Ampuni saya! Saya telat update lagi! *digetok readers*

Ini cuma selingan selagi menunggu cerita OKK UI 2010 yang akan saya tampilkan di chapter 4. Cerita ini terinspirasi saat saya menonton (Masih) Dunia Lain. Karena cerita ini memakai setting di UI, maka otomatis cerita ini AU.

Enjoy it!

Warning : OOC, AU, dan Horror. Bagi yang lemah jantung, sebaiknya jangan baca fic ini.


DI UI ADA SETAN?

By : Eka Kuchiki


Hitsugaya melihat kalender yang tergantung di kamar kostnya. Sudah dua minggu dia di Depok.

Hitsugaya kini merebahkan dirinya diatas kasur. Ia ingin ke kamar Ichigo, tapi takut menganggu. Sekarang jam di kamarnya sudah menunjukkan jam 12 malam.

Jam dua belas malam?

Gila! Kayaknya si Hitsugaya mulai kena insomnia! Biasanya kan jam sepuluh dia sudah tidur.

Kebanyakan anak UI memilih kos di sekitar UI supaya lebih mudah mendapat informasi. Selain itu, bagi anak-anak paralel yang kuliah malam, ngekos itu lebih menguntungkan karena mereka pulang pada malam hari.

Hitsugaya, Ichigo, dan Renji memilih untuk ngekos bareng di kosan Pondok Cina, tapi tidak sekamar. Lagipula, Hitsugaya malas untuk ngekos bareng salah satu diantara mereka. Kalau Renji, dia kan orangnya jorok. Hitsugaya jelas ogah sekamar dengan Renji! Secara Hitsugaya orangnya cinta bersih.

Kalau Ichigo?

Sebenarnya Hitsugaya tidak keberatan sekamar dengan Ichigo. Cuma masalahnya, Ichigo itu orangnya agak rese plus ngeselin. Jadinya Hitsugaya batal sekamar dengan Ichigo.

Sedangkan Ishida tidak satu tempat kos dengan mereka bertiga. Karena bagi Ishida, kosan Kukusan Teknik dekat dengan Fakultas Teknik. Makanya dia jadi kos disitu.


#

Oke, kembali ke masalah Hitsugaya. Hitsugaya masih tidak bisa tidur. Dirinya masih memikirkan pembicaraan seorang anak UI mengenai penampakan di tempat-tempat yang ada di UI.

'Masa sih universitas kayak UI bisa ada penunggunya?' pikir Hitsugaya. Tiba-tiba Hitsugaya teringat sesuatu.

'Tapi… UI kan sudah berdiri lama sekali, jadi bisa saja ada penunggunya.' Batinnya ragu.

Hitsugaya langsung menggelengkan kepalanya, 'Ah! Kenapa gue malah mikirin kayak gituan! Mending tidur aja deh!'

Hitsugaya menyelimuti tubuh mungilnya dan terbuai dalam mimpinya.


#

Siang hari setelah kuliah, dirinya bersama Ichigo dan Renji mengobrol soal tempat-tempat di UI yang cukup menyeramkan. Rukia dan Orihime ikut mendengarkan.

"Eh, tau gak?" Renji memulai pembicaraan.

"Gak tau." Jawab mereka berempat serempak.

"Ya iyalah! Orang belum gue kasih tau!" sewot Renji. Dua detik kemudian, wajahnya kembali serius.

"Di UI ini banyak tempat-tempat yang ada penunggunya." Kata Renji dengan suara diseram-seramkan.

"Alah! Paling juga boongan!" sahut Ichigo tidak percaya.

"Eh, Ichigo! Jangan sembarangan ngomong lho! Ntar kalau kualat gimana?" timpal Rukia.

"Ichigo, elo jangan sembarangan ngomong! Kalo ada setan yang denger gimana?" timpal Renji mendukung Rukia.

"Apaan sih?" tanya Ichigo. "Gue yang ngomong, kok elo berdua yang heboh!"

"Demi kebaikan elo, tahu!" kata Rukia dan Renji serempak.

Yang lain sweatdrop. Sejak kapan Renji dan Rukia kompakan?

"Eh, Abarai," panggil Hitsugaya. "Elo tau informasi ini darimana?"

"Gue tau dari sumber yang akurat, tajam, dan terpercaya." Jawab Renji yang ternyata nyolong slogan dari Liputan 6 SCTV.

"Iya, tapi siapa orang yang ngasih tau elo?" tanya Hitsugaya.

"Tuh orangnya!" Renji menunjuk ke Rangiku yang sedang berjalan kemari.

"Panjang umur tuh orang!" sahut Ichigo.

Rangiku setengah berlari menghampiri mereka. Kali ini dia tanpa sungkan-sungkan menghampirI Hitsugaya.

"Kya! Toshiro-kun lucu banget!" Tanpa aba-aba, Rangiku langsung memeluk cowok imut berambut perak itu.

"Le…pas..kan..!" Hitsugaya mulai kehabisan nafas. Akhirnya Rangiku melepaskan pelukannya sambil nyengir lebar ala Gin Ichimaru.

"Shiro-chan lucu banget sih..!" Rangiku ngacak-ngacak rambut Hitsugaya. Hitsugaya memberikan death glare terampuhnya.

"SINGKIRKAN TANGAN LO DARI RAMBUT GUE!" jerit Hitsugaya. Yang lain budek mendadak.

"Nyantai, Toshiro!" sahut Ichigo. "Darah tinggi lo kagak turun-turun ya…."

"SHUT UP!" Hitsugaya memberikan death glare terampuhnya. Ichigo langsung diem seribu basa.

"Oke, kembali ke topik," Hitsugaya langsung tenang kembali. "Abarai! Dimana aja sih tempat-tempat yang ada 'penunggunya'?"

"Rangiku, jelasin sana!" Renji malah seenaknya nyuruh Rangiku ngejelasin. Rangiku langsung pasang pose mirip presenter Insert Investigasi.

"Permirsa, kali ini–"

"Argh! Udah jelasin, cepetan!" Jerit Rukia gak sabaran.

"Sabar bu!" Rangiku pasang wajah serius. "Tau gak, katanya di sekitar Gymnasium UI itu ada penunggunya lho!"

"Eh, serius?" sahut Ichigo dan Renji kompakan. Soalnya mereka berdua sering fitness disana.

"Duarius malah!" Rangiku mengacungkan tanda 'victory' dengan kedua jarinya. "Ada anak UI yang melihat langsung penampakan disana!"

"Kapan?" tanya mereka berlima serempak.

"Pas malam Jumat Kliwon!" Rangiku memberi penegasan pada kata 'Jumat Kliwon'.

"Seram ya," kata Orihime ketakutan. "Duh… aku jadi takut…."

Ichigo dan Renji saling berpandangan. Kali ini mereka bingung harus percaya sama Rangiku apa tidak. Soalnya Rangiku pernah mendapat gelar sebagai 'ratu gossip sekecamatan'. Dan pastinya, gosip dia bukan sembarang gosip.

"Gue gak percaya." Kata Hitsugaya pelan. Semua mata tertuju padamu… eh, maksudnya tertuju pada Hitsugaya.

"Gue juga!" sahut Ichigo dan Renji bersamaan.

"Kompakan ya…." timpal Rukia.

"Tau tuh! Mentang-mentang dulu pernah satu SMP!" sindir Rangiku. "Padahal gak ada yang berani–"

"Siapa bilang?" potong Ichigo. "Gue berani kok!"

"Eh, gue juga kali!" sahut Renji.

"Buktiin kalo lo bertiga berani!" balas Rangiku.

"Gimana caranya?" tanya mereka bertiga serempak.

"Gimana kalo kita adain uji nyali di Gymnasium UI?" usul Rukia. "Siapa yang nyerah atau keluar dari Gymnasium duluan, dia yang kalah," Rukia mengulurkan tangannya. "Deal?"

"Oke! Siapa takut!" Ichigo menjabat tangan Rukia. "Deal!"

"Kita ngumpul di depan Gymnasium UI jam 10 malam," Kata Rangiku. "…Dan akan diakhiri pada jam 12 malam."

Hitsugaya mengangguk setuju. "Satu lagi, semua harus bawa senter. Soalnya lampu-lampu di sekitar Gymnasium dimatikan."

Setelah sepakat dengan waktu dan tempat, mereka pergi ke kosan masing-masing.


#

Malam harinya, Ichigo menggedor pintu kamar Hitsugaya.

"Woi! Toshiro!" Ichigo mengedor pintu terus-menerus sampai Hitsugaya keluar dengan muka jutek.

"Elo ngegedor pintu kayak bakal ada kebakaran aja!" sewot Hitsugaya.

"Eh, elo gak lupa kan dengan tantangan uji nyali tadi siang?" tanya Ichigo. Hitsugaya menggeleng.

Ichigo menarik tangan Hitsugaya, "Oke! Tinggal panggil si babon merah itu!"

"Kurosaki," kata Hitsugaya lembut.

"Ya, Toshiro?" Balas Ichigo lembut.

"Nggak usah pake narik tangan gue! GUE BISA JALAN SENDIRI!" Darah tinggi Hitsugaya kambuh lagi. Ichigo syok dan langsung melepaskan tangannya.

Mereka berdua menggedor pintu kamar Renji, tapi tidak ada jawaban.

"Woi! Renji!" panggil Ichigo sambil menggedor pintu kamar Renji. Tetap tidak ada reaksi.

Ichigo mencoba membuka pintu, dan ternyata…. BISA!

Ichigo dan Hitsugaya sweatdrop, 'Ni anak cerobohnya keterlaluan ya.' Batin mereka berdua.

Mereka berdua masuk ke kamar Renji yang berantakannya mirip dengan kapal pecah di bom atom (?).

"Woi! Renji!" Ichigo ngejerit lagi di kamar Renji.

"Berisik!" Bukannya Renji yang nyahut, malah anak-anak kos yang menyahuti Ichigo.

Ichigo dan Hitsugaya sweatdrop ngeliat Renji dengan santainya ngedengerin musik sambil baca majalah.

'Pantesan ni anak kagak denger,' Batin Ichigo. Ichigo melepaskan headset di telinga Renji. Renji langsung ngomel-ngomel.

"Apaan sih?" dumel Renji. Dia merasa terganggu. "Elo berdua tuh kalo masuk ketok pintu dulu napa! Main nyelonong masuk aja!"

"Siapa suruh pintu kamar gak dikunci!" bentak Hitsugaya.

Renji nepuk jidatnya, dirinya telah coroboh lupa ngunci pintu kamarnya.

"Eh, bego! Gue dari tadi teriak-teriak di depan kamar lo, sampe-sampe gue diteriakin sama anak-anak satu kosan!" protes Ichigo. "Elo ngedengerin lagu sampe volume berapa sih?"

"Sepuluh," jawab Renji innocent. Hitsugaya melihat MP4 Renji dan geleng-geleng kepala.

"Pantesan elo kayak orang budeg! Ngedengerin lagu sampe volume maksimal!" kata Hitsugaya syok. Renji nyengir kuda.

"Udah, gak usah dibahas lagi! Sekarang kita cepat ke Gymnasium!" ajak Ichigo. Muka Renji mendadak pucat.

"Eh, gue ada acara nih! Gue harus pergi sekarang," Kata Renji. Ichigo langsung menarik tangan Renji.

"Eh, bilang aja lo takut! Lo gak berani kan ngikut uji nyali itu…"Ichigo manas-manasin Renji.

Merasa dipanasi, Renji langsung membantah. "Nggak kok! Oke deh, gue ikut!"

Mereka bertiga keluar kosan dan pergi ke kawasan UI.


#

Di depan Gymnasium, ada Rukia, Orihime, dan Rangiku. Mereka menunggu cowok-cowok datang.

"Lama banget sih mereka!" dumel Rangiku. "Gak bisa online!"

"Ontime, maksudnya?" ralat Rukia.

"Iya, itu maksud gue!"

"Eh, sekarang malam Jumat Kliwon ya?" tanya Orihime. "Perasaanku kali ini gak enak…."

"Elo jangan nakut-nakutin gue dong!" sahut Rangiku.

Akhirnya tiga cowok yang mereka tunggu datang. Mereka langsung membagi jalan yang akan mereka tempuh, lalu menunggu sampai jam 12.

"Kita gak bisa masuk ke Gymnasium," kata Hitsugaya. "Jadi uji nyali dilaksnakan diluar Gymnasium. Wilayah kita bagi dua, jalur kiri dan jalur kanan," Hitsugaya membagi wilayah yang akan jadi tempat uji nyali.

"Jalur kiri buat cowok, dan jalur kanan buat cewek!" Sambung Rukia.

Setelah mengerti daerah mana yang harus dilewati, mereka langsung ke lokasi uji nyali.


#

Ichigo, Hitsugaya dan Renji berjalan di sekeliling Gymnasium UI. Tiba-tiba Renji menepuk pundak Ichigo.

"Apaan sih, Nji?" sewot Ichigo. Sebenarnya dari tadi Ichigo udah curiga kalo Renji ada gejala-gejala maho. Sejak tadi tangan Renji memegang tangan Ichigo, kalo nggak ditepis sama Ichigo, mungkin tangan Ichigo masih digenggam oleh Renji.

"Ichigo, gue ngeliat ada yang lewat gitu," Kata Renji. "Botak-botak lewat dibelakang pohon itu!" Renji menunjuk ke pohon yan dimaksud.

Ichigo dan Hitsugaya melihat ke pohon yang ditunjuk Renji. Tapi tak ada seorang pun disana.

"Ah, elo lagi berhalusinasi kali!" bantah Ichigo. Hitsugaya mengangguk setuju.

Tapi kali ini giliran Ichigo yang kualat, dia melihat ada sosok hitam lewat di semak-semak.

"Nji! Gue liat…"

"Liat apa?" Renji menoleh ke arah yang Ichigo lihat. Kali ini ia melihat sosok hitam itu!

"A..apa…. i….tu…." Renji berubah menjadi Aziz Gagap. Ichigo dan Hitsugaya kaget melihat sosok itu mendekat!

"A…ada….yang…men…de..kat…." Ichigo ketularan gagap juga. Hitsugaya pengen sweatdrop tapi gak jadi karena… sosok hitam itu mendekati mereka!

3…

2….

1…

"HUWAAAA!" Jerit mereka bertiga kompakan.

Begonya, mereka bukannya lari malah berdiri mematung. Mereka bertiga berpelukan, tapi lebih tepatnya adalah Ichigo dan Renji memeluk Hitsugaya. Hitsugaya kepingin nendang mereka berdua, tapi gak jadi karena dia juga ketakutan melihat sosok hitam berkepala botak itu mendekati mereka.

Kaki Renji dan Ichigo gemetar. Mulut mereka sibuk merapal doa sebelum makan (?). Hitsugaya juga gemetar, namun kali ini dia yakin bahwa yang dia lihat sekarang bukan hantu.

Itu…. Orang berkepala botak pake baju hitam panjang!

Mereka bertiga bernafas lega. Setidaknya, hari ini tidak ada yang pipis dicelana saking horornya.

"Eh, kalian bertiga ngapain teriak-teriak disini?" tanya orang itu.

Ichigo dan Renji sempat mengecek apakah kaki orang itu napak di tanah atau tidak, ternyata napak.

"Syukurlah…." Mereka bertiga bernafas lega.

"Apanya yang syukurlah?" tanya orang itu bingung. Mereka bertiga memberikan death glare kepada orang botak itu.

"Elo ngapain pake baju item-item terus malem-malem gini keliaran disini?" tanya Ichigo.

"Gue mah anak paralel, gue biasa pulang jam 9 malam. Gue ngambil barang yang ketinggalan disini." Orang itu menunjukkan barang yang dibawanya. "Elo bertiga ngapain disini?"

"Kami… juga ngambil barang yang ketinggalan!" kata Hitsugaya. Untung aja Hitsugaya pinter ngeles.

Mereka jadinya berkenalan. Orang botak yang disangka hantu tadi adalah Ikkaku Madarame, anak paralel jurusan Sastra Jerman sekarang dia sudah semester 3. Emang gila si Ikkaku! Malem-malem keluyuran!

Ikkaku ngeloyor pulang meninggalkan mereka bertiga. Ichigo, Hitsugaya, dan Renji kembali melanjutkan uji nyali mereka.


#

Di pihak cewek, Rukia, Orihime, dan Rangiku saling bergandengan tangan. Selain takut terpisah, mereka juga takut salah satu dari mereka nyasar sendirian.

"Duh… serem banget sih disini…." Rangiku gemetar saking takutnya.

"Iya nih…. Ternyata UI kalau malem-malem serem juga ya," sahut Orihime. "Aku jadi ingin pulang…."

"Sst! Diam," sahut Rukia. "Pokoknya kita gak boleh kalah sama anak cowok!" katanya berapi-api.

Rangiku dan Orihime sweatdrop melihat reaksi Rukia.

Saat mereka menyusuri jalan, tiba-tiba….

"A…ano…. Rukia, ada… putih-putih!" jerit Rangiku sambil menunjuk ke pohon beringin yang ada didepan mereka.

"GYAAA!" Mereka bertiga menjerit gila saat sosok berambut putih panjang mirip kuntilanak berjalan mendekati mereka.

Namun ternyata…

"Sedang apa kalian bertiga disini?" tanya sosok berambut putih itu.

Mereka bertiga bernafas lega, soalnya yang berada dihadapan mereka sekarang adalah Juushirou Ukitake, seorang dosen ilmu hukum–dosennya Rangiku.

"A…ano, Ukitake-sensei, kami–" Rukia berusaha menjawab tapi dipotong oleh Ukitake.

"Sebaiknya kalian cepat pulang. Malam-malam keluar seperti ini bukanlah perbuatan yang baik, apalagi untuk kalian–para gadis," Ukitake menasihati mereka panjang lebar. "Mengerti?"

"Mengerti, sensei!" sahut mereka bertiga serempak.

Ukitake tersenyum lalu meninggalkan mereka bertiga.

Tapi emang dasar anak bandel! Mereka bukannya pulang malah ngelanjutin uji nyali! Kualat baru tau rasa!


#

Ichigo, Hitsugaya, dan Renji mendengar suara langkah kaki mendekat. Bulu roma mereka berdiri tanpa disuruh.

"Toshiro…. Lo denger ada suara langkah kaki nggak?" bisik Ichigo ke Hitsugaya. Kaki Renji udah gemetar lagi.

"Gue denger, kayaknya ada yang mau kesini…." Bisik Hitsugaya.

"Eh, jangan nakutin dong!" seru Renji.

Ternyata saat mereka menoleh…

"GYAAA!" jeritan itu mengagetkan mereka bertiga. Ichigo sampai loncat saking kagetnya dan Renji udah mau tepar.

Hitsugaya–yang paling waras– mengarahkan senternya, sosok yang berteriak tadi ternyata kelompok cewek.

"Elo bertiga ngagetin kita aja!" bentak Rangiku.

"Baka! Justru kalian yang bikin jantung kita hampir copot!" bentak Hitsugaya.

"Eh, bentar!" sahut Ichigo.

"Napa lagi?" tanya mereka berlima.

"Gue mau ke toilet dulu," Ichigo langsung ngacir untuk mencari toilet. "Udah diujung tanduk nih!"

Yang lain sweatdrop ngeliat Ichigo lari-larian buat nyari toilet.


#

Akhirnya karena sudah bertemu, sekalian saja mereka bareng-barengan uji nyali.

Tiba-tiba, mereka berlima melihat ada bayangan putih-putih lewat, namun menghilang dengan cepat.

"A…a….apa…. itu…." Jari Rukia menunjuk bayangan putih tadi.

"A…a…" Rangiku ketularan gagap.

"Kyaa!" Orihime menutup matanya.

Renji–saking takutnya– tidak bisa berkata apa-apa selain merapalkan doa sebelum makan (?).

Hanya Hitsugaya yang tidak takut saat melihat 'penampakan' itu. "Hei! Kenapa kita jadi takut sih?" gertak Hitsugaya.

"Toshiro, emangnya elo gak takut?" tanya Rukia gemetar.

Hitsugaya menggeleng, "Tadi kita ketemu sama 'penampakan', eh ternyata dia cuma mahasiswa!" jawab Hitsugaya.

Rukia terdiam sebentar, "Tadi kita juga ketemu sosok yang menyeramkan, ternyata dia dosen disini!" timpal Rukia.

"Jadi, buat apa kita takut?" sahut Hitsugaya. "Siapa tahu itu hanya ilusi kita, atau…."

"….Kerjaan orang iseng," sambung Renji. "Dan gue tahu siapa orang yang suka iseng!"

"Siapa?" tanya mereka serempak.

"Ichigo! Gue dulu pernah dikerjain sama dia!" jawab Renji.

Ternyata, Renji dulu pernah dikerjain sama Ichigo saat SMP. Ichigo pernah menakut-nakuti Renji dengan kostum pocong hingga Renji ngompol di celana.

"Bilang ke toilet, tau-taunya ngerjain orang!" dumel Renji. Wah! Jangan berburuk sangka dulu bang Renji!

"Oke, nanti kita interogasi dia!" kata Rangiku.

"Siapa yang mau diinterogasi?" tanya seseorang di belakang.

"HUWAAA!" Jerit mereka berlima. Sosok berambut oranye itu mengagetkan mereka.

"Ichigo!" jerit mereka berlima serempak. Ichigo nyengir kuda.

"Sialan lo! Ngagetin kita aja!" sewot Renji.

"Eh, elo tadi beneran ke toilet?" tanya Rangiku to the point.

Ichigo mengerutkan dahinya, "Ya iyalah! Masa gue mau balik ke kosan gue?" jawab Ichigo.

"Sumpe lo?" tegas Rukia.

"Sumpah disamber gledek deh!" Ichigo mengacungkan 'victory'dengan kedua jarinya. "Harusnya gue yang tanya, kenapa gue ke toilet aja disuruh pake sumpah segala?" jeritnya.

"Tunggu!" sela Hitsugaya. "Elo nyari toiletnya dimana?"

"Disana," Ichigo menunjukkan ke belakang.

Wajah Hitsugaya dan yang lainnya serempak memucat. Arah yang ditunjuk oleh Ichigo ternyata jauh dari tempat dimana 'penampakan' itu terlihat. Jelas tidak mungkin Ichigo pergi ke sana. Membuang waktu saja.

"Jadi….itu tadi…." Orihime tak bisa melanjutkan kata-katanya.

"SETAAAAAANNN!" Jerit mereka berlima sambil lari tunggang langgang ke kosan masing-masing. Renji menyeret Ichigo yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Sungguh malam Jumat Kliwon yang menyeramkan!


#

OWARI

#


Eka's Note : Aslinya, gak ada penunggu di UI (saya sendiri belum pernah mendengar cerita ada penampakan disana). Ini cuma karangan saya belaka (berbeda dengan cerita sebelumnya yang berdasarkan dari pengalaman pribadi). Tapi memang, suasana di UI saat malam-malam itu menyeramkan! Soalnya banyak pohon-pohon tinggi disana. Pokoknya, jangan ke sana sendirian, apalagi pas malam Jumat Kliwon! Mungkin anda akan mengalami kejadian seperti mereka…. XD


Balasan review chapter untuk para pembaca tercinta (Kenapa baru balas review sekarang, baka?)

4869fans-Nikazemaru : Beneran kocak? Thanks! (tersenyum lebar ala Gin Ichimaru *?*) Ah, saya biasa aja kok… (blushing)

Gembokkunci 47 : Iya, sejatinya anak-anak UI itu gak kenal satu sama lain. Soalnya satu kelompok OKK UI harus berasal dari SMA yang berbeda (tapi boleh dari satu jurusan). Kebetulan aja si Ichigo, Renji dan Hitsugaya dulunya satu SMP. Jadinya mereka gak susah bikin kelompoknya. Tul! Slogan itu emang pantas buat Renji! *digigit Zabimaru*

aRaRaNcHa : Nggak bisa berhenti ngakak? Hati-hati! Jangan ketawa saat malem-malem ya…. *digaplok*

MiraeNaomiKurosaki : UI di Depok, sayang! (Mirae muntah-muntah karena dipanggil sayang) Kalo yang di Bandung itu ITB. Saya masih di Tangerang.

Jyasumin-sama : Iya, karena setting UI. Maka otomatis ceritanya jadi AU. Maaf, karena saya baru tahu AU itu apa. Terima kasih atas sarannya. Sepertinya tidak ada yaoi atau shounen-ai disini. Kalaupun ada, itu cuma sekedar humor belaka. Yang bener nih? Pake *bla* apa nggak? (ngotot) *ditendang*

Ayano646cweety: Kasihan kau Renji… (ngelus-ngelus rambut Renji) Oke, tunggu aja ya…

You-Dont-Know-Who : Kalo saya anak UGM, ni cerita judulnya bakal jadi 'Bleach in UGM' dong! Hehehe… Saya anak fakultas MIPA jurusan Kimia. Twitter aja ya… eka_

Fariacchi : A/N berlebihan? Maaf, senpai! Saya coba kurangin. Terima kasih atas sarannya.

Astrella Kurosaki : Kocak banget? Thanks! (loncat-loncat dan bersalto kebelakang) Waduh! Jangan keterusan! Nanti bisa dianggap gila… *digeplak*

Ginryuumaru : Satu kata untukmu juga, thanks!

Arisato Mizaki: Thanks! Tau tuh! Dipikirannya Rukia hanya ada Chappy...*ditebas* Rangiku bakal dapet fotonya Byakuya kok (mungkin)!

Lenanee Shihoin : Yup, Byakuya emang multitalenta! Salam kenal juga ya….

Hiroyuki Naomi : Ah… jadi malu… (blushing). Memang nasipnya Hitsu agak sial. Nanti yang lain juga kebagian sial kok!

Chappythesmartrabbit : Kakakmu jurusan apa? Huff.. .abisnya Shiro-chan imut sekali sih! Momo bakal ada, tapi gak terlalu sering. Doain gak ya… *digeplak* …. ya, saya doakan!

Nisca31tm-emerald : Beneran keren? (gampar pipi sendiri) Makasih… Sengaja dibikin sial biar lucu… *dibankai Hitsugaya*

Toushirou Hitsugaya-kun : Ibu kamu alumni UI juga? Wah... (kagum) Iya, saya coba-coba aja dibikin lucu. Sudah di update nih...


Arigatou kepada yang sudah mereview, dan terima kasih banyak kepada kalian semua yang sudah membaca cerita 'Bleach in UI'.

Saya minta maaf kalau fic ini garing. Saya sebenarnya lagi bingung mau nulis apa, jadinya malah nulis cerita kayak gini….

Sayonara!

Review please?