Kedua insan berlainan jenis itu duduk berhadapan di kafe yang berada di lobi rumah sakit seraya saling menatap.
Orang-orang yang kebetulan melihat mereka menatap kearah sepasang insan itu dan beberapa bahkan saling berbisik, merasa iri dengan keberuntungan sang gadis yang memiliki kekasih tampan dan romantis. Bahkan kini sang pria tengah menyuapi gadisnya. Benar-benar lelaki idaman.
Mereka tak tahu kalau apa yang terlihat tak seindah imajinasi mereka. Mereka tak tahu kalau sepasang kekasih yang mereka anggap romantis itu sebetulnya bukanlah sepasang kekasih. Dan meski mereka terlihat saling menatap, namun yang bisa dilihat gadis itu hanyalah kegelapan.
Siang ini Sasuke mengajak Sakura untuk makan di kafe yang berada di lobi rumah sakit. Ia tak biasanya mengajak gadis yang tidak terlalu ia kenal untuk makan bersama, namun ia merasa ingin mengenal Sakura lebih jauh. Sisi positif gadis itu membuatnya tertarik, dan ia pikir gadis itu terlalu naif karena tetap positif meski apa yang dialaminya benar-benar buruk.
Sasuke berpikir untuk berbincang lebih banyak dengan gadis itu, karena itulah ia memutuskan mengajak gadis itu berbicara di kafe ketimbang di depan ruangan dokter.
"A-aku bisa makan sendiri, kok. Tidak perlu menyuapiku," ujar Sakura dengan gugup seraya meraih sendok yang diarahkan oleh Sasuke padanya.
Sakura tak bisa melihat apapun, sehingga ia mlah memegang telapak tangan Sasuke ketika ia seharusnya mengambil sendok.
Sakura cepat-cepat melepaskan tangannya dan menundukkan kepala, "Maaf."
Sentuhan telapak tangan Sakura terasa hangat dan membuat Sasuke malah merasa gugup. Lelaki itu tak pernah tertarik dengan romansa sebelumnya, dan sedikit sentuhan dengan lawan jenis membuatnya gugup meski ia tak menunjukkannya.
"Hn."
"Sudahlah, letakkan saja sendoknya di atas piring. Aku sudah terbiasa makan sendiri, kok," ujar Sakura sambil tersenyum.
"Nanti kau mengotori pakaianmu."
Sakura menggeleng. Ia merasa tidak enak telah merepotkan lelaki yang tidak begitu ia kenal. Siang ini lelaki itu bahkan membayar pesanannya dan bersikeras menolak ketika ia menyerahkan dompetnya dan meminta lelaki itu mengambil uang sesuai harga pesanannya. Dan kini lelaki itu bahkan menyuapinya.
"Bukankah kau juga harus makan?"
"Aku hanya pesan minum."
Sasuke menatap éclair yang dipesan Sakura dan berpikir apakah rasa kue itu memang enak? Ia tidak menyukai makanan manis sehingga tidak pernah mencobanya, namun kakaknya sangat tergila-gila dengan makanan manis.
Ketimbang rasa manis, Sasuke lebih menyukai rasa pahit. Kali inipun ia memutuskan memesan kopi hitam tanpa gula sebagai makan siang karena ia sedang tidak bernafsu makan sama sekali.
Hingga saat ini, ia masih tak bisa menerima kenyataan jika dokter memvonis kalau hidupnya akan berakhir dalam waktu kurang dari satu tahun. Ia berpikir kalau Tuhan benar-benar tidak adil karena tak membiarkannya menyelesaikan studi dan meraih impiannya ketika sang kakak yang sejak dulu selalu dibanggakan memiliki kehidupan yang sangat sempurna. Bagaimana tidak, lelaki itu tampan, bertubuh bagus, berhasil menyelesaikan studi dengan nilai terbaik, serta memiliki kekasih yang cantik dan berkepribadian bagus. Dan jika ia meninggal, sang kakak akan mendapatkan seluruh warisan orang tua mereka tanpa harus berbagi dengannya. Bukankah seharusnya Tuhan memberikan penyakit yang dianggap Sasuke sebagai ketidaksempurnaan terhadap kakaknya yang memiliki kehidupan sempurna?
"Kenapa? Memangnya kau tidak lapar?"
"Aku tidak ingin makan."
Sakura mengangguk. Mendengar ucapan Sasuke membuatnya teringat akan dirinya sendiri di masa lalu dan ia berpikir jika lelaki itu merasakan hal yang sama.
Saat ini mungkin Sakura terlihat seperti seseorang yang sangat positif. Namun tidak berarti ia adalah orang yang positif sejak awal. Ketika dokter memvonisnya mengalami kanker mata dan akan kehilangan penglihatan, ia merasa begitu putus asa hingga merasa ingin mati saja dan tidak bersemangat melakukan apapun.
Kemudian Sakura tersadar jika keadaannya tetap tak akan berubah meski ia mengutuk Tuhan sekalipun. Jika ia terus menerus bersikap negatif, ia malah akan semakin menyusahkan orang-orang di sekelilingnya. Karena itulah ia memutuskan untuk berusaha bangkit dan melakukan hal-hal yang masih bisa ia lakukan.
"Kau… masih belum bisa menerima keadaanmu?" tanya Sakura.
Sedetik kemudian, Sakura menyesali kata yang baru saja terlontar dari mulutnya. Ia lupa kalau lelaki dihadapannya cenderung tidak suka jika seseorang berusaha mengetahui privasinya. Karena itulah ia merasa sangat tidak enak.
Sasuke terdiam. Pertanyaan gadis itu tidak membuatnya marah. Sebaliknya, ia malah merasa terkejut karena gadis itu bisa mengetahuinya meski sama sekali tidak melihat ekspresi wajahnya selama konversasi mereka.
Sakura baru saja akan membuka mulutnya untuk meminta maaf, namun Sasuke segera menyahut, "Bagaimana kau tahu?"
"Kau mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu," jawab Sakura. Tangannya berusaha meraih sendok yang diletakkan Sasuke di atas piring ketika lelaki itu meminum kopinya. Ketika tangan Sakura berhasil meraih sendok, ia memperkirakan dimana letak kue itu dan memotongnya dengan sendok serta memasukkannya ke dalam mulut sebelum Sasuke menyadarinya.
"Omong-omong kue nya enak. Kau tidak ingin mencobanya?"
"Aku tidak suka makanan manis."
Sakura mengangguk. Ia benar-benar menyukai gianduja éclairyang dipesan Sasuke. Perpaduan éclair yang renyah dan krim giandujayang terasa seperti coklat Ferrero Rocher terasa benar-benar sempurna. Rasanya manis, namun tidak terlalu berlebihan.
"Kupikir kau juga suka makanan manis. Soalnya kau pintar memilih kue. Éclair yang kau pilih rasanya benar-benar enak."
"Aku hanya asal pilih. Untung kau menyukainya."
Sakura tersenyum. Ia tahu kalau lelaki dihadapannya adalah orang yang baik meski cenderung dingin dan blak-blakan. Saat ini lelaki itu hanya sedang putus asa, dan seandainya perasaan lelaki itu sudah membaik, ia yakin lelaki itu akan bersikap hangat.
"Aku sangat menyukai dessert. Dulu aku juga suka membuat kue di rumah. Namun aku tidak bisa melakukannya belakangan ini."
Sasuke menatap Sakura lekat-lekat. Ia merasa heran dengan gadis itu. Bagaimana bisa gadis itu tersenyum dengan begitu mudah meski mengucapkan hal yang menyedihkan seperti ini.
"Kau aneh," ujar Sasuke.
Ia terdiam sesaat dan melanjutkan ucapannya, "Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau tersenyum begitu mudah meski apa yang kau katakan sama sekali tidak menyenangkan?"
Sakura tertawa pelan. Ucapan Sasuke benar-benar mengingatkan akan dirinya sendiri. Dulu ia juga pernah berpikir bagaimana mungkin ia bisa tersenyum jika keadannya sangat menyedihkan.
"Hn? Apakah ucapanku terdengar lucu?"
"Maaf," Sakura tersenyum tipis sebelum melanjutkan ucapannya, "Kau benar-benar mengingatkanku akan diriku sendiri. Dulu aku juga pernah memikirkan hal yang sama sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima keadaanku."
Sasuke terdiam dan menatap gadis itu. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada gadis itu sehingga ia memutuskan untuk kembali meminum kopinya.
"Dulu aku juga sama sepertimu. Aku tidak bisa menerima kalau aku akan kehilangan penglihatanku karena penyakit. Aku begitu menyukai bela diri dan membuat kue hingga berpikir untuk mengambil jurusan perhotelan di universitas agar aku bisa memperdalam kemampuan membuat kue, dan aku merasa marah karena harus melepaskan segalanya. Aku bahkan menangis ketika tak bisa melihat apapun setelah menjalani operasi pengangkatan bola mata dan terpaksa harus berpisah dengan teman-temanku serta pindah ke SLB."
Senyuman tak lagi terpatri di bibir Sakura ketika gadis itu bercerita mengenai masa lalunya. Wajah gadis itu juga terlihat sedih dan mata gadis itu berkaca-kaca..
Namun sesaat kemudian senyuman gadis itu kembali muncul dan ia memejamkan mata sesaat agar air mata tidak mengalir, "Tapi aku jadi bisa menekuni keahlian baru, lho. Aku mempelajari kerajinan tangan dan kembali mempelajari piano yang sempat kutinggalkan karena memilih kursus bela diri."
"Piano klasik atau pop?"
"Klasik. Soalnya aku menyukai musik klasik. Memangnya kenapa?"
Sasuke tersenyum tipis secara refleks, namun ia segera mengulum kedua sudut bibirnya. Ia merasa tidak sopan jika ia tersenyum setelah mendengar cerita gadis itu.
"Aku juga mempelajari biola. Alasanku sama denganmu."
Sakura tersenyum dan mengulurkan telapak tangannya dihadapan Sasuke, "Tos!"
Sasuke merasa ragu, namun akhirnya ia menepuk telapak tangan gadis itu. Entah kenapa sikap antusias gadis itu malah mengingatkannya dengan Naruto, sahabatnya yang juga sangat ceria dan banyak bicara.
"Sumpah! Rasanya jarang sekali menemukan orang seumur kita yang menyukai musik klasik. Aku bahkan tidak pernah bercerita pada teman-temanku karena takut dikira aneh. Kebetulan sekali bisa bertemu orang yang mempunyai ketertarikan yang sama."
Ekspresi wajah Sasuke terlihat sedih, kontras dengan Sakura yang tersenyum. Lelaki itu merasa kasihan pada gadis itu yang sebentar lagi akan kehilangan kenalan yang juga memiliki ketertarikan yang sama.
"Hn."
"Suatu saat nanti, aku berharap bisa duet denganmu. Ada lagu yang sangat kusukai dan kupikir akan lebih bagus jika permainan pianoku digabungkan dengan permainan biolamu."
Kata 'suatu saat nanti' terdengar menyakitkan bagi Sasuke. Baginya, kata itu bermakna sesuatu yang tidak akan terjadi karena waktu yang dimilikinya terbatas. Ia bahkan tidak yakin jika ia masih bernyawa besok lusa, minggu depan atau dua bulan lagi.
"Waktuku terbatas. Kalau kau menginginkannya, ayo lakukan secepatnya."
Sakura merasa sedih dan bersimpati ketika lelaki itu mengatakan kalau waktunya terbatas. Sebetulnya setiap manusia juga memiiki waktu yang terbatas. Tak seorangpun tahu kapan jiwa akan meninggalkan raga. Namun rasanya menyedihkan ketika seseorang sudah mengetahui prediksi waktu kematiannya dan sadar jika waktu yang dimilikinya sangat terbatas.
Ekspresi wajah Sakura terlihat sedih dan hal itu membuat Sasuke merasa heran. Kenapa gadis itu harus merasa sedih? Bahkan ini adalah kali ketiga mereka bertemu dan mereka hanya sekedar kenalan.
"Umm.. bulan ini aku sedang sibuk karena harus berlatih untuk konser yang diadakan salah satu organisasi. Bagaimana dengan bulan depan?"
"Akan kuusahakan."
Sakura tahu kalau Sasuke mungkin saja tidak memiliki cukup waktu untuk memenuhi permintaannya. Lelaki itu bahkan tidak menjanjikan hal itu padanya. Namun ia tetap berharap jika lelaki itu dapat memenuhi permintaannya.
.
.
Mikoto menatap putra bungsunya dengan ragu. Menurut hasil pemeriksaan dokter, kondisi lelaki itu semakin memburk dari hari ke hari.
Namun karena itulah ia memutuskan untuk menawarkan kesempatan ini pada putra bungsunya. Ia tahu kalau lelaki itu bermimpi untuk bisa tampil di konser, dan ia ingin mewujudkan mimpi putranya yang mungkin merupakan yang terakhir.
"Hn?" Sasuke bersuara akhirnya, merasa tidak nyaman karena sang ibu terus menerus menatapnya tanpa bicara.
"Tanggal tiga puluh nanti organisasi amal yang diikuti ibu akan mengadakan konser amal yang seluruh hasilnya akan disumbangkan untuk para penyandang cacat yang kurang mampu. Kebetulan konser kali ini adalah konser musik klasik. Maukah kau tampil sebagai pemain biola?"
Sasuke menatap ibunya lekat-lekat. Jika ia mendapat kesempatan seperti ini sebelum mendapat vonis dari dokter, ia akan langsung mengiyakan tanpa berpikri dua kali. Namun kondisinya kali ini berbeda, dan sebisa mungkin ia tak ingin menjanjikan sesuatu yang mungkin tak akan bisa terpenuhi dan membuat orang yang berharap padanya merasa kecewa.
"Kau benar-benar menawarkan ini padaku, Bu?"
"Ya, kalau kau bersedia. Kalau tidak, ibu akan mencari orang lain untuk mengisi posisi pemain biola."
Sasuke mengangguk, "Aku ingin melakukannya. Tapi-"
Sasuke memutus ucapannya. Hatinya terasa sakit ketika ia melanjutkannya, "-bagaimana kalau aku malah tidak bisa datang di hari konser? Aku tak ingin malah merepotkan ibu."
Mikoto terdiam. Matanya berkaca-kaca dan ia terpaksa menoleh ke samping untk mengusap air matanya diam-diam.
Mikoto tahu kalau Sasuke pasti sangat menderita karena kondisinya. Namun bukan berarti dirinya juga tak mengalami kondisi yang sulit. Ia terus menangis karena takut kehilangan putranya, begitupun dengan sang suami yang merasa sangat terpukul. Bahkan putra sulung mereka juga terlihat sangat sedih hingga menolak untuk bekerja lembur dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang adik dengan alasan tak ingin menyesal.
"Aku sudah mengatakan pada panitia lain. Dan mereka tidak keberatan. Kalau kau tidak bisa datang, kami hanya perlu menjelaskan alasan yang sebenarnya pada semua orang. Itu bukan masalah."
Sasuke terus memikirkan ucapan Sakura selama berhari-hari hingga ia sadar jika waktunya terbatas dan ia pasti akan menyesal jika ia menghabiskan waktu yang tersisa hanya untuk meratapi nasibnya. Selama ini ia terus bermimpi untuk tampil di konser, dan ketika kesempatan tiba, ia harus melakukannya meski mungkin saja ini merupakan yang terakhir.
"Aku akan melakukannya," ujar Sasuke seraya tersenyum tipis, membayangkan dirinya yang akan tampil di konser.
Mikoto tersenyum dan langsung memeluk Sasuke secara refleks. Ia merasa senang karena putra bungsunya tak lagi terpuruk. Dan ia terkejut ketika Sasuke meletakkan tangannya dan memeluk dirinya meski biasanya lelaki itu tidak begitu nyaman dengan hal-hal emosional seperti ini.
-TBC-
Author's Note :
Aku terinspirasi anime Shigatsu Wa Kimi no Uso & masukin instrumen biola & piano ke fanfict ini. Aku suka lagu-lagunya walaupun cuma nonton episode terakhirnya aja.
Seharusnya fanfict ini kupublish setelah seri Beat of Summer selesai. Berhubung aku lagi WB untuk fanfict itu, akhirnya aku update yang ini.
Dua chapter awal ku copas dari one shot SasuHina yang pernah kupublish, cuma kuganti karakternya & kutambahin sedikit. Jadi kalian mungkin merasa gaya penulisanku agak beda dibanding chapter ini yang memang baru kutulis sekarang.
Untuk fanfict ini, aku ga menjanjikan bakal happy ending. So, aku berharap kalian ga kecewa kalau endingnya mungkin bakal beda dari yang kalian harapkan.
Makasih udah baca fanfict ini. Mohon kritik & sarannya.
