
Namun, bagi seorang pemuda brunette yang baru pertama kali masuk ke dalam hutan itu, rumor tersebut hanyalah dianggap kebohongan belaka. Dirinya yang tak mempedulikan hal supernatural dengan santainya memasuki hutan sambil mendorong sebuah gerobak—dirinya terpaksa memakai gerobak agar orang lain tidak curiga—yang di dalamnya terdapat seorang gadis yang tangan dan kakinya telah diikat disertai dengan penutup mata.
Remaja itu bersiul pelan sambil memperhatikan jalan setapak yang di penuhi sulur-sulur pohon, ia memperhatikan pemandangan di sekelilingnya dengan cukup kagum. Suasana gelap di siang bolong; suara daun-daun yang bergerak beriringan; berbagai burung yang tebang atau berkicau dan suara lain yang tak bisa ia definisikan tengah memehuni hutan yang terbilang terkutuk ini.
Sang brunette terus berjalan ke dalam hutan tanpa kehilangan arah, ia mencari sebuah rumah atau mansion yang katanya berdiri megah di tengah hutan. Masyarakat sekitar bilang bahwa rumah itu adalah tempat tinggal makhluk asing yang tinggal di hutan. Namun, dia tahu kalau itu hanyalah khayalan belaka. Faktanya, sudah bertahun-tahun lamanya tak ada kasus orang hilang di hutan ini.
Makanya ia memilih hutan ini untuk menjalankan rencananya. Selain orang-orang di sini sangat ketakutan untuk pergi ke sini, tempat ini juga menyediakan sebuah mansion tua yang sudah dikelilingi oleh semak belukar yang dapat ia pakai untuk 'membinasakan' gadis yang ia bawa sekarang.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pemuda itu menemukan mansion tua itu. Ia memperhatikan betapa besarnya mansion itu, hmm~ mungkin ukurannya sama dengan rumah yang ia tinggali bersama Shinichi sekarang.
Dengan langkah riang, Kaito memasuki pintu mansion itu dengan seringai kecil. Dirinya menatap aula besar yang terdapat tangga ke atas. Tapi itu bukan tujuannya, ia harus menemukan ruang bawah tanah. Ditinggalkannya gerobak berisi Ran, Kaito lalu mengelilingi mansion untuk mencari jalan ke bawah tanah. Dan, bingo! Ia langsung menemukannya.
Buru-buru Kaito menghampiri Ran yang masih terikat. Lengannya bergerak untuk melingkarkan sebuah tali tambang di perut gadis itu. Setelah mengikat tali tambang di perut sang gadis hingga Ran terbatuk-batuk—meski belum sadar. Kaito pun berjalan santai ke arah bawah tanah sambil memegang ujung tali yang terhubung di perut Ran.
Ya, Kaito akan menyeret tubuh menyedihkan itu sepanjang jalan.
Tak mempedulikan tubuh Ran yang jatuh dari gerobak dengan keras beserta suara gesekan gadis itu di lantai, Kaito bersenandung riang sambil berjalan ke arah pintu di sebelah kanan yang akan menuntunnya pada tangga menuju ruang bawah tanah.
Seringai keji tercetak di bibirnya kala mendengar rintihan menjijikan yang dikeluarkan Ran saat tubuhnya bergelinding turun dari atas ke bawah tangga. Tak puas hanya rintihan menjijikan itu, Kaito pun menarik tali tambang itu dengan keras hingga tubuh Ran melayang dan ambruk dengan keras di lantai disertai dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
Alasan mengapa gadis itu tidak juga bangun setelah diseret dengan kasar oleh Kaito, karena pesulap itu memberikan obat bius dengan dosis tinggi. Sehingga Ran tidak akan pernah bisa bangun meski Kaito sudah membanting tubuh gadis itu puluhan kali.
Dengan melantunkan melodi Sawage Live-nya Mai Kuraki, Kaito melepas tali tambang di tangannya dan berjalan ke lantai penuh debu khas ruang bawah tanah. Di ruangan ini memang tidak ada apapun, tapi dirinya sudah menyiapkan beberapa 'bahan' yang bisa ia gunakan untuk merencanakan kegiatan 'manis'nya.
Pertama-tama ia menancabkan sebuah kayu yang biasa di pakai orang-orang untuk menjalankan hukuman penggal kepala. Namun, jika kayu yang biasa dipakai untuk memenggal kepala itu terdapat tiga lubang, kayu yang ditanjabkan Kaito hanya terdapat dua lubang—khusus untuk menahan kedua tangan saja.
Setelah dirasa tertancab dalam, Kaito menyeret tubuh Ran dengan meremas rambut panjangnya—membuat gadis itu kembali meringis dalam tidurnya. Dengan cepat Kaito melepas semua ikatan di tangan Ran dan menempatkan lengan gadis itu ke jebakan kayu yang sudah ia siapkan.
"Hm~" masih bergumam lagu kesukaannya, Kaito berjalan ke arah kaki Ran dan juga melepas ikatannya. Maniknya memandang jijik tubuh Ran yang terlentang dengan tangan yang terkunci di kayu disertai luka-luka lecet bekas bantingan di sekujur kulitnya.
Kaito kemudian memperhatikan kaki Ran yang sudah ia lepas ikatannya, dia menyeringai sinis lalu menjentikkan jarinya hingga sebuah kepulan asap abu mengelilinginya. Ketika asap itu menghilang, di lengan Kaito kini terdapat dua rantai penuh pisau kecil yang terdapat di setiap lekukan. Kaito pun lalu mengingat rantai penuh pecahan pisau itu ke kaki Ran dan menguncinya ke lantai hingga kakinya tak bisa digerakan.
"Heh." Ia terkekeh sadis ketika melihat alian darah mulai keluar akibat pecahan pisau yang tertancab di kulit gadis itu.
Memastikan bahwa Ran sudah tidak bisa menggerakkan kaki atau tangannya yang sudah dikunci ke lantai. Kaito berjalan ke arah tas yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa pisau bermacam ukuran, paku, gunting, jarum besar, kotak besar berisi hewan beracun, palu dan lain-lain.
Sebelum memulai aksinya Kaito harus menunggu gadis sok polos itu untuk bangun. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang, dan dosis obat penghilang kesadaran itu akan hilang dalam satu jam lagi. Mendengus pelan karena ia harus menunggu lagi, Kaito pun memutuskan untuk pergi dan mencari sesuatu yang 'menyenangkan' untuk menambah kisah 'manis' yang akan ia jalankan.
Mendapati ponselnya yang bergetar, ia tersenyum sumringah ketika melihat Shinichi telah menanyakan keberadaannya. Dengan cepat ia menjawab bahwa hari ini dirinya berencana untuk membeli beberapa alat sulap dan meminta maaf karena tak memberitahunya dari awal. Setelah mendapat respon dari sang kembaran, Kaito pun memandang sekilas tubuh tak berdaya Ran dan meninggalkan mansion itu untuk mencari 'itu' sekalian makan siang.
Satu jam berlalu dengan cepat.
Kaito yang sudah membawa barang yang ia inginkan, memandang jijik tubuh Ran yang mulai bergerak—menandakan gadis itu sudah bangun.
"Ne~ kau sudah bangun?" Kaito berkata riang sambil berjalan ke arah lengan Ran.
Gadis itu nampak mengerjap dan merintih kesakitan, matanya yang ditutupi kain membuatnya bergetar dan panik. Apalagi saat merasakan bahwa tubuhnya tak bisa bergerak dan sakit di sana-sini.
Sebal akibat Ran yang tak kunjung menjawab, Kaito pun memasang sarung tangannya lalu membawa sebuah pisau kecil. Dengan senyum keji ia menancabkan pisau itu ke telapak tangan Ran hingga gadis itu berteriak kesakitan. Senang akan darah yang mulai merembes keluar, pesulap itu kemudian membawa sebuah palu dan mengarahkannya ke ibu jari Ran dengan keras.
"AARRRGH—"
Kaito tekekeh senang ketika ibu jari Ran tengah berdarah dengan kuku yang patah.
"Karena satu kukumu sudah patah, lebih baik aku keluarkan semua kukunya ya?" senandung Kaito dan mulai mencongkel kuku telunjuk Ran dengan pemotong kuku.
"AAH—" Ran kembali menjerit, lengan kirinya sangat terasa sakit. Namun, tubuhnya tak bisa bergerak. Kenapa? Siapa? Tapi rasanya Ran mengenal suara itu, tapi tidak mungkin kan kalau Shinichi melakukan ini padanya?
Ran kembali berteriak hebat ketika kuku jari tengahnya terlepas. "ARGH—Shin—Kudo—kun! Hah—kenapa kau melakukan ini?" tanyanya disela-sela kesakitan.
Kaito tertawa layaknya maniak, ia benci jika gadis menjijikan di hadapannya menyebut nama kembarannya. Maka ia langsung menebas mulut Ran dengan pisaunya hingga berdarah. "Argh!"
"Jangan pernah memanggil nama Shinichi lagi! Kau tak berhak untuk memanggil namanya! Karena dia itu milikku!" ujar Kaito geram sambil merobek mulut Ran dengan kedua tangannya. Awalnya ia memang senang mendengar rintihan kesakitan dari gadis itu. Namun, beda lagi jika Ran dengan seenaknya memanggil nama Shinichi-nya!
Puas akan Ran yang tak bisa berkata apapun akibat mulutnya yang sudah menganga, Kaito pun membawa paku untuk ia tancabkan ke lidah sang gadis. Tak ingin membuang-buang waktu—dirinya sudah jengah dengan pemandangan menjijikan di depannya.
Kaito pun memutuskan untuk memainkan permainan inti.
Setelah puas mengelupas semua kuku tangan dan kaki Ran, Kaito mulai menancabkan paku pada tubuh gadis itu di bagian kaki dan tangan. Mendapati kaki dan tangan Ran yang sudah penuh tertancab paku, Kaito kemudian mengambil beberapa botol termos dan menyiramkannya ke tubuh Ran.
Kepulan asap mulai menguar di udara, termos yang ia bawa berisi air panas dan beberapa zat kimia yang dapat melepuhkan kulit hingga membusuk. Senang akan hasil karyanya yang dapat membuat kulit Ran memerah hingga menjadi ungu, Kaito pun memutuskan untuk memusnahkan matanya. Matanya yang selalu memandang Shinichi dengan tak pantas.
—jleb!
Pekikan tanpa suara dari gadis itu menambah seringai keji Kaito, ia memandang mata kiri Ran yang ditanjabkan timah panas sebelum mengangkat timah panas lainnya ke mata kanan sang gadis. Tidak hanya itu, Kaito membawa lebih banyak timah panas dan menancabkannya di perut, paha, dada dan bahu—ia berusaha untuk tidak mengenai jantungnya. Karena Kaito ingin Ran mati perlahan sambil merasakan rasa sakit yang pantas ia dapatkan karena telah mencoba mengambil Shinichi-nya.
Kaito memandang tubuh menjijikan penuh besi yang tertanjab di bagian-bagian tubuh; lengan dan kaki yang dipenuhi paku; mata yang mengeluarkan darah tanpa henti; dan mulut yang ternganga sobek. Meski Kaito sudah menyiksa Ran dengan cara-cara 'manis' namun pesulap itu tahu kalau gadis di depannya masih hidup. Dirinya masih bisa merasakan jantungnya yang masih berdetak lemah.
Rasakan! Itu adalah balasan karena telah berani mengambil apa yang telah menjadi miliknya. Kaito tahu kalau dirinya itu memiliki rasa posesif yang tinggi dan mendekati 'gila' bila mengenai Shinichi. Namun, ia sama sekali tidak menyesal telah membunuh puluhan orang yang mendekati Shinichi.
Che, dirinya saja belum berhasil mendapatkan 'keperjakaan' kembarannya, mana mungkin ia membiarkan orang lain melakukannya? Maa, meskipun ia telah berhasil mendapatkan kembarannya, ia berjanji tidak akan membaginya dengan siapapun.
Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 3 sore, Kaito pun memutuskan untuk mengakhiri permainannya. Ia melemparkan pisau-pisau kecil hingga mengenai Ran di sana-sini. Darah yang terus keluar dari luka-luka yang Kaito sebabkan tengah membanjiri lantai dan mengubah pakaian dress biru muda Ran menjadi merah gelap.
Kaito mengangkat kotak berisi hewan beracun dan membawa dua ekor kalajengking yang ia tancabkan racunnya di kulit Ran, setelah kalajengking ia menaruh ular beracun di kepala Ran dan tersenyum sadis saat ular itu mulai bergerak dan menggigit bahu gadis hampir mati itu.
Usai membereskan peralatannya, Kaito membawa sebuah kotak besi yang besar di gerobaknya dan menuangkannya ke tubuh Ran. Tadi ia sempat pergi ke gunung terdekat untuk mengambil cairan magma atau lava dan menuangkannya ke tubuh gadis itu. Belum puas dengan cairan magma yang sudah menghancurkan kulit Ran, Kaito berjalan ke arah tangga dan melepaskan rantai dua ekor serigala yang langsung berlari ke tubuh Ran berada.
Dua serigala itu pun mencabik-cabik tubuh Ran dengan cepat dan lahap seolah tak mempedulikan keberadaan Kaito yang melihat pemandangan itu dengan senyuman 'manis'. Tak ingin membuat Shinichi-nya lama menunggu, Kaito pun meninggalkan mansion itu dengan santai.
Hatinya sangat lega karena ia telah berhasil menyingkirkan gadis jahanam itu.
.
.
.
Jalanan di sore hari yang ramai, membuat Kaito sedikit merengut sebal. Ia memperhatikan antrian pengguna kereta api untuk pulang ke Beika. Ia pulang selarut ini karena dirinya harus menyembunyikan benda-benda kesayangannya dan membersihkan diri agar Shinichi tak curiga. Dan di sinilah ia sekarang, mengantri dengan desakan orang-orang di stasiun.
Ketika kakinya menapak di dalam kereta, Kaito menghela napasnya lega. Maniknya kemudian memandang tas yang dibawanya. Setelah membeli alat-alat sulap dalam waktu sekejap. Remaja itu juga membawa kue stroberi-lemon untuk Shinichi bila kembarannya itu kesal karena sosok Kaito yang seharian tak ada di rumah.
Sesampainya di rumah, Kaito mendapati Shinichi yang tengah berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangan. Bola mata birunya memandang Kaito tajam seolah menunggu penjelasan yang bagus jika tidak ingin kena tendangan mematikan dari si penyuka misteri.
"Oh, hei Shin-chan? Kau sampai menungguku di depan pintu. Tidak tahan karena tak bisa bersamaku?" goda Kaito jahil sambil memandang Shinichi seduktif.
Mendengarnya Shinichi merona, sayangnya rona merah manis itu hilang dengan cepat dan digantikan dengan tatapan Shinichi yang lebih terasa tajam. "Kau kemana saja! Aku yakin kau melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku kan? Karena aku tahu kalau kau hanya perlu waktu sebentar jika ingin membeli alat-alat sulap!" cerca Shinichi dengan nada menyeramkan—sampai Kaito cuma bisa nyengir sambil menelan ludah paksa.
"Setidaknya kau beritahu aku jika kau akan pergi lama, satu pesan darimu di siang hari itu tidak cukup! Kau berjanji untuk pulang sore, sebenarnya kau melakukan apa saja?!" Shinichi menunjukkan jarinya ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Shinichi membuka mulutnya untuk kembali menceramahi Kaito, namun ia urungkan ketika kembarannya itu menundukkan wajah tanda menyesal. Menghela napas kasar, Shinichi pun mengusap rambutnya frustasi dan segera menutup pintu masuk. Ia mendelik ke arah Kaito yang masih terdiam dan segera melenggang pergi.
"Aku mau mandi dulu." Adalah perkataan terakhir Shinichi sebelum sosoknya menghilang di balik koridor.
Kaito mengangkat wajahnya dengan raut sedih, dirinya tidak bermaksud untuk membuat Shinichi khawatir. Tapi entah kenapa, ketika Shinichi memarahinya dirinya sama sekali tidak memiliki alasan yang cukup untuk berbohong. Merutuk atas kebodohannya, Kaito pun membuka sepatunya dan langsung berlari ke arah dapur.
Mungkin ia akan ikut mandi dengan Shinichi untuk meminta maaf.
.
.
.
Shinichi membasuh sekujur tubuhnya dengan sabun, otaknya mulai berputar hebat dengan ratusan bahkan ribuan spekulasi mengenai Kaito. Shinichi tahu kalau dari dulu Kaito tidak pernah memberitahunya jika pesulap itu mempunyai masalah. Dirinya juga tahu kalau Kaito selalu melakukan sesuatu di balik punggungnya.
Namun, karena tidak ingin menambah beban di benak sang pesulap. Shinichi tidak pernah berkata apa-apa selama Kaito bisa tertawa dan bertingkah jahil seperti biasa. Dia juga tidak pernah bertanya di mana Kaito berada bila sang pesulap terkadang menghilang dari rumah.
Sayangnya Shinichi sudah lelah, dirinya sudah tak bisa menerima Kaito yang tak pernah berkata apapun padanya bila sosok pesulap itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Karena instingnya selalu berkata, kalau Kaito telah melakukan sesuatu yang berbahaya di belakangnya. Tapi itu tidak mungkin kan? Orang seceria, se-childish dan supel macam Kaito berbuat sesuatu yang jahat?
Shinichi tersenyum kecil akan pikiran anehnya. Jika saja Kaito selalu memberitahunya segala hal, mungkin dirinya tidak akan terus dilanda rasa sesak dan khawatir jika Kaito tak ada di sampingnya.
Jujur, Shinichi memang bukan seorang detektif. Tapi ia sangat menyukai misteri lebih dari apapun. Jadi, ketika Kaito tiba-tiba menghilang dari sampingnya dan entah pergi kemana. Sepulangnya Kaito ke rumah, Shinichi selalu merasakan sesuatu yang aneh pada diri saudaranya. Seperti bau darah tempo hari, bekas sayatan di jari atau pandangan gelap Kaito yang terkadang membuatnya merinding.
Kaito tidak terlibat sesuatu yang berbahaya bukan?
Shinichi menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka dan mendapati Kaito yang tak memakai apapun selain handuk di pinggangnya tengah nyengir ke arahnya.
"Kaito! Apa yang kau lakukan di sini! Bukankah kamar mandi masih ada di atas!" pekik Shinichi panik dengan wajah luar biasa merah.
Melihat reaksi manis Shinichi, Kaito berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan Shinichi masih dengan cengiran khasnya. "Aku ingin mandi bersamamu~ sudah lama kita tidak melakukannya kan?"
"Ha?! Kita sudah bukan anak kecil lagi! Dan kau ingatkan kalau aku masih marah padamu karena selalu berbohong!" Shinichi memandang Kaito tajam.
Mendengarnya Kaito menunduk. "A-aku minta maaf, tadi aku memang mencari alat-alat sulap. Namun, karena tak ada yang cocok jadi aku pergi ke kota sebelah. Setelah itu aku mencari cake paling enak di sana dan membawakannya untukmu. Aku tidak tahu kalau sore itu stasiun sangat penuh hingga membuatku telat pulang." Jelas Kaito sedih. Ia kemudian memandang Shinichi dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku..., aku janji bahwa lain kali aku akan mengajakmu pergi."
Shinichi memandang Kaito lalu mendengus pelan. "Pastikan kau memegang janjimu!"
Senang akan Shinichi yang sudah memagkannya, ia pun menyentuh dagu sang kembaran lembut. "Owh, Shin-chan benar-benar tidak tahan untuk tidak melihatku. Manisnya~" girang Kaito sambil mendorong Shinichi ke dalam bak mandi dengan sang pesulap yang menindih saudaranya dalam posisi intim.
"Kaito! Minggir!" ronta Shinichi sambil berusaha mendorong bahu Kaito dari tubuhnya. Wajahnya memerah malu ketika kulit mereka bersentuhan dengan lembut.
Kaito yang tidak berniat melepaskan pelukannya, malah mengeluskan wajahnya di leher Shinichi dengan manja. Merasakan deru napas Kaito yang menerpa lehernya, Shinichi kembali bersemu. Lengan kanannya berusaha untuk mendorong bahu Kaito, sementara lengan kirinya berusaha menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan desahan aneh saat Kaito mulai mengelus kulitnya lembut.
"Ah!" Shinichi memekik saat perpotongan lehernya digigit oleh saudaranya, bahkan ia yakin kalau gigitan itu akan membekas hingga beberapa hari. Sebal akan tindakan kembarannya, ia pun mendorong Kaito dengan keras sampai pesulap itu terjungkal dan mengaduh kesakitan.
Manik biru sang penyuka misteri menatap tajam Kaito penuh penjelasan. "Pervert!" desis Shinichi galak dan segera turun dari bak mandi. Ia tidak mau lama-lama berada di sini sebelum kembarannya masuk ke dalam mode mesum yang lebih dalam. Makanya ia cari jalan aman dengan menyudahi acara mandinya sebelum Kaito kembali menyentuhnya. Karena Shinichi tahu, dirinya tak bisa menolak sentuhan atau kecupan yang kembarannya itu berikan. Terlalu hangat dan menyenangkan—meski ia janji tak akan pernah memberitahukannya pada Kaito.
Sebelum Shinichi mengangkat tubuhnya dari bathtub, Kaito dengan cepat kembali menindihnya sambil menawan bibir Shinichi. Sang penyuka misteri yang kaget akan tarikan tiba-tiba dari saudaranya, membuat ia membuka mulutnya shock—dan dimanfaatkan Kaito untuk memasukan lidahnya.
Pikiran Shinichi terasa kosong, sapuan hangat di bibirnya membuat seluruh tubuhnya melemas. Lumatan-lumatan yang Kaito lakukan membuatnya mendesah nikmat. Shinichi yang tak tahu harus bagaimana saat lidah Kaito memasuki rongga mulutnya pun, mendadak rileks dan menuruti permainan panas kembarannya.
"Mmmpg—ngh—" mereka berdua mendesah nikmat dalam pagutan lidah. Saking nikmatnya pagutan tersebut Shinichi bahkan tak menyadari bila Kaito tengah mengukir seringaian kecil di bibirnya saat tahu bahwa Shinichi sangat lemah di bawah kuasanya. Pasokan oksigen yang sudah menipis mengharuskan mereka untuk melepas pagutannya—menyisakan jembatan saliva yang terhubung dari kedua bibir mereka yang nampak mengkilat akibat terlalu sering bercumbu.
Dengan napas terputus-putus, Shinichi memandang Kaito yang ada di atasnya. Ia memperhatikan lengannya yang sedang meremas helaian rambut sang pesulap. Dirinya bahkan tidak ingat sejak kapan ia mulai meremas rambut Kaito hingga membuatnya lebih berantakan—Shinichi pun terkekeh kecil melihat rambut acak-acakan saudaranya.
"Aww~ Shin-chan tidak menolak ciumanku dan malah terkekeh~ itu artinya aku bebas melakukan french kiss lagi kan?" riangnya sambil menciumi pipi Shinichi senang.
"Barou! Aku terkekeh karena rambutmu terlihat lebih berantakan dari biasanya." Jawabnya singkat, lengannya mengelus surai Kaito dengan pandangan lembut.
Kaito meneguk ludahnya paksa, ekspresi lembut Shinichi di depannya sangat terlihat cantik! Dirinya hampir tidak bisa menahannya tubuhnya untuk segera kembali mencium Shinichi dan melakukan make love! Tapi, itu perlu waktu. Ia harus melakukannya secara perlahan tidak boleh terburu-buru atau Shinichi bisa membencinya.
"Thanks~" Kaito pun kembali mencium pipi Shinichi lembut dan dijawab oleh jitakan keras di kepalanya.
Shinichi memandang Kaito yang mengaduh kesakitan, perasaan galau yang tadi ia rasakan seolah sirna dan berganti menjadi kebahagiaan. Apalagi saat Kaito menciumnya dengan penuh hasrat, membuatnya mendesah malu dan ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Ugh. Kenapa ciuman Kaito selalu terasa nikmat? Entahlah, Shinichi juga tidak tahu jawabannya.
Sebelum Shinichi menggerakan tubuhnya, ia memekik kaget saat lengan Kaito meremas benda sensitif di selakangannya.
"Ah! Apa yang kau lakukan!" pekik Shinichi seraya mencoba menahan mulutnya untuk tidak mendesah kencang. Sementara itu, Kaito makin menggerakan tangannya dengan lihai dan menyeringai kecil ketika tubuh Shinichi terus menggeliat dibuatnya. Dia memang berniat untuk melakukannya perlahan, tapi ia tidak tahan dengan miliknya yang menegang karena tak puas hanya dengan mencium Shinichi.
Kaito mengarahkan kepalanya ke telinga Shinichi sambil menjilatnya sensual. "Ssh, tenang saja dan nikmati~" bisiknya dengan nada seduktif.
Shinichi yang tahu kalau dirinya tak bisa kabur pun perlahan rileks dan mencoba menutupi mulutnya ketika lengan Kaito terus menjamaah benda di selakangannya dengan remasan dan pijatan yang membuat tubuhnya memanas penuh gairah.
"Shinichi," bisik Kaito berat. "Sentuh aku juga~" pintanya dengan nada manja. Lengannya menarik tangan Shinichi yang berusaha menutupi mulutnya dan mengarahkannya untuk menyentuh milik Kaito yang sudah menegang keras.
Dengan wajah merona, Shinichi pun melakukan apa yang Kaito lakukan pada miliknya, seperti mengocok, meremas dan memijatnya dengan pelan—membuat keduanya mendesah nikmat dan saling mendekatkan tubuh mereka hingga kulit dada keduanya bersentuhan satu sama lain.
Kaito yang gemas karena tak kunjung 'keluar' padahal cairan pre-cum-nya sudah cukup mengalir, memutuskan untuk menempatkan Shinichi di dalam pangkuannya hingga milik mereka saling bersentuhan.
"Ah—hng—" desah keduanya nikmat. Dengan seringai mesum, Kaito mulai menggerakan pinggang Shinichi agar milik mereka bergesekan dengan ritme cepat. Shinichi yang tak peduli akan apa yang Kaito lakukan padanya, hanya melenguh kencang sambil memeluk bahu Kaito erat.
Tempo gesekan milik mereka yang makin cepat, membuat keduanya makin megerang dan bersiap-siap untuk 'keluar'.
"Ah—Shinichi!"
"Kaito—ngh!"
Beberapa gesekan kasar kemudian, mereka pun menjerit ketika sperma keduanya keluar—membasahi perut dan dada dengan napas yang terputus-putus. Kaito kemudian mencengkram dagu Shinichi dan memagut bibir ranum itu ke dalam ciuman panas penuh tautan lidah. Mulut mereka saling melumat dan menghisap seolah lupa akan bahwa tubuh mereka sudah dipenuhi keringat dan cairan putih—serta air hangat yang sudah berubah dingin.
Kaito melepaskan ciuman panasnya saat merasakan tubuh Shinichi bergetar bukan oleh sentuhannya. Ia langsung membawa Shinichi ke dalam pelukannya saat tahu kalau saudaranya itu kedinginan karena terlalu lama di kamar mandi.
"Sepertinya kita harus membersihkan tubuh kita kembali lalu makan sebelum masuk angin." Kaito mengambil sabun dan menyalakan shower.
Shinichi menjitak kepala Kaito keras. "Salah siapa?" ujarnya sebal.
"Hehehe, bukankah kau juga menikmatinya? Hm~"
Karena Shinichi yang tak kunjung menjawab—mungkin terlalu malu untuk mengakui kalau adegan tadi sangat nikmat atau terlalu banyak berpikir tentang mengapa Kaito melakukan hal ini—sang pesulap pun mulai membasahi punggung Shinichi dengan sabun hingga sang penyuka misteri tersadar dari lamunannya dan ikut membersihkan diri.
.
.
.
Shinichi memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan menyelidik, dirinya memang masih belum menemukan jawaban tentang mengapa dirinya begitu pasrah tentang apa yang dilakukan Kaito terhadapnya—karena Shinichi memang menikmatinya—padahal mereka itu bersaudara dan hal yang mereka lakukan tadi itu adalah hal tabu.
Namun, ketika pikirannya membayangkan apa yang selalu Kaito lakukan ketika menghilang tanpa sebab. Shinichi menggigit bibirnya ragu.
Apapun yang disembunyikan Kaito, Shinichi janji akan menemukan jawabannya.
-TBC-
Fanfict ini bukan milik saya, maaf bila banyak kesalahan~
Terima kasih udah bersedia untuk membaca~ :'D
