Naruto merapatkan mantelnya sekali lagi. Sudah kesekian kali ia melihat bayangannya di cermin pagi ini. Hari ini adalah hari yang spesial, tidak, bahkan sangat amat sangat amat sangat spesial. Karena hari ini Sasuke menjaknya pergi ke studio tempatnya bekerja.

(Apa Naruto sudah bilang bahwa hari ini adalah hari yang spesial?)

Sasuke memberitahu Naruto kemarin malam bahwa ia ingin membawanya ke tempat ia bekerja. Dan semalaman Naruto tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia bahkan bingung memilih baju mana yang akan ia pakai esok hari, padahal tidaklah sulit memilih satu dari sepuluh pakaian miliknya, akan tetapi karena ini adalah hari pertamanya datang ke studio Sasuke, semua harus disiapkan sematang mungkin.

Naruto bahkan mulai membuat sarapan jam 5 pagi dan memastikan Sasuke tidak bangun kesiangan dan mengacaukan rencana mereka. Naruto sudah over-excited sedangkan Sasuke tetap memulai harinya dengan mandi pukul 8, sarapan jam 8.30, dan bersiap-siap selama satu jam. Sedangkan Naruto sudah duduk manis di ruang tengah dengan pakaian terbaiknya sejak pukul 7 pagi.

Mereka pergi dari apartemen sekitar pukul 10.45 menggunakan mobil Sasuke yang terparkir di basement.

"Apa yang kau lakukan di studio, Sasuke?" tanyanya penasaran, senyum lebar tidak pernah hilang dari bibirnya sejak tadi. "Apa model majalah selalu datang ke studiomu untuk difoto? Atau mereka hanya berkonsultasi?"

Sasuke hanya bergumam.

Tidak puas, robot pirang itu bertanya lagi, "ada siapa di sana, Sasuke? Apa seseorang bernama Sai atau Kiba, yang sering menelepon itu adalah teman satu tim mu?"

"Berhenti bicara, dobe, suaramu bisa merusak telingaku."

"Sasuke, kau seharusnya berhenti bicara kasar!"

"Berisik."

Sasuke memarkir mobil peraknya di depan bangunan dengan plang bertuliskan "1001 iDEA Studio" berwarna merah maroon. Ia membuka pintu kaca bersama Naruto yang mengekorinya. Sasuke disapa oleh seseorang yang hampir mirip dengannya, duduk di meja depan sambil mendengarkan lagu dari headset.

"Yo Sasuke," pemuda itu menyadari ada sesuatu yang pirang di belakang kawannya. "Well—siapa yang berdiri di belakangmu? Apa kau pacarnya, pirang?"

Naruto mengangguk, "Iya—"

"—Bukan!" sela Sasuke, "Dia adalah…" Sasuke terbata, bingung harus menjelaskan dari mana.

"Wah, wah, kita kedatangan tamu penting hari ini ya, Sai?" celetuk kiba dari ruang pemotretan, ia mengulurkan tangannya kepada Naruto. "Panggil aku Kiba."

Naruto menyambut tangannya, "Naruto, senang bertemu denganmu."

"Apa kau tahu Naruto, ini adalah kali pertama Sasuke membawa pacarnya ke studio ini."

"Sudah kubilang dia bukan pacarku—"

Sasuke masuk ke dalam ruang pemotetan separuh membanting pintu, meninggalkan Kiba dan Sai yang kini tertawa puas karena berhasil mengerjai Sasuke. Entah mengapa Naruto juga ikut tersenyum, ia tahu Sasuke tidak marah karena olok-olokan kedua kawannya. Hanya saja ekspresi wajah pemuda Uchiha itu sangat lucu saat ia merasa jengkel.

"Jadi, kalau bukan pacarnya, kau siapa?"

Segera saja Naruto menjelaskan siapa dirinya dan mengapa dirinya bisa bersama Sasuke saat ini. Kedua teman Sasuke semakin terpingkal-pingkal mendengar pengakuan Naruto. Robot itu mengernyit tidak mengerti.

"Sudah kuduga ada yang tidak beres dengan Uchiha." Ujar Sai menopang dagu dengan telapak tangan. "Akhir-akhir ini dia rajin bekerja dan sering pergi ke mall, kurasa aku tahu apa sebabnya."

"Pada dasarnya aku yang memiliki studio ini," ungkap Kiba pada Naruto. "Aku mempekerjakan Sai sebagai asisten, dan Sasuke hanya datang sesekali untuk membantu. Tapi beberapa minggu ini ia sering mengambil job, aku sempat berpikir apakah ia sedang butuh banyak uang, tapi kau tahu… Uchiha selalu punya banyak uang."

Kiba dan Sai berpandangan, lalu tertawa.

"Sekarang kami tahu alasannya."

"Um," Naruto berpikir keras dengan semua petunjuk yang diberikan Kiba dan Sai, ia mencoba menemukan sebuah kesimpulan. Namun ia tetap tidak mengerti meskipun kedua kawan Sasuke telah memberi banyak kode padanya. "Aku tidak bisa menemukan relevansinya…"

"Tentu saja karena kau, Naruto. Kau pikir untuk apa seorang Uchiha pergi ke mall, sedangkan ia punya banyak orang untuk disuruh-suruh?"

Oh.

"Lagipula sejak kedatanganmu, dia sedikit berubah."

Sai mengiyakan,"ya, dia sedikit terlihat seperti manusia."


Steel's Heart

(part 3 : Be Human)

Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Happy SasuNaru day!

Zettai Kareshi!AU

Summary: Naruto longed to be a human. Sasuke, on the other hand, has lived almost his entire life lika a robot. Together, they learn to be human.


.

Hari ini Naruto mempelajari banyak hal tentang manusia. Ia belajar tentang sifat Kiba yang jahil, Sai yang pendiam, namun ia seperti tahu segalanya. Cara mereka bersosialisasi dengan sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Manusia sungguh mengagumkan. Mungkin ia akan minta ikut ke studio lagi lain kali. Ia harus banyak belajar.

"Kiba dan Sai adalah orang yang baik, aku menyukai mereka." Ujar Naruto ketika mereka duduk di dalam mobil Sasuke yang tengah melaju di jalanan menuju apartemen. "Sai mengajariku menggambar dengan Photoshop hari ini, dia berjanji akan memberitahu detailnya jika aku ke sana lagi."

"Hm, lebih baik kau berhati-hati dengannya. Dia licik seperti ular."

"Benarkah?"

"Apa?"

"Benarkah ular itu licik?"

Sasuke ingin menepuk dahinya, "itu hanya perumpamaan, bodoh."

"Aku tidak bodoh, Sasuke, aku sedang belajar!"

Naruto menoleh pada pemandangan di luar jendela mobil. Ia membaca setiap plang toko di sepanjang perjalanan pulang. Lampu-lampu jalanan sudah mulai dinyalakan karena sebentar lagi matahari akan tenggelam. Biasanya Naruto akan menunggu Sasuke di ruang tamu sambil memandangi pintu, tapi hari ini adalah hari spesia, ia bersama Sasuke seharian. Naruto tidak ingin hari ini cepat berlalu.

Tiba-tiba saja ia memiliki ide cemerlang. Naruto meminta Sasuke berhenti di taman tempat ia dan Konohamaru bermain beberapa minggu lalu.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu," ujarnya sambil melonjak-lonjak di kursi penumpang.

Sasuke memarkir mobilnya di pinggir jalan tak jauh dari pintu masuk taman. Belum sempat mengunci kendaraanya, Naruto sudah menyeretnya masuk ke dalam tempat yang dipenuhi bunga dan mainan anak-anak itu.

"Sebenarnya kau mau lihat apa sih?" Sasuke jengkel karena bajunya jadi kusut ditarik-tarik.

Naruto terus menyeretnya menuju tempat yang lapang, mata birunya mencari-cari sesuatu yang tak kunjung ia temukan. "Oh tidak…"

"Ada apa?"

"Tidak ada burung di sini, tapi mereka ada saat aku kemari bersama Konohamaru."

Sorot mata Si Robot jelas menunjukkan kekecewaan, bahunya yang tadi bersemangat sekarang turun dan lesu.

"Aku ingin kau juga melihatnya, burung-burung itu…"

Mereka terdiam. Naruto masih saja mencari burung yang ia maksud sambil memanggil-manggil mereka.

"Hey ini sudah hampir malam, burung-burung itu sudah kembali ke sarangnya sekarang." Sasuke mencoba membujuk Si Pirang.

"Benarkah?Kukira mereka di sini sepanjang waktu."

"Mereka juga punya rumah, mereka pulang jika sudah lelah seharian mencari makan."

Tampaknya bujukannya berhasil, Naruto kini sudah mengangguk-angguk mengerti. "Maafkan aku Sasuke, padahal aku ingin sekali menunjukkan burung-burung itu padamu."

"Tidak masalah."

"Hey, bisakah kau mengambil gambar taman ini untukku?"

Sebelum mereka pulang, Sasuke kembali ke mobil untuk mengambil kamera yang ada di bagasi. Ia mengabadikan beberapa tempat sesuai keinginan Naruto. Bunga aster, tempat duduk, lampu taman, musang, kucing liar, meskipun Naruto minta diambilkan gambar yang aneh-aneh, Sasuke tetap melakukannya. Lalu tanpa Naruto sadari Sasuke sedang mengambil gambar mereka berdua di depan air mancur.

"Hey, kenapa kau mengambil foto kita?"

"Untuk kenang-kenangan."

Sejujurnya Sasuke juga tidak mengerti mengapa ia mengambil gambar self camera, seperti ada sesuatu yang membuat tangannya bergerak sendiri. Toh cuma satu kali self camera.

.

Self camera kedua diambil saat mereka pergi berjalan-jalan ke kuil. Naruto ingin tahu bagaimana bentuk kuil yang asli, sebenarnya ia sudah melihat gambarnya di google(Naruto selalu main internet sepanjang hari sambil menunggu Sasuke, ia hampir tahu segalanya), namun Naruto berkata bahwa ada yang berbeda jika ia melihat secara langsung. Mereka berfoto di depan patung Buddha, dan Sasuke sengaja mengambil gambar ketika Naruto belum sepenuhnya siap.

Self kamera ketiga terjadi di dapur. Sasuke berkata ia ingin mencoba kamera polaroid yang sudah lama tak ia hanya ingin mengambil gambar Naruto saja, namun Si Robot Pirang memaksa bahwa mereka belum punya foto polaroid berdua.

Self kamera ke empat, lima, enam. Naruto tidak mengingatnya lagi, mereka terlalu sering mengambil foto bersama. Yang ia tahu selama hampir sebulan, Sasuke telah membawanya ke 17 tempat berbeda. Pemuda bermarga Uchiha itu berkata bahwa ia harus mencari view untuk portofolio. Tapi ia tahu betul bahwa itu hanyalah alasan klasik.

Pada suatu malam Sasuke bermimpi tentang robot. Sebuah robot berambut pirang dengan mata biru, kulit kecoklatan yang manis, serta mulut yang tidak berhenti bicara. Keesokan paginya ia terbangun dengan senyum bahagia di bibirnya. Ia melihat Naruto duduk di sampingnya, tersenyum juga, dan mengucapkan selamat pagi. Lalu Sasuke berpikir, jika robot bisa bermimpi, apa yang dia mimpikan? Apakah seorang manusia bermata hitam gelap dengan rambut raven?

.

Sasuke dan Naruto duduk berdampingan di sofa sambil menonton reality show di televisi. Kepala Si Pirang bersandar kepada bahu Sasuke, sebenarnya ia tidak fokus pada layar televisi sejak tadi, karena Naruto sibuk menghitung detak jantung Sasuke yang berderu seperti genderang. Ia menyukainya, suara detak jantung Sasuke, cara Sasuke mengedipkan mata dan menyibak poninya, semuanya, semuanya saja tentang Sasuke.

Naruto mengamati wajah pemuda Uchiha itu dari dekat. Sungguh halus tanpa cacat. Bagi Naruto Sasuke adalah sosok manusia sempurna, ia sempurna dari rambut hingga ujung kaki. Terutama bibirnya, berwarna merah seperti tomat. Naruto penasaran bagaimana rasanya.

"Sasuke… Boleh aku menciummu?"

Uchiha Sasuke tidak menjawab, namun juga tidak menolak saat perlahan Naruto mengeliminasi jarak diantara mereka dan mengecup bibirnya.

Bagi Sasuke ciuman itu terasa lembut dan manis.

Bagi Naruto ciuman itu basah dan panas.

Mereka berciuman, lama. Sampai Sasuke menjauh karena kehabisan napas. Namun Naruto tahu Sasuke sangat ingin menciumnya lagi.

Pemuda raven itu mengacak rambut Naruto sambil tersenyum simpul. Ia meraih telepon genggamnya yang sedari tadi bergetar dan terlupakan karena terlalu asyik berduaan dengan Naruto dipelukannya.

Jemarinya mematung di atas layar telepon genggam, lampu led hijau menyala menandakan satu pesan baru saja masuk. Disampingnya, Naruto berusaha mengintip pesan dari siapa yang baru saja Sasuke terima. Nama "Aniki" tertulis pada layar, namun ia tidak membaca apa isi pesannya. Namun ketika Naruto menoleh dan melihat airmata jatuh dari pipi Sasuke, Naruto yakin pesan yang dikirim oleh Itachi merupakan berita buruk.

.

Uchiha Fugaku meninggal dunia karena kanker paru-paru, meninggalkan satu istri, Uchiha Mikoto, dua anak lelaki, Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke. Mewariskan sebuah perusahaan multi nasional yang kini dikelola oleh anak sulungnya, Uchiha Itachi.

Setidaknya itu yang kini menjadi sorotan berita di hampir semua stasiun televisi. Tapi itu bukanlah poin pentingnya. Selama ini Sasuke tidak tahu bahwa ayahnya menderita penyakit kanker yang perlahan-lahan menggerogoti paru-parunya. Itachi tidak pernah berkata apapun mengenai penyakit ayah mereka. Kakak lelakinya selalu bercerita bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan bisnis hingga ia tidak bisa menemui Sasuke, namun ia tidak pernah mengira bahwa ucapan Itachi dilontarkan untuk menutupi kondisi aslinya.

Alasan mengapa Fugaku tidak pernah meneleponnya, mengapa mereka tak pernah lagi merayakan natal. Mengapa Fugaku membiarkan Sasuke hidup semaunya.

"Apakah dia membenciku, Aniki?" Tanya Sasuke kepada Itachi yang berdiri di sampingnta. Mata oniksnya menatap nanar pada peti mati ayahnya yang pelan-pelan masuk ke dalam lemari besi untuk dikremasi. "Apa dia begitu membenciku, karena aku tidak sepertimu, aku tidak seperti dirinya?"

"Kau salah, otouto, justru karena kau seperti dirinya, ia membebaskanmu." Itachi menggeggam tangannya. "Ayah selalu melihat dirinya pada dirimu, maka dari itu ia tidak ingin melakukan apa yang dilakukan kakek padanya, memaksamu menjadi businessman yang sibuk. Dia ingin kau hidup seperti yang kau inginkan, karena ia percaya bahwa kau bisa mewujudkan keinginannya yang telah lama terpendam."

"Mengapa ia tidak pernah meneleponku, tapi ia bisa meneleponmu setiap saat!" Sasuke merasakan pandangannya mengabur karena sesuatu yang hangat mulai memenuhi pengelihatannya.

"Ia takut jika kau mendengar suaranya yang mulai menjadi pelan dan berat, ia takut kau meninggalkan kehidupan bebasmu yang sekarang dan kembali padanya. Ayah tidak menginginkan itu…"

Kali ini Sasuke benar-benar menangis, air mata jatuh tidak terkontrol dari matanya menuju pipi. Sasuke merasa dadanya menyempit karena rasa penyesalan yang hebat. Karena sampai di akhir hidup ayahnya, Sasuke belum meminta maaf.

"—M-M-Mengapa- sampai di saat—terakhirnya—"

"Ia mencintaimu Sasuke, sangat mencintaimu. Ia hanya tidak bisa mengungkapkannya dengan cara yang baik, tapi ia sungguh mencintaimu."

Meski Itachi telah mengusap pipi adiknya berkali-kali, air mata Sasuke tidak mau berhenti.

.

Sasuke mengurung dirinya dalam kamar lama di rumah orangtuanya selama tiga hari. Tidak seorangpun berani mengetuk pintu, termasuk Itachi dan Ibunya. Saori selalu meninggalkan nampan untuk sarapan dan makan siang Sasuke di depan kamar,namun tak pernah disentuhnya.

Sementara itu Naruto duduk di ruang tengah seperti biasa, menunggu Sasuke. Sudah tiga hari Sasuke tidak pulang ke apartemennya. Meski Naruto tahu apa yang menyebabkan absennya Sasuke, ia tidak menyangka bahwa Sasuke tidak pulang selama ini. Naruto melihat berita kematian ayah Sasuke di televisi, bahkan berita itu tak henti-hentinya menjadi topik perbincangan selama tiga hari penuh. Tentu saja, Uchiha Fugaku adalah salah seorang businessman sukses yang sangat berpengaruh di Negara ini.

Naruto terus memandangi pintu sepanjang hari, berarap sosok Sasuke muncul. Terkadang ia akan berdiri di samping telepon, menunggu Sasuke meneleponnya untuk memberi kabar. Tapi sayangnya panggilan itu tak kunjung datang.

Ia mengingat lagi aktivitas malamnya bersama Sasuke, menyambutnya di pintu sepulang kerja, duduk di sampingnya ketika ia lembur, lalu menyaksikannya menyikat gigi sebelum tidur. Malam itu Naruto memutar lagi aktivitas yang terekam oleh matanya. Tak biasanya ia mengorek-orek ingatan lama yang tersimpan dalam memorinya, karena ia selalu sibuk untuk membuat ingatan baru.

Hari keempat, Sasuke belum kembali. Seharian Naruto berdiri menghadap jendela, mengamati mobil berlalu-lalang dari lantai 23, kebiasaan yang sudah lama tak ia lakukan.

Hari kelima, masih sama seperti empat hari sebelumnya. Tidak ada kabar, tidak ada tanda-tanda Sasuke akan kembali. Hari itu ia merebahkan dirinya di atas ranjang tempat Sasuke tidur. Menghirup dalam-dalam bantal yang biasa Sasuke kenakan. Ia tidak mencium apa-apa, tentu saja, ia adalah sebongkah mesin yang deprogram untuk meniru manusia. Sekeras apapun ia mencoba menjadi manusia, ia tidak akan pernah berhasil.

Hari keenam, Sasuke masih belum kembali. Kali ini Naruto menghabiskan waktu di dalam Red Room. Padahal sudah berkali-kali Sasuke berkata padanya untuk menjauhi ruangan itu, namun kali ini Naruto sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Tidak ada hal baru yang bisa ia lakukan tanpa Sasuke.

Sudah lama sejak terakhir kali Naruto masuk ke dalam Red Room. Ia memperhatikan hasil cetakan foto Sasuke yang digantung dari ujung ke ujung. Jika dulu ia hanya menemukan foto-foto pemandangan dan gambar beberapa model majalah, sekarang ia lebih sering menemukan gambarnya tergantung. Benar, gambarnya tergantung di Red Room. Sasuke memang suka membawa kamera kemanapun dia pergi, tapi Naruto tidak menyangka bahwa objek dari kebanyakan foto yang ia ambil adalah dirinya.

Naruto merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

Saat ia keluar dari Red Room, Naruto membawa selembar hasil cetakan foto yang tergantung di ruangan itu. Foto yang ia ambil adalah gambar dirinya dan Sasuke sedang mengambil self camera di depan air mancur di taman. Naruto menyimpannya di saku celana agar ia selalu ingat.

Hari ke tujuh, delapan, sembilan, Naruto mulai berhenti berharap.

Naruto berpikir, menilik dari perilakunya beberapa hari ini, seperti orang yang menginginkan sesuatu namun tak kunjung mendapatkannya. Memikirkan sesuatu yang belum tentu melakukan hal serupa denganmu. Apakah ini rasa rindu yang biasa manusia rasakan. Seberat inikah?

Hari-hari selanjutnya ia kembali melihat jendela dari lantai 23.

Hingga pada suatu malam, tepat dua minggu setelah kematian ayah Sasuke, pintu itu terbuka, menampakkan sosok raven yang telah Naruto tunggu-tunggu. Si Robot Pirang segera berlari menyambut pemiliknya dengan rasa lega. Tanpa disangka-sangka mesin itu memeluk Sasuke erat, dan Sasuke balas memeluknya.

Lalu mereka berciuman.

Naruto menuntun Sasuke menuju kamar dan menyuruhnya langsung beristirahat, karena saat itu sudah lebih dari jam 1 dini hari. Tak menunggu lama akhirnya Sasuke pun menutup matanya, tertidur, dengan tangan bersentuhan dengan milik Si Robot.

Sebenarnya Naruto menyadari ada yang berbeda dengan sorot mata Sasuke, terlihat dingin dan hampa. Namun itu tidak masalah, tidak apa-apa, selama Sasuke kembali itu bukan masalah.

.

Pagi menjelang, Naruto sudah siap dengan aktivitas lamanya, membuat sarapan. Ia mengaduk adonan pancake sambil tersenyum sepanjang waktu karena pagi ini ia sudah tidak di rumah sendiri lagi. Sasuke bangun lebih siang dari hari-hari biasanya, jam sudah menunjukkan waktu 11 siang, Sasuke baru keluar dari kamar tidur. Ia duduk di kursi makan dan melihat sarapannya tanpa nafsu, setelah 30 menit berkutat dengan pancake buatan Naruto, pada akhirnya ia hanya melahapnya seperempat.

Sasuke baru berangkat bekerja jam 12 siang, ia berangkat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sasuke masih menciumnya, mengusap rambut pirangnya saat menonton televisi, dan membiarkannya duduk di ranjang di samping Sasuke saat ia tertidur. Hanya saja Naruto lebih menyukai Sasuke yang dulu.

Sejak kembali dari rumah orang tuanya, Sasuke bertingkah seperti mayat hidup. Ia bahkan tidak makan dan membersihkan dirinya secara benar. Hal ini membuat Naruto menjadi khawatir dengan kondisi pemiliknya. Namun ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mempertanyakannya. Tapi Naruto tidak tahan lagi, melihat Sasuke perlahan-lahan menghancurkan dirinya sendiri dengan cara seperti ini.

"Ada apa denganmu, Sasuke, kau terlihat berantakan."

Sasuke melirik, "tidak ada apa-apa."

"Jika kau membutuhkan sesuatu, kau selalu bisa menghandalkanku." Naruto tersenyum.

Naruto pikir bahwa selanjutnya Sasuke akan mulai menceritakan keluh kesahnya, namun ternyata reaksi Sasuke berbeda dengan yang ia kira. Pemuda bermarga Uchiha itu berdiri tanpa mempedulikan Naruto yang menyandarkan kepalanya di pangkuannya. Ia masuk ke dalam Red Room, mengunci dirinya semalaman di ruangan itu.

"Mengapa, Sasuke?" Naruto mencoba membuka knob, namun karena Sasuke telah menguncinya dari dalam, pintu tetap bergeming.

Naruto semakin tidak mengerti manusia, kadang mereka bisa sangat senang, detik kemudian mereka merasa sedih.

"Sasuke, Sasuke. Buka pintunya, Sasuke…"

.

Hingga pada suatu siang Naruto mendengar Sasuke berbicara di telepon. Pada awalnya Naruto tidak terlalu mendengarkan apa yang Sasuke perbincangkan, tapi saat Sasuke mengatakan hal itu kepadaya, Naruto hampir tidak percaya.

"Aku akan mengirimmu kembali."

Tidak. Tidak mungkin.

"Tapi, Sasuke—"

Sasuke memotongnya, "aku tidak bisa hidup seperti ini, aku akan kembali pada keluargaku. Sudah cukup lama aku membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak berguna, aku sudah memutuskannya, aku akan bekerja di perusahaan ayah."

"Kau bisa membawaku, Sasuke, aku bisa membantu membuat sarapan dan membersihkan rumah."

"Cukup!" nada bicara Sasuke meninggi,

Naruto terhenyak.

"Apa tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu lagi, Naruto."

"Sasuke, aku sama sekali tidak berpikir bahwa ini hanya sebuah permainan."

"Ya, Naruto, ini adalah permainan. Kau mempermainkanku dengan semua perilakumu, kau memeluk dan menciumku seenaknya. Bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu, sedangkan kau hanya deprogram untuk melakukan semua itu?"

Tidak, Sasuke, hentikan!

"Bagaimana bisa kau mengerti bagaimana perasaanku, sementara kau… tidak nyata?"

Tidak. Tidak. Ada yang salah dengan semua ini.

"Tapi aku di sini Sasuke, aku bersamamu, apakah itu tidak cukup bagimu?"

Naruto berharap Sasuke menyadarinya, bahwa dirinya adalah kenyataan. Sasuke dapat menyentuhnya, bersamanya, dan di dunia ini Naruto hanya memiliki Sasuke. Selama ini ia selalu berusaha menjadi 'pacar' terbaik bagi Sasuke, dan ia pikir ia telah melakukannya. Namun ternyata ada satu kekurangan Naruto, bahwa ia bukan manusia. Ia telah berusaha keras belajar menjadi manusia, namun takdir berkata lain. Ia sudah gagal dari awal, seharusnya Naruto menyadari itu.

"Maafkan aku Sasuke," kedua tangan Sang Robot menyentuh pipi pemudia di hadapannya. "Maaf jika aku bukan manusia."

Naruto merasa ada sesuatu yang menyakitkan menghantam dadanya. Mungkin ini yang dinamakan kesedihan. Ketika kau merasa sangat tidak berdaya menghadapi sesuatu. Seperti inikah yang dirasakan Sasuke saat ayahnya meninggal?

Malam itu Sasuke tidur menghadap dinding memunggungi Naruto. Sedangkan Si Robot Pirang bergelung di belakangnya. Ketika tengah malam menjelang, Naruto menyusupkan tangannya memeluk Sasuke dari belakang. Menghitung napasnya sepanjang malam, merasakan detak jantungnya. Ia mencium daun telinga Sasuke berkali-kali, berdoa Sasuke akan berubah pikiran. Naruto berharap semua pikirannya tentang hal buruk yang mungkin terjadi esok hari dapat menghilang. Seperti Sasuke mengirimnya kembali. Seperti bayangan ia tak akan bersama Sasuke lagi.

.

Tapi keputusan Sasuke sudah bulat.

.

Sebelum Naruto masuk ke dalam kotak, ia menatap Sasuke sekali lagi.

"Sampaikan permintaan maafku pada Itachi." Pinta si Robot untuk terakhir kalinya. "Katakan padanya aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk menjagamu, Sasuke."

Sasuke mengangguk sebagai jawaban. "Akan kusampaikan."

"Terima kasih, Sasuke," terima kasih atas segalanya. Pengalaman yang kau berikan, telah membuatku merasa menjadi manusia. Terima kasih sudah memanusiakan diriku, walau pada akhirnya aku memang tidak cukup untukmu.

Mereka berciuman untuk yang terakhir kali.

Sebelum Sasuke menekan tombol power, Naruto meraba-raba sesuatu di saku celananya, kemudian memberikan sebuah kertas yang dilipat-lipat kepada pemuda bermarga Uchiha itu.

Sasuke menekan tombol power di belakang telinga seperti yang dilakukannya beberapa bulan lalu, beberapa detik kemudian mata Naruto tertutup dan seluruh mesinnya berhenti. Sasuke segera menutup kotak besar yang telah menghuni ruang tengahnya selama beberapa bulan sebelum ia berubah pikiran. Tak lama kemudian seorang petugas dari toko yang menjual pacar robot datang dan memasukkannya kedalam mobil box berwarna putih. Mereka membawa pergi Naruto dari apartemennya.

Ketika Sasuke kembali, ia langsung duduk di ruang tenah mencari-cari lipatan kertas yang tadi Naruto berikan padanya. Perlahan-lahan Sasuke membukanya. Lipatan kertas itu merupakan selembar foto self camera mereka saat berada di depan air mancur. Ia membuka semua lipatan pada foto itu dan terlihat bahwa Naruto menulis sesuatu di ujung dengan bolpoin merah.

"I love you, Sasuke."

Bohong, bagaimana sebongkah mesin bisa merasakan cinta? Apa yang bisa ia gunakan untuk mencintai Sasuke, sebuah hati baja? Mengapa Naruto masih tetap mempermainkan perasaannya, bahkan setelah Sasuke mengirimnya kembali?

Bukankah jika tidak ada Naruto semuanya akan sama saja? jika ia telah mengembalikan Naruto, langit akan tetap berwarna biru 'kan?

Lalu, mengapa sekarang ia menangis?

.

My love is like a star: by the time you notice it. I'm long gone.

.


Fin


.

Kemarin aku dapat satu review yang benar-benar mengharukan :") dia bilang saya harus bikin fic yang ada konspirasinya agar dapat review banyak, haha, entah kenapa kalo denger konspirasi aku langsung bayangin sinetron Abad Kejayaan yg sekarang lagi tayang di antv itu. Mungkin lain kali aku bakal bikin Abad Kejayaan!AU ya.

Terima kasih bagi semua yang sudah membaca, rasanya senang sekali kalau memang ternyata ada yang masih nungguin update ku yang langka ini. Maaf part terakhir-nya telat sehari (maapin yah sesepuh Shrine :"))

Happy SasuNaru day 2015!