Suara entakan sepatu yang terdengar seakan mengisyaratkan bagaimana cepatnya langkah kaki pria pendek itu sekarang. Napasnya hampir habis, tapi bukan berarti Ten bisa berhenti hanya untuk mengambil napas di tengah keterlambatannya saat ini.

Bibir cherry nya tak henti memanjatkan doa supaya sang klien menyebalkan itu masih tidur ataupun mandi. Sebenarnya akan jauh lebih baik jika Johnny tidak akan menyemprotnya dengan kata-kata yang menusuk.

"Dua sembilan sembilan lima-"

"Satu satu."

Tubuh kecil itu lantas menegang dengan cepat. Kaku layaknya sebongkah batu yang tergeletak di depan pintu yang nyaris saja terbuka.

"Terlambat 10 menit dua puluh tujuh detik. Selamat datang."

"Jalanannya macet, jadi-"

"Tidak, bukan itu masalahnya."

Seketika alis hitam itu saling bertautan.

"Kau datang tanpa mencuci muka? Ada kotoran di matamu."

"Uh? Huh?!"

Pria kecil itu kembali berbalik untuk sekedar membersihkan matanya secara tersembunyi. Wajah cantiknya tiba-tiba saja memerah karena merasa malu.

"Pasti bangun kesiangan."

Tiba-tiba saja sosok Johnny di belakang sana langsung mencibir sehingga rahang Ten mulai mengeras karena merasa geram.

"Aku tidak akan terlambat kalau bukan karena dirimu! Paham?"

"Tapi kau kan hanya melayani klien. Aku tidak salah kan? Mengutamakan dasar-dasar profesional, memberikan jasa kepada semua pihak yang membutuhkannya, lalu-"

"Dari mana kau tahu semuanya?"

Sudut bibir Johnny terangkat dengan cukup jelas, ekspresi memuakkan yang Johnny tunjukkan ke arah Ten seakan memberitahukan bahwa Johnny juga bisa menjadi lebih pintar ketimbang Ten. Tapi perkiraan yang sempat terlintas di kepala Ten seketika berbanding terbalik dengan fakta yang terbongkar setelahnya. Pria jangkung itu mengarahkan layar ponsel persis di hadapan Ten seraya memasang senyuman mengejek yang cukup menjengkelkan.

"Aku mencarinya di internet. Cukup bagus untuk bahan memarahimu."

"Hei, kau pikir itu lucu?! Aku sudah berlari sekuat tenaga sampai rasanya aku hampir mati karena kehabisan napas!"

"Perkataanmu itu mengingatkanku pada majas hiperbola. Terlalu dilebih-lebihkan."

Tatapan tajam Johnny tiba-tiba saja membuat Ten merasa tak nyaman. Sama seperti sedang di ruangan interogasi atas kasus kejahatan besar yang melibatkan nyawa orang banyak yang menjadi korban. Lalu dalam satu detik, mungkin kurang dari satu detik, hembusan napas milik lawan bicara perlahan menyentuh kulit wajahnya. Ten tersentak, mata terbelalak karena pergerakan tubuh Johnny yang perlahan mendekat tanpa pemberitahuan. Jangan lupakan tatapan tajam yang entah kenapa terasa menusuk hingga ke tulang ekornya.

"Hei hei! Apa yang ka-"

"Satu satu."

"A-apa?"

Tepat setelahnya terdengar suara 'Tit' sebanyak dua kali dari arah belakang tubuhnya. Kemudian tubuh yang lebih tinggi itu mulai menjauh secara perlahan, menyisakan ekspresi tegang yang tercetak jelas di wajah cantik milik Ten.

"Kau lupa menekan dua angka terakhir. Satu satu."

"A- Oh..."

"Kau tidak berpikir kalau aku akan menciummu kan?"

"Tidak.."

"Masuk."

Kata terakhir yang Johnny ucapkan di depan pintu besi yang telah terbuka.

"Bajingan."


"Bisa langsung konsultasi?"

"Mau bicara lagi? Semalam kan sudah bicara panjang. Bisakah kita konsultasi di kantor saja? Rasanya tidak nyaman berada di tempat ini. Hawanya terasa buruk."

"Pembicaraan semalam masih belum selesai. Kau mengantuk jadi kau mematikan telepon seenaknya. Kau harusnya ada di saat klien sedang membutuhkan."

"Jika saja kau tidak menelepon di jam seperti itu maka aku bisa saja memberi saran. Memangnya ada ya orang yang mandi di jam sebelas malam? Tubuhmu tidak membeku? Bagaimana bisa kau bicara kasar ketika semalam kau jelas-jelas seperti sedang putus asa. Cih."

"Maaf, bukannya kau yang bicara kasar?"

Atensi Ten seketika beralih pada sosok jangkung di hadapannya. Satu alis yang terangkat disertai tekukan dibibir seakan-akan menyangkal perkataan Johnny barusan.

"Oho! Coba lihat siapa yang bicara? Kau bilang aku? Bukannya semalam kau menangis? Aku bisa dengar suara hidungmu yang tersumbat ingus. Ewwwwh, aku bahkan masih ingat suaranya. Menjijikkan. Baiklah, tidak perlu berbasa-basi, ayo katakan apapun yang mengganjal dipikiranmu."

"Kau yakin?"

"Kenapa tidak, aku bersyukur kalau ceritamu tinggal sedikit. Tapi kalau ceritamu panjang, ya sudah. Kepalaku hanya akan terasa berputar. Kau tahu kan? Berputar. Hahaha."

"..."

"Oke, tidak lucu. Sampai dimana kita semalam?"


Untuk kali kedua lelaki jangkung itu berada di dalam ruangan yang sama dengan yang ia datangi tempo hari. Kali ini tidak sendiri, seorang gadis datang bersamanya. Keduanya telah berhadapan dengan Jungwoo selama kurang lebih lima belas menit. Tugas Lucas hanya sekedar membantu sepupunya untuk berbicara dengan Jungwoo. Tidak lebih daripada itu.

Gadis bernama Chengxiao itu terlihat tegang, bahkan sesekali berbisik kepada Lucas untuk segera membawanya pulang ke rumah.

"Menikah di usia muda itu memang punya banyak resiko. Usia muda memang usia yang produktif, tapi emosi kita masih belum stabil di usia muda. Kalian bisa bahagia di awal, tapi setelah sekian lama dan masalah datang, kedewasaanmu masih belum bisa menghadapi masalah sebesar itu. Ada banyak kasus dimana pasangan muda memutuskan untuk bercerai. Alasannya klasik. Mereka ingin bebas dari masalah rumah tangga, belum siap jadi orang tua. Faktor kebosanan karena di usia muda mereka biasa berganti pasangan juga bisa."

Izinkan Jungwoo mengambil napas sejenak.

"Tapi aku tidak menyarankan kalian untuk berpisah. Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Bukankah kau bilang suami mu itu orang yang baik? Mungkin dia sedang menghadapi masalah dengan orang-orang di sekitarnya. Usahakan jangan membahas sesuatu yang sensitif. Perlakukan dia dengan baik, mungkin dia akan mengerti. Kalian bisa kembali kapan saja. Jangan lupa obati luka memar di wajahmu Nona Cheng."

"Terima kasih."

Pria tinggi itu memberikan anggukan seraya bangkit dari atas kursinya. Jungwoo bahkan dengan sangat baik mau mengantar Lucas dan juga Chengxiao ke luar ruangan.

"Terima kasih banyak." suara bass Lucas kembali terdengar di telinganya.

Lantas senyuman simpul Jungwoo seakan membalas senyuman lebar yang Lucas berikan sebagai salam perpisahan. Well, tidak ada salahnya untuk mengenal Lucas lebih dekat kan?


Sudah hampir empat jam Ten mendekam di dalam apartemen luas milik Johnny meski sesi konsultasi telah selesai satu setengah jam yang lalu.

Pria kecil itu hanya ingin pergi ke kantor dan ikut makan siang seperti biasanya, tapi nyatanya Johnny terus saja melarangnya pergi demi memperoleh pelayanan gratis. Salah satu contoh sederhana; Ten harus membuatkannya salad buah disamping kebencian Ten dengan buah-buahan.

Pria itu mungkin tak tahu, tapi yang jelas Ten terasa seperti menguliti sekaligus memotong beberapa jenis serangga ketimbang memotong buah untuk Johnny.

"Kau pikir aku ini asisten rumah tangga? Buat saja sendiri, lain kali jangan menyuruhku membuat sesuatu yang berhubungan dengan buah!" celetuk Ten sambil meletakkan mangkuk berisi salad yang sudah ia buat dengan susah payah.

"Bukankah seorang psikolog harus memperlakukan sang pasien dengan baik? Kenapa kau ini sangat kasar sih?"

"Karena kau itu menyebalkan. Sama saja dengan pasien yang lain. Kau bahkan tidak membiarkan aku pergi dari sini. Sebenarnya apa yang kau inginkan?! Apa pun alasanmu, sekarang aku mau pergi."

Tas kerja di atas sofa langsung disambar oleh Ten. Entakan kaki yang terdengar menggema di ruang tengah menjadi satu-satunya hal yang menarik perhatian Johnny kali ini.

"Aku tidak pernah makan siang dengan siapa pun setelah Irene meninggal. Jaehyun tidak akan melakukannya karena dia sibuk di kantor. Lagipula aku juga tidak tertarik untuk makan dengan anak itu."

Perkataan Johnny sukses mengalahkan segala ego di dalam diri Ten sehingga ia memutuskan untuk berhenti di tengah jalan, kemudian berbalik menghadap Johnny.

"Kau...apa?" tanya Ten dengan sedikit ragu-ragu. Arah pandang Johnny yang semula menatap ke lantai segera berpindah ke netra hitam milik pria yang berstatus sebagai psikolog muda itu.

"Aku ingin kau makan siang bersamaku. Karena sejujurnya, aku sedikit tertarik denganmu."

.

.

Tatapan Ten tak bisa lepas dari sosok jangkung yang tengah fokus memasak sesuatu yang bahkan Ten sendiri tidak tahu. Pergerakan tangannya cukup lihai untuk seorang pria. Bahkan Ten saja tidak berani mengangkat wajan teflon karena takut makanannya tumpah atau mendarat ke wajahnya. Dua roti terakhir baru saja melompat dari mesin pemanggang roti, setelah itu daging tuna yang semula Johnny masak dengan beberapa bahan campuran segera ditaruh ke atas roti sebagai isian utama.

"Aku tidak tahu kalau kau bisa memasak." suara logat khas Ten langsung mendominasi.

"Irene yang mengajari." jawab Johnny sembari melangkah menuju meja makan dengan dua piring sandwich tuna buatan Johnny.

"Aku tidak bisa memasak makanan yang lebih berat. Jadi makan saja apa yang sudah ada di depanmu."

Johnny yang bersikap dingin telah kembali, padahal sudah jelas sekali kalau pria itu kesepian. Kebanyakan orang lebih suka bersikap hangat supaya bisa dapat teman. Mungkin ini alasan kenapa Jaehyun sering tidak betah berlama-lama di dekat Johnny.

"Apa yang kau lihat? Makan ini."

Dan berakhir dengan sandwich yang masuk ke mulut Ten karena ulah Johnny.


TBC

.

.

Sangat buruk dan semakin buruk.

Aku labil, sorry haha.

Karena ini ff Johnten, gak masalah kan kalau fokus ke Johnten?