Alunan musik yang membuat suasana menyenangkan terdengar dari speaker di tempat sederhana yang lumayan megah tersebut. Ada beberapa orang yang sedang melihat-lihat CD lagu, ada juga yang meminta beberapa pegawai untuk memainkan sebuah CD, dan mendengarkannya dengan seksama.

Tampak seorang pemuda berambut hitam dan juga beriris biru yang tengah mengenakan hoodie dengan berbentuk wajah panda. Tangannya dengan cekatan merapihkan CD lagu yang menurutnya berantakan di berbagai tempat yang terlihat olehnya.

Kecemburuan

By: Lixryth Rizumu and Kumo-Usagi

Disclaimer: Yamaha Corp

Pairing: Zhiyu Moke and Luo Tianyi

Rate: T

Genre: Romance

Word: 2900 (story only)

Warning: Sudut pandang orang ketiga, dan disini Yan He is a girl but look like a boy

Kedua bola mata indah berwarna hijau milik Lui Tianyi terus bergerak mengikuti arah gerakan badan dari pemuda bernama Zhiyu Moke―pemuda dengan hoodie―tersebut. Kedua matanya berbinar, seakan-akan melihat sesuatu yang indah.

Seketika, tangan lembut menutup kedua mata Tianyi dan membuat pandangannya gelap. "Pandangan matamu membuatku gemas, Tianyi."

Tianyi melepas tangan yang masih menutup kedua matanya, dan menatap orang yang berdiri di belakangnya. "Ah, Yan He…"

Yan He terseyum hingga memamerkan deretan gigi putihnya. "Seperti biasa, aku datang menjemputmu," ujarnya sambil mengacak-acak rambut Tianyi dengan pelan. Tianyi hanya menggerutu kecil ketika rambutnya diacak-acak oleh teman masa kecilnya itu.

"Sudah menjemputku di jam segini?" tanya Tianyi seraya menatap jam tangan berwarna putih bersih yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku masih ingin bekerja, Yan He mau menungguku?"

"Ya. Kebetulan hari ini shiftku hanya sebentar, jadi aku datang kesini lebih awal dari biasanya," ujar Yan He sambil tersenyum lagi. "Baiklah, aku akan menunggu di café sebelah. Selamat bekerja," lanjutnya sambil memamerkan cengiran khasnya. Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata berwarna biru memandangi mereka.

Tianyi tersenyum kecil. "Terima kasih, Yan He, kau selalu menjemputku." Tianyi menekan-nekan pipi Yan He dengan jahil. "Aku tidak membuatmu repot, 'kan?" tanya Tianyi dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

"Tentu saja tidak. Ah, aku pergi dulu, ya. Sampai nanti," jawab Yan He sambil tersenyum. Remaja dengan rambut putih pendek itu keluar dari toko musik tersebut.

Rambut pendek milik Tianyi bergerak-gerak kecil ketika dirinya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tunggu aku, Yan He!" seru Tianyi sedikit berteriak ketika remaja itu sudah pergi.

Mungkin Yan He tidak mendengan ucapan Tianyi karena sosoknya telah menghilang, masuk ke dalam café yang berada tepat di sebelah toko CD lagu itu. Pemuda dengan rambut hitam yang sedari tadi merapihkan CD lagu menghampiri Tianyi yang masih tersenyum senang.

"Tadi itu… siapa?" tanya Zhiyu Moke, si pemuda pemilik rambut hitam tersebut kepada Tianyi.

Tianyi tersenyum kecil dan melayani pelanggan yang baru saja menghampiri dirinya―bersamaan dengan Moke yang mengajaknya berbicara―seraya berbisik kecil kepada Moke. "Itu teman masa kecilku. Kenapa? Dia mempesona, ya?"

"Hanya teman masa kecilmu?" Moke kembali bertanya, tanpa mempedulikan pertanyaan Tianyi. Kali ini alisnya berkerut dan kedua matanya menyipit.

Tianyi tersenyum manis saat pelanggan yang baru saja ia layani sudah berlalu menjauhinya setelah dia mengucapkan terima kasih, "Mm…" Tianyi mengangguk kecil. "Kenapa bertanya?"

Moke mengangkat bahunya kecil. "Tidak apa-apa."

"Hee… masa'? Jangan-jangan kau cemburu dengannya?" tanya Tianyi dengan nada jahil.

Moke tersenyum kecil. "Kenapa aku harus cemburu?" tanyanya dengan nada yang sedikit mengejek.

Tianyi terdiam. Setelah beberapa saat akhirnya ia menemukan jawaban atas pertanyaan rekan kerjanya itu. "Karena kamu kalah tampan dengannya?" jawab Tianyi dengan nada bertanya dan dihadiahi sebuah pukulan pelan di keningnya.

"Tidak mungkin aku kalah tampan dengan orang itu, bukan?" Moke memutar jari telunjuknya di depan wajahnya sendiri. "Lihat baik-baik, yang tampan itu aku, bukan dia!"

Tianyi menggembungkan pipinya. "Kalau Moke memukul kepalaku seperti itu, Moke sama sekali tidak terlihat tampaaaan!"

"Haa? Kok begitu? Apa hubungannya memukul kepalamu dengan ketampananku?" tanya Moke dengan gemas dan mencubit kedua pipi Tianyi. Pertengkaran itu berlangsung sebentar―hingga tanpa mereka sadari, sosok pria berumur 30-an datang menghampiri mereka.

"Ekhem, apakah aku mengganggu acara kalian?" tanya sebuah suara berat yang sangat jelas kalau itu suara bapak-bapak. Dengan takut-takut, Tianyi dan Moke menolehkan kepala mereka ke sumber suara dan menemukan bos mereka yang tengah berkacak pinggang.

"Ma―maafkan kami, bos!" ujar kedua remaja tersebut secara bersamaan seraya membungkukkan badan mereka.

Tianyi mengangkat badannya, dan menunjuk Moke tapat di wajahnya. "Tapi, ini semua salah Moke! Dia yang mulai!"

Moke tersenyum kecil dengan wajah yang menyeramkan. "Kenapa bisa salahku, hah?" Jari-jari panjangnya sudah mulai menarik hidung mancung Tianyi.

"Kalian ini, kenapa mulai bertengkar lagi?! Benar-benar, deh… kalian terlalu sering bertengkar! Pembeli jadi terganggu, 'kan?!" bentak bos mereka. Secara kompak, Moke dan Tianyi menundukkan kepala mereka.

Sang bos menatap mereka berdua dengan sebal. Ia memijit-mijit keningnya. "Baiklah, kalian kumaafkan," ujarnya sambil tersenyum kecil. Melihat hal itu, Moke dan Tianyi menatap bos mereka dengan tatapan berterimakasih. "Tapi, jangan ulangi lagi, oke?" lanjutnya kemudian ia berbalik arah, berjalan kembali ke ruang kerjanya.

Secara bersamaan, Tianyi dan juga Moke menghela napas lega. "Sepertinya, kita memang terlalu sering bertengkar, deh," ujar Tianyi seraya melayani beberapa pelanggan, dibantu oleh Moke.

Moke terkekeh kecil. "Kamu terlalu sering melekat denganku yang luar biasa tampan ini, sih," ujar Moke seraya menjulurkan lidahnya.

"Tidak juga, kok. Jangan narsis, deh," balas Tianyi sambil menggembungkan pipinya.

"Hee… bukannya kau yang narsis, Tianyi?" sindir Moke.

"Kau," ujar Tianyi tidak mau mengalah.

"Yang narsis itu kau," ucap Moke tidak mau mengalah juga.

"Sudah, kita berhenti saja, daripada bertengkar lagi," ujar Tianyi mencoba menahan amarahnya dan mereka berdua kembali dengan kegiatan mereka lagi.

Moke melirik Tianyi yang masih sibuk melayani pelanggan. Bibirnya terbuka dan berucap, "Jadi, kenapa teman masa kecilmu itu selalu menjemputmu setiap hari?"

"Jawabannya simple, sih," jawab Tianyi sambil menggaruk-garuk pipinya dengan sedikit canggung. "Karena dia khawatir kepadaku," lanjutnya dengan sebuah cengiran yang cukup khas.

Moke menjadi curiga. "Kalian berpacaran?" tanyanya dengan nada menyelidik.

Seketika Tianyi menjadi sedikit panik. "H―ha? Tidak kok!" Tianyi menjawab dengan gugup.

Melihat respon Tianyi yang gugup seperti itu, membuat Moke tambah penasaran. "Kalau tidak berpacaran, kenapa gugup seperti itu?" Moke sedikit mendesak Tianyi. "Kalian berpacaran, ya? Bilang saja."

"Tidak, lagipula aku sudah punya orang yang aku sukai, kok!" sanggah Tianyi.

Gadis itu melirik jam tangan berwarna putih yang ia kenakan. "Aa, shiftku sudah selesai," ucapnya dengan nada yang sedikit kecewa. "Sampai bertemu besok," lanjutnya sambil tersenyum dan melangkah ke arah ruangan ganti baju khusus untuk pekerja wanita.

Setelah Tianyi pergi, toko musik tersebut tambah ramai, dan semakin membuat pegawai sibuk. Ini sudah menjadi kebiasaan semua pegawai yang bekerja, semakin lama semakin penuh, dan semakin sibuk. Tetapi semua pegawai tetap menikmati pekerjaan mereka.

Langit sudah mulai berwarna kejinggan, setelah Tianyi selesai mengganti bajunya menjadi baju santainya―bukan baju kerjanya. Tianyi meminta izin kepada bosnya, lalu kepada rekan-rekan kerjanya kalau dia akan pulang, dan segera meninggalkan tempat kerjanya lalu pergi ke cafésebelah.

Sepasang mata berwarna biru milik seorang pemuda tampak mengawasi sosok Tianyi yang sedang memasuki café sebelah. Setelah gadis yang ia sukai masuk ke dalam cafétersebut, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Gadis dengan rambut hitam itu berjalan menghampiri temannya yang tengah meminum vanilla latte yang dipesannya. Tianyi menghampiri Yan He dan duduk berhadapan dengan teman masa kecilnya itu.

"Sudah menunggu lama?" tanya Tianyi sambil tersenyum manis.

Yan He menggelengkan kepalanya kecil. "Tidak juga. Lagipula aku selalu menikmati suasana café ini."

Kepala Tianyi berputar ke samping kanan lalu ke kirinya dan menikmati seluk beluk di dalam café tersebut. Meskipun hampir setiap hari Tianyi bekerja di toko musik di sebelah café itu, rasanya baru kali ini dia masuk ke dalammya dan menyadari keindahan di dalamnya.

"Apa kita langsung pulang saja, atau aku boleh memesan milk tea?" tanya Tianyi seraya menopang dagunya―memperhatikan Yan He yang masih sibuk meminum pesanannya.

Yan He menatap Tianyi. "Kamu pasti lelah, pesan minuman favoritmu saja dulu," ujarnya sambil tersenyum.

Tianyi bersorak kecil dan melangkahkan kakinya ke kasir untuk memesan secangkir milk tea kesukaannya. Senyum Tianyi berkembang begitu secangkir milk tea panas sudah ada di genggamannya. Setelah mencium aroma milk tea yang menggodanya, Tianyi kembali mengampiri Yan He. "Kenapa Yan He bisa tau kalau minuman favoritku milk tea? Aku tidak pernah memberitahu, 'kan?" tanyanya.

Yan He tertawa kecil. "Aku 'kan sahabatmu sejak kecil," jawab Yan He. "Lagipula, setiap kita pergi ke café, kamu pasti memesan milk tea, 'kan?" lanjutnya sambil meminum vanilla latte yang ia pesan, menurutnya café ini membuat vanilla latte yang enak.

Tianyi meminum dengan pelan-pelan milk tea yang ia pesan, dan melihat ke luar jendela. Pandangannya melebar begitu melihat seorang pemuda dengan pakaian bebas yang sedang mengendarai motornya. "Ah, Moke juga pulang," ujarnya.

Yan He menaikkan sebelah alisnya. "Siapa itu Moke?"

Senyum Tianyi terbentuk. "Teman kerjaku. Ah, dia iri dengan ketampananmu, loh…"

Alis milik Yan He berkerut. "Dia benar-benar bilang begitu?" tanyanya tidak percaya.

Tianyi mengangguk-angguk semangat. "Yan He memang tampan, kok!" ujar Tianyi sambil memberikan cengirannya.

Yan He memukul pelan kening Tianyi. "Aku tidak tampan, kok," ujarnya sambil tertawa kecil.

Kedua remaja itu menghabiskan sore hari mereka dengan berbincang-bincang dan tertawa. Benar-benar sore yang indah menurut mereka, sama seperti sore-sore yang selalu mereka lewati bersama.

.

Esok harinya masih sama seperti hari-hari sebelumnya, datang pada siang hari di tempat kerja, mengganti baju menjadi baju pegawai―sama seperti baju pegawai lainnya―menunggu di tempat kasir, dan melayani beberapa pengunjung yang datang kepadanya. Seperti itulah keseharian dari Luo Tianyi.

Suatu hari yang biasa bagi Luo Tianyi. Saat ini, ia dan Moke tengah beristirahat sebentar di luar tempat kerjanya. Mata berwarna biru jernih milik Moke sesekali melirik Tianyi yang asik menyantap bekalnya. Tianyi hanya diam saja dan tetap memakan bekal buatan dirinya sendiri, tanpa menyadari tatapan dari kedua bola mata Moke yang terus-menerus tertuju kepada dirinya.

Setelah beberapa menit keheningan menyelimuti keduanya, Moke mulai mengeluarkan suara. "Jadi… hari ini kau akan dijemput lagi oleh temanmu itu?"

Tianyi menggeleng kecil. "Tidak, hari ini Yan He shiftnya sampai malam," jawab Tianyi dengan nada lesu.

Moke tersenyum kecil, kemudian ia bangkit dan mengelus pucuk kepala Tianyi. "Kalau begitu, hari ini aku yang akan mengantarmu pulang."

Kepala Tianyi terangkat dan menatap wajah tampan Moke. "Tidak usah repot-repot, kok," ujarnya. "Walaupun sebenarnya aku mau mencoba diantar Moke, sih," lanjut Tianyi seraya menggaruk pipi halusnya dengan kaku.

Moke tersenyum senang hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Tidak usah malu," ujar Moke dan mengacak-acak rambut Tianyi. "Ah, ya, kalau kamu mau, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Engga usah kedip-kedip," ucap Tianyi geli seraya mencubit pipi Moke. "Pergi kemana? Kalau gratis, aku ikut," lanjut Tianyi disertai dengan tawa kecil.

"Kalau aku kasih tau sekarang, nanti engga seru, dong?" tanya Moke dengan nada jahil. "Eh, sudah waktunya kembali bekerja, bye!" ujarnya dan keluar dari ruangan itu.

Bibir kecil milik Tianyi mengerucut bagaikan paruh bebek. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dan kakinya menghentak-hentak lantai yang dipijakinya dengan keras―sampai kakinya terasa ngilu. "Dasar Moke, aku 'kan penasaran!" Tianyi terus-menerus mencibir dengan kesal dan ikut kembali bekerja.

Pulang kerja.

Langit mulai berwarna kejinggaan, Moke tengah menyalakan motornya yang dia parkirkan di parkiran yang terletak lumayan dekat dengan tempat kerjanya. Di belakangnya Tianyi berdiri dengan tidak sabaran, penasaran kemana mereka akan pergi.

"Sudah tidak sabar?" tanya Moke sambil menyerahkan helm cadangan yang selalu ia bawa.

Tianyi mengambil helm yang diberikan pemuda itu dan memakainya hingga dia merasa nyaman. "Menurutmu?" ujar Tianyi membalikan pertanyaan Moke tadi.

Moke ikut menggunakan helmnya dan menatap pantulan wajahnya sekilas di kaca spion, lalu menepuk kursi motornya―memberi isyarat kepada Tianyi untuk segera duduk. Setelah memastikan Tianyi duduk dengan manis di belakangnya, Moke tersenyum kecil. "Tentu saja kau sudah tidak sabar, aku selalu bisa membaca pikiranmu, Tianyi." Moke menarik tangan kanan Tianyi, dan memasukkan tangan Tianyi ke dalam saku jaketnya. "Pegangan yang erat, bisa-bisa kau terbang," lanjutnya dengan jahil.

Tianyi memegang erat saku jaket Moke. Setelah Moke memastikan gadis berambut hitam itu memegang jaketnya dengan erat, ia mulai menjalankan motornya, menuju suatu tempat.

Bibir Tianyi terbuka kecil dan meluncurkan beberapa kata, "Moke… kita mau kemana? Kau membuatku penasaran!" Kepala kecil Tianyi yang berbalutkan helm milik Moke memukul dengan lumayan keras helm yang dikenakan Moke, sehingga Moke sedikit meringis kesakitan.

"Tunggu dulu sebentar, Tianyi. Nanti kau akan tahu."

Tianyi memajukan bibirnya dengan kesal, lalu menggigit pelan pundak Moke. "Yan He saja tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku." Tanpa Tianyi sadari, Moke menggigit bibir bawahnya, tanpa membalas ucapan Tianyi.

Motor milik Moke terus berlaju, hingga hampir sekitar 15 menit Moke dan juga Tianyi duduk di atas motor yang berlaju dengan kencang tersebut―membuat pantat Tianyi terasa sangat pegal. Saking lamanya perjalanan mereka, hampir saja Tianyi mengira bahwa Moke telah membawanya ke luar kota. Tapi begitu melihat ke daerah di sekelilingnya, Tianyi mengetahui kalau dia tidak keluar kota―karena dia merasa familiar dengan tempat tersebut.

"Kita hampir sampai, Tianyi, jangan membuat wajah yang berlipat-lipat seperti itu," canda Moke, seraya melirik Tianyi dari kaca spionnya.

Tianyi menghela napas panjang, dan menyandarkan kepalanya di pundak Moke. "Aku sebenarnya mau kau culik sampai mana, bapak kriminal?"

Moke tertawa kecil dan menghentikan motornya di pinggir jalan. "Sampai sini saja, nona korban penculikanku." Moke melepaskan helm yang ia gunakan, lalu beranjak dari duduknya setelah dirinya memastikan kalau Tianyi sudah turun dari motornya.

"Taman?" tanya Tianyi. Kaki jenjang miliknya melangkah masuk ke dalam taman luas tersebut, dan memandangi pemandangan di sekitarnya―pepohonan, berbagai macam bunga, dan tentunya satu buah kursi yang panjang. "Ah, aku ingat Moke! Ini taman yang―"

"Ya." Moke tersenyum kecil, dan berdiri di samping Tianyi. "Ini taman tempat kita pertama kali bertemu di beribu tahun yang lalu. Aku tidak menyangka kau masih mengingatnya," lanjut Moke dengan sedikit candaan―seraya melepaskan helm miliknya yang masih melekat di kepala Tianyi.

Ujung bibir tipis Tianyi terangkat. "Tentu saja aku tidak akan lupa. Tempat ini sudah menjadi tempat favoritku." Tianyi mendudukkan dirinya di kursi panjang yang sudah penuh dengan daun kering yang berjatuhan. "Karena tempat ini sudah mempertemukanku dengan Moke!" ujar Tianyi seraya tersenyum lebar.

Moke terdiam sejenak, kedua pipinya terasa sangat panas hingga rasa panas tersebut mengalir menuju kedua ujung telinganya. Bibirnya tersenyum tipis dan tangannya menggaruk lehernya dengan kaku. Namun seketika, senyumnya hilang dan digantikan oleh bibir yang mengerut. "Bukannya tempat favoritmu itu semua tempat kencanmu dengan pacarmu yang tampan itu?"

"Pacar? Maksudmu Yan He?" Tianyi mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya saat dia menahan tawanya ketika melihat Moke yang menganggukkan kepalanya. "Pfffft―yang benar saja, Moke! Yan He itu perempuan! Aku tidak mengerti kenapa kau masih saja melihat Yan He sebagai laki-laki. Yaah, dia memang agak terlihat seperti laki-laki sih―meskipun cantik―tapi yang benar saja! Aku tidak berpacaran dengan Yan He!"

"P―perempuan? Dia benar-benar perempuan, Tianyi?" Moke merasa sangat lega ketika Tianyi menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Helaan napas penuh kelegaan meluncur begitu saja dari sela-sela bibir tipisnya.

Tianyi tersenyum kecil melihat Moke yang menghela napas panjang. "Lagipula 'kan sudah kubilang aku menyukai seseo―Moke?!"

Kedua mata indah Tianyi melebar ketika dirinya bisa merasakan lengan Moke yang melingkar di sekitar pinggang dan juga bahunya―dan juga telapak tangan Moke yang mendorong belakang kepala Tianyi hingga dirinya terdorong ke dekapan Moke―membuatnya bangkit dari duduknya yang nyaman. "Kalau begitu, jika aku memelukmu seperti ini, perempuan tampan itu tidak akan marah, 'kan?" ujar Moke.

"Mm," jawab Tianyi dengan singkat.

Tianyi mencoba menjauhkan badannya dari Moke, namun Moke segera menahannya dan kembali mendorong kepala Tianyi―tapi kali ini arah dorongannya berbeda―kearah wajah Moke, hingga Moke dapat meraih puncak kepala Tianyi dengan bibirnya. "Kalau aku menciummu seperti ini, dia juga tidak akan merasa terganggu, 'kan?" bisik Moke.

Kedua pipi Tianyi terasa seperti terbakar. "M―Moke?"

Kini kedua pipi Moke diselimuti oleh rona merah. Dirinya melepaskan dekapannya terhadap Tianyi dan mencoba mengalihkan pandangannya dari gadis itu. "M―maafkan aku, Tianyi! A―aku sangat senang, jadi aku tidak berpikir saat bertindak." Moke menggaruk pelan pipi kanannya yang sama sekali tidak terasa geli maupun gatal. "Selama ini aku selalu cemburu, Tianyi. Sangat sangat sangat cemburu ketika melihat temanmu yang tampan itu bisa membuatmu tertawa lepas, bisa menyentuh rambutmu yang halus, bisa mengusap wajahmu, bisa mengenggam tanganmu, sedangkan aku yang selama ini menyukaimu dan selalu berada di sampingmu tidak dapat melakukannya."

"Moke…"

"Kau ingat pada saat kita baru bertemu, Tianyi? Kita tidak sengaja bertemu disini, memutuskan untuk berkenalan dan bermain bersama, lalu pada akhirnya saat kita sudah tumbuh menjadi seorang remaja, kini kita bekerja di tempat yang sama―semua ini, membuatku merasa senang." Moke menahan rambutnya yang melambai disaat ada angin yang berhembus melewati wajahnya. "Aku sudah mengagumimu sedari dulu, maka dari itu aku merasa cemburu begitu melihat kedekatanmu dengan perempuan yang mirip dengan laki-laki itu. Dan aku sekarang sudah merasa lega karena aku mengetahui kalau dia sebenarnya adalah perempuan. Tapi tetap saja, aku memiliki saingan―orang yang kau cintai―"

"Kau," potong Tianyi.

Kedua mata Moke terbelalak. "Eh?"

Tianyi tertawa kecil. "Orang yang aku suka adalah kau, Zhiyu Moke." Tianyi meraba pipi Moke yang tetap berwarna merah. Bibirnya tersenyum dengan manis ketika dirinya bisa merasakan suhu wajah Moke yang panas. Gadis cantik itu menarik kepala Moke agar mendekat kepadanya, dan mengecup pelan bibir Moke. "Tapi aku tidak menyangka kau bisa cemburu terhadap seorang perempuan, Moke! Aku masih normal, bodoh!"

Moke tersenyum jahil, lalu mengecup bibir tipis Tianyi. "Hah? Setelah merebut first kiss pemuda tampan sepertiku, kau masih sempat untuk menghinaku?" Kedua tangan Moke menarik pipi gemuk Tianyi dengan keras, hingga Tianyi meringis kesakitan.

"Itu juga first kiss-ku, lalu apa? Lagipula mana ada orang yang sebodoh dirimu yang bisa salah menilai gender seseorang?" ujar Tianyi seraya mencubit kedua pipi Moke.

Moke mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tianyi, dan mengacak-acak rambut rapih Tianyi hingga tidak beraturan lagi. "Sebodoh apapun aku, bukannya kau tetap suka kepadaku, Nenek ganas?" ledek Moke.

Bibir Tianyi mengerucut. "Aku memang suka kepadamu, dan kau harus membayar karena sudah menghancurkan rambut indahku!"

Kedua remaja itu saling berpandangan untuk sesaat, dan tersenyum geli. "Pfft! Aku tidak menyangka kita masih bisa bertengkar seperti ini!" Moke ikut duduk di sebelah Tianyi ketika melihat Tianyi yang mulai duduk kembali. "Tianyi, ini berarti… kita jadian?"

Kepala kecil dengan rambut yang berantakan itu mengangguk kecil. "Oh iya Moke, kalau dilihat dari sifatmu yang tadi, sepertinya sifatmu itu seperti yang dikatakan oleh orang Jepang, tsundere!"

"Haaa? Yang benar saja, Tianyi! Kau yang tsundere! Tidak pernah jujur mengenai perasaanmu sendiri!"

"Kau yang tsundere, dasar Moke bodooooooooh!"

End

YAAAAAAA! Finally fic ini di update duh astaga malasnya =w= ganyangka setelah masuk ke SMA, gaakan punya banyak waktu buat nerusin fic dan nge-updatenya!

Dan, yah, ini dia cerita kecemburuan yang ke3! Entah fic ini akan dilanjutkan, karena Kumo susah dihubungi dan aku bermalas malasan terus T^T

But if you want some more, I will make it! :3 But I will make it on my own of course, because I cant contact my partner :

By the way, Moke x Tianyi adalah pair favo kuuu! Entah kenapa tapi dua karakter voca china ini lucu dan menggemaskan! Hope you like it :

Jadiiiii, review please?